Diah Rahayu Wulandari
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Berbagai Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gangguan Fungsi Paru Dalam Ruang Kerja (Studi Kasus Pekerja Industri Rumahan Electroplating di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal) Wulandari, Diah Rahayu; Hadisaputro, Soeharyo; Suhartono, Suhartono
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.468 KB)

Abstract

Background: electroplating home industry  use chromium as the base material. Chromium is used in the form of hexavalent chromium, which has toxic effects on health.  Electroplating workers exposed chromium through the air into the lungs through inhalation. Objective: Describe the various factors assosiated  to the pulmonary dysfunction  in a workplace at  workers of electroplating home industry . Methods: This study was an observational study with cross sectional approach  on 31 electroplating workers with total sampling of each industry. Vital Lung Capacity Measurements with a spirometer with SpyroAnalyzer type ST-75. Dust levels of Chromium with High Volume Sampler. Results: Results minimal amount of dust in the air of 0.0731 μg/m3, the maximum value of dust concentration in the air is 1.8433 μg/m3 μg/m3 with a mean of 0.774357. Multivariate analysis showed a variable duration of exposure to chromium is the most influential variable on the incidence of pulmonary dysfunction, (p = 0.010) with 95% CI (2.11 to 228.56), odds ratio (Exp B) = 21.97. Conclusion: The factor shown to be associated with pulmonary dysfunction in workers chromium electroplating is a duration of exposure to chromium more than 4 hours a day. Keywords: Electroplating, pulmonary dysfunction, chromium.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN PENYULUHAN DENGAN VIDEO DAN SIMULASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PENCEGAHAN TB PARU (Studi kasus di MA Husnul Khatimah Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang) Adha, Azizatul Yaumul; Wulandari, Diah Rahayu; Himawan, Ari Budi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.718 KB)

Abstract

Latar belakang : Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang mengalami peningkatan tiap tahun di Semarang, khususnya di Rowosari. TB paru banyak menyerang usia produktif yakni 15-50 tahun. Salah satu usaha untuk menurunkan angka kejadian TB paru adalah dengan melakukan penyuluhan mengenai pencegahan TB paru. Terdapat berbagai macam cara yang dapat dipakai dalam proses pemberian penyuluhan, diantaranya adalah pemberian penyuluhan dengan video dan pemberian penyuluhan dengan simulasi.Tujuan : Mengetahui tingkat perbedaan efektivitas antara pemberian penyuluhan dengan video dan simulasi terhadap tingkat pengetahuan pencegahan TB paru.Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimental pre and post design. Sebanyak 55 subjek yang diambil dari MA Husnul Khatimah kelas X secara total sampling, 29 siswa kelas XA sebagai kelompok penyuluhan video dan 26 siswa kelas XB sebagai kelompok penyuluhan simulasi. Masing-masing kelompok diberi kuesioner pretest. Selanjutnya, diberi intervensi penyuluhan, kemudian diberikan kuesioner posttest. Analisis data masing-masing kelompok dengan uji t-berpasangan dan uji wilcoxon. Sedangkan analisis data antar kelompok dengan uji t-tidak berpasangan.Hasil : Terdapat perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan setelah diberi penyuluhan pada kelompok perlakuan dengan video(p=0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan setelah diberi penyuluhan dengan simulasi(p=0,000). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada analisis tingkat pengetahuan kelompok perlakuan penyuluhan dengan video dan kelompok perlakuan penyuluhan dengan simulasi(p=0,230).Kesimpulan : Tingkat pengetahuan responden setelah diberi penyuluhan dengan video dan simulasi meningkat, namun tidak ada perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan responden yang diberi penyuluhan video dan penyuluhan dengan simulasi.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN PENYULUHAN DENGAN VIDEO DAN SIMULASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PENCEGAHAN TB PARU (Studi kasus di MA Husnul Khatimah Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang) Adha, Azizatul Yaumul; Wulandari, Diah Rahayu; Himawan, Ari Budi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.718 KB)

Abstract

Latar belakang : Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang mengalami peningkatan tiap tahun di Semarang, khususnya di Rowosari. TB paru banyak menyerang usia produktif yakni 15-50 tahun. Salah satu usaha untuk menurunkan angka kejadian TB paru adalah dengan melakukan penyuluhan mengenai pencegahan TB paru. Terdapat berbagai macam cara yang dapat dipakai dalam proses pemberian penyuluhan, diantaranya adalah pemberian penyuluhan dengan video dan pemberian penyuluhan dengan simulasi.Tujuan : Mengetahui tingkat perbedaan efektivitas antara pemberian penyuluhan dengan video dan simulasi terhadap tingkat pengetahuan pencegahan TB paru.Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimental pre and post design. Sebanyak 55 subjek yang diambil dari MA Husnul Khatimah kelas X secara total sampling, 29 siswa kelas XA sebagai kelompok penyuluhan video dan 26 siswa kelas XB sebagai kelompok penyuluhan simulasi. Masing-masing kelompok diberi kuesioner pretest. Selanjutnya, diberi intervensi penyuluhan, kemudian diberikan kuesioner posttest. Analisis data masing-masing kelompok dengan uji t-berpasangan dan uji wilcoxon. Sedangkan analisis data antar kelompok dengan uji t-tidak berpasangan.Hasil : Terdapat perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan setelah diberi penyuluhan pada kelompok perlakuan dengan video(p=0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna tingkat pengetahuan setelah diberi penyuluhan dengan simulasi(p=0,000). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada analisis tingkat pengetahuan kelompok perlakuan penyuluhan dengan video dan kelompok perlakuan penyuluhan dengan simulasi(p=0,230).Kesimpulan : Tingkat pengetahuan responden setelah diberi penyuluhan dengan video dan simulasi meningkat, namun tidak ada perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan responden yang diberi penyuluhan video dan penyuluhan dengan simulasi.
BERBAGAI FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TENAGA ALIH DAYA RUMAH SAKIT NASIONAL DIPONEGORO SEMARANG Wulandari, Diah Rahayu; Nugrahaeni, Arwinda; Wahyu, Teddy; Pramono, Dodik
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang:  Petugas alih daya  rumah sakit adalah pekerja dengan potensi bahaya terpapar penyakit dari limbah rumah sakit. Petugas perlu mengerti potensi bahaya yang ada, cara pencegahan masuknya faktor risiko dengan pemakaian Alat Pelindung Diri dan cuci tangan yang baik dan benar. Penyuluhan  yang akan dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, presentasi dan simulasi.Tujuan:  Mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan  peningkatan pengetahuan  petugas alih daya Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang.Metode:  Penelitian experimental dengan ”one group pretest post test”, dengan sampel seluruh tenaga kerja alih daya  Rumah Sakit Nasional Diponegoro sejumlah 132 orang terdiri dari cleaning service, security, dan tenaga administrasi.  Penyuluhan berisi materi tentang limbah medis rumah sakit, tata cara menggunakan APD, dan cara cuci tangan. Mereka mendapat tes sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan.Hasil: Faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan petugas alih daya RSND tentang K3 adalah penyuluhan (p=0,000). Faktor yang tidak berpengaruh adalah umur, pendidikan terakhir, jenis pekerjaan dan kehadiran pada saat penyuluhan.Kesimpulan: Peningkatan pengetahuan petugas alih daya tentang Kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit dipengaruhi oleh adanya kegiatan penyuluhan. Kata kunci: Kesehatan dan keselamatan kerja, Rumah sakit, penyuluhan, tenaga alih daya
PENGARUH KONSELING BIDAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN MINAT MENJADI AKSEPTOR IUD POST PLASENTA DI KECAMATAN UNGARAN BARAT TAHUN 2016 Sari, Asa Mutia; Soeharto, Budi Palarto; Wulandari, Diah Rahayu
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.102 KB)

Abstract

Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk yang masih tinggi di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu hamil sebagai calon akseptor keluarga berencana tentang metode KB pasca salin terutama IUD yang dapat segera dilakukan pasca melahirkan secara efektif dan efisien. Pengetahuan dan pemahaman yang baik dapat dipengaruhi dengan adanya konseling yang berkualitas antara klien dan bidan yang merupakan salah satu indikator penentu keberhasilan program keluarga berencana di Indonesia.Tujuan Mengetahui pengaruh konseling bidan terhadap tingkat pengetahuan dan minat menjadi akseptor IUD post plasenta di Kecamatan Ungaran Barat Tahun 2016.Metode Penelitian ini menggunakan  pre eksperimental one group pretest-posttest design. Sebanyak 42 sampel diambil secara consecutive sampling dari ibu hamil yang melakukan konseling di tempat praktik bidan. Subyek diberi kuesioner pretest dilanjutkan dengan konseling, dan diberi kuesioner setelahnya. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil Rerata usia responden yaitu 26,33 ± 5,485 tahun, 30 responden dengan kehamilan pertama dan 12 responden kehamilan bukan pertama. Pengetahuan ibu tentang IUD pada pretest reratanya 5,79 ± 1,025 dan pada posttest reratanya 7,81 ± 1,065. Terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang bermakna setelah dilakukan konseling (p=0,000), serta minat antara pretest dan posttest dengan nilai perbedaan rata-rata (mean) sebesar 3,83 dan nilai p=0,000 (p<0,05).Kesimpulan Konseling berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan minat menjadi akseptor IUD Post Plasenta di Kecamatan Ungaran Barat.
ANALISIS PELAKSANAAN RUJUKAN RAWAT JALAN TINGKAT PERTAMA PESERTA BPJS KESEHATAN DI PUSKESMAS Umami, Lidia Shafiatul; Soeharto, Budi Palarto; Wulandari, Diah Rahayu
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.459 KB)

Abstract

Latar belakang Di era BPJS sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan medis. Saat ini, kasus rujukan ke pelayanan kesehatan sekunder untuk kasus yang seharusnya dapat dituntaskan di pelayanan primer masih cukup tinggi sehingga menyebabkan beban biaya klaim di fasilitas pelayanan sekunder dan meningkatkan beban kerja petugas di fasilitas pelayanan kesehatan sekunder.Tujuan Tujuan penelitian untuk menganalisis pelaksanaan rujukan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) pasien peserta BPJS di Puskesmas Pandanaran dan Puskesmas Gunungpati.Metode Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode kualitatif menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis dilakukan secara manual dengan menggunakan metode content analysis.Hasil Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diagnosis dan klasifikasi diagnosis pasien yang dirujuk bervariasi. Terdapat diagnosis dengan kompetensi 4A yang dirujuk di kedua puskesmas dengan alasan yang masih sesuai dengan kriteria rujukan di PPK dokter di faskes primer. Masih banyak pasien yang langsung meminta rujukan ketika datang ke puskesmas tetapi hal ini tidak mempengaruhi pelaksanaan rujukan. Pemberi rujukan di kedua puskesmas adalah dokter dan dokter gigi yang bertugas. Ketersediaan fasilitas alat kesehatan di kedua puskesmas sudah sesuai dengan Permenkes nomor 75 tahun 2014. Ketersediaan obat di kedua puskesmas sudah sesuai dengan Fornas namun keterbatasan yang ada menyebabkan kesulitan untuk dokter dan pasien tetapi tidak mempengaruhi rujukan. Lokasi kedua puskesmas tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan rujukan.Kesimpulan Pelaksanaan rujukan di kedua puskesmas sudah sesuai dengan PPK dokter di faskes primer. Rujukan diberikan pada pasien sesuai dengan kriteria rujukan di PPK dokter di faskes primer.
ANALISIS POTENSI PKK DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK PENANGGULANGAN MASALAH KEHAMILAN RISIKO TINGGI Cardiva, Zhafira Zairinda; Soeharto, Budi Palarto; Wulandari, Diah Rahayu
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.214 KB)

Abstract

Latar belakang Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, yakni 359 per 100.000 kelahiran pada tahun 2012. Untuk mencapai target SDG, penurunan AKI hingga 70 kematian per 100.000 kelahiran pada tahun 2030, tidak bisa hanya dengan mengandalkan tenaga kesehatan saja tapi juga dibutuhkan upaya dari masyarakat. Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), adalah salah satu cara yang memungkinkan untuk memberdayakan masyarakat dalam bidang kesehatan, terutama dari aspek promotif dan preventif.Tujuan Mengetahui bagaimana potensi pemberdayaan masyarakat melalui PKK untuk penanggulangan masalah kehamilan risiko tinggi.Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran qualifying quantitative data method. Metode kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalam. Metode kuantitatif menggunakan angket untuk variabel tingkat pengetahuan kader.Hasil Unsur man, method, dan materials PKK terkait penanggulangan kehamilan risti sudah bisa dikatakan baik. Sementara untuk unsur money ada dana bantuan APBD untuk TP.PKK kelurahan, dan swadana untuk kelompok PKK. Permasalahan yang dihadapi antara lain minat masyarakat untuk menjadi kader maupun pengurus PKK yang masih kurang, inisiatif kader yang masih kurang, dan dari masyarakat sendiri sebagai target program PKK.Kesimpulan PKK memiliki potensi dalam menanggulangi kehamilan risiko tinggi melalui pemberdayaan masyarakat, walaupun masih ada kendala yang harus diselesaikan.