Bambang Wispriyono
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

RISIKO KESEHATAN PAJANAN BENZENA, TOLUENA DAN XYLENA PETUGAS PINTU TOL

Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2016): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JANUARY 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efek negatif dari polusi udara terhadap kesehatan manusia banyak diteliti termasuk polusi akibat sistem transportasi. Emisi kendaraan bermotor menghasilkan Benzena, Toluena dan Xylena (BTX) yang merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogenik dan petugas pintu tol merupakan kelompok berisiko terpajan BTX. Penelitian bertujuan mengetahui risiko kesehatan akibat pajanan BTX pada petugas pintu tol. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dan  faktor-faktor antropometri. Hasil penelitian menunjukkan pada pintu tol rata-rata konsentrasi (mean+SD) benzena sebesar 0,00167+0,000056 mg/m3, toluena sebesar 0,00124+0.000049 mg/m3 dan xylena sebesar 0,00147+0,000063 mg/m3 sedangkan pada kantor administrasi konsentrasi tidak terdeteksi oleh alat (Method Detection Limit). Rata-rata risiko non karsinogenik (RQ) BTX pada petugas pintu tol lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan rata-rata RQ BTX petugas administrasi. Risiko kesehatan non karsinogenik dan karsinogenik belum menunjukkan adanya risiko kesehatan yang signifikan. Upaya pencegahan berupa pengelolaan manajemen risiko untuk pengendalian risiko bahan berbahaya di lingkungan perlu ditingkatkan. Kata Kunci: Pintu Tol, Benzena, Toulena, Xylena The researches of BTX (Benzene, Toluene and Xylene) related to the health impacts have been done and published in any publications. One of the risk groups is toll gate’s workers who have been exposed every day with BTX. The design of this study is cross-sectional with Environmental Health Risk Analysis to determine the magnitude of health risks of BTX on the toll gate. The results showed at the toll workers’s respondents have  benzene concentration 0.00167+0.000056 mg/m3, toluene 0.00124+0.000049 mg/m3 and xylene 0.00147+0,000063 mg/m3 respectively, while in the administrative office’s respondents, BTX was undetectable (Minimum Detection Limit). The average RQ of toll gate respondents was significantly higher than administrative office’s respondents. In conclusion, the risk of all workers have the RQ ≤ 1. Non carcinogenic and carcinogenic health risks to all toll gate’s workers recently have not shown any risk yet. Nevertheless, risk management system should be developed and improved. Keywords: Toll Gate, Benzene, Toulene, Xylene

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN PM PADA PEKERJAINDUSTRI READYMIX PT. X PLANT KEBON NANAS JAKARTA TIMUR 10

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 4 (2015): MKMI DESEMBER 2015
Publisher : Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.589 KB)

Abstract

Pajanan agen risiko kesehatan dari lingkungan kerja berdampak pada timbulnya risiko penyakit akibat kerja sehingga pekerja menjadi tidak produktif. Oleh karena itu, untuk mengestimasi risiko kesehatan dari pajanan agen risiko berupa PM dari lingkungan kerja, sebuah penelitian analisis risiko telah dilakukan pada 70 orang pekerja industri readymix PT. X Plant Kebon Nanas. Risiko kesehatan akibat pajanan PM10 dihitung dengan membandingkan asupan PM10 dengan dosis referensi. Konsentrasi PM10 diukur pada 6 titik dengan konsentrasi rata-rata yaitu 0,289 mg/m.Perhitungan risiko yang diterima saat ini (realtime) terdapat 21,4% pekerja yang berada dalam kategori berisiko. Hasil estimasi risiko yang diterima seumur hidup (lifetime) hanya 2 orang pekerja yang dalam kategori tidak berisiko. Manajemen risiko yang dapat dilakukan adalah dengan menurunkan konsentrasi menjadi 0,08 mg/m3. Dengan konsentrasi tersebut pekerja diestimasikan aman bekerja selama 11 jam per hari dan 362 hari per tahun.Kata kunci : Analisis risiko, industri beton, PM10

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN PM-10 PADA PEKERJA INDUSTRI READYMIX PT. X PLANT KEBON NANAS JAKARTA TIMUR

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 4: DESEMBER 2015
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.589 KB)

Abstract

Pajanan agen risiko kesehatan dari lingkungan kerja berdampak pada timbulnya risiko penyakit akibat kerja sehingga pekerja menjadi tidak produktif. Oleh karena itu, untuk mengestimasi risiko kesehatan dari pajanan agen risiko berupa PM10 dari lingkungan kerja, sebuah penelitian analisis risiko telah dilakukan pada 70 orang pekerja industri readymix PT. X Plant Kebon Nanas. Risiko kesehatan akibat pajanan PM10 dihitung dengan membandingkan asupan PM10 dengan dosis referensi. Konsentrasi PM10 diukur pada 6 titik dengan konsentrasi rata-rata yaitu 0,289 mg/m3. Perhitungan risiko yang diterima saat ini (realtime) terdapat 21,4% pekerja yang berada dalam kategori berisiko. Hasil estimasi risiko yang diterima seumur hidup (lifetime) hanya 2 orang pekerja yang dalam kategori tidak berisiko. Manajemen risiko yang dapat dilakukan adalah dengan menurunkan konsentrasi menjadi 0,08 mg/m3. Dengan konsentrasi tersebut pekerja diestimasikan aman bekerja selama 11 jam per hari dan 362 hari per tahun.

Karakteristik Risiko Kesehatan Non Karsinogen Pada Remaja Siswa Akibat Pajanan Inhalasi Debu Particulate Matter

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 14, No 1: MARET 2018
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.717 KB)

Abstract

Peningkatan kendaraan transportasi menyebabkan pencemaran udara.PM2,5 polutan utama memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan non karsinogen. Kondisi cekungan Bandung menyebabkan polutan terperangkap karena penyebaran polutan terhambat. Penelitian bertujuan menganalisis risiko kesehatan pada remaja siswa SMPN 16 Bandung akibat pajanan inhalasi PM2,5 di lingkungan sekolah. Desain studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2,5 dilakukan pada 10 titik menggunakan Haz Dust EPAM 5000.  Sampel siswa kelas VIII sebanyak 66 siswa yang dipilih secara acak. Rata-rata konsentrasi PM2,5 sebesar (29,34 µg/m3), masih di bawah nilai baku mutu menurut PP Nomor 41 Tahun 1999 (65 µg/Nm3). Adanya peningkatan Intake realtime, 3 tahun dan 12 tahun secara berturut-turut 7.53x10-5, 1.25x10-4, 5.02x10-4mg/kg/hari. Intake PM2,5 tinggi pada siswa dengan berat badan rendah dibandingkan dengan siswa dengan berat badan yang besar. Estimasi risiko kesehatan dinyatakan sebagai risk quotient(RQ) yang dihitung dari rata-rata intake pajanan PM2,5 terhadap siswa dan dosis referensi (RfC),RQ>1 menunjukkan risiko perlu dikendalikan.  Hasil analisis dengan durasi pajanan realtime, 3 tahun, dan 12 tahun menunjukkan batas aman terhadap pajanan PM2,5 (RQ < 1). Secara keseluruhan siswa kelas VIII tidak berisiko terhadap pajanan inhlasi PM2,5 di Lingkungan sekolah.

Risk Factors of Malaria Incidence in Endemic Area of Central Java

Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 50, No 1 (2018): SUPPLEMENT
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria caused 212 million cases worldwide in 2015 which associated to environmental factors, ecology, and the presence of vectors. Annual paracite incidence (API) in Indonesia in 2011-2015 decreased. Unfortunately, malaria incidence always exist in Purworejo District which known as one of endemic area in Central Java. This research aimed to determine risk factors of malaria incidence in endemic area especially in Purworejo, Central Java. Logistc regression showed that period of residency 19-34 years (OR=1.612; 95% CI 0.853-3.046), period of residency >34 years (OR=2.050; 95% CI 1.036-4.060), male (OR=2.349; 95% CI 1.365-4.043), and education level less than junior high school (OR=1.677; 95% CI 0.976-2.882) as contributing risk factor to malaria incidence in Purworejo District.

RISIKO KESEHATAN PAJANAN BENZENA, TOLUENA DAN XYLENA PETUGAS PINTU TOL

KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efek negatif dari polusi udara terhadap kesehatan manusia banyak diteliti termasuk polusi akibat sistem transportasi. Emisi kendaraan bermotor menghasilkan Benzena, Toluena dan Xylena (BTX) yang merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogenik dan petugas pintu tol merupakan kelompok berisiko terpajan BTX. Penelitian bertujuan mengetahui risiko kesehatan akibat pajanan BTX pada petugas pintu tol. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dan faktor-faktor antropometri. Hasil penelitian menunjukkan pada pintu tol rata-rata konsentrasi (mean+SD) benzena sebesar 0,00167+0,000056 mg/m3, toluena sebesar 0,00124+0.000049 mg/m3 dan xylena sebesar 0,00147+0,000063 mg/m3 sedangkan pada kantor administrasi konsentrasi tidak terdeteksi oleh alat (Method Detection Limit). Rata-rata risiko non karsinogenik (RQ) BTX pada petugas pintu tol lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan rata-rata RQ BTX petugas administrasi. Risiko kesehatan non karsinogenik dan karsinogenik belum menunjukkan adanya risiko kesehatan yang signifikan. Upaya pencegahan berupa pengelolaan manajemen risiko untuk pengendalian risiko bahan berbahaya di lingkungan perlu ditingkatkan.Kata Kunci: Pintu Tol, Benzena, Toulena, XylenaThe researches of BTX (Benzene, Toluene and Xylene) related to the health impacts have been done and published in any publications. One of the risk groups is toll gates workers who have been exposed every day with BTX. The design of this study is cross-sectional with Environmental Health Risk Analysis to determine the magnitude of health risks of BTX on the toll gate. The results showed at the toll workerss respondents have benzene concentration 0.00167+0.000056 mg/m3, toluene 0.00124+0.000049 mg/m3 and xylene 0.00147+0,000063 mg/m3 respectively, while in the administrative offices respondents, BTX was undetectable (Minimum Detection Limit). The average RQ of toll gate respondents was significantly higher than administrative offices respondents. In conclusion, the risk of all workers have the RQ ? 1. Non carcinogenic and carcinogenic health risks to all toll gates workers recently have not shown any risk yet. Nevertheless, risk management system should be developed and improved.Keywords: Toll Gate, Benzene, Toulene, Xylene

Hubungan Kondisi Rumah dan Kepadatan Lalat di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah

Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2017): Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: People who live in a poor condition of house or in a bad environment quality can attract flies to thrive and transmit disease. In the protection against disease, the house should have safe and clean facilities and being prevented from vector that has role in transmitting the disease, such as housefly. Residential area in Cipayung village, especially around final waste disposal (TPA) Cipayung, Depok with a radius of 200 meters from the landfill of  final waste disposal has the potential to become perching place of housefly, because of flight range of housefly can reach around 200-1000 meters. Method: This research is done by a cross sectional study design that aims to determine relation between house condition with the density of housefly. Results: The results showed that there was no significant relation between house criteria with housefly density inside house with p-value 0.659 (OR 0.7; 95% CI: 0.136 to 3.920), however there is a significant relation between house criteria with housefly density outside house, house with unhealthy house criteria has risk 4.2 times higher houseflies density rather than house with healthy house criteria p-value 0.011, (OR 4.273; 95% CI: 1.414 -12.909). Conclusion: Housefly control can be executed through making healthy housing and environmental.