Articles

Found 33 Documents
Search

ANALISA KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DARI PERSPEKTIF KEBIJAKAN DELIBERATIF

Eksplorasi Vol 24, No 1 (2012): Eksplorasi
Publisher : Eksplorasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Penelitian tentang kebijakan Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Surakarta, terispirasi dari kesuksesan  Kota Surakarta   dalam menangani Pedagang Kaki Lima, secara persuasif dan humanis.   Dengan melakukan observasi, wawancara mendalam dengan beberapa orang yang dijadikan informan, yaitu pedagang kaki lima,  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta, dan dari Birokrasi sebagai, pihak yang memiliki inisiatif untuk membuat kebijakan penataan PKL, dan sekaligus sebagai Implementor dari kebijakan tersebut.       Sehingga  peneliti ini dapat  memberi gambaran/mendeskripsikan, penjelasan, dan menganalisis serta menginterpretasikan, peran pemerintah Kota Surakarta dalam proses pembuatan kebijakan penataan Pedagang Kaki Lima   sesuai dengan  tujuan penelitian. Nelson & Wright (1995;124) menyatakan bahwa partisipasi berarti bahwa kaum miskin diberi status sebagai stakeholders utama.   Partisipasi berarti bahwa mereka aktif, ada keterlibatan dan harus transformatif. Partisipasi  pada tataran perumusan kebijakan, implementasi, pengawasan dan evaluasi   kebijakan. Dari hasil analisa, penelitian ini menggambarkan bahwa, proses pengambilan kebijakan Penataan Pedagang Kaki Lima, secara partisipasitif dengan melibatkan masyarakat (paguyuban Pedagang Kaki Lima) Kota Surakarta. Namun dalam pelaksanaannya masih kurang di sosialisasikan. Sedangkan  implikasi teoritisnya adalah mengembangkan ilmu Administrasi Negara, konsentrasi kebijakan publik. Dan bagi peneliti-peneliti lainnya dapat mengembangkan penelitian ini pada, apa yang telah ditawarkan winarti (Desertasi) pemanfaatan pimpinan Organis dalam pelaksanaan kebijakan.  Kata kunci : pedagang kaki lima, perda, partisipasi

PEMBANGUNAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SAINS MELALUI METODE ILMIAH

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.07 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Salah satu upaya dalam pembentukan karakter siswa dapat ditanamkan dengan pembelajaran sains yaitu dengan memberikan pengalaman kepada siswa. Sains adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuari yang dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) secara terus-menerus dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. Sains juga merupakan pengetahuan yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Pembelajaran sains tidak dapat dilepaskan dari metode ilmiah karena  metode ilmiah  merujuk pada proses-proses pencarian sains yang dilakukan siswa. Dalam pembelajaran sains, metode ilmiah dapat dilakukan melalui pemberian pengalaman dalam bentuk kegiatan mandiri ataupun kelompok kecil. Metode ilmiah penting dikembangkan karena dapat mengembangkan  kemampuan yang paling sederhana yaitu mengamati, mengukur sampai dengan kemampuan tertinggi yaitu kemampuan bereksperimen. Selain itu juga dapat mencapai ranah kognitif level terendah sampai dengan level tertinggi. Dengan kegiatan metode ilmiah selain untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa, dan juga memuat unsur kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini, aspek afektif yang muncul berupa munculnya karakteristik anak-anak untuk melakukan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan hormat pada orang lain, semangat bekerja, semangat belajar, pantang putus asa,  menghargai orang lain, jujur, rasa ingin tahu, mandiri, kreatif,kerja keras, disiplin dan percaya diri.   Kata kunci: pembangunan karakter, metode ilmiah, kognitif, psikomotorik, afektif

PEMBANGUNAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SAINS MELALUI METODE ILMIAH

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.07 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Salah satu upaya dalam pembentukan karakter siswa dapat ditanamkan dengan pembelajaran sains yaitu dengan memberikan pengalaman kepada siswa. Sains adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuari yang dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) secara terus-menerus dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. Sains juga merupakan pengetahuan yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Pembelajaran sains tidak dapat dilepaskan dari metode ilmiah karena  metode ilmiah  merujuk pada proses-proses pencarian sains yang dilakukan siswa. Dalam pembelajaran sains, metode ilmiah dapat dilakukan melalui pemberian pengalaman dalam bentuk kegiatan mandiri ataupun kelompok kecil. Metode ilmiah penting dikembangkan karena dapat mengembangkan  kemampuan yang paling sederhana yaitu mengamati, mengukur sampai dengan kemampuan tertinggi yaitu kemampuan bereksperimen. Selain itu juga dapat mencapai ranah kognitif level terendah sampai dengan level tertinggi. Dengan kegiatan metode ilmiah selain untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa, dan juga memuat unsur kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini, aspek afektif yang muncul berupa munculnya karakteristik anak-anak untuk melakukan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan hormat pada orang lain, semangat bekerja, semangat belajar, pantang putus asa,  menghargai orang lain, jujur, rasa ingin tahu, mandiri, kreatif,kerja keras, disiplin dan percaya diri.   Kata kunci: pembangunan karakter, metode ilmiah, kognitif, psikomotorik, afektif

Pengembangan Modul Fisika Pokok Bahasan Hukum Newton bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Tunanetra) Di Kelas Inklusi SMA/MA Kelas X

Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siswa tunanetra SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta, MAN Maguwoharjo dan SMAN 1 Sewon belum memiliki sumber belajar mandiri berupa modul Braille khususnya pada materi Hukum Newton. Berdasarkan kenyataan ini maka dibutuhkan sebuah sumber belajar yang didesain khusus bagi siswa tunanetra di kelas Inklusi yakni modul Braille pada pokok bahasan Hukum Newton.Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) mengembangkan modul fisika pokok bahasan Hukum Newton untuk siswa tunanetra SMA/MA kelas X sebagai sumber belajar mandiri, (2) mengetahui kualitas modul fisika Braille materi Hukum Newton untuk siswa tunanetra SMA/MA kelas X, (3) mengetahui respon siswa terhadap modul fisika Braille yang telah dikembangkan.Penelitian ini merupakan penelitian R & D dengan model prosedural yang mengadaptasi dari pengembangan perangkat model 4-D, yakni Define, Design, Develop, and Disseminate. Instrumen penelitian berupa angket kualitas modul yaitu menggunakan skala Likert yang dibuat dalam bentuk checklist. Instrumen untuk siswa berupa angket respon siswa yaitu menggunakan skala Guttman yang dibuat dalam bentuk checklist. Modul dinilai kualitasnya oleh 3 ahli materi, 1 ahli media, dan 2 guru fisika SMA/MA. Kelayakan modul berdasarkan respon siswa pada uji coba terbatas sebanyak 2 siswa dan uji coba luas sebanyak 8 siswa.Hasil penelitian berdasarkan penilaian dari ahli materi, ahli media dan guru fisika SMA/MA modul memiliki kategori sangat baik (SB). Persentase keidealan menurut ahli materi adalah 87,88%; persentase keidealan menurut ahli media adalah 90,00% dan persentase keidealan menurut guru Fisika SMA/MA adalah 75,00%. Respon siswa terhadap modul fisika Braille pada uji coba terbatas diperoleh persentase 97,22%; sedangkan pada uji coba luas diperoleh persentase 89,58%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modul layak dijadikan sebagai salah satu sumber belajar mandiri bagi siswa tunanetra.

PENGEMBANGAN MODUL IPA FISIKA SMP MATERI SUHU UNTUK SISWA TUNANETRA

PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 1, No 5 (2012)
Publisher : PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulita siswa tunanetra tingkat smp dalam belajar Fisika dan mengembangkan modul IPA Fisika materi Suhu untuk siswa tunanetra dalam bentuk braille.Penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau Research and development (R&D) model prosedural, yakni model yang bersifat deskriptif, menunjukkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk dan diadaptasi dari pengembangan perangkat model 4-D, yakni Define, Design, Develop, and Disseminate.Hasil penelitian menunjukkan minimya referensi buku yang dapat digunakan oleh siswa tunanetra dalam belajar IPA Fisika sehingga siswa hanya mengandalkan apa yang diperoleh dari guru, minimnya alat peraga yang memadai, siswa mengalami kesulitan dalam perhitungan matematis, rumus, dan analisis soal. Modul yang dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan siswa tunanetra.Kata kunci : Modul, Braille,Tunanetra, Fisika

PENGEMBANGAN PANDUAN PRAKTIKUM HUKUM ARCHIMEDES UNTUK MTs LB/A YAKETUNIS KELAS VIII

PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siswa tunanetra memiliki keterbatasan dalam penglihatan sehingga mendapat hambatan dalam kegiatan praktikum hukum Archimedes yang menuntut peran aktif visual. Penelitian ini bertujuan, 1) mengembangkan panduan praktikum hukum Archimedes untuk siswa MTs LB/A Yaketunis kelas VIII yakni dalam bentuk rekaman yang dilengkapi dengan teks Braille, 2) mengetahui kualitas dari panduan praktikum hukum Archimedes.Penelitian ini merupakan penelitian R & D dengan model prosedural yang mengadaptasi dari pengembangan perangkat model 4-D, yakni Define, Design, Develop, and Disseminate.Berdasarkan penilaian ahli media dan ahli materi panduan praktikum hukum Archimedes masing-masing memiliki kualitas baik (B) dengan persentase 80% dari skor ideal, sedangkan menurut guru fisika MTs LB/A memiliki kualitas sangat baik (SB) dengan persentase 91,82% dari skor ideal. Ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan panduan praktikum hukum Archimedes, siswa mampu melakukan praktikum hukum Archimedes secara utuh layaknya siswa awas. Kata Kunci: panduan praktikum, Braille, hukum Archimedes, tunanetra

HASIL BELAJAR IPS TERPADU ANTARA PEMBELAJARAN MAKE A MATCH, TPS DAN STAD

JEE (Jurnal Edukasi Ekobis) Vol 2, No 4 (2014): JEE (jurnal Edukasi Ekobis)
Publisher : FKIP Unila

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The goal of this research is to know the differences and effectiveness of learning model Make a Match, TPS and STAD in social study. The method of this research is quasi experiment approach. Data collected is by using posttest. Hypothesis testing measured by analysis formula variant one way and t-Dunnet test. Based on the research, it is gotten (1) There is a differences of learning result average in social study which is taught by using learning model Make a Match, TPS and STAD; (2) The result of learning social study by using Make a Match model is higher than using TPS model; (3) The result of learning social study by using TPS model is higher than using STAD model; and (4) The result of learning IPS study by using TPS model is higher than using STAD model.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan efektivitas penerapan model pembelajaran Make a match, TPS dan STAD dalam mata pelajaran IPS Terpadu. Metode yang digunakan adalah eksperimen semu. Teknik pengambilan data yaitu dengan tes. Pengujian hipotesis menggunakan rumus analisis varians satu arah dan uji t-Dunnet. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh temuan (1) Ada perbedaan rata-rata hasil belajar IPS Terpadu siswa yang diberi pembelajaran, Make a Match, TPS dan STAD; (2) Hasil belajar IPS Terpadu siswa menggunakan model Make a Match lebih tinggi dibandingkan menggunakan TPS; (3) Hasil belajar IPS Terpadu siswa menggunakan model TPS lebih tinggi dibandingkan menggunakan STAD; (4) Hasil belajar IPS Terpadu siswa menggunakan model TPS lebih tinggi dibandingkan menggunakan STAD.Kata kunci: hasil belajar, make match, stad, tps.

Pengembangan Modul Fisika Pokok Bahasan Hukum Newton bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Tunanetra) Di Kelas Inklusi SMA/MA Kelas X

Jurnal Riset dan Kajian Pendidikan Fisika Vol 1, No 1 (2014): Vol I: April 2014
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siswa tunanetra SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta, MAN Maguwoharjo dan SMAN 1 Sewon belum memiliki sumber belajar mandiri berupa modul Braille khususnya pada materi Hukum Newton. Berdasarkan kenyataan ini maka dibutuhkan sebuah sumber belajar yang didesain khusus bagi siswa tunanetra di kelas Inklusi yakni modul Braille pada pokok bahasan Hukum Newton.Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) mengembangkan modul fisika pokok bahasan Hukum Newton untuk siswa tunanetra SMA/MA kelas X sebagai sumber belajar mandiri, (2) mengetahui kualitas modul fisika Braille materi Hukum Newton untuk siswa tunanetra SMA/MA kelas X, (3) mengetahui respon siswa terhadap modul fisika Braille yang telah dikembangkan.Penelitian ini merupakan penelitian R & D dengan model prosedural yang mengadaptasi dari pengembangan perangkat model 4-D, yakni Define, Design, Develop, and Disseminate. Instrumen penelitian berupa angket kualitas modul yaitu menggunakan skala Likert yang dibuat dalam bentuk checklist. Instrumen untuk siswa berupa angket respon siswa yaitu menggunakan skala Guttman yang dibuat dalam bentuk checklist. Modul dinilai kualitasnya oleh 3 ahli materi, 1 ahli media, dan 2 guru fisika SMA/MA. Kelayakan modul berdasarkan respon siswa pada uji coba terbatas sebanyak 2 siswa dan uji coba luas sebanyak 8 siswa.Hasil penelitian berdasarkan penilaian dari ahli materi, ahli media dan guru fisika SMA/MA modul memiliki kategori sangat baik (SB). Persentase keidealan menurut ahli materi adalah 87,88%; persentase keidealan menurut ahli media adalah 90,00% dan persentase keidealan menurut guru Fisika SMA/MA adalah 75,00%. Respon siswa terhadap modul fisika Braille pada uji coba terbatas diperoleh persentase 97,22%; sedangkan pada uji coba luas diperoleh persentase 89,58%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modul layak dijadikan sebagai salah satu sumber belajar mandiri bagi siswa tunanetra.

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP DENGAN METODE MENJODOHKAN KOTAK

Dinamika Pendidikan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The low students’ activeness level in the teaching and learning process willinfluence students’ achievement. Choosing the varied and appropriate learning methodis very important for the success of teaching and learning process. The purpose of thisstudy was to enhance the students’ activeness and students’ learning outcomes at thetopic of Fixed Assets Depreciation by using cooperative learning with match boxmethod, especially for students of class XI AK 2 at SMK N 2 Blora. It was a classroomaction research. The methods of the study were observation and evaluation. The resultsof the research showed that match box method can increase students’ activeness.Students’ activeness was only 71.05% at the beginning and after using the match boxmethod, it rose up to 84.21% and was successful to improve students’ learningoutcomes because students’ learning completeness rose from 28.95% to 65.79% .

Identifikasi Batuan Gunung Api Purba di Pegunungan Selatan Yogyakarta Bagian Barat Berdasarkan Pengukuran Geolistrik

EKSPLORIUM Vol 36, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.565 KB)

Abstract

Daerah penelitian berada di perbatasan antara Dataran Yogyakarta dengan Pegunungan Selatan Yogyakarta bagian barat. Secara morfologi dan litologi yang tersingkap, indikasi gunung api purba yang dibuktikan dengan keterdapatan batuan gunung api seperti lava, breksi, dan tuf. Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi adanya batuan gunung api purba di bawah permuaan sepanjang Berbah-Imogiri berdasarkan data geolistrik. Metode yang digunakan adalah melakukan pengukuran geolistrik di empat lokasi secara mapping dengan konfigurasi dipole-dipole. Panjang bentangan untuk setiap lintasan 500 meter. Hasil pengukuran geolistrik menunjukkan pada lintasan 1 di Sumber Kulon-Kalitirto, Kecamatan Berbah,diinterpretasi adanya batuan gunung api berupa lava basal dan tuf. Lintasan 2 di Pilang-Srimulyo, Kecamatan Piyungan, diinterpretasi berupa breksi skoria. Lintasan 3 di Ngeblak-Bawuran, Kecamatan Pleret, diinterpretasi adanya tuf dan lava. Lintasan 4 di Guyangan-Wonolelo, Kecamatan Pleret diinterpretasi berupa tuf dan lava. Batuan gunung api secara umum terbaca mempunyai nilai tahanan jenis yang tinggi, yaitu >300 Ωm. Adanya kandungan air atau mineralisasi cenderung menurunkan nilai tahan jenis batuan gunung api tersebut. The study area is located between western part of Yogyakarta plains and Southern Mountains. The morphology and lithology along the Berbah-Imogiri show the existence of an ancient volcano. This is proven by outcrop of volcanic rock like lava, breccia and tuff. The aim of this study is to identify the existence of ancient volcanic rocks along Berbah-Imogiri based on geoelectrical data. The method used  to perform measurements at four locations geoelectrical mapping with dipole-dipole configuration a long stretch of track for every 500 meters. Geoelectrical measurement results showed on track 1 in Source Kulon-Kalitirto, District Berbah, interpretedas  volcanic rocks such as basalt lava and tuff. Tracks 2 in Pilang-Srimulyo, District Piyungan, iterpreted as volcanic rocks of scoria breccia. Tracks 3 in Ngeblak-Bawuran, District Pleret, interpreted as lava and tuff. And track 4 on Guyangan-Wonolelo, District Pleret interpreted as form of tuff and lava. Volcanic rocks are generally having a high resistivity value > 300 Ωm. The content of water or mineralization tends to reduce the resistivity value of resistant volcanic rock.