Articles

Found 23 Documents
Search

Prospek Pengembangan Usaha & Pemasaran Ternak Sapi Potong Di Kalimantan Timur

Jurnal Ilmiah Kesatuan (JIK) Vol 6, No 1 (2004): Jurnal Ilmiah Kesatuan
Publisher : STIE Kesatuan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Propinsi Kalimantan Timur potensial untuk pengembangan ternak, khususnya sapi potong. Pemerintah daerah setempat melalui Dinas Peternakan telah berupaya mengembangkan komoditas ini yang sebenarnya amat prospektif. Hasil analisis finansial yang dilakukan di tingkat petani ternak menunjukkan keragaman usaha ternak sapi potong layak untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan oleh adanya ketersediaan input yang cukup disamping juga ditunjang oleh prospek pasar lokal yang cukup kuat, dukungan fasilitas lahan, penyuluhan maupun input lain. Walaupun dukungan fasilitas input maupun fasilitas-fasilitas lainnya cukup tersedia, namun pada kenyataannya tetap ada kendala. Di tingkat petani, adalah bahwa beternak sapi potong membutuhkan curahan jam kerja yang cukup tinggi, sehingga tidak mustahil apabila minat petani untuk berusahatani ternak masih terbatas. Sisi lain pekerjaan di luar sektor pertanian yang pendapatan menguntungkan tampaknya masih merupakan pesaing utama dalam alokasi tenaga kerja. Sementara itu dengan adanya dukungan modal usaha ternak di tingkat petani yang masih rendah, usaha ternak sapi potong tampak masih mengalami kesulitan untuk berkembang. Penelitian ini dilakukan di Propinsi Kalimantan Timur khususnya Kabupaten Pasir, Kecamatan Sepaku-Semoi

Krisis Ekonomi: Pengaruhnya Terhadap Dinamika Pasar Tenaga Kerja Pertanian Di Indonesia Kasus Di Provinsi Jawa Barat

Jurnal Ilmiah Kesatuan (JIK) Vol 5, No 2 (2003): Jurnal Ilmiah Kesatuan
Publisher : STIE Kesatuan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertengahan tahun 1997 Indonesia telah mengalami krisis ekonomi maupun krisis moneter yang ditandai oleh semakin melemahnya mata uang rupiah khususnya terhadap dolar, disamping juga terganggunya system kelembagaan keuangan negara yang terus berlarut-larut yang pada akhirnya meluas dan berdampak terhadap krisis politik yang diwarnai oleh jatuhnya pemerintahan orde baru. Kejadian tersebut pada akhirnya membawa negara ini pada keadaan ekonomi dan politik yang kurang stabil bahkan juga berdampak terhadap tingkat kepercayaan masyarakat luar negri yang diwarnai oleh semakin melemahnya minat investor asing untuk masuk ke Indonesia dan juga semakin membengkaknya utang luar negeri karena pengaruh lemahnya matauang rupiah tersebut. Hal ini diikuti pula oleh semakin meningkatnya kebangkrutan bisnis terutama perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor. Sektor pertanian mada masa-masa krisis tersebut justru menunjukkan "ketangguhannya" dalam menyelamatkan ekonomi negara, termasuk didalamnya dalam menstabilisir penawaran pasar tenaga kerja dibidang pertanian. Tulisan ini merupakan hasil studi literature dari beberapa publikasi yang sebagian besar kasus utamanya sengaja diambil dari kasus di Provinsi Jawa Barat khususnya pada wilayah pedesaan di daerah sentra-sentar produksi padi, yang mana wilayah tersebut merupakan salah saatu sentra padi secara nasional.

Dinamika Perkembangan Harga: Hubungannya dengan Tingkat Keterpaduan Antar¬pasar dalam Menciptakan Efisiensi Pemasaran Komoditas Bawang Merah

Jurnal Ilmiah Kesatuan (JIK) Vol 4, No 1-2 (2002): Jurnal Ilmiah Kesatuan
Publisher : STIE Kesatuan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di antara komoditas hortikultura, sayuran merupa¬kan komoditas yang paling berperan baik dalam kon¬sumsi rumah tangga maupun penunjang penda¬pat¬an petani. Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki masalah yang cukup unik dalam hal pemasarannya di mana gejolak harga yang sangat ekstrim dapat terjadi setiap saat. Satu hal yang cukup menarik untuk dikaji bahwa komoditas ini walau dalam skala kebutuhan yang kecil, namun hampir setiap lapisan rumah tangga membutuhkan secara kontinu sebagai kebutuhan konsumsi keluarga sehari-hari. Oleh karena itu, keseimbangan antara produksi dan harga komoditas ini menjadi penting artinya. Di sisi lain keragaan perkembangan harga di sentra pasar konsumen maupun pasar produsen sangat fluktuatif. Fenomena yang demikian mencerminkan adanya gejala pasar yang kurang konsisten terhadap pengaruh supply-demand terhadap komoditas yang bersangkutan. Kata kunci: Keterpaduan pasar.

Dinamika Ketenagakerjaan pada Wilayah Pedesaan Lahan Kering di Indonesia

Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.931 KB)

Abstract

Indonesian Population increasing, the other side of the jobs that are limited, it is problems. As a country, agraris reality shows that availability of jobs was largely in agriculture sector. Inhabitant of indonesia development increasing while on the other side of the jobs that are limited, it is still problems. Its reality shows that availability of jobs was largely in agriculture sector. This was demonstrated by the source of livelihood largely from agriculture. As we know that in a domicile of agricultural labors being in the region with agroekosystem dryland which is sometimes tinged by the marginal land. Relating to employment been trying to highlight structure labour participation, especially in terms of level good chance and labour force, according to age, level of education, and types of work as well as people in rural areas, mobilization especially in village with agroekosistem dry land. The provinces that being the location where research is Lampung, South Sulawesi East Java, Central Java and West Java. The result showed that viewed from accessibility, job opportunities then accessibility of labor in this area use hasnt job opportunities outside agriculture. If the employment opportunities, the work got generally the same work often they do in the provenance as labor and transport services. Keywords: employment dynamics, rural areas and dryland

Realisasi Kegiatan Program Daerah dalam Pengembangan Pembibitan Sapi Potong Guna Mendukung Swasembada Daging Nasional

Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.616 KB)

Abstract

Regional autonomy is given broad authority, real and accountable to local governments in proportion. In line with the local government should be able to utilize the potential of area resources optimally. However, under Regulation No 25 ps 2 verse 3, yr 2000 showed that specific authority perbibitan and arrangements regarding disease prevention remains a central government authority in this regard is Breed Livestock Directorate. Do with the efforts to develop livestock breeding cattle in various respo . In an effort to increase the population of cattle beef cattle , a policy that could be done by the East Java Provincial Government "Berlian" program. Meanwhile, Bali local government has declared Simantri Program, Jambi Provincial Government still relies on the centers programs, while in West Java are still doing investigations were the provinces that have the potential technical and non- technical support. This paper is part of the research results about the prospect of Livestock Breeding Beef Cattle Expansion medium scale done in 2012 by the Center for Economic and Social Agriculture . As for the location of the research done in the Province of Bali , East Java , West Java and Jambi Province Keywords: Regional Programme, Beef Cattle Breeding, National Self-Sufficiency

Peran Sarana Angkutan Darat Dalam Upaya Peningkatan Efisiensi Distribusi Ternak Dan Hasil Ternak Sapi Potong Di Indonesia

Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.316 KB)

Abstract

In livestock trading system and cattle product such as meat and other livestock products always involves some businesses that make up the chain of marketing. Tradable commodity that can be distributed right from the producer to the end consumer in the form of live cattle or in the form of livestock product. Distribution activities of livestock and livestock products by land necessarily involves a good means of land transport trains, trucks and other means of land transport. While also involving the various levels of the marketing chain of middlemen village level, large padagang up with retailers. Implementation of the distribution chain between marketing is not just a process of transporting goods. Consistent with the mechanism of the existing business, there will be a new price formation on each node chain path. The longer the chain through which the formation of prices will be higher . Such conditions led to the emergence of the marketing margin distribution on each node marketing chain. The amount of the marketing margin generated between the node is varied, it is largely determined by many things, in addition to the cost of marketing, also the advantage taken by the perpetrator. The study was conducted in East Java and West Java in 2013. Analysis of data using simple cross-tabulation of data derived from primary data and secondary data Keywords: Land Transport, Distribution and Livestock

Prospek dan Kendala Pengembangan Agribisnis Jagung di Propinsi Nusa Tenggara Barat

Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.899 KB)

Abstract

Nationally, corn demand in Indonesia is still experiencing a lot of shortcomings, so as to fulfill domestic demand is still much imports. It makes a significant opportunity for potential regions such as West Nusa Tenggara Province to develop commodity massively. As it is known that in the development of commodity corn farming will always be included in the networking activities of agribusiness commodities themselves, which means success in improving the cultivation of corn farming can not be separated from the system of agribusiness commodities.. Development of corn by most farmers are not necessarily for their own consumption but geared to meet market needs. This paper is a portrait of the problems and opportunities faced by actors from the business development of corn producers (farmers) to the consumer of corn in the region of West Nusa Tenggara Province. Through the SWOT method to try to put hail research in the field. From the results showed that the cultivation of corn farming development in the province of West Nusa Tenggara are still many obstacles and barriers. On the other hand is very promising prospects for future development Keywords: Prospect, Constraints, Agricultural Development , Corn

Kebijakan Pembangunan Sosial Ekonomi menuju Sistem Peternakan yang Diharapkan

Analisis Kebijakan Pertanian Vol 7, No 3 (2009): Analisis Kebijakan Pertanian
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.626 KB)

Abstract

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diramalkan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang, dan pertumbuhan ini akan memacu peningkatan konsumsi, antara lain konsumsi hasil-hasil peternakan. Pada sisi lain, suplai hasil peternakan dalam negeri seperti daging dan susu masih sangat rendah, sehingga pemerintah terpaksa mengizinkan impor daging dan susu. Sektor produksi peternakan harus melakukan antisipasi peningkatan konsumsi tersebut, terutama untuk menjamin ketahanan pangan dan menghindarkan pengurasan cadangan devisa negara untuk impor daging dan susu yang sebenarnya tidak perlu. Sistem peternakan domestik yang ada sekarang dinilai akan sulit melakukan antisipasi terhadap keadaan dan perubahan yang akan terjadi, sehinga diperlukan suatu tindakan restrukturisasi industri peternakan ke arah suatu sistem yang diharapkan. Sampai saat ini belum ada rumusan arah pembangunan peternakan dan efektivitas program-program pembangunan peternakan tidak atau belum jelas ke mana arahnya. Dalam kaitan itu, khusus untuk subsektor peternakan, perlu dirancang suatu gagasan tentang bagaimana bentuk peternakan harapan di masa depan dan langkah-langkah apa yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Tulisan ini bertujuan menyampaikan gagasan tersebut dengan melakukan analisis review dan sintesis hasil-hasil penelitian sosial ekonomi peternakan yang pernah dilakukan.

Tinjauan Ekonomi Ternak Sapi Potong di Jawa Timur

Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.68 KB)

Abstract

EnglishEast Java Province is one of potential regions in the country for beef cow development. This is facilitated with sufficient feed from agricultural by-products, the farmers’ habits in raising beef cows for additional income, and cows as working animals in farm land. The province produces significant beef cows not only sufficient for satisfying regional demand but also for supply of the outside regions. The beef cow farms develop well in the province due to integration of livestock and farm business. This paper assesses performances of livestock farms and agribusiness consisting of livestock business, marketing channel, and the constraints encountered. IndonesianSecara nasional wilayah Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah pengembangan ternak sapi potong yang sangat potensial. Hal ini ditunjang ketersediaan pakan dari limbah pertanian yang mencukupi, kebiasaan masyarakat yang menjadikan ternak sapi potong sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga maupun sebagai ternak kerja di pertanian. Wilayah ini mampu berswasembada daging sapi, bahkan mampu mensuplai kebutuhan daging ke luar daerah. Kegiatan usaha ternak yang diupayakan pada pemanfaatan limbah pertanian menunjukkan bahwa antara usaha ternak dan usaha tani merupakan suatu sistem usaha yang berkembang diwilayah ini. Kajian ini bertujuan melakukan tinjauan kinerja usaha ternak dan kinerja agribisnis dalam arti luas. Aspek kajian meliputi usaha ternak secara keseluruhan, distribusi mata rantai dan mekanisme pemasaran, serta menelaah kendala dan hambatan yang dihadapi. Bahan kajian berasal dari review hasil-hasil penelitian peternakan sapi potong di Jawa Timur.

Pengembangan Pola Integrasi Tanaman-Ternak Merupakan Bagian Upaya Mendukung Usaha Pembibitan Sapi Potong Dalam Negeri

Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.655 KB)

Abstract

EnglishThe beef self-sufficiency program is aimed at raising beef cattle population to meet national meat consumption. If the program is successful it will reduce imports of live cattle, feeder cattle and beef. Sustainability of this program is expected to achieve beef self-sufficiency in the future. Self-sufficiency is ability to meet domestic demand with beef import of not more than 10 percent which is not produced domestically.  Business of beef cattle breeding today is mostly conducted by small-scale farmers with cow-calf operation pattern usually integrated with other agricultural commodity farms. To increase supply of of feeder cattle and population of beef cattle population at national level it requires certain efforts. In order to enhance cattle breeding business from small-scale to medium-scale ones, some efforts are needed such as integration pattern between crops and cattle. Opportunities for integrating crops and beef cattle are promising. The farmers need to apply technologies to access cheaper feed.  Credit provision with low interest rate and less complicated procedure to the bank for animal procurement will help farmers in increasing their livestock farm scales. Assistance of extension workers and related livestock officers are critically important to farmers in dealing with their beef cattle breeding business. IndonesianProgram swasembada daging sapi (PSDS) pada dasarnya merupakan kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan populasi sapi potong. Program tersebut diarahkan agar kebutuhan konsumsi daging secara nasional dapat terpenuhi. Keberhasilan program tersebut berimplikasi pada menurunnya prosentase impor baik sapi hidup terutama sapi bakalan maupun daging sapi. Kekurangan daging sapi secara nasional selama ini masih ditanggulangi melalui impor daging maupun sapi hidup yang nilainya cukup besar. Keberlanjutan program ini dimaksudkan agar dimasa mendatang secara perlahan diharapkan Indonesia dapat mencapai swasembada. Pengertian swasembada yang dimaksud adalah besarnya kebutuhan daging asal impor tidak lebih dari 10 persen. Besaran daging impor 10 persen tersebut merupakan daging yang memang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Dilihat dari pelaku usaha pembibitan sapi potong saat ini, sebagian besar diusahakan  dan dikembangkan oleh usaha peternakan rakyat dengan pola produksi induk-anak (cow-calf operation) dalam usaha skala kecil dan biasanya terintegrasi dengan usaha pertanian lainnya. Untuk meningkatkan ketersediaan jumlah bibit sapi bakalan secara nasional dan dalam  upaya peningkatan populasi sapi potong diperlukan upaya–upaya tertentu. Agar usaha pembibitan ternak sapi potong dapat berkembang dari skala kecil menjadi skala menengah salah satu upaya adalah peningkatan skala usaha yang dapat diimplementasikan melalui pola integrasi antara tanaman dengan ternak sapi potong. Peluang untuk pengembangan kearah tersebut sebenarnya terbuka lebar, hanya saja diperlukan upaya serius untuk menindaklanjuti usaha tersebut. Untuk mengarah dari usaha pembibitan tradisional skala kecil ke usaha pembibitan skala menengah memang tidak mudah, banyak hal yang harus diupayakan dan diperlukan penanganan yang lebih serius oleh pemerintah terutama dalam hal peningkatan aplikasi teknologi ke peternak terutama teknologi pengadaan pakan murah dan mudah yang bisa dijangkau oleh peternak. Selain itu kebijakan penyediaan plafon kredit untuk pengadaan ternak dengan bunga rendah yang mudah diakses dengan aturan yang lebih fleksibel sangat membantu peternak dalam meningkatkan skala usaha pembibitan ternak sapi potong. Untuk semua itu, peran penyuluh maupun dinas peternakan dalam membantu peternak untuk mengatasi permasalahan dilapangan sangat dibutuhkan.