Retno Winarni
Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Jember Jl. Kalimantan No. 37 Jember 68121

Published : 32 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Humanus

THE MEANING AND TEACHING OF “BUDI PEKERTI” IN THE POETRY OF KEKEAN BY F. AZIZ MANNA: SEMIOTIC STUDIES OF RIFFATERRE Setiawan, Kodrat Eko Putro; Andayani, Andayani; Winarni, Retno
HUMANUS Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.616 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8034

Abstract

Poetry can be used as a medium internalization precept of “budi pekerti” (manner). The theory of semiotic Riffaterre can be used in understand the meaning and precepts of “budi pekerti” mind contained in poetry Kekean work F. Aziz Manna. Research methodology this is descriptive qualitative. The result of this research suggests that indirectness expression by replacing meaning in the form of metaphors and similes and the deflection the meaning of ambiguity. Reading a heuristic useful to clarify the meaning of language. Reading hermeneutic in poetry Kekean remembrance people is in this world for permits god, therefore attitude “tawaduk” should be owned by each individual. Matrix poetry Kekean is an attitude “tawaduk” that should be owned by each individual.  The model in Kekean poetry is “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The varians in the Kekean poem is “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The teaching of “budi pekerti” that are contained in the poetry Kekean among others: believe in the existence of God; have a sense of self-worth; developing work ethos and learning; have a sense of responsibility; and able to control themselves.Keyword: Kekean poetry, budi pekerti, semiotik Riffaterre MAKNA DAN AJARAN BUDI PEKERTI DALAM PUISI KEKEAN KARYA F. AZIZ MANNA: KAJIAN SEMIOTIK RIFFATERREAbstrakPuisi dapat digunakan sebagai media internalisasi ajaran budi pekerti. Teori Semiotik Riffaterre dapat digunakan dalam memahami makna dan ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean karya F. Aziz Manna. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti dalam bentuk metafora dan simile dan penyimpangan arti berupa ambiguitas. Pembacaan heuristik berguna untuk memperjelas arti secara kebahasaan. Pembacaan hermeneutik dalam puisi Kekean mengandung makna manusia ada di dunia ini atas izin Allah, oleh sebab itu sikap tawaduk harus dimiliki oleh setiap individu. Matriks puisi Kekean adalah sikap tawadhu yang harus dimiliki oleh setiap individu. Model dalam puisi Kekean adalah “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Varian dalam puisi Kekean adalah  “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean antara lain: meyakini adanya Tuhan; memiliki rasa menghargai diri sendiri; mengembangkan etos kerja dan belajar; memiliki rasa tanggungjawab; dan mampu mengendalikan diri.Kata kunci: puisi Kekean, budi pekerti, semiotik Riffaterre
SYMBOLIC MEANINGS OF AMONG TEBAL RITUAL IN NOVEL GENDUK BY SUNDARI MARDJUKI Alfayanti, Lerry; Suwandi, Sarwiji; Winarni, Retno
HUMANUS Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.032 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.7972

Abstract

This study aims to describe the symbolic meanings of among tebal ritual and the description of attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Sindoro in novel Genduk by Sundari Mardjuki. This research uses descriptive qualitative method which put forward on content analysis with in-depth reading on the novel. The problem in this research is the symbolic meaning of among tebal ritual and the description of the attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Sindoro which is reflected from among tebal ritual in the novel Genduk. The data of this research are all symbolic expressions in among tebal ritual and all words and sentences that describe the attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Sindoro in the novel Genduk. Result this research can describe the symbolic meaning of among tebal ritual which consists of symbolic meaning of ritual offerings that are white, yellow, red, and black tumpeng which symbolize the four elements in human beings that cannot be separated and jajan pasar that symbolize human character in this world is different. Prayer in rituals has a high expectation for tobacco plants to be planted to grow fertile with good harvest. The symbolic meaning of the procession of among tebal ritual is the togetherness that is in the society of tobacco farmers on the slopes of Sindoro. This study describes the attitude of life of the tobacco farmers on the slopes of Mount Sindoro which reflected from among tebal.Keywords: among tebal, attitude of life, symbolic meanings, tobacco farmers MAKNA SIMBOLIK RITUAL AMONG TEBAL DALAM NOVEL GENDUK KARYA SUNDARI MARDJUKI AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna simbolik ritual among tebal dan deskripsi sikap hidup petani tembakau di lereng sindoro dalam novel Genduk Karya Sundari Mardjuki. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang lebih mengedepankan pada analisis konten (isi) dengan pembacaan mendalam pada novel. Masalah dalam penelitian ini adalah makna simbolik dari ritual among tebal serta deskripsi sikap hidup petani tembakau di lereng sindoro yang tercermin dari ritual among tebal dalam novel Genduk. Data penelitian ini berupa semua ungkapan simbolis pada ritual among tebal serta semua kata dan kalimat yang mendeskripsikan sikap hidup petani tembakau di lereng Sindoro dalam novel Genduk. Hasil penelitian ini mendeskripsikan makna simbolik ritual among tebal yang terdiri atas makna simbolik sesaji ritual yaitu tumpeng putih, kuning, merah, dan hitam yang melambangkan keempat unsur dalam diri manusia tidak dapat dipisahkan serta jajanan pasar yang melambangkan karakter manusia di dunia ini tidak ada yang sama. Doa dalam ritual memiliki makna pengharapan tinggi untuk tanaman tembakau yang akan ditanam dapat tumbuh subur dan panennya bagus. Makna simbolik prosesi ritual among tebal yaitu kebersamaan yang terjalin di masyarakat petani tembakau lereng Sindoro. Penelitian ini juga mendeksripsikan sikap hidup petani tembakau lereng Sindoro yang tercermin dari ritual among tebal.Kata kunci: makna simbolik, among tebal, sikap hidup, petani tembakau
REPRESENTATION OF JAPANESE POST-COLONIAL EXPERIENCE IN THE YEAR OF 1942-1945 BASED ON PRAMOEDYA ANANTA TOER’S NOVEL “PERBURUAN” Ningrum, Rifqia Kartika; Waluyo, Herman J.; Winarni, Retno
HUMANUS Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.499 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i1.7943

Abstract

REPRESENTASI POSKOLONIAL MASA PENJAJAHAN JEPANG  TAHUN 1942-1945 DALAM NOVEL PERBURUAN  KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOERAbstractThis article is aimed to describe post-colonial forms which represented by the figures in the Pramoedya Ananta Toer’s novel Perburuan. This novel portrays about a character named Hardo who fought Japanese colonialism together with his two friends, Dipo and Karmin. However, their plan was failed to be implemented. It was making Hardo a Japanese fugitive. This novel is about the history of Japanese colonialism in Indonesia. Therefore, this novel can be studied with post-colonial theory. Type of this research is descriptive qualitative research using post-colonial approach. Researchers gathered the data by searching data in the novel that has relevance to the three formulations of the post-colonial theory that have been found. These three formulations include resistance, betrayal, and character’s self-doubt (ambivalence). The technique used in this article is content analysis. The research steps were determined the data source, collection the data, classification the data, and data analysis. Data analysis technique used was Miles and Huberman model that consists of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Through the representation of characters in the novel found the forms of resistance, betrayal, and characteristic’s self-doubts as forms of post-colonial representation.Key words : Representation, post-colonial analysis, novel          AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk poskolonial yang direpresentasikan oleh tokoh-tokoh dalam novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer. Novel Perburuan menggambarkan tentang kondisi penjajahan Jepang yang pernah terjadi di Indonesia antara tahun 1942-1945. Novel ini bercerita tentang seorang tokoh bernama Hardo yang melawan penjajahan Jepang bersama dua kawannya, Dipo dan Karmin. Namun, rencana tersebut gagal dilaksanakan sehingga menjadikan Hardo sebagai buronan Jepang. Novel ini mengandung sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Oleh karena itu, novel ini dapat dikaji dengan teori poskolonial. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan poskolonial. Cara kerjanya yaitu dengan mencari data dalam novel yang memiliki keterkaitan dengan tiga formulasi dari teori poskolonial yang telah ditemukan. Tiga formulasi tersebut meliputi usaha perlawanan, pengkhianatan, dan kebimbangan tokoh (ambivalensi). Teknik yang digunakan yaitu analisis isi. Langkah penelitiannya adalah menentukan sumber data, pengumpulan, pengklasifikasian, dan analisis data. Teknik analisis datanya menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Melalui representasi tokoh dalam novel tersebut ditemukan bentuk-bentu perlawanan, pengkhianatan, dan kebimbangan tokoh sebagai bentuk representasi poskolonial.Kata Kunci: Representasi, analisis poskolonial, novel