Nirmalasari Idha Wijaya
Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutai Timur, Jl. Soekarno-Hatta, no. 2, Sangatta, Telp: 08125502753 email:nirmala_idha@yahoo.co.id

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Distribusi Spasial Krustasea di Perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.174 KB)

Abstract

Perairan Kepulauan Matasiri dipengaruhi oleh daratan Pulau Kalimantan (mainland) dan Selat Makassar.Kedua pengaruh  tersebut  menyebabkan  adanya  perbedaan  karakteristik  habitat  yang  diduga  berdampak  pada distribusi spasial krustasea.Metode deskriptif diterapkan pada penelitian ini. Krustasea disampling dengan metode sapuan menggunakan alat tangkap trawl demersal pada 4 stasiun yaitu, Stasiun 1, 2, 3 dan 4. Parameter fisika kimia perairan (meliputi salinitas, suhu, kedalaman, kecerahan, kekeruhan, TSS, oksigen terlarut,  pH,  phospat,  nitrogen,  dan  silikat)  semua  diukur  dengan  menggunakan  alat  CTD (Conductivy Temperature Depth) 911 Plus. Pengukuran pH menggunakan SBE (Sea Bird Electronik) 18 pH, kecerahan dengan alat CStar Transmissometer dan kekeruhan menggunakan OBS3 (Optical Backscatter Sensor).Data dianalisis  menggunakan  metode  statitik  multivariabel  yang  didasarkan  pada  Analisis  Komponen  Utama (Principal Component Analysis, PCA) dan Analisis Korelasi (Corresponden Analysis, CA).Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa habitat dapat dikelompokan menjadi tiga karakter, yaitu kelompok habitat dekat estuaria (Stasiun1 dan 4), kelompok habitat sebelah utara Kepulauan Matasiri (Stasiun 2) dan kelompok habitat sebelah selatan Kepulauan Matasiri (Stasiun 3).Kelimpahan krustasea sangat dipengaruhi oleh parameter salinitas, kecerahan, dan kedalaman. Hasil analisis CA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan distribusi spasial jenis krustasea.  Beberapa  famili krustasea  seperti  Paguridae  dan  Dromiidae  hanya  ditemukan  di  Stasiun 4, sedangkan famili Alpheidae, Parthenopidae, dan Podophthalmidae hanya dapat ditemukan di Stasiun 3. Hal ini menunjukkan perbedaan karakteristik habitat mempengaruhi kelimpahan jenis krustasea tertentu.  Kata kunci: krustasea, kelimpahan, karakteristik habitat, distribusi spasial The Matasiri Island waters influenced by the mainland island of Borneo and the Makassar Strait. Both impacts cause the differences of habitat characteristics of Matasiri Islands waters, which affects the differences of spatial distribution of crustacean. Descriptive methods applied in this study. Crustaceans sampled with a  sweep method using demersal trawl gear in the four stations are: Station 1, 2, 3 and 4. Aquatic chemical physics parameters (including salinity, temperature, depth, brightness, turbidity, TSS, dissolved oxygen, pH, phosphate, nitrogen, and silicate) were all measured using a CTD (Conductivy Temperature Depth) 911 Plus. Measurement of pH using SBE (Sea Bird Electronic) 18 pH, the brightness using CStar Transmissometer and turbidityusing OBS3 (Optical Backscatter Sensor).Datawere analyzed using multivariable statistic method based on the Main Component Analysis (Principal Component  Analysis, PCA) and Correlation Analysis (Corresponden Analysis,CA). The results of PCA analysis showed that the habitat can be grouped into three characters, namelynear the estuary habitat groups (Stations 1 and 4), the habitat north of Matasiri Islands (station2) and the habitat south of Matasiri Islands (station3). Abundance of crustaceans is strongly influenced by the parameters of salinity, brightness, and depth. CA analysis results indicate that there are differences in the spatial distribution of crustacean species.  Several families of crustaceans such as Paguridae and Dromiidae only found in  the Station 4,while the family Alpheidae, Parthenopidae, and Podophthalmidae only be found at Station 3. This suggests differences in habitat characteristics affect the abundance of certain crustaceans.  Key words: Crustacea, abundance, habitat characteristics, spatial distribution

Pengaruh Kedalaman Perairan Dan Pemotongan Capit Terhadap Laju Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Yang Dibudidayakan Dalam Battery Cell Dengan Sistem Silvofishery

Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid III nomor 2 Desember 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.154 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Bingkar, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman perairan yang berbeda, terhadap laju pertumbuhan kepiting bakau yang dibudidayakan dalam Battery Cell dengan sistem Silvofishery serta untuk mengetahui apakah pemotongan capit dan kaki jalan pada bagian (merus) maupun tanpa dilakukan pemotongan mampu mempercepat laju pertumbuhan kepiting bakau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok-Fatorial (RAK-F) dua factor, faktor A yaitu tingkat kedalaman (4 taraf : A1, A2, A3, A4) dan faktor B yaitu pemotongan capit (B2) dan tanpa pemotongan (B1) dengan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pada kedalaman perairan yang berbeda menunjukkan adanya peningkatan laju pertumbuhan harian pada tiap-tiap kedalaman. Pada kedalaman 40 cm, menunjukkan hasil yang terbaik, kemudian disusul berturut-turut kedalaman 60 cm, dipermukaan dan 20 cm. Pada kedalaman 40 cm, menunjukkan hasil yang optimal serta memiliki kualitas lingkungan yang cukup baik, Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh kedalaman yang signifikan (P<0.05) terhadap laju pertumbuhan kepiting bakau. Sedangkan pada perlakuan pemotongan capit menunjukkan persentase yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemotongan, namun dari kedua perlakuan tersebut tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (P>0.05) terhadap laju pertumbuhan kepiting bakau pada kedalaman perairan yang berbeda.

Distribusi Spasial Krustasea Di Perairan Kepulauan Matasiri, Kalimantan Selatan

Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid I nomor 1 Mei 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.785 KB)

Abstract

Perairan Kepulauan Matasiri dipengaruhi oleh daratan Pulau Kalimantan (mainland) dan Selat Makassar.Kedua pengaruh tersebut menyebabkan adanya perbedaan karakteristik habitat yang diduga berdampak pada distribusi spasial krustasea.Metode deskriptif diterapkan pada penelitian ini. Krustasea disampling dengan metode sapuan menggunakan alat tangkap trawl demersal pada 4 stasiun yaitu: stasiun 1, 2, 3 dan 4. Parameter fisika kimia perairan (meliputi salinitas, suhu, kedalaman, kecerahan, kekeruhan, TSS, oksigen terlarut, pH, phospat, nitrogen, dan silikat) semua diukur dengan menggunakan alat CTD (Conductivy Temperature Depth) 911 Plus. Pengukuran pH menggunakan SBE (Sea Bird Electronik) 18 pH, kecerahan dengan alat CStar Transmissometer dan kekeruhan menggunakan OBS3 (Optical Backscatter Sensor).Data dianalisis menggunakan metode statitik multivariabel yang didasarkan pada Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA) dan Analisis Korelasi (Corresponden Analysis, CA).Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa habitat dapat dikelompokan menjadi tiga karakter, yaitu kelompok habitat dekat estuaria (stasiun1 dan 4), kelompok habitat sebelah utara Kepulauan Matasiri (stasiun 2) dan kelompok habitat sebelah selatan Kepulauan Matasiri (stasiun 3).Kelimpahan krustasea sangat dipengaruhi oleh parameter salinitas, kecerahan, dan kedalaman. Hasil analisis CA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan distribusi spasial jenis krustasea. Beberapa famili krustasea seperti Paguridae dan Dromiidae hanya ditemukan di stasiun 4, sedangkan famili Alpheidae, Parthenopidae, dan Podophthalmidae hanya dapat ditemukan di stasiun 3. Hal ini menunjukkan perbedaan karakteristik habitat mempengaruhi kelimpahan jenis krustasea tertentu.

Analisis Kesesuaian Lahan Tambak Dengan Sistem Informasi Geografis Di Kecamatan Sangkulirang Kabupaten Kutai Timur

Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid II nomor 1 Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.247 KB)

Abstract

Dalam proses pembangunan tambak, pemilihan lokasi secara seksama merupakan tahapan awal yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor penting yang menentukan keberhasilan kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi yang sesuai untuk perikanan tambak dengan menggunakan sistem informasi geografis di Kecamatan Sangkulirang Kabupaten Kutai Timur. Kecamatan Sangkulirang merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Kutai Timur yang memiliki potensi budidaya tambak yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal, maka dilakukan analisis kesesuaian lahan tambak yang bertujuan untuk mengetahui lahan yang sesuai untuk perikanan tambak dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Parameter yang menjadi dasar penilaian adalah penggunaan lahan, jenis tanah, tekstur tanah, topografi, curah hujan, kemiringan, jarak dari sungai dan jarak dari pantai. Proses untuk menghasilkan peta kesesuaian lahan tambak meliputi beberapa proses yaitu metode pengumpulan data, pengolahan data dan analisis spasial yang dilakukan dengan teknik tumpang susun (overlay) beberapa peta tematik.  Dari kedelapan parameter yang digunakan untuk analisis, tiap-tiap parameter diberi bobot dan skor. Penilaian secara kuantitatif terhadap tingkat kesesuaian lahan dilakukan melalui skoring dengan faktor pembobot dari setiap layer-layer peta berdasarkan kriteria yang telah dibuat. Dari hasil analisis spasial kesesuaian lahan tambak dikelaskan menjadi 3 kelas yaitu kelas sesuai (S1), kelas cukup sesuai (S2) dan kelas tidak sesuai (N). Hasil analisis spasial kesesuaian lahan untuk perikanan tambak di Kecamatan Sangkulirang maka diperoleh lokasi yang layak dikembangkan terdiri dari: lokasi sesuai (S1) seluas 447 hektar tersebar di sekitar aliran sungai dan lokasi cukup sesuai (S2) seluas 2.059 hektar, dimana lahan ini mempunyai faktor pembatas yang berpengaruh terhadap produktifitas. Kelas ini masih bisa diusahakan menjadi lahan tambak dengan syarat dalam pengelolaannya diperlukan tambahan input teknologi.

MANGROVE OF BERAU: ECOLOGICAL CONDITION, FISHERIES, AND MANAGEMENT OPTIONS

Indonesian Fisheries Research Journal Vol 22, No 1 (2016): (June 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.254 KB)

Abstract

Mangrove area of Berau District, East Kalimantan Province is an important buffering zone for Derawan Islands. It also becomes a distinctive habitat for commercial fisheries commodity. Land conversion into shrimp ponds has threatened its sustainability. This paper summarizing its ecological condition, fisheries, and management options presents a guideline for the decision makers about what strategies can be applied in conserving the mangrove sustainability. Overall, the ecological condition is proven to support sustainable fisheries practice; such as shrimp and crab silvofisheries. Moreover, the calculation of firewood economic value shows that a sustainable commercial firewood production is another option that can be established to support local economic activities. In addition, a well managing ecotourism may be considered by local government considering its potential for local economic growth.

MONITORING SEBARAN VEGETASI MANGROVE YANG DIREHABILITASI DI KAWASAN EKOWISATA MANGROVE WONOREJO SURABAYA

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.272 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan pesisir Wonorejo merupakan kawasan mangrove yang direhabilitasi menjadi kawasan ekowisata. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pola pembentukan zonasi vegetasi pada ekosistem mangrove yang telah direhabilitasi. Lokasi pengamatan berada pada 3 stasiun, yaitu Stasiun 1 terletak pada batas atas zona supratidal, Stasiun 2 di pertengahan zona intertidal, dan Stasiun 3 pada zona subtidal. Struktur vegetasi mangrove dianalisis berdasarkan Kerapatan Jenis (K), Dominansi (D), dan Indeks Nilai Penting (INP); sedangkan sebaran vegetasi mangrove berdasarkan karakteristik lingkungan dianalisis dengan menggunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jenis yang dominan pada Stasiun 1 adalah Nypa fruticans (84,2%), sedangkan pada Stasiun 2 jenis yang dominan adalah Excoecaria agallocha (40,9%), dan di Stasiun 3 adalah Avicennia alba (83,4%). Tingkat kerusakan vegetasi mangrove di Wonorejo dikategorikan sedang, dengan kerapatan pohon antara ≥ 1000 – < 1500 per hektar. Indeks keanekaragaman pada semua stasiun juga tergolong rendah karena bernilai kurang dari 1,5. Ekosistem ini mulai menunjukkan adanya suksesi ekosistem, terbukti dengan mulai adanya jenis-jenis mangrove lain yang tidak ditanam dengan sengaja. Hasil analisis PCA menunjukkan adanya korelasi positif antara parameter jenis vegetasi dengan tinggi rendaman pasut, salinitas, dan pH, yang berkontribusi membentuk sumbu F2 positif. Artinya ketiga parameter tersebut merupakan faktor utama yang menentukan apakah ekosistem tersebut sesuai untuk pertumbuhan jenis mangrove tertentu. ABSTRACTThe coastal area of Wonorejo is the mangrove area rehabilitated to become an ecotourism area. The research aims to analyze the patterns of formation of mangrove vegetation zoning that have been rehabilitated. The observation locations are at 3 stations, i.e. station 1 is located at the upper limit of supratidal zone, station 2 is in the middle of intertidal zone, and station 3 is in the subtidal zone. The structure of the mangrove vegetation were analyzed based on the species density (K), dominance (D), and important value index (IVI); while the distribution of mangrove vegetation based on environmental characteristics was analyzed using Principal Component Analysis (PCA). The results showed that the dominant species at Station 1 was Nypa fruticans (84.2%), whereas in Station 2 the dominant species was Excoecaria agallocha (40.9%), and at Station 3 was Avicennia alba (83.4%) The level of damage to mangrove vegetation in Wonorejo is categorized as medium, with tree densities between ≥ 1000 - <1500 per hectare. Diversity index at all stations is also relatively low because it is worth less than 1.5. This ecosystem begins to show the existence of an ecosystem succession, as evidenced by the start of other species of mangroves that are not planted intentionally. The results of PCA analysis showed a positive correlation between the parameters of vegetation types with high tide baths, salinity, and pH, which contributed to forming a positive F2 axis. This means that the three parameters are the main factors that determine whether the ecosystem is suitable for the growth of certain species of mangroves.