Articles

Found 35 Documents
Search

CEMA-COMMUNITY TO IMPROVE KNOWLEDGE AND SKILLS IN EVALUATING MEDICINE ADVERTISEMENTS Wiedyaningsih, Chairun
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 14, No 01 (2011)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.256 KB)

Abstract

Backgrounds: Since objective information on medicineadvertisements are often scarce, medicine advertisementsmay affect community’s perception and health. The CriticalEvaluation Medicine Advertisement by the community (CEMAcommunity)was a strategy that may empower community inevaluating medicine advertisements. It was developed basedon the previous study targeted to medical students withmodifications on the content and the inclusion of local regulationon medicine promotion.Objectives: To evaluate effectiveness of the CEMAcommunitymethod in improving knowledge and skills ofparticipants.Methods: The study utilized pre and post in time series withcontrol group design. The CEMA-community intervention methodconsisted of two sessions; the first was a brief lecture andthe second was small group discussions using printed andaudiovisual medicine advertisements in problem-orientedapproach. Activity materials and methods were developed andprovided to the activity. Data on knowledge was obtained byquestionnaires. Data on skills was assessed by the number ofinappropriate claims they could identify the advertisements.Effectiveness of approach was shown by the significance ofincreasing level of knowledge and skills after intervention.Results: Participants’ knowledge and skills in the CEMAcommunitygroup improved significantly (Wilcoxon test, p< 0.05).Score of knowledge in the CEMA-community group before-,right-, and 2, 4 weeks-after intervention (means: 13.9±2.52;18.0±2.72; 19.0±3.10; 18.3±3.74, respectively) improvedsignificantly (Mann-Whitney, p<0.05) as compared to controlgroup (means: 14.1± 2.84; 14.8±2.94; 14.8±2.85; 15.6±2.45,respectively). At the same time points, scores of skills in theCEMA-community group (means: 7.8±6.05; 16.5±10.01;32.6±12.89; 32.2±13.06, respectively) also improvedsignificantly (Mann-Whitney, p<0.05) as compared to controlgroup (5.5±6.60; 4.7±4.91; 8.7±10.07; 9.5±10.15, respectively).Conclusion: CEMA-community was effective in increasingknowledge and skills to critically evaluate medicineadvertisements.Keywords: community empowerment, medicineadvertisements, knowledge, skills, CEMA-community, problemorientedapproach
Efek Samping Penggunaan Terapi Oral Pada Pasien Asma Lutfiyati, Heni; Ikawati, Zullies; Wiedyaningsih, Chairun
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Vol 1 No 1 (2015): Vol. I, No 1, September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi oral terhadap hasil terapi pasien asma. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pengambilan data secara prospektif dari Februari-April 2014. Data diambil dari penelusuran rekam medis, wawancara dan lembar pengumpul data. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 75 pasien tetapi hanya 71 pasien yang mengikuti seluruh proses penelitian. Hasil penelitian menunjukkan dari 71 pasien yang mendapat terapi oral sebanyak 19 orang (26,7%) muncul adanya efek samping. Efek samping yang paling banyak dirasakan oleh pasien adalah gastritis atau gangguan pencernaan pada pasien yang mendapat terapi Methylprednisolon, Cetirizin, kapsul (aminofilin, salbutamol dan GG) yaitu 8 pasien (11,3%), dan berdebar  sebanyak 3 pasien (4,2%). Pada pasien yang mendapatkan terapi kombinasi Methylprednisolon, Cetirizin, dan salbutamol sebanyak 3 pasien (4,2%) juga mengalami gastristis.
Pengukuran Kualitas Hidup Pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Menggunakan Instrumen EQ-5D-5L Hamida, Nur; Ulfa, Mursyida; Haris, Restu Nur Hasanah; Endarti, Dwi; Wiedyaningsih, Chairun
Majalah Farmaseutik Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.535 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v15i2.46328

Abstract

Prevalensi penyakit diabetes melitus (DM) dan hipertensi di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencanangkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) untuk mencapai kesehatan yang optimal dan kualitas hidup yang baik pada penyakit DM dan hipertensi. Studi ini bertujuan untuk mengukur kualitas hidup pasien prolanis di puskesmas menggunakan instrumen EQ-5D-5L. Studi dilakukan pada 200 pasien prolanis yang terdiri dari 100 pasien diabetes melitus dan 100 pasien hipertensi. Lokasi pengambilan sampel berada di puskesmas Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah untuk pasien DM dan Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nangroe Aceh Darussalam untuk pasien hipertensi yang dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan (September-November 2018). Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional study dengan metode convenience/accidental sampling. Kualitas hidup diukur menggunakan instrumen European Quality of Life-5 Dimension-5 Level (EQ-5D-5L) dan konversi health utility (utility) dengan value set Indonesia. Analisis data menggunakan uji independent t-test untuk melihat perbedaan kualitas hidup pada tiap kelompok karakteristik  pasien DM dan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan domain rasa sakit/tidak nyaman merupakan domain yang paling banyak dilaporkan terjadi masalah pada pasien DM maupun Hipertensi. Nilai utility pasien DM sebesar 0,843±0,081, sedangkan hipertensi sebesar 0,767±0,154. Terdapat perbedaan signifikan nilai utility berdasarkan karakteristik umur (p=0,001), riwayat penyakit keluarga (p=0,006), lama menderita penyakit (p=0,000) dan frekuensi kontrol (p=0,000) pada pasien hipertensi, sedangkan pada pasien DM hanya pada karakteristik memiliki penyakit lain (p=0,026).
KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN ERA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL Kristanti, Nugraheni Dwiari; Sumarni, Sumarni; Wiedyaningsih, Chairun
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.131

Abstract

Pelaksanaan JKN baru dimulai di awal tahun 2014 dan masih memerlukan perbaikan sistem yang terus menerus agar penerapan standar pelayanannya dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, untuk mengetahui keberhasilan sistem tersebut perlu dilakukan survei mengenai ekspektasi pasien dibandingkan dengan pelayanan yang pasien rasakan di rumah sakit. Penelitian bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara ekspektasi dan persepsi pasien rawat jalan terhadap mutu pelayanan kefarmasian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih pada era JKN serta mengetahui perbedaan skor gap dimensi mutu pelayanan kefarmasian. Subjek penelitian adalah pasien JKN yang berada di apotek rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan di rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta pada Bulan Oktober sampai Desember 2014 masing-masing 100 responden. Metode penelitian adalah cross sectional dengan teknik consecutive sampling. Penelitian menggunakan kuesioner yang diadopsi dari konsep penelitian kualitas pelayanan Parasuraman dkk (1985) dengan metode SERVQUAL. Perbedaan ekspektasi dan persepsi pasien dianalisis dengan uji Wilcoxon, sedangkan untuk melihat perbedaan kepuasan pasien di kedua rumah sakit digunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara ekspektasi dan persepsi pasien baik di RSUP Dr. Sardjito maupun di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta (p=0,000). Selain itu hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan responden di RSUP Dr. Sardjito dan di Rumah Sakit Panti Rapih tidak berbeda secara signifikan (p=0,057), namun terdapat satu dimensi yang dinyatakan berbeda signifikan secara statistik, yaitu pada dimensi empati (p=0,037).
Medicine advertisements: evaluation and implementation of cema-community method Wiedyaningsih, Chairun; Primayani, Nia; ., Warastuti
INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY Vol 22 No 4, 2011
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.869 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm0iss0pp286-292

Abstract

Non-prescription medicines are advertised widely to general public. These advertisements attempt to influence consumers’ choices about medicines. Since the  advertisements  rare  to  give  objective  information,  therefore  it  may  affect people’s perception and have potential harmful effect for public health. In order to  improve  the  use  of  medicines  by  general  public,  the  CEMA-community (Critical  Evaluation  Medicine  Advertisement  by  the  community))  was  proven effective  empower  community  in  evaluating  medicine  advertisements.  The objectives of the study, therefore, were to investigate medicine advertisements, and improve knowledge and skills of participants in critically evaluating medicine advertisements.  Medicine  advertisements  running  within  the  period  of  study were  evaluated  and  analyzed  according  to  the  Indonesian  legal  requirements. Community  empowerment  to  improve  participants’  knowledge  and  skills  was conducted  using  CEMA-community  method.  The  method  consisted  of  two activites,  the  first  was  a  brief  lecture  and  the  second  was  small  group discussions in a problem-oriented approach. Data on knowledge was obtained by questionnaire.  Data  on  skills  was  assessed  by  the  number  of  inappropriate claims they could identify the advertisements. All data was collected at baseline, immediately,  and  one  month  after  intervention.  Medicine  advertisements  in television media accounted for 15% off all commercials, with 21.53%; 17.98%; 14.17%;  and  10.08%  being  medicine  products  for  influenza, analgesic/antipyretic,  supplement,  and  cough,  respectively.  Incomplete  and misleading  information  mostly  appeared  in  the  advertisements.  Intervention study  showed  that  the  average  of  participants’  knowledge  in  subtopic  of medicine  misleading  was  low  and  could  be  increased  from  34.2  (pretest)  with maximum score 100, to 65.3 (post I) and 58.3 (post II). Participants’ skills also improved  immediately  after  intervention  and  this  was maintained  at  the  one month  follow  up  (score  means:  3.33;  26.67;  26.67 of  maximum  score  100,  at pre test, post I, and post II, respectively).Key  words:  medicine  advertisements,  community  empowerment,  CEMA-community method, knowledge; skills 
The Effect of BPJS Service Quality Level and Patient Characteristics to Patient Satisfaction in Primary Health Facilities Marhenta, Yogi Bhakti; Satibi, Satibi; Wiedyaningsih, Chairun
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 8, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.34438

Abstract

Health services in the era of JKN are organized by all Health Facility in cooperation with BPJS. Patient satisfaction is a critical indicator whether a program is a success or not. Satisfaction is the pleasure of someone who comes from the comparison between a product or performance with expectations, if performance is below expectations then the customer is not satisfied. This study aims to determine the effect of membership, service, and financing of patient satisfaction with BPJS in Primary Health Facilities. This research is an analytical descriptive research with cross sectional survey design. The data was taken quantitatively by using questionnaires and completed with qualitative data through interviews to deepen the findings of the field. Sampling technique used is purposive sampling with inclusion criteria. The number of respondents samples used were 278 respondents and the sample of the study sites was determined by random sampling method including health center, clinic and pharmacy network. The data were analyzed by using multiple linear regression analysis in the form of t test and F test. The result of research at Primary Health Facilities Regency showed that there was positive and significant influence to patient satisfaction of BPJS, including membership variable (p = 0,02), variable of service (p = 0,00), and financing variable (p = 0,00), while F test simultaneously also shows there are positive and significant influence to patient satisfaction BPJS with value (p = 0,00).
PERSEPSI PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS OBAT GENERIK Mardiati, Nurul; Sampurno, Sampurno; Wiedyaningsih, Chairun
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.148

Abstract

Upaya peningkatan penggunaan obat generik sebenarnya sudah dilakukan pemerintah jauh sebelum pemberlakuan skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Akan tetapi, persepsi pasien terhadap obat generik di masa penerapan JKN ini dinilai oleh banyak pengamat masih buruk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi pasien terhadap kualitas obat generik ditinjau dari dimensi safety, efficacy, dan acceptability serta mengidentifikasi pengaruh karakteristik pasien dengan persepsi pasien. Rancangan penelitian adalah penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan kuantitatif, desain survei cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 150 responden. Penelitian dilakukan di RS PKU Muhammadiyah 1, Yogyakarta, Indonesia. Alat penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data meliputi analisis deskriptif, analisis bivariat (uji Chi-square dengan alternatif yaitu uji Kolmogorov-Smirnov) dan analisis multivariat regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pasien terhadap kualitas obat generik mayoritas tergolong baik, yaitu sebesar 113 responden (75,3%), rata-rata skor mulai dari yang terbesar berturut-turut safety (3,02), efficacy (2,75), dan acceptability (2,73). Hal ini bermakna bahwa pasien percaya dengan kualitas obat generik. Analisis bivariat menunjukkan persepsi pasien tidak dipengaruhi secara signifikan oleh usia dan jenis kelamin. Analisis multivariat menunjukkan persepsi pasien secara positif dan signifikan dipengaruhi tingkat pendidikan dan status kepemilikan asuransi kesehatan, namun tidak signifikan dipengaruhi tingkat penghasilan per bulan.
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN, KEPUASAN TERAPI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN USIA LANJUT DIABETES MELITUS TIPE 2 Hasina, Raisya; Probosuseno, Probosuseno; Wiedyaningsih, Chairun
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.295

Abstract

WHO memprediksi jumlah pasien diabetes di Indonesia tahun 2030 meningkat 61% dan pasien usia lanjut meningkat 4%. Pada pasien usia lanjut dengan diabetes melitus cendrung mudah mengalami komplikasi sehingga diperlukan data normatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan pengukuran kepatuhan pengobatan, kepuasan terapi diabetes dengan kualitas hidup. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan pengobatan, kepuasan terapi diabetes melitus tipe 2 dengan kualitas hidup pasien usia lanjut. Desain penelitian adalah studi potong lintang di Klinik Geriatri RSUP dr. Sardjito Yogyakarta pada November 2014 sampai Januari 2014. Morisky Medication Adherence scale (MMAS-8) digunakan untuk mengukur kepatuhan pengobatan dan Diabetes Medication Satisfaction Tool Scale (DMSAT) digunakan untuk mengukur kepuasan terapi dan SF-36 digunakan untuk mengukur kualitas hidup pasien. Hasil utama ukuran adalah tingkat kepatuhan, kepuasan terapi, dan hubungan antara kepatuhan dan kepuasan terapi dengan kualitas hidup pasien usia lanjut diabetes melitus tipe 2. Analisis statistik menggunakan program SPSS. Hasil penelitianmenemukan 81,7 % pasien patuh terhadap pengobatan. Skor rata - rata kepuasan secara keseluruhan berada dalam kategori puas (7,10 ± 1,05), dan median QoL (minimum- maximum) kualitas hidup pasien adalah 62,66 (28,71 - 98,81).Kepatuhan pengobatan berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (P=0,012). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara kepuasan terapi, usia, tingkat pendidikan, jenis ADO, jenis kelamin, durasi DM tipe 2 dan komorbiditas dengan kualitas hidup pasien (P > 0,05). Kata kunci: kepatuhan pengobatan, Diabetes Melitus, kepuasan terapi, antidiabetik oral, kualitas hidup
PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP KUALITAS HIDUP DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT SEBAGAI VARIABEL ANTARA PADA PASIEN DM Yuwindry, Iwan; Wiedyaningsih, Chairun; Widodo, Gunawan Pamudji
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.353

Abstract

Pengetahuan tentang DM sangat penting untuk pasien DM. Pengetahuan akan mempengaruhi kepatuhan penggunaan obat dalam penerapan manajemen DM untuk mengontrol kadar gula darah mereka dan mencegah komplikasi kronik sehingga meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan kepatuhan penggunaan obat sebagai variabel antara.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan carasurvey selama 3 bulan. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner Diabetes Knowlegde Questionnaire(DKQ 24), New  8 item  Self   Report  Morinsky  Medication Adherence Scale (MMAS-8) dan Quality of Life (WHOQOL) –BREF.Sampel ditetapkan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sebanyak 34.Pemberian kuesioner kepada responden dilakukan pendampingan dalam pengisiannya.Data jawaban responden direkapitulasi dan dihitung skor masing-masing kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis jalur (Path Analisis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup sebesar 31,6%. Tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan penggunaan obat sebesar 25,1%. Kepatuhan penggunaan obat pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup sebesar 75,2%. Kepatuhan penggunaan obat sebagai variabel antara meningkatkan pengaruh tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 terhadap kualitas hidup dari 24% menjadi 29%. 
Implementation of Pharmaceutical Care Standard in Jambi Citys Pharmacies Mulyagustina, Mulyagustina; Wiedyaningsih, Chairun; Kristina, Susi Ari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.30284

Abstract

In the last five years, the pressure to implement pharmaceutical care focuses on the patient getting stronger. The current standard of pharmacy care at a pharmacy established by regulation of health minister number 73/2016, as a guideline for pharmacists and pharmacy technicians in organizing pharmaceutical care. This research was conducted in the city of Jambi in order to determine implementation of pharmaceutical care standard at pharmacy, to identify the supporting factors and inhibiting factors in implementing pharmaceutical care in the Jambi city’s pharmacy. This study is an observational descriptive study, conducted with a survey phase, followed by a phase of observation and in-depth interviews phase. Total respondents who conducted a survey of 105 pharmacist from 143 pharmacies. Then performed an observation using a checklist sheet at 20 pharmacies and in-depth interviews on 17 pharmacists. The questionnaire survey used convenience sampling technique and sampling techniques for observation and in-depth interviews with maximum variation sampling. Methods of data analysis was done descriptively to see the implementation of pharmaceutical care standard. Qualitative data were presented descriptively to identify supporting and barriers factors. Results of the research are based on a survey, in managing the pharmaceutical, medical supplies and consumable medical materials carried out by pharmacist assisted pharmacy technicians, but its implementation in the field is mostly done by the pharmacy technicians under the responsibility of the pharmacist. Clinical pharmacy services running on prescription services, drug information services and partly on the counseling. Home pharmacy care, monitoring drug therapy and monitoring of drug side effects and clinical documentation has not been done. Based on interviews unknown, factors supporting the implementation of the standard is support pharmacy technicians personnel, support of owner pharmacy, the presence of a pharmacist with a regular schedule of practices, the use of information systems technology and motivation of pharmacist. Whereas the barriers factor are factors in patients where there is doubt the patient to the pharmacist and staff, the limited presence of the pharmacist, the shortage of skills,and there is no space of counseling services and the limited number of pharmaceutical human resources.