Lestari Lakhsmi Widowati
Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

EFISIENSI PRODUKSI RUMPUT LAUT E. cotonii DENGAN METODE BUDIDAYA LONG LINE VERTIKAL SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN KOLOM AIR

JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : JURNAL SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Kualitas dan kuantitas rumput laut yang baik dan berkelanjutan merupakan hal yang masih menjadi tantangan bagi usaha budidaya. Metode budidaya danlama pemeliharaan yang tepat diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas budidaya yang berkelanjutan.Metode long line vertikal diterapkan untuk mengetahui kolom air yang dapat digunakan untuk pertumbuhan optimum rumput laut. Kualitas terbaik kandungan karaginan dilihat dari lama pemeliharaan. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui interaksi lama pemeliharaan  dan  kedalaman terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (2) Mengetahui lama pemeliharaan  dan  kedalaman yang terbaik terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (3) Mengetahui kedalaman kolom air yang masih menghasilkan pertumbuhan rumput laut secara optimal. Penelitian dilakukan di perairan laut Pulau Pasir Kabupaten Brebes dengan lama pemeliharaan 45 hari dan 60 hari, serta 3 perlakuan pada kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90cm. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 2 x 3. Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan dan kandungan karaginan.Hasil yang didapatkan yaitu laju pertumbuhan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 117%, 158%, 111%, dan pada pemeliharaan selama 60 hari adalah 198%, 182% dan 136%. Pada pemeliharaan 45 hari laju pertumbuhan harian pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 2,26%/hari, 2,10%/hari dan 1,66%/hari, dan pada pemeliharaan 60 hari adalah 1,82%/hari, 1,73%/hari dan 1,43%/hari. Dari segi kualitas dilihat pada kandungan karaginan menghasilkan rata-rata karaginan 76,3% pada pemeliharaan 45 hari dan 96,3% pada pemeliharaan selama 60 hari. Kesimpulan yang diambil alah bahwa (1) Kedalaman dan lama pemeliharaan  memberikan pengaruh terhadap produksi biomassa dan kandungan karaginan rumput laut. (2) Produksi biomassa tertinggi dihasilkan pada pemeliharaan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm dengan pertumbuhan harian 2,26 %/hari dan kedalaman 60 cm  dengan laju pertumbuhan 2,10 %/hari. Kandungan karaginan rata-rata sebesar 96,3% didapatkan pada pemeliharaan selama 60 hari. (3) Kedalaman optimal untuk pemeliharaan rumput laut dengan metode longline vertikal adalah sampai dengan 60cm.   Kata kunci : long line vertikal, E. cottoni, karaginan   ABSTRACT   Good quality, quantity and sustainable still a challenge for aquaculture. The right method and duration of cultivation is expected to be one of the solutions to produce a sustainable quantity and quality of seaweed culture. Long line vertical method is applied to find out the column of water that can be used for optimum growth of seaweed. The best quality of carrageenan content was observed in duration of cultivation. The purpose of the study was (1) To find out the interaction between duration of cultivation and depth for the production of biomass and quality of seaweed. (2) To know the best duration of cultivation and depth for production of biomass and quality of seaweed. (3) To find out the depth of the water column which still produces the growth of seaweed optimally. Research conducted in sea water at Pulau Pasir, Brebes Regency with duration of cultivation were 45 days and 60 days, with 3 treatments at thedepth of 30cm, 60cm, and 90cm . Each treatment was repeated three times. The research used 3 x 2 factorial design. The observed variablewere growth rate and carrageenan content. The results are obtained, relative growth rate for 45 days at a depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 117%, 170%, 110%, and for duration of cultivation  60 days was 187%, 185% and 136%. In 45 days duration of cultivation, the  of specific growth rate at depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 2.26%/day, 2.10%/day and 1.66%/day, and on duration of cultivation 60 days is 1.82%/day, 1.73% and 1.43%/day. In terms of the quality of seaweed the average of karaginan content was 76.3% in 45 days duration of cultivation  and 96.3% on 60 days duration of cultivation . The conclusions were (1) The depth and period of cultivation influence the production of biomass and karaginan content of seaweed. (2 The highest biomass production on 45 days period of cultivation at a depth of 30 cm with specific growth rate of 2.26%/day and in depth of 60 cm with specific growth rate of 2.10%/day The content of carageenan an average of 96.3% obtained on maintenance for 60 days. Optimal depth for the maintenance of seaweed with vertical longline method is up to 60 cm.  Keywords : long line vertikal, E. cottoni, karaginan 

Analysis of Purchasing Desicion to Softbone Milkfish at Seller Center of Special Gift in Semarang City

SAINTEK PERIKANAN Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.239 KB)

Abstract

At the present, people is more like a softbone milkfish. That is  push the growth of  the Pandanaran Area as the seller center of special gift from Semarang. Marketing research would be done to increase understanding of consumers characteristics and to develop business of softbone milkfish, including the factors that influenced a consumers to choose a store and to buy softbone  milkfish products. This research aims to assess the influence level of decisions factors to buy and  also to scan competition of softbone milkfish sellers  at  the Pandanaran Area in Semarang. The research proved that the image and positioning “Bandeng Juwana” is very high (the most popular) as special gift of Semarang. The most decision  factor which influenced a selection of stores was taste (28%), and then followed by texture (10%), colour (10%), price (8%), packaging (7%), and store image (7 %). “Bandeng Juwana” have strength on an aspects of physical product, especially in taste and price (reasonable price), while”Bandeng Presto” have strength on a service aspects and building design. “Bandeng Bonafid” has strength on   the speed of service. The results proved that “Bandeng Juwana” would become the first choice of consumers, both before and after the process of purchasing (repurchased order). Consumers choice index were 3.74 for “Bandeng Juwana”, 3.72 for “Bandeng Presto” and 3.35 for “Bandeng Bonafid”.   Key words:softbone milkfish, consumers want index, consumers choice index

PRODUKSI DAN KUALITAS RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN KEDALAMAN BERBEDA DI PERAIRAN BULU KABUPATEN JEPARA

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah pesisir. Dalam rangka pengembangan potensi ini diperlukan salah satu teknik budidaya yang dapat mengoptimalkan kolom perairan sehingga hasil produksi maupun kualitas rumput laut Eucheuma cottonii dapat optimal. Kedalaman yang berbeda pada rumput laut E.cottonii dapat menyerap cahaya serta unsur hara yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh kedalaman yang berbeda terhadap produksi dan kualitas rumput laut Eucheuma cottonii, dan mengetahui kedalaman yang memberikan produksi dan kualitas rumput laut E.cottonii terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Eucheuma cottonii dengan bobot awal 100 gram pada setiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 12 kali ulangan. perlakuan A (kedalaman 30 cm), B (kedalaman 60 cm), dan C (kedalaman 90 cm). Data yang dikumpulkan adalah laju pertumbuhan harian, dan kandungan karaginan rumput laut E. cottonii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman yang berbeda berpengaruh nyata terhadap produksi dan kualitas rumput laut E. cottonii. Perlakuan A (kedalaman 30 cm)  menunjukkan pertumbuhan relatif (176,67 %), laju pertumbuhan harian (2,26 %/hari), dan kandungan karagenan (87,70%) . Sedangkan pada perlakuan B (kedalaman 60 cm) pertumbuhan relatif (157,50 %), laju pertumbuhan harian (2,10 %/hari), dan kandungan karagenan (71,20 %). Perlakuan C (kedalaman 90 cm) pertumbuhan relatif (111, 25 %), laju pertumbuhan harian (1,66 %/hari), dan kandungan karagenan (70,01 %). Kesimpulan yang didapat ialah kedalaman berbeda berpengaruh terhadap produksi dan kualitas rumput laut E. cottonii dan perlakuan A (kedalaman  30 cm) memberikan produksi serta kualitas rumput laut E.cottonii terbaik dan direkomendasikan untuk dibudidayakan. Seaweed is one of very potential comodity to be developed in coastal areas. In order to increase this potential can required cultivation techniques by optimize in water column production and quality of the seaweed Eucheuma cottonii. Seaweed E. cottonii can absorb light and different nutrient at different depth. The objective of was research were to know the effects of different depths on the production and quality of seaweed Eucheuma cottonii, and the depth that gives the best production and quality seaweed E. cottonii. The research was conducted from July to August 2014. Seaweed used in this study was the seaweed Eucheuma cottonii with initial weight of 100 g in each treatment. The experimental design used was a completely randomized design with 3 treatments and 12 replications. Treatment A (30 cm depth), treatment B (60 cm depth), and treatment C (90 cm depth). Data collected are daily growth rate and the content of carrageenan. The results showed that different depths significantly affect the production and quality of seaweed Eucheuma cottonii. Treatment A (30 cm depth) showed relative growth (176.67 %), daily growth rate (2.26%/day), and carrageenan content (87.70%). Treatment B (60 cm depth) relative growth (157.50%), daily growth rate (2.10%/day), and carrageenan content (71.20%). Treatment C (90 cm depth) relative growth (111, 25%), daily growth rate (1.66% / day), and carrageenan content (70.01%). The conclusion is a different depths significantly affect the production and quality of seaweed E. Cottonii, and treatment A (30 cm depth) provide production and the best quality of seaweed E. cottonii and recommended for cultivated.

PENGARUH BERBAGAI JENIS PAKAN SEGAR TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) CANGKANG LUNAK DENGAN METODE POPEYE

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian berbagai jenis pakan segar terhadap kepiting bakau cangkang lunak diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau cangkang lunak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai jenis pakan segar terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) cangkang lunak, mengetahui jenis pakan segar terbaik serta jenis pakan segar yang dapat mempercepat proses molting. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan A (ikan petek), B (keong mas), C (usus ayam). Metode popeye diterapkan pada hewan uji. Bobot awal rata-rata 70,83±0,57 g/ekor. Kepiting dipelihara didalam basket berisi satu ekor kepiting. Pengamatan berakhir ketika kepiting mengalami molting. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tiga jenis pakan berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER). Tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkat kelulushidupan. Hasil pengukuran menunjukan bahwa kepiting yang diberi pakan B (keong mas) menghasilkan nilai paling tinggi yaitu pada nilai RGR sebesar (3.13±0,18%/hari), EPP sebesar (14,26±1,30%), PER sebesar (0.24±0,02%). Perlakuan A (Ikan petek) dan B (keong mas) lebih cepat mengalami molting, secara umum kepiting molting terjadi pada pukul 21.00–00.00 berjumlah berkisar  2 – 8 ekor/hari. Kualitas air masih dalam nilai kelayakan untuk budidaya kepiting bakau cangkang lunak. Various types of fresh feed to soft shell mud crab is expected to increase a growth of soft shell  crab. The aims of this research was to determine the effect of various types fresh feed to growth and survival of  soft shell crab (Scylla serrata)  to determine the best types of fresh feed, and to determine the best fresh feed to moulting process. The research was done by experimental method used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 4 replications. Treatment A (Leiognathus splendens Cuv), B (snails), C (chicken intestines). Mangrove crab that be used popeye methode was applied in. The early weight is approximately 70.83±0.57g/for each crab. Crabs were cultured in baskets which size of 25 x 16 x 15 cm. The results showed that a giving of various types feed had a significant effect (P<0,05) to relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP), and protein efficiency ratio (PER), but had no significant effect (P>0,05) to survival rate. The result showed that crab which was given feed B (snail) had the highest value in RGR (3.13±0,18%/day), EPP (14.26±1,30%), and PER (0.24±0,02%). Moulting process a was faster in treatment A. Generaly the moulting time occurred at 21.00-00 o’clock for 2-8 crabs/day. Water quality value was capable for shoft shell mud crab culture.

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN LAMA PERENDAMAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya Caulerpa lentillifera masih terdapat kendala yaitu ketersediaaan bibit yang tidak kontinu.  Hal ini dikarenakan sifatnya yang musiman sehingga mengakibatkan tidak adanya kontuinitas produsi  C. lentillifera setiap waktu. Produksi C. lentillifera dapat ditingkatkan dengan adanya pengembangan teknologi budidaya. Teknologi budidaya yang dilakukan salah satunya dengan penambahan pupuk. Penambahan pupuk pada media pemeliharaan bertujuan untuk mencukupi nutrien yang dibutuhkan untuk rumput laut. Perlu dilakukan penelitian dengan penambahan pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda dan lama perendaman yang terbaik untuk pertumbuhan C. lentillifera  guna meningkatkan produksinya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan A (0jam); B (2 jam); C (4 jam); D (6 jam) dan E (8 jam) dengan dosis pupuk 2,5 mL/L. Data yang didapatkan selama penelitian meliputi laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan pemberian dosis pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap l6 laju pertumbuhan spesifik. Uji Duncan memperlihatkan perlakuan D dengan lama perendaman 6 jam memberikan hasil terbaik dari semua perlakuan dengan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.27±5.12%/hari). Parameter kualitas air masih dalam kisaran yang tepat untuk pertumbuhan C. lentillifera. Discontinuity of seeds availability becomes an obstacle in Caulerpa lentillifera cultivation. C. lentillifera is a seasonal variety of seaweed, so that makes it has no continuity of production. C. lentillifera production can be increased by development cultivation technology. One of cultivation technologies can be done is by adding the fertilizer. The aim of fertilizer addition on rearing media is to add the nutrient the seaweed require. Thus, there is a need to study on the effect of immertion duration with liquid organic fertilizer. The aims of this investigation is to find out the effect of different time of liquid organic fertilizer immersion on the growth of C. lentillifera  and to find out the proper time of immersion that result in the best growth of C. lentiilifera. This study was done experimentally by applying a Completely Randomized Design with 5 treatments, namely  A (0 hour); B (2 hours); C (4 hours), D (6 hours) and E (8 hours) with fertilizer dose of 2,5mL/L. Each treatment was replicated 4 repititions. The data collected were specific growth rate and water quality parameters. Data parameters was analyzed using ANOVA  followed by Duncan’s test. The result shows that application of liquid organic fertilizer with different immersion duration  shows highly significantly  affect (P<0.01) on specific growth rate. The best growth was found in treatment D (6 hours) with specific growth rate (3.37±0.17%)/day.  The water quality parameters were still in the proper range for  C. lentillifera growth.

PENGARUH SALINITAS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT LATOH (Caulerpa lentillifera) DI LABORATORIUM PENGEMBANGAN WILAYAH PANTAI (LPWP) JEPARA

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya rumput laut latoh (C. lentillifera) dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti salinitas. Salinitas terkait erat dengan tekanan osmotik yang mempengaruhi keseimbangan tubuh organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas yang berbeda pada tingkat pertumbuhan rumput laut latoh (C.lentillifera) dan untuk menentukan salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan terbaik dari rumput laut latoh  (C. lentillifera). Penelitian ini dilakukan dengan Metode yang digunakan  adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, perlakuan A (20 ppt), B (25 ppt ), C (30 ppt) dan D (35 ppt). Berat awal rumput laut yang digunakan adalah 25 g, penelitian ini dilakukan selama 35 hari. Data yang dikumpulkan adalah laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Hasil penelitian menujukan salinitas memberikan pengaruh sangat nyata, terhadap pertumbuhan rumput laut latoh (C. lentillifera), laju pertumbuhan spesifik menunjukan rata-rata perlakuan A sebesar (1.42%/hari),  perlakuan B yaitu (1.84%/hari), perlakuan C sebesar (3.53%/hari), sedangkan perlakuan  D yaitu (2.82 %/hari). Berdasarkan dari uji statistik didapat kesimpulan, perbedaan salinitas berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan rumput laut latoh  (C.lentillifera), laju pertumbuhan spesifik terbaik ditunjukkan oleh perlakuan 30 ppt, dengan laju pertumbuhan harian 3.59% / hari. parameter kualitas air masih dalam kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan rumput laut latoh  (C. lentillifera). Seaweed cultivation (C. lentillifera) is influenced by several parameters such as salinity. Salinity is closely related to the osmotic pressure that affects the bodys balance of aquatic organisms. This study aims to determine the effect of different salinity on the growth rate (C.lentillifera) and to determine the salinity that can provide the best growth of seaweed (C. lentillifera). This research was conducted with the method used was completely randomized design with 4 treatments and 5 replications, treatment A (20 ppt), B (25 ppt), C (30 ppt) and D (35 ppt). Initial weight of the seaweed used is 25 g, the study was conducted over 35 days. The data collected is specific growth rate and water quality parameters. Results of research addressing salinity effect is very real, on the growth of seaweed (C. lentillifera), specific growth rate showed an average treatment A by (1.42% / day), which treatment B (1.84% / day) , treatment of C of (3.53% / day), whereas treatment D is (2.82% / day). Based on statistical test obtained conclusion, salinity differences very significant effect on the growth of seaweed latoh (C.lentillifera), specific growth rate best demonstrated by the treatment of 30 ppt, with a daily growth rate of 3.59% / day. parameter water quality is still in favorable conditions for the growth of seaweed (C.lentillifera).

PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan padat penebaran merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi ikan bandeng (C. chanos).  Namun, hal tersebut berpotensi membawa dampak negatif, seperti penurunan kualitas air. Berbagai penerapan sistem budidaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas produksi dalam kegiatan budidaya salah satunya memperhatikan padat penebaran yang digunakan dalam budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan bandeng dan mengetahui padat tebar berbeda yang memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan tertinggi  ikan bandeng.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah padat tebar berbeda dalam pemeliharaan dengan menggunakan keramba jaring apung yaitu perlakuan A (10 ekor/m2),B (20 ekor/m2), dan C (30 ekor/m2). Ikan uji yang digunakan yaitu, ikan bandeng (C. chanos) dengan rerata bobot individu 2,02 ± 0,21 g. Ikan bandeng dipelihara dalam keramba jaring apung (5x3x1) m3 selama 75 hari. Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik, kelulushidupan, kualitas air, dan kelimpahan plankton. Pengukuran kualitas air meliputi suhu, oksigen terlarut, salinitas, arus dan pH yang dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Berdasarkan pada uji ANOVA menunjukkan adanya pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai laju pertumbuhan spesifik, dan kelulushidupan. Perlakuan A memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik dibandingkan perlakuan yang lain, dengan pertumbuhan laju pertumbuhan spesifik (2,63±0,24 %/hari), dan kelulushidupan (84,66 ± 3,28 %). Secara umum, suhu, oksigen terlarut, salinitas, arus dan pH selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan ikan bandeng. Increased stocking density was one way to increase the production of milkfish (C. chanos). However, it was could potentially have negative impacts, such as the degradation of water quality. Various application of the cultivation system was conducted to improve the production quality in farming activities, one of them stocking density used in the cultivation. This research was aimed to determine the effect of different stocking density on growth and survival of milkfish and determine the stocking density which gives the highest growth and survival of milkfish. This research using a completely randomized design with 3 treatments and 3 replication. The treatments were different stocking density in maintenance by using floating net cages that treatment A (10 fish/m2), B (20 fish/m2), and C (30 fish/m2). The fish samples using milkfish (C. Chanos) with an individual average weight of 2.02 ± 0.21 g and long 5.86 ± 0.51 cm. Fish reared in floating net cages (5x3x1) m3 for 75 days. Data observed specific growth rate, survival rate, water quality, and the abundance of plankton. Measurements of water quality include temperature, dissolved oxygen, salinity, currents and pH were performed at the beginning and end of the research. Based on the ANOVA showed a highly significant effect (P <0.01) to the value of absolute weight, relative growth rate, specific growth rate, and survival. Treatment A gives the best growth and survival rate compared to other treatments, with specific growth rate (2,63 ± 0, 24 %/day), and survival rate (84,66 ± 3,28 %). In general, temperature, dissolved oxygen, salinity, currents and pH during the research were still in the reasonable range for fish life.