Winarso D. Widodo
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Kedekatan Hubungan antar Genotipe Pepaya Berdasarkan Karakter Morfologi dan Buah Suketi, Ketty; Poerwanto, Roedhy; Sujiprihati, Sriani; Sobir, ,; Widodo, Winarso D.
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 38, No 2 (2010): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.631 KB)

Abstract

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN; mso-no-proof:yes;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> A study was conducted to determine the variation and relationships among  papaya genotypes based on morphological and fruit characteristics  in order to produce  high quality papaya fruits. Fruit characterization study is very useful for genotype improvement and genotype classifi  cation of papaya. In this study the morphological characters of 36 genotypes were analyzed to determine their phenotypic variabilities.  The relationships between genotypes based on all of the morphological and fruit characteristics were tested by subjecting the data to multivariate principal component analysis and to cluster analysis. Based on the dendrogram generated from vegetative and generative characters, the 36 genotypes could be grouped into 11 clusters on a threshold of 1.6 and formed 6 clusters on a threshold of 1.8.  The dendrogram was able to explain the close relationship between IPB 5 x IPB 1 and IPB 5 x IPB 4, IPB 2 and IPB 7, IPB 1 and IPB 3 genotype. The scattered diagram of generative variable divided the papaya genotypes into three groups based on fruit sizes i.e small group (IPB 1, IPB 3, IPB 4, IPB 3 x IPB 4, IPB 1 x IPB 9), medium group (IPB 5, IPB 7, IPB 8, IPB 9) and big group (IPB 2, IPB 10).  The IPB 1, IPB 3 and IPB 4 were different from IPB 2 in fruit shapes, petal length of male fl  owers, infl orescence size and fruit length. The hybrid plants obtained from crossings with IPB 10 were different from the other genotypes in the colours of female-, hermaphrodite-, and male fl  ower-lobes. Subsequently the scatter diagrams also revealed that several genotypes i.e. IPB 2 x IPB 6, IPB 1 x IPB 5,  IPB 1 x IPB 9, IPB 5 x IPB 1 and IPB 5 x IPB 2 had superior characters  ideotype similar to IPB 1, IPB 3 and IPB 8 genotypes. Keywords: Carica papaya, hermaphrodite, female, dendrogram, scatter diagram, ideotype
Motode Adaptasi Tanaman Sambung Nyawa terhadap Cahaya-UV untuk meningkatkan Produksi Flavonoid Widodo, Winarso D.; Kurniawati, Ani; P, Edi Djauhari
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.718 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh paparan tipe dan periode pemaparan radiasi UV pada karakter agronomi, tanggap fisiologi dan biokimia
PENJARANGAN BUAH ANGGUR "BS-6" DENGAN PEMETIKAN BUAH DAN PEMOTONGAN TANDAN Widodo, Winarso D.; Harjadi, Sri Setyati; Wattimena, G. A.; Mattjik, A. A.
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 22, No 2 (1994): Buletin Agronomi
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1476.524 KB)

Abstract

An experiment consists of two separated trial sets had been carried out at Probolinggo, East Java to study of manual thinning on berry cluster of "BS-6" grape by berry removal and cluster tipping. Berry thinning severities that were investigated consists of berry-removing and cluster tipping, each applied control, 20%, 40% and 60% thinning treatments at 7 or 14 days after anthesis. Berry removal did not influence to berry density but increased large-berry proportion and juice quality; since cluster tipping increased berry density, berry size and berry uniformity. Manual thinning at 7 days after anthesis gave better effect than at 14 days after anthesis
Motode Adaptasi Tanaman Sambung Nyawa terhadap Cahaya-UV untuk meningkatkan Produksi Flavonoid Widodo, Winarso D.; Kurniawati, Ani; P, Edi Djauhari
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.718 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh paparan tipe dan periode pemaparan radiasi UV pada karakter agronomi, tanggap fisiologi dan biokimia
Kriteria Kemasakan Buah Pepaya (Carica papaya L.) IPB Callina dari Beberapa Umur Panen Taris, M. Luthfan; Widodo, Winarso D.; Suketi, Ketty
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol 6, No 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Perhimpunan Hortikultura Indonesia dan Departemen Agronomi dan Hortiluktura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.916 KB)

Abstract

ABSTRACTPapaya is one of the climacteric fruit that has a short shelf life. It has high potential as a source of vitamins and minerals. This research was aimed at studying the maturity criteria of postharvest ripeness of Callina papaya fruit of several picking ages and to determine the best picking ages for postharvest handling in order to extend the shelf life. Experiment was conducted in the Research Center for Tropical Horticulture, Bogor Agricultural University (PKHT, IPB) Papaya Farm Tajur, Bogor and postharvest ripening test was conducted at Postharvest Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University in February to July 2014. Experiment consisted of 4 treatments: 115, 120, 125 and 130 days after anthesis (DAA) with 3 replications. The longest shelf life for papaya Callina was obtained by fruit picked at 115 DAA (heat unit 2010.06 0C day) with the shelf life of 8 days. Picking ages 120 DAA (heat unit 2102.13 0C day) was the best picking ages for treatment to extend the shelf life because of the good chemical quality contained and its shelf life of 7 days. The older papaya fruits ripened faster than the younger papaya fruit. Younger papaya has a lower respiration rate than the older papaya. Picking ages did not affect the physical quality but affect the chemical quality of papaya fruit at the same postharvest maturity level.Kata kunci: Callina, chemical quality, physical quality, shelf life ABSTRAK Pepaya merupakan salah satu buah klimakterik yang memiliki daya simpan pendek, tetapi memiliki potensi yang tinggi sebagai sumber vitamin dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kriteria kematangan pascapanen buah pepaya Callina dari beberapa umur panen dan menentukan saat panen terbaik untuk penanganan pascapanen dalam rangka memperpanjang masa simpan. Buah untuk percobaan diperoleh dari kebun pepaya Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor (PKHT, IPB) Tajur, Bogor dan pengujian kematangan pascapanen dilakukan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari - Juli 2014. Percobaan terdiri atas 4 perlakuan: 115, 120, 125 dan 130 hari setelah antesis (HSA) dengan 3 ulangan. Umur simpan terlama pepaya Callina diperoleh pada umur panen 115 HSA (satuan panas sebesar 2010.06 0C hari) dengan umur simpan 8 hari. Umur panen 120 HSA (satuan panas sebesar 2102.13 0C hari) merupakan umur panen terbaik untuk perlakuan memperpanjang umur simpan karena mutu kimia baik dengan umur simpan 7 hari. Buah pepaya yang dipanen tua lebih cepat masak dibandingkan dengan buah pepaya yang dipanen muda. Pepaya yang dipanen muda memiliki laju respirasi yang lebih rendah dibandingkan dengan pepaya yang dipanen tua. Umur panen tidak mempengaruhi mutu fisik tetapi mempengaruhi mutu kimia buah pepaya pada tingkat kematangan pascapanen yang sama.Kata kunci: Callina, mutu fisik, mutu kimia, umur simpan
Pengaruh Aplikasi KMnO4 dengan Media Pembawa Tanah Liat terhadap Umur Simpan Pisang Mas (Musa sp AA Group.) Hasibuan, Elvi Pebri; Widodo, Winarso D.
Buletin Agrohorti Vol 3, No 3 (2015): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.053 KB)

Abstract

Pisang termasuk ke dalam lima komoditas pangan utama di Indonesia selain gandum, ubi kayu, ubi jalar, dan jagung. Sehingga, pisang memerlukan perhatian khusus agar buah yang dihasilkan berkualitas. Penelitian ini yaitu pengujian KMnO4 menggunakan media conveyor pada beberapa waktu penyimpanan Pisang Mas (Musa sp. AA GROUP). Penelitian terdiri atas waktu penyimpanan, indeks skala warna, reduksi massa, kekerasan buah, rasio buah, bagian buah yang dapat dimakan, total padatan terlarut, titrasi asam dan vitamin C. Pengamatan reduksi massa dan indeks skala warna dilakukan pada 3, 6, dan 9 hari setelah percobaan . Kekerasan buah, rasio buah, bagian buah yang dapat dimakan, total padatan terlarut, titrasi asam dan vitamin C dilakukan pada 6 dan 12 hari setelah percobaan. Hasil percobaan menunjukkan KMnO4 tidak berpengaruh terhadap waktu penyimpanan, vitamin C dan total padatan terlarut, namun berpengaruh pada indeks skala warna, reduksi massa, kekerasan buah, rasio buah, dan bagian buah yang dapat dimakan. Penelitian ini harus dilakukan kembali agar didapatkan hasil yang lebih baik.?
Pengelolaan Perkebunan Pisang Cavendish Komersial di Lampung Tengah, Lampung Jamaluddin, Moh Agus; Widodo, Winarso D.; Suketi, Ketty
Buletin Agrohorti Vol 7, No 1 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.691 KB)

Abstract

Penelitian dilaksanakan untuk menambah wawasan, pengalaman teknis, keterampilan kerja, manajerial, dan secara khusus mempelajari serta menganalisis pengelolaan perawatan tanaman dan buah pisang cavendish. Penelitian dilaksanakan di Lampung pada bulan Februari hingga Juni 2017. Metode yang digunakan untuk mendapat data primer dengan cara mengikuti dan mengamati kegiatan teknis di lapang dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari laporan dan arsip kebun. Hasil penelitian menunjukkan kualitas buah pisang dipengaruhi pemangkasan daun, penyuntikan jantung, pembrongsongan, pembuangan bunga, pembuangan buah, pembuangan penghalang buah, dan pemasangan sekat buah. Penyakit pisang yang menjadi kendala di lokasi penelitian adalah Black Leaf Streak (BLS) yang disebabkan oleh Mycosphaerella fijiensis dan banana freckle yang disebabkan oleh Guignardia musae. Kehilangan buah ekspor terbesar karena kondisi No Functional Leaf (NFL) karena Banana Freckle. Blok dengan kondisi NFL terbesar adalah blok 27A dengan jumlah 7420 tanaman. Indeks tenaga kerja sebesar 2.08.