Articles

Found 38 Documents
Search

Performans Reproduksi Sapi Peranakan Simmental (Psm) Hasil Inseminasi Buatan di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah

Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan JIIP Volume XI No. 3 Edisi Agustus 2008
Publisher : Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Information of performance reproduction crossed result of cow in ranch was immeasurable enough because  condition  of  its  different  conservancy.  This  research  aimed to  know  difference  of reproduction performances of  Simmental Crossed Cow (PSM)  result  of  Artificial  Insemination  (AI)  looked  after  by farmer  of  breeder  of  Group  Farmer  Livestock  member  (KTT)  and  non member  of  KTT in District of Sukoharjo.  Research  conducted  with  method  of  survey  by  means  of  questionaire.  Determination  of research  sample arranged purposive sampling.    Variables  were perceived  to  cover  pregnant  time  depth, service period, calving interval, non return rate and service per conception. Data had been analyzed with Z  test  or  presented  descriptively.  Results  of  this  research  indicated  that  difference  of  breeder  status (member  of  KTT  and  non  KTT)  giving  different  influence  in  conservancy.  Statistical  analysis  result  of research successively indicated that gestation period mean of PSM cow property of member of KTT and non member of KTT did not differ reality (KTT 301.82 ± 29.93 day; non KTT 308.5 ± 33.73 day); service period differ  reality  (KTT  110.89  ±  30.23  day;  non  KTT 114.11  ±  56.78  day).  Calving  interval  differ reality  (KTT  392.28  ±  77.27  day,  non  KTT  416.02  ±  64.63  day);  non  return rate differ  reality  (KTT 87.72 ± 11%; non KTT 79.53 ± 18%); service per conception do not differ reality (KTT 1.12 ± 0.32; non KTT  1.19  ± 0.40.  This  research  concluded that  performance reproduction of  PSM cow looked  after  by breeder of member of KTT better in general compared to cow of PSM looked after by is breeder non KTT 

MOTIVASI KEIKUTSERTAAN PETERNAK SAPI POTONG PADA SISTEM KANDANG KOMUNAL (STUDI KASUS DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA)

Majalah Ilmiah Peternakan Vol 8, No 3 (2005)
Publisher : Majalah Ilmiah Peternakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RINGKASAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi apa sebenarnya yang mendorong para peternak sapi potong bergabung dalam sistem pemeliharaan kandang kelompok, serta untuk melihat apakah ada perbedaan motivasi antaranggota pada kelompok pemrakarsa yang berbeda. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada bulan September - Desember 2003. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik quota sampling. Kelompok ternak sapi potong yang ada dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan unsur pemrakarsanya, yaitu oleh Dinas Peternakan, pemerintah desa, dan swadaya. Sampel sebagai responden diambil dalam jumlah yang seimbang antar ketiga kelompok, masing-masing 20 peternak, sehingga total responden adalah 60 peternak. Alat pengumpul data yang digunakan berupa daftar kuesioner. Indikator yang dijadikan sebagai petunjuk motivasi dikategorikan ke dalam lima aspek sesuai dengan rancangan Maslow (1994), dan untuk menganalisis intensitas motivasi digunakan model Clark Hull (Petri, 1981). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara umum motivasi peternak ikut serta dalam membentuk kandang komunal tidak hanya semata-mata didasari oleh keuntungan secara ekonomis, supaya mendapatkan penghargaan atau supaya diakui eksistensinya, tetapi lebih didasari oleh dorongan untuk meningkatkan kualitas hubungan kehidupan sosial di antara peternak/masyarakat. Motivasi keikutsertaan anggota kelompok yang dibentuk oleh Dinas Peternakan cenderung pada kebutuhan untuk aktualisasi diri, motivasi keikutsertaan anggota kelompok yang dibentuk oleh pemerintah desa adalah didorong oleh pemenuhan kebutuhan fisiologis, sedangkan keikutsertaan anggota pada kelompok swadaya lebih didasari oleh dorongan kebutuhan sosial dan kasih sayang.

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC SKILL TEKNOLOGI FERMENTASI BERBASIS MASALAH LINGKUNGAN

Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 41, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran biologi di SMA 1 Kandangserang, mengembangkan perangkat pembelajaran dengan pendekatan scientific skill berbasis masalah lingkungan pada limbah produksi tempe-tahu, dan mengevaluasi validitas, efektivitas, serta kepraktisan perangkat pembelajaran tersebut. Metode yang digunakan adalah Research and Development dengan menganalisis kebutuhan kemudian mengembangkan produk dan diuji validitas, efektivitas, dan kepraktisanya hingga diperoleh produk final. Produk yang dikembangkan adalah perangkat pembelajaran dengan pendekatan scientific skill teknologi fermentasi berbasis masalah lingkungan pada limbah produksi tempe-tahu, yaitu meliputi silabus, RPP, bahan ajar, lembar diskusi peserta didik (LDPD), dan lembar penilaian scientific skill. Hasil analisis menunjukkan perangkat pembelajaran sangat valid, efektif, dan praktis diterapkan. Guru hendaknya menerapkan perangkat pembelajaran dengan pendekatan scientific skill teknologi fermentasi berbasis masalah lingkungan pada limbah produksi tempe-tahu. The research aims to describe biology learning process in SMA 1 Kandangserang detaily, expand learning process with scientific skill approach problem based learning, and evaluate the validity, effectivity, and practical the learning equipment. The method in this research is Research and Development, by analyzing the need and then developing a product and find the validity, effectivity, practically until gets the final product. The product that been developed is learning equipment with scientific skill technology of fermentation that principle with surrounding problems, consist of the syllabi, lesson plan, teaching materials, student discussion papers, and scientific skill’s evaluation  paper. The learning equipment is valid, efective and has been used. Learning equipment using scientific skill inenvironment problem based should be applied in making of tempe-tahu by the teacher.

Kelimpahan dan Pola Penyebaran Nematoda Entomopatogen sebagai Agensia Pengendali Serangga Hama pada Berbagai Lahan di Semarang

Jurnal Lahan Suboptimal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Lahan Suboptimal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.847 KB)

Abstract

The soil was a place which plants and various organisms live. One of the soil organisms that plays an important role as agents of biological control of parasitic nematodes of insects, was known by entomopathogenic nematodes (ENP’s). The aims of this research was analyzing the population density and patterns spread of the entomopathogenic nematodes on overgrown annuals land, overgrown perennial land, non-vegetation land and ranch land. The experimental design used in this study was a randomized design group. The technique of determining location using purposive sampling. Soil samples were taken at four location with eight replicates. The research was held in August-October 2013. The ENP’s of land obtained by the technique of baiting using Tenebrio molitor. The result showed that ENP’s population density was found from ranch land was 67.411 tail/mL. It was higher than the ENP’s population density on non-vegetation land was 15.199 tail/mL. The statistics Mann Whitney showing absence of difference density of populations ENP’s. A pattern to scatter nematode entomopathogen on some land widely distributed in clumped.

EVALUASI PARTISIPASI SISWA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH UNTUK MENDUKUNG PROGRAM SEKOLAH ADIWIYATA

Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015): IJC
Publisher : Indonesian Journal of Conservation

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted in conjunction with the grant of IbM activities 2015 about waste management school. Partner program is SMAN 12 and SMAN 13 Semarang. The objective research was to describe implementation of activities, as well as to evaluating the level of student participation in waste management school. Respondents were determined by purposive. They are students members of the Scientific Work of Youth, which is involved in the implementation of this program. Each school was taken a sample of 50 students. Description of the implementation of the waste management program is presented in narrative.   Student participation was measured using (1) questionnaire to collect information about students participation in implementing the principles of the 3R waste management (reduce; reuse, recycle); and (2) multiple choice questions to gather information about the basic knowledge of the students to 3R waste management principles.  The data were tabulated and analyzed descriptively. The results showed that the program IbM in both partner schools already performing well, realizing home composting organic waste that can process at school. The existence of home composting to support Adiwiyata program. The level of student participation in school waste management is quite active with an average score of 164.67 (SMAN 12) and 168.33 (SMAN 13). Similarly, the level of students knowledge in waste management in the category enough with a score of 15.6 (SMAN 12) and 14.8 (SMAN 13). Penelitian ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan hibah IbM  DIKTI tahun 2015 sebagai kelanjutan program sebelumnya. Mitra program adalah SMAN 12 dan SMAN 13 Semarang,  Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan implementasi kegiatan, serta mengevaluasi sejauh mana tingkat partisipasi siswa dalam pengelolaan sampah sekolah. Responden ditentukan secara purposive, yaitu siswa anggota KIR (Karya Ilmiah Remaja) sekolah yang dilibatkan dalam pelaksanaan program, masing-masing sekolah sebanyak 50 siswa. Deskripsi implementasi program pengelolaan sampah disajikan secara naratif. Instrumen yang digunakan untuk mengukur partisipasi siswa terdiri dari (1) lembar kuesioner untuk mengumpulkan informasi sejauh mana partisipasi siswa dalam menerapkan prinsip 3R (reduce; reuse, dan recycle); (2) lembar pertanyaan multiple choice untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dasar yang dimiliki siswa terhadap prinsip 3R dalam pengelolaan sampah. Data kuantitatif yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif menggunakan acuan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program  IbM tahun 2014 dan 2015 di kedua sekolah mitra mencapai target yang ditetapkan yaitu mewujudkan rumah kompos yang mampu mengolah sampah organik sekolah dan mendukung program sekolah Adiwiyata. Tingkat partisipasi siswa dalam pengelolaan sampah sekolah tergolong cukup aktif dengan skor-rata-rata  164,67 (SMAN 12) dan 168,33 (SMAN 13).  Demikian pula tingkat pengetahuan siswa dalam mengelola sampah  masuk kategori cukup  dengan skor  15,6 (SMAN 12) dan 14,8 (SMAN 13). 

EVALUASI KELAYAKAN ALAT PERAGA TIGA DIMENSI YANG DIHASILKAN PADA PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN

Jurnal Abdimas Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan membuat alat peraga biologi tiga dimensi ini bertujuanuntuk: (a) praktek pembuatan alat peraga tiga dimensi berbasis biologi pada materi embriologi hewan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kewirausahaan dengan berkreasi menciptakan alat peraga tiga dimensi berbasis biologi dan (b) dan (c) analisis kelayakan alat peraga oleh pakar materi. Kegiatan dilakukan menggunakan metode pemaparan materi dan praktek langsung di laboratorium Perkembangan hewan Jurusan Biologi. Untuk mengetahui apakah kegiatan ini mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam kewirausahaan, dilakukan penelitian sederhana menggunakan metode survei terhadap tanggapan peserta setelah pelatihan. Untuk mengetahui kelayakan alat peraga yang dibuat, dilakukan evaluasi kelayakan oleh pakar materi menggunakan lembar validasi. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Dari hasil data tanggapan peserta sebelum dan sesudah pelatihan, diketahui bahwa sebanyak 80% peserta pelatihan menyatakan berminat mengaplikasikan ketrampilan ini dalam kegiatan PPL, KKN dan atau penyusunan skripsi. Sebanyak 65% peserta menyatakan berminat memanfaatkan ketrampilannya sebagai alternatif berwirausaha dan 70% menyatakan optimis alat peraga semacam ini jika ditekuni akan mampu bersaing dipasaran. Meskipun produk yang dihasilkan dalam pelatihan masih terdapat kelemahan dan kekurangan, akan tetapi secara umum hasilnya layak untuk dimanfaatkan sebagai alat peraga dalam pembelajaran. Hasil evaluasi pakar materi diperoleh bahwa 80% produk yang dihasilkan layak digunakan untuk pembelajaran dengan kategori sesuai/baik, sedangkan 20% yang lain kurang sesuai. Kata kunci : alat peraga, biologi, kewirausahaan, tiga dimensi

PELATIHAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN ITIK SECARA INTENSIF DI KECAMATAN WEDUNG KABUPATEN DEMAK

Rekayasa Vol 12, No 1 (2014): Juli 2014
Publisher : Unnes Journal. Research and Community Service Institute, Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The training of intensive breeding management has been carried out for duck farmers at district Wedung - Demak, on July-August 2013. The training was conducted in three activities, namely: (a) the transfer of knowledge about technique of preparing duck feed by available material, intensive maintenance , and incubator hatching technique; (b) implementation of intensive maintenance for the fertile eggs product, and (c) the practice of using the hatching incubator. Participants were duck farmer at Mutih Kulon and Tedunan, that maintain their ducks with extensive (grazing method). The results showed that the 27 participants who took the training have never been participated in the training of duck management. The reason of farmer breeding with grazing method, because they follow the habits of their parents. Most participants know that the maintenance of grazing method is bad, and they know that the intensive maintenance will increase the profits. The Proximate analysis of ration duck showed that its composition has taught balanced feed criteria. Production of eggs in the intensive maintenance hatchability reached 92%, eventhough the experiment at the farmer level reached 70.5% only.

PERBANYAKAN NEMATODA ENTOMOPATOGEN (NEP) PADA BERBAGAI MEDIA BUATAN ENTOMOPATHOGENIC NEMATODES (ENPS) REARING ON VARIOUS ARTIFICIAL CULTURE MEDIA

Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 12, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Unnes Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perkembangbiakan nematoda entomopatogen pada berbagai media buatan. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, tujuh perlakuan dan lima ulangan. Tujuh perlakuan media yaitu media A(tepung kedelai), B (hati ayam), C (dog food), D (campuran hati ayam dan tepung kedelai 1:1), E (campuran tepung kedelai dan dog food 1:1), F (hati ayam dan dog food 1:1) dan G (campuran tepung kedelai, hati ayam dan dog food 1:0,5:0,5). Sebanyak 1,2 x 10 JI/ml di biakkan pada setiap media rearing selama empat minggu. Populasi NEP diamati setiap minggu. Hasil menunjukkan media terbaik untuk perbanyakan NEP adalah media E (campuran tepung kedelai dan dog food) dengan populasi tertinggi 3,5 x 10 3 JI/ml. media E mengandung karbohidrat 1,27%, protein 1,52% dan lipid 1,09%.

EFEKTIVITAS PROSES PENGOMPOSAN SAMPAH DAUN DENGAN TIGA SUMBER AKTIVATOR BERBEDA

Rekayasa Vol 13, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Unnes Journal. Research and Community Service Institute, Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to evaluate the effectivity of the leaf garbage composting process were given three different kinds of activators.The material composed are chopped leaf garbage and goat manure in the ratio of 3: 2, and make in three activators treatments. There are activators of orange peel waste, vegetable waste and EM4 product as a comparison. Compost is harvested after the composting process lasted for 21 days. The variables measured include (1) changes in daily temperature, pH, humidity compost during the composting process, (2) quality parameters such as physical parameters (texture, colour, odor, and depreciation), and chemical parameters (water content, pH, and C/N ratio). All of data were analyzed descriptively. The changes of daily temperature, pH, and humidity on EM4 compost activator treatment showed highest depreciation (39.3%) followed by compost with vegetable Mol and waste orange peel ( 31.6% and 29.8%), while the graphs of pH and humidity appear constant during this process. Accordance with the percentage of the depreciation, C/N ratio of the compost with EM4 activator showed the lowest (14.73). Generally, parameters of texture, colour and odor no different, as well as the water content and pH. This study concludes that composting treatment successfully and produce compost according to the criteria of SNI standard Number 19-7030-2004.

PERBEDAAN FISIK DAN KIMIA KOMPOS DAUN YANG MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR MOL DAN EM 4

Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 11, No 1 (2013): June 2013
Publisher : Unnes Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan mikroorganisme lokal (MOL) sebagai aktivator dalam proses pengomposan sampah daun, serta membandingkan penampilan fisik, penyusutan bahan, kadar air dan C/N rasio kompos yang dihasilkan dengan kompos yang menggunakan EM sebagai bioaktivator. Bahan baku kompos terdiri dari daun kering cacah dan kotoran kambing. Kompos dipanen setelah proses pengomposan berlangsung selama 6 minggu. Setiap perlakuan dibuat tiga ulangan. Data kualitatif yang diamati meliputi tekstur, warna dan bau, sedangkan data kuantitatif yang diukur meliputi persentase penyusutan bahan, persentase kompos yang terbentuk, kadar air, dan C/N rasio. Analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif menggunakan uji t. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kompos kedua perlakuan memiliki penampilan fisik tidak berbeda. Berdasarkan uji t, ratarata penyusutan bahan, kadar air dan C/N rasio kompos matang tidak berbeda nyata, akan tetapi persentase kompos yang terbentuk menunjukkan perbedaan nyata. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kompos daun kedua perlakuan memperlihatkan penampilan fisik, penyusutan, kadar air dan C/N rasio yang tidak berbeda, sedangkan persentase kompos yang terbentuk pada kompos + EM lebih tinggi dibanding kompos + MOL. Secara umum kedua kompos masuk kategori layak digunakan berdasarkan standar SNI No. 19-7030-2004. 4 4