Articles

Found 14 Documents
Search

Kemampuan Ekstrak dan Bakteri Inhabitan Mucuna pruriens Linn. dalam Menekan Penyakit Bercak Daun Cercospora dan Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Yulia, Endah; Widiantini, Fitri; Firmansah, Ramdan; Karuniawan, Agung
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tanaman velvet bean (Mucunna spp.) merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan biopestisida. Senyawa kimia yang diekstrak dari biji Mucuna telah banyak digunakan dalam pengobatan beberapa penyakit dalam bidang kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. serta menguji kemampuan bakteri inhabitan Mucuna dalam memacu pertumbuhan tanaman dan menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora pada tanaman kacang tanah. Metode penelitian berupa metode eksperimen untuk menguji potensi ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. dari dua aksesi Mucuna asal NTT dan Jabar, dan menguji kemampuan isolat bakteri yang diisolasi dari dua aksesi tersebut dalam memacu pertumbuhan tanaman dan penekanan penyakit bercak daun cercospora yang diaplikasikan melalui perlakuan benih pada benih kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada ketinggian + 700 m dpl, dari bulan Juli sampai bulan November 2007. Hasil penelitian menunjukkan potensi antimikrobial ekstrak Mucuna and ekstrak etanol biji Mucuna asal NTT menunjukkan penekanan pertumbuhan Cercospora sp. yang lebih baik dibandingan dengan ekstrak lainnya. Sementara itu, enam isolat bakteri inhabitan Mucuna cenderung meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah dan terdapat satu isolat bakteri yang secara nyata menekan penyakit bercak daun cercospora dengan penekanan penyakit sebesar 70,85%.
DETEKSI JAMUR Verticillium dahliae KLEBHAN PENYEBAB PENYAKIT LAYU TANAMAN DI SENTRA BUDIDAYA KENTANG LEMBANG DAN PANGALENGAN Suganda, Tarkus; Widiantini, Fitri; Purnama, Andang; Nasahi, Ceppy
Bionatura Vol 5, No 1 (2003): Bionatura Maret 2003
Publisher : Bionatura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Jamur V. dahliae merupakan jamur patogenik yang sangat merugikan berbagaijenis tanaman hortikultura, termasuk kentang, tomat, dan cabai. Sekali jamur initerinfestasikan ke suatu daerah pertanaman, maka ia dapat menyebabkanpenyakit yang hebat dan kerugian hasil. Kultivar resisten belum tersedia padatanaman apa pun, dan jamur ini mampu bertahan di dalam tanah untuk waktuyang lama serta memiliki kisaran inang yang luas. Suatu survey untukmengetahui keberadaan jamur V. dahliae di sentra pertanaman hortikultura diKecamatan Lembang dan Pangalengan telah dilakukan. Sampel tanah diambildari sembilan lokasi di tiga desa di Kecamatan Lembang dan dari 48 lokasi di limadesa di Kecamatan Pangalengan. Pengisolasian dilakukan dengan metodepengenceran dan penebaran suspensi ke atas media PDA dan ESA yang dilakukandi Laboratorium Fitopatologi Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan,Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Penyampelan danpengisolasian dilakukan dua kali. Namun demikian, dari semua sampel, tidakditemukan keberadaan jamur V. dahliae dari Lembang dan Pangalengan.Kata kunci : Verticillium dahliae, deteksi, kentang, Lembang, Pangalengan
Seleksi Ketahanan Ubi Jalar Madu Genotipe F1 terhadap Penyakit Kudis (Sphaceloma batatas Saw.) Widiantini, Fitri; Yulia, Endah; Roosda, Aina Anna; Karuniawan, Agung
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTResistant Selection of Sweet Potato Genotypes F1 against Scab Disease (Sphaceloma batatas)Variety of sweet potato in Indonesia is very diversed which is an advantage to develop sweet potatovarieties. However, local sweet potato often replaced with higher economic value varieties. The aim of thisresearch was to determine the resistant ability of genotype F1 from open pollination of local sweet potatolandraces against scab disease (Sphaceloma batatas ). As much as 661 genotypes F1 were grown on researchplantation centre at Ciparanje, Faculty of Agriculture Universitas Padjadjaran. The experiment was doneusing randomized blocked augmented design. The result demonstrated that genotypes F1 as results ofcrossing over between local varieties of sweet potatoes had high resistance against scab. This wasdemonstrated by more than 50% of the assessed population were resistant to scab as showed by low value ofdiseases severity. However, growing those genotypes at different seasons and locations need to be done todetermine the resistance stability.Keywords: sweet potato, scab, Sphaceloma batatasABSTRAKVarietas lokal ubi jalar di Indonesia sangat beragam. Keragaman yang ada tersebut sangat bermanfaat dalampengembangan ubi jalar. Namun, varietas lokal semakin tergeser seiring dengan nilai ekonomi yang lebihmenguntungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mngetahui ketahanan genotipe-genotipe F1 ubijalar madu hasil dari open pollination dari aksesi-aksesi ubi jalar lokal terhadap penyakit kudis (Sphacelomabatatas). Sebanyak 661 genotpe F1 beserta aksesinya digunakan dalam penelitian ini. Percobaan dilaksanakandi kebun percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Januari 2013-Juni2013. Percobaan disusun dengan menggunakan rancanga acak dengan perluasan (augmented design).Pengamatan dilakukan dengan menghitung intesitas serangan penyakit kudis dengan interval 30 hari. Hasilpercobaan menunjukkan bahwa genotipe-genotipe F1 yang diuji menunjukkan potensi ketahanan terhadapserangan penyakit kudis. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya genotipe ubi jalar yang relatif tahanterhadap serangan penyakit kudis. Lebih dari 50% dari genotipe F1 ubi jalar yang diuji tahan terhadapserangan penyakit kudis yang ditunjukkan dengan rendahnya nilai assessment serangan penyakit. Pengujiandi berbagai musim tanam dan lokasi perlu dilakukan untuk mengetahui kestabilan ketahanan yang dimilikoleh genotipe-genotipe F1 tersebut.Kata kunci: ubi jalar madu, kudis, Sphaceloma batatas
Keefektifan Ekstrak Air Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dalam Menekan Pertumbuhan Koloni dan Perkecambahan Konidia Jamur Colletotrichum capsici Penyebab Penyakit Antraknos pada Cabai Yulia, Endah; Widiantini, Fitri; Purnama, Andang; Nurhelawati, Ida
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTEffectiveness of Aqueous Extract of Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Leaves in Suppressing Colony Growth and Conidia Germination of Colletotrichum capsici the Causal Agents of Anthracnose Disease on ChiliAnthracnose disease caused by the fungus Colletotrichum spp. is a major disease in chili. Several studies have reported the effectiveness of some plant extracts in suppressing the growth of this pathogen and in controlling the disease. Binahong (Anredera cordifolia) plant has been widely studied and used in traditional medicine in the field of human health as well as antimicrobial on plant pathogens. This study was aimed to test the effectiveness of the aqueous extract of binahong leaves to suppress the colony growth and conidia germination of the fungus C. capsici. The concentration of binahong aqueous extract tested were 6.25%, 8.84%, 12.5%, 17.7% and 25%. Results showed binahong aqueous extract at low concentration of 6.25% was able to suppress the growth of fungal mycelium of C. capsici up to 66.88% compared to the lower effectiveness of higher tested concentrations. The aqueous extract of binahong leaves at this low concentration also tended to suppress the germination of conidia of the fungus C. capsici in in higher tested concentrations.Keywords: Colletotrichum capsici, Aqueous extract, Anredera cordifoliaABSTRAKPenyakit Antraknos yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. merupakan penyakit utama pada tanaman cabai. Beberapa penelitian melaporkan keefektifan beberapa ekstrak tanaman dalam menekan pertumbuhan patogen Colletotrichum spp. dan dalam mengendalikan penyakit Antraknos ini. Tanaman binahong sudah banyak diteliti dan digunakan dalam pengobatan tradisional di bidang kesehatan manusia maupun sebagai antimikroba patogen tanaman. Penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengujian keefektifan ekstrak air daun binahong terhadap pertumbuhan koloni dan perkecambahan konidia jamur C. capsici. Konsentrasi ekstrak air binahong yang diuji adalah 6,25%, 8,84%, 12,5%, 17,7% dan 25%. Hasil menunjukkan ekstrak air binahong pada konsentrasi rendah 6,25% mampu menekan pertumbuhan miselium jamur C. capsici sampai 66,88% dibandingkan keefektifan yang lebih rendah pada konsentrasi yang lebih tinggi. Ekstrak air binahong pada konsentrasi rendah tersebut juga cenderung menekan perkecambahan konidia jamur C. capsici.Kata Kunci: Colletotrichum capsici, Ekstrak air, Anredera cordifolia
Keefektifan Oligochitosan dalam Menekan Pertumbuhan Jamur Patogen Rigidoporus lignosus [(Klotzsch) Imazeki] Penyebab Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Cengkeh secara in Vitro Widiantini, Fitri; Purnama, Andang; Yulia, Endah; Formanda, Dwindry
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTThe effectiveness of Oligochitosan in Suppressing the Growth of Fungal PathogenRigidoporus lignosus [(Klotzsch) Imazeki] the Causal Agent of White Root Rot Disease of Clovesin VitroWhite root rot disease caused by fungi Rigidoporus lignosus (Klotzch) Imazeki is an important disease of cloves that can cause the death of clove plants. Negative effect on the use of intensive fungicides leads to the search of an alternative method which is more environmentally friendly. Oligochitosan is a natural compound that has antifungal activity and can be used as natural pesticide. This study aimed to determine the concentration of oligochitosan that was able to effectively inhibit R. lignosus mycelial growth and to determine the effect of oligochitosan to R. lignosus mycelial growth. The study used a Completely Randomized Design with 5 oligochitosan concentration treatments (2 g/l, 4 g/l, 6 g/l, 8 g/l and 10 g/l) and control (no treatment). Oligochitosan was diluted with water and mixed with PDA to meet the required concentration. Same concentration was also used to dip wooden toothpick for 1 min and incubated on PDA containing R. lignosus. The result showed that 6 g/l oligochitosan concentration was able to inhibit the mycelial growth of R. lignosus up to 71.6%. Highets inhibition of 100% was demonstrated by oligochitosan at concentration of 8 g/l and 10 g/l. The thinning of mycelial growth on the toothpick and microscopic observation demonstrated that the mycelial of R. lignosus were became lysis.Keywords: Antifungal, Food poisonous, Mycelial growth, LysisAbstrakPenyakit Jamur Akar Putih (JAP) yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus lignosus (Klotzch) Imazeki merupakan penyakit penting yang menyerang tanaman cengkeh dan bahkan dapat mengakibatkan kematian tanaman. Pengaruh negatif dari penggunaan fungisida mendorong dilakukan pencarian alternatif pengendalian baru yang lebih ramah lingkungan. Oligochitosan merupakan senyawa alami yang mempunyai aktivitas anti jamur dan dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi oligochitosan yang dapat secara efektif menghambat pertumbuhan jamur R. lignosus dan mengetahui pengaruh oligochitosan terhadap miselia jamur R. lignosus. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan terdiri dari 5 konsentrasi oligochitosan (2 g/l, 4 g/l, 6 g/l, 8 g/l dan 10 g/l) dan kontrol (tanpa oligochitosan). Oligochitosan dilarutan dalam air dan dicampur dengan PDA sehingga diperoleh konsentrasi yang diuji. Konsentrasi yang sama juga digunakan untuk merendam tusuk gigi selama 1 menit dan diinkubasikan dalam cawan petri yang sebelumnya sudah ditumbuhi oleh R. lignosus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa oligochitosan pada konsentrasi 6 g/l menghambat pertumbuhan jamur R. lignosus sebesar 71,6%. Sementara penghambatan tertinggi sebesar 100% diperoleh pada perlakuan oligochitosan dengan konsentrasi8 g/l dan 10 g/l. Penipisan koloni jamur R. lignosus pada tusuk gigi dan pengamatan di bawahmikroskop menunjukkan bahwa oligochitosan menyebabkan lisis pada miselia jamur R. lignosus.Kata kunci: Anti jamur, Umpan beracun, Pertumbuhan koloni, Lisis
Uji Keefektifan Antijamur Ekstrak Air Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga [L] Willd.) sebagai Perlakuan Pratanam untuk Mengendalikan Colletotrichum spp. pada Kedelai (Glycine max L.) Yulia, Endah; Suganda, Tarkus; Widiantini, Fitri; Prasetyo, Rangga Irawan
Agrikultura Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTAntifungal Effect of Aqueous Extract of Galangal (Alpinia galanga [L] Willd.) Rhizomeas Seed Treatment to Control Colletotrichum spp. of Soybean (Glycine max L.)Colletotrichum is one of the most important seed-borne pathogens of soybean which is usuallycontrolled with synthetic fungicide seed treatment. However, it is believed that the use ofsynthetic fungicide can cause a variety of negative impacts to the environment and humanhealth. Galangal rhizome extract has been widely reported to have antifungal and antibacterialproperties. The aim of the study was to investigate the effectiveness of galangal rhizomeaqueous extract as antifungal for pre-planting seed treatment to control Colletotrichum spp. insoybean. Laboratory and glasshouse experiments were carried out at the Department of PlantPests and Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The method used was anexperimental method to test the effectiveness of galangal rhizome aqueous extract against theemergence and spore germination suppression of Colletotrichum spp., and to test the seedviability and plant growth of soybean. Galangal rhizome extract with concentrations of 10%,30%, 50%, 70%, 90% and 100% as well as a metalaxyl fungicide (0.5 g/l) were applied as aseed treatment. The results showed galangal rhizome aqueous extract at concentration of100% reduced the presence of Colletotrichum spp. in seeds up to 100% after the treatment andsuppressed the spore germination by 76.20% as well as increased the seed viability and thegrowth of soybean plants.Keywords: Alpinia galanga, aqueous extract, seed treatment, soybean, Colletotrichum spp.ABSTRAKUmumnya pengendalian penyakit tular benih pada kedelai dilakukan melalui perlakuan benihdengan menggunakan fungisida sintetik yang diakui dapat menimbulkan berbagai dampak negatifpada lingkungan maupun kesehatan manusia. Penggunaan ekstrak air rimpang lengkuas untukperlakuan benih dapat diterapkan sebagai alternatif pengendalian penyakit tular benih padakedelai. Lengkuas telah banyak dilaporkan memiliki sifat antijamur dan antibakteri. Penelitian inidilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan ekstrak air rimpang lengkuas sebagaiantijamur untuk perlakuan benih dalam mengendalikan penyakit tular benih pada kedelai.Percobaan dilaksanakan di Laboraturium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama danPenyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode eksperimen dengan pengujian keefektifan air persaan rimpang lengkuasterhadap kemunculan, penekanan perkecambahan konidia, uji pertumbuhan benih, dan viabilitasbenih jamur Colletotrichum spp. pada kedelai. Ekstrak air rimpang lengkuas dengan konsentrasi10%; 30%; 50%; 70%; 90%; dan 100% serta fungsida berbahan aktif metalaksil (0,5 g/l)diaplikasikan sebagai perlakuan benih kedelai. Hasil percobaan menunjukkan ekstrak air rimpanglengkuas konsentrasi 100% dapat menekan sampai 100% kemunculan Colletotrichum spp. setelah perlakuan benih, menekan perkecambahan konidia sebesar 76,20% serta meningkatkanpertumbuhan dan viabilitas benih kedelai.Kata kunci: engkuas, ekstrak air, perlakuan benih, kedelai, Colletotrichum spp.
Potensi Air Sulingan Beberapa Bagian Tanaman Kopi sebagai Atraktan terhadap Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampeii Ferr.) di Laboratorium Rasiska, SIska; Ariyono, Deni; Widiantini, Fitri
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACT Potency of Distilled Water of Several Parts of Coffee Plant as Attractant of Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampeii Ferr.) in Laboratory Coffee berry borer (Hypothenemus hampeii Ferr.) is one of coffee plant pests, causing fruit damage up to 50 percent. One of control technicques to eliminate the adult female is the use of attractants obtained from parts of coffee plant. The aim of this research was to know the potency of distilled water of parts of coffee plant as attractant to control coffee berry borer. Research was done in the Laboratory of Entomology, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, from February to July 2015. Experiment was conducted in a Randomized Block Design. The treatments were control without distilled water (P0), coffee exocarp distilled water (P1), coffee berry distilled water (P2), coffee leaves distilled water (P3), and coffee branch distilled water (P4). Each treatment was replicated five times. The result showed that distilled water of coffee plant had a potency as attractant of coffee berry borer. Distilled water of coffee bean at the concentration of 4% had the strongest effect, attracting coffee berry borer of 8.8 female adult. The effectiveness of coffee plant distilled water in attracting coffee berry borer lasted three days. Keyword: Distilled water, Attractant, Coffee berry borer ABSTRAK Penggerek buah kopi (PBKo, Hypothenemus hampei Ferr.) merupakan hama utama tanaman kopi yang dapat menyebabkan kerusakan hingga 50%. Salah satu teknik pengendalian imago betina PBKo yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan senyawa atraktan yang terkandung di dalam bagian tanaman kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi air sulingan bagian tanaman kopi sebagai atraktan terhadap hama PBKo. Percobaan dilakukan di Laboratorium Entomologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Februari 2015 sampai dengan Juli 2015. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan yaitu tanpa pemberian air sulingan (P0); air sulingan kulit buah kopi (P1), biji kopi (P2), daun kopi (P3), dan ranting kopi (P4) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 2%, 4% dan 6%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan air sulingan bagian tanaman kopi berpotensi sebagai atraktan terhadap hama PBKo. Rata-rata jumlah imago betina PBKo terbanyak yang tertarik yaitu pada air sulingan biji kopi pada konsentrasi 4% sebanyak 8,8 ekor betina. Masa aktif dari semua air sulingan yang berperan sebagai atraktan dalam menarik imago betina PBKo yaitu selama 3 hari. Kata kunci: Air sulingan, Aatraktan, Penggerek buah kopi
Intensitas Penyakit Blas (Pyricularia oryzae Cav.) pada Padi Varietas Ciherang di Lokasi Endemik dan Pengaruhnya terhadap Kehilangan Hasil Suganda, Tarkus; Yulia, Endah; Widiantini, Fitri; Hersanti, Hersanti
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTDisease intensity of blast disease (Pyricularia oryzae Cav.) of Ciherang rice variety at the endemic location and its effect on yield lossBlast is one of the most important diseases of rice worldwide. Many countries have developed data on the intensity and yield loss due to blast disease, whereas Indonesia has no such data resulted from trial specifically designed to estimate blast intensity at the endemic location and its potential yield loss. Such data are needed for various purposes, such as for disease management policy and research background. A trial has been carried out at Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, a location where blast was endemic for years, using var. Ciherang that is known as susceptible and widely grown by farmers. Eight concentrations of fungicide of single as well as mix active ingredients were used to see the effects in suppressing blast diseases compared with of control. Trial used a Randomized Block Design with 5 replicates. The parameters observed were the intensity of leaf blast, neck blast and yield. The results showed that the disease intensity of var. Ciherang at the endemic location was 55.60% of leaf blast and 37.75% of neck blast. The potency of yield loss calculated was 3.65 ton/ha or equal with 61% of the average yield of var. Ciherang as described in its variety description. This number justifies the important of control measures of rice blast diseases.Keywords: Blast disease intensity, var. Ciherang, Potency of yield lossABSTRAKPenyakit blas merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman padi di seluruh dunia. Berbagai negara sudah memiliki data tentang intensitas dan kehilangan hasil padi oleh penyakit blas, sementara di Indonesia belum ada hasil pengujian yang khusus dirancang untuk melihat tingkat intensitas penyakit blas di daerah endemik dan potensi kehilangan hasil yang diakibatkannya. Data sejenis ini penting untuk berbagai keperluan antara lain untuk kebijakan pengendalian dan dasar pentingnya penelitian. Suatu percobaan telah dilakukan di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi yang merupakan daerah endemik penyakit blas selama bertahun-tahun, menggunakan var Ciherang yang merupakan varietas rentan namun populer ditanam petani. Delapan bahan aktif fungisida berbahan aktif tunggal dan majemuk digunakan untuk melihat pengaruh penekanannya dibandingkan kontrol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah intensitas penyakit blas daun dan blas leher malai serta hasil padi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa intensitas penyakit blas pada tanaman padi var. Ciherang di daerah endemik adalah 55,60% untuk blas daun, dan 37,75% untuk blas leher malai. Potensi kehilangan hasil oleh gabungan penyakit blas pada var. Ciherang adalah 3,65 ton/ha atau setara dengan 61% kehilangan hasil jika dibandingkan terhadap rata-rata produksi var. Ciherang menurut spesifikasi varietas. Data ini menjustifikasi perlunya pengambilan tindakan pengendalian penyakit blas pada tanaman padi.Kata Kunci: Intensitas penyakit blas, var. Ciherang, Potensi kehilangan hasil
PerkecambahanPeronosclerospora spp. Asal Beberapa Daerah di Jawa Barat pada Fungisida Berbahan Aktif Metalaksil, Dimetomorf dan Fenamidon Widiantini, Fitri; Pitaloka, Dwisari Januarily; Nasahi, Ceppy; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTGermination of Peronosclerospora spp. isolated from several maize plantation areas in West Java on fungicides containing active ingredient of metalaxyl, dimetomorph and fenamidoneDowny mildew is a major disease in corn plants that affect the world corn production, include in Indonesia. The control of downy mildew that caused by pathogen Peronosclerospora spp. are relying on the use of synthetic fungicides. However, the emergence of the Peronosclerospora spp. resistant against fungicides rise awareness for the need of constant surveillance. The aim of this study was to know the effectiveness of three commonly used active ingredients fungicide (Metalaxyl, Dimetomorph, and Fenamidone) in controlling Peronosclerospora spp. from five regions in Wes Java (Sumedang District,Bandung District, Majalengka District, Garut District and West Bandung District). Experiment was conducted using conidia germination method. The results of this study demonstrated that fungicide with active ingredient of Dimethomorph was able to suppress the germination of conidia Peronosclerospora spp. with 0% of conidia germination in 4 districts (Sumedang, Bandung, Majalengka and Garut) and only 0.47% conidia germinated in isolate collected from West Bandung District. Meanwhile, fenamidon experienced a decrease in effectiveness at West Bandung District. In this study, it was also found that the number of conidia germinated on isolates treated with Metalaxyl did not show any significant difference compared to control. This suggested that Peronosclerospora spp. might resistant to Metalaxyl.Keywords: Downy mildew, Peronosclerospora spp., metalaxyl, dimetomorph, fenamidoneABSTRAKPenyakit bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang berpengaruh terhadap produksi jagung dunia, termasuk di Indonesia. Pengendalian penyakit bulai yang disebabkan oleh patogen Peronosclerospora spp. masih bertumpu pada penggunaan fungisida sintetik. Akan tetapi, terjadinya penurunan keefektifan fungisida terhadap Peronosclerospora spp. menyebbkan diperlukannya monitoring secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan tiga jenis bahan aktif fungisida yang umum digunakan (Metalaksil, Dimetomorf, dan Fenamidon) dalam mengendalikan penyakit bulai terhadap patogen Peronosclerospora spp.asal lima daerah di Jawa Barat (Kab. Sumedang, Kab. Bandung, Kab. Majalengka, Kab. Garut dan Kab. Bandung Barat). Pengujian keefektifan fungisida dilakukan dengan menggunakan metode perkecambahan konidia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fungsida dimetomorf terhadap isolat Peronosclerospora spp. asal semua daerah dapat menekan perkecambahan konidia dengan persentase perkecambahannya 0% pada 4 daerah dan 0,47% pada isolat asal daerah Kab. Bandung Barat. Sementara Fenamidon menujukkan indikasi penurunan keefektifan di daerah Bandung Barat. Pada penelitian ini, ditemukan pula adanya indikasi resistensi patogen Peronosclerospora spp. terhadap fungisida Metalaksil. Hal ini terlihat dari perkecambahan konidia yang diperlakukan dengan Metalaksil yang hasilnya tidak berbeda nyata dengan kontrol yang tidak diperlakukan dengan fungisida.Kata Kunci: Penyakit bulai jagung, Peronosclerospora spp., Metalaksil, Dimetomorf, Fenamidon
Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Jamur Rigidoporus lignosus (Klotzsch) Imazeki dan Penekanan Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet Yulia, Endah Yulia; Istifadah, Noor; Widiantini, Fitri; Utami, Hilda Sandra
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTAntagonisms of Trichoderma spp. against Rigidoporus lignosus (Klotzsch) Imazeki and Supression of White Root Disease on Rubber PlantWhite root disease caused by the infection of fungal pathogen Rigidoporus lignosus is an important disease on rubber plants. The pathogen infects the rubber roots but then might cause leaf drop or even kill the plants. Common control method used in controlling the disease is the application of synthetic fungicides besides increasing application of biological control agents (BCA) as an alternative control method. Trichoderma spp. is frequently used as BCA to control diseases in many plants. The aims of this study were to test the antagonism of Trichoderma spp. against R. lignosus and to assess the effectiveness of Trichoderma spp. corn starter in white root disease suppression on rubber seedlings. Trichoderma spp. The antagonism test was conducted using dual culture method in in vitro test. A randomized block design (RBD) experimental design was used in the glass house trial consisted of five treatments and five replications. Application of the Trichoderma spp. corn starter was combined with the application of compost in the treatments of 25 g BCA + 100 g of compost, 50 g BCA + 200 g of compost, 75 g BCA + 300 g of compost, 100 g of BCA + 400 g of compost, and a control treatment without BCA. The BCA Trichoderma spp. was applied in the same time with the inoculation of 20 g of corn mass culture of R. lignosus. The result of antagonism test showed that Trichoderma spp. isolate was effectively suppressed micelial growth of R. lignosus with the supperession percentage reached 90.82%. Meanwhile, the Trichoderma spp. BCA in corn starter was also suppressed the disease development on rubber seedlings with the highest disease suppression of 100% at the dose of 100 g BCA/seedling.Keywords: Trichoderma spp., biocontrol agents, white root disease, rubberABSTRAKPenyakit jamur akar putih (JAP) merupakan penyakit penting pada tanaman karet. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi patogen Rigidoporus lignosus pada akar tanaman karet yang dapat mengakibatkan daun gugur atau bahkan matinya tanaman. Pengendalian yang umum dilakukan adalah pengendalian kimia dengan menggunakan pestisida sintetik tetapi penggunaan agens biokontrol (ABK) juga telah mulai banyak dilakukan. Penggunaan Trichoderma spp. sebagai ABK telah banyak dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada beberapa tanaman dengan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji antagonisme Trichoderma spp. terhadap jamur R. lignosus dan penekanan penyakit JAP pada bibit tanaman karet yang diberi perlakuan starter jagung pecah Trichoderma spp. Pengujian antagonisme dilakukan secara in vitro melalui metode dual culture. Percobaan rumah kaca dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan dan lima ulangan. Aplikasi starter Trichoderma spp. dilakukan dengan tambahan kompos pada perlakuan 25 g ABK + 100 g kompos, 50 g ABK + 200 g kompos, 75 g ABK + 300 g kompos, 100 g ABK + 400 g kompos, dan perlakuan kontrol atau tanpa aplikasi ABK Trichoderma spp. Aplikasi ABK dilakukan bersamaan dengan inokulasi biakan massal jagung pecah jamur R. lignosus sebanyak 20 g/bibit. Hasil uji antagonisme menunjukkan isolatTrichoderma spp. efektif menekan pertumbuhan R. lignosus dengan penekanan mencapai 90,82%. Demikian juga dengan aplikasi starter jagung pecah Trichoderma spp. menunjukkan penekanan penyakit JAP pada bibit tanaman karet dengan penekanan penyakit mencapai 100% pada dosis 100 g ABK/bibit tanaman karet.Kata Kunci: Trichoderma spp., agens biokontrol, jamur akar putih, karet