Articles

Found 26 Documents
Search

Sikap Masyarakat Terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut

Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.028 KB)

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya angka kekambuhan sebanyak 12% yang terjadi pada orang dengan gangguan jiwa selama 3 bulan terakhir di desa kersamanah yang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu faktor dari masyarakat. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung dapat meningkatkan frekuensi kekambuhan orang dengan gangguan jiwa. Faktor dari masyarakat itu sendiri belum banyak diteliti dan belum ada yang meneliti di Kecamatan Kersamanah itu sendiri.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal disekitar orang dengan gangguan jiwa. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 93 responden. Sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa diukur menggunakan kuesioner Community Attitude Towards Mental ill (CAMI). Data yang didapatkan dianalisis menggunakan mean, median dan standar deviasi.  Hasil penelitian menunjukan bahwa sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa pada aspek authoritarianism dan benevolence nilai skornya sama yaitu 30  4, berdasarkan aspek social restrictiveness dengan nilai  27  3 dan berdasarkan aspek community mental health ideology dengan nilai 32  4. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa  sikap yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah community mental health ideology yang artinya bahwa masyarakat menerima pelayanan kesehatan mental dan orang dengan gangguan jiwa di masyarakat akan tetapi tidak dilingkungan mereka dan Hal ini perlu ditindak lanjuti pada setiap aspek-aspek yang ada. Saran untuk penelitian ini yaitu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang orang dengan gangguan jiwa yang berada dilingkungan masyarakat.Kata Kunci: Gangguan Jiwa, ODGJ, Sikap Masyarakat                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             ABSTRACT There is an increase in relapse case with the rate of 12% on people with mental illness during the last 3 months in Kersamanah village influenced by several factors and one of the factors is community. An unsupported community environment can increase the relapse frequency of people with mental illness. In Kersamanah, community factor has not been studied and there are still none who studies it. The purpose of this research is to find out the community's attitude towards people with mental illness in Kersamanah Village, Garut. The method used on this research is quantitative descriptive. The population is community who live around people with mental illness. The sample is taken by purposive sampling technique and it is obtained 93 respondents. Community’s attitude towards people with mental illness is measured by Community Attitude towards Mental ill (CAMI) questionnaire. The data obtained, analyzed by using mean, median, and deviation standard. The result of the research showed that the score of society attitude towards people with mental illness based on authoritarianism and benevolence aspects are the same; 30  4, based on social restrictiveness aspect; 27  3 and based on community mental health ideology aspect; 32  4. Based on the result of the research, it was found out that the most common attitude used by the society was community mental health ideology, which means that the society accepts both mental health treatment and people with mental illness but not on their environment. This issue should be followed up on other existed aspects. Suggestions for this study are by educating the public about people mental illness who are in the community.Keywords: Community attitude, Mental illness, ODGJ.

Pembentukan Konselor Teman Sebaya dalam upaya preventif perilaku kekerasan pada remaja di SMP negeri 1 Pangandaran

Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.548 KB)

Abstract

Remaja adalah kelompok beresiko mengalami masalah kesehatan, sesuai tahap perkembangannya, remaja berada pada masa transisi, pencarian identitas diri. Perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah remaja yang menjadi fenomena akhir-akhir ini, seperti halnya tawuran, pendurungan (bullying) yang apabila tidak tertangani dengan akan membahayakan masa depan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini adalah membentuk konselor teman sebaya yang diharapkan nantinya mempunyai peran bagi teman sebayanya dalam membantu memberikan alternatif pemecahan masalah remaja khususnya dilingkugan sekolah dan sekitarnya pada umumnya. Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan bagaimana mempersiapkan siswa untuk menjadi konselor sebaya bagi teman-teman sebayanya. Luaran yang dihasilkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa dalam permasalahan remaja serta terbentuknya konselor teman sebaya. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 siswa perwakilan dari setiap kelasnya. Hasil kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam memahami materi dan terbentuknya 11 konselor sebaya. Melalui program pembentukan konselor sebaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan remaja yang terjadi di lingkugan sekolah ataupun sekitarnya.  

GAMBARAN RESPON BERDUKA PADA ANAK REMAJA DENGAN ORANGTUA BERCERAI DI SMP NEGERI 1 JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG

Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa
Publisher : Jurnal Keperawatan Jiwa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak remaja yang mengalami perceraian orangtua merasakan kehilangan dan perasaan berduka yang sangat mendalam, sama berdukanya ketika kehilangan orangtua karena meninggal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon berduka pada anak remaja yang mengalami perceraian orangtua di SMP Negeri 1 Jatinangor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan induktif. Teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam dan tidak terstruktur. Informan yang berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah enam orang. Teknik analisa yang digunakan adalah dengan menggunakan konten analisa data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya mengalami perceraian merasa marah, takut, dan sedih, berfikir kasih sayang yang diberikan oleh orangtuanya tidak sama lagi seperti ketika masih bersama, menaruh harapan agar kedua orangtuanya bisa kembali bersama dan ketikateringat pada saat proses perceraian berlangsung anak sering menangis, sering melamun, mudah tersinggung, malu berinteraksi dengan teman sebaya, dan dengan orangtua yang bercerai anak menyatakan jarang berkomunikasi lagi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah respon berduka pada anakdengan orangtua yang bercerai mengalami respon kognitif, afektif, sosial dan perilaku. Rekomendasi penelitain ini adalah perawat komunitas hendaknya bekerjasama dengan bimbingan konseling dari sekolah dalam upaya memberikan konseling pada anak yang berduka karena perceraian orangtuanya sehingga anak dapat tetap menyelesaikan tugas perkembangannya dan berprestasi disekolah serta mencegah terjadinya masalah psikososial pada remaja

Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi setelah Terapi Aktivitas Kelompok

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.78 KB)

Abstract

Halusinasi merupakan gejala positif yang paling sering dialami oleh pasien dengan gangguan jiwa. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi merupakan bagian dari terapi modalitas yang diberikan pada pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi dengan tujuan tercapainya kemandirian pasien. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu melihat gambaran tingkat kemandirian pasien dalam mengontrol halusinasi setelah mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi. Sebanyak 42 orang menjadi responsden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi, yang dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh numerator. Analisis data dengan persentase dan dideskripsikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kemandirian pasien dalam mengontrol halusinasi setelah mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah supportive28,6%, partially 61,9%, dan wholly9,5%. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar tingkat kemandirian pasien adalah partiallysehingga perlu dikembangkan strategi-strategi dalam upaya peningkatan kinerja perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatan sehingga dapat menumbuhkan kemandirian pasien.Kata kunci: Halusinasi, tingkat kemandirian, terapi aktivitas kelompok, stimulasi persepsi AbstractHallucinations are positive symptoms most commontly experienced bypatients with psychiatric disorders. Perceptual stimulation therapy group activities are part of the therapeutic modalities that are given to patients with schizophrenia who experienced hallucinations in order to achieve independence of patient. This is a descriptive study which saw the picture of the level of independence of the patients in the control hallucinations after following stimulation group activity. The sampling technique used was consecutive sampling, in which 42 people were interviewed. The process of data collection using the method of observation, which in practice researchers assisted by the numerator. Analysis of the data with the percentage and frequency distribution are described in the table. The result showed that the level of independence of patient hallucinations in controlling halluciantions after following stimulation group activity therapy activity perception is supportive 28.6%, partially 61,9%, and wholly 9,5%. Based on the findings that majority of patients a level of independence that is partially, developed strategies necessary in an effort to increase the performance of nurses in the implementation of nursing actions that can foster patient independence.Key words:Level of independence, hallucination, therapeutic group activity stimulation perception

Gambaran Respon Anak Usia Prasekolah dalam Menjalani Proses Transfusi

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.338 KB)

Abstract

Tindakan transfusi darah yang dilakukan pada anak usia prasekolah yang mengalami talasemia membuat anak merasa terancam. Hal ini ditunjukkan oleh anak dengan berbagai respon (kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial) anak prasekolah dalam menjalani proses transfusi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial pada anak usia prasekolah dalam menjalani proses transfusi di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sample sebanyak 50 orang selama periode 3–13 Juni 2014 diambil dengan teknik insidental sampling. Hasil penelitianini dianalisis dengan menggunakan rumus distribusi frekuensiPenelitian yang sudah dilakukan, didapatkan hasil respon yang paling banyak ditunjukkan oleh anak prasekolah ketika proses transfusi berlangsung adalah hampir seluruhnya menunjukkan respon sosial (84%) dengan jenis respon terbanyak ialah meminta dukungan emosional pada orang yang bermakna, hampir seluruhnya menunjukkan respon afektif (74%) dengan jenis respon terbanyak adalah mengeluarkan ekspresi verbal, sebagian besar menunjukkan respon perilaku (66%) dengan jenis respon terbanyak adalah memukul-mukulkan lengan dan kaki dan juga respon kognitif (72%) dengan jenis respon terbanyak gelisah, dan hampir setengahnya dari responden menunjukkan respon fisiologis (34%) dengan jenis respon terbanyak bernapas cepat. Simpulan penelitian ini adalah bahwa presentase respon terbesar yang dikeluarkan oleh anak usia prasekolah berupa respon sosial dengan jenis meminta dukungan emosional pada orang bermakna. Saran bagi instansi pendidikan dan rumah sakit untuk bisa berkontribusi mengembangkan asuhan keperawatan pada orang yang paling dekat pada anak sebelum tindakan invasif.Kata kunci: Respon anak usia prasekolah, talasemia, tindakan invasif. Description of Responses of Pre-school Children who are Undergoing Blood TransfusionAbstractPre-school children with thalassemia who undergo the routine blood transfusion may show negative responses. The purpose of this study was to determine the description of responses of preschool-aged children who were undergoing blood transfusions in Thalassemia Clinic of RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. This study used descriptive quantitative (descriptive research) with a sample of 50 children during the period of 3rd -13th June 2014. The samples were recruited using the incidental sampling technique. The results showed that almost all respondents demonstrated social responses (84%) with the most type of this response is asking for emotional support from meaningful people, almost all respondents showed affective responses (74%) with the most type of this response is in form of verbal expression, the majority of respondents indicated behavioral responses (66%) with the most type of this response is banging their arms and legs, and also cognitive responses (72%) with most types of this response is anxiety. Nearly half of the respondents showed a physiological response (34%) with rapid breathing types as the highest response. The conclusion of this study is that the largest percentage of the response demonstrated by pre-school children is the social response, in form of asking for emotional support from meaningful people. It was recommended that educational institutions and hospitals contribute to development of the nursing care in the field of children through training, particularly on the approach to the children before invasive treatment.Key words: Invasive treatment, preschool responses, thalassemia.

Psychological Well-being Description on Schizoprenia Patients Family Caregiver in Grha Atmas Outpatients Centre Care Bandung

NurseLine Journal Vol 3 No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Faculty of Nursing, University of Jember

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Generally, people with schizophrenia are unable to perform individual daily care, they need the assistance of other people to meet their daily needs. Family caregivers who provide sustainable care can feel the stress and depression which were gained during providing sustainable care on schizophrenia patient that can affect their psychological well-being. The purpose of this study was to identify psychological well-being of family caregiver on schizophrenia patients. The result showed that the level of family caregiver’s psychological well-being was in the medium category with percentage as much as 84.9% of respondents. Dimensions that include in moderate category were mostly found in dimension of environmental mastery (87.2%), then followed by dimensions of positive relationship with others (86%), autonomy dimension (84.9%), personal growth and self-acceptance dimension (83.7%) and purpose in life dimension (82.6%). The level of psychological well-being of family caregiver with schizophrenia patients who are undergoing treatment in Outpatient Installation at Grha Atma, Bandung was in moderate category.  It is recommended for psychiatric and mental health community nurses to improve the spirituality of family caregiver and provide psychoeducation to family caregiver.

The effectiveness of psycho education towards depression, anxiety and stress level of patients with pulmonary tuberculosis

Jurnal NERS Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Ners
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonery Tuberculosis is a chronic pulmonary disease that affects physicallly and psychosocially for the patients . Until now, the government’s programs in overcoming this disesase still focus on treatment and prevention of infection. The programs has not yet to lead to a psychosocial problem of the patients whereas the psychosocial impact has a big influence on treatment compliance and prognosis of patients with Pulmonery Tuberculosis. This study was quassy experiment to test the effect of psychoeducation on the level of stress, anxiety and depression of Patients with pulmonary tuberculosis. 74 patients with Pulmonery Tuberculosis involved in this study divided into two group (37 involved in intervention and 37 involved as control group). The result of the study showed that psychoeducation was effective in reducing stress, anxiety and depression of the patients with Pulmonery Tuberculosis. Psycho education should be provided for patients with pulmonary tuberculosis at the Community health Center.  Keywords:   intervention, psychoeducation, pulmonary tuberculosis,     

The effectiveness of psycho education towards depression, anxiety and stress level of patients with pulmonary tuberculosis

Jurnal NERS Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Ners
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonery Tuberculosis is a chronic pulmonary disease that affects physicallly and psychosocially for the patients . Until now, the government’s programs in overcoming this disesase still focus on treatment and prevention of infection. The programs has not yet to lead to a psychosocial problem of the patients whereas the psychosocial impact has a big influence on treatment compliance and prognosis of patients with Pulmonery Tuberculosis. This study was quassy experiment to test the effect of psychoeducation on the level of stress, anxiety and depression of Patients with pulmonary tuberculosis. 74 patients with Pulmonery Tuberculosis involved in this study divided into two group (37 involved in intervention and 37 involved as control group). The result of the study showed that psychoeducation was effective in reducing stress, anxiety and depression of the patients with Pulmonery Tuberculosis. Psycho education should be provided for patients with pulmonary tuberculosis at the Community health Center.  Keywords:   intervention, psychoeducation, pulmonary tuberculosis,     

Tingkat Kecemasan Orangtua dengan Anak yang akan Dioperasi

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.164 KB)

Abstract

Orangtua dengan anak yang akan dioperasi sering mengalami kecemasan karena sebagian besar orangtua masih berpikir bahwa operasi adalah prosedur invasif yang berisiko tinggi terhadap anak. Kecemasan ini dapat memengaruhi perawatan praoperasi pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan state(sesaat) dan kecemasan trait (bawaan) pada orangtua dengan anak yang akan dioperasi di ruang bedah anak Kemuning lantai 2 RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan sampel 31 responden, menggunakan teknik purposive sampling.Penelitian ini menggunakan kuesioner STAI for adults form Y dan dianalisis dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian gambaran tingkat kecemasan statemenunjukkan bahwa hampir setengah responden (48,38%) mengalami kecemasan berat. Untuk gambaran tingkat kecemasan traitmenunjukkan bahwa sebagian besar (51,61%) responden mengalami kecemasan ringan. Disarankan bagi perawat untuk meningkatkan asuhan keperawatan pada orangtua pasien dengan mengembangkan intervensi kecemasan sebelum operasi seperti melakukan pengkajian dan memberikan dukungan psikologis terhadap orangtua serta pemberian informasi mengenai prosedur operasi yang lebih jelas sehingga dapat mengurangi state anxietypada orangtua.Kata kunci:Operasi, orangtua, state anxiety, tingkat kecemasan, trait anxiety AbstractParents with children who will undergoing surgical procedures frequently experienced anxiety because most parents still thought that surgery is invasive procedures, high risk to children, and anxiety could affect preoperative treatment of children. The purpose of this study was to describe the state and trait’s anxiety levels of parents with children who will undergoing surgical procedures in the pediatric surgery ward, kemuning 2nd floor RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. This study used a descriptive quantitative research methods, with 31 respondents were taken using purposive sampling. This study used STAI for Adults Form Y questionnaire and the data were analyzed by frequency distribution. The research about state anxiety’s level showed that nearly half of the respondents (48.38%) experienced severe anxiety. For trait anxiety’s level showed that the majority (51.61%) of respondents experienced mild anxiety. So it’s suggested the nurses to improve nursing care to parents with develop pre operative anxiety interventions such as conduct psychological assessments, and provide support to parents as well as providing information on surgery procedures more clearly so could reduce parent’s state anxiety.Key words:Surgery, parents, state anxiety, anxiety’s level, trait anxiety

Psikoedukasi Menurunkan Tingkat Depresi, Stres dan Kecemasan pada Pasien Tuberkulosis Paru

Jurnal Ners Vol 11, No 1 (2016): Vol 11 No 1 April 2016
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonery Tuberculosis is a chronic pulmonary disease that affects physicallly and psychosocially for the patients . Until now, the government’s programs in overcoming this disesase still focus on treatment and prevention of infection. The programs has not yet to lead to a psychosocial problem of the patients whereas the psychosocial impact has a big influence on treatment compliance and prognosis of patients with Pulmonery Tuberculosis. This study was quassy experiment to test the effect of psychoeducation on the level of stress, anxiety and depression of Patients with pulmonary tuberculosis. 74 patients with Pulmonery Tuberculosis involved in this study divided into two group (37 involved in intervention and 37 involved as control group). The result of the study showed that psychoeducation was effective in reducing stress, anxiety and depression of the patients with Pulmonery Tuberculosis. Psycho education should be provided for patients with pulmonary tuberculosis at the Community health Center.