p-Index From 2014 - 2019
20.565
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
M Bayu Widagdo
Unknown Affiliation

Published : 182 Documents
Articles

STRUKTUR NARASI PADA TAYANGAN STAND UP COMEDY Pamungkas, Yoga M; Nugroho, Adi; Lukmantoro, Triyono; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.425 KB)

Abstract

Stand  Up Comedy, merupakan sebuah wadah bagi beberapa masyarakat untuk menyalurkan pendapat, pikiran, dan kritik terhadap keadaan sekitar yang pada mulanya dianggap tabu kemudian layak untuk diperbincangkan seperti pemerintahan yang buruk, isu sosial, politik, Tuhan, dan SARA (Suku, Agam, Ras, dan Antargolongan). Seseorang yang seringkali melakukan aksi Stand Up Comedy atau disebut dengan comic memegang perang penting dalam memberikan sebuah suguhan yang menarik kepada penonton. Materi Stand Up Comedy yang dibuat oleh comic berangkat dari observasi yang dilakukan untuk kemudian dituangkan ke dalam sebuah materi dengan memiliki struktur yang tersusun sedemikian rupa serta untuk menghasilkan tawa dari penonton. Struktur narasi pada materi Stand Up Comedy pada akhirnya memegang peranan penting bagaimana comic dapat menyampaikan pendapat, pikiran, dan kritiknya tanpa menyakiti hati penonton bahkan bersama-sama menertawakan hal-hal yang seringkali dianggap tabu bahkan sensitif untuk diperbincangkan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur narasi pada tayangan Stand Up Comedy oleh Pandji Pragiwaksono dan Sam D Putra yang ditayangkan oleh Metro TV dan Kompas TV. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalm kajian budaya dan media terkati struktur narasi untuk memahami materi Stand Up Comedy yang dibuat oleh comic. Selain itu, juga menggunakan paradigma naratif, istilah atau pakem yang menjadi acuan dalam dunia Stand Up Comedy yaitu set up dan punchline, serta menggunakan teori humor.Hasil penelitian menunjukkan baik Pandji Pragiwaksono maupun Sam D Putra sama-sama memberikan kritik kepada pemerintahan serta tingkah laku masyarakatnya. Pandji memiliki kemampuan berinteraksi dengan penonton serta menirukan gerakan-gerakan unik dalam menunjang penampilan Stand Up Comedy miliknya. Sedangkan Sammy memiliki kemampuan untuk mengajak penonton sejenak berpikir dari materi yang disampaikan olehnya untuk kemudian menertawakan hal yang sebenarnya sangat-sangat sensitif bahkan tabu untuk diperbincangkan dan sangat berani dalam membeberkan fakta-fakta bahkan berani untuk menyindir dengan menyebutkan nama baik secara langsung maupun tidak langsung. Keduanya memiliki gaya penyampaian yang berbeda untuk menarik perhatian dan tawa namun tetap memberikan pengetahuan dan pendidikan kepada penonontonnya. Kata Kunci: Struktur Narasi, Humor, Paradigma Naratif, Pandji Pragiwaksono, Sam D Putra
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN DRAMA SERI KOREA DI TELEVISI TERHADAP MODEL RAMBUT DI KALANGAN REMAJA Dwi Ananda, Ghita Kriska; Widagdo, M Bayu; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.601 KB)

Abstract

Demam Korea (Korean wave) saat ini telah memasuki negeri Indonesia. Hal itu diakibatkan penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia terutama dari Drama Korea yang muncul di tahun 2002. Para remaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populer agar tampil modis, salah satunya adalah model rambut Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yang ditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya Perilaku bergaya rambut Korea pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibat dari faktor intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi terhadap model rambut di kalangan remaja. Peneliti menggunakan Teori Powerfull Effect. Responden pada penelitian ini berasal dari kalangan remaja di Kota Semarang yang berumur 16 hingga 22 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimana pengambilan sampel dilakukan dengan metode non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel. Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi tidak diikuti dengan model rambut yang modis pada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton tinggi, sedang dan rendah tidak terpengaruh untuk mengikuti model rambut seperti apa yang ditampilkan dalam tayangan tersebut.  Kata kunci: Drama Seri Korea, Model Rambut, Semarang
Representasi Perempuan dalam Budaya Patriarki (Studi Semiotika pada Film Sang Penari) Avianti, Jenny Putri; Santosa, Hedi Pudjo; Rahardjo, Turnomo; Widagdo, M Bayu; Dwiningtyas, Hapsari
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.024 KB)

Abstract

Film merupakan media massa yang paling efektif untuk menyebarkan ideologi-ideologi baru pada masyarakat. Sekarang ini, sebuah film dapat berpengaruh terhadap perilaku sosial dalam masyarakat, tentunya sesuai dengan pesan apa yang di dapat dari sebuah film yang mereka nikmati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika untuk menganalisa obyek audio-visual yang diteliti. Teknik analisa data menggunakan teori John Fiske “the codes of television”. Film Sang Penari diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi. Sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisa secara paradigmatik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perempuan di representasikan dalam film Sang Penari. Film ini menggambarkan budaya patriarki yang sangat lekat dengan budaya Jawa. Ketimpangan gender dan penindasan terhadap perempuan penari ronggeng memunculkan wacana yang berkembang di masyarakat bahwa ronggeng identik dengan kekerasan dan praktik pelacuran terselubung. Penggunaan istilah “tradisi” menjadikan penari ronggeng sebagai wanita terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Akan tetapi, status terhormat tersebut hanya untuk melegalkan proses pelacuran terselubung pada penari ronggeng. Hasil dari penelitian ini yakni perempuan pekerja seni terutama penari ronggeng dalam film Sang Penari hanya dianggap sebagai penghibur laki-laki bukan perempuan yang memiliki bakat bernyanyi dan menari. Film ini juga menunjukkan kemandirian dan kemampuan perempuan penari ronggeng sebagai seorang penghibur atau seniman. Kata kunci : Film, Perempuan, Patriarki
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP SOSOK HAJI DALAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES Mahardika, Nurhanatiyas; Widagdo, M Bayu; Gono, Joyo NS; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.912 KB)

Abstract

Sinetron masih menjadi tayangan televisi paling laris di Indonesia. Hampirseluruh stasiun televisi swasta dan negeri menayangkan sinetron dengan berbagaitema, dan yang sedang marak saat ini adalah sinetron religi dengan menampilkansosok haji. Salah satu sinetron yang menampilkan sosok haji adalah TukangBubur Naik Haji The Seriesdengan Haji Muhidin sebagai pemeran utama. SosokHaji Muhidin merupakan contoh penggunaan identitas keagamaan dalam konteksyang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Haji diidentikkan dengan seseorang yangpaling kaya dan sebutan haji menjadi sebuah gengsi tersendiri.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadapkonstruksi media atas sosok haji dalam tayangan Tukang Bubur Naik Haji TheSeries. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif denganpendekatan analisis resepsi. Teori dasar yang digunakan adalah teori encoding-decodingyang dikemukakan oleh Stuart Hall tentang bagaimana khalayakmemproduksi sebuah pesan dari suatu teks media. Proses tersebut akanmenghasilkan makna yang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kapasitassetiap penonton. Data diperoleh dari in-depth interviewterhadap empat informandengan latar belakang berbeda.Hasil penelitian menunjukkan Haji Muhidin dalam sinetron Tukang Bubur NaikHaji The Seriesmerupakan haji yang mempunyai sikap yang cenderungnegatifdibandingkan sifat positif, seperti sombong yang selalu diperlihatkan denganmembanggakan status haji dua kali, iri, dengki, danterlalu mengejar duniawi.Selain itu, sinetron ini hanya menjadi sinetron yang mengedepankan sisi hiburandibandingkan nilai edukasi. Dalam proses konsumsi dan produksi makna terhadapsosok Haji Muhidin, perbedaan latar belakang agama,sosial budaya, danpengalaman empat informan menjadi faktor penting yang membedakanpemaknaan mereka.Kata Kunci : Identitas Keagamaan, Tukang Bubur NaikHaji The Series
WISATA KELUARGA DALAM PROGRAM ACARA JATENG EXOTIC DI CAKRA SEMARANG TV Aji, Adityo Cahyo; Pradekso, Tandiyo; Widagdo, M Bayu; Winata, I Nyoman; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.282 KB)

Abstract

Media massa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam era teknologi seperti saat ini. Salah satu fungsi pers atau media massa adalah sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Dalam hal ini media massa televisi menjadi media untuk menyampaikan pesan berupa informasi yang dikemas berbentuk berita feature wisata keluarga. Disinilah peran komunikasi berlangsung, yaitu sebagai penyampai pesan yang ingin disampaikan dari komunikator kepada komunikan. Pada karya bidang ini membuat sebuah program feature dengan format audio-visual pada televisi dengan tema Wisata Keluarga di Semarang dan Sekitarnya. Karya ini disuguhkan dengan konsep tayangan yang menarik dan kreatif. Konsep tayangan berita feature ini berbeda dengan konsep tayangan yang saat ini banyak digunakan oleh media televisi lain, yakni dengan mengajak satu buah keluarga untuk berwisata ke beberapa tempat dalam satu hari penuh dengan tanpa harus menginap dan memakan banyak waktu. Tempat wisata yang diangkat disini antar lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang. Tema tersebut dikerjakan melalui 3 tahap, yaitu tahap pra produksi, tahap produksi, dan tahap paska produksi. Setelah melalui 3 tahap tersebut, terciptalah sebuah karya program fature yang siap untuk di publikasikan melalui media televisi. Merupakan suatu kesempatan, karena saya mendapatkan ijin tayang pada media televisi lokal Cakra Semarang TV. Karya ini dapat di tampilkan pada suatu spot program acara mengenai pariwisata bernama Jateng Exotic. Setelah melalui berbagai proses kerja, karya ini bertujuan untuk memperkenalkan, memberitakan, menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya. Berupa tempat wisata bersejarah, tempat rekreasi, dan wista kuliner. Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang inovatif, unik, dan menarik. Karya Bidang ini tayang pada hari Minggu, 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014 pukul 14.30 WIB di Cakra Semarang TV.  Kata kunci: feature, jateng exotic, wisata, jurnalistik, program televisi
Representasi Rasisme Kaum Kulit Putih Terhadap Kulit Hitam dalam film 42 “Forthy Two” Priyono, Bebby Rihza; Widagdo, M Bayu; Suprihatini, Taufik; Sunarto, Dr.
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.67 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan serta sekaligus menyebarkan ideologi kepada khalayak. Film banyak merepresentasikan kejadian-kejadian yang ada di dunia nyata dengan menyelipkan ideologi-ideologi dari para pembuat film. Di dalam film menyajikan sebuah tampilan visual yang berisi kode-kode serta mitos yang berasal dari kebudayaan. Film 42 “forthy two” merupakan film yang menggambarkan kebudayaan masyarakat Amerika yang lekat dengan hal rasisme kaum kulit putih Amerika dengan kaum Afro-Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana gambaran orang kulit hitam mendapat perlakuan dari orang-orang kulit putih yang direpresentasikan melalui tanda-tanda visual dan verbal. Penelitian ini juga ingin menunjukkan mitos yang ada di dalam film 42 “forthy two”. Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian milik Roland Barthes mengenai analisis semiotika.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa rasisme kaum kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika ditunjukkan dengan berbagai macam cara baik secara verbal seperti menghina dan meremehkan, maupun secara nonverbal seperti melempar kepala orang kulit hitam dengan bola. Tanda-tanda komunikasi tersebut diungkap melalui pergerakan kamera, dialog, serta kode-kode ideologi di dalam film 42 “forthy two” baik secara verbal maupun secara visual. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori Standpoint dan metode penelitian dari Rolland Barthes yang mana menggunakan lima pengkodean untuk mengatahui ideologi apa yang terdapat di dalam film. Penelitian ini juga menunjukkan hasil bahwa rasisme dari dulu sampai sekarang masih tetap ada dan hal tersebut dikarenakan oleh sejarah yang mendasarinya yaitu kapitalisme. Tetapi tidak semua orang dapat terpengaruh dengan adanya rasisme. Ada orang yang memilih untuk mundur dan lari untuk menghindari masalah, tetapi juga ada orang yang tetap pada pendiriannya dan tetap bertahan ditengah-tengah situasi rasisme yang menghimpitnya. Dalam penelitian ini, menunjukkan hasil dengan memperlihatkan pada bagaimana seseorang bertahan ditengah situasi rasisme dan pada akhirnya tetaplah berujung dengan kapitalisme. Kaum dominan menggunakan istilah “memperjuangkan hak asasi manusia” sebagai bentuk mendapat keuntungan lebih dari dunia luar dengan memanfaatkan rasisme yang terjadi terhadap kaum marjinal. Kata kunci : Semiotika, Barthes, Film, Rasisme 
Wisata Keluarga dalam Program Acara Jateng Exotic di Cakra Semarang TV Pamungkas, Bareta Hendy; Pradekso, Tandiyo; Widagdo, M Bayu; Setyabudi, Djoko; Winata, I Nyoman
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.914 KB)

Abstract

Program berita feature dianggap paling tepat dalam menggambarkan potensi wisata karena memiliki pengertian sama dengan softnews, demikian juga dengan cara membuatnya. Namun karena program berita feature bukan merupakan informasi yang harus cepat disajikan agar tidak basi informasinya, maka proses produksi program berita feature sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan dapat disiarkan kapan saja, sehingga memproduksinya dapat disesuaikan dengan kesiapan tim produksi dan kebutuhan slot program.Produksi program berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan tiga posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, sutradara, dan juru kamera. Program ini dibuat empat episode dengan tiga segmen tiap tayangnya. Konsep yang diambil adalah wisata keluarga satu hari penuh tanpa menghabiskan banyak waktu, dimana tempat-tempat yang diangkat antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang.Pengerjaan tayangan melalui tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi di mana media Cakra Semarang TV sebagai sarana publikasi dengan cara mengisi slot program pariwisata yang telah ada yaitu Jateng Exotic. Tayang setiap hari Minggu pada tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014, diharapkan karya ini dapat memperkenalkan, memberitakan, dan menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya.Kata kunci: wisata keluarga, jateng exotic, feature, jurnalistik
WISATA KELUARGA DALAM PROGRAM ACARA JATENG EXOTIC DI CAKRA SEMARANG TV Haryadi, Sigit; Setyabudi, Djoko; Winata, I Nyoman; Widagdo, M Bayu; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.109 KB)

Abstract

Dalam dunia jurnalistik, media menjadi kunci utama dalam penyebaran informasi secara cepat dan akurat. Seiring dengan perkembangan teknologi, media televisi memegang kendali dengan kemampuan yang besar dalam mempengaruhi masyarakat melalui informasi satu arah dan bersifat audio-visual. Berbagai jenis penyampaian infomasi pun timbul sesuai dengan segmentasi dan kebutuhannya, dan dalam hal ini informasi di televisi dikemas dalam bentuk feature dengan konsep acara wisata keluarga. Feature dengan konsep acara wisata sudah sering ditampilkan oleh berbagai media televisi di Indonesia, namun kurangnya inovasi menjadi dasar pembuatan karya bidang ini. Konsep wisata keluarga merupakan gagasan baru yang diproduksi untuk memberikan variasi konsep linier yang selama ini ada. Feature wisata yang tayang selama 30 menit di program Jateng Exotic ini memiliki alur cerita tentang seorang presenter yang menjemput serta mengajak sebuah keluarga guna memanfaatkan waktu luang untuk berlibur ke beberapa tempat sekaligus dalam satu hari penuh. Dalam feature wisata keluarga ini, waktu serta keluarga menjadi hal yang paling utama dalam menentukan berbagai objek yang akan dikunjungi. Pendekatan waktu dipilih karena kecenderungan kurangnya waktu untuk berlibur bersama keluarga pada akhir pekan maupun liburan dengan kondisi orang tua yang bekerja, serta anak-anak yang sekolah. Pemilihan lokasi dilakukan melalui riset dengan berdasar waktu tempuh, serta konten yang ditawarkan oleh objek wisata (edukasi, alam, sejarah, budaya, dan kuliner). Tempat wisata yang diangkat di program antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea-Pantai Cahaya, Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Water Blaster, Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Toko Oen, Wisata Kota Lama dengan vespa ndog, dan Pasar Semawis Semarang. Di produksi sebanyak 4 episode, dan memiliki tiga segmen dengan konten yang berbeda, Feature wisata ini bertujuan untuk memberikan referensi bagi keluarga yang akan memanfaatkan waktu yang singkat untuk dapat berwisata bersama ke beberapa objek wisata di Kota Semarang dan sekitarnya dalam satu hari penuh. Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang inovatif, unik, dan menarik. Karya Bidang ini telah ditayang pada hari Minggu, tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014 pukul 14.30 wib di Cakra Semarang TV. Kata kunci: wisata, feature, jurnalistik, program televisi, jateng exotic
PEJUAG HAK AAK DALAM PROGRAM TOKOH DI CAKRA SEMARAG TV Islamey, Ghela Rakhma; Pradekso, Tandiyo; Santosa, Hedi Pudjo; Widagdo, M Bayu; Winata, I Nyoman
Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.434 KB)

Abstract

Program acara televisi dalam bentuk news features dipilih untuk menceritakan kisah pengajar anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan. Bentuk news features pengemasan informasinya ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat sehingga seberat apapun materi yang diangkat pemirsa dapat menikmatinya dengan rileks.             News features pada karya bidang ini masuk dalam program Tokoh di Cakra Semarang TV dengan dua episode yakni “Pengajar Manusia Murni” dan “Merajut Asa Anak Jalanan”.  Posisi pekerjaan dibagi berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, reporter, juru kamera, dan editor.            Konsep tayangan dalam news features ini, menyesuaikan program Tokoh yang sudah ada sebelumnya di Cakra Semarang TV. Namun, ada tambahan beberapa bagian yang berisi talkshow, liputan dengan voice over, interview, dan juga voxpop. Tema yang diangkat untuk news features ini adalah human interest, yakni menampilkan profil orang yang mengabdikan hidupnya untuk berkecimpung di dunia sosial. Narasumber yang diangkat yaitu Drs. Ciptono, Kepala SLBN Semarang dan Yuli Sulistyanto (BDN), fasilitator anak dari Yayasan Setara Semarang.            Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan melalui Cakra Semarang TV pada hari Senin, tanggal 14 Mei dan 21 Mei 2014, pukul 18.00 WIB. Diharapkan tayangan ini dapat menjadi media untuk mengedukasi masyarakat agar lebih peduli serta lebih mengerti pola asuh dan perlakuan yang baik bagi penyandang disabilitas maupun anak jalanan. Kata kunci: news features, human interest, Tokoh, anak berkebutuhan khusus, anak jalanan
REPRESENTASI IDENTITAS KEINDONESIAAN DALAM FILM MERAH PUTIH Khizana, Sholakhiyyatul; Lukmantoro, Triyono; Ulfa, Nurrist Surayya; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.323 KB)

Abstract

Setiap negara memiliki identitas nasionalnya sendiri, salah satu ciri yang digunakan untuk mengenali negara tersebut. Hal ini menjadi rumit ketika negara tersebut memiliki beragam kebudayaan atau multikultur. Budaya mana yang kemudian akan diangkat untuk dijadikan sebuah identitas nasional. Umumnya sebuah identitas diangkat berdasarkan budaya mayoritas yang berada dalam sebuah negara, hal inilah yang kemudian membuat masyarakat luas menyalahartikan ‘Jawa’ sebagai identitas nasional. Merah Putih merupakan film yang merepresentasikan sebuah identitas keindonesiaan melalui pluralisme. Identitas nasional tidak lagi diangkat berdasarkan sebuah kebudayaan mayoritas namun semua kebudayaan yang mendiami wilayah Indonesia termasuk budaya minoritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi identitas keindonesiaan dalam film Merah Putih.Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske ‘the codes of television’. Film ini diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi, sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisis secara paradigmatik.Merah Putih merepresentasikan pluralisme sebagai identitas nasional. Masing-masing karakter dalam film ini dengan baik merepresentasikan budaya asalnya, baik dengan tata cara berpakaian, bahasa yang digunakan, pola pikir,kebiasaan, ritual peribadatan dan sebagainya. Identitas asal yang disandang para karakter dalam film ini memungkinkan terbentuknya berbagai entosentrisme, prasangka, dan stereotip. Kesadaran akan identitas nasionallah yang kemudianmenyatukan berbagai perbedaan yang ada. Temuan yang menarik dalam penelitianini adalah, bagaimana identitas gender ikut terbawa dalam arus perselisihankebudayaan. Pada dasarnya lingkunganlah yang memposisikan kelas sosial laki-laki dan perempuan, dalam film perang berlatar tahun 1940-an ini maskulinitas tampak dijunjung tinggi dan peran perempuan terdiskriminasi. Pluralisme tidak berpengaruhpada kelas sosial ini karena dalam film ini baik budaya mayoritas maupun minoritas memiliki pandangan yang sama terhadap posisi laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat.Kata kunci : film, identitas nasional, pluralisme
Co-Authors Adi Nugroho Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi, Aditya Iman Adityo Cahyo Aji Agus Naryoso Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Aldila Leksana Wati Ambar Rakhmawati, Ambar Angga Dwipa Anggia Anggraini Aprillia N S Arum Sawitri Wahyuningtias Asti Amalina Widiyasari, Asti Amalina Atina Primaningtyas Ayu Pramudhita Noorkartika Bareta Hendy Pamungkas Bayu Bagus Panuntun Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bebby Rihza Priyono Beta Fiftina Aryani Bhaswarani Oktadianisty Budi Adityo Debi Astari, Debi Deni Arifiin Dimas Muhammad Dimas Setiawan Hutomo, Dimas Setiawan Distian Jobi Ridwan Diyan Krissetyoningrum Djoko Setyabudi DR Sunarto Dr. Sunarto Dwi Purbaningrum, Dwi Dyah Mayangsari Puspaningrum Eggie Nurmahabbi, Eggie Farisa Dian Utami Febryana Dewi Nilasari Fitriana Nur Indah S Fransiska Candraditya Utami, Fransiska Candraditya Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Maher Pradana, Gilang Maher Gilang Wicaksono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana, Hendrikus Setya Hilda Maisyarah, Hilda I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan, Ibrahim Muhammad Ifadhah Vellayati Widjaja Imam Dwi Nugroho Imam Muttaqin, Imam Indah Pratiwi Indra Septia BW, Indra Septia Jaza Akmala Ramada Jenny Putri Avianti Joyo NS Gono Kaisya Ukima Tiara Anugrahani Kartika Ayu Pujamurti, Kartika Ayu Lintang Jati Rahina, Lintang Jati Lintang Ratri Rahmiaji Manggala Hadi Prawira Marliana Nurjayanti Nasoetion Mohammad Akbar Rizal Hamidi, Mohammad Akbar Rizal Much. Yulianto Muhammad Imaduddin Musyafi Tribun Jateng, Musyafi Tribun Nadia Dwi Agustina Nanda Ayu Puspita Ningsih Nanda Dwitiya Swastha Ni Made Dinna Caniswara Nicolas Handoko Raharjo, Nicolas Handoko Nilna Rifda Kholisha Novelia Irawan S Novi Rosmaningrum Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Pranamya Dewati, Pranamya Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Raynaldo Faulana Pamungkas Renis Susani Karamina Rijalul Vikry Rizki Rengganu Suri Perdana Sallindri Sanning Putri Sarah Veradinata Purba, Sarah Veradinata Shabara Wicaksono Sholakhiyyatul Khizana Sigit Haryadi Siska Ratih Dewanti Sri Widowati Herieningsih Stephany Alamanda Sulastri _ Syarifa Larasati, Syarifa Tandiyo Pradekso Taufik Indra Ramadhan, Taufik Indra Taufik Reza Ardianto, Taufik Reza Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Dita Anggraini Tri Utami Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Vania Ristiyana Vivitri Endah Andriani Wahyu Tri Oktaviani, Wahyu Tri Wiwid Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yoga M Pamungkas Yudi Agung Kurniawan, Yudi Agung Yuliantika Hapsari, Yuliantika Yunita Indriyaswari Yuyun Octaviani Budiarti