Satrio Adi Wicaksono
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengaruh Profilaksis Trombosis Vena Dalam dengan Heparin Subkutan dan Intravena terhadap aPTT dan Jumlah Trombosit pada Pasien Kritis di ICU RSUP Dr. Kariadi Semarang

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Heparin has been used as therapy and as primary prophylaxis of Deep Vein Thrombosis (DVT), although the safety of heparin, especially in critically ill patients who are at high risk of bleeding is still a subject of debate. There is no comparative study that clearly show the effectivity and safetty of subcuteneous heparin as DVT prophylaxis.Objective: To investigates the difference between the effect of subcutaneous heparin compared to intravenous heparin as DVT prophylaxis to the aPTT and platelet counts in critically ill patients in the intensive care unit (ICU) Dr. Kariadi Hospital Semarang.Method: Clinical trials were conducted to 30 patients for 3 days by administering subcutaneous heparin 5000 IU bid for group SK (n = 15) and intravenous heparin 500 IU per hour for group IV (n = 15), several parameters of coagulation were compared (D-dimer, platelet counts, aPTT) in critically ill patients in the intensive care unit (ICU) Dr. Kariadi Hospital Semarang.Result: After 3 days administration of DVT prophylaxis, significant decreased levels of D-dimer were obtained in both groups, SK groups 959.73(1127.539) (p=0.05) and IV groups 1621.33(1041.654) (p=0.00), but no significant changes in aPTT values, SK groups 0.032(0.5284) (p=0.815) and IV groups 0.068(0.5718) (p=0.652). Insignificant decrease were found in SK group platelet counts 413.3(51489.76) (p=0.815), but in IV group this decrease were significant 30186.6(53488.86) (p=0.046).Conclusion: Subcutaneous heparin 5000 IU bid and intravenous heparin 500 IU per hour as a DVT prophylaxis can significantly reduce the level of D-dimer. No significant changes were observed in the value of aPTT in both groups but there is a significant decrease in platelet count in IV group. Keywords : heparin, DVT, D-dimer, aPTT, platelet count  ABSTRAKLatar belakang: Heparin telah digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD, walaupun keamanan heparin khususnya pada pasien kritis yang memiliki risiko tinggi perdarahan masih merupakan subyek perdebatan. Belum ada studi prospektif komparatif yang tegas menunjukkan efektivitas dan keamanan pemberian heparin subkutan sebagai profilaksis TVD pada pasien kritis di ICU.Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian heparin subkutan dibandingkan intravena sebagai profilaksis TVD terhadap nilai aPTT dan jumlah trombosit pada pasien kritis di ICU.Metode: Uji klinik dilakukan pada 30 pasien selama 3 hari dengan pemberian heparin subkutan 5000 IU b.i.d sebagai kelompok SK (n=15) dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai kelompok IV (n=15) kemudian dibandingkan beberapa parameter koagulasi (D- dimer, aPTT dan trombosit) pada pasien kritis di ICU.Hasil: Setelah 3 hari diberikan profilaksis TVD didapatkan hasil yang bermakna penurunan kadar D-dimer pada kedua kelompok, kelompok SK 959.73(1127.539) (p=0.05) dan kelompok IV 1621.33(1041.654) (p=0.00). Tetapi didapatkan hasil yang tidak bermakna pada perubahan nilai aPTT, kelompok SK 0.032(0.5284) (p=0.815) dan kelompok IV 0.068(0.5718) (p=0.652). Perubahan jumlah trombosit didapatkan hasil tidak bermakna pada kelompok SK 413.3(51489.76) (p=0.815) sedangkan pada kelompok IV didapatkan perubahan yang bermakna dalam penurunan jumlah trombosit 30186.6(53488.86) (p=0.046).Simpulan: Pemberian heparin subkutan 5000 IU b.i.d dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai profilaksis TVD secara bermakna dapat menurunkan kadar D-dimer. Tetapi didapatkan hasil yang tidak bermakna pada perubahan nilai aPTT dan perubahan yang bermakna pada kelompok heparin IV dalam penurunan jumlah trombosit

Anestesi pada Mediastinoskopi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mediastinoskopy increasingly used in health centers. Mediastinoscopy is a minimally invasive technique for excision biopsy of lung cancer. Mediastinoscopy provides access to the mediastinal lymph nodes and is used for diagnosis or resektabilitas intrathorakal malignancy. Preoperative CT is important for the evaluation and if there is compression of trachea. Mediastinoscopy using general anesthesia. Venous access with a large diameter intravenous catheters (14 to 16 gauge) is required because of the risk of excessive bleeding and difficulty controlling bleeding. And is expected to review the above it can be understood how the management of anesthesia in patients undergoing mediastinoscopy surgery.Keywords : -ABSTRAKMediastinoskopi semakin banyak digunakan di pusat-pusat kesehatan. Mediastinoskopi merupakan tehnik minimal invasif untuk eksisi biopsi pada kanker paru-paru. Mediastinoskopi menyediakan akses ke limfonodi mediastinal dan digunakan untuk diagnosis atau resektabilitas keganasan intrathorakal. CT preoperatif penting untuk mengevaluasi dan bila terdapat kompresi trakhea. Mediastinoskopi menggunakan anestesi umum. Akses vena dengan kateter intravena diameter besar (14 hingga 16 gauge) diharuskan karena resiko perdarahan berlebihan dan kesulitan pengendalian perdarahan. Dan diharapkan dengan tinjauan diatas maka dapat dipahami bagaimana pengelolaan anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi mediastinoskopiKata kunci : -

PENGARUH MELATONIN TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT PADA TIKUS WISTAR MODEL SEPSIS

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Melatonin merupakan radikal bebas yang sering digunakan sebagai antioksidan. Melatonin merupakan salah satu obat yang sedang dikembangkan sebagai terapi sepsis. Toksisitas serius akibat pemberian melatonin tidak muncul pada pemakaian dosis tinggi. Sepsis menyebabkan peningkatan kadar asam laktat melalui glikolisis anaerob yang terjadi akibat hipoksia jaringan. Melatonin sangat efektif digunakan pada keadaan tersebut, dimana melatonin dapat menurunkan kadar asam laktat sehingga mencegah terjadinya kematian.Tujuan : Mengetahui pengaruh melatonin terhadap kadar asam laktat pada tikus wistar model sepsis dan memperoleh informasi tentang melatonin dalam menurunkan kadar asam laktat.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Randomized Control Group Pre-Post Test. Sampel adalah 12 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I sebagai kelompok kontrol diberi injeksi Lipopolisakarida (LPS) intraperitoneal dan tidak diberi melatonin. Kelompok II sebagai kelompok perlakuan diberi injeksi LPS intraperitoneal dan melatonin via sonde oral. Setelah tikus diadaptasi selama 7 hari, pada hari ke-8 tikus diinjeksi LPS pada kedua kelompok dan melatonin via sonde oral hanya pada kelompok perlakuan. Kemudian tiap tikus diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita dan diukur kadar asam laktatnya. Uji statistik menggunakan uji Paired t-Test, Independent t-Test dan Mann-Whitney Rank Test.Hasil : Pada uji Independent t-Test didapatkan nilai rerata kadar asam laktat pada kelompok kontrol lebih tinggi dibanding dengan kelompok perlakuan. Pada uji Paired t-Test tidak didapatkan perbedaan yang signifikan p > 0,05 pada kelompok kontrol maupun perlakuan kecuali pada post1-post 2 dan pre-post 2 yang memiliki perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol. Pada uji Mann-Whitney Rank Test juga tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada selisih pre – post 1 dan selisih pre – post 2.Kesimpulan : Pemberian melatonin tidak menyebabkan penurunan kadar asam laktat yang signifikan.

PENGARUH PEMBERIAN HEPARIN SUBKUTAN DAN HEPARIN INTRAVENA SEBAGAI PROFILAKSIS TROMBOSIS VENA DALAM (TVD) TERHADAP NILAI D-DIMER PADA PASIEN CRITICALL ILL DI ICU RSUP DR. KARIADI SEMARANG

Media Medika Muda Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Heparin telah digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD, walaupun keamanan heparin khususnya pada pasien critical ill yang memiliki risiko tinggi perdarahan  masih  merupakan subyek perdebatan. Untuk itu kami ingin mengetahui efektifitas heparin sebagai profilaksis TVD dan pengaruh pemberiannya terhadap nilai D-dimer pada pasien critical ill di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Tujuan : Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui perbedaan pengaruh pemberian heparin subkutan dibandingkan heparin intravena sebagai profilaksis TVD terhadap nilai D-dimer pada pasien critical ill di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Metode : Dilakukan Uji klinik  pada 30 pasien selama 3 hari dengan pemberian heparin subkutan 5000 IU bid sebagai kelompok I (n=15) dan  heparin 500 IU/jam intravena sebagai kelompok II (n=15) dengan membandingkan D-dimer pada pasien critical ill  di ruang rawat intensif (ICU) RSUP DR. Kariadi Semarang.Hasil : Setelah 3 hari diberikan profilaksis TVD didapatkan hasil yang bermakna pada kedua kelompok terhadap penurunan kadar D-dimer (p=0.05 dan p=0.00). Sedangkan pada perbandingan antara heparin SK dan heparin IV didapatkan hasil yang tidak bermakna pada pemeriksaan D-dimer (p=0.10)Simpulan : Pemberian heparin subkutan 5000 IU bid dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai profilaksis TVD secara bermakna  dapat menurunkan kadar D-dimer. Sedangkan pada perbandingan  heparin SK dan heparin IV pada nilai D-dimer didapatkan hasil yang tidak bermakna. Kata kunci : heparin, TVD, D-dimer

Perbandingan Kadar Substansi P Serum pada Pasien Pre dan Post Operasi Tiroid yang Diberi Analgetik Bupivakain 0,25% dengan Teknik Bilateral Superficial Cervical Plexus Block (BSCPB)

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.629 KB)

Abstract

Latar belakang: Operasi tiroid dapat menyebabkan rasa sakit sehingga untuk mencegah masalah ini dengan berbagai modalitas, seperti anestesi regional bilateral superficial cervical plexus block (BSCPB) dengan menggunakan bupivakain 0,25% yang dikombinasikan dengan anestesi umum.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian klinis acak tersamar ganda dengan jumlah sampel 36 pasien. Sampel dibagi kedalam 2 kelompok yang diberikan anestesi regional melalui teknik BSCPB dengan kelompok perlakuan diberikan bupivakain 0,25% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberikan NaCl 0,9% terhadap kadar substansi P serum pre dan post operasi pada pasien yang menjalani operasi tiroid.Hasil: Data penelitian diperoleh subjek laki-laki sebanyak 7 (19,4%) orang dan subjek  perempuan  sebanyak  29  (80,6%)  orang. Data substansi P post operasi kelompok  control dibandingkan kelompok perlakuan  didapatkan perbedaan bermakna  (p = 0,001). Substansi P pre operasi dibandingkan substansi P post operasi kelompok perlakuan didapatkan perbedaan bermakna (p = 0,004). Simpulan: Pemberian bupivakain konsentrasi 0,25% melalui teknik BSCPB terbukti menurunkan kadar substansi P serum post operasi.  

PENGARUH MELATONIN TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT PADA TIKUS WISTAR MODEL SEPSIS

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Melatonin merupakan radikal bebas yang sering digunakan sebagai antioksidan. Melatonin berperan dalam meningkatkan respon imun, dan membantu proses sitoprotektif. Dalam beberapa model hewan, melatonin telah diidentifikasi untuk membantu melawan infeksi yang disebabkan bakteri, virus, dan parasit dengan melalui berbagai mekanisme, seperti immunomodulasi atau aktivitas antioksidan. Melatonin dapat mengurangi kadar sitokin inflamasi, stress oksidatif dan disfungsi mitokondria. Melatonin merupakan salah satu obat yang dikembangkan sebagai terapi sepsis.Tujuan Mengetahui pengaruh melatonin terhadap jumlah leukosit pada tikus wistar model sepsis dan memperoleh informasi melatonin dapat menurunkan jumlah leukosit.Metode Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan randomized control grup pre post test . Sampel adalah 12 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I diberi injeksi intraperitoneal lipopolisakarida (LPS) dan tidak diberi melatonin sebagai kelompok kontrol, sedangkan kelompok II diberi injeksi intraperitoneal lipopolisakarida (LPS) sebagai kelompok perlakuan dan diberi melatonin via sonde oral sebagai kelompok perlakuan. Setelah adaptasi tikus selama seminggu, pada hari ke 8 tikus diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita. Uji statistik menggunakan uji paired t-test, independent t-test dan Mann Whitney Test.Hasil Pada uji independent test didapatkan nilai rerata jumlah leukosit pada kelompok kontrol lebih tinggi dibanding kelompok perlakuan. Pada uji paired t-test kelompok kontrol mengalami perubahan yang signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang menunjukkan hasil yang tidak bermakna. Pada uji Mann Whitney Test didapatkan hasil kelompok kontrol selisih pre– post1 dan post 2 mengalami peningkatan yang signifikan. Sedangkan pada kelompok perlakuan selisih pre LPS – post1 dan post2 (p<0,05) mengalami penurunan yang signifikan.Kesimpulan Pemberian melatonin tidak menyebabkan penurunan jumlah leukosit yang signifikan.

PENGARUH MELATONIN TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT PADA TIKUS WISTAR MODEL SEPSIS

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Melatonin merupakan radikal bebas yang sering digunakan sebagai antioksidan. Melatonin merupakan salah satu obat yang sedang dikembangkan sebagai terapi sepsis. Toksisitas serius akibat pemberian melatonin tidak muncul pada pemakaian dosis tinggi. Sepsis menyebabkan peningkatan kadar asam laktat melalui glikolisis anaerob yang terjadi akibat hipoksia jaringan. Melatonin sangat efektif digunakan pada keadaan tersebut, dimana melatonin dapat menurunkan kadar asam laktat sehingga mencegah terjadinya kematian.Tujuan : Mengetahui pengaruh melatonin terhadap kadar asam laktat pada tikus wistar model sepsis dan memperoleh informasi tentang melatonin dalam menurunkan kadar asam laktat.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Randomized Control Group Pre-Post Test. Sampel adalah 12 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok I sebagai kelompok kontrol diberi injeksi Lipopolisakarida (LPS) intraperitoneal dan tidak diberi melatonin. Kelompok II sebagai kelompok perlakuan diberi injeksi LPS intraperitoneal dan melatonin via sonde oral. Setelah tikus diadaptasi selama 7 hari, pada hari ke-8 tikus diinjeksi LPS pada kedua kelompok dan melatonin via sonde oral hanya pada kelompok perlakuan. Kemudian tiap tikus diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita dan diukur kadar asam laktatnya. Uji statistik menggunakan uji Paired t-Test, Independent t-Test dan Mann-Whitney Rank Test.Hasil : Pada uji Independent t-Test didapatkan nilai rerata kadar asam laktat pada kelompok kontrol lebih tinggi dibanding dengan kelompok perlakuan. Pada uji Paired t-Test tidak didapatkan perbedaan yang signifikan p > 0,05 pada kelompok kontrol maupun perlakuan kecuali pada post1-post 2 dan pre-post 2 yang memiliki perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol. Pada uji Mann-Whitney Rank Test juga tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada selisih pre – post 1 dan selisih pre – post 2.Kesimpulan : Pemberian melatonin tidak menyebabkan penurunan kadar asam laktat yang signifikan.