Articles

Found 9 Documents
Search

Optimasi Parameter Pemotongan Mesin Bubut CNC Terhadap Kekasaran Permukaan dengan Geometri Pahat yang Dilengkapi Chip Breaker Wibolo, Achmad; Wahyudi, Slamet; Sugiarto, Sugiarto
Rekayasa Mesin Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.689 KB)

Abstract

In machining operation, the quality of surface finish is an important requirement for many turned workpieces. Thus, the choice of optimized cutting parameters is very important for controlling the requied surface quality The focus of present experimental study is to optimize for cutting speed, feed rate, and radius chip breaker using two performance measures, metal removal rate and surface roughness. Response Surface Methodology (RSM). has been applied for developing models in the form of multiple regression equations correlating dependent parameters with cutting parameters and radius chip breaker, in a turning process. The central composite rotatable design was used to plan the experiment, and analysis of variance were employed to study the performance characteristics for three variable independent in turning operation. A second-order model which can describe the relation then to find combination between cutting parameters and radius chip breaker which resulting the maximum metal removal rate and minimum surface roughness. The experimental results reveal that the most significant cutting parameters for surface roughness is cutting speed, followed by feed rate and radius chip breaker. Based on the optimization results, recommended cutting speed, feed rate, and radius chip breaker is 35 m/mt, 0,2819 mm/rev, and 0,85 mm. By implementing this parameters, the surface roughness and metal removal rate is 2,18 ?m and 6230,80 mm3/mt.Keywords : Surface Roughness, Metal removal rate, response surface methodology, turning
RANCANG BANGUN MESIN PRESS BAGLOG JAMUR TIRAM DENGAN PENGGERAK MOTOR LISTRIK Wibolo, Achmad; Pancarana, I Dewa Made
Matrix : Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika Vol 4 No 3 (2014): MATRIX - Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini usaha jamur tiram merupakan budidaya jamur yang berkembang dan diminati oleh para petani jamur. Hal ini dikarenakan mudahnya mendapatkan bahan-bahan untuk membudidayakan jamur serta budidaya jamur memiliki prospek yang bagus. Proses mengepressan baglog masih secara konvensional, sehingga dibutuhkan tenaga manusia yang lebih ekstra, untuk memperoleh baglog yang lebih padat. Agar para petani jamur dapat bekerja secara lebih produktif, dibutuhkan mesin pengepress baglog jamur. Untuk itu peneliti merancang dan membuat mesin press baglog jamur dengan penggerak motor listrik. Prinsip kerjanya adalah mengubah gerak rotasi pada poros utama menjadi gerak translasi pada penumbuk. Spesifikasi mesin press baglog jamur yaitu menggunakan motor listrik 0,25 Hp, sabuk-V beserta puli dan rantai beserta spoket. Untuk mereduksi putaran digunakan gearbox dengan rasio 1:30. Dari hasil hasil uji coba mesin press baglog jamur diperoleh hasil pengepresan baglog jamur yang lebih padat dan waktu pengepresan yang lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan alat yang konvensional.
REDESIGN MESIN PENGGILING IKAN TUNA SEBAGAI BAHAN BAKU SATE LILIT DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKSI Wibolo, Achmad; Suherman, I Ketut
Matrix : Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika Vol 5 No 2 (2015): MATRIX - Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah sebagai Negara Kepulauan, dimana pulau-pulaunya dikeliling oleh laut. Pendudukyang tinggal dipesisir pantai adalah kebanyakan sebagai nelayan. Upaya untuk meningkatkan nilai tambah hasil laut berupa olahan makanan yang disebut adalah sate lilit.Sate lilit merupakan adonan yang terdiri dari ikan tuna yang sudah digiling dengan bumbu khusus, selanjutnya adonan tersebut dilekatkan pada tangkai lalu dilakukan proses pembakaran. Permintaan pelanggan terhadap sate lilit terus meningkat berakibat pada persedian bahan baku ikan tuna yang sudah tergiling juga semakin banyak. Berdasarkan survey yang dilakukan sejumlah warung, proses penggilingan ikan tuna dengan menghancurkan ikan tuna menjadi halus untuk dijadikan bahan baku, setelah itu bahan baku ikan tuna dicampur dengan bumbu yang sudah disediakan, lalu bahan baku ikan tuna dicampur jadi satu menjadi adonan. Setelah itu, bisa langsung di buat sate lilit ikan tuna dengan cara mengambil bahan yang sudah jadi, setengah dari genggaman tangan orang dewasa, lalu ambil tangkai sate ikan lilit dan ambil bahan yang sudah jadi lalu dikepalkan pada tangkai sate lilit, setelah itu sate lilit ikan tuna bisa dipanggang. Mesin penggiling ikan tuna ini menggunakan tenaga penggerak dari motor listrik dengan daya 0,25 Hp, untuk putarannya 1400 rpm. Putaran motor diteruskan menggunakan pully penggerak direduksi melalui v-belt dan menghubungkan pulley yang digerakan untuk menghubungkan ke poros mesin penggiling untuk putaran akhir yang diperoleh pada alat ini adalah 350 rpm. Hasil analisa menunjukan bahwa mesin dapat bekerja dengan baik dengan waktu yang didapat untuk proses 1 kg ikan tuna adalah 3,33 menit dan hasil yang didapat sama dengan menggunakan cara manual. Produktivitas sate lilit mengalami peningkatan dengan tersedianya bahan baku sate lilit siap pakai sebanyak 34 kg.
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PEMETIK BUAH SALAK Suherman, I Ketut; Wibolo, Achmad
Matrix : Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika Vol 5 No 3 (2015): MATRIX - Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.419 KB)

Abstract

Salak adalah tanaman tropis yang hanya tumbuh didaerah tropis dan banyak dinikmati oleh masyarakat. Buah salak juga banyak mengandung nutrisi yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Salak merupakan salah satu jenis buah-buahan yang memiliki ciri khas tersendiri yakni memiliki kulit seperti sisik ular. Pohon salak hampir tidak memiliki batang karena batangnya pendek dan hampir tidak keliatan disebabkan oleh ruas-ruasnya yang padat dan tertutup rapat oleh pelepah yang banyak terdapat duri-duri. Tujuan perancangan alat bantu ini untuk mempermudah, mempercepat dan aman pada saat para petani memakai untuk memanen buah salak karena banyak terdapat duri-duri. Alat ini memiliki tiga rahang penjepit untuk memegang satu tandan buah salak serta menekan dengan menggunakan handle agar lebih praktis pada saat digunakan. Cara pemakaian alat ini sangat mudah, hanya menekan tuas atau handle lalu petani hanya memotong tangkai salak dengan menggunakan pisau besar, setelah itu petani dapat langsung menaruh satu tandan buah salak ke tempat yang telah disediakan. Alat bantu pemetik buah salak ini masih belum maksimal, karena terbuat dari plat stainlees dengan tebal 1,5mm yang membuat alat bantu pemetik buah salak ini menjadi berat. Penulis menyarankan agar berhati-hati pada saat menggunakan alat tersebut sehingga lebih aman pada saat pengoperasiannya.
PEMANFAATAN KULIT KAKAO MELALUI MESIN PENCACAH DAN PENGHANCUR, PADA SUBAK ABIAN DAN KELOMPOK TERNAK GUBUG Suherman, I Ketut; Wibolo, Achmad; Darma Susila, I Nengah
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol 2 No 1 (2016): Nopember 2016
Publisher : P3M Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.382 KB)

Abstract

Kegiatan Program Iptek bagi Masyarakat (IbM) dilakukan dengan tujuan ingin mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mitra kelompok petani Kakao ”Subak Abian Gubug” sehingga dapat mengatasi peningkatan jumlah limbah kulit buah kakao agar dapat diolah menjadi pakan ternak. Melihat permasalahan mitra tersebut terutama pada saat proses penanganan kulit buah kakao pascapanen, maka dicoba untuk mengaplikasikan mesin pencacah dan penggiling (penghancur) kulit buah kakao menjadi dedak sebagai pakan ternak tambahan yang bisa disimpan. Prosesnya adalah limbah kulit buah kakao dimasukkan melalui lubang masuk mesin pencacah  sehingga akan tercacah menjadi ukuran yang kecil-kecil (± 1 cm) lalu dilakukan permentasi sesuai dengan kebutuhan untuk menjadikan pakan ternak. Setelah proses permentasi kulit buah tersebut dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, kemudian barulah kulit buah kakao tersebut diproses penggilingan dengan menggunakan mesin penggiling (penghancur) sehingga memperoleh hasil seperti dedak. Berdasarkan luaran yang diharapkan dari program ini maka hasil yang telah dicapai dalam pelaksanaan adalah indikator limbah kulit buah kakao dapat dilihat dengan dari hanya dibuang menjadi dimamfaatkan. Indikator metode pemberian pakan dari diberikan langsung kepada ternak menjadi diolah untuk dijadikan dedak sehingga bisa dicampur dengan pakan lainnya. Indikator nilai ekonomi diketahui dari kulit buah yang tidak bisa disimpan menjadi bisa disimpan sehingga bisa digunakan pada saat diperlukan atau memungkinkan untuk dijual kepada peternak yang membutuhkan
DESIGNING PLASTIC CUPES RING CUTTING MACHINE TO INCREASE PRODUCTIVITY Wibolo, Achmad; Antara, I Nengah Ludra
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 18 No 2 (2018): July
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.107 KB) | DOI: 10.31940/logic.v18i2.972

Abstract

The existence of plastic makes the society?s lives easier and more practical. Recently, the various kinds of products are made from this material because the votes are more durable. Plastics also give a negative effect for the environment such as soil pollution. The purpose of designing this plastic cup ring cutting machine is to sort the kind of plastics and to accelerate the process of plastic recycling, so that the plastic processing can be done faster. The authors designed a plastic cup ring mowers with electric motor mover. The design concepts of this machine are the height of machine is: 90 mm of height with a width of 50 mm, frame in size of 50 mm x 50 mm made from angled steel. This machine uses two vertical cutting blades and one horizontal cutting blade. The activator which is used in this machine is an electric diesel 1/4 HP with the rotation speed of 1400 rpm, belt-V type A38 as a link of the diesel rotation to the spindle. It is used two pieces of cushions because the direction of the load presses is perpendicular to axis of the shaft. So it is used bearing type of UCF pillow block in the diameter of 75 mm. The cutting process is done in a standing position and the button is pressed manually by using manpower, so that the rotation can become stable. If using a machine the process of cutting a ring of plastic cup can be accelerated. Manually it can be produced approximately 5 pieces of plastic cups. But, if using a machine, it can be produced approximately14 pieces of plastic cups.
RANCANG BANGUN ALAT PENGGILING DAN PEMOTONG ADONAN KRIPIK LADERANG DENGAN PENGGERAK MOTOR LISTRIK Suherman, I Ketut; Wibolo, Achmad
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 15 No 2 (2015): July
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.646 KB)

Abstract

Kehidupan perekonomian seperti sekarang ini, kita dituntut untuk dapat bersaing dan memanfaatkanberbagai peluang usaha yang ada. Salah satunya dengan menciptakan mesin-mesin tepat guna untuk industri rumahtangga. Seperti alat penggiling dan pemotong adonan kripik laderang. Dengan adanya alat ini diharapkan dapatmeringankan pekerjaan dalam proses penggilingan dan pemotongan adonan kripik laderang.Adapun hasil dari perencanaan yang diperoleh :. Motor penggerak yang digunakan, adalah motor listrik dengan daya0,08 Hp dengan putaran 800 rpm. Diameter poros yang digunakan 12 mm dengan panjang 54 mm. Bantalan yangdigunakan bantalan gelinding dengan kode 6001. Diameter puli penggerak 12 mm dan diameter puli yangdigerakkan 44,50 mm, serta penerus daya menggunakan sabuk gilir type XL. Untuk rangka mesin menggunakanbesi siku 30 mm x 30 mm.Hasil dari pengujian diketahui bhwa alat yang telah diredisain ini dapat bekerja dengan baik, dengan waktupenggilingan dan pemotonga lebih singkat daripada alat pengilingan dan pemotongan dengan cara manual. Waktuyang dibutuhkan untuk menggiling dan memotong adonan 0,5 kg dengan cara manual sebesar 60 menit, sedangkandengan menggunakan alat yang telah diredisain sebesar 32,2 menit
USAHA PENCEGAHAN TERJADINYA BATU KETEL AKIBAT DARI AIR PENGISI KETEL PADA KETEL UAP PIPA API DI HOTEL CONRAD BALI Ludra Antara, I Nengah; Wibolo, Achmad
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 16 No 3 (2016): November
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.275 KB)

Abstract

Ketel uap merupakan satu peralatan yang digunakan untuk menghasilkan uap dalam berbagai keperluan. Air didalam ketel uap dipanaskan oleh panas dari hasil pembakaran bahan bakarsehingga terjadi perpindahan panas dari sumber panas tersebut ke air yang mengakibatkan air tersebut menjadi panas atau berubah menjadi uap.Perawatan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam atau untuk memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima. Perawatan juga ditujukan untuk mengembalikan suatu sistem pada kondisinya agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, dan memperpanjang usia kegunaan mesin. Perawatan terhadap ketel uap bertujuan mencegah terjadinya batu ketel dengan cara perlakuan terhadap air pengisi ketel uap yaitu dengan cara mempertahankan kandungan klorin dan pH dalam air. Selain mempertahankan kandungan klorin dan pH dalam air untuk pencegahan batu ketel juga dilakukan dengan blow down. Batu ketel adalah deposit mineral yang biasa terjadi. Batu ketel adalah padatan terjadi akibat reaksi dari zat pengotor dengan permukaan pipa logam. Batu ketel berperan sebagai isolator memperlambat transfer panas, yang menyebabkan efisiensi menurun dan pemakaian bahan bakar jadi meningkat. Efek yang lebih serius adalah overheating dan penyebab kerusakaan pada pipa-pipa ketel uap. Setelah melakukan pengambilan data di lapangan selama satu bulan didapat nilai rata-rata untuk klorin adalah 3,0 ppm dan pH 7,8 ppm. Jadi,Hotel Conrad Bali sudah melakukan perawatan pencegahan batu ketel dengan baik yaitu menjaga kandungan klorin kisaran 2,5~4,0 ppm dan pH 7,0~9,0 ppm.
ANALISIS KEBOCORAN PADA INSTALASI PIPA TERTUTUP Suherman, I Ketut; Wibolo, Achmad
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 13 No 1 (2013): March
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.311 KB)

Abstract

Plumbing adalah seni dan teknologi pemipaan dan peralatan untuk menyediakan air bersih ke tempat yang dikehendaki; baik dalam kualitas, kuantitas, dan kontinuitas yang memenuhi syarat serta pembuangan air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa melupakan bagian tertentu yang sangat penting agar mencapai kondisi higienis dan kenyamanan yang diinginkan. Di lapangan sering ditemukan kebocoran pada suatu instalasi, sehingga perbaikan harus segera dilakukan agar fungsi menyalurkan tidak terganggu. Akibat itu semua membutuhkan lagi waktu dan material yang digunakan. Pengujian dilaksanakan pada suatu sistem instalasi pipa tertutup dengan cara memvariasi panjang specimen pipa (185 mm, 194, mm, dan 200 mm). dan untuk panjang specimen ulir (13 mm, 19 mm, dan 25 mm). Selanjutnya dipasangkan pada komponen sambungan. Pengamatan dilaksanakan pada titik-titik pengamatan yang telah ditentukan, yaitu pada pipa A dengan titik pengamatan A1 dan A2, serta pada pipa B dengan titik pengamatan B1, B2, dan B3. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kebocoran tidak terjadi bila pada pipa A panjang spesimen pipa mulai dari 192 mm hingga 195 mm dan panjang spesimen ulir mulai dari 18 mm hinnga 22 mm, sedangkan untuk pipa B panjang spesimen pipa mulai dari 196 mm hingga 198 mm dan panjang spesimen ulir mulai dari 18 mm hinnga 22 mm. Perubahan panjang spesimen pipa, panjang spesimen ulir dan karakteristik sambungan pengaruhi terjadinya kebocoran.