Articles

Found 36 Documents
Search

Makna Desain Keris dalam Budaya Jawa Warto, Warto
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 2 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.461 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v2i1.814

Abstract

Cultural objeds in Java besides owning high aesthetic value also have magical energy it is of course to which sure and trusting it. Arlistic to progressively  form of the objed, hence will be valuable progressively high art and have deeper magical meaning. Keris as oneoi the cultural objed in Java owning very unique desain. Existence of keris cannot be discharged from a smith. Of hands of they keris created. Greatness of keris do not famous only just Java land. But have become heritage grand culture of world. Keris is cultural masterwork of parallel proper Indonesia with other masterpieces of whole world. 
WAYANG BEBER PACITAN: FUNGSI, MAKNA, DAN USAHA REVITALISASI Warto, Warto
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 1 (2012)
Publisher : Paramita: Historical Studies Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayang beber Pacitan is considered as one of the unique traditional heritage because it is not found in other places. The uniqueness of wayang beber Pacitan can be seen from its shape, function, and meaning. Wayang beber is considered sacred by its community, particularly the relatives of the dalang (puppeter) of wayang beber who lives in Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo. However, in its development the existence of the traditional arts is threathened because of the influence of modern cultural values. The efforts to revitalize wayang beber has been undertaken by the local government and other related stakeholders. However, the effort to revitalize wayang beber is not yet successful because there are still constraints, both internal and external. The former view of wayang beber as well as the pressure of modern culture has constrained the revitalization of wayang beber. Similarly, transforming wayang beber from community art to tourist art is another constraint. Key words: cultural identity, revitalization, tourism, wayang beber.Wayang beber Pacitan termasuk salah satu warisan seni tradisi yang langka dan unik karena tidak ditemukan di tempat lain. Kelangkaan dan keunikan wayang beber Pacitan dapat dilihat dari bentuk, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya. Kesenian ini sangat disakralkan oleh pendukungnya khususnya keluarga dalang Wayang beber yang tinggal di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo.  Namun kesenian tradisi ini terancam punah karena terdesak oleh nilai-nilai budaya modern. Usaha revitalisasi wayang beber telah dilakukan walaupun belum optimal karena beberapa hambatan. Pandangan lama atas wayang beber dan desakan budaya modern menghambat revitalisasi wayang beber. Demikian pula mentransformasikan Wayang beber dari seni sakral (community art) menjadi seni hiburan (tourist art) menjadi hambatan lain yang belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, revitalisasi wayang beber harus dimulai dengan kebijakan yang tepat, komitmen pemimpin daerah, dukungan masyarakat dan swasta, serta dilakukan secara sinergis antarpara pihak yang peduli terhadap wayang beber. Kata Kunci: wayang beber, revitalisasi, identitas budaya, pariwisata
Selling Sacredness: Representation of Sedekah Gunung Ritual in Lencoh Village, Boyolali in New Media Rachmawati, Julianne Indah; Warto, Warto; Pitana, Titis Srimuda
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 2 (2018): Mozaik Humaniora Vol. 18 No.2
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.797 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i2.10933

Abstract

Sedekah Gunung Ritual adalah upacara selametan yang menjadi tradisi masyarakat di Desa Lencoh, Selo, wilayah Boyolali. Ritual ini dilakukan sebagai ungkapan terima kasih dan meminta untuk dijauhkan dari bahaya terutama sejak meletusnya Gunung Merapi. Ritual sakral menjadi daya tarik wisata atau mengalami komodifikasi. Proses ini membutuhkan ruang media sehingga pesan, informasi, dan pengetahuan yang dikonstruksikan dapat diterima oleh audiens. Ada tiga masalah yang dibahas. (1) Bagaimana bentuk representasi ritual Sedekah Gunung? (2) Bagaimana fungsi representasi amal ritual? (3) Apa arti representasi gunung amal ritual? Metode yang digunakanadalah analisis data kualitatif interpretatif dengan metode pengumpulan data observasi dan wawancara. Penelitian menunjukkan bahwa bentuk representasi ritual ritual Sedekah Gunung disajikan dalam berbagai artikel, berita, dan video di ruang media baru. Fungsinya adalah promosi pariwisata alternatif di wilayah Selo khususnya desa Lencoh, mengundang wisatawan, dan meningkatkan pendapatan ekonomi dari sektor pariwisata. Artinya adalahkonstruksi pengetahuan yang disebarluaskan sebagai daya tarik dalam konteks pariwisata alternatif untuk menarik wisatawan lokal dan asing. Pergeseran nilai-nilai ritual dari sakral ke komoditas.
REVITALISASI KESENIAN KETHEK OGLENG UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KABUPATEN WONOGIRI Warto, Warto
Paramita: Historical Studies Journal Vol 24, No 1 (2014): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v24i1.2863

Abstract

Kethek Ogleng is one of the folk performing arts that has flourished in rural Wonogiri. As the other folk performing arts anonymous in nature, it is difficult to know for certain the time when the performance actually emerged and by whom it was firstly created. Now, there are nine Kethek Ogleng groups in Wonogiri. In the midst of rapid social change, the Kethek Ogleng performing art facing big challenges to survive. The Kethek Ogleng set by the Wonogiri Government to become the cultural and tourist icon of the regency is increasingly losing its social base of support for various reasons.  The traditional agrarian society serving as its supporter is changing rapidly and is turning an eye from it. In this context, the efforts to revitalize the Kethek Ogleng performing art as cultural heritage have to be initiated. One of the viable strategies is by integrating conservation effort into a local culture-based tourism development. Keywords : Kethek Ogleng, revitalization, tourism, Wonogiri Regency. Kesenian Kethek Ogleng merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang berkembang di pedesaan Wonogiri. Seperti kesenian rakyat pada umumnya yang bersifat anonim, kesenian Kethek Ogleng juga tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali muncul dan siapa penciptanya. Sekarang tercatat ada sembilan kelompok. Di tengah-tengah perubahan sosial yang cepat, kesenian Kethek Ogleng menghadapi tantangan berat untuk bertahan hidup. Kesenian Kethek Ogleng yang oleh Pemda Wonogiri ditetapkan menjadi ikon budaya dan pariwisata daerah semakin kehilangan basis sosial pendukungnya karena berbagai alasan. Masyarakat agraris tradisional yang menjadi pendukung utama kesenian itu mengalami perubahan cepat sehingga beberapa anasir budaya lama termasuk kesenian tradisional ditinggalkan. Dalam konteks seperti inilah, usaha merevitalisasi kesenian Kethek Ogleng sebagai warisan budaya perlu dilakukan. Salah satu caranya ialah dengan mengintegrasikan usaha pelestarian itu melalui pengembangan pariwisata yang bertumpu pada kekayaan budaya local. Kata-kata kunci: Kethek Ogleng, revitalisasi, pariwisata, Kabupaten Wonogiri.  
WAYANG BEBER PACITAN: FUNGSI, MAKNA, DAN USAHA REVITALISASI Warto, Warto
Paramita: Historical Studies Journal Vol 22, No 1 (2012): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v22i1.2914

Abstract

Wayang beber Pacitan is considered as one of the unique traditional heritage because it is not found in other places. The uniqueness of wayang beber Pacitan can be seen from its shape, function, and meaning. Wayang beber is considered sacred by its community, particularly the relatives of the dalang (puppeter) of wayang beber who lives in Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo. However, in its development the existence of the traditional arts is threathened because of the influence of modern cultural values. The efforts to revitalize wayang beber has been undertaken by the local government and other related stakeholders. However, the effort to revitalize wayang beber is not yet successful because there are still constraints, both internal and external. The former view of wayang beber as well as the pressure of modern culture has constrained the revitalization of wayang beber. Similarly, transforming wayang beber from community art to tourist art is another constraint. Key words: cultural identity, revitalization, tourism, wayang beber.Wayang beber Pacitan termasuk salah satu warisan seni tradisi yang langka dan unik karena tidak ditemukan di tempat lain. Kelangkaan dan keunikan wayang beber Pacitan dapat dilihat dari bentuk, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya. Kesenian ini sangat disakralkan oleh pendukungnya khususnya keluarga dalang Wayang beber yang tinggal di Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Donorojo.  Namun kesenian tradisi ini terancam punah karena terdesak oleh nilai-nilai budaya modern. Usaha revitalisasi wayang beber telah dilakukan walaupun belum optimal karena beberapa hambatan. Pandangan lama atas wayang beber dan desakan budaya modern menghambat revitalisasi wayang beber. Demikian pula mentransformasikan Wayang beber dari seni sakral (community art) menjadi seni hiburan (tourist art) menjadi hambatan lain yang belum sepenuhnya teratasi. Oleh karena itu, revitalisasi wayang beber harus dimulai dengan kebijakan yang tepat, komitmen pemimpin daerah, dukungan masyarakat dan swasta, serta dilakukan secara sinergis antarpara pihak yang peduli terhadap wayang beber. Kata Kunci: wayang beber, revitalisasi, identitas  
The Social Banditry in the Rural Areas of Rembang by the End of the 19th Century and at the Beginning of the 20th Century Warto, Warto
TAWARIKH Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.131 KB)

Abstract

ABSTRACT: The social banditry is the act of crime committed by the residents of a village or the people in the low economic and social stratum in order to fulfill their basic needs. Such an act is done due to the structural pressure which depresses the people in accessing the natural resources that support their lives. This structural pressure kept increasing in the rural areas of Rembang by the end of the 19th century, particularly after the issuance of the law on forestry in 1865 that enabled the forestry capitalism to be established. The limitation in the people’s access to the state forest as the manifestation of the domain concept and the exploitation of the teak forests done by the private businessmen became the trigger to the increasing acts of crime in the rural areas of Rembang. The scarcity of the local economic resources due to such natural factors as barren land and structural factors as the result of the penetration of the external power became the main trigger to the social banditry to take place in Rembang. There were many kinds of social banditry, such as illegal logging, robbery, “kecu” (burglary), theft of possessions, etc. which were done against the assets owned by both the state and the individuals/groups.KEY WORDS: Social banditry, forest village, Rembang area, economic resources, and colonial exploitation.About the Author: Dr. Warto is a Lecturer at the Faculty of Letter and Fine Art UNS (State University of Surakarta), Jalan Ir. Sutami 36-A Surakarta 57126, Central Java, Indonesia. He can be reached at: warto_file@yahoo.com  How to cite this article? Warto. (2011). “The Social Banditry in the Rural Areas of Rembang by the End of the 19th Century and at the Beginning of the 20th Century” in TAWARIKH: International Journal for Historical Studies, Vol.3(1) October, pp.47-64. Bandung, Indonesia: ASPENSI [Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia] and UVRI [Universitas Veteran Republik Indonesia], ISSN 2085-0980. Chronicle of the article: Accepted (August 7, 2011); Revised (September 9, 2011); and Published (October 28, 2011).
DIGITALISASI GAMELAN DAN PENYEBARAN NILAI ADILUHUNG BUDAYA ISLAM Warto, Warto
IBDA Vol 10, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.866 KB) | DOI: 10.34521/ibda.v10i2.61.242-254

Abstract

This paper reveals the development of gamelan in digital formwhich is done in many different forms, ranging from stand-alone e-gamelan,Internet-based e-gamelan, and e-gamelan in mobile devices. Gamelanmusical instruments has been a Javanese cultural identity since time immemorial.Gamelan Javanese cultural identity that has, in fact full of Islamicvalues. Therefore, with the digitization gamelan, this is tantamountto doing good and as a means to draw closer to Allah SWT.
Implikasi Diskursus Kristianitas dalam Serat Dharmogandhul dan Pemikiran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung terhadap Komunitas Kristen Tegalombo Pati dikawati, reni; Sariyatun, Sariyatun; Warto, Warto
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 7 No 2 (2017): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.908 KB)

Abstract

Javanese Christianity construction is not only built on the basis of biblical interpretation. Discourse and knowledge contained in literary texts show the existence of acceptance capacity, communication patterns and adjustments to the cultural context, as well as the important role of the agency. Dharmogandul manuscript is a text that is part of the construction of ideas, values, ideas, about Christianity that is understood by Javanese people. This study aims to examine the dynamics of the Dharmogandul fiber texts and discourses with genealogy approaches, connect and compare with the thoughts of Kiai Ibrahim Tunggul Wulung as a real life context, as well as psychological figures that provide worldview to the Christian community in Tegalombo, Pati. Exploring Dharmogandul fiber genealogy shows that the text originated from the concept of religiosity, in the historical development there was a shift in the meaning of Dharmogandul fiber in syncretic direction, until it became attached and became part of the comparison of formalistic religion. The results of the study showed some contradictions and comparisons in accommodating the discourse of meeting several religions in the Dharmogandul fiber with the real conditions of the Tegalombo Christian community. [Kontruksi Kristen Kejawen tidak hanya dibangun atas dasar penafsiran kitabiah. Wacana dan pengetahuan yang termuat dalam teks sastra menunjukkan adanya kapasitas penerimaan, pola komunikasi, dan penyesuaian konteks kultur, serta peran penting agency. Serat Dharmogandul merupakan salah satu teks yang menjadi bagian dari kontruksi ide, nilai dan gagasan mengenai kekristenan yang dipahami masyarakat Jawa.  Penelitian  ini bertujuan  menelaah dinamika teks dan wacana serat Dharmogandul dengan pendekatan geneologi serta menghubungkan dan membandingkannya dengan pemikiran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung sebagai real life context, sekaligus figur psikologis yang memberikan worldview terhadap komunitas Kristen di Tegalombo, Pati. Jelajah geneologi serat Dharmogandul menunjukkan bahwa teks berawal dari konsep religiusitas kemudian bergesr ke arah sinkretis lalu menjadi bagian dari perbandingan agama formal. Hasil penelitian menujukkan pertentangan dan perbandingan dalam mengakomodasi wacana perjumpaan beberapa agama dalam serat Dharmogandul dengan kondisi riil komunitas Kristen Tegalombo.]
Budaya Gadget di Pondok Pesantren Mitra IAIN Purwokerto Warto, Warto
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.418 KB) | DOI: 10.24090/ibda.v15i2.1060

Abstract

Teknologi telah merambah seluruh kehidupan masyarakat. Pondok pesantren yang menjadi salahs atu elemen masyarakat juga terimbas oleh perkembangan teknologi tersebut. Teknologi gadget kini bisa dimiliki oleh siapapun karena harganya yang semakin terjangkau. Termasuk para santri di pondok pesantren juga dapat memiliki perangkat gadget. Budaya teknologi a) budaya copy-paste, b) budaya like and share, c) budaya solidaritas maya, d) budaya selfie, saat ini populer di masyarakat juga merambah pondok pesantren. Dari beberapa budaya tersebut tentunya ada budaya yang positif dan budaya negative. Pondok pesantren yang menjadi tempat menuntut ilmu agama sudah seharusnya menerapkan berbagai ketentuan dan peraturan pemanfaatan gadget di lingkungan pondok pesantren. Hal tersebut dilakukan agar suasana menuntur ilmu di lingkungan pondok pesantren tidak dirusak oleh kehadiran teknologi gadget yang dibawa oleh para santri. Dari penelitian yang dilakukan di beberapa pondok pesantren mitra IAIN Purwokerto, mayoritas telah memiliki ketentuan dan aturan pemanfaatan gadget di lingkungan pondok pesantren. aturan tersebut juga dilengkapi dengan sanksi bagi para santri yang melanggar ketentuan dan aturan. Ketentuan yang dibuat oleh para pengasuh pondok pesantren adalah berkaitan dengan waktu kapan boleh menggunakan gadget dan kapan tidak boleh menggunakannya. Jika ada santri yang melanggar maka langsung diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku di setiap pondok pesantren. untuk menciptakan budaya teknologi di pondok pesantren yang beradab dan bermoral, para pengasuh dan pengurus beberapa pondok pesantren mengadakan razia atau inspeksi mendadak dengan mengumpulkan dan melihat konten gadget setiap santri. Budaya teknologi yang santun dan beradab dapat dibentuk dari pondok pesantren dengan berbagai aturan dan ketentuan. Budaya teknologi yang baik dapat dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang dibungkus dengan aturan-aturan yang mengikat sehingga timbul keengganan dan kesadaran dari para santri untuk dapat memanfaatkan perangkat gadget dengan baik dan bertanggungjawab.
DAMPAK KOMODIFIKASI TERHADAP PERUBAHAN IDENTITAS TARI TOPENG HITAM Agusta, Tessaniva; Warto, Warto; Supana, Supana
Haluan Sastra Budaya Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/hsb.v1i2.11274

Abstract

This Study discuss the impact  of co-modification of topeng hitam dance as cultural attraction in Ngrawan Village Semarang Regency The results show that co-modification has been taken place since 2012 which was done by the parties concerning with the development of topeng hitam dance which is potential to be a cultural tourism asset. Consequently, it will, economically, give benefits to the people of Semarang Regency; especially for people of Ngrawan Village where the dance originated from, and also, the local tourism agencies. However, despite the beneficial fact in the tourism sector, the co-modification process devastates the historical values and the value of identity of topeng hitam dance due to the commercialization.