Articles

Found 18 Documents
Search

Mitigasi Beban Fosfor dari Kegiatan Budidaya dengan Penebaran Ikan Bandeng (Chanos chanos) Di Waduk Cirata, Jawa Barat Warsa, Andri; Haryadi, Joni; Astuti, Lismining Pujiyani
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v19i2.2669

Abstract

ABSTRACTThe phosphorus loading from aquaculture activity as a product of floating net cages (KJA) in Cirata Reservoir have exceeded the carrying capacity of the aquatic ecology. This results in a decrease in water quality which is characterized by uncontrolled phytoplankton growth. The stocking of fish is one of the ways used in the improvement of the aquatic environment resulting eutrophication. Phosphorus which is wasted from cultivation activity will be utilized by phytoplankton for its growth. The phytoplankton can be utilized by planktivorous fish as its natural feed. One type of fish that can be used for stocking is a planktivora fish as milkfish (Chanos chanos). The purpose of this study was to estimate the load of phosphorus and calculate the number of milkfish seeds which are planktivorous fish that can be stocked with the aim of reducing phosphorus waste from aquaculture activities in Cirata Reservoir, West Java. The result showed that P load from cultivation activity at Cirata Reservoir was 1,206 tons/year. The concentration of chlorophyll-a and the primary productivity produced by the P load from the cultivation activities were 28.6 mg/m3 and 364.6 gC/m2/year respectively. The number of milkfish seeds that can be stocked as an effort to utilize the load of phosphorus as much as 1.8 million/year. The P load can be reduced based on estimation of harvested fish biomass and phosphor requirement for milkfish of 11.52 ton/year.Keywords: Cirata Reservoir, phosphorus loading, stocking, milkfishABSTRAKBeban masukkan fosfor (P) dari kegiatan budidaya ikan dalam keramba jaring (KJA) dari pakan yang terbuang dan sisa metabolisme ikan di Waduk Cirata telah melebihi daya dukung ekologi perairan. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas perairan yang ditandai oleh pertumbuhan fitoplankton yang tidak terkendali. Penebaran ikan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam perbaikan lingkungan perairan akibat dari eutrofikasi. Fosfor di perairan dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya. Fitoplankton tersebut dapat dimanfaatkan oleh ikan planktivora sebagai pakan alaminya.Salah satu jenis ikan yang dapat ditebar (stocking) adalah ikan planktivora yaitu ikan bandeng (Chanos chanos). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi beban masukkan fosfor serta menghitung jumlah benih ikan bandeng yang dapat ditebar dengan tujuan pengurangan limbah fosfor dari kegiatan budidaya di Waduk Cirata, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan beban P yang berasal dari kegiatan budidaya di Waduk Cirata sebesar 1.206 ton/tahun. Konsentrasi klorofil-a dan produktivitas primer yang dihasilkan oleh beban P dari kegiatan budidaya masing-masing sebesar 28,6 mg/m3 dan 364,6 gC/m2/tahun. Jumlah benih ikan bandeng yang dapat ditebar sebagai upaya pemanfaatan beban masukkan fosfor sebanyak 1,8 juta ekor/tahun. Beban P yang mampu dikurangi berdasarkan estimasi biomassa ikan yang dipanen dan kebutuhan fosfor untuk ikan bandeng sebesar ton 11,52 ton/tahun.Kata kunci: Waduk Cirata, beban fosfor, penebaran, bandeng
KEANEKARAGAMAN IKAN DI DANAU SENTANI Astuti, Lismining Pujiyani; Umar, Chairulwan; Warsa, Andri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2478.805 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.3.2006.77-82

Abstract

Danau sentani terletak di Kabupaten Jayapura Propinsi papua dengan luas 9.630 ha yang berfungsi sebagai tempat rekreasi, transportasi, kegiatan perikanan, dan upacara adat. Danau ini mempunyai keanekaragaman ikan baik yang asli (indigencus spesies) yaitu gete-gete (Apogon weichmani, Apogon beauforti), gabus (Oxyeoelotis tineolatus), gabus merah (Ophiocara aporos), sembilang (Hemipimelodus velutinus), rainbow (chilaterina senteniensis, Glossolepis lndicus), gastor (channa sp.) maupun introduksi yaitu nila (Tilapia nilotica), mas (cypinus carplo), tawes puntius orphoides), tambakan (Helostoma temmincki), mata merah (puntius orphoides), sepat (Trichogaster pectoraiis), mujair (tilapia mussambica)
PENANGKAPAN SISTEM NGESAR (ACTIVE SEINE) DI PERAIRAN DAERAH ALIRAN SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN Said, Azwar; Warsa, Andri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2789.873 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.6.2007.203-208

Abstract

Daerah aliran Sungai Musi merupakan salah satu sungai terpanjang dan terbesar di Sumatera dengan panjang mencapai +510 km yang meliputi wilayah hulu (upper stream), wilayah tengah (middle stream), dan wilayah hilir (lower stream). Pada wilayah tengah banyak terdapat rawa banjiran (flood plain). Ngesar adalah kegiatan untuk menangkap ikan yang telah terkonsentrasi baik di sungai maupun di rawa lebak pada puncak musim kemarau atau air surut dengan menggunakan alat bantu berupa arat atau karakat dari jaring (seine) dan pagar bambu atau empang (barrier) sebagai perangkapatau rumah ikan. Ikan yang didapat berjumlah 28 jenis dan yang dominan adalah baung (Mystus nemurus), gabus (Channa striata), lais (Cryptopterus sp.), sapil (Helostoma spp.), tembakang (Helostoma temminckii), dan toman (Channa micropeltes).
EFISIENSI PEMANFAATANENERGICAHAYAMATAHARIOLEHFITOPLANKTON DALAMPROSES FOTOSINTESISDIWADUKMALAHAYU Warsa, Andri; Purnomo, Kunto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.906 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.311-319

Abstract

Cahaya matahari merupakan sumber energi utama yang menentukan produktivitas suatu ekosistem akuatik. Ketersediaan cahaya akan menentukan kecepatan fotosintesis yang akan menentukan kecepatan pertumbuhan produsen primer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi pemanfaatan cahaya matahari oleh fitoplankton di Waduk Malahayu. Penelitian ini dilakukan di Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes, Jawa Barat, pada bulan Oktober 2010. Pengamatan produktivitas primer kotor, kelimpahan fitoplankton, intensitas cahaya, dan klorofil-a dilakukan pada dua stasiun yaitu stasiun keramba jaring apung dan dam pada kedalaman 0,5; 2; dan 4 m dengan metode survei berstrata. Pengukuran produktivitas primer kotor dilakukan dengan metode botol gelap dan terang. Hasil penelitian menunjukkan nilai produktivitas primer kotor diWadukMalahayu berkisar 45,6-121,9 mgC/jamdan konsentrasi klorofil-a berkisar 3,7-11,8mg/m3. Kelimpahan individu fitoplankton diWaduk Malahayu berkisar 100,6-112,67 ind./l dengan genera yang dominan adalah Oscillatoria (Cyanophyceae) dan Peridinium (Dinophyceae). Efisiensi penggunaan cahaya matahari oleh fitoplankton di Waduk Malahayu berkisar 0,5-2,7%. Efisiensi cahaya matahari menurun dengan bertambahnya kedalaman air. Sunlight is primary energy resource that determine the productivity of aquatic ecosystem. Its availability will determines the photosynthetic rate and primary producer growth rate. Study in order to know thr effeciency of sunlight uptake by phytoplankton inMalahayu Reservoir, Brebes Regency, Central Java in October 2010. Sampling were for gross primary productivity, phytoplankton abudance, light intensity, and chlorophyll-a carried at two stations, keramba jaring apung and dam and at three water depth, surface, 2 and 4 m with stratified sampling method. Measurement of gross primary productivity was conducted with dark and ight botle method. Gross primary productivity ranged from 45.6-121.9 mgC/hr with chlorophyll-a concentration between 3.7-11.8 mg/m3. Phytoplankton abundance ranged from 10.06-112.67 ind./l with Oscilatoria and Peridinium as dominant genera. Efficiency of sunlight uptake by phytoplankton ranged from 0.5-2.7% and its value decreased along with an increasing water depth.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN DAN TINGKAT TROFIK DI WILAYAH GENANGAN WADUK JATIGEDE PRAINUNDASI, KABUPATEN SUMEDANG-JAWA BARAT Warsa, Andri; Soewardi, Kadarwan; Hariyadi, Sigid; D, Joni Haryadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 1 (2016): (April 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.219 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.1.2016.29-36

Abstract

Waduk Jatigede dibangun dengan membendung Sungai Cimanuk dan  memiliki luas 4.122 ha serta merupakan waduk multifungsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas ikan dan pemanfaatan sumber daya makanan oleh beberapa jenis ikan yang terdapat di DAS Cimanuk wilayah genangan Waduk Jatigede pra inundasi. Penelitian dilakukan setiap bulan pada Februari-Mei 2015 setiap bulan pada minggu pertama. Sampel ikan diperoleh dengan menggunakan jaring insang, jala, dan pancing. Percobaan penangkapan dilakukan di Sungai Cialing (inlet), Genteng, Cimanuk dan Cinambo (outlet). Ikan yang tertangkap dipisahkan berdasarkan jenisnya dan diukur panjang total serta ditimbang bobotnya. Untuk analisis kebiasaan makan kebiasaan makan, saluran pencernaan diambil dan diawetkan dengan formalin 4%. Untuk identifikasi contoh ikan diawetkan dengan formalin 10%. Ikan yang tertangkap selama penelitian sebanyak 11 jenis. Ikan yang dominan adalah lalawak dan genggehek. Rasio biomassa-kelimpahan ikan menujukkan bahwa komunitas ikan di Waduk Jatigede sebelum penggenangan dalam kondisi terganggu. Jenis makanan alami yang dimanfaatkan oleh komunitas ikan di Sungai Cimanuk wilayah genangan Waduk Jatigede adalah detritus, krustase, annelida, insekta, moluska, tumbuhan dan fitoplankton. Jatigede Reservoir  was build with damming of Cimanuk River has about  4.122 ha surface area as wel as multi purpose reservoir. The aim of the research is to known the fish community structure and trophic level by fishes community at Cimanuk River arround Jatigede Reservoir pre inudated. The research was carried out in February-May 2015. Fish sample was obtained by using gillnet, hook and cast net. The experimental fishings were setting at Cialing (inlet), Genteng, Cimanuk and Cinambo (outlet). Fish sample were separated according speciesand was measured of total lenght. To the analisys of food habits, digestive tract was preserved using formalin 4%. For identification, fish sample  was preserved using formalin 10%. About 11 fish species were recorded. Dominan fish catches were Barbonymus balleroides and Mystacoleucus marginatus. According to Abundance-Biomass Comparisson, fish community was under pressure (unstable). Natural feeds observed were detritus, crustacea, annelida, insecta, molusca, plant and phytoplankton. 
SUNGAI MARO: SALAH SATU SUMBER PLASMA NUTFAH JENIS IKAN ASLI PAPUA Warsa, Andri; Astuti, Lismining Pujiyani; Satri, Hendra
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.303 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.5.2007.183-189

Abstract

Sungai Maro berada di Kabupaten Merauke Propinsi Papua dengan lebar 48 sampai dengan 900 m dan panjang 207 km. Jenis–jenis ikan yang merupakan kekayaan plasma nutfah di Sungai Maro dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu ikan hias antara lain arwana Irian (Sclerophages jardinii), sumpit (Toxotes sp.), kurikil (Datnioides sp.), udang batu cherax (Cherax albertisi), kakap kembang (Golssamia apton), kaca (Parambassis sp.), tung (Apogon sp.), saku (Strongylura kreffti), dan yang berpotensi sebagai ikan konsumsi antara lain tiga duri atau herkules (Arius latirostris), tulang (Megalops cyprinoides), sembilan (Taudonus sp.), mata bulan (Thryssa scratchleyi), gastor (Channa sp.), betok (Anabas sp.), udang putih (Marcobrachium sp.), kakap rawa (Lates calcarifer), dan bulanak(Valamugil sp.). Perlu upaya pengembangan yang mengacu pada prinsip-prinsip konservasi untuk menjaga kelestarian.
PRODUKTIVITAS PRIMERFITOPLANKTONDI SITUPANJALU, KABUPATENCIAMIS, JAWABARAT Warsa, Andri; Purnomo, Kunto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.506 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.245-253

Abstract

Situ Panjalu merupakan badan air yang secara administratif terdapat di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dengan luas 45 ha. Produktivitas primer adalah laju produksi karbon organik per satuan waktu pada suatu ekosistem akuatik yangmerupakan hasil penangkapan energimatahari oleh tumbuhan hijau untuk diubahmenjadi energi kimia melalui fotosintesis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas primer fitoplankton di Situ Panjalu. Penelitian di lakukan pada bulanAgustus 2010. Pengukuran produktivitas primer fitoplankton horisontal dilakukan pada tiga stasiun penelitian yaitu Kampung Duku, BanjarWaru, dan Simpar sedangkan secara vertikal pada kedalaman 0,5 m(permukaan) dan 2 mdenganmetode botol gelap dan terang. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa Situ Panjalu merupakan perairan yang subur (eutrofik dan hipertrofik) dengan nilai produktivitas primerkotor, bersih, dan respirasi masing-masing berkisar antara 47,1-207,8; 2,2-193,8; dan 9,4-173,3 mgC/m3/jam.Kelimpahan individu fitoplankton berkisar 1.006-437.610 ind./L dengan genera yang banyak ditemukan adalah genera Closterium dari kelas Chlorophyceae, genera Oscillatoria dari kelas Cyanophycea, dan genera Peridinium dari kelas Dinophyceae. Panjalu Pond located at Ciamis Regency,West Java Province with area is 45 ha. Primary productivity represents the synthesis of organic matter of aquatic system. The aim of this research to know primary productivity of phytoplankton at Panjalu Pond. This research was done in August 2010 at 3 stations include Kampung Duku, BanjarWaru, and Simpar. Sampling site was at 2 in depth that were surface (0.5 m) and 2 m. Sampling method was done with dark light bottlemethod. Result of the research showed that Panjalu Pondwas eutrophic and hypereutrophic level with gross primary productivity, net primary productivity, and respiration respectively range from 47.1- 207.8; 2.2-193.8; and 9.4-173.3 mgC/m3/h. Abundance of phytoplankton range from 1,006-437,610 ind./L with dominant genera Closterium from class Chlorophyceae, genera Oscillatoria from class Cyanophycea, and genera Peridinium from class Dinophyceae.
KONDISI LINGKUNGAN DAN TERUMBU KARANG DI DAERAH PERLINDUNGAN LAUT PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU Warsa, Andri; Purnawati, Baiq Ida
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.538 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.2.2010.115-121

Abstract

Kawasan Kepulauan Seribu merupakan bagian dari wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, terletak pada posisi geografis antara 106°25’-106°40’ BT dan 05°24’-05°45’ LS. Daerah perlindungan laut adalah daerah yang ditutup secara permanen di mana semua kegiatan penangkapan ikan dan kegiatan lain dilarang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi lingkungan di daerah tersebut pada bulan April dan Juli 2007. Pengamatan kondisi ekosistem terumbu karang dilakukan dengan metode transek garis (line intercept transect) sepanjang 50 m sejajar garis pantai dan pengamatan kondisi oseanografi lima stasiun pengamatan. Hasil penelitian menunjukan kondisi oseanografi di daerah perlindungan laut Pulau Pramuka layak untuk kehidupan biota laut dengan konsentrasi oksigenterlarut berkisar antara 2,55-4,19 mg/L, salinitas berkisar antara 32-32,5o/oo, kecerahan berkisar antara 2-10 m, dan derajat keasaman (pH) berkisar antara 7,85-7,99. Kondisi kesehatan karang adalah sedang dan baik dengan persentase tutupan karang berkisar antara 30-75%. Seribu Islands region located at 106°25’-106°40’ E and 05°24’-05°45’ S which is a part of Jakarta Province. Marine protected area is a closed site permanently where extractive activity is prohibited, mainly fishing activity and the aim of this program is to conserve coastal resource. The aim of this research was to know environmental condition of Pramuka Island marine protected area at Seribu Islands. The research was done at marine protected area of Pramuka Island in April and July 2007. Monitoring of coral reef ecosystem was done with line intercept transect method along 50 m parallel with shore line and oceanography condition at 5 stations. The result of this research shown that oceanography condition at marine protected area of Pramuka Island was suitable for marine biota life with dissolved oxygen between 2.55-4.19 mg/L, salinity between 32-32.5o/oo, transparency between 2- 10 m, and pH between 7.5-7.99. Coral reef healthy condition is medium and good with percent covered between 30-75%.
INTERAKSI PEMANFAATAN PAKAN ALAMI OLEH KOMUNITAS IKAN DI WADUK PENJALIN, JAWA TENGAH Hedianto, Dimas Angga; Purnomo, Kunto; Warsa, Andri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.548 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.1.2013.33-40

Abstract

Faktor ketersediaan pakan alami di perairan waduk dapat menentukan komposisi dan penyebaran serta proses adaptasi beberapa jenis ikan (adaptasi dari lingkungan mengalir menjadi tergenang). Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji interaksi dalam memanfaatkan pakan alami yang tersedia dari komunitas ikan di Waduk Penjalin. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2011 menggunakan jaring insang percobaan (ukuran 1-3 inci dengan interval 0,25 inci) dan hasil tangkapan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan beunteur (Puntius binotatus), nila (Oreochromis niloticus) dan tawes (Barbonymus gonionotus) tergolong sebagai planktivora dengan makanan utama berupa fitoplankton masing-masing sebesar 92,23%, 86,91% dan 70,00%. Ikan nilem (Osteochilus vittatus) tergolong sebagai herbivora dengan makanan utama berupa tumbuhan/makrofita sebesar 100,00%. Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) dan manila gift (Parachromis managuensis) tergolong sebagai predator dengan makanan utama berupa ikan masing-masing sebesar 89,33% dan 95,34%. Ikan manila gift merupakan jenis ikan introduksi yang saat ini mendominasi perairan Waduk Penjalin. Interaksi komunitas ikan dalam memanfaatkan pakan alami cenderung memiliki kompleksitas yang rendah. Hal ini diduga akibat tingginya tingkat predasi oleh ikan predator asing, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan antara jumlah ikan predator dan ikan yang dimangsa.The availability of food resources in water reservoir determine the composition, dispersal rate and adaptation of some species of fish (an adaptation from riverine to lacustrine). The purpose of this study is to analysing the interaction in utilizing the available of natural resources by fish communities in Penjalin Reservoir. Research was done on June and August 2011 using experimental gillnets (size 1-3 inches with intervals about 0.25 inches) and the catch of fishermen. The results showed that spotted barb (Puntius binotatus), nile tilapia (Oreochromis niloticus) and silver barb (Barbonymus gonionotus) classified as planktivora with the primary food were phytoplankton respectively 92.23%, 86.91% and 70.00%. Bonylip Barb (Osteochilus vittatus) classified as herbivores with the primary food were plant/macrophyte 100.00%. Marble goby (Oxyeleotris marmorata) and jaguar guapote (Parachromis managuensis) classified as a predator with the primary food were fish (prey) respectively 89.33% and 95.34%. Jaguar guapote was aliens species who dominated Penjalin Reservoir. Interaction of food resource utilization of fish communities in Penjalin Reservoir tend to have a lower complexity. This is due to the high levels of predation by dominance of alien predatory species, thus resulting in an imbalance comparison between population of predator and prey.
DETERMINING MONOFILAMENT GILLNET OPTIMUM MESH SIZE TO MITIGATE Amphilophus citrinellus POPULATION OUTBREAKS IN IR.H.DJUANDA RESERVOIR Tampubolon, Prawira A.R.P.; Pradana, Imanda Hikmat; Warsa, Andri
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 21, No 2 (2015): (December 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.13 KB) | DOI: 10.15578/ifrj.21.2.2015.67-74

Abstract

Gillnet is the most common fishing gear used by fishers in Ir. H. Djuanda Reservoir. Currently, gillnet catches are dominated by midas cichlid (Amphilophus citrinellus) which is not the main target catch. To some extent, their presence is even considered intrusive by the fishers. The aim of this study is to reveal the optimum gillnet mesh size in catching this alien species, which in turn can be useful to control the fish population in Ir. H. Djuanda Reservoir. The study was conducted from August 2011 to January 2012. The mesh size of the gillnets were 1, 1.5, 2, 2.5, 3, and 3.5 inches. The total midas cichlid caught were 628 fish which were mostly caught in 1.5 inches sized gillnet. Length first mature fish is 13.31 cm. The optimum size of fish caught in the mesh of 1.5, 2, 2.5, 3, and 3.5 inches are 9.7, 12.9, 16.2, 19.4, and 22.6 cm, respectively.