Articles

MORPHOMETRIC STUDY OF TWO INDONESIAN MANTIS SHRIMPS (Harpiosquilla raphidea and Oratosquillina gravieri) (Studi morfometrik dua jenis udang mantis Indonesia (Harpiosquilla raphidea dan Oratosquillina gravieri)) Wardiatno, Yusli; Mashar, Ali
Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.133 KB)

Abstract

Dua jenis udang mantis Indonesia, Harpiosquilla raphidea dan Oratosquillina gravieri, variasi karakter morfometrik [Panjang Kubo (BL), panjang capit (CL), lebar capit (CW), dan panjang penis (PL)] dikaji berdasarkan hasil tangkapan dari pantai berlumpur di Kuala Tungkal, Jambi, Sumatera. Hubungan alometri dibuat dengan kombinasi dua karakter morfometrik, dimana BL dijadikan sebagai faktor tetap pada sumbu x; hasilnya memperlihatkan bahwa nilai CL, CW, dan PL meningkat secara linear seiring peningkatan nilai BL. Hail analisis kovarians mengindikasikan bahwa panjang capit jantan H.raphidea lebih panjang daripada panjang capit jantan O.gravieri. Karakter ini mungkin merupakan faktor dibalik superioritas kemampuan kompetisi H. raphidea terhadap O. gravieri ketika keduanya hidup berdampingan.   Kata kunci: udang mantis, kajian morfometri, Harpiosquilla raphidea, Oratosquillina gravieri
TOKSISITAS AKUT (LC50) SERBUK BOR (Cuttings) TERHADAP Daphnia sp. Effendi, Hefni; Emawan, Aditya Herry; Wardiatno, Yusli; Krisanti, Majariana
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 12, No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research was aimed at determining toxicity of drilling cuttings towards Daphnia, revealed in LC50 96 hours, meaning that cuttings concentration cause 50% population of Daphnia within the period of 96 hour observation. LC50 96 hour is utilized for preliminary strategy of managing drilling cuttings. Static test was applied at the main bioassay experiment.  Mortality was as an indicator of toxicity.  Bioassay experiment refers to US-EPA (1991, 1996, 2002); Ziehl and Schmitt (2000).  Mortality and water quality fluctuation were observed at hours 2, 4, 6, 8, 24, 48, 72, and 96. Determination of LC50 96 hour was carried out by the method of Probit Analysis.  Manual count and software EPA Probit Analysis Version 1.5 were applied. LC50 96 hours cuttings towards Daphnia is 22.177 - 22,208 ppm.  This indicates that cuttings has almost non-toxic characteristic.  However, disposal of these cuttings needs oil content measurement.  If oil content meets regulation (? 10%), cuttings is allowed to be discharged to the surrounding terrestrial environment.
Dolphins Encountered in Kepulauan Seribu Wardiatno, Yusli; Irfangi, Chikarista; Hestirianoto, Totok
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3198.622 KB)

Abstract

Kepulauan Seribu has been considered as one of the dolphin migration routes. This is based on the number of reports from fishermen and communities in Kepulauan Seribu on the existence of cetacean. The purpose of this study was to assess the type, behavior, deployment location, and estimate the number of dolphins found in Kepulauan Seribu. Research was conducted on May 10th to May 27th, 2010 and 22nd June to 3 July 2010. Observations were made every day, except Friday, and started at 7:00 a.m. to 6:00 pm. Observation by boat was used in the research. Observation of the amount, type, and behavior of cetacean had been done visually. Based on research results, it can be concluded that the species of dolphins found in Kepulauan Seribu are Delphinus delphis, Pseudorca crassidens, Stenella longirostris, and Tursiops truncatus, with a total number of 145 individuals. Species of dolphins are most often found is T. truncatus, whereas the least common type is Delphinus delphis. In addition there are also calf and unidentified species. The location of the encounter with the dolphins most often occurs around Pulau Gosong Congkak (Karang Congkak) and Karang Lebar. Judging from the observed behavior, it can be said that Kepulauan Seribu is a foraging area and migration routes for cetacean. In addition, Kepulauan Seribu was also considered as nursery ground for calf. Key words : Cetacean, dolphin, Kepulauan Seribu Kepulauan Seribu diduga sebagai salah satu rute migrasi berbagai jenis lumba-lumba.  Hal ini didasarkan pada jumlah laporan dari nelayan dan masyarakat di Kepulauan Seribu pada keberadaan lumba-lumba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai jenis, perilaku, lokasi penyebaran, dan estimasi jumlah dan jenis Cetacean yang ditemukan di Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan pada 10-27Mei dan 22 Juni-3 Juli 2010. Pengamatan dilakukan setiap hari, kecuali hari Jumat, mulai jam 7:00-18:00. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi dengan menggunakan perahu motor. Pengamatan jenis, jumlah, dan perilaku  lumba-lumba telah dilakukan secara visual. Berdasarkan hasil penelitian,dapat disimpulkan bahwa spesies lumba-lumba yang ditemukan di Kepulauan Seribu adalah Delphinus  delphis, Pseudorca crassidens, Stenella longirostris, dan Tursiops truncatus, dengan jumlah total 145 individu. Spesies lumba-lumba yang paling sering ditemukan adalah T. truncatus, sedangkan tipe paling umum adalah Delphinus delphis. Selain itu ditemukan juga bayi lumba-lumba dan spesies yang tidak teridentifikasi. Lokasi perjumpaan dengan lumba-lumba paling sering terjadi di sekitar Pulau Gosong Congkak (Karang Congkak) dan Karang Lebar.  Dilihat  dari  perilaku yang diamati, dapat dikatakan bahwa Kepulauan Seribu merupakan daerah mencari makan  dan  rute  migrasi Cetacean. Selain itu, Kepulauan Seribu juga  diduga sebagai daerah asuhan bagi bayi lumba-lumba. Kata kunci : Cetacean, lumba-lumba, Kepulauan Seribu
Population Dynamics of the Indonesian Mantis Shrimp, Harpiosquilla raphidea (Fabricius 1798) (Crustacea: Stomatopoda) Collected from a Mud Flat in Kuala Tungkal, Jambi Province, Sumatera Island Wardiatno, Yusli; Mashar, Ali
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.225 KB)

Abstract

This study aim was to reveal the population structure, growth, life span and exploitation rate of mantis shrimp (Harpiosquilla raphidea Fabricius, 1798). This research was conducted in Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi from July 2009 to June 2010 and partially carried out periodically. The results showed the difference in group size distribution between the mantis shrimp caught in the intertidal and those caught in subtidal areas. The length of the mantis shrimps in the intertidal area ranged from 25 to 233 mm with the dominant length was 7996 mm, while in the subtidal area the length ranged from 160-366 with dominant length between 193-258 mm. Growth coefficient (K) was 0.14 for males and 0.11 for females; while L∞ was the same for the two sexes, i.e. 381.68 mm. The life-span of the shrimp was estimated to be 6.7 to 8.5 years. The value of exploitation rate (E) was 0.42 indicating a not optimum exploitation rate of the shrimp. Key words: mantis shrimp, growth, exploitation rate, life-span, Kuala Tungkal Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan struktur populasi, pertumbuhan, lama mass hidup, dan laju ekspoitasi dari udang mantis (Harpiosquilla raphidea Fabricius, 1798). Penelitian ini dilakukan secara periodik di Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi dari Juli 2009 hingga Juni 2010. Hasil penelitian memperlihatkan adanya dua kelompok ukuran yang berbeda di daerah intertidal dengan di daerah subtidal. Ukuran panjang udang mantis yang hidup di daerah intertidal berkisar 25-233 mm dengan kelompok dominan berukuran 79-96 mm, sedangkan di daerah subtidal ukuran panjang udang mantis adalah 160-366 mm dengan kelompok dominan berukuran 193-258 mm. Koefisien pertumbuhan (K) adalah 0,14 untuk jantan dan 0,11 untuk betina; sementara L∞ kedua jenis kelamin adalah sama yakni 381,68 mm. Lamanya masa hidup jenis udang mantis ini diperkirakan antara 6,7 sampai 8,5 tahun. Nilai laju eksploitasi (E) sebesar 0,42 mengindikasikan laju yang belum optimum. Kata kunci: Udang mantis, pertumbuhan, laju eksploitasi, masa hidup, Kuala Tungkal
Development Strategy of Yellow Tail Fusilier Fish (Caesio cuning) Resources Management on Coral Ecosystem in The Seribu Islands Zamani, Neviaty P; Wardiatno, Yusli; Nggajo, Raimundus
SAINTEK PERIKANAN Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.519 KB)

Abstract

Population of Yellow tail fusilier fish (Caesio cuning) in Seribu Islands at this time has decreased. The main cause of decreasing in abundance of the fish is due to degradation of coral reef ecosystem as a habitat of the fish. The purposes  of the study is  to examine the association of  Yellow tail fusilier fish resources with habitat characteristics. The study was conducted in the Seribu Islands waters on May 2009, at the four islands, each consisting of two observation locations. Percentage benthic  substrate cover, and the number of coral lifeform using the Square Transect method, while to see the abundance of the fish resources using Underwater Visual Cencus. Benthic substrate cover was dominated by abiotic cover (36.42%), hard coral cover was in fair condition (32.27%), dominated by foliose coral, massive coral, acropora branching and encrusting coral. The abundance of Yellow tail fusilier fish was 67 individu/250 m2. North Pramuka, West Panggang, and South Panggang was only observed some small fishes. Closing area can be implemented for management purposes with the combination of introducing brooder.  In vise versa East Pramuka and East Kayu Angin have been observed only adult fishes. Closing area can be implemented for management purposes with the combination of introducing juveniles. In West Kayu Angin closing area can be implemented to give the opportunity juvenile for growing and adult for breading.  South Belanda have all range of size fishes as well as good condition of habitat. It is therefore, this can be developed as marine protected area with eco-freienly marine tourism activities. Keywords: coral reef ecosystem, fish resources, yellow tail fusilier fish, habitat linkages, Seribu islands.
A Short Review on the Recent Problem of Red Tide in Jakarta Bay: Effect of Red Tide on Fish and Human Wardiatno, Yusli; Damar, Ario; Sumartono, Bambang
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.935 KB)

Abstract

Red tide atau sering disebut blooming fitoplankton merupakan fenomena alam yang sering terjadi. Nampaknya frekuensi, intensitas dan distribusi blooming fitoplankton meningkat dalam 10 tahun belakangan ini. Red tide dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana tanaman sel satu berukuran kecil yang hidup di laut dan tumbuh dengan sangat cepat dan terakumulasi dalam suatu kumpulan yang mudah terlihat  di permukaan air laut. Kejadian red tide sangat terkait dengan eutrofikasi dan kondisi lingkungan yang mendukung, seperti kecukupan cahaya, kondisi suhu yang sesuai, dan masukan bahan organik dari daratan setelah hujan besar. Efek langsung red tide terhadap ikan sangat merusak insang, baik secara mekanis ataupun melalui pembentukan bahan kimia beracun, neurotoksin, hemolitik atau bahan penggumpal darah, yang dapat menyebabkan kerusakan fisiologi insang, organ utama (seperti hati), usus, sistem sirkuler atau pernapasan, ataupun mengganggu proses osmoregulasi. Sebaliknya, efek tidak langsung red tide adalah akibat penggunaan oksigen yang berlebihan untuk respirasi dan pembusukan kumpulan fitoplankton. Beberapa organisme penyebab red tide dapat membahayakan manusia apabila manusia makan hewan filter feeder (seperti ikan atau kerang) yang mengandung racun organisme red tide yang telah dimakan ikan atau kerang tersebut.Kata kunci: red tide, eutrofikasi, Teluk Jakarta.
(Nisbah Kelamin pada Populasi Nihonotrypaea japonica (Ortmann, 1891) (Decapoda: Thalassinidea: Callianassidae), yang Berasal dari Mulut Sungai Shirakawa, Bagian Tengah Perairan Estuari Ariake, Kyushu Barat, Jepang) Wardiatno, Yusli
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2004): Juni 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.6 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di sebuah pantai intertidal berpasir yang terbentuk di muara Sungai Shirakawa, pada wilayah tengah perairan estuary Ariake Sound, Kyushu Barat, Jepang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas nisbah kelamin populasi Nihonotrypaea japonica dari sudut pandang ilmu biologi. Pengambilan contoh dilakukan selama 21 kali saat pasang purnama selama periode antara tanggal 20 April 1999 sampai 18 April 2000. Dengan mengacu pada jarak waktu sampling, penelitian ini terbagi atas 2 bagian: (1) antara 20 April – 22 November 1999, pengambilan contoh dilakukan setiap 2 minggu sekali, dan (2) antara 22 Desember 1999 – 18 April 2000, pengambilan contoh dilakukan satu bulan sekali. Pengumpulan spesimen dilakukan dengan bantuan alat ‘yabby pumps’ pada saat air surut. Contoh yang terkumpul selama penelitian terdiri atas 5 628 betina, 4 385 jantan, dan 346 individu tak teridentifikasi jenis kelaminnya, sehingga nisbah kelamin secara keseluruhan bias ke betina. Namun demikian, dengan membagi populasi ke dalam beberapa kelas ukuran, ada pola nisbah kelamin yang terlihat, dan pola ini nampaknya berkaitan dengan aspek biologi reproduksi udang tersebut.Kata kunci: nisbah kelamin, udang lumpur, thalassinidea, callianassidae, Nihonotrypaea japonica, AriakeSound.
AFINITAS SPESIES PADA KOMUNITAS ENDOPSAMMON DI ZONE INTERTIDAL DALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT Bagus Jelantik Swasta, Ida; Soedharma, Dedi; Boer, Mennofatria; Wardiatno, Yusli
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.682 KB)

Abstract

Sebagai benthos hewani yang berukuran kecil dan menghuni ruang-ruang interstisial, endopsammon memiliki peranan ekologis yang amat penting dalam ekosistem laut. Karena itu, mengkaji aspek ekologi endopsammon sangat menarik. Afinitas spesies merupakan salah satu aspek ekologi yang amat penting untuk dipelajari. Dua aspek afinitas spesies yang sangat penting untuk dikaji adalah tumpang tindih relung dan asosiasi spesies khususnya dalam kaitannya dengan tingkat kekerabatan spesies dalam komunitas endopsammon.Dua tujuan yang ingin dicapai penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui secara pasti apakah tumpang tindih relung dan asosiasi spesies terjadi dalam komunitas endopsammon dan 2) untuk mengetahui secara pasti apakah tingkat tumpang tindih relung dan tingkat asosiasi spesies dipengaruhi oleh tingkat kekerabatan di antara spesies endopsammon. Beberapa lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pantai Teluk Terima, pantai Labuhan Lalang, dan pantai Teluk Banyuwedang yang berada dalam kawasan Taman Nasional BaliBarat. Di semua lokasi ini dibuat 25 stasiun penelitian, dan di setiap stasiun contoh substrat diambil pada tiga tingkat kedalaman yaitu 0-5 cm, 5-10 cm, dan 10-15 cm. Contoh substrat diambil dengan menggunakan core, sedangkan ekstraksi contoh dilakukan dengan metode Uhlig, metode pembasuhan dan metode pengapungan. Spesimen yang didapat diawetkan dengan menggunakan larutan formalin 10 %, dan diwarnai dengan larutan Rose Bengal. Pengamatan dan identifikasi specimen dilakukan dengan menggunakan mikroskop. Data yang didapat dianalisis dengan pendekatan statistik. Beberapa hasil dari penelitian ini adalah: 1) secara umum, diantara spesies endopsammon terjadi tumpang tindih relung dan asosiasi, dan 2) tingkat tumpang tindih relung dan tingkat asosiasi spesies dipengaruhi oleh tingkat kekerabatan diantara spesies endopsammon.Kata kunci: endopsammon, tumpang tindih relung, asosiasi spesies.
PENGARUH KONTAMINASI LOGAM BERAT DI SEDIMEN TERHADAP KOMUNITAS BENTIK MAKROAVERTEBRATA: STUDI KASUS DI WADUK SAGULING-JAWA BARAT Sudarso, Yoyok; Wardiatno, Yusli; Sualia, Ita
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.066 KB)

Abstract

Waduk Saguling sekarang ini mengalami beberapa permasalahan yang serius antara lain penurunan kualitas air oleh kontaminasi bahan organik, logam berat, pestisida dan bahan mikropolutan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya kontaminasi logam berat di sedimen dan dampaknya pada komunitas bentik makroavertebrata. Penarikan contoh telah dilakukan pada bulan Juni hingga September 2004. Hasil penelitian menunjukkan kontaminasi logam Pb dan Cu di sedimen yang paling berpotensi menimbulkan gangguan pada ekosistem perairan, sedangkan logam Cd masih di bawah beberapa guideline kualitas sedimen. Penelitian ini juga mengindikasikan beberapa atribut biologi seperti: indek diversitas, kekayaan taxa, dan Indeks BMWP relatif sensitif untuk mendeteksi gangguan ekologi yang disebabkan oleh peningkatan kontaminasi logam berat di sedimen.Kata kunci: logam berat, sedimen, bentik makroavertebrata, Waduk Saguling.ABSTRACT
PENEMPELAN MUSIMAN PARASIT BOPYRID PADA UDANG LUMPUR, Nihonotrypaea japonica (Ortmann, 1891) DAN EFEKNYA TERHADAP KERAGAAN REPRODUKTIF BETINA Wardiatno, Yusli
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.031 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penempelan musiman sejenis bopyrid parasit pada udang lumpur, Nihonotrypaea japonica, dan untuk mengkaji efek penempelannya terhadap keragaan reproduktif udang lumpur betina. Pengambilan contoh dilakukan selama 21 kali pada saat pasang purnama antara tanggal 20 April 1999 hingga 18 April 2000 di 3 (tiga) stasiun tetap pada suatu daerah intertidal pantai berpasir muara Sungai Shirakawa, perairan estuari Ariake, Kyushu Barat, Jepang. Penempelan parasit, baik pada jantan maupun betina, dicatat dengan indikasi pembengkakan ruang insang. Efek penempelan parasit terhadap keragaan reproduktif udang betina diukur dengan membandingkan indek perkembangan ovari betina berparasit, betina tidak berparasit, dan total betina keseluruhan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penempelan parasit pada jantan lebih tinggi dibandingkan pada betina, meskipun nisbah kelamin memperlihatkan lebih banyak betina dibandingkan jantan. Indeks perkembangan ovari menunjukkan bahwa efek penempelan parasit terhadap keragaan reproduktif lebih bersifat individual.Kata kunci: parasit bopyrid, udang lumpur, callianassidae, pantai berpasir, perairan estuari Ariake, Kyushu.
Co-Authors , Yonvitner Abd Saddam Mujib, Abd Saddam Abdul Hamid Abukena, Safrudin La Achmad Fahrudin ACHMAD FARAJALLAH Aditya Herry Emawan Agus Alim Hakim, Agus Alim Agus Priyono Agustinus M Samosir Ahyar, . Akrom Muflih, Akrom Ali Mashar Aliati Iswantari Alpinina Yunitha Anna Rejeki Simbolon Anna Rejeki Simbolon, Anna Rejeki Arie Prabawa, Arie Ario Damar Ariyanto, Dafit Ariyanto Asep Sahidin Bambang Sumartono Bambang Widigdo Batu, Djamar T.F.Lumban Chikarista Irfangi Dafiuddin Salim, Dafiuddin Damora, Adrian Daniel Djoko Setiyanto, Daniel Djoko DEDI SOEDHARMA Dewi, Nina Nurmalia Dietriech G. Bengen Dietriech Geoffrey Bengen Djalil, Vella Nurazizah Djamar T.F. Lumban Batu, Djamar T.F. Lumban Dyah Muji Rahayu, Dyah Muji Eka Syaputra, Dedy Erwyansyah, . Estri Octora Farmelia Etty Riani Fifi Widjaja Forcep Rio Indaryanto Forcep Rio Indaryanto Fredinan Yulianda Gilang Rusrita Aida Gunawan Pratama Yoga, Gunawan Pratama Harpasis S. Sanusi Hefni Effendi Herry Purnomo Ida Bagus Jelantik Swasta Iman Rusmana Irma Minarti Harahap, Irma Minarti Isdradjad Setyobudiandi Isdradjat Setyobudiandi Ita Sualia Jojok Sudarso, Jojok Khouw, Abraham S Kumalah, Ayu Annisa Luky Adrianto M Mukhlis Kamal, M Mukhlis M. Ali Sarong M. Tahmid, M. Made Ayu Pratiwi Mahsar, Ali Majariana Krisanti Makoto Tsuchiya Mardiansyah Mardiansyah, Mardiansyah Marpaung, Lydia Safriyani Meilana, Lusita Mennofatria Boer Mintje Wawo Mohammad Mukhlis Kamal Muhammad Eidman, Muhammad muhammad nur arkham Mulyana, Jeane Siswitasari Nandy Kosmaryandi, Nandy Neviaty P Zamani Niken T.M Pratiwi, Niken T.M Noar Muda Satyawan Nurlisa A Butet, Nurlisa A Nurlisa A. Butet Nurlisa Alias Butet, Nurlisa Alias P . Zamani, Neviaty Parinding, Zeth Poppy Yulianti Purnama, Iya Rachman, Hamdani Rachmanzah, Dicky Rahman Rahman Rahmat Kurnia Raimundus Nggajo Richardus F. Kaswadji, Richardus Risa Tiuria Sahidin, Asep Sambas Basuni Shelly Tutupoho Siti Anindita Farhani Suryanto, Hadi Syarviddint Alustco, Syarviddint Taslim Arifin Totok Hestirianoto TRI PRARTONO Tridoyo Kusumastanto Tyas Dita Pramesthy Wahyu Muzammil, Wahyu Woro Anggraitoningsih, Woro Yoyok Sudarso Yudi Wahyudin, Yudi Yuyun Qonita, Yuyun Zairion, Zairion Zeth Parinding, Zeth Zulfikar ,, Zulfikar