Setiyani Wardhaningtyas
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

APRESIASI CERPEN “OTSUBERU TO ZOO” KARYA MIYAZAWA KENJI DENGAN METODE STRUKTURAL GENETIK Wardhaningtyas, Setiyani
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Goldmann, sebagai pencetus teori struktural genetik, menyatakan adanyahubungan homologi antara karya sastra dengan dunia nyata. Akan tetapi,hubungan itu bukan hubungan langsung melainkan dimediasi oleh pandangandunia pengarang. Melalui karya sastra, pengarang menciptakan dunianyasendiri, yaitu dunia imajinatif. Tiga hal penting dalam struktural genetik yangdijadikan objek data penelitian, yaitu struktur karya sastra, latar belakangsosial historis masyarakat, dan pandangan dunia (worldview) pengarang.Cerpen yang berjudul “Otsuberu to Zoo” karya Miyazawa Kenji menarik untukditeliti karena isi cerpen tersebut menceritakan tentang dunia imajinatif yangdijadikan simbol untuk menyindir kehidupan dunia nyata yang terjadi di Jepangpada saat itu. Isi cerpen tersebut menceritakan tentang seekor gajah yangbekerja di sebuah tempat penggilingan padi milik Ostuberu. Di tempatpenggilingan padi tersebut, sang gajah bekerja sangat keras, bahkan sampai iasendiri tidak kuat menanggung beban kerjanya. Akan tetapi, sang gajahdikurung dan tidak mempunyai pilihan hidup lainnya, sang gajah tidak bisaberbuat apa pun selain melaksanakan pekerjaan tersebut. Pada akhirnya, sanggajah menyadari bahwa ia bisa mempunyai kehidupan yang lain, dan ia bisamelarikan diri dari tempat bekerjanya setelah ia meminta tolong kepadateman-temannya. Struktur karya sastra yang diteliti adalah plot, tema,penokohan, dan latar. Latar belakang sosial historisnya adalah kehidupanpetani Jepang pada masa awal Meeji, dan pandangan dunia pengarang adalahkeadilan. Dari ketiga objek data tersebut, penulis menyimpulkan bahwa temacerpen “Otsuberu to Zoo” merupakan refleksi dari latar belakang historis, yaitumasalah sosial, dalam hal ini adalah ketidakadilan dan ketamakan kaum kapitalterhadap para petani Jepang pada masa awal Meeji.Kata kunci: Struktural genetik, struktur karya sastra, latar belakang sosial-historis,pandangan dunia.
ANALISIS KESULITAN PENGGUNAAN SETSUZOKUSHI DALAM SAKUBUN PADA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES maulana, imam; Wardhaningtyas, Setiyani; prasetiani, dyah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setsuzokushi adalah kelas kata yang dipakai untuk menghubungkan atau merangkaikan kalimat dengan kalimat atau merangkaikan bagian-bagian kalimat. Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan, masih adanya kesalahan dalam penggunaan setsuzokushi. Dari hasil tersebut peneliti menduga adanya kesulitan penggunaan setsuzokushi dalam membuat karangan bahasa Jepang. Berdasarkan paparan tersebut, untuk dapat mengetahui kesulitan, faktor penyebab dan solusi yang dilakukan mahasiswa dalam menggunakan setsuzokushi secara rinci perlu untuk dilakukan suatu penelitian. Pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes angkatan tahun 2012 yang mengambil mata kuliah sakubun semester enam. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode dokumentasi dan angket. Hasil dari data dokumentasi nantinya untuk menguatkan jawaban dari responden melalui angket pada pertanyaan nomor 2-8. Kemudian data yang diperoleh melalui angket dianalisis dengan klasifikasi interpretasi jumlah prosentase jawaban. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes mengalami kesulitan pada penggunaan setsuzokushi adalah mahasiswa tidak terlalu memperdulikan penggunaan setsuzokushi ketika mengarang, sehingga tidak ada usaha dari mahasiswa untuk mengetahui makna dan penggunaannya. Hal tersebut dikarenakan kurang ditekankan pada mahasiswa tentang pentingnya penggunaan setsuzokushi, serta mahasiswa cenderung tidak melakukan review pada hasil koreksi sakubun, sehingga mahasiswa tidak mempersiapkan atau mempelajari kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya.
APRESIASI CERPEN “OTSUBERU TO ZOO” KARYA MIYAZAWA KENJI DENGAN METODE STRUKTURAL GENETIK Wardhaningtyas, Setiyani
Lingua Vol 5, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Goldmann, sebagai pencetus teori struktural genetik, menyatakan adanyahubungan homologi antara karya sastra dengan dunia nyata. Akan tetapi,hubungan itu bukan hubungan langsung melainkan dimediasi oleh pandangandunia pengarang. Melalui karya sastra, pengarang menciptakan dunianyasendiri, yaitu dunia imajinatif. Tiga hal penting dalam struktural genetik yangdijadikan objek data penelitian, yaitu struktur karya sastra, latar belakangsosial historis masyarakat, dan pandangan dunia (worldview) pengarang.Cerpen yang berjudul “Otsuberu to Zoo” karya Miyazawa Kenji menarik untukditeliti karena isi cerpen tersebut menceritakan tentang dunia imajinatif yangdijadikan simbol untuk menyindir kehidupan dunia nyata yang terjadi di Jepangpada saat itu. Isi cerpen tersebut menceritakan tentang seekor gajah yangbekerja di sebuah tempat penggilingan padi milik Ostuberu. Di tempatpenggilingan padi tersebut, sang gajah bekerja sangat keras, bahkan sampai iasendiri tidak kuat menanggung beban kerjanya. Akan tetapi, sang gajahdikurung dan tidak mempunyai pilihan hidup lainnya, sang gajah tidak bisaberbuat apa pun selain melaksanakan pekerjaan tersebut. Pada akhirnya, sanggajah menyadari bahwa ia bisa mempunyai kehidupan yang lain, dan ia bisamelarikan diri dari tempat bekerjanya setelah ia meminta tolong kepadateman-temannya. Struktur karya sastra yang diteliti adalah plot, tema,penokohan, dan latar. Latar belakang sosial historisnya adalah kehidupanpetani Jepang pada masa awal Meeji, dan pandangan dunia pengarang adalahkeadilan. Dari ketiga objek data tersebut, penulis menyimpulkan bahwa temacerpen “Otsuberu to Zoo” merupakan refleksi dari latar belakang historis, yaitumasalah sosial, dalam hal ini adalah ketidakadilan dan ketamakan kaum kapitalterhadap para petani Jepang pada masa awal Meeji.Kata kunci: Struktural genetik, struktur karya sastra, latar belakang sosial-historis,pandangan dunia.
ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PRAKTIKAN BAHASA JEPANG UNNES TAHUN 2015 DALAM MENGELOLA KELAS Rohanawati, Retno; Diner, Lispridona; Wardhaningtyas, Setiyani
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 2 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Practice teaching (PPL) is a student activity carried out in the school to integrate the theoretical knowledge gained from university. In accordance with nature as a means of forming ability of teacher that is applied directly in the field, the most important component in the PPL are teaching basic skills training. With basic skills and good teaching, a teacher will be to create a situation, condition and learning environment that can encourage students to get optimal achievement. Based on experience and interview as a preliminary study, the most important problems faced by students are to manage the class. The aim of this research is to find out what are the difficulties in managing a class, its causes and how to overcome these difficulties. The approach used in this research is quantitative descriptive. Population and sample in this research is a Japanese language education student who has done the teaching practice in 2015. A data collection technique in this research is using a questionnaire. A data analysis technique in this research is using descriptive percentages. Based on the survey results that the difficulty of Japanese language education student is controlling a rowdy class with percentages 82.3 %, providing for students who make noise with percentages 75.9 %, and developing the ability to ask with percentages 64.2%.  The cause of the difficulty is the lack of understanding of the character of students with percentages 82.3 %, lack of ability to master classes with many pupils capacity with percentages 78.4 %, in conveying the material is not really fluent with percentages 65.6%. The solutions most often performed by the students are observatory in the classroom when teaching colleagues with percentages 86.7 %.Practice teaching (PPL) is a student activity carried out in the school to integrate the theoretical knowledge gained from university. In accordance with nature as a means of forming ability of teacher that is applied directly in the field, the most important component in the PPL are teaching basic skills training. With basic skills and good teaching, a teacher will be to create a situation, condition and learning environment that can encourage students to get optimal achievement. Based on experience and interview as a preliminary study, the most important problems faced by students are to manage the class. The aim of this research is to find out what are the difficulties in managing a class, its causes and how to overcome these difficulties. The approach used in this research is quantitative descriptive. Population and sample in this research is a Japanese language education student who has done the teaching practice in 2015. A data collection technique in this research is using a questionnaire. A data analysis technique in this research is using descriptive percentages. Based on the survey results that the difficulty of Japanese language education student is controlling a rowdy class with percentages 82.3 %, providing for students who make noise with percentages 75.9 %, and developing the ability to ask with percentages 64.2%.  The cause of the difficulty is the lack of understanding of the character of students with percentages 82.3 %, lack of ability to master classes with many pupils capacity with percentages 78.4 %, in conveying the material is not really fluent with percentages 65.6%. The solutions most often performed by the students are observatory in the classroom when teaching colleagues with percentages 86.7 %.