Articles

Found 26 Documents
Search

PELAYANAN PENDIDIKAN LINTAS BATAS DAERAH SMP NEGERI 3 MRANGGEN DI KAWASAN PERBATASAN KABUPATEN DEMAK DAN KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 1 (2014): Volume 3 No 1 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Kesatuan Republik Indonesa Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk itu setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang layak. Oleh karena itu, pelayanan sarana pendidikan bagi masyarakat merupakan hal krusial yang perlu untuk diperhatikan secara matang termasuk pemerataan fasilitas sekolah bagi masyarakat secara merata dan menjangkau seluruh kawasan, termasuk pada kawasan perbatasan. Dalam hal ini, penyediaan pelayanan pendidikan di kawasan perbatasan merupakan suatu hal yang menarik mengingat kawasan ini merupakan kawasan abu-abu dimana seringkali terjadi konflik kewenangan antara dua daerah.SMP N 3 Mranggen yang terletak di kawasan perbatasan Kabupaten Demak dan Kota Semarang juga memiliki pelayanan lintas batas dimana sekolah ini melayani dua wilayah administrasi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelayanan sarana pendidikan lintas batas daerah pada SMP N 3 Mranggen yang terjadi di kawasan perbatasan Kecamatan Mranggen (Kabupaten Demak) dengan Kecamatan Pedurungan (Kota Semarang). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelayanan sarana pendidikan lintas batas di kawasan perbatasan Kabupaten Demak dan Kota Semarang tidak disebabkan adanya kerjasama antar daerah yang bersifat formal, melainkan murni dipengaruhi oleh mekanisme pasar dalam pelayanan sarana pendidikan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan mekanisme pasar dalam penyediaan pelayanan sarana pendidikan adalah terkait dengan kualitas sekolah, aksesibilitas atau kemudahan akses dalam menjangkau fasilitas pendidikan, dan keterjangkauan biaya dalam mengakses sarana pendidikan.  

Partisipasi Masyarakat dalam Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan

JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 8, No 4 (2012): JPWK Volume 8 Number 4 Year 2012
Publisher : UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.9 KB)

Abstract

Studi ini mengkaji kesenjangan harapan dan realisasi kegiatan PAMSIMAS di Kecamatan Simpur,Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan, yang telah diimplementasikan sejak 2008 di tiga desa, yaituGarunggung, Ulin dan Pantai Ulin. Pada kenyataannya, desa Garunggung dan Ulin juga menerima HibahInsentif Desa – HID dari pemerintah, sedangkan Pantai Ulin belum. Studi ini fokus kepada tingkatpartisipasi, membandingkan desa yang menerima HID dan yang tidak. Studi ini menemukan perbedaandalam hal perencanaan, implementasi serta operasi dan perawatan program PAMSIMAS di desa yangmenerima HID dan yang tidak. Sebagai contoh terdapat perbedaan dalam hal perencanaan terkaitcampur tangan stakeholder dan pengakomodasian kepentingan. Pendidikan dan pekerjaan merupakanfaktor dominan yang mempengaruhi tingkat partisipasi. Pendidikan mempengaruhi pengetahuan dankesadaran, sedangkan pekerjaan, yang terkait erat dengan pendapatan, mempengaruhi ketersediaanwaktu untuk berpartisipasi.Kata kunci : partisipasi, PAMSIMAS, HID – Hibah Insentif Desa1 Dinas

POSISI PENAWARAN DAN PERMINTAAN WISATA MENURUT PENDAPAT PENGUNJUNG KLENTENG SAM POO KONG DI KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 3 (2014): Volume 3 No 3 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang, sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Kota Semarang tentunya memerlukan adanya penelitian mengenai posisi penawaran dan permintaan wisata menurut pendapat pengunjung. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kedua aspek tersebut yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rekomendasi pengembangan daerah tujuan wisata Klenteng Sam Poo Kong. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji posisi penawaran dan permintaan wisata Klenteng Sam Poo Kong yang dilihat dari elemen sistem pariwisata. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif. Analisis yang digunakan yaitu skoring dan matriks BCG. Hasil penelitian ini akan menunjukkan posisi penawaran dan permintaan wisata Klenteng Sam Poo Kong dan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rekomendasi pengembangan Klenteng Sam Poo Kong sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Kota Semarang.

KEBERLANJUTAN KAWASAN SEMAWIS SEBAGAI OBYEK WISATA DI KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 4 (2014): Volume 3 No 4 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Semawis atau dikenal juga dengan Warung Semawis merupakan pasar malam yang diadakan warga kampung Pecinan di kota Semarang. Pada awalnya pasar semawis dibuka pada tanggal 15 Juli 2005 setiap hari Jum’at-Minggu. Semawis terletak di Gang Warung kawasan pecinan yang ditutup bagi kendaraan pada malam harinya. Pemberian nama Pasar Semawis ini disesuaikan dengan nama pendiri pasar tersebut yaitu perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Pasar ini bermula dari diadakannya perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun 2004, yang mana mulai tahun tersebut Tahun Baru Imlek dinyatakan sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia. Daya tarik Pasar Semawis, pembauran antar budaya (Jawa, Koja, Arab dan Tionghoa), mampu meningkatkan pesona asimilasi budaya di Kota Semarang. Atraksi budaya yang ditawarkan di Pasar Semawis juga beragam, seperti daya tarik hiburan, religius, kuliner dan eksotika. Akan tetapi, hal tersebut belum diimbangi dengan kurang memadainya sistem aksesibilitas menuju obyek wisata, arsitektur bangunan, dan rendahnya ketersediaan fasilitas di sekitar obyek wisata. Berdasasrkan hal tersebut, kegiatan wisata di Pasar Semawis mengalami hambatan terhadap keberlanjutan wisata Pasar Semawis. Pertanyaan yang dikaji dalam perumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana keberlanjutan Kawasan Pasar Semawis sebagai obyek wisata di Kota Semarang ? Tujuan dalam tema laporan ini yakni untuk mengkaji keberlanjutan kawasan Semawis sebagai obyek wisata di Kota Semarang berdasarkan keberlanjutan komponen pariwisata; (1) Atraksi, (2) Aksesibilitas, (3) Akomodasi, (4) Promosi dan (5) Wisatawan. Sasaran dalam penelitian ini adalah; (1) Mengkaji kelebihan dan kekurangan komponen pariwisata Pasar Semawis, (2) Mengkaji keberlanjutan komponen pariwisata Pasar Semawis, dan (3) Rumusan kajian keberlanjutan wisata Pasar Semawis. Metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah terdeskripsikannya sebuah keberlanjutan kegiatan wisata Pasar Semawis di Kota Semarang dengan perlunya perhatian khusus terhadap aksesibilitas dalam menunjang kegiatan wisata Pasar Semawis yang dikaji berdasarkan keberlanjutan komponen pariwisata. Hasil kajian ini nantinya dapat memberikan masukan dalam pengembangan obyek wisata Pasar Semawis. Masukan ini ditujukan untuk pihak pengelola wisata Pasar Semawis dan Dinas Pariwisata Jawa Tengah.  

PELAYANAN LINTAS BATAS DAERAH PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 SALATIGA DI KOTA SALATIGA DAN KABUPATEN SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 4 (2014): Volume 3 No 4 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting dalam meningkatkan kualitas manusia.Di Indonesia, pelayanan pendidikan menjadi program utama pemerintah yang merupakan salah satu urusan wajib pemerintah daerah. Namun, pada kenyataannya pelayanan pendidikan tidak hanya berlaku bagi siswa yang berasal dari dalam wilayahnya saja, sehingga menimbulkan pelayanan pendidikan lintas batas daerah. Kondisi tersebut juga terjadi di SMA Negeri 1 Salatiga, yang melayani pendidikan bagi siswa dari dalam dan luar Kota Salatiga, terutama Kabupaten Semarang. Kondisi aksesibilitas yang baik, didukung dengan transpotasi yang memadai serta kualitas sekolah yang baik, menyebabkan pelayanan lintas batas tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian mengenai pelayanan lintas batas daerah Pendidikan SMA Negeri 1 Salatiga di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, dengan pertanyaan penelitian “Bagaimana pelayanan lintas batas daerah SMA Negeri 1 Salatiga yang terjadi di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang dan mengapa demikian?”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga data yang didapat berasal dari wawancara kepada narasumber. Kajian yang dilakukan meliputi kajian kondisi pelayanan pendidikan lintas batas daerah, proses pelayanan pendidikan lintas batas daerah, dan penyebab pelayanan pendidikan lintas batas daerah. Berdasarkan kajian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pelayanan pendidikan di SMA Negeri 1 Salatiga tidak hanya dimanfaatkan oleh siswa dalam wilayahnya, namun juga dimanfaatkan oleh siswa dari Kabupaten Semarang. Oleh karena itu, Kota Salatiga melakukan pengendalian untuk mengontrol jumlah siswa dari luar daerah. Terjadinya pelayanan pendidikan lintas batas daerah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta motivasi siswa, yang dapat dilihat dari aksesibilitas yang baik, transportasi yang mendukung, kondisi sarana prasarana sekolah yang baik, serta kualitas pendidikan. Berdasarkan kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun sudah dilakukan pengendalian dalam pelayanan pendidikan lintas batas daerah, kondisi tersebut akan tetap terjadi di Kota Salatiga seiring dengan kondisi lingkungan yang mendukung serta motivasi siswa yang besar.

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEMUGARAN TAMAN MUSTIKA DI KOTA BLORA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK

Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 4 (2014): Volume 3 No 4 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan taman sebagai ruang terbuka publik yang begitu penting menjadikan Pemerintah berupaya untuk menyediakan taman dengan berbagai cara termasuk pemugaran. Pemugaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk merombak/membangun kembali suatu objek dengan tujuan yang lebih baik. Kawasan perkotaan Blora merupakan kawasan yang padat bangunan dan minim ruang terbuka publik. Pemugaran taman pasif yang berada di jantung kota menjadi sebuah taman aktif merupakan suatu hal yang baru yang ada di Blora dalam rangka memenuhi kebutuhan ruang terbuka publik yang aksessibel bagi masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji persepsi masyarakat terhadap pemugaran Taman Mustika di Kota Blora sebagai ruang terbuka publik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualtatif deskriptif dengan metode studi kasus. Hasil temuan dari penelitian adalah kondisi Taman Mustika sebelum pemugaran berdasarkan persepsi masyarakat sangatlah tidak layak, masyarakat tidak dapat memanfaatkan taman tersebut sebagai ruang terbuka publk. Berdasarkan persepsi masyaraat kondisi Taman Mustika sesudah pemugaran banyak memiliki manfaat seperti sebagai tempat bersantai, menunggu, dan belajar. Kondisi taman sesudah pemugaran juga jauh lebih baik karena masyarakat dapat mengakses Taman Mustika dan mampu melayani kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka publik. Dari persepsi masyarakat sebelum dan sesudah pemugaran Taman Mustika, peneliti menemukan adanya perubahan fungsi taman dari taman pasif menjadi taman aktif. Kondisi taman sebelum dan sesudah pemugaran taman yang dilakukan oleh Pemerintah Blora mengalami perubahan yang signifikan dan mampu menampung aktivitas masyarakat.  Berdasarkan hasil temuan, maka dapat diambil kesimpulan yaitu pemugaran taman yang dilakukan oleh Pemerintah Blora telah merubah Taman Mustika dari taman pasif menjadi taman aktif. Perubahan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat khususnya yang berada pada kawasan perkotaan Blora. Masyarakat berpendapat bahwa Taman Mustika setelah pemugaran lebih bermanfaat bagi mereka sebagai tempat berinteraksi, bersantai, hiburan, berkreasi dan belajar. 

PELAYANAN PASAR HARJODAKSINO DI KAWASAN PERBATASAN KOTA SURAKARTA DAN KABUPATEN SUKOHARJO

Jurnal Pengembangan Kota Vol 1, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan perbatasan merupakan kawasan permeabel yang mudah terpengaruh oleh kewenangan,  kebijakan, dan kepentingan dari dua atau lebih kawasan perbatasan. Dalam hal ini  termasuk  tentang pelayanan sarana publik. Pemanfaatan sarana publik lintas batas dapat terjadi karena berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Demikian juga fenomena yang terjadi di Pasar Harjodaksino yang terletak di kawasan perbatasan Kota Surakarta dengan Kabupaten Sukoharjo. Pedagang yang berjualan di Pasar Harjodaksino tidak hanya berasal dari Kota Surakarta saja, tetapi juga dari Kabupaten Sukoharjo, khususnya Kecamatan Grogol. Untuk itu, fenomena tersebut sangat menarik untuk diteliti lebih jauh. Berdasarkan uraian tersebut, dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu bagaimana pelayanan Pasar Harjodaksino di kawasan perbatasan kota dan mengapa terjadi pelayanan lintas batas. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  pelayanan Pasar Harjodaksino yang terletak di kawasan perbatasan tersebut. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian analisis studi kasus, sedangkan untuk metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara. Selanjutnya informasi tersebut dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi (content) dan dilanjutkan dengan analisis tematik. Kesimpulan dari temuan penelitian di atas adalah Pasar Harjodaksino yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surakarta merupakan pasar lintas daerah yang melayani Kota Surakarta dan sekitarnya karena didukung oleh sifat pengelolaan yang permisif, sarana prasarana yang memadai, dan akses yang mudah.

KINERJA PELAYANAN ALUN-ALUN KOTA PURWOREJO SEBAGAI RUANG PUBLIK

Jurnal Teknik PWK Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No. 1 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kinerja pelayanan suatu ruang publik dapat dikatakan baik apabila memiliki aspek responsibilitas, demokratis, dan bermakna yang seimbang. Kenyataannya banyak ruang publik yang terlalu bersifat demokratis disebabkan oleh kemudahan pengunjung bergerak bebas dalam melakukan aktivitasnya di sekitar kawasan tersebut. Keadaan tersebut menarik untuk diteliti, dengan pertanyaan penelitian: Apakah Alun-alun Kota Purworejo sebagai ruang publik sudah sesuai dengan tingkat kinerja yang seharusnya? Hal ini penting dalam menjaga kualitas ruang publik yang mampu memenuhi kebutuhan aktivitas pengunjungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja pelayanan Alun-alun Kota Purworejo sebagai ruang publik berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dan data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner dengan informan yang dipilih melalui teknik pemilihan sampel nonprobability sampling dengan jenis sampling insidental untuk pengunjung alun-alun. Hasil akhir dari penelitian ini bahwa faktor demokratis di Alun-alun Kota Purworejo sangat tinggi sehingga untuk menyeimbangkan kinerja pelayanan di alun-alun tersebut dengan cara meningkatkan kualitas faktor image di kawasan sekitarnya.

Collaborative Planning on Cross-Border Service of Water Supply in Surakarta Urban Border Area, Indonesia

International Journal of Planning and Development Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Recently, many planners apply collaborative planning theory in planning involving two or more parties, such as between government, private and community, including in the inter-region cooperation. However, the theory has rarely been used to explain the interaction between regions in city border area, especially in the cases in Indonesia. This article discusses the case of cross-border service of water supply of the Local Water Company (PDAM-Perusahaan Daerah Air Minum) of Surakarta City into the urban border area of Sukoharjo Regency, based on collaborative planning theory. This article is written based on results of the research on the case using case study research method. The discussion concludes that the approach of collaborative planning theory used on the case is cooperative-accommodation approach. It is because PDAM of Surakarta City accommodate the cross-border region service as a reciprocal policy, as most of their water inputs come from their neighboring regions. In general, such an approach is in accordance with the need of the interacting regions, which one region needs supporting service to meet the need of their communities in water service, and another can fulfill the need based on its capacity. In this case, the concerned technical agencies, PDAM of every region interact each other directly in providing the service. The important thing, the interaction is in line with the prevailing cross-border region bureaucratic regulations and does not infringe the autonomy of every region.Keywords: city border area, collaborative planning, cross-border water supply, Surakarta

ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA SALATIGA

Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kontribusi pendapatan retribusi pasar terhadap penerimaan retribusi daerah Kota Salatiga cenderung menurun dari 26,35% pada tahun 2009 menjadi 17,70% pada tahun 2013. Beberapa bangunan pasar tradisional juga masih belum berfungsi optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pengelolaan pasar tradisional di Kota Salatiga dan menganalisis faktor penyebabnya, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengukuran kinerja menggunakan konsep Balanced Scorecard yaitu berdasarkan aspek finansial dan non finansial. Analisis tingkat kepentingan dan kinerja digunakan untuk mengetahui kesenjangan, tingkat kepentingan, kinerja dan kapasitas organisasi pengelola pasar tradisional di Kota Salatiga. Hasil akhir penelitian menunjukkan skor kinerja perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sebesar 70,6%, proses internal 60,87%, finansial/keuangan 62,06%, kepuasan pelanggan internal 65,02% dan kepuasan pelanggan eksternal 55,58% diperoleh rata-rata sebesar 62,826% sehingga dapat disimpulkan kinerja pengelolaan pasar tradisional di Kota Salatiga masih kurang baik. Sebanyak 61% pedagang dan 90% pengunjung menyatakan belum nyaman dan belum puas dengan kondisi pasar tradisional. Faktor penyebab masih rendahnya kinerja pengelolaan pasar adalah belum terbentuk budaya kerja yang mampu meningkatkan motivasi pegawai, minimnya ketersediaan dan pemeliharaan sarana prasarana kerja, mekanisme kerja yang belum jelas dan belum dipahami seluruh pegawai, minimya motivasi dari pimpinan kepada pegawai pengelola pasar dan keuangan belum efisien..