Articles
26
Documents
PELAYANAN LINTAS BATAS DAERAH RSUD UNGARAN DI KAWASAN PERBATASAN KABUPATEN SEMARANG DAN KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 2 (2013): Volume 2 No 2 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang menjadi urusan wajib. Salah satu kewenangan yang menjadi urusan wajib pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota yaitu penyediaan sarana umum. Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan bagi masyarakat umum wajib disediakan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pelayanan umum yang diberikan pemerintah daerah harus mampu melayani seluruh wilayah baik yang berada di pusat kota maupun perbatasan. Adapun pertanyaan yang harus terjawab adalah bagaimana pelayanan RSUD Ungaran yang terletak di kawasan perbatasan dan mengapa terjadi pelayanan lintas batas daerah dalam pemanfaatannya? Metode yang dilakukan dengan wawancara terhadap narasumber kunci, observasi lapangan dan telaah dokumen. Pendekatan yang dilakukan dengan merumuskan tema-tema tertentu yang merupakan hasil dari wawancara. Hasilnya RSUD Ungaran merupakan rumah sakit lintas batas daerah yang melayani masyarakat di Kabupaten Semarang dan di luar Kabupaten Semarang, didukung oleh jenis pelayanan yang lengkap, sarana prasarana yang memadai, lokasi yang strategis dan aksesibilitas mudah.

KAJIAN DAMPAK KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN JALAN KARTINI SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu kota besar yang memiliki kebijakan terkait penataan pedagang kaki lima termasuk pada lokasi yang cukup potensial seperti kawasan Jalan Kartini yang terkenal sebagai “pasar burung”. Permasalahan yang berinti pada dampak dari suatu kebijakan yang ada terhadap PKL maupun pemerintah di kawasan Jalan Kartini Kota Semarang tersebut dapat dikerucutkan menjadi pertanyaan penelitian yakni bagaimana dampak kebijakan penataan PKL di kawasan Jalan Kartini Semarang. Berdasar pada pertanyaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak kebijakan yang dilakukan menurut persepsi pemerintah dan PKL dengan menggunakan kriteria efektivitas, efisiensi, kesamarataan, kecukupan, responsivitas dan ketepatan. Pendekatan penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan metode purposive sampling untuk penentuan narasumber. Terdapat perbedaan hasil menurut pemerintah dan PKL yakni kriteria efisiensi yang menurut PKL telah sesuai sedangkan menurut pemerintah tidak sesuai, kriteria kecukupan yang telah sesuai menurut PKL sedangkan menurut pemerintah tidak sesuai dan kriteria responsivitas yang sesuai menurut pemerintah dan tidak sesuai menurut PKL. Untuk kriteria efektivitas dan ketepatan, keduanya tidak sesuai menurut pemerintah ataupun PKL. Berbeda dengan sebelumnya, kriteria ekuitas telah sesuai baik menurut pemerintah maupun PKL. Berdasar pada seluruh kriteria di atas maka dampak kebijakan penataan PKL yang ada masih memberikan dampak negatif menurut pemerintah maupun PKL karena belum memenuhi seluruh kriteria yang ada. Diperlukan perubahan kebijakan bagi kriteria yang belum terpenuhi menurut pemerintah maupun PKL dengan jangka waktu yang jelas serta melibatkan peran PKL agar kebijakan tersebut dapat mewujudkan kepentingan umum sehingga tujuan kebijakan dapat tercapai.

PENGARUH SALURAN DRAINASE TERHADAP PENCEMARAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI SEKITAR KAWASAN INDUSTRI GENUK KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 1, No 1 (2012): Volume 1 No 1 Tahun 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan permukiman di sekitar Kawasan Industri Genuk, Kota Semarang sering mengalami banjir. Disamping itu, kawasan tersebut juga mengalami pencemaran lingkungan.Kondisi ini disebabkan oleh buruknya kondisi saluran drainase. Limbah industri yang dihasilkan dari Kawasan Industri Genuk masuk ke dalam saluran drainase dan mengalirkannya ke luar kawasan, sehingga mencemari sungai dan drainase permukiman di sekitarnya. Permasalahan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh saluran drainase ini menimbulkan pertanyaan apa dan bagaimana pengaruh saluran drainase yang kurang baik terhadap pencemaran lingkungan permukiman di sekitar Kawasan Industri Genuk, Kota Semarang. Berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh saluran drainase di Kawasan Industri Genuk terhadap pencemaran lingkungan permukiman di sekitarnya. Metode analisis yang digunakan adalah metoda deskriptif kualitatif, dengan menggunakan wawancara dan observasi lapangan sebagai metoda pengumpulan datanya. Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa kondisi saluran drainase yang sangat buruk, seperti bangunan saluran yang masih alami dan pola jaringan yang bersifat alamiah karena belum tertata dengan baik menyebabkan arah aliran dari saluran drainase industri dan permukiman bertemu di satu titik dan langsung menuju ke arah aliran drainase yang sama yaitu ke arah sungai-sungai di sekitar Kawasan Industri Genuk. Akibatnya, air pada saluran drainase yang telah tercemar mencemari air dan tanah di kawasan permukiman di sekitar kawasan tersebut, termasuk sumber mata air. Kondisi ini terjadi juga karena adanya infiltrasi air dimana masuknya atau meresapnya air dari atas permukaan tanah yang sudah tercemar limbah industri ke dalam bumi. Berdasarkan hal tersebut, kesimpulan penelitian yang dapat dirumuskan adalah bahwa kondisi saluran drainase yang buruk dan infiltrasi air ke dalam tanah menyebabkan terjadinya pencemaran air dan tanah permukiman yang terdapat di sekitar Kawasan Industri Genuk.

DAYA SAING OBYEK WISATA AIR BOJONGSARI (OWABONG), KABUPATEN PURBALINGGA DI PROVINSI JAWA TENGAH

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Owabong merupakan obyek wisata air pertama yang berkembang di Provinsi Jawa Tengah. Seiring perkembangan zaman, obyek wisata ini memiliki banyak pesaing yang menawarkan atraksi menarik serupa berupa wisata air. Keadaan ini menyebabkan eksistensi Owabong menurun sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap daya saing Owabong untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing obyek wisata tersebut. Oleh karena itu, dilakukan suatu penelitian untuk mengukur kondisi daya saing Owabong melalui penggunaan indikator daya saing (competitive) yang dikemukakan oleh Michael E. Porter dan Studi Kebanksentralan BI. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan penelitian (research question) yang harus dijawab, yaitu “Bagaimana daya saing Obyek Wisata Air Bojongsari (Owabong), Kabupaten Purbalingga terhadap obyek wisata air lain di Provinsi Jawa Tengah?”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Analisis Delphi dengan menggunakan hasil kuesioner yang diperoleh dari beberapa responden yang memiliki kompetensi dan kapabilitas terkait wisata air di Provinsi Jawa Tengah, khususnya Owabong. Temuan penelitian ini adalah digunakannya 10 indikator untuk mengkaji daya saing pariwisata. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi daya saing Owabong dalam kondisi baik terbukti dengan prosentase indikator dalam kondisi baik sebesar 70% dan dalam kondisi kurang baik sebesar 30%. Oleh karena itu, rekomendasi yang diberikan adalah dengan menggunakan sistem E-ticket untuk meningkatkan daya saing Owabong.

PELAYANAN LINTAS BATAS DAERAH PASAR BOJA DI KAWASAN PERBATASAN KABUPATEN KENDAL DAN KOTA SEMARANG (Studi Kasus: Sekitar Kawasan Pasar Boja Kecamatan Boja)

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 1 (2013): Volume 2 No 1 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang menjadi urusan wajib. Salah satu kewenangan yang menjadi urusan wajib pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota yaitu penyediaan sarana umum. Pasar sebagai salah satu sarana perdagangan bagi masyarakat umum, wajib disediakan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pelayanan umum yang diberikan pemerintah daerah harus mampu melayani seluruh wilayah baik yang berada di pusat kota maupun perbatasan. Atikel ini bertujuan untuk mengkaji pelayanan lintas batas daerah Pasar Boja yang terletak di kawasan perbatasan Kabupaten Kendal dan Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara. Setelah data terkumpul, digunakan teknik analisis berupa teknik tematic analysis (analisis tema) untuk mengolah data. Dari beberapa kajian hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Pasar Boja merupakan pasar lintas batas daerah yang melayani masyarakat di Kabupaten Kendal dan di luar Kabupaten Kendal, didukung oleh barang dagangan yang lengkap, harganya terjangkau, pasarnya ramai, lokasi yang strategis dan aksesibilitas mudah.

PARIWISATA KEAGAMAAN DI MASJID AGUNG JAWA TENGAH

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu obyek wisata keagamaan di Kota Semarang yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan dan aset wisata Jawa Tengah.  Masjid ini memiliki keunikan atraksi wisata yang dapat mengundang wisatawan untuk datang. Pertanyaan penelitian ini adalah Bagaimana kondisi pariwisata keagamaan di Masjid Agung Jawa Terngah berdasarkan kelima elemen sistem pariwisata? Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pariwisata keagamaan di Masjid Agung Jawa Tengah berdasarkan lima elemen sistem pariwisata diantaranya atraksi wisata, akomodasi, aksesibilitas, promosi, dan wisatawan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Temuan penelitian ini mengemukakan bahwa tidak hanya keunikan atraksi wisata keagamaan yang mampu menjadi daya tarik wisatawan, tetapi atraksi wisata bukan keagamaan juga menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke masjid ini. Akan tetapi, jumlah wisatawan yang berkunjung ke masjid ini mengalami pasang surut, dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang mengalami penurunan pada tahun 2010. Hal ini dikarenakan belum ada penambahan atraksi wisata, masih kurang terawatnya akomodasi serta aksesibilitas dan promosi yang dilakukan masih terbatas. Rekomendasi penelitian ini lebih difokuskan terhadap elemen yang memiliki pengaruh dan kekuatan rendah dan sedang untuk menarik wisatawan datang diantaranya lebih difokuskan untuk memperbaiki dan lebih mengembangkan elemen akomodasi, aksesibilitas, dan promosi. Sedangkan elemen atraksi wisata sudah memiliki pengaruh dan kekuatan tinggi untuk menarik wisatawan, hanya dipertahankan dan lebih ditambah jenis-jenis atraksinya. Rekomendasi ini ditujukan kepada pihak pengelola Masjid Agung Jawa Tengah dan Dinas Pariwisata untuk ikut serta mengembangkan Masjid Agung Jawa Tengah sebagai pariwisata keagamaan berdasarkan 5 elemen sistem pariwisata

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN BERDASARKAN PENDAPAT MASYARAKAT DI KAWASAN WISATA DESA BANDENGAN, KABUPATEN JEPARA (“Factor Influencing Land Conversion Based on People Opinion At Bandengan Village Tourism Area, Jepara Regency”)

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 4 (2013): Volume 2 No 4 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kawasan pesisir yang berkembang cukup pesat di Kab. Jepara adalah Desa Bandengan, Kecamatan jepara. Desa Bandengan memiliki potensi pariwisata yang terus berkembang tiap tahunnya dan menjadi sektor basis (andalan) dalam meningkatkan perekonomian daerah. Desa Bandengan selanjutnya dimasukkan ke dalam WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata) I di Kab. Jepara, dengan obyek wisatanya berupa Pantai Tirto Samudro. Dalam kurun waktu 12 tahun (tahun 2001 sampai tahun 2012) Desa Bandengan mengalami perkembangan kawasan,  terlihat dari dari perubahan lingkungan fisik khususnya pada perubahan penggunaan  lahan atau konversi lahan yang ada di kawasan wisata Desa Bandengan. Konversi lahan di Desa Bandengan diakibatkan oleh berbagai faktor. Permasalahan ini menarik sebagai obyek penelitian dikarenakan faktor yang mempengaruhi konversi lahan tidak hanya dari aspek pariwisata saja, melainkan ada banyak aspek yang ikut mempengaruhi konversi lahan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengkaji faktor yang mempengaruhi konversi lahan berdasarkan pendapat masyarakat di kawasan wisata Desa Bandengan, Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan citra satelit tahun 2001 dengan tahun 2012. Kemudian dilanjutkan analisis menggunakan alat analisis faktor pada software SPSS, berdasarkan data kuesioner lapangan. Teknik sampling dengan purposive sampling dengan responden 58 orang. Hasil analisis diketahui bahwa lahan yang mengalami perkembangan konversi lahan cukup pesat adalah lahan untuk perdagangan dan jasa serta pariwisata. sebelumdi rotasi pada analisis faktor, terdapat 1 variabel yang nilainya kurang dari 0,5 yaitu proses mendirikan bangunan atau IMB. Hasil akhir faktor yang mempengaruhinya adalah faktor 1 dengan nilai 30,58 % yaitu faktor kondisi lingkungan fisik dan sosial yang meliputi kondisi jalan, kondisi listrik, kesesuian lahan, kerawanan bencana, kemanan kawasan dan kondisi sosial berupa kerukunan warga. Faktor pariwisata kurang begitu berpengaruh dalam konversi lahan di kawasan wisata Desa Bandengan tersebut.    

KEGIATAN ISLAMI DI KAMPUNG KAUMAN KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Kauman merupakan salah satu cikal bakal pertumbuhan kota Semarang. Dahulunya Kampung Kauman dikenal sebagai pusat peradaban Islam. Kampung Kauman sangat berperan penting dalam penyebaran agama Islam di kota Semarang dan merupakan tempat tinggal atau hunian para pemuka Agama Islam. Kini, pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Islam dipengaruhi oleh akulturasi dengan kebudayaan setempat dan inkulturasi dengan budaya luar. Secara eksternal Kampung Kauman memiliki posisi yang sangat sulit, terjepit diantara pesatnya perkembangan fungsi komersial di kawasan Johar, sementara itu semangat untuk mempertahankan suatu sejarah kota di kawasan ini semakin memudar. Melihat kondisi seperti itu maka penelitian ini bertujuan pada mengkaji Kegiatan Islami dan keberlangsungannya di Kampung Kauman Kota Semarang. Penelitian ini pada dasarnya menggunakan pendekatan kualitatif yang mana untuk memahami fenomena atau gejala sosial dengan lebih menitik beratkan pada gambaran yang lengkap tentang fenomena yang dikaji daripada memerincinya menjadi variabel-variabel yang saling terkait. Melalui penelitian ini maka hasil yang diharapkan adalah fakta yang ada dalam bentuk kegiatan Islami dan keberlangsungannya, menurut rukun Islam, kegiatan Islami tahunan dan kegiatan Islami lainnya, begitupula bentuk pengaruh kawasan sekitarnya terhadap  kegiatan islami di Kampung Kauman ini. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam bentuk keunikan Kampung Kauman dari segi kegiatan Islami dan keberlangsungannya yang telah ada sejak turun temurun.

PELAYANAN LINTAS BATAS DAERAH PASAR BANDARJO DI KAWASAN PERBATASAN KABUPATEN SEMARANG DAN KOTA SEMARANG

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 1 (2013): Volume 2 No 1 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang menjadi urusan wajib. Salah satu kewenangan yang menjadi urusan wajib pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota yaitu penyediaan sarana umum. Pasar sebagai salah satu sarana perdagangan bagi masyarakat umum, wajib disediakan oleh masing-masing pemerintah daerah. Pelayanan umum yang diberikan pemerintah daerah harus mampu melayani seluruh wilayah baik yang berada di pusat kota maupun perbatasan. Adapun pertanyaan yang harus terjawab adalah bagaimana pelayanan Pasar Bandarjo yang terletak di kawasan perbatasan dan mengapa terjadi pelayanan lintas batas daerah dalam pemanfaatannya? Metode yang dilakukan dengan wawancara terhadap narasumber kunci, observasi lapangan dan telaah dokumen. Pendekatan yang dilakukan dengan merumuskan tema-tema tertentu yang merupakan hasil dari wawancara. Hasilnya Pasar Bandarjo merupakan pasar lintas batas daerah yang melayani masyarakat di Kabupaten Semarang dan di luar Kabupaten Semarang, didukung oleh barang dagangan yang lengkap, harganya terjangkau, pasarnya ramai, lokasi yang strategis dan aksesibilitas mudah.

PELAYANAN KESEHATAN LINTAS BATAS DAERAH PUSKESMAS MRANGGEN III DI KAWASAN PERBATASAN KOTA SEMARANG DAN KABUPATEN DEMAK

Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 1 (2014): Volume 3 No 1 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah, pemerintah daerah diberikan wewenang dan hak untuk mengurus dan mengelola sendiri daerahnya dengan batasan wilayah sebagai batasan wewenangnya. Batasan-batasan tersebut bertujuan untuk memisahkan antara daerah satu dengan daerah lainnya agar tidak terjadi tumpang tindih serta overlapping wewenang dan kewajiban pelaksanaan pemerintahan. Namun, meskipun demikian ternyata masih banyak ditemukan permasalahan di kawasan perbatasan, khususnya mengenai pelayanan publik, mengingat masing-masing daerah tentunya mempunyai skala prioritas pengembangan dan pembangunan yang tentu saja berbeda dengan lainnya (Suryokusumo, 2008). Oleh karena itu dalam kaitannya dengan penjelasan diatas, maka dilakukan kajian penelitian dengan studi kasus penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan milik Kabupaten Demak oleh masyarakat Kota Semarang, dengan objek penelitian Puskesmas Mranggen III yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Adapun Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pelayanan kesehatan lintas batas daerah Puskesmas Mranggen III di kawasan perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Dari hasil analisis yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas Mranggen III bukanlah satu-satunya faktor penyebab adanya pelayanan lintas batas daerah di kawasan perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Demak, melainkan adanya faktor lain yaitu faktor lokasi. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi lapangan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dan ditemukan bahwa beberapa masyarakat mengatakan alasan dasar mereka memilih Puskesmas Mranggen III sebagai sarana kesehatan yang sering dikunjungi selain disebabkan oleh pelayanan yang lebih lengkap (dari puskesmas lainnya disekitar tempat tinggalnya) juga disebabkan oleh jarak dan aksesibiltas yang mudah dijangkau dari tempat tinggal mereka.