D. Wahjuningrum
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 22 Documents
Articles

Found 22 Documents
Search

Efficacy of Andrographis paniculata, Psidium guajava and Piper betle as Prevention on Motile Aeromonad Septicaemia Infection in African Catfish (Clarias sp.) Wahjuningrum, D.; Tarono, .; Angka, S.L.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.563 KB)

Abstract

An effort to prevent Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disease in African catfish (Clarias sp.) performed using antibiotic was less safety and expensive ways.  An herbal medicine may be able to be a safety and cheap way to prevent of the MAS disease.  This study was conducted to determine efficacy of herbal medicine combination of sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu (Psidium guajava) and daun sirih (Piper betle). Herbal medicines were mixed to diet and fish were fed on the diet containing the herbal medicine for 7 days of rearing.  The dosage of herbal medicine per 100 gram of diet was PI (1.0 g sambiloto, 0.75 g daun jambu and 0.25 g daun sirih), PII (1.0 g sambiloto,  0.50 g daun jambu,  0.50 g daun sirih), and PIII (1.0 g sambiloto, 0.25 g daun jambu, and 0.75 g daun sirih).  On 8th day, fish were injected intramuscularly with 1 ml of Aeromonas hydrophila (105 cfu/ml) every 1 kg of fish.  Clinical symptom, feed response, fish weight, number of fish survive and visually changing of internal organs.  The results of study indicated that administration of herbal medicine A. paniculata, P. guajava and P. betle mixed into the diet effectively prevented A. hydrophila infection.  Combination of 1.0 gram A. paniculata, 0.75 gram P. guajava and 0.25 gram P. betle gave higher efficacy against A. hydrophila infection. Keywords: Andrographis paniculata, Psidium guajava, Piper betle, Motile Aeromonad septicaemia, African catfish   ABSTRAK Upaya penanggulangan penyakit MAS (Motil Aeromonad Septicaemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp.) yang dilakukan menggunakan antibiotik cenderung kurang aman dan mahal. Pencegahan menggunakan obat herbal diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut secara aman dan murah.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas obat herbal kombinasi sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu biji (Psidium guajava) dan sirih (Piper betle) dengan dosis berbeda yang diberikan melalui pakan selama 7 hari.  Perlakuan dosis obat herbal per 100 gram pakan adalah PI (1,0 g sambiloto, 0,75 g daun jambu dan 0,25 g daun sirih), PII (1,0 g sambiloto,  0,50 g daun jambu,  0,50 g daun sirih), dan PIII (1,0 g sambiloto, 0,25 g daun jambu, 0,75 g dan daun sirih.  Pada hari ke-8 pemeliharaan ikan dilakukan penyuntikan secara intramuskular dengan Aeromonas hydrophila dengan konsentrasi 105 cfu/ml sebanyak 1 ml/kg bobot ikan.  Ikan uji diamati selama 7 hari yang meliputi gejala klinis, respon pakan, bobot ikan uji, jumlah ikan hidup dan perubahan visual organ dalam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian obat herbal sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu biji (Psidium guajava) dan sirih (Piper betle) melalui pakan terbukti efektif untuk mencegah serangan A. hydrophila.  Kombinasi 1,0 gram sambiloto, 0,75 gram daun jambu biji dan 0,25 gram daun sirih dalam setiap 100 gram pakan menghasilkan efek pencegahan yang paling efektif. Kata kunci: Ikan lele, sambiloto, jambu biji, sirih, Motil Aeromonad Septicaemia dan lele dumbo
Potency of Garlic Extract Against Koi Herpesvirus (KHV) in Common Carp Nuryati, Sri; Puspitaningtyas, D.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.178 KB)

Abstract

Prevention of koi herpesvirus (KHV) infection using chemicals or medicines was ineffective way.  In this study garlic extract was used to prevent KHV infection.  Virus suspension of 0.1 ml and garlic extract of 0.1 ml in different dosage, i.e., 100, 200 and 300 ppt, was injected into common carp body.  Hemoglobin concentration, red and white blood cell numbers, and leukocyte number were counted.  The results of study showed that administration of 300 ppt of garlic extract could produce higher survival rate (67.5%), good blood parameters and clinical symptoms compared to other treatments. Keywords: garlic, KHV, common carp   ABSTRAK Upaya penanggulangan wabah Koi Herpesvirus (KHV) menggunakan bahan-bahan kimia atau obat-obatan adalah tidak efektif. Pada penelitian ini dilakukan pemberian ekstrak bawang putih untuk menanggulangi infeksi KHV.  Suspensi virus sebanyak 0,1 ml ditambahkan dengan 0,1 ml ekstrak bawang putih dengan berbagai konsentrasi, yaitu 100, 200 dan 300 ppt, disuntikkan ke dalam tubuh ikan mas.  Kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan sel darah putih jenis dan jumlah leukosit diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak bawang putih sebanyak 300 ppt menghasilkan kelangsungan hidup (67,5%) yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan begitu pula dengan gambaran darah serta gejala klinisnya.   Kata kunci: bawang putih, KHV, ikan mas
Correlation of Phytoplankton Community and Litopenaeus vannamei Productivity in Biocrete Pond Budiardi, T.; Widyaya, I.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.641 KB)

Abstract

Jurnal Akuakultur Indonesia, 7(1): 1–6 (2007)  Management of phytoplankton is generally conducted by controlling the concentration of organic matter, fertilization and water exchange.  Organic materials are from uneaten feed and excretion of shrimp.  By using post facto method it was found four class of phytoplankton in biocrete pond at one cycle rearing of white shrimp (Litopenaeus vannamei).  Population at early rearing period was dominated by Bacillariophyceae (50.4%; 13 species) and Cyanophyceae (42.41%; 1 species), followed by Dynophyceae (6.2%; 5 species) and Chlorophyceae (1.3%; 1 species).  Increment in phytoplankton density was followed by increment in chlorophyll-a and oxygen from photosynthesis, and productivity was 2132 kg/pond. Keywords: phytoplankton, white shrimp, Litopenaeus vannamei, biocrete pond   ABSTRAK Pengelolaan fitoplankton umumnya dilakukan dengan mengoptimalkan bahan organik serta pemupukan dan pergantian air. Bahan organik berasal dari pakan buatan yang tidak terkonsumsi (sisa pakan) dan ekskresi dari udang. Dengan menggunakan metode post facto selama satu siklus pemeliharaan udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada tambak biocrete diperoleh empat kelas fitoplankton. Dominasi Bacillariophyceae (50,4%; 13 jenis), Cyanophyceae (42,41%; 1 jenis) terjadi pada awal pemeliharaan yang diiukuti oleh Dynophyceae (6,2%; 5 jenis) dan Chlorophyceae (1,3%; 1 jenis). Peningkatan kelimpahan fitoplankton secara keseluruhan diikuti oleh peningkatan kandungan klorofil-a dan oksigen hasil fotosintesis total sehingga produktifitasnya mencapai 2132 kg/petak Kata kunci: fitoplankton, udang vaname, Litopenaeus vannamei, tambak biocrete
Use of Chitosan to Control Vibrio harveyi Infection on White Shrimp Litopeneaus vannamei Sukenda, .; Tri Anggoro, Y.; Wahjuningrum, D.; Rahman, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.411 KB)

Abstract

Immunostimulation and antibacterial effect of chitosan against vibriosis were examined in white shrimp (Litopenaeus vannamei).  Control shrimps were injected with 0.05 μl of sterile sea water, while experimental shrimps were injected with 2, 4 and 6 μg per g shrimp of chitosan.  All shrimps were subsequently challenged by 106 CFU/ml of live Vibrio harveyi by injection method.  Survival rate of shrimps injected with chitosan were found to slightly increase in accordance with dose of chitosan, even not statistically significant.  Total haemocyte count and phagocytic index at experimental shrimps were over than control shrimps up to three days post injection.  Number of V. harveyi in the intestine of experimental shrimps were lower than control shrimps indicates an antibacterial activity of chitosan to combat infection. Keywords: chitosan, Vibrio harveyi, haemocyte, phagocytic index, Litopenaeus vannamei   ABSTRAK Efek imunostimulasi dan antibakterial dari kitosan melawan vibriosis dilihat pada udang putih (Litopenaeus vannamei).   Udang control disuntik dengan 0,05 μl air laut steril, sedangkan udang uji disuntik dengan kitosan 2, 4 dan 6 μg per g udang.  Semua udang diuji tantang dengan 106 CFU/ml bakteri Vibrio harveyi hidup dengan metode penyuntikan.  Sintasan udang yang disuntik dengan kitosan meningkat berbarengan dengan peningkatan dosis kitosan, meskipun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.  Jumlah total hemosit dan indeks fagositosis pada udang lebih tinggi dibandingkan kontrol sampai tiga hari pasca penyuntikan.  Jumlah V. harveyi dalam saluran pencernaan dari udang uji lebih rendah dibandingkan udang kontrol, hal ini  menunjukkan aktifitas antibacterial dari kitosan dalam melawan infeksi. Kata kunci: kitosan, Vibrio harveyi, hemosit, indeks fagositosis, Litopenaeus vannamei
Production of Paracheirodon innesi on Different Densities in Recirculating System Budiardi, T.; Gemawaty, N.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.985 KB)

Abstract

The objective of this research was to know production of neon tetra Paracheirodon innesi reared in recirculating system with density 20, 40 and 60 litre-1. Fish with 1.80 ± 0.04 cm lenghts were cultured in 30 x 20 x 20 cm aquarium in recirculating system, during 28 days. Result of this research showed that density of fish rearing affected  survival rate (p0.05) was observed on body lenght, growth of body lenght and coefficient of varians. Keywords: Density, production, growth, survival rate dan Paracheirodon innesi   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi ikan neon tetra Paracheirodon innesi ukuran L yang dipelihara pada sistem resirkulasi dengan kepadatan 20, 40 dan 60 ekor/L. Benih ikan neon tetra yang digunakan berukuran sedang (medium) dengan panjang awal 1,80 ± 0,04 cm. Ikan ini dipelihara pada akuarium dengan ukuran 30cm x 20cm x 20cm selama 28 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan pemeliharaan memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup (p0,05). Kata kunci : Padat penebaran, produksi, pertumbuhan, kelangsungan hidup, neon tetra dan Paracheirodon innesi
Production of M-Size Neon Tetra Fish Paracheriodon innesi in Recirculation System with Density of 25, 50, 75 and 100 litre-1 Budiardi, T.; Solehudin, M.A.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.846 KB)

Abstract

Quality and quantity of freshwater were important factors in aquaculture. The farmers of neon tetra fish (Paracheriodon innesi) usually rear them in aquarium with simple methods, so that gave low productivity. Increasing density could be increased the production and its continuity and also more efficient in land and water. Rearing of neon tetra with density of 25, 50, 75 and 100 litre-1 in recirculation system were no influence for fish body length, growth of body length and coefficient of variants (p>0,05). But those densities of fish rearing affected survival rate, end density and profit (p0,05), namun berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, kepadatan akhir dan keuntungan (p
The use of Cattapa Leaves Terminalia cattapa as Preventive and Curative Methods in Patin Catfish Pangasionodon hypophthalmus Infected With Aeromonas hydrophila Wahjuningrum, D.; Ashry, N.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.375 KB)

Abstract

Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila induced serious epidemics of ulcerative disease in freshwater fish including patin catfish Pangasionodon hypophthalmus. In vitro study for antibacterial test of cattapa leaves Terminalia cattapa (TC) were done previous to the in vivo test. The in vitro susceptibility test was performed at the dosages of 30, 60 and 90 g/l TC. At the in vivo test, fish were injected intramusculary with TC at the dosages of 60 g/l for the prevention and 120 g/l for curative efficacy. Results from blood picture, clinical sign and mortaliyt showed that TC were better and more effective as preventive than curative for MAS in patin catfish. Keywords :  Terminalia cattapa, Aeromonas hydrophila, patin catfish   ABSTRAK Penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila sering menyebabkan wabah penyakit tukak pada ikan-ikan air tawar termasuk pada ikan patin Pangasionodon hypophthalmus. Uji antibakteri secara in vitro dari daun ketapang Terminalia cattapa (TC) dilakukan sebelum uji in vivo. Pada uji in vitro dilakukan pengujian aktivitas antibakteri TC terhadap A. Hydrophila pada dosis TC 30, 60 dan 90 g/l. Pada uji in vivo, ikan diinfeksi secara intramuskular dengan TC, untuk pencegahan dengan dosis 60 g/l TC dan pengobatan pada dosis 120 g/l TC. Hasil yang diperoleh dari gambaran darah, gejala klinis dan kematian ikan patin menunjukkan bahwa TC lebih baik dan sangat efektif untuk pencegahan daripada pengobatan untuk penyakit MAS pada ikan patin. Kata kunci: Terminalia cattapa, Aeromonas hydrophila, ikan patin
Use of Chitosan to Prevent Aeromonas hydrophila Infection on Catfish Clarias sp. Sukenda, .; Jamal, L.; Wahjuningrum, D.; Hasan, A.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.728 KB)

Abstract

Immunostimulation effect of chitosan against motile aeromonas septicemia caused by Aeromonas hydrophila were examined in catfish (Clarias sp.). Experimental fish were injected with 2, 4 and 6 μg/g fish of chitosan.  All fish were subsequently challenged by 105 CFU/ml of live A. hydrophila by injection method.  Negative control injected with PBS and positive control injected with only A. hydrophila were included in the experiment. Results showed that total count of eritrocyte, leucocyte,  level of hematocrite, haemoglobin and phagocytic index higher at fish injected with chitosan previously compared with control as well as lymphocyte, neutrophile, monocyte, and trombocyte.  Either survival rate or growth  of fish injected with chitosan were found to increase in accordance with dose of chitosan. Kata Kunci : chitosan, Aeromonas hydrophila, immunostimulant, Clarias sp.   ABSTRAK Efek imunostimulasi dari kitosan melawan Motile Aeromonad Septicemia yang disebabkan oleh A. hydrophila dilihat pada ikan lele (Clarias sp.). Ikan uji disuntik dengan larutan kitosan dengan dosis  2, 4 and 6 μg/g, yang selanjutnya diuji tantang dengan bakteri  A. hydrophila 105 CFU/ml melalui penyuntikan intramuskular.  Kontrol negative disuntik dengan PBS dan control positif disuntik hanya dengan bakteri  A. hydrophila disertakan dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa jumlah eritrosit, lekosit, level hematokrit, hemoglobin dan indeks fagositik lebih tinggi pada ikan-ikan yang diberi kitosan sebelumnya dibandingkan dengan tanpa pemberian kitosan sebelumnya.  Begitu pula dengan kadar limfosit, netrofil, monosit dan trombosit.  Sintasan dan pertumbuhan ikan yang diberi kitosan meningkat sejalan dengan dosis kitosan yang diberikan. Kata kunci: kitosan, Aeromonas hydrophila, immunostimulan, Clarias sp.
Growth and Survival Rate of Redclaw Crayfish Cherax quadricarinatus Reared with Different Density in Recirculation System Budiardi, T.; Irawan, D.Y.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.796 KB)

Abstract

The objective of this research was to know the growth and survival rate of redclaw crayfish (Cherax quadricarinatus) reared in recirculation system with density 20, 30, 40 and 50 m-2. Lobster with 6.02 ± 0.13 cm length and 6.23 ± 0.51 gram initial body weights were cultured in 60 x 30 x 40 cm aquarium and compiled in recirculation system, for 42 days. Result of research showed that there are statistically difference at growth rate daily weight, coefficient of variances and feed efficiency (p0.05). From this research it can be concluded that the best density for freshwater crayfish (Cherax quadricarinatus) was 50 m-2. Keywords: density, growth, survival rate, redclaw crayfish,  Cherax quadricarinatus   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup lobster capit merah (Cherax quadricarinatus) yang dipelihara pada sistem resirkulasi dengan kepadatan 20, 30, 40 dan 50 ekor/m2. Benih lobster yang digunakan memiliki panjang awal rata-rata 6,02 ± 0,13 cm dan berat 6,23 ± 0,51 gram, dipelihara pada akuarium dengan ukuran 60 x 30 x 40 cm yang diisi air setinggi 20 cm dan disusun dalam sistem resirkulasi, selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada laju pertumbuhan bobot harian, koefisien keragaman dan efisiensi pakan (p0,05). Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa padat penebaran yang dapat memberikan hasil maksimum adalah 50 ekor/m2. Kata kunci: padat penebaran, pertumbuhan, kelangsungan hidup, lobster capit merah, Cherax quadricarinatus
Density of bacteria in Limnodrilus sp. culture fertilized by fermented chicken manure Hadiroseyani, Y.; Nurjariah, .; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.423 KB)

Abstract

Culture of Limnodrilus sp. is now developed to control continuously supply.  Culture medium of Limnodrilus sp. consists of mud and organic waste.  Routinely fertilization is needed to keep enough nutrition.  One of organic fertilizer used in Limnodrilus sp. culture is chicken manure.  This fertilizer contains high levels of N, low-priced and easy to obtain.  This study was conducted to determine Limnodrilus sp. density in the substrate fertilizer by fermented chicken manure and Limnodrilus sp. growth. Mud and chicken manure in ratio of 1:1 was applied to container of 100×20×15 cm3.  Fertilization was carried out 2 times daily at the dose of chicken manure 130, 160 and 190 g/container.  The result of study showed that density of bacteria tends to decrease during experiment.  Highest density (11,948 individuals/m2) and biomass (14.65 g/ m2) of bacteria was obtained by 190 g of chicken manure fertilization. Keywords: blood worm, Limnodrilus sp., bacteria, chicken manure, fermentation   ABSTRAK Budidaya cacing Limnodrilus sp., kini sedang dikembangkan untuk menyediakan cacing secara terkontrol dan kontinyu. Media hidup cacing terdiri dari lumpur dan limbah organik. Untuk menjaga persediaan makanan dalam media pemeliharaan, dilakukan pemupukan secara berkala. Salah satu pupuk organik yang digunakan dalam budidaya cacing adalah kotoran ayam karena mengandung unsur N yang lebih tinggi, mudah didapat dan murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan bakteri pada substrat media budidaya cacing yang dipupuk dengan kotoran ayam hasil fermentasi serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan cacing. Substrat yang digunakan berupa lumpur dan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1 dan ditempatkan dalam wadah berukuran dimensi 100×20×15 cm3. Pemupukan setiap dua hari menggunakan kotoran ayam hasil fermentasi dengan dosis 130, 160 dan 190 g/wadah menghasilkan perkembangan kelimpahan bakteri yang cenderung menurun selama masa pemeliharaan. Peningkatan kelimpahan bakteri diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan cacing sehingga tercapai populasi dan biomassa tertinggi pada hari ke-20 yang masing-masing mencapai 11.948 ind/m2 dan 14,65 g/m2.   Kata kunci: Cacing, Limnodrilus sp., bakteri, kotoran ayam dan fermentasi