Articles

Found 14 Documents
Search

HASIL TANGKAPAN PANCING TONDA BERDASARKAN MUSIM PENANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN TUNA DENGAN RUMPON DI PERAIRAN SELATAN PALABUHANRATU (Catch of troll line based upon fishing season and fishing ground of tuna with Fish Aggregating Devices (FAD) in...)

Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.785 KB)

Abstract

Penelitian pada pancing tonda berdasarkan musim penangkapan ikan dan penangkapan ikan tuna di sekitar rumpon ini dilakukan dari bulan April sampai Juli 2012 di selatan perairan Palabuhanratu. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan komposisi CPUE tuna dan memetakan penangkapan tuna dengan rumpon pada musim yang berbeda. Analisis Varians (ANOVA) digunakan untuk membandingkan CPUE di setiap musim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan musim memberikan perbedaan yang signifikan terhadap CPUE tuna. Persentase ikan tuna yang ditangkap di sekitar rumpon pada musim rata-rata terdiri dari yellowfin (42%), cakalang (36%) dan bigeye (22%). Musim tangkapan terendah terdiri dari yellowfin (44%), cakalang (30%) dan bigeye (25%). Musim puncak terdiri dari yellowfin (34%), cakalang (46%) dan bigeye (21%). Penangkapan ikan tuna di wilayah selatan Palabuhanratu pada posisi 070-080300 LS and 1060-1070 BT dengan daerah penangkapan ikan yang berbeda untuk setiap musim. Kata kunci: rumpon, daerah penangkapan ikan, musim penangkapan, pancing tonda, tuna

Pemeliharaan Ikan Sidat dengan Sistem Air Bersirkulasi

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 18, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.159 KB)

Abstract

Today, eel resource especially seeds in Indonesia has not been used for eel culture activities. To be able to optimally utilize the seeds that led to the production of eels for consumption needs adequate cultivation technology. This study aimed to obtain performance information of survival rate, growth rate, and feed conversion ratio to support mass production of eel consumption. The experiments were performed using aquarium of (0.8 x 0.4 x 0.4) m3 and concrete tank (1.7 x 1.7 x 1) m3 with circulating water. Eel used were elver (1.2-1.5 g) and fingerlings (15-17 g). Silk worms (Tubifex) and artificial feed in the pasta form were used as feed. The results showed that the elver reared in aquarium or concrete tank with water recirculation system showed high survival rate of 78-79% and 86-96%, respectively. The specific growth rate (SGR) was good (0.6-0.8%), but the feed conversion was still high (33-21) for the elver fed with silk worms and very good (0.6-0.7) for elver fed with artificial feed. The juvenile eel reared in a concrete tank showed SR up to 85-94%, the SGR ranged from 0.8 to 1.2%, and feed conversion from 0.61 to 0.69. It can be concluded that the rearing of seed eel can be done incontainer using water recirculation system with stocking density of 3 individuals/land 1.5 kg/m3 in preparing the seed to be ready tobe cultivated outdoors. Keywords: elver, feed conversion ratio, juvenile, specific growth rate, water recirculation system

Pemeliharaan Ikan Sidat dengan Sistem Air Bersirkulasi

Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol 18, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.159 KB)

Abstract

Today, eel resource especially seeds in Indonesia has not been used for eel culture activities. To be able to optimally utilize the seeds that led to the production of eels for consumption needs adequate cultivation technology. This study aimed to obtain performance information of survival rate, growth rate, and feed conversion ratio to support mass production of eel consumption. The experiments were performed using aquarium of (0.8 x 0.4 x 0.4) m3 and concrete tank (1.7 x 1.7 x 1) m3with circulating water. Eel used were elver (1.2-1.5 g) and fingerlings (15-17 g). Silk worms (Tubifex) and artificial feed in the pasta form were used as feed. The results showed that the elver reared in aquarium or concrete tank with water recirculation system showed high survival rate of 78-79% and 86-96%, respectively. The specific growth rate (SGR) was good (0.6-0.8%), but the feed conversion was still high (33-21) for the elver fed with silk worms and very good (0.6-0.7) for elver fed with artificial feed. The juvenile eel reared in a concrete tank showed SR up to 85-94%, the SGR ranged from 0.8 to 1.2%, and feed conversion from 0.61 to 0.69. It can be concluded that the rearing of seed eel can be done incontainer using water recirculation system with stocking density of 3 individuals/land 1.5 kg/m3in preparing the seed to be ready tobe cultivated outdoors.

EFEKTIVITAS PENANGKAPAN LAYUR (Trichiurus sp.) MENGGUNAKAN UMPAN BUATAN

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2014): MEI 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3484.938 KB)

Abstract

Penangkapan layur (Trichiurus sp.) di Palabuhanratu dengan pancing ulur sangat tergantung pada umpan. Jenis umpan yang biasanya digunakan nelayan adalah umpan alami berupa potongan ikan rucah. Penelitian ini mencoba mencari alternatif penggunaan umpan sebagai pengganti umpan alami untuk menangkap layur. Tiga jenis umpan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu umpan alami sebagai kontrol, umpan buatan dan campuran antara umpan alami dan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa umpan buatan dapat digunakan untuk membantu meningkatkan jumlah hasil tangkapan dan menentukan waktu efektif operasi penangkapan pancing ulur. Ketiga jenis umpan dioperasikan secara bersamaan di atas satu unit perahu pancing ulur selama 22 hari. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif komparatif dan analisis statistik rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpan campuran dapat menangkap layur sebanyak 453 ekor atau 52% dari jumlah total hasil tangkapan lebih banyak dibandingkan dengan umpan buatan yang menangkap 223 ekor atau 25% dan umpan alami 203 ekor atau 23%. Waktu penangkapan terbaik adalah antara pukul 05:00-07:00 WIB yang menghasilkan layur sebanyak 379 ekor atau 43% dari total hasil tangkapan, kemudian pukul 07:00-09:00 WIB dan 09:00-11:00 WIB, masing-masing berjumlah 298 ekor atau 34%, dan 202 ekor atau 23%.

HASIL TANGKAPAN PANCING TONDA BERDASARKAN MUSIM PENANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN TUNA DENGAN RUMPON DI PERAIRAN SELATAN PALABUHANRATU

Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.785 KB)

Abstract

Penelitianpada pancing tonda berdasarkan musim penangkapan ikan dan penangkapan ikan tuna di sekitar rumpon ini dilakukan dari bulan April sampai Juli 2012 di selatan perairan Palabuhanratu. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan komposisi CPUE tuna danmemetakan penangkapan tuna dengan rumpon pada musim yang berbeda. Analisis Varians (ANOVA) digunakan untuk membandingkan CPUE di setiap musim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan musim memberikan perbedaan yang signifikan terhadap CPUE tuna. Persentase ikan tuna yang ditangkap di sekitar rumpon pada musimrata-rata terdiri dariyellowfin (42%), cakalang (36%) dan bigeye (22%). Musim tangkapan terendah terdiri dari yellowfin (44%), cakalang (30%) dan bigeye (25%). Musim puncak terdiri dariyellowfin (34%), cakalang (46%) dan bigeye (21%). Penangkapan ikan tuna di wilayah selatan Palabuhanratu pada posisi 070-080300 LS and 1060-1070 BT dengandaerah penangkapan ikan yang berbeda untuk setiap musim.Kata kunci: rumpon, daerah penangkapan ikan, musim penangkapan, pancing tonda, tuna

Analysis of Morphometric Character of Chromis Fish in Indonesia and Korea

Journal Omni-Akuatika Vol 14, No 1 (2018): Omni-Akuatika May
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.611 KB)

Abstract

There are more than 350 species of Chromis fish in the world. Its distribution covers tropical and subtropical water areas. Spesific geographical conditions determine fish development.  This study aims to analyze morphometric meristik, and the differences between chromis fish characters in Indonesia and Korea waters. The research methods were consisted of descriptive methods, Kruskal-Wallis, and Mann Whitney test.The result showed the total length of Abudefduf sexfasciatus found in Palabuhan ratu and Pramuka Island water territories are ranged from 9.9 to 10.2 cm and 7.7 to 13.0 cm.This fish has a dorsal fin, caudal fin which consists of 12-17 weak fingers, and ventral fin consists of 1 hard finger and 4-6 weak fingers. Abudefduf vaigiensis’ found in Palabuhan ratu, Buton Island, Sorong, and Korea water has each ranging total length from 6.0 to 10.6 cm, 10.9 -12.3 cm, 11 cm, and 5.0 to 8.6 cm.The differences are in the caudal and ventral fin. Morphometric characters of Abudefduf sexfasciatus found in Palabuhan ratu and Pramuka Island water territories relatively similar. Morphometric characters of Abudefduf vaigiensis found in Korean waters was not significantly different with Palabuhan ratu, Buton Island, and Sorong water territories. Compared with the other two locations, Abudefduf vaigiensis found the island of Buton water territory has closely related family with the Korean water’s

ESTIMASI MUSIM PENANGKAPAN LAYANG (DECAPTERUS SPP) YANG DIDARATKAN DI PPN PEKALONGAN, JAWA TENGAH

Buletin PSP Vol 19, No 1 (2011): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.992 KB)

Abstract

Estimation fishing season of layang (Decapterus spp) was carried out through data catch of layang from purse seine fishing units landed at PPN Pekalongan. The objectives of the research were to analyze the trend of catch per unit effort of layang (CPUE), to estimate the pattern of fishing season and fishing ground of layang. CPUE analysis was carried out by comparing the catch of fishing effort, the estimated pattern of fishing season was carried out by analysis of time series (moving average), and estimates of the fishing ground by ranking the value of the average monthly trip. During 2004 to 2008, the average CPUE of layang is 13.55 tonnes/trip to the range of 1.37 to 39.60 tons/trip. Fishing season layang is in January, February and May to December, peak season in November and off season in March. Potential fishing ground for catching layang was estimated at Lumu-lumu, South China Sea, Bawean, Matasiri and Karimun-Cirebon.

Perhitungan Selektivitas Jaring Insang terhadap Ikan Cakalang dengan Pendekatan Metode Matsuoka

Buletin PSP Vol 19, No 3 (2011): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.629 KB)

Abstract

Alat tangkap yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah jaring insang hanyut multifilamen 210D/12 dengan ukuran mata jaring 4,50 inch (11,43 cm). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa hasil tangkapan dengan pendekatan metode Matsuoka. Data yang diolah adalah data hasil pengukuran ikan cakalang sebanyak 380 ekor yang didaratkan di TPI. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah peluang ukuran panjang (fork length) ikan cakalang yang dapat tertangkap dimana Girth opercular (Go) lebih kecil dari pada Mesh pelimeter (M1), dan Girth maximum (Gm) lebih besar dari pada Mesh pelimeter (M2). Hasil analisa menunjukkan peluang kisaran fork length ikan cakalang yang dapat tertangkap berada pada ukuran 36,25–49,91 cm. Kisaran panjang ikan cakalang yang tertangkap dengan menggunakan ukuran mata jaring 4,50 inch (ukuran pabrik), atau sama dengan 11,53 cm (hasil pengukuran = M) berada pada kisaran panjang 39,50 – 50,50 cm, sedangkan untuk kisaran panjang dari kurva selektivitas Ps (FL) berada pada kisaran panjang 37,86 – 48,20 cm. Dari hasil analisa secara keseluruhan, adanya kesamaan antara peluang kisaran panjang ikan yang da

LIGHT EMITTING DIODE (LED) HIJAU DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGURANGAN BYCATCH PENYU PADA PERIKANAN GILLNET DI PERAIRAN PALOH (Green Light Emitting Diode (LED) and its Effect on Sea Turtle Bycatch Reduction of Gillnet Fisheries in Paloh Waters)

Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 8, No 1 (2017): Marine Fisheries - Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.049 KB)

Abstract

ABSTRACTBycatch problem is a global issue and can be a driver of marine megafauna declines in the world, such as sea turtle, where is the animals status as endangered species. Green Light Emitting Diode (LED) is known as an innovative technology to reduce sea turtle bycatch without reduce target catch effectively. The use of green LED in order to reduce sea turtle bycatch in gillnet fisheries was carried out in Paloh Coast, West Borneo during August to October 2015. Experiment performed a total of 20 settings with gillnet fleets operate two units simultaneously, ie gillnet control (without LED lights) and gillnet experiment (with LED lights). Turtles caught predominantly were in the juvenile phase as 57.14% and the potential location of capture sea turtle bycatch in station 2 (1˚52 - 1˚56 LU and 109˚14 - 109˚18 BT). The results, showed that the green turtle (Chelonia mydas) were caught of 7 turtles, were captured by control gillnet 6 turtles with an CPUE 0.29 ± 0.03 Turtle/E, while by experimental gillnet 1 turtle with an CPUE by 0,04 ± 0,009 Turtle/E. The used of green LED light was significantly reduce sea turtle bycatch of 85% without decreasing target catch.Keywords: CPUE, green LED light, sea turtle bycatchABSTRAKPermasalahan terkait bycatch merupakan isu utama global yang dapat mengancam penurunan populasi megafauna laut seperti penyu yang telah berstatus endangerd species. Lampu LED merupakan inovasi teknologi untuk mengurangi bycatch penyu tanpa mengurangi hasil tangkapan ikan utama secara efektif. Penggunaan lampu Light Emmitting Diode (LED) hijau untuk mengurangi bycatch penyu pada perikanan jaring insang (gillnet) dilakukan di perairan Paloh, Kalimantan Barat selama bulan Agustus hingga Oktober 2015. Uji coba dilakukan dengan menggunakan 2 unit kapal gillnet yang dioperasikan di setiap stasiun pengamatan secara bersamaan dengan jumlah ulangan sebanyak 20 kali, diantaranya gillnet kontrol (tanpa lampu LED) dan gillnet eksperimen (dengan lampu LED). Penyu yang tertangkap cenderung didominasi oleh fase juvenile sebesar 57,14% dan lokasi potensi tertangkapnya bycatch penyu pada stasiun 2 (1˚52 - 1˚56 LU dan 109˚14 - 109˚18 BT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyu yang tertangkap merupakan penyu hijau (Chelonia mydas) berjumlah 7 ekor, terdiri dari 6 ekor tertangkap pada gillnet kontrol dengan CPUE 0,29 ± 0,03  ekor/E, dan 1 ekor pada gillnet eksperimen dengan CPUE 0,04 ± 0,009 ekor/E. Penggunaan lampu LED hijau memberikan pengaruh secara significant untuk mengurangi bycatch penyu dengan persentase pengurangan sebesar 85% tanpa mengurangi hasil tangkapan ikan utama.Kata kunci:  CPUE, lampu LED hijau, bycatch penyu

KOMPETISI ALAT PENANGKAPAN IKAN SKALA KECIL DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TEGALSARI

Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol 9, No 1 (2018): Marine Fisheries - Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.155 KB)

Abstract

The fishermen in Tegalsari Fishing Port have been using vary of fishing gears that is feared could competing in getting catches. This research aims to identify fishing gear types according to fishing gear vessel’s volume, fishing time and frequency in every operation, fishing gears productivity, and fishing gears competition. The subject of this research are four biggest number of fishing gear units in PPP Tegalsari (cantrang, arad, gillnet, and mini purse seine) with fishing vessel volume below 10 GT. Samples were taken with purposive sampling method  and collected through filling out the questionnaires. The fishing gears’s productivity determined by the number of catch per unit effort (CPUE). Furthermore, the  fishing gear competition mapped by classified the matrix of transformed fishing gear’s productivity number into some clusters with hierarchycal cluster analysis (HCA). The results show the dominant fishing gear that local fishermen use are cantrang (5, 6, 10 GT), arad (3, 5, 6, 10 GT), gillnet (6 GT), and mini purse seine (9 GT), the highest average of fishing gear operation time is gillnet (3 hours), and the least is mini purse seine (± 1 hour) and the highest average of fishing setting number is cantrang by 27 times/trip and mini purse seine is the least by 5 times/trip, the highest productivity gained by cantrang (5163 kg/trip) and the least is Gillnet (363 kg/trip), and the most intensive fishing gear competition is between cantrang (5 and 6 GT), arad (3,5, and 6 GT), and gillnet (3 GT).Keywords: Competition, fishing gear, productivityABSTRAKNelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari menggunakan alat tangkap yang beragam. Dikhawatirkan antar alat tangkap saling berkompetisi dalam mendapatkan hasil tangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis  alat  tangkap  berdasarkan  GT kapal, waktu untuk 1 kali  operasi dan frekuensinya dalam satu trip penangkapan ikan, produktivitas  alat  tangkap, dan kompetisi antar alat tangkap. Alat tangkap yang diamati adalah cantrang, arad, gillnet dan mini purse seine yang dioperasikan menggunakan kapal berukuran ≤ 10 GT. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Produktivitas alat tangkap ditentukan berdasarkan nilai CPUE dan kompetisi antar alat tangkap ditentukan menggunakan metode hierachycal cluster analysis. Hasil penelitian menunjukkan: jenis alat tangkap berdasarkan  GT  kapal yakni  cantrang  (5, 6 dan 10 GT), arad (3,  5,  6 dan 10 GT),  gillnet (6 GT), dan mini purse seine (9 GT); waktu untuk 1 kali operasi penangkapan ikan  tertinggi  pada alat  tangkap gillnet (3 jam)  dan  terendah  pada  cantrang dan  mini purse seine (± 1 jam) serta jumlah operasi penangkapan ikan per trip tertinggi pada alat tangkap cantrang (27 kali/trip) dan terendah pada mini purse seine (5 kali/trip); produktivitas tertinggi pada alat tangkap cantrang (5163 kg/trip) dan terendah pada gillnet (363 kg/trip); dan antar alat tangkap yang berkompetisi secara ketat adalah cantrang (5 dan 6 GT), arad (3, 5 dan 6 GT), dan gillnet 6 GT.Kata kunci: Kompetisi, alat penangkapan ikan, produktivitas.