Articles

Found 11 Documents
Search

GELOMBANG KEDUA PENGEMBANGAN JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Utarini, Adi
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 15, No 02 (2012)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.909 KB)

Abstract

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan(JMPK) telah mencapai tahun ke 15 penerbitannyadan merupakan satu-satunya jurnal di Indonesia yangmendedikasikan isinya untuk pengembangan kebijakandan manajemen pelayanan kesehatan. Berawaldari naskah-naskah yang disusun oleh penulisdari kalangan internal Fakultas Kedokteran UGM(termasuk kontribusi dari peserta yang sedang menempuhpendidikan berbagai program), selamabeberapa tahun terakhir kontribusi naskah telahberasal dari berbagai penjuru dan institusi di Indonesia.Dalam setiap penerbitan, separoh halamanjurnal diperuntukkan bagi penulis di luar FakultasKedokteran UGM. Hal ini menunjukkan bahwaeksistensi JMPK telah diterima dan dibutuhkansecara nasional.Sejak tahun 1998, Prof Laksono Trisnantoro sebagaipemimpin redaksi JMPK telah menginisiasi,mengembangkan, meningkatkan profil dan kualitasjurnal yang dibuktikan melalui status akreditasibersama tim editor: Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc.,MPH.,Ph.D., Prof.dr. Hari Kusnanto, SU., Dr.PH.,Dr. Dra. Sri Suryawati, Apt., drg. Yulita Hendrartini,M.Kes., dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA., dan dr.Yodi Mahendradhata, M.Sc, Ph. D.Sejumlah 483 artikel telah diterbitkan di JMPKsejak dimulainya penerbitan jurnal ini. Kami mengucapkanterima kasih atas dedikasi tim editor selamaini untuk JMPK, dan tetap mengharapkan kontribusinyasebagai mitra bestari dalam perjalanan panjangjurnal ini selanjutnya. Semoga jurnal baru yang akandirintis, yaitu Jurnal Kebijakan Kesehatan, akan segerahadir di Indonesia untuk mendorong pengembanganilmu dan implementasi kebijakan kesehatan.Dengan rencana penerbitan jurnal baru tersebut,maka sesuai dengan namanya, JMPK akan memfokuskanmisinya untuk menyebarluaskan dan mendiskusikanberbagai tulisan ilmiah mengenai manajemenpelayanan kesehatan. Isi jurnal berupa artikelhasil penelitian yang berkaitan dengan manajemenrumah sakit, manajemen pelayanan kesehatan, manajemenpelayanan klinis, asuransi kesehatan, danmasalah yang relevan dengan manajemen pelayanankesehatan. Rubrik makalah kebijakan menjadiditiadakan. Mulai edisi Juni 2012, naskah-naskahyang lebih mengarah pada kebijakan kesehatan akandikirim ke Jurnal Kebijakan Kesehatan dan terdapatrevisi petunjuk bagi penulis. Selain naskah berupahasil penelitian, kami tetap mengharapkan kontribusiaktif para penulis/pembaca untuk resensi buku-bukubaru yang terbit dua tahun terakhir dan korespondensi.Saran-saran terhadap pengembangan JMPKsecara umum juga sangat diharapkan.Bagaimana pengembangan jurnal ini ke depan?Beberapa pemikiran untuk pengembangan padagelombang JMPK selanjutnya akan berfokus padaupaya untuk: (1) Mendorong sistem yang mempermudahkomunikasi antara pengelola jurnal, mitra bestaridan penulis sehingga penulis dapat mengetahuistatus review naskahnya, yaitu melalui sistemonline-submission; (2) Membuat call for paper untuktopik-topik khusus dalam manajemen pelayanankesehatan secara periodik; (3) Meningkatkan kerjasama dengan pihak lain untuk penerbitan edisikhusus; (4) Meningkatkan kualitas artikel yang terbitdi JMPK melalui proses review yang berkesinambungandan edukatif untuk mendukung para penulis.Keempat pengembangan tersebut diharapkan dapatkami kembangkan bersama tim editor JMPK yangbaru, dengan meningkatkan keterlibatan perguruantinggi di luar UGM. Terima kasih kepada, dr, AriProbandari MPH, PhD (Universitas Sebelas MaretSurakarta), dr. Vierra Wardhani M.Kes (UniversitasBrawijaya), akan kesediaannya untuk bergabungdalam tim editorial JMPK serta kepada dr. YodiMahendradhata MSc, PhD (Universitas GadjahMada), Prof.dr. Hari Kusnanto, SU., Dr. PH (UniversitasGadjah Mada) yang tetap bergabung dalamtim. Kami percaya bahwa pengalaman tim editorserta pengembangan riset manajemen pelayanankesehatan yang semakin kuat akan membawa energibaru untuk menghasilkan sinergi yang kuat dalammempertahankan kelangsungan JMPK.Akhir kata, edisi Desember 2012 akan mengangkattema manajemen pelayanan kesehatan dankeselamatan pasien. Untuk itu, kami mendorong parapenulis dari berbagai institusi pendidikan, penelitian,organisasi pelayanan kesehatan (rumah sakit,Puskesmas dan lainnya), Kementerian Kesehatan,Dinas Kesehatan, lembaga asuransi kesehatan sertaasosiasi profesi untuk mengirimkan naskahnya yangsesuai dengan tema tersebut.
Alternatif Strategi Pelaksanaan Peran Regulasi Pasca Desentralisasi Di Daerah Utarini, Adi
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 7, No 02 (2004)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.6 KB)

Abstract

TERSEDIA DALAM FILE
Perilaku Seks Pranikah Remaja Rahyani, Komang Yuni; Utarini, Adi; Wilopo, Siswanto Agus; Hakimi, Mohammad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.739 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.53

Abstract

Hubungan seksual sebelum nikah pada remaja merupakan masalah yang serius, berhubungan dengan peningkatan penularan penyakit menular seksual, mempunyai pasangan lebih dari satu, dan kehamilan dini. Suatu kerangka kerja model perilaku terintegrasi (Integrated Behavioral Model, IBM) digunakan untuk menilai berbagai faktor prediktor hubungan seksual prematur pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi inisiasi hubungan seksual sebelum nikah pada remaja level 10 dan 11 berdasarkan kerangka kerja IBM, meliputi komunikasi tentang seks kelompok peers, orang tua, paparan perilaku pornografi, kepercayaan normatif, agen personal, dan keinginan hubungan seksual. Metode yang digunakan adalah menyertakan 626 responden dalam survei awal. Responden adalah siswa sekolah menengah atas level 10 – 11 di kota Denpasar. Data dikumpulkan dengan kuesioner laporan sendiri khususnya prediktor inisiasi hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian ini menemukan bahwa pajanan pornografi, perilaku langsung dan tidak langsung berhubungan secara signifikan dengan inisiasi hubungan seksual sebelum nikah (nilai p < 0,05). Remaja laki-laki tampaknya melakukan lebih banyak aktivitas seksual daripada remaja perempuan. Penelitian ini berimplikasi terhadap pemahaman perilaku langsung dan pajanan pornografi mungkin digunakan dalam meningkatkan program kesehatan dan kesehatan remaja.Kata kunci: Hubungan seksual sebelum nikah, penyakit menular seksual, remajaAbstract Premarital sexual inisiation on adolescence is a serious problem, associated with increased transmition sexually transmitted disease/STD, had having more partners, and early pregnancy. An Integrated Behavioral Model (IBM) framework used to assess predictors of premarital sexual on adolescents. The purpose of this research is to explore predictors of premarital sexual inisiation in adolescents grade 10 and 11 based on IBM framework, includes: communication about sex with peers, parents, pornography exposure, attitude, normative belief, personal agency, and intention to have sex. Method that used is 626 respondent included in earlier survey, and respondent were students of senior high school grade 10 – 11 in Denpasar City. Data collected with self reported questionaire particularly predictor of premarital sexual initiation. The result found that pornography exposure, indirectly attitude, and directly attitude were significantly associated with premarital sexual initiation (p < 0,05). Male adolescents engage in more sexual activity like premarital sexual inisiation than female adolescents. This study has implications for understanding how directly attitude and pornography exposure may be used in intervention to promoting adolescents health program and adolescents ressiliency.Keywords: Premarital sexual, sexually transmitted disease, adolescence
DAMPAK PEMBERLAKUAN CLINICAL PATHWAY TERHADAP KUALITAS PELAYANAN STROKE DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Kusumaningtyas, Tiara; Utarini, Adi; Pinzon, Rizaldy Taslim
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 2 (2017): Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
Publisher : Medical Faculty of Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v2i2.60

Abstract

Latar belakang: Stroke masih menjadi masalah kesehatan dunia. Dibutuhkan solusi manajemen klinis yang lebih baik guna mengupayakan pelayanan stroke yang berkualitas. Sebagai sebuah instrumen yang menstandarisasi proses dan outcome pelayanan, clinical pathway selayaknya mampu menjadi solusi perbaikan manajemen kualitas berkelanjutan. Hingga kini bukti mengenai efektivitas clinical pathway masih diperdebatkan. Tujuan: Untuk mengevaluasi dampak clinical pathway terhadap perbaikan kualitas pelayanan stroke berdasarkan indikator proses dan outcome. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode before-after without control group quasi exsperimental, dimana dilakukan penilaian pre dan post implementasi pada dua kelompok tanpa randomisasi. Kelompok intervensi adalah kelompok subyek yang ditatalaksana dengan clinical pathway sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok pasien sebelum pemberlakuan pathway (diambil dari data sekunder rekam medis). Outcome mortalitas sebagai output primer dari penelitian ini akan dibandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Hasil: Karakteristik subyek dalam penelitian ini homogeny dalam hal variabel demografi (kecuali jenis kelamin) dan karakteristik klinis gejala wajah perot, faktor risiko dan komorbiditas. Pemberlakuan clinical pathway tidak memperbaiki outcome mortalitas, meskipun proporsi mortalitas menurun, 14,5% sebelum pemberlakuan dan 17,8% setelah pemberlakuan. Clinical pathway secara signifikan memperbaiki proses pelayanan stroke pada esesmen menelan (p=0,00), esesmen rehabilitasi (p=0,00) dan edukasi saat pasien pulang (p=0,001). Jenis stroke, kondisi kesadaran saat pasien masuk RS, adanya faktor risiko DM dan AF meningkatkan risiko mortalitas pasien stroke, sedangkan pelaksanaan esesmen menelan sesegera mungkin menurunkan risiko mortalitas. Kesimpulan: Pemberlakuan clinical pathway pada pelayanan stroke memperbaiki proses pelayanan meskipun dampaknya terhadap outcome mortalitas tidak berpengaruh.
MENS INVOLVEMENT IN FAMILY PLANNING: A GENDER PERSPECTIVE Utarini, Adi
Populasi Vol 9, No 2 (1998): Desember
Publisher : Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.342 KB) | DOI: 10.22146/jp11784

Abstract

Akhir-akhir ini, keterlibatan pria dalam kesehatan reproduksi secara umum mulai banyak mendapat sorotan. Tulisan ini terutama membahas apakah keterlibatan tersebut berartimempersempit kesenjangan antara pria dan wanita secara umum. Dengan perspektif gender, keterlibatan pria dan wanita dianalisis dalam 3 tingkatan, yaitu pada tingkat kebijakan internasional, tingkat program dan tingkat individu. Hasil studi pustaka ini menunjukkan bahwa proses pembuatan keputusan yang berkaitan dengan keluarga berencana belum banyak dibahas, berbeda halnya dengan jenis keputusan dan pembuat keputusan. Untuk menyatakan bahwa keterlibatan pria berakibat positif terhadap kesetaraan gender (gender equality), diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses pembuatan keputusan sebagai titik kritis ke arah kesetaraan jender.
Audit Mutu Layanan Rujukan Primer Guna Mengurangi Jumlah Rujukan ke Layanan Sekunder. Studi Kasus pada Provinsi DKI Jakarta Hardhantyo, Muhammad; Armiatin, Armiatin; Utarini, Adi; Djasri, Hanevi
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 4 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.296 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v5i4.29152

Abstract

ABSTRACTBackground: Cost control care was sensitive issue in Universal Health Coverage (UHC) era. Some assume it could be achieved by reduce the quality given or service fee for functional staff. However, optimizing primary care services to avoid hospitalization could be another form of cost controlled careMethod: Retrospective audit was performed to 1025 medical record from 15 primary health office in DKI Jakarta Province. Sample was patient referred to hospital from Januari 1st until June 30th 2015. W e monitored percentage of complete documentation, accuracy and quality of referred patient specifically for four diagnosis which Diabetes Melitus, Severe Pre Eclamcia, Hypertension and Dengue Fever. Selection of those diagnose was made based on high patient referred with low quality (60,2%). Result of audit was use to made effective refferal system guidance that contained referral manual for four case and revision of referral form.Result: Patient referred were 0-87 year old. Majorly range from 60-70 year old (25,9%), 43,2% were men and 56,8% were woman, and most of them 54,5% used universal health coverage BPJS PBI. Medical record audit showed there is only 69,5% (SD ± 13.26) patient deserved to be referred to hospital from primary health office. After implementation the re-audit result showed significant improvement of referral quality, from 69,5% become 83,4% (SD ± 13.67, P<0.05), including its complete documentation, accuracy, and quality of the referral system.Conclutsion: The innovation for improving quality of referral system need support from various stakeholder. Referral form changes need approval from BPJS because its function not merely for administation, it is a way to communicate between primary doctors and specialist in hospital. Some component was missing in referral form today. Referral guidance revision from Ikatan Dokter Indonesia also needed for 155 cases in primary health office. Cost controlled care in universal health coverage could be achieved by optimizing the function of doctor in primary health office. Keyword: Referral and conultation, gate keeper, quality assurance ABSTRAKLatar Belakang: Kendali biaya merupakan suatu hal yang sensitif di era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini, banyak yang beranggapan bahwa kendali biaya berarti menurunkan mutu pelayanan atau jasa medis untuk staf fungsional. Padahal salah satu bentuk dari kendali biaya adalah optimalisasi peran dokter primer dengan menurunkan angka rujukan yang tidak perlu dari puskesmas.Metode: Audit dilakukan secara restrospektif, kami mengambil sampel sebanyak 1025 rekam medis pasien yang di rujuk dari 15 puskesmas di Provinsi DKI Jakarta selama periode Januari hingga Juni 2014. Audit rekam medis dilakukan untuk melihat aspek kelengkapan, ketepatan, serta mutu rujukan terutama pada empat kasus khusus yakni Diabetes Melitus, Pre Eklamsia, Hipertensi dan Demam Dengue. Pemilihan kasus tersebut didasarkan pada tingginya angka rujukan disertai dengan rendahnya kualitas rujukan pada empat kasus tersebut (60,2%). Hasil audit kemudian dijadikan acuan guna penyusunan sistem rujukan efektif yang terdiri dari manual rujukan, perbaikan form rujukan serta pedoman rujukan primer pada empat kasus.Hasil: Pasien yang dirujuk berusia antara 0 hingga 87 tahun (mean ± SD, 46.78 ± 19.15) dengan rentang usia terbesar adalah 60 hingga 70 tahun sebanyak 25,9%, laki-laki 43,2% dan perempuan 56,8%, dengan jaminan kesehatan terbanyak merupakan pengguna kartu BPJS PBI sebanyak 54,5%. Hasil audit menunjukkan bahwa hanya terdapat 69.5% (SD ± 13.26) kasus rujukan yang berkualitas dari 15 puskesmas di Provinsi DKI Jakarta. Pasca adanya implementasi, hasil re-audit menunjukkan peningkatan signifikan kualitas rujukan menjadi 83.4% (SD ± 13.67, P<0.05), baik dari segi kelengkapan, ketepatannya maupun mutunya.Kesimpulan: Inovasi untuk meningkatkan kualitas sistem rujukan memerlukan dukungan dari berbagai stakeholder. Penggantian form rujukan memerlukan persetujuan dari BPJS karena fungsinya tidak hanya sebagai kelengkapan administrasi tetapi juga sebagai jembatan komunikasi antara dokter umum dengan spesialis di rumah sakit. Saat ini beberapa komponen dalam form masih kurang lengkap. Perbaikan pedoman rujukan bagi 155 kasus yang dapat ditangani di puskesmas perlu disusun oleh Ikatan Dokter Indonesia. Dengan berbagai perbaikan tersebut, kendali biaya di era jaminan kesehatan saat ini dapat tercapai dengan mengoptimalkan fungsi dokter di layanan primer. Kata Kunci: Rujukan dan Konsultasi, Gate keeper, Jaminan Kualitas 
National health coverage programs and the quality of referral cases to the obstetrics and gynaecology clinic at top referral hospital in Jakarta Suastika, Arresta Vitasatria; Gunardi, Eka Rusdianto; Djasri, Hanevi; Utarini, Adi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 9 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.38067

Abstract

Background: Implementation of national health coverage contributes to the increasing number of outpatient visits in Obstetrics and Gynecology Department of the Cipto Mangunkusumo Hospital. It may be caused by improper referral system or number of government insurance patients called as BPJS patients. Therefore, this study aims to analyse the pattern and quality of referral system in the implementation of universal health coverageMethods: The quasi experimental study was conducted using pre and post analysis of the cases pattern and referral quality. A total of 400 referral cases who meet the inclusion and exclusion criteria were used for analysis. Quality of cases include accuracy of referred case diagnosis, accuracy of referring health facility, and consistency of referred case diagnosisResults: There was an increasing number of referral visits in the early implementation of national health program; however, it declined overtime. There was reduction of general obstetrics and gynaecology cases and increase of sub-specialistic cases. It was in appropriate to the role of centre referral hospital in Indonesia. Around 98% referral diagnoses were correct to be referred, 82% cases came from correct health facilities, and 98% referral diagnosis was consistent to the Cipto Mangunkusumo Hospital.Conclusion: There is an improvement in the quality of cases referred to Dr. Cipto Mangunkusumo hospital after the implementation of national health coverage program.  
DO WOMEN IN RURAL AREAS STILL PREFER HOMEBIRTH WITH TRADITIONAL BIRTH ATTENDANTS? A QUALITATIVE STUDY OF WOMEN IN RURAL AREA OF KUTAI KERTANEGARA EAST KALIMANTAN Nurrachmawati, Annisa; Hakimi, Moh.; Utarini, Adi
Public Health of Indonesia Vol 4, No 2 (2018): April - June 2018
Publisher : Public Health of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.629 KB)

Abstract

Background: There continues to be a gap between facility-based delivery and homebirth. This condition is influenced by various social and cultural factors, which in rural areas could affect childbirth in health facilities.Objective: This study aimed to explore whether there has been a shift from homebirth to facility-based delivery and what factors are associated with the phenomenon.Method: A qualitative longitudinal research with ethnographic study design was conducted in the working area of Muara Kaman Health Center in Kutai Kertanegara District, East Kalimantan. The data were collected using in-depth interviews of 17 pregnant women as informants who were followed from the first or second trimester of pregnancy until delivery, and interviews with four midwives. Data were analyzed with thematic analysis.Results: Nine of the 17 women gave birth at the health facility, while there were still three who had homebirth assisted by traditional birth attendants. The number of women who performed deliveries at health facilities was increased from five in the previous pregnancy to nine in the current pregnancy during study. Women’s autonomy and risk awareness were considered as enablers for delivery at health facilities, while perception of homebirth as appropriate for normal labor, unnecessary planning of place and birth attendants, and less optimum partnership between midwife and traditional birth attendants hindered facility-based delivery.Conclusion: Our findings suggest that the shift from homebirth to facility-based delivery has been slow. Efforts to minimize the barriers and improve supportive environment for women to deliver at health facilities should be strengthened.
Women’s Autonomy and Tradition in Making Decision on Place of Delivery and Birth Attendants Nurrachmawati, Annisa; Wattie, Anna Marie; Hakimi, Mohammad; Utarini, Adi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol 12, No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
Publisher : Faculty of Public Health, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24893/jkma.12.2.3-12.2018

Abstract

Data from the Basic Health Research survey (Riskesdas) in 2013 showed that 33.3% deliveries in Indonesia occurred outside health facilities. Culture and gender influenced the decision-making process regarding place of delivery and birth attendants. A qualitative longitudinal study with an ethnography study design was conducted to explore the socio-cultural context and women’s autonomy in the dynamics of decision making regarding  place of delivery and birth attendants. This study was conducted in the working area of Muara Kaman Health Center, Kutai Kertanegara, East Kalimantan. In-depth interviews with 17 pregnant women were conducted since the first or second trimester of pregnancy until childbirth. Data were analyzed using thematic analysis. Nine informants delivered at the health facilityand eight informants chose home delivery.Those who delivered at the health facility made their own decision. Nevertheless some informants who were autonomous still chose homebirth, either assisted by  midwives, TBAs, or both. Women whose choice was decided by others (husbands, parents and TBAs), all gave birth at home assisted by TBAs. Women’s autonomy needs to be strengthened by improved knowledge, practice of delivery plan and also increase family support to enable women to choose health facilities as place for delivery.
Perilaku Seks Pranikah Remaja Rahyani, Komang Yuni; Utarini, Adi; Wilopo, Siswanto Agus; Hakimi, Mohammad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.739 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.53

Abstract

Hubungan seksual sebelum nikah pada remaja merupakan masalah yang serius, berhubungan dengan peningkatan penularan penyakit menular seksual, mempunyai pasangan lebih dari satu, dan kehamilan dini. Suatu kerangka kerja model perilaku terintegrasi (Integrated Behavioral Model, IBM) digunakan untuk menilai berbagai faktor prediktor hubungan seksual prematur pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi inisiasi hubungan seksual sebelum nikah pada remaja level 10 dan 11 berdasarkan kerangka kerja IBM, meliputi komunikasi tentang seks kelompok peers, orang tua, paparan perilaku pornografi, kepercayaan normatif, agen personal, dan keinginan hubungan seksual. Metode yang digunakan adalah menyertakan 626 responden dalam survei awal. Responden adalah siswa sekolah menengah atas level 10 ? 11 di kota Denpasar. Data dikumpulkan dengan kuesioner laporan sendiri khususnya prediktor inisiasi hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian ini menemukan bahwa pajanan pornografi, perilaku langsung dan tidak langsung berhubungan secara signifikan dengan inisiasi hubungan seksual sebelum nikah (nilai p < 0,05). Remaja laki-laki tampaknya melakukan lebih banyak aktivitas seksual daripada remaja perempuan. Penelitian ini berimplikasi terhadap pemahaman perilaku langsung dan pajanan pornografi mungkin digunakan dalam meningkatkan program kesehatan dan kesehatan remaja.Kata kunci: Hubungan seksual sebelum nikah, penyakit menular seksual, remajaAbstract Premarital sexual inisiation on adolescence is a serious problem, associated with increased transmition sexually transmitted disease/STD, had having more partners, and early pregnancy. An Integrated Behavioral Model (IBM) framework used to assess predictors of premarital sexual on adolescents. The purpose of this research is to explore predictors of premarital sexual inisiation in adolescents grade 10 and 11 based on IBM framework, includes: communication about sex with peers, parents, pornography exposure, attitude, normative belief, personal agency, and intention to have sex. Method that used is 626 respondent included in earlier survey, and respondent were students of senior high school grade 10 ? 11 in Denpasar City. Data collected with self reported questionaire particularly predictor of premarital sexual initiation. The result found that pornography exposure, indirectly attitude, and directly attitude were significantly associated with premarital sexual initiation (p < 0,05). Male adolescents engage in more sexual activity like premarital sexual inisiation than female adolescents. This study has implications for understanding how directly attitude and pornography exposure may be used in intervention to promoting adolescents health program and adolescents ressiliency.Keywords: Premarital sexual, sexually transmitted disease, adolescence