Articles

Found 7 Documents
Search

Penentuan Indeks Kepadatan Tegakan Sengon di Hutan Rakyat (Kecamatan Kranggan dan Pringsurat Kabupaten Temanggung)

Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1220.984 KB)

Abstract

Stand Density Index (SDI) reflects stand productivity. Research on density index in community forest is very rare. The objective of this research was to determine stand density index in community forest by implementing Reineke’s density index. There were 62 sample plots established representing density variation, management pattern, and land terrain. Stem diameter of saplings, poles and trees was measured in every plot. Allometry analysis was employed to draw the relation between the number of stem per hectare (N) and stem diameter at the average of basal area (dlbds ). The result showed that the Reineke’s density index could be applied with an adjustment in the reference stem diameter. Based on the accepted allometry coefficient and the minimum stem diameter at the average basal area of 20 cm, the equation of stand density index for community forest is proposed as follows: SDI = N (20/dlbds ) -1,153Keywords: Stand density index, community forest, allometry IntisariIndeks kepadatan tegakan (SDI) berpengaruh pada produktifitas tegakan. Hutan rakyat memiliki karakteristik kepadatan tegakan yang berbeda dengan hutan tanaman seumur. Kajian SDI selama ini belum pernah dilakukan di hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan indeks kepadatan tegakan di hutan rakyat dengan pendekatan persamaan yang dikembangkan oleh Reineke. Sampel yang digunakan berjumlah 62 plot berdasarkan variasi kepadatan, pola pengelolaan dan kelerengan lahan. Analisis alometri digunakan untuk menggambarkan hubungan antara jumlah pohon per hektar (N/ha) dengan diameter pada rata-rata luas bidang dasar (dlbds ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan SDI yang dikembangkan oleh Reineke dapat digunakan di hutan rakyat dengan penyesuaian nilai referensi diameter. Berdasarkan nilai koefisien alometri dan referensi diameter pada rata-rata luas bidang dasar sebesar 20 cm, maka dapat diajukan persamaan SDI untuk hutan rakyat sebagai berikut :SDI = N (20/dlbds ) -1,153Kata kunci: Indeks kepadatan, hutan rakyat, alometri

Analisis Kesenjangan Dan Perbandingan Kayu Papi (Exocarpus Latifolia R.Br) Dengan Cendana (Santalum Album Linn.) Di Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu papi (Exocarpus latifolia R.Br) merupakan substitusi cendana (Santalum album Linn.). Peningkatan permintaan dan regulasi yang longgar mengancam kelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah: 1) menganalisis kesenjangan informasi dan konservasi kayu papi dan cendana dan 2) membandingkan produksi, harga serta kelimpahan keduanya. Analisis 1 menggunakan metode analisis literatur dan studi perbandingan, sedangkan analisis 2 menggunakan indeks nilai penting (INP) dan metode perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, kesenjangan informasi dan konservasi kayu papi dan cendana adalah nyata. Terdapat 319 publikasi ilmiah yang memuat informasi tentang cendana dan ada empat plot konservasi cendana. Sementara itu, hanya terdapat 10 publikasi ilmiah tentang kayu papi dan sebuah plot konservasi; kedua, harga kayu papi (Rp 3,1 juta/m3) lebih rendah dibanding cendana (Rp 225 juta/m3) dan rataan produksi kayu papi dalam empat tahun terakhir (700 m3/tahun) lebih tinggi dibanding rataan produksi cendana (166 m3/tahun); ketiga, kelimpahan kayu papi di beberapa daerah di Timor lebih rendah dibanding cendana. INP kayu papi pada tingkat tiang dan pohon di beberapa kawasan hutan secara berturut-turut adalah 31-57 dan 9-32, sedangkan INP cendana di lahan milik pada tingkat tiang dan pohon adalah 194-234 dan 60-209. Dengan kelimpahan tanaman lebih rendah dan produksi kayu lebih tinggi, kelestarian kayu papi lebih terancam dibanding cendana.

Analisis Kesenjangan Dan Perbandingan Kayu Papi (Exocarpus Latifolia R.Br) Dengan Cendana (Santalum Album Linn.) Di Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu papi (Exocarpus latifolia R.Br) merupakan substitusi cendana (Santalum album Linn.). Peningkatan permintaan dan regulasi yang longgar mengancam kelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah: 1) menganalisis kesenjangan informasi dan konservasi kayu papi dan cendana dan 2) membandingkan produksi, harga serta kelimpahan keduanya. Analisis 1 menggunakan metode analisis literatur dan studi perbandingan, sedangkan analisis 2 menggunakan indeks nilai penting (INP) dan metode perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, kesenjangan informasi dan konservasi kayu papi dan cendana adalah nyata. Terdapat 319 publikasi ilmiah yang memuat informasi tentang cendana dan ada empat plot konservasi cendana. Sementara itu, hanya terdapat 10 publikasi ilmiah tentang kayu papi dan sebuah plot konservasi; kedua, harga kayu papi (Rp 3,1 juta/m3) lebih rendah dibanding cendana (Rp 225 juta/m3) dan rataan produksi kayu papi dalam empat tahun terakhir (700 m3/tahun) lebih tinggi dibanding rataan produksi cendana (166 m3/tahun); ketiga, kelimpahan kayu papi di beberapa daerah di Timor lebih rendah dibanding cendana. INP kayu papi pada tingkat tiang dan pohon di beberapa kawasan hutan secara berturut-turut adalah 31-57 dan 9-32, sedangkan INP cendana di lahan milik pada tingkat tiang dan pohon adalah 194-234 dan 60-209. Dengan kelimpahan tanaman lebih rendah dan produksi kayu lebih tinggi, kelestarian kayu papi lebih terancam dibanding cendana.

Potensi Mahoni (Swietenia macrophylla King) Pada Hutan Rakyat Sistem Kaliwo di Malimada, Sumba Barat Daya

Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 14, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Program Studi Ilmu Lingkungan,Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hutan rakyat berpotensi menjadi solusi defisit kebutuhan kayu secara lokal maupun nasional. Optimalisasi peran hutan rakyat memerlukan perencanaan yang tepat dan data yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi dan komposisi kayu penyusun hutan rakyat di Malimada, Kecamatan Wewewa Utara Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan diskriptif kuantitatif dengan metode sampling kuadrat. Sampel berjumlah 10 plot yang diambil secara puposive. Indeks Nilai Peneting (INP) digunakan untuk menggambarkan potency kayu dan komposisi jenis penyusun hutan rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahoni (Swietenia macrophylla King) mendominasi tegakan dengan nilai INP pada tingkat sapihan, tiang dan pohon berturut-turut adalah 188,28; 211,28 dan 246,04. Struktur tegakan yang ada memiliki karakteristik yang hampir sama dengan hutan alam,  hal ini terlihat dari grafik distribusi tingkat pertumbuhan yang berbentuk (J) terbalik (reverse J-shape). Kata kunci : potensi kayu, hutan rakyat, mahoni, analisis vegetasi   ABSTRACT Private forests potentially solve the problem of local and national wood deficit. Optimizing the role of private forests, needs proper plannings and accurate data. This study aimed at determining wood potency and composition on private forest of Malimada, North Wewewa sub district, Southwest Sumba District of East Nusa Tenggara. This research used quantitative descriptive approach. Samplings purposive used quadrat methods with 10 plots were established. Important Value Index (IVI) was employed in order to depict wood potency and trees composition of private forest. The research results revealed that standing stock predominantly by mahogany (Swietenia macrophylla King.) with IVI at saplings, poles, and trees level were 188.28; 211.28 and 246.04 respectively. The existing structure stock has similar characteristics to the nature forest, this was indicated by reverse J-shape level of growth distribution curve.   Keywords : wood potency, private forest, mahogany, vegetation analysis.

PERTUMBUHAN BAKAU (Rhizophora mucronata Lamk) DAN PRODUKTIVITAS SILVOFISHERY DI KABUPATEN KUPANG

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan kawasan mangrove menjadi tambak banyak terjadi di Kabupaten Kupang. Silvofishery merupakan model pengusahaan tambak yang terpadu dengan konservasi sehingga nilai ekonomi dan ekologinya dapat dicapai secara bersamaan. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh  silvofishery terhadap produktivitas tambak dan kualitas lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan parameter kualitas air, pertumbuhan tanaman, dan pertumbuhan bandeng. Plot yang digunakan dalam penelitian ini meliputi plot silvofishery dan plot untuk pengukuran kualitas air. Plot silvofihery terdiri atas plot A, B, C, dan D dengan variasi jarak tanam. Plot pengukuran kualitas air meliputi: tambak dengan mangrove, tambak tanpa mangrove, dan tambak dengan mangrove yang sudah tidak dibudidayakan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas air di dalam tiga plot tambak adalah: (1) salinitas yang rendah berkisar antara 7-7,7%; (2) pH netral sampai agak basa atau 7,8-8,8; (3) Chemical Oxigen Demand (COD) antara 98,2-172,9 mg/l atau dikategorikan sebagai air tercemar;  dan (4) Biological Oxygen Demand (BOD) antara 5,6-5,8 mg/l atau masih dalam batas ambang. Kegiatan silvofishery di Bipolo layak untuk dikembangkan dan menguntungkan secara finansial, dilihat dari nilai BCR >1. Rata-rata pertumbuhan tanaman dan penambahan berat ikan pada plot C lebih tinggi dibandingkan dengan plot A dan B.

Penentuan Indeks Kepadatan Tegakan Sengon di Hutan Rakyat (Kecamatan Kranggan dan Pringsurat Kabupaten Temanggung)

Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indeks kepadatan tegakan (SDI) berpengaruh pada produktifitas tegakan. Hutan rakyat memiliki karakteristik kepadatan tegakan yang berbeda dengan hutan tanaman seumur. Kajian SDI selama ini belum pernah dilakukan di hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan indeks kepadatan tegakan di hutan rakyat dengan pendekatan persamaan yang dikembangkan oleh Reineke. Sampel yang digunakan berjumlah 62 plot berdasarkan variasi kepadatan, pola pengelolaan dan kelerengan lahan. Analisis alometri digunakan untuk menggambarkan hubungan antara jumlah pohon per hektar (N/ha) dengan diameter pada rata-rata luas bidang dasar (dlbds ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan SDI yang dikembangkan oleh Reineke dapat digunakan di hutan rakyat dengan penyesuaian nilai referensi diameter. Berdasarkan nilai koefisien alometri dan referensi diameter pada rata-rata luas bidang dasar sebesar 20 cm, maka dapat diajukan persamaan SDI untuk hutan rakyat sebagai berikut :SDI = N (20/dlbds ) -1,153Kata kunci: Indeks kepadatan, hutan rakyat, alometri Determination of Sengon Stand Density Index in the Community Forests (Kranggan and Pringsurat Sub District, Temanggung District)AbstractStand Density Index (SDI) reflects stand productivity. Research on density index in community forest is very rare. The objective of this research was to determine stand density index in community forest by implementing Reineke’s density index. There were 62 sample plots established representing density variation, management pattern, and land terrain. Stem diameter of saplings, poles and trees was measured in every plot. Allometry analysis was employed to draw the relation between the number of stem per hectare (N) and stem diameter at the average of basal area (dlbds ). The result showed that the Reineke’s density index could be applied with an adjustment in the reference stem diameter. Based on the accepted allometry coefficient and the minimum stem diameter at the average basal area of 20 cm, the equation of stand density index for community forest is proposed as follows: SDI = N (20/dlbds ) -1,153

ANALISIS KESENJANGAN DAN PERBANDINGAN KAYU PAPI R.Br) DENGAN CENDANA ( Linn.) DI NUSA TENGGARA TIMUR, INDONESIA

Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.187 KB)

Abstract

Kayu papi (Exocarpus latifolia R.Br) merupakan substitusi cendana (Santalum album Linn.). Peningkatan permintaan dan regulasi yang longgar mengancam kelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah: 1) menganalisis kesenjangan informasi dan konservasi kayu papi dan cendana dan 2) membandingkan produksi, harga serta kelimpahan keduanya. Analisis 1 menggunakan metode analisis literatur dan studi perbandingan, sedangkan analisis 2 menggunakan indeks nilai penting (INP) dan metode perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, kesenjangan informasi dan konservasi kayu papi dan cendana adalah nyata. Terdapat 319 publikasi ilmiah yang memuat informasi tentang cendana dan ada empat plot konservasi cendana. Sementara itu, hanya terdapat 10 publikasi ilmiah tentang kayu papi dan sebuah plot konservasi; kedua, harga kayu papi (Rp 3,1 juta/m ) lebih rendah dibanding cendana (Rp 225 juta/m ) dan rataan produksi kayu papi dalam empat tahun terakhir (700 m /tahun) lebih tinggi dibanding rataan produksi cendana (166 m /tahun); ketiga, kelimpahan kayu papi di beberapa daerah di Timor lebih rendah dibanding cendana. INP kayu papi pada tingkat tiang dan pohon di beberapa kawasan hutan secara berturut-turut adalah 31-57 dan 9-32, sedangkan INP cendana di lahan milik pada tingkat tiang dan pohon adalah 194-234 dan 60-209. Dengan kelimpahan tanaman lebih rendah dan produksi kayu lebih tinggi, kelestarian kayu papi lebih terancam dibanding cendana.