Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Berita Kedokteran Masyarakat

Hubungan kualitas sumber air, perilaku dan lingkungan terhadap infeksi parasit usus anak sekolah dasar di tepi sungai Batang Hari Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi Hardiyanti, Lia Tri; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 11 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.579 KB) | DOI: 10.22146/bkm.25873

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas sumber air, perilaku tentang kebersihan dan faktor lingkungan terhadap kejadian infeksi parasit usus yang menginfeksi anak sekolah dasar di Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.Metode: Penelitian menggunakan rancangan cross sectional, populasi pada penelitian ini adalah anak SDN 209 Pantai Aur Duri dan SDN 143 Pulau Pandan sebanyak 100 responden.Hasil: Prevalensi infeksi parasit usus pada anak sekolah dasar di Kecamatan Telanaipura Kota Jambi tergolong cukup rendah. Ada hubungan antara faktor risiko berupa tindakan anak tentang kebersihan yang kurang dengan kejadian infeksi parasit usus. Variabel pengetahuan, sikap dan faktor lingkungan seperti sumber air bersih, sumber air minum, dan ketersediaan jamban bukan faktor risiko kejadian infeksi parasit usus.Implikasi Praktis: Petugas kesehatan perlu melakukan pemeriksaan infeksi parasit rutin pada anak-anak sekolah.Keaslian: Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman kita bahwa menjaga gaya hidup bersih dan sehat diperlukan untuk menghindari penyakit menular.
Analisis Spasial Kejadian Malaria Dan Habitat Larva Nyamuk Anopheles spp di Wilayah Kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo Nababan, Resiany; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.253 KB) | DOI: 10.22146/bkm.26941

Abstract

Latar Belakang : Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium spp dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp betina. Di Purworejo malaria masih menjadi masalah penyakit menular yang utama, pada tahun 2013-2015 kasus malaria mengalami peningkatan dari 728 kasus (API 0,98‰) pada tahun 2013 menjadi 1.411 kasus (API 1,98‰) tahun 2015.Tahun 2016 jumlah kasus sebanyak 423 kasus.Tujuan :  Menganalisis faktor-faktor risiko dengan kasus malaria, memetakan distribusi  spasial kasus malaria kaitannya dengan jarak habitat perkembangbiakan terhadap kasus dan  mengetahui habitat larva nyamuk Anopheles spp di wilayah kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan rancangan penelitian case control atau retrospektive study.Variabel bebas adalah faktor cuaca, faktor lingkungan rumah dan faktor sosial budaya, sedangkan variabel terikat adalah kejadian (kasus) malaria. Distribusi kasus malaria disajikan dalam buffer zone dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hubungan variabel bebas dan terikat dianalisis dengan pendekatan analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi Pearson dan Chi square, analisis multivariat dengan uji  regresi logistik dan analisis spasial.Hasil : Analisis bivariat dengan uji korelasi Pearson menunjukan variabel suhu, kelembaban dan curah hujan tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Uji Chi square menunjukan ada hubungan kejadian malaria dengan keberadaan breeding site (p=0,02;OR 2,5 ), kondisi dinding rumah (p=0,004; OR 0,29) dan kebiasaan keluar malam hari (p=0,01;OR 3,6 ),sedangkan keberadaan hewan ternak, jarak breeding site, kebiasaan memakai kelambu, penggunaan kawat kasa, pemakaian anti nyamuk dan kebiasaan mengunjungi daerah endemis tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Berdasarkan uji regresi logistik kebiasaan keluar malam hari merupakan faktor risiko yang paling tinggi berhubungan dengan kejadian malaria. Pada analisis spasial terbentuk 3 cluster kejadian malaria dan hasil buffering menunjukan bahwa kebanyakan kasus berada di dalam area buffer zone pada radius 1000 m dari habitat larva nyamuk  Anopheles spp berupa kolam, selokan, genangan air, sawah dan sungai.Kesimpulan : Tidak ada hubungan faktor cuaca dengan kejadian malaria. Ada hubungan antara keberadaan habitat perkembangbiakan larva, kondisi dinding rumah dan kebiasaan keluar malam hari dengan kejadian malaria. Terdapat 3 cluster di wilayah kerja Puskesmas Winong dan kebanyakan kasus berada di area buffer zone pada radius 1000 meter.
Serotipe Virus Dengue dan Populasi Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Diptera: Culicidae) Di Kota Bengkulu Triana, Dessy; Umniyati, Sitti Rahmah; Mulyaningsih, Budi; Sarirah, Munauwarus
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.966 KB) | DOI: 10.22146/bkm.34730

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi serotipe virus dengue pada nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus dan menentukan rasio populasi nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus di daerah endemis dan sporadis DBD di Kota Bengkulu. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional-analitik. Telur nyamuk Aedes sp dikumpulkan menggunakan ovitrap dari daerah endemis DBD (Kelurahan Sidomulyo) dan daerah sporadis DBD (Kelurahan Tanjung Jaya). Identifikasi spesies Ae. aegypti dan Ae. albopictus menggunakan pictorial key for the identification of mosquitoes Rueda.  Deteksi serotipe virus dengue dilakukan dengan metodi RT-PCR dan Nested PCR menggunakan primer spesifik Lanciotti. Hasil: Serotipe virus dengue yang ditemukan pada Ae. aegypti adalah DENV-3 (daerah endemis dan sporadis DBD) dan DENV-3 pada Ae. albopictus (daerah sporadis DBD). Perbandingan populasi Ae. aegypti dan Ae. albopictus pada daerah endemis dan sporadis DBD berturut-turut adalah (60.51%:39.49%) dan (27.08%:72.92%). Simpulan: Aedes aegypti di daerah endemis dan sporadis DBD serta Ae. albopictus di daerah sporadis DBD berpotensi sebagai vektor dengue-3.
Efek minyak atsiri jahe (Zingiber officinale) sebagai repelen terhadap nyamuk Aedes aegypti Mardiansyah, Ery Agus; Umniyati, Sitti Rahmah; Iravati, Susi
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 32, No 10 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.26 KB) | DOI: 10.22146/bkm.12234

Abstract

The effect of ginger essential oil (Zingiber officinale) as an effective repellent  against the Aedes aegypti mosquitoPurposeThe purpose of this paper was to determine the ability of ginger essential oil (Zingiber officinale) as a repellent towards Aedes aegypti. MethodsThis research was a true experimental study. The tests performed in this study were negative control tests, with protective ability test of telon plus oil and ginger essential oil 4% in telon oil involving 25 Aedes aegypti adult female mosquitoes. ResultsThe study found that the average protective ability of ginger essential oil 4 % in telon oil was 100% at minute 5, 10, and 15, while telon oil plus (positive control) was 5%, 36%, and 33%. In the protective ability test of ginger essential oil 4% in telon oil has the better repellent ability or protective ability compared to telon plus, which can provide protective ability up to 60 minutes at 91.95% while telon plus oil provides protective ability around 59.51%. In the length of protection test ginger essential oil 4% in telon oil gave an average of protection from biting until 61.67 minutes, while telon oil gives 8.33 minutes and 11.67 minutes of telon plus oil. Based on Probit analysis ginger essential oil 4% in telon oil can repel 90% of experimental mosquitoes up to 89.87 minutes. ConclusionGinger essential oil 4% in telon oil has the better repellent ability and length of protection compared to telon plus oil. Ginger essential oil 4% in telon can be used as a repellent active ingredient.
Analisis spasial temporal faktor lingkungan fisik dengan kejadian malaria di kabupaten Banjarnegara Wahistina, Rizki; Lazuardi, Lutfan; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2014.343 KB) | DOI: 10.22146/bkm.27505

Abstract

Tujuan: Untuk menjelaskan gambaran faktor lingkungan fisik meliputi: suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan, dan menganalisis secara spasial dan temporal pengaruhnya terhadap kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara tahun 2011-2015.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan spasial-temporal. Data yang digunakan adalah data time series bulan kejadian malaria dan faktor lingkungan fisik di Kabupaten Banjarnegara tahun 2011-2015. Model regresi poisson dan binomial negatif digunakan untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan fisik dengan kejadian malaria berdasrakan hasil pemilihan model terbaik dengan melihat nilai Akaike’s Information Criteria (AIC) dan Bayesian Information Criteria (BIC).Data faktor lingkungan fisik dilakukan interpolasi menggunakan metode IDW (Inverse Distance Weighting) pada software Sistem Informasi Geografis.Hasil: Rata-rata suhu udara dan kelembaban udara dari tahun 2011-2015 berturut-turut 25,79oC dan 87,37%, sedangkan rata-rata kecepatan angin dan curah hujan berturut-turut 26,07 km/h, 276,02 mm. Analisis statistik, grafik/time trend, dan spasial menunjukkan bahwa ada hubungan antara suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan dengan kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara. Hasil analisis regresi binomial negatif menunjukkan bahwa secara bermakna suhu pada bulan yang sama (P= 0,036), suhu pada dua bulan sebelumnya (P=0,022) berkorelasi negatif berturut-turut dengan Estimate Value (-0,273, -0,319) sedangkan curah hujan pada satu bulan sebelumnya (P=0,0001) berkorelasi positif dengan Estimate value (0,002) terhadap kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2011-2015. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa kasus tertinggi malaria berada di Kecamatan Banjarmangu, Punggelan dan Pagedongan dengan kisaran suhu 25,64oC-26,77oC, kisaran kelembaban 86,07%-88,41%, kisaran kecepatan angin 18,71km/h-28,30km/h, dan kisaran curah hujan 225,25mm-318,24mm.Simpulan: Suhu pada bulan yang sama, dan suhu pada dua bulan sebelumnya memiliki pengaruh yang negatif terhadap kejadian malaria sedangkan curah hujan pada satu bulan sebelumnya memiliki pengaruh yang positif terhadap kejadian malaria di Kabupaten Banjarnegara. Maka, untuk mengatasi masalah kejadian malaria dan melaksanakan program penanggulangannya maka Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara perlu mempertimbangan faktor lingkungan fisik.
Higiene perorangan, karakteristik orang tua dan infeksi kecacingan pada siswa sekolah dasar di Gunung Kidul Putri, Fitria Eka; Herawati, Lucky; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 7 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.464 KB) | DOI: 10.22146/bkm.12946

Abstract

Personal hygiene, parents’ characteristics and worm infection among elementary school students in Gunung Kidul PurposeThe study aimed to analyze the correlation between individual hygiene of the students and characteristics of the student’s parents, and the worm infestation infection among state elementary school students in Gunung Kidul Regency.MethodsThe design of the study was cross-sectional while the sampling technique was by purposive sampling. Respondents of the research were the third to fifth grade students from four elementary schools.  Primary data gathering was conducted from April to May 2016, using observation and questionnaire pages as the instruments. The data analysis was performed using Fisher Exact test with confidence level of 95% and alpha= 0.05.ResultsThe results of the research show the prevalence of STH in Belik, Kropak, Gesing and Tepus I students, which was 2.7%. In the bivariate analysis, the variable which has significant relation with worm infestation infection is mother’s knowledge with PR= 0.91 (95% CI=0.82-1.02; p=0.035).ConclusionThis research suggests that public health center and school need to improve health promotion in elementary school children and mothers about clean and healthy life behavior.
Sanitasi lingkungan dan keberadaan jentik Aedes sp dengan kejadian demam berdarah dengue di Banguntapan Bantul Apriyani, Apriyani; Sutomo, Adi Heru; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.281 KB) | DOI: 10.22146/bkm.12704

Abstract

Environmental sanitation and the presence of larvae Aedes sp. with dengue hemoragic fever  incidence in Banguntapan BantulPurposeThis study aimed to analyze any association between environmental sanitation and existence of Aedes sp. larva with incidence of Dengue Hemorrhagic Fever in Banguntapan, Bantul District. MethodsThis study was an observational study with case control design which analyzed any association between an effect with determinants. Respondents of this study amounted to 52 in the case group and 52 in the control group.ResultsResults of bivariate analysis showed solid waste management, water reservoirs, depletion of water reservoirs, presence of Aedes sp. larva, presence of Aedes sp. larva inside and outside house, presence of Aedes sp. larva outside of house, presence of breeding place outside of home were statistically associated with incidence of dengue fever. Multivariate analysis showed the variable of larva presence outside of house was most related to dengue fever incidence.ConclusionThe determinants of environmental sanitation included solid waste management, quality of water reservoirs, frequency of water reservoirs, and presence of breeding place inside and outside of house. All of determinants are correlated statistically with incidence of dengue fever. The determinant that was most associated with incidence of dengue fever is presence of Aedes sp. larva outside of house.Environmental sanitation and the presence of larvae Aedes sp. with dengue hemoragic fever  incidence in Banguntapan Bantul
Faktor iklim dan kondisi fisik lingkungan rumah dengan kejadian demam berdarah dengue di beberapa zone season: studi kasus di Bantul, Yogyakarta Ayumi, Farid; Iravati, Susi; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 32, No 12 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.876 KB) | DOI: 10.22146/bkm.8790

Abstract

Climate factors and conditions of physical environment house for the dengue fever incidence in several zone season in: a case study from Bantul, YogyakartaPurposeThis research aimed to determine the relationship between climate (rainfall, air humidity, and temperature) and physical conditions of house environment with incidence of dengue fever in some seasonal zones in Yogyakarta.MethodsThe design of this study was an ecological study by time to observe the trend of dengue incidence in Yogyakarta within the period of 2010-2014.ResultsResults showed not all ZOMs were related to the incidence of dengue fever in Yogyakarta. Environmental conditions of the physical house that have a correlation with the dengue fever were breeding place outside, while the use of gauze ventilation and the existence of mosquito larvae in-house, were not correlated to an occurrence of dengue fever.ConclusionRainfall, air humidity, and temperature have a correlation with the incident of dengue fever in some ZOM area. The condition of the physical environment of the house in the form of breeding places outside of the house is associated with the occurrence of dengue fever. 
Analisis Spasial Kejadian Malaria Dan Habitat Larva Nyamuk Anopheles spp di Wilayah Kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo Nababan, Resiany; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 12 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.26523

Abstract

INTISARILatar Belakang : Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium spp dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp betina. Di Purworejo malaria masih menjadi masalah penyakit menular yang utama, pada tahun 2013-2015 kasus malaria mengalami peningkatan dari 728 kasus (API 0,98?) pada tahun 2013 menjadi 1.411 kasus (API 1,98?) tahun 2015.Tahun 2016 hingga bulan Nopember jumlah kasus sebanyak 423 kasus.Tujuan :  Menganalisis faktor-faktor risiko dengan kasus malaria, memetakan distribusi  spasial kasus malaria kaitannya dengan jarak lokasi terhadap habitat perkembangbiakan dan  mengetahui habitat larva nyamuk Anopheles spp di wilayah kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan rancangan penelitian case control atau retrospektive study.Variabel bebas adalah faktor lingkungan dan faktor sosial budaya, sedangkan variabel terikat adalah kejadian (kasus) malaria. Distribusi kasus malaria kaitannya dengan jarak kasus terhadap habitat larva nyamuk Anopheles spp disajikan dalam buffer zone dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hubungan variabel bebas dan terikat dianalisis dengan pendekatan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi square, analisis multivariat dengan uji conditional regresi logistik dan analisis spasial.Hasil : Analisis bivariat dengan uji Chi square menunjukan ada hubungan kejadian malaria dengan keberadaan habitat perkembangbiakan (p=0,02;OR 2,5 ), kondisi dinding rumah (p=0,004; OR 0,29) dan kebiasaan keluar malam hari (p=0,01;OR 3,6 ),sedangkan keberadaan hewan ternak, jarak breeding site, kebiasaan memakai kelambu, penggunaan kawat kasa, pemakaian anti nyamuk dan kebiasaan mengunjungi daerah endemis tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Analisis multivariat dengan uji conditional regresi logistik menunjukan bahwa kebiasaan keluar malam hari (p=0,01; adjOR 4,8) merupakan faktor risiko yang paling tinggi berhubungan dengan kejadian malaria. Pada analisis spasial terbentuk 3 cluster kejadian malaria dan hasil buffering menunjukan bahwa kebanyakan kasus berada di dalam area buffer zone dengan jarak <1000 m dari habitat larva nyamuk  Anopheles spp berupa kolam, selokan, genangan air, sawah dan sungai.Kesimpulan : Ada hubungan antara keberadaan habitat perkembangbiakan larva, kondisi dinding rumah dan kebiasaan keluar malam hari dengan kejadian malaria. Terdapat 3 cluster di wilayah kerja Puskesmas Winong dan kebanyakan kasus berada di area buffer zone.
Analisis Spasial Kejadian Malaria Dan Habitat Larva Nyamuk Anopheles spp di Wilayah Kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo Nababan, Resiany; Umniyati, Sitti Rahmah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 4 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.28528

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium sp dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp betina. Di Purworejo kasus malaria mengalami peningkatan dari API 0,98? (2013) menjadi API 1,98?  (2015).Tahun 2016 jumlah kasus sebanyak 423 kasus.Tujuan :  Menganalisis faktor-faktor risiko dengan kasus malaria, memetakan distribusi  spasial kasus malaria dan  mengetahui tipe habitat larva nyamuk Anopheles spp di wilayah kerja Puskesmas Winong Kabupaten Purworejo.Metode Penelitian : Penelitian merupakan observasi analitik dengan rancangan penelitian case control.Variabel bebas adalah faktor cuaca, faktor lingkungan rumah dan faktor sosial budaya, sedangkan variabel terikat adalah kejadian (kasus) malaria. Hubungan variabel bebas dan terikat dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson dan Chi square, uji  regresi logistik dan analisis spasial.Hasil : Hasil uji korelasi Pearson menunjukan variabel suhu, kelembaban dan curah hujan tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Uji Chi square menunjukan ada hubungan kejadian malaria dengan keberadaan breeding site (p=0,02;OR 2,5 ), kondisi dinding rumah (p=0,004; OR 0,29) dan kebiasaan keluar malam hari (p=0,01;OR 3,6 ), sedangkan keberadaan hewan ternak, jarak breeding site, kebiasaan memakai kelambu, penggunaan kawat kasa, pemakaian anti nyamuk dan kebiasaan mengunjungi daerah endemis tidak memiliki hubungan dengan kejadian malaria. Berdasarkan uji regresi logistik, kebiasaan keluar malam hari merupakan faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan kejadian malaria. Pada analisis spasial kebanyakan kasus berada di dalam area buffer zone pada radius 1000 m dari habitat larva nyamuk Anopheles spp.Kesimpulan : Tidak ada hubungan faktor cuaca dengan kejadian malaria. Ada hubungan antara keberadaan habitat perkembangbiakan larva, kondisi dinding rumah dan kebiasaan keluar malam hari dengan kejadian malaria. Kasus berada di area buffer zone pada radius 1000 meter.