p-Index From 2014 - 2019
2.035
P-Index
This Author published in this journals
All Journal FORUM Interaksi Online
Nurist Surayya Ulfa
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro

Published : 22 Documents
Articles

Found 22 Documents
Search

KONSUMSI SEBAGAI PENANDA KESEJAHTERAAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL (Dalam Bingkai Pemikiran Jean Baudrillard)

FORUM Vol 40, No 1 (2012): Kesejahteraan Sosial
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.378 KB)

Abstract

Abstract: Consumption has become one of the most significant matters in the modern life, that people can not live without consuming. This is the result of social construction to perceive consumption as a way of pursuing happiness, which means that everyone as the member of modern society is obliged to take a part of it. However, what people consumed is not as simple as fulfilling the needs, but more about the signs attached to what they are consumed. This writing is about the social logic of consumtion as explained by Jean Baudrillard. He described consumption as a process of social signification, communication,  classification and differentiation. People use consumption as a language. They consume signs to identify the social welfare and social stratification.Keyword: Consumerism, consuming sign, identification, social stratification.permalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/forum/article/view/3203

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Martia Mutiara TasukiNIM : D2C 005 183JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANABSTRAKMenu breakfast merupakan inovasi varian menu terbaru dari McDonalds Indonesia. Sebagai produk baru, menu breakfast McDonalds berusaha untuk memperoleh tempat dibenak masyarakat maka McDonald’s melakukan komunikasi pemasaran melalui berbagai media diantaranya melalui iklan, brosur, kupon berhadiah dan media display di setiap gerai McDonald’s. Dengan menggunakan merek McDonald’s menu breakfast McDonald’s telah menempatkan posisinya di benak konsumen. Kemudian keputusan pembelian pun dibuat.Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Dengan mengacu pada teori advertising exposure process dan teori perilaku konsumen. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling yaitu sebanyak 50 orang responden. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dengan kuesioner. Teknik pengolahan data menggunakan regresi logistik.Berdasarkan hasil perhitungan, variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s ( X1 ) masuk dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58%, variabel citra produk (X2) masuk dalam kategori baik dengan persentase sebanyak 70%, dan variabel keputusan pembelian (Y) masuk dalam kategori “ya” atau tinggi dengan persentase sebesar 66%. Adapun hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel citra produk (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap vaeriabel keputusan pembelian (Y) dengan nilai signifikansi 0,012 dan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346.Kata kunci : Terpaan Komunikasi Pemasaran, Citra Produk, Keputusan Pembelian.THE EFFECTS OF MCDONALD’S BREAKFAST MENU MARKETING COMMUNICATIONS EXPOSURE AND PRODUCT IMAGE TOWARDS THE PURCHASED DECISIONABSTRACTBreakfast menu is the latest variant of the innovation of McDonalds Indonesia. As a new product, McDonalds breakfast menu is trying to obtain a community then dibenak McDonalds doing marketing communications through a variety of media including advertising, brochures, through the lottery and the display in every media outlet McDonald s. By using the brand McDonalds McDonalds breakfast menu has put his position in the minds of consumers. Then any buying decision is made. The purpose of this research is to know the influence of exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications and product imagery to the purchasing decision. With reference to the theory of advertising exposure process and theory of consumer behavior. This research type is eksplanatori. Sampling is performed using the method of accidental sampling that is as much as 50 people responden. While the data collection technique using observations with the questionnaire. Data processing techniques using logistic regression. Based on the results of the calculation, variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) belongs to the category of low percentage of 58, with variable image products (x 2) belongs to the category either by percentage as much as 70, the purchase decision and variable (Y) belongs to the category Yes or high with a percentage amounting to 66. As for the hypothesis test results indicating that the variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) has no significant influence on the buying decision variable (Y). While the image of the products variable (x 2) have a significant influence on the buying decision vaeriabel (Y) with the value of the significance and value of 0.012 Exp (B) from X 2 of 1,346.Keywords: exposure to marketing communications, Product Image, purchase decisions.BAB IPENDAHULUAN Latar BelakangMcDonalds Indonesia mengadopsi menu breakfast untuk menjawab rasa bosan pelanggan dengan menu-menu yang sudah ada selama ini. Hal ini juga untuk memenuhi keinginan pelanggan agar menu McDonald’s yang terdapat di luar Indonesia kini dapat dinikmati pula di Indonesia. Menu sarapan ini disajikan sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 11.00 siang. Harga yang ditawarkan cukup beragam sekitar Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- per paket. (http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan Menu Baru/htm).Untuk itu McDonald’s melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang pemasaran atau juga bisa disebut dengan promosi. Berbagai hal dilakukan mulai dari iklan, brosur, banner, kupon berhadiah, dan lain sebagainya. Semua ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa McDonalds memiliki varian produk baru yaitu menu breakfast atau menu sarapan pagi. Tidak hanya mengenai produk, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai waktu yang ditetapkan untuk menjumpai menu breakfast.Berdasarkan data sales selama bulan April, Mei, dan Juni pencapaian penjualan menu breakfast baru menunjukkan angka 11% dari 18% yang ditargetkan. Pencapaian penjualan tidak bergerak jauh dari angka 11%. Perumusan MasalahSelama tiga bulan setelah diluncurkan persentase pembelian tidak beranjak jauh dari level 11%. Dari target sebesar 18%, angka 11% tentunya berada pada tingkatan yang rendah. Berdasarkan data talk to customer LSM (local store marketing) McDonald’s Ciputra Semarang, yang diambil melalui pendapat pelanggan (customer feedback), sebagian besar konsumen belum mengetahui keberadaan produk breakfast, menu yang terdapat di dalamnya dan promo yang sedang berlangsung. Data yang diperoleh selama tiga bulan terakhr yaitu Juni, Juli, dan Agustus 2011 menunjukkan dari 300 orang konsumen per bulan yang dimintai pendapatnya, hanya sebesar 35% konsumen yang mengetahui mengenai menu breakfast dan promosi menu breakfast yang sedang berlangsung.Namun, permasalahan di atas seperti jumlah konsumen dan pencapaian hasil penjualan bukanlah merupakan fokus dalam penelitian ini. Batasan dari penelitian ini adalah data hasil penjualan dan jumlah konsumen atau transaksi yang terjadi, digunakan sebagai tolok ukur dari sikap konsumen berupa perilaku atau tidakan pembelian. Keputusan pembelian dalam penelitian ini merupakan efek dari komunikasi yang dilakukan oleh McDonald’s Ciputra semarang kepada masyarakat. Fokus permasalahan terdapat pada efek komunikasi yang dilakukan. Efek yang dirasakan masih kurang atau masih rendah dari yang diharapkan, hal ini dapat dilihat dari datasales volume dan persentase pencapaian hasil penjualan menu breakfast yang dicapai oleh McDonald’s Ciputra Semarang. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui pengaruh terpaan kegiatan komunikasi pemasaran mengenai menu breakfast di McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian.BAB IIHASIL PENELITIAN Kerangka Teori1. Pengaruh Terpaan Komunikasi Pemasaran Terhadap Keputusan PembelianTeori yang digunakan dalam penelitian ini yang menghubungkan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran terhadap keputusan pembelian adalah teori Advertising Exposure Process. Di dalam teori ini dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk. Berdasarkan teori advertising exposure process tahapan pembentukan keputusan pembelian ialah pertama, terpaan iklan dapat menciptakan terjadinya brand awareness dalam benak konsumen, lalu konsumen juga akan mengetahui keuntungan dan sifat dari brand tersebut. Kedua, terpaan iklan juga dapat menciptakan citra dari brand tersebut. Ketiga, terpaan iklan dapat mengasosiasikan sesuatu dengan merek (brand association) dan keempat terpaan iklan dapat juga menciptakan kesan bahwa brand disukai oleh lingkungan sekitar kita. Semua efek ini mengakibatkan perubahan sikap tertentu yang berakhir pada terciptanya keputusan pembelian. Terpaan terhadap informasi sangat penting untuk proses interpretasi konsumen,2. Pengaruh Citra Produk terhadap keputusan pembelianTeori yang digunakan dalam penelitiaan ini yang mengaitkan antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian adalah teori yang diungkapkan oleh Schiffman and Kanuk yaitu teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Perilaku konsumen menurut Winardi (dalam Sumartono, 2002:97) Menurut Assael (Sutisna, 2002 : 6), salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen adalah konsumen individual. Artinya pilihan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen. Hipotesis1. Hipotesis mayorHipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s dan citra produk di benak masyarakat terhadap keputusan pembelian .2. Hipotesis MinorTerdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s terhadap keputusan pembelian dan terdapat pengaruh citra produk terhadap keputusan pembelian. Populasi dan SampelPopulasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengetahui mengenai Mc Donald’s atau mereka yang pernah membeli produk yang dipasarkan oleh McDonald’s dan memiliki rentang usia antara 17-50 tahun. Sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik non probability sampling dengan cara purposive accidental sampling. MetodologiAlat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan metode survey dan teknik analisis kuantitatif. Temuan penelitian1. Berdasarkan hasil pengolahaan kuesioner, ditemukan bahwa frekuensi variabel terpaan komunikasi pemasaran berada dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan McDonald’s masih kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh jawaban responden mengenai komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tergolong dalam kategori rendah.2. Melihat dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa variabel citra produk berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden menilai menu breakfast McDonald’s baik dari segi bahan, kualitas, manfaat, dan harga produk. Oleh karena itu citra yang muncul dalam benak konsumen adalah baik.3. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, responden yang memutuskan untuk membeli produk menu breakfast McDonald’s adalah sebanyak 33 responden atau 66%. Hakl tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dapat menerima keberadaan produk dan mau membeli produk menu breakfast McDonald’s.4. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistic melalui SPSS. Sebelum teknik ini digunakana maka perlu dilakukan Goodness of fit untuk mengetahui apakah model ini dapat digunakan dalam penelitian ini. Pada pengolahan data dengan model Hosmer and Lemeshow test diperoleh nilai Sig = 0,394 > 0,05 yang berarti bahwa hipotesis H0 diterima sehingga dapat dipastikan bahwa terdapat minimal satu variabel independen yang berpengaruh dan model regresi logistik tersebut layak dipakai.5. Hasil uji hipotesis mayor : Berdasarkan pada Tabel Hosmer and Lemeshow dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Adapun pengaruhnya yaitu sebesar 25,9 %. Hal tersebut dapat diartikan bahwa secara bersama-sama terpaan komunikasi pemasaran dan citra produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 25,9 %.6. Pada tabel Variables in the Equetion, dapat dilihat nilai Sig X1 = 0,085 > 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 diterima atau dengan kata lain variabel X1 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. dengan demikian dapat dikatakan variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.7. Pada tabel Variables in the Equation, nilai Signifikansi X2 = 0,012 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 ditolak atau dengan kata lain variabel X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. Kemudian, dengan melihat nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 memiliki arti bahwa jika citra produk terus dipertahankan atau ditingkatkan maka masyarakat yang memutuskan untuk melakukan pembelian adalah 1,346 kali lebih banyak dari yang tidak melakukan pembelian. Dengan kata lain, kenaikan nilai variabel X2 berpengaruh terhadap variabel Y. Semakin besar nilai variabel X2 maka semakin besar nilai variabel Y. dapat pula disimpulkan semakin baik citra produk dibenak masyarakat maka semakin banyak masyarakat yang memilih untuk membeli produk menu breakfast McDonald. Begitu sebaliknya jika citra produk semakin buruk maka masyarakat yang memilih membeli produk menu breakfast McDonald’s semakin sedikit.8. Hasil analisis penulis adalah melihat data mengenai terpaan komunikasi pemasaran dimana terlihat terpaan komunikasi pemasaran dalam posisi yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa teori advertising exposure process tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terpaan kominikasi pemasaran tidak mempengaruhi secara signifikan keputusan masyarakat untuk membeli produk menu breakfast Mc.Donald’s. Hal ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk tidak hanya terpaan komunikasi pemasaran. Ada unsur lain sebagai penggeraknya. Seperti yang tertuang dalam teori lingkungan informasi pembeli. Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat memutuskan membeli sesuatu atau memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang menerpanya. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambilan keputusan terhadap produk, diantaranya adalah :a. Pengalaman pribadi pembelib. Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluargac. Berita media massa yang laind. Kredibilitas konsumene. Perusahaan saingannyaf. Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakatg. Lingkungan informasi yang beragam tentang produkh. Kegiatan personal selling, promotion, sales dan sejenisnyai. Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non massa.Berdasarkan teori tersebut, keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor dari mulai diri si pembeli sendiri hingga lingkungan dimana si pembeli berada. Maka ketika terpaan komunikasi rendah, dalam penelitian menunjukkan bahwa pembeli atau masyarakat yang memilih untuk membeli produk jumlahnya justru diatas 50% dari jumlah responden. Namun, bagi McDonald’s hal ini tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan volume penjualan. Sebagai perusahaan tentunya McDonald’s menargetkan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi lagi. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi McDonald’s dan teori yang telah disebutkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan.9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian berjalan dengan berbanding lurus yaitu ketika citra produk meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat pula. Penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan sebelumnya yaitu, teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).BAB IIIPENUTUP Kesimpulan1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel x dan y yaitu terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonalds dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Pengaruhnya sebesar 25,9%.2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dengan keputusan pembelian.3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel citra produk dengan keputusan pembelian dengan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 Keterbatasan PenelitianKeterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel yang belum dapat mewakili populasi secara pasti, hal ini dikarenakan populasi dalam penelitian ini tidak terhingga jumlahnya sehingga membuat peneliti kesulitan untuk menentukan secara tepat jumlah sampel yang dibutuhkan dan penggunaan teknik sampel yang digunakan. SaranBerdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut1. McDonald’s menggunakan komunikasi pemasaran untuk membentuk dan menjaga citra produk di benak masyarakat. Citra positif yang ada sangat perlu untuk dijaga. Untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memberikan citra positif terhadap produk maka perlu dilakukan komunikasi pemasaran yang lebih intens lagi agar masyarakat semakin diterpa oleh informasi-informasi yang terkait dengan produk, kemudian memberi penilaian positif hingga akhirnya membeli produk. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan media baik elektronik dan cetak yang tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan kesesuaian segmentasi media dengan segmentasi produk. Pastikan media yang digunakan memiliki jangkauan yang luas dan mudah diakses oleh masyarakat. Media lain yang digunakan adalah brosur dan kupon berhadiah, tingkatkan penyebaran brosur dan kupon berhadiah dengan pemerataan distribusi dan penyebaran yang lebih intens. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerahkan karyawan untuk menyebarkan brosur dan kupon berhadiah di area mall, memastikan ketersediaan brosur dan kupon berhadiah di store McDonald’s dan tenant-tenant yang bekerjasama dengan McDonald’s serta mengerahkan karyawan delivery service untuk melakukan penyebaran langsung kepada masyarakat seperti di perumahan, sekolah, kantor, maupun traffic light. Penggunaan media display dalam store juga perlu diperhatikan, menggunakan tampilan yang menarik dan informasi mengenai produk dengan singkat dan jelas akan membantu masyarakat untuk mengingat display tersebut.2. Mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi produk juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan tidak mengurangi takaran bahan yang diperlukan, senantiasa menjaga kebersihan baik bahan, alat, maupun karyawan, dan menjaga keamanan produk dengan tidak menggunakan zat-zat berbahaya. Menjaga kualitas produk berarti mewujudkan apa yang menjadi citra positif produk dalam benak masyarakat.DAFTAR PUSTAKAFill, Chris. 1995. Marketing Communication Frame Works. London: Prentice HallFraenkel, J. dan Wallen, N. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc.Jefkins, Frank. 1995. Periklanan edisi 3. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 1997. Dasar-dasar Pemasaran Principles ofMarketing edisi ketujuh jilid 3. Jakarta: Prenhelindo.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Littlejohn, Stephen W, 2005, Theories of Human Communication, eighth edition,Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.Mowen, John C dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen edisi kelima jilid1. Jakarta: Erlangga.Mulyodiharjo, Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaludin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (ed).1989. Metodologi Survey. Jakarta:LP3ESSoemirat, Soleh dan Elvinaro, Ardianto. 2008. Dasar-dasar Public Relation.Bandung: Remaja Rosdakarya.Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Bandung:PT. Remaja RosdakaryaSwasta, Bayu. 1993. Manajemen Penjualan. Yogyakarta: Universitas Gajamada.Tjiptono, Fandy, dkk. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.Yamin, Sofyan dan Kurniawan, Heri. 2009. SPSS complete, Teknik AnalisisStatistik Terlengkap Dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.Millah, S. McD Indonesia Luncurkan Menu Baru. 2011.(http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan MenuBaru/htm). Diakses tanggal 12 September 2011 pukul 11.01 WIB.Harian Medan Bisnis. 2011. McDonald’s Tambah 4-5 Gerai Mandiri Baru di2011. (http//harianmedanbisnis.com//McDonalds Tambah 4-5 GeraiMandiri Baru di 2011). Diakses tanggal 9 September 2012 pukul 12.48WIB.Republika. 2011. Sarapan Pagi di Mcd.(http//republika-online.com//sarapan-pagidi-mcd//4-7-2011). Diakses tanggal 11 September 2011 pukul 07.28 WIB.Depari, Fidelia. 2011. KFC Luncurkan Menu Breakfast. (http//food.ghiboo.com/).Diakses 11 September 2011 pukul 12.00 WIB.McDonald’s. 2010. Our Company Inclision and Diversity.(http://www.aboutmcdonalds.com/mcd). Diakses 9 september 2011 pukul10.38 WIBPrayogo, Oginawa. 2011. Tepis Kabar Produk Jualannya Tidak Sehat. McdIndonesia Luncurkan Menu Baru. (http://industri.kontan.co.id/news/).Diakses tanggal 11 September pukul 07. 30 WIB.www.mcdonalds.co.id

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD"S KEPUTUSAN PEMBELIAN

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Martia Mutiara TasukiNIM : D2C 005 183JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANABSTRAKMenu breakfast merupakan inovasi varian menu terbaru dari McDonalds Indonesia. Sebagai produk baru, menu breakfast McDonalds berusaha untuk memperoleh tempat dibenak masyarakat maka McDonald’s melakukan komunikasi pemasaran melalui berbagai media diantaranya melalui iklan, brosur, kupon berhadiah dan media display di setiap gerai McDonald’s. Dengan menggunakan merek McDonald’s menu breakfast McDonald’s telah menempatkan posisinya di benak konsumen. Kemudian keputusan pembelian pun dibuat.Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Dengan mengacu pada teori advertising exposure process dan teori perilaku konsumen. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling yaitu sebanyak 50 orang responden. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dengan kuesioner. Teknik pengolahan data menggunakan regresi logistik.Berdasarkan hasil perhitungan, variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s ( X1 ) masuk dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58%, variabel citra produk (X2) masuk dalam kategori baik dengan persentase sebanyak 70%, dan variabel keputusan pembelian (Y) masuk dalam kategori “ya” atau tinggi dengan persentase sebesar 66%. Adapun hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel citra produk (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap vaeriabel keputusan pembelian (Y) dengan nilai signifikansi 0,012 dan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346.Kata kunci : Terpaan Komunikasi Pemasaran, Citra Produk, Keputusan Pembelian.THE EFFECTS OF MCDONALD’S BREAKFAST MENU MARKETING COMMUNICATIONS EXPOSURE AND PRODUCT IMAGE TOWARDS THE PURCHASED DECISIONABSTRACTBreakfast menu is the latest variant of the innovation of McDonalds Indonesia. As a new product, McDonalds breakfast menu is trying to obtain a community then dibenak McDonalds doing marketing communications through a variety of media including advertising, brochures, through the lottery and the display in every media outlet McDonald s. By using the brand McDonalds McDonalds breakfast menu has put his position in the minds of consumers. Then any buying decision is made. The purpose of this research is to know the influence of exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications and product imagery to the purchasing decision. With reference to the theory of advertising exposure process and theory of consumer behavior. This research type is eksplanatori. Sampling is performed using the method of accidental sampling that is as much as 50 people responden. While the data collection technique using observations with the questionnaire. Data processing techniques using logistic regression. Based on the results of the calculation, variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) belongs to the category of low percentage of 58, with variable image products (x 2) belongs to the category either by percentage as much as 70, the purchase decision and variable (Y) belongs to the category Yes or high with a percentage amounting to 66. As for the hypothesis test results indicating that the variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) has no significant influence on the buying decision variable (Y). While the image of the products variable (x 2) have a significant influence on the buying decision vaeriabel (Y) with the value of the significance and value of 0.012 Exp (B) from X 2 of 1,346.Keywords: exposure to marketing communications, Product Image, purchase decisions.BAB IPENDAHULUAN Latar BelakangMcDonalds Indonesia mengadopsi menu breakfast untuk menjawab rasa bosan pelanggan dengan menu-menu yang sudah ada selama ini. Hal ini juga untuk memenuhi keinginan pelanggan agar menu McDonald’s yang terdapat di luar Indonesia kini dapat dinikmati pula di Indonesia. Menu sarapan ini disajikan sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 11.00 siang. Harga yang ditawarkan cukup beragam sekitar Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- per paket. (http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan Menu Baru/htm).Untuk itu McDonald’s melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang pemasaran atau juga bisa disebut dengan promosi. Berbagai hal dilakukan mulai dari iklan, brosur, banner, kupon berhadiah, dan lain sebagainya. Semua ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa McDonalds memiliki varian produk baru yaitu menu breakfast atau menu sarapan pagi. Tidak hanya mengenai produk, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai waktu yang ditetapkan untuk menjumpai menu breakfast.Berdasarkan data sales selama bulan April, Mei, dan Juni pencapaian penjualan menu breakfast baru menunjukkan angka 11% dari 18% yang ditargetkan. Pencapaian penjualan tidak bergerak jauh dari angka 11%. Perumusan MasalahSelama tiga bulan setelah diluncurkan persentase pembelian tidak beranjak jauh dari level 11%. Dari target sebesar 18%, angka 11% tentunya berada pada tingkatan yang rendah. Berdasarkan data talk to customer LSM (local store marketing) McDonald’s Ciputra Semarang, yang diambil melalui pendapat pelanggan (customer feedback), sebagian besar konsumen belum mengetahui keberadaan produk breakfast, menu yang terdapat di dalamnya dan promo yang sedang berlangsung. Data yang diperoleh selama tiga bulan terakhr yaitu Juni, Juli, dan Agustus 2011 menunjukkan dari 300 orang konsumen per bulan yang dimintai pendapatnya, hanya sebesar 35% konsumen yang mengetahui mengenai menu breakfast dan promosi menu breakfast yang sedang berlangsung.Namun, permasalahan di atas seperti jumlah konsumen dan pencapaian hasil penjualan bukanlah merupakan fokus dalam penelitian ini. Batasan dari penelitian ini adalah data hasil penjualan dan jumlah konsumen atau transaksi yang terjadi, digunakan sebagai tolok ukur dari sikap konsumen berupa perilaku atau tidakan pembelian. Keputusan pembelian dalam penelitian ini merupakan efek dari komunikasi yang dilakukan oleh McDonald’s Ciputra semarang kepada masyarakat. Fokus permasalahan terdapat pada efek komunikasi yang dilakukan. Efek yang dirasakan masih kurang atau masih rendah dari yang diharapkan, hal ini dapat dilihat dari datasales volume dan persentase pencapaian hasil penjualan menu breakfast yang dicapai oleh McDonald’s Ciputra Semarang. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui pengaruh terpaan kegiatan komunikasi pemasaran mengenai menu breakfast di McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian.BAB IIHASIL PENELITIAN Kerangka Teori1. Pengaruh Terpaan Komunikasi Pemasaran Terhadap Keputusan PembelianTeori yang digunakan dalam penelitian ini yang menghubungkan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran terhadap keputusan pembelian adalah teori Advertising Exposure Process. Di dalam teori ini dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk. Berdasarkan teori advertising exposure process tahapan pembentukan keputusan pembelian ialah pertama, terpaan iklan dapat menciptakan terjadinya brand awareness dalam benak konsumen, lalu konsumen juga akan mengetahui keuntungan dan sifat dari brand tersebut. Kedua, terpaan iklan juga dapat menciptakan citra dari brand tersebut. Ketiga, terpaan iklan dapat mengasosiasikan sesuatu dengan merek (brand association) dan keempat terpaan iklan dapat juga menciptakan kesan bahwa brand disukai oleh lingkungan sekitar kita. Semua efek ini mengakibatkan perubahan sikap tertentu yang berakhir pada terciptanya keputusan pembelian. Terpaan terhadap informasi sangat penting untuk proses interpretasi konsumen,2. Pengaruh Citra Produk terhadap keputusan pembelianTeori yang digunakan dalam penelitiaan ini yang mengaitkan antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian adalah teori yang diungkapkan oleh Schiffman and Kanuk yaitu teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Perilaku konsumen menurut Winardi (dalam Sumartono, 2002:97) Menurut Assael (Sutisna, 2002 : 6), salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen adalah konsumen individual. Artinya pilihan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen. Hipotesis1. Hipotesis mayorHipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s dan citra produk di benak masyarakat terhadap keputusan pembelian .2. Hipotesis MinorTerdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s terhadap keputusan pembelian dan terdapat pengaruh citra produk terhadap keputusan pembelian. Populasi dan SampelPopulasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengetahui mengenai Mc Donald’s atau mereka yang pernah membeli produk yang dipasarkan oleh McDonald’s dan memiliki rentang usia antara 17-50 tahun. Sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik non probability sampling dengan cara purposive accidental sampling. MetodologiAlat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan metode survey dan teknik analisis kuantitatif. Temuan penelitian1. Berdasarkan hasil pengolahaan kuesioner, ditemukan bahwa frekuensi variabel terpaan komunikasi pemasaran berada dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan McDonald’s masih kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh jawaban responden mengenai komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tergolong dalam kategori rendah.2. Melihat dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa variabel citra produk berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden menilai menu breakfast McDonald’s baik dari segi bahan, kualitas, manfaat, dan harga produk. Oleh karena itu citra yang muncul dalam benak konsumen adalah baik.3. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, responden yang memutuskan untuk membeli produk menu breakfast McDonald’s adalah sebanyak 33 responden atau 66%. Hakl tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dapat menerima keberadaan produk dan mau membeli produk menu breakfast McDonald’s.4. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistic melalui SPSS. Sebelum teknik ini digunakana maka perlu dilakukan Goodness of fit untuk mengetahui apakah model ini dapat digunakan dalam penelitian ini. Pada pengolahan data dengan model Hosmer and Lemeshow test diperoleh nilai Sig = 0,394 > 0,05 yang berarti bahwa hipotesis H0 diterima sehingga dapat dipastikan bahwa terdapat minimal satu variabel independen yang berpengaruh dan model regresi logistik tersebut layak dipakai.5. Hasil uji hipotesis mayor : Berdasarkan pada Tabel Hosmer and Lemeshow dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Adapun pengaruhnya yaitu sebesar 25,9 %. Hal tersebut dapat diartikan bahwa secara bersama-sama terpaan komunikasi pemasaran dan citra produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 25,9 %.6. Pada tabel Variables in the Equetion, dapat dilihat nilai Sig X1 = 0,085 > 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 diterima atau dengan kata lain variabel X1 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. dengan demikian dapat dikatakan variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.7. Pada tabel Variables in the Equation, nilai Signifikansi X2 = 0,012 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 ditolak atau dengan kata lain variabel X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. Kemudian, dengan melihat nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 memiliki arti bahwa jika citra produk terus dipertahankan atau ditingkatkan maka masyarakat yang memutuskan untuk melakukan pembelian adalah 1,346 kali lebih banyak dari yang tidak melakukan pembelian. Dengan kata lain, kenaikan nilai variabel X2 berpengaruh terhadap variabel Y. Semakin besar nilai variabel X2 maka semakin besar nilai variabel Y. dapat pula disimpulkan semakin baik citra produk dibenak masyarakat maka semakin banyak masyarakat yang memilih untuk membeli produk menu breakfast McDonald. Begitu sebaliknya jika citra produk semakin buruk maka masyarakat yang memilih membeli produk menu breakfast McDonald’s semakin sedikit.8. Hasil analisis penulis adalah melihat data mengenai terpaan komunikasi pemasaran dimana terlihat terpaan komunikasi pemasaran dalam posisi yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa teori advertising exposure process tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terpaan kominikasi pemasaran tidak mempengaruhi secara signifikan keputusan masyarakat untuk membeli produk menu breakfast Mc.Donald’s. Hal ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk tidak hanya terpaan komunikasi pemasaran. Ada unsur lain sebagai penggeraknya. Seperti yang tertuang dalam teori lingkungan informasi pembeli. Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat memutuskan membeli sesuatu atau memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang menerpanya. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambilan keputusan terhadap produk, diantaranya adalah :a. Pengalaman pribadi pembelib. Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluargac. Berita media massa yang laind. Kredibilitas konsumene. Perusahaan saingannyaf. Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakatg. Lingkungan informasi yang beragam tentang produkh. Kegiatan personal selling, promotion, sales dan sejenisnyai. Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non massa.Berdasarkan teori tersebut, keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor dari mulai diri si pembeli sendiri hingga lingkungan dimana si pembeli berada. Maka ketika terpaan komunikasi rendah, dalam penelitian menunjukkan bahwa pembeli atau masyarakat yang memilih untuk membeli produk jumlahnya justru diatas 50% dari jumlah responden. Namun, bagi McDonald’s hal ini tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan volume penjualan. Sebagai perusahaan tentunya McDonald’s menargetkan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi lagi. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi McDonald’s dan teori yang telah disebutkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan.9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian berjalan dengan berbanding lurus yaitu ketika citra produk meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat pula. Penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan sebelumnya yaitu, teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).BAB IIIPENUTUP Kesimpulan1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel x dan y yaitu terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonalds dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Pengaruhnya sebesar 25,9%.2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dengan keputusan pembelian.3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel citra produk dengan keputusan pembelian dengan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 Keterbatasan PenelitianKeterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel yang belum dapat mewakili populasi secara pasti, hal ini dikarenakan populasi dalam penelitian ini tidak terhingga jumlahnya sehingga membuat peneliti kesulitan untuk menentukan secara tepat jumlah sampel yang dibutuhkan dan penggunaan teknik sampel yang digunakan. SaranBerdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut1. McDonald’s menggunakan komunikasi pemasaran untuk membentuk dan menjaga citra produk di benak masyarakat. Citra positif yang ada sangat perlu untuk dijaga. Untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memberikan citra positif terhadap produk maka perlu dilakukan komunikasi pemasaran yang lebih intens lagi agar masyarakat semakin diterpa oleh informasi-informasi yang terkait dengan produk, kemudian memberi penilaian positif hingga akhirnya membeli produk. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan media baik elektronik dan cetak yang tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan kesesuaian segmentasi media dengan segmentasi produk. Pastikan media yang digunakan memiliki jangkauan yang luas dan mudah diakses oleh masyarakat. Media lain yang digunakan adalah brosur dan kupon berhadiah, tingkatkan penyebaran brosur dan kupon berhadiah dengan pemerataan distribusi dan penyebaran yang lebih intens. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerahkan karyawan untuk menyebarkan brosur dan kupon berhadiah di area mall, memastikan ketersediaan brosur dan kupon berhadiah di store McDonald’s dan tenant-tenant yang bekerjasama dengan McDonald’s serta mengerahkan karyawan delivery service untuk melakukan penyebaran langsung kepada masyarakat seperti di perumahan, sekolah, kantor, maupun traffic light. Penggunaan media display dalam store juga perlu diperhatikan, menggunakan tampilan yang menarik dan informasi mengenai produk dengan singkat dan jelas akan membantu masyarakat untuk mengingat display tersebut.2. Mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi produk juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan tidak mengurangi takaran bahan yang diperlukan, senantiasa menjaga kebersihan baik bahan, alat, maupun karyawan, dan menjaga keamanan produk dengan tidak menggunakan zat-zat berbahaya. Menjaga kualitas produk berarti mewujudkan apa yang menjadi citra positif produk dalam benak masyarakat.DAFTAR PUSTAKAFill, Chris. 1995. Marketing Communication Frame Works. London: Prentice HallFraenkel, J. dan Wallen, N. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc.Jefkins, Frank. 1995. Periklanan edisi 3. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 1997. Dasar-dasar Pemasaran Principles ofMarketing edisi ketujuh jilid 3. Jakarta: Prenhelindo.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Littlejohn, Stephen W, 2005, Theories of Human Communication, eighth edition,Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.Mowen, John C dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen edisi kelima jilid1. Jakarta: Erlangga.Mulyodiharjo, Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaludin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (ed).1989. Metodologi Survey. Jakarta:LP3ESSoemirat, Soleh dan Elvinaro, Ardianto. 2008. Dasar-dasar Public Relation.Bandung: Remaja Rosdakarya.Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Bandung:PT. Remaja RosdakaryaSwasta, Bayu. 1993. Manajemen Penjualan. Yogyakarta: Universitas Gajamada.Tjiptono, Fandy, dkk. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.Yamin, Sofyan dan Kurniawan, Heri. 2009. SPSS complete, Teknik AnalisisStatistik Terlengkap Dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.Millah, S. McD Indonesia Luncurkan Menu Baru. 2011.(http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan MenuBaru/htm). Diakses tanggal 12 September 2011 pukul 11.01 WIB.Harian Medan Bisnis. 2011. McDonald’s Tambah 4-5 Gerai Mandiri Baru di2011. (http//harianmedanbisnis.com//McDonalds Tambah 4-5 GeraiMandiri Baru di 2011). Diakses tanggal 9 September 2012 pukul 12.48WIB.Republika. 2011. Sarapan Pagi di Mcd.(http//republika-online.com//sarapan-pagidi-mcd//4-7-2011). Diakses tanggal 11 September 2011 pukul 07.28 WIB.Depari, Fidelia. 2011. KFC Luncurkan Menu Breakfast. (http//food.ghiboo.com/).Diakses 11 September 2011 pukul 12.00 WIB.McDonald’s. 2010. Our Company Inclision and Diversity.(http://www.aboutmcdonalds.com/mcd). Diakses 9 september 2011 pukul10.38 WIBPrayogo, Oginawa. 2011. Tepis Kabar Produk Jualannya Tidak Sehat. McdIndonesia Luncurkan Menu Baru. (http://industri.kontan.co.id/news/).Diakses tanggal 11 September pukul 07. 30 WIB.www.mcdonalds.co.id

Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Ilham Bayu PrasetyoNIM : D2C008089Judul : Brand Activation Batik Semarangan melalui Event“Cah Semarang Duwe Batik”AbstrakKoperasi Sekar Arum sebagai sebuah lembaga koperasi dibawah naungan TP – PKK Kota Semarang yang salah satunya fokus terhadap batik semarangan, tentu harus dapat melestarikan dan mengembangkan produk batik semarangan sehingga dapat menjadi produk andalan dari Kota Semarang. Akan tetapi terjadi permasalahan dimana produk batik semarangan ini belum banyak dikenal oleh warganya sendiri khususnya para generasi muda yaitu pelajar di Kota Semarang.Melalui pendekatan IMC, promotion mix, marketing communication, dan AIDDA, strategi Brand Activation menjadi kegiatan komunikasi pemasaran batik semarangan yang efektif dalam meningkatkan awareness dan minat terhadap batik semarangan.Dengan mengambil tema kegiatan “Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline acara “Fit on Youth”, acara dikemas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan minat pelajar di Kota Semarang terhadap batik semarangan. Acara ini diisi dengan kegiatan utama pelatihan batik dengan nama “Melu Mbatik” dan pertunjukan musik akustik dengan nama “Batikustik” dimana peserta diwajibkan mengenakan batik pada saat tampil diatas panggung. Dan pada akhir dari event, dibentuk Komunitas Batik Semarangan sebagai kegiatan PR denga tujuan untuk menimbulkan efek yang berkelanjutan.Melalui kegiatan brand activation ini, diharapkan pengetahuan para pelajar SMA dan sederajat di Kota Semarang sebagai target audien terhadap batik semarangan dapat meningkat, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan minat untuk melestarikan batik semarangan.Berdasarkan hasil riset post event, sebanyak 41% target audien sudah tidak lagi menganggap batik itu mempunyai kesan kuno, meningkat sebesar 28% dari sebelumnya 13%. tingkat pengetahuan target audien mengenai batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Sementara itu yang menyatakan tertarik untuk memakai batik semarangan sebesar 32%,. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 15% dari sebelum event dilaksanakan.Kata Kunci : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, marketing communication, “Cah Semarang Duwe Batik”.Nama : Ilham Bayu PrasetyoNIM : D2C008089Judul : Batik Semarangan Brand Activation through “Cah SemarangDuwe Batik” Event.AbstractKoperasi Sekar Arum as an organization below the authority of Semarang‟s TP – PKK which one of their focus is Semarangan‟s batik, they have to conserve and develop Semarangan‟s batik into one of the top notch product from Semarang. Nevertheless the problem of Semarangan‟s batik is not so well known in its own city especially between the youth or the student in Semarang.Through IMC, promotion mix, marketing communication and AIDDA approaches, Brand Activation strategy become effective marketing communication for Semarangan‟s batik in order to raise awareness and also gain the interest in Semarangan‟s batikWith “Cah SemarangDuwe Batik” as our event‟s theme and “Fit on Youth” as our event‟s tagline, this event is set to increase knowledge and interest for Semarangan‟s batik between the student in Semarang. This event is consist several activities such as, the main activity is teaching student how to draw batik which called “MeluMbatik” and also acoustic music performance named “Batikustik” which every contestant required to wear batik when they were performing on stage, and in the end of the event they KoperasiSekar Arum established Semarangan‟s Batik Community as a PR activity that aimed to get the continuous effect.Through this brand activation event, it is expected the knowledge of student especially high school in Semarang as a target audience may enhanced, so they will have sense of belonging into Semarangan‟s batik and also to conserve it.Refer to post event research result, 41% of target audience is not perceived Semarang‟s batik is old fashioned anymore, raised 28% from 13 % on early research. Level of knowledge of the target audience about Semarangan‟s batik enhanced 52% from the previous research is 17% to 69%. Meanwhile, target audience who stated that they wants to use Semarangan‟s batik is 32%, this data shows that there are 15% gain according from the previous research.Key Word : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, Marketing Communications, “Cah Semarang Duwe Batik”Brand Activation Batik Semaranganmelalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”(Program Manager)Karya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Ilham Bayu PrasetyoNIM : D2C008089JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANBatik semarangan adalah batik khas dari Semarang yang mempunyai corak dan motif yang unik dan mempunyai ciri khas tersendiri berupa ikon-ikon kota semarang, dan bersifat natural atau pesisiran. Batik semarangan mempresentasikan tentang Kota Semarang baik flora, fauna, ikon-ikon Kota Semarang seperti ukiran di gedung-gedungnya, atau lawang sewu yang menjadi ciri khas kota, tugu muda, legenda-legenda, serta kuliner yang ada di Semarang, dan biasanya ada motif daun asem sebagai ciri khasnya. Ragam corak dan warna batik semarangan banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Pada awalnya, batik semarangan yang memiliki ragam corak tradisional dan warna yang terbatas terpengaruh oleh kebudayaan asing yang dibawa oleh para pedagang asing dan juga para penjajah.Popularitas batik kembali muncul setelah UNESCO menetapkan batik sebagai salah satu budaya yang ada di Indonesia, berbagai fashion yang bertema batik bermunculan, masyarakat Semarang sadar akan budaya batik yang sedang menjadi tren. Walaupun popularitas batik sedang meningkat, akan tetapi kesadaran mereka akan adanya batik semarangan dan minat untuk memakai batik masih rendah. Popularitas batik semarangan sendiri masih kalah dengan batik di kota lain, hal ini diakibatkan karena apresiasi masyarakat kota semarang terhadap batik semarangan masih rendah. Masyarakat kota Semarang cenderung lebih memilih batik dari luar Semarang seperti Batik Pekalongan, Batik Yogyakarta maupun Batik Solo.Fenomena tren batik yang sedang berkembang di Kota Semarang tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan adanya batik semarangan, sehingga minat mereka untuk memakai batik semarangan sebagai apresiasi terhadap Budaya KotaSemarang pun belum muncul. Padahal disamping itu, batik akan menjadi budaya di suatu masyarakat apabila masyarakat tersebut mengenakan batik di setiap hari mereka berkegiatan. Akan tetapi pada kenyataanya batik masih dipakai pada saat tertentu yang bersifat formal. Misal pada saat menghadiri pesta pernikahan, acara resmi yg lain, Atau pada hari jumat untuk instansi pemerintahan. Itupun kareda ada aturan pemerintah. Hal ini menyebakan penjualan batik semarangan mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.Budaya Fashion yang menjadi tren di kalangan pelajar karena mereka mengacu kepada artis idola mereka, sebagai contohnya, misal budaya K-pop yang sedang populer saat ini. Dari gaya berpakaian, para pelajar akan menirukan gaya berpakaian idola mereka, mengenakan fashion bergaya korea, karena tren budaya yang sedang hype mempunyai kesan modern dan up to date sedangkan batik menurut mereka masih sebagai fashion yang kuno, Dari masalah tesebut dapat dikatakan bahwa pelajar masih mencari identitas dirinya dan membutuhkan role model sebagai acuan mereka untuk menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik.Banyak pelajar SMA di Semarang yang tidak mengetahui adanya batik semarangan. Tidak mengetahui ciri-cirinya, contoh motifnya, harga, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Budaya batik yang masih terkesan kuno di kalangan pelajar menyebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka terhadap batik khususnya batik semarangan. Hal ini dibuktikan dengan riset yang telah peneliti lakukan pada bulan April 2013 bahwa 87% responden masih menganggap bahwa batik itu terkesan kuno dan mereka tidak mau memakainya, 17% responden tidak aware terhadap batik semarangan, 79% responden tidak mempunyai minat terhadap batik semarangan.Masih rendahnya kesadaran pelajar terhadap batik semarangan tersebut berakibat pada rendahnya popularitas batik semarangan apabila dibandingkan dengan batik-batik dari kota lain. Hal ini berdampak pada menurunnya penjualan batik semarangan. Maka dari itu, Karya Bidang ini berfokus untuk mempromosikan batik semarangan yang bertujuan untuk meningkatkan awareness serta minat pelajar terhadap Batik Semarangan kepada pelajar SMA di Kota Semarang dengan melakukan kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik dengan tagline FIT ON YOUTH dengan pendekatan brand ActivationISIDengan menggunakan pendekatan brand activation yang didukung oleh teori Komunikasi Pemasaran, AIDDA, IMC, dan komunitas dan berifat Experiental Event Marketing agar para audiens dapat sepenuhnya terlibat dengan produk yang dipasarkan.Salah satu cara efektif dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah melalui pendekatan brand activation. Brand activation adalah salah satu bentuk promosi merek yang mendekatkan dan interaksi merek dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktifitas publik yang menarik perhatian lainnya.Brand activation merupakan aktifitas dua arah yang dilakukan suatu brand untuk berinteraksi lebih dekat dengan target market, atau target audiens. Berbeda dengan aktifitas iklan, baik lini atas maupun lini bawah, aktifitas yang terjadi hanyalah satu arah. Salah satu bentuk pendekatan brand activation adalah event marketing activity. Dalam penelitiannya, Duncan menjelaskan bahwa, “event marketing is a significant situation orpromotional happening that has a central focus and chapters the attention and involvement of the target audiens”Pendekatan brand activation merupakan aktifitas komunikasi pemasaran yang harus tetap didukung dengan aktifitas komunikasi pemasaran lainnya, seperti publikasi, kegiatan public relations, sales promotion, publisitas dan tools promosi lainnya. Brand activation merupakan jawaban atas konsep promosi modern karena dapat meningkatkan brand awareness dan mengangkat citra dari suatu brand. Strategi ini dirasa efektif dalam membangun sebuah brand karena brand activation adalah salah satu bentuk promosi brand yang mendekatkan dan membangun interaksi brand dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktivitas publik yang menarik perhatian lainnya (Shimp, 2003:263).Selain itu dalam perspektif membangun brand awareness, brand activation mempunyai banyak peluang untuk mencapai keberhasilan. Ini karena event pada dasarnya diselenggarakan dalam kemasan yang menarik dan untuk menciptakan suasana hati yang santai dan menyenangkan. Pada saat itulah orang lebih mudah menerima pesan persuasi yang disampaikan pemilik merek (Shimp, 2003:263).Peneliti ingin menyelenggarakan kegiatan yang bertema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline “ Fit On Youth”. Penyelenggara mengambil tema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki para generasi muda khususnya pelajar SMA di Kota Semarang untuk melestarikan batik salah satunya dengan cara memakainya. Tagline „ Fit On Youth” berarti ingin menyampaikan pesan bahwa batik itu cocok untuk para generasi muda khususnya paa pelajar untuk menjadi fashion mereka dan bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik. Tujuan kegiatan “ Cah SemarangDuwe batik” sendiri bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik, meningkatkan awareness batik Semarangan, dan meningkatkan minat terhadap Batik Semarangan salah satunya dengan cara memakainya dan tujuan tersiernya adalah untuk meningkatkan penjualan Batik Semarangan di kota Semarang.Kegiatan Brand Activation Batik Semarangan dikemas dengan konsep yang menarik karena target audiens dari kegiatan ini adalah pelajar di kota Semarang serta membawakan role model yang bertujuan untuk dijadikan panutan bagi mereka untuk mengenakan batik sehingga bisa menghilangkan kesan kuno batik di generasi muda.Role Model yang dibawakan pada kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik” adalah Jazz Ngisoringin yang mempunyai banyak penggemar di Kota Semarang khususnya para generasi Muda Kota Semarang yang menjadi target audiens dari kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik”.Acara “Cah Semarang duwe Batik” yang dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 26, 27 dan 28 Juli 2013 mempunyai konsep acara sebagai berikut :a. Melu mbatikMelu mbatik merupakan ajang bagi pengunjung acara yang ingin mencoba belajar batik pada kain batik sepanjang 1x1 meter yang telah tergambar pola batik semarangan, yang disediakan oleh panitia dan telah didampingi oleh para pengrajin batik yang sudah berpengalaman dan ahli dari Koperasi Sekar Arum.b. Galeri Batik SemaranganGaleri Batik Semarangan merupakan sarana bagi para perajin batik untuk mempromosikan produknya, selain melakukan penjualan dengan memberikan diskonkhusus, perajin tersebut juga akan membimbing paserta “melu mbatik” mengenai cara dan langkah-langkah yang baik dalam membuat batik.c. BatikustikBand SMA merupakan sarana untuk mengekspresikan jiwa seni pelajar SMA. Diharapkan dengan para pelajar akan dapat lebih mengapresiasi budaya batik sebagai budaya yang tidak lagi kuno. Parade band ini bertema akustik, dan mengenakan batik pada saat pentas.d. Batikustik Jazz Ngisoringin.Jazz Ngisoringin yang menjadi band yang sudah populer di Kota Semarang bisa menjadi role model pelajar SMA bahwa batik itu tidak berkesan kuno.e. Wisata AirPengunjung yang datang pada kegiatan tersebut, selain dapat mengunjungi booth pameran yang disediakan oleh panitia juga dapat menikmati wahana wisata air dan keindahan sungai banjir kanal.f. Komunitas Cah Semarang Duwe BatikSetelah kegiatan terlaksana, akan dibentuk sebuah komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” yang beranggotakan para pelajar SMA di Kota Semarang. Komunitas ini bertujuan untuk mengenalkan batik semarang kepada teman-teman di sekolahnya, teman-teman di luar sekolah ataupun keluarga mereka. Komunitas ini dibentuk sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.“Cah Semarang Duwe Batik” adalah rangkaian event yang berisi kegiatan untuk memperkenalkan batik semarangan, mengenai jenis-jenis motifnya, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Selain itu melalui event ini pihak Koperasi Sekar Arum dapat melihat kondisi target audiens secara langsung, bagaimana antusias audien mengikuti rangkaian kegiatan dapat menjadi pacuan dalam memperluas pasarnya kepada target pasar yang dituju, yaitu pelajar SMA di Semarang.Berdasarkan hasil riset, tingkat pengetahuan target audien mengenai Batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Hal tersebut melampaui target yang ditentukan sebelumnya, yaitu sebesar 50%. Untuk peningkatan minat batik naik sebesar 15% dan telah melampaui target yang sebelumnya hanya 13% dan akhirnya minat batik menjadi 36%.Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” dibentuk setelah kegiatan dilakuan, tujuan dari komunitas ini adalah sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.Komunitas “Cah Semarang duwe Batik” mempunyai kartu tanda anggota sebagai kartu pengenal keanggotaan dan berfungsi juga sebagai kartu untuk memperoleh potongan harga di toko batik yang sudah ditunjuk oleh panitia dan juga mempunyai katalog yang dipegang oleh masing-masing anggota yang berguna untuk mempromosikan batik semarangan kepada teman-temannya di sekolah. Evaluasi mengenai jalannya acara dapat dilihat pada indikator berikut ini :a. Tujuan komunikasi awal tercapai dengan baik, yaitu untuk meningkatnya awareness dan minat audien terhadap batik semarangan, terbukti dengan terbentuknya Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” di beberapa SMA di Kota Semarang.b. Proses loading-in dan loading-out, serta jalannya acara secara keseluruhan berjalan lancar sesuai dengan rundown yang telah dibuat.c. Jumlah peralatan dan perlengkapan terpenuhi, meskipun ada beberapa perlengkapan yang belum lengkap pada saat persiapan, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi pada hari pertama pelaksanaan acara.e. Segala bentuk publikasi terdistribusi dan terpasang dengan baik.f. Terbinanya hubungan baik dengan pihak-pihak yang terlibat dalam acara “Cah Semarang Duwe Batik” seperti Koperasi Sekar Arum, LEMPPAR, dan sekolah-sekolah yang berpartisipasi.g. Anggaran dana yang dibutuhkan dapat terpenuhi dan didapatkan dari sponsorship, dan mendapatkan surplus sebesar Rp. 3.130.000,-h. MC sepanjang jalannya acara menyampaikan pesannya dengan baik, memaparkan informasi secara persuasif, sehingga audien lebih tertarik dan dapat mengingat pesan yang disampaikan.PENUTUPDalam bab ini, dijelaskan mengenai implikasi yang terjadi atau ditimbulkan dari penyelenggaran event “Cah Semarang Duwe Batik” yang bertujuan untuk memperkenalkan batik semarangan serta saran yang dapat digunakan untuk keberhasilan penyelelnggaraan event serupa berikutnya.KesimpulanDari seluruh rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik” yang telah dilaksanakan dan pembahasan yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :a. Strategi dengan menyelenggarakan experiental event marketing dan berinteraksi secara langsung kepada target audien serta menampilkan role model menjadi cara yang efektif umtuk menghilangkan kesan kuno batik sebanyak 28%, dari semula 13% meningkat menjadi 41% yang menganggap bahwa batik tidak lagi terkesan kuno berdasarkan riset yang dilakukan setelah event.b. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan awareness target audien tentang batik semarangan sebesar 52% serta meningkatkan minat sebesar 15% berdasarkan riset yang dilakukan setelah event.c. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan minat warga Kota Semarang untuk melakukan pembelian pada saat kegiatan berlangsung, hal ini dibuktikan dengan total penjualan batik semarangan selama kegiatan total sebesar Rp. 9.150.000d. Dalam publikasi event “Cah Semarang Duwe Batik”, 50% responden mengetahui acara “Cah Semarang Duwe Batik” melalui media poster yang dipasang.e. Dari 100 orang yang dijadikan sebagai responden, 21% responden mengetahui event “Cah Semarang Duwe Batik” melalui flyer.f. Publikasi melalui social media, karena lingkaran sosial yang dimiliki oleh penyelenggara belum menjangkau target audien, sehingga publikasi belum menjangkau secara langsung kepada target audiens yang dituju, publikasi melalui social media hanya menjangkau 10,52 %.Dari kesimpulan yang telah dihasilkan, serta pengamatan terhadap jalannya rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik”, berikut saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan apabila diadakan kegiatan-kegiatan serupa pada waktu yang akan datang :a. Pemilihan akun social media sebagai komunikator sebaiknya menggunakan akun yang telah mempunyai lingkaran sosial yang sesuai dengan target audien yang hendak dituju.b. Sebelum melakukan kegiatan pemasaran, sebaiknya penyelenggara telah mendalami product knowledge tentang produk yang akan dipasarkan, sehingga terpaan informasi yang diterima target audien dapat menimblkan efek yang lebih besar.c. Masing-masing penerapan strategi publikasi media yang akan digunakan, sebaiknya diukur menggunakan perhitungan yang tepat untuk mengetahui strategi publikasi mana yang paling efektif umtuk mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan.DAFTAR PUSTAKA1. BukuBelch, George, Michael A. Belch 2001. Advertising & Promotion: An integrated Marketing Communications Perspective, New York : McGraw Hill.Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.Gunarsa, Singgih. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung MuliaJack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc Bussines Books.Jasmadi (2008). Membangun komunitas online secara praktis dan gratis. Jakarta: Elex Media Komputindo.Kotler, Philip, Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid 2. (Damos Sihombing. Alih Bahasa).Jakarta : Penerbit Erlangga.Laudon, Kenneth, Traver, and Carol Guercio (2003). E-commerce : business, technology, society. Addison-WesleyLittlejohn, Stephen W. (2009). Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors,Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Shimp, Terence A. (2000). Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jilid I. (Revyani Syahrial. Terjemahan) Jakarta: Penerbit Erlangga.Siswanto, Fritz Kleinsteuber, (2002). Strategi Manajemen Pemasaran. Jakarta: Damar Melia Pustaka.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Tjiptono, Fandy, dkk. (2007). Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Penerbit Andi.2. Website :(Advertising and Promotion and Integrated Marketing Communications Perspective, http://hfs1.duytan.edu.vn/upload/ebooks/5183.pdf, diakses pada 21 Mei 2012).(Brand Activation by Paul Morel, Peter Preisler and Anders Nyström www.metro-as.no/pdf/fagartikler/Brand%20Activation.pdf. diakses pada 5 Mei 2012).

PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID (Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id)

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID(Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id)Oleh:Widya Andhika AjiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Dengan menggunakan sampel pada lima informandan metode wawancara, dapat ditarik kesimpulan: Pelanggan Zalora.co.idmemiliki pengalaman komunikasi berkaitan dengan pesan promotif yang berupamedia iklan, direct marketing, dan sales promotion. Persepsi konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id selama ini adalahbaik mengingat konsumen selalu merasa puas dengan harga dan kualitas produkyang ditawarkan pihak Zalora. Pesan yang ditangkap informan dari iklan yangdilakukan pihak Zalora adalah bahwa konsumen maupun calon konsumendidorong dan diajak untuk berbelanja dan berbelanja lagi Pesan yang ditangkapinforman dari iklan Zalora melalui direct marketing antara lain adalah: sangatefektif dan praktis karena tanpa harus bertatap muka dapat bertransaksi langsungdan mudah, kemudian juga tampilan web yang menarik membuat mereka inginberbelanja. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui sales promotion ini adalahdiskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat” pada Zalora dan merekamenjadi semakin tertarik untuk berbelanja di Zalora.co.id dengan adanya diskonyang besar tersebut.Keywords: pengalaman komunikasi, pesan komunikasi, direct marketing, salespromotion, iklan.2COMMUNICATION EXPERIENCE OF CONSUMERS ZALORA.CO.ID(Phenomenological Approach)ABSTRACTThis research purposed to analyze the consumers’ experience andunderstanding of acceptance communication message when they are shopping atZalora.co.id. Participants are five informan and the data technique used are depthinterview. The conclusion are: Consumers’ Zalora.co.id have communivationexperience related to the message through advertising, direct marketing, and salespromotion. Consumers’ perception related to the marketing communication whenthey are shopping at Zalora.co.id are good because they always satisfied with theproduct and quality product from Zalora. Message that participants can say fromZalora is that consumers always pursue to shop and shop more. The message thatconsumers’ understand from the advertising through direct marketing is that veryeffective and practival because without face to face, they can make transactionand this is easy to do, the website also make them more interested in shoppingmore and more. The message that consumers’ understanding from sales promotionis the big discount make them “tied” with Zalora and they more interesting to butproduct from Zalora.co.id.Keywords: experience, communication, messagem direct marketing, salespromotion, advertising.3PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTrend belanja online menjadi fenomena baru dalam paradigma berbelanjamasyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat lebih senang meluangkan waktu untukberbelanja online daripada berkunjung ke toko secara langsung untuk membelibarang yang mereka inginkan. Arnold Sebastian Egg yang merupakan pendirisitus jual beli tokobagus.com memprediksi bahwa nantinya semua orang akanberbelanja online, saat ini seluruh bisnis mulai mengusung tokonya ke online(BeritaBali.com, 2013). Pernyataan Arnold tersebut didukung dengan surveyyang dilakukan perusahaan e-commerce asal Jepang, Rakuten, bahwa 80%pengguna internet di Indonesia mulai berbelanja online dalam dua tahun terakhir.Sedangkan Survei lain yang dilakukan oleh VeriTrans dan DailySocialpada 584 pelanggan e-commerce di Indonesia mengenai tren belanja onlinemengungkap sebanyak 37% responden menyebutkan produk yang mereka belimelalui internet adalah pakaian (fashion). Di posisi berikutnya adalah pemesananlayanan perjalanan (20%) dan media yang dikonsumsi secara elektronik sepertimusik, video dan game (20%) dan lainnya (18%), elektronik (13%) dan buku(8%) (Rinaldi, 2013: 2).Di ranah online fashion store, Zalora yang muncul padaawal 2012langsung melejit menjadikannya sebagai salah satu dari sembilan e-commercepaling berjaya di Indonesia yang di antaranya adalah Lazada Indonesia, ZaloraIndonesia, Berybenka, PinkEmma, Bilna, Plasa, Reebonz, LivingSocial dan FoodPanda. Setelah sukses di 8 negara di dunia seperti Brazil, India, Australia, Zalorayang terhitung pemain baru di Indonesia siap meramaikan pasar bisnis fashionIndonesia. Mei 2013 menjadi sejarah bagi Zalora yang baru saja merayakanpemesanan ke 1 juta dan mencapai angka penjualan hingga USD 100 juta yangsetara dengan 1 Triliun Rupiah (Azmil, 2013: 2).Penjualan Zalora yang menjanjikan tersebut mengundang banyak investoruntuk berlomba menanamkan modal ke Zalora, salah satunya adalah TengelmannGroup, perusahaan retail Eropa yang sudah berdiri 145 tahun lalu dan memiliki4.000 toko di 15 negara, telah mengucurkan dana sebesar 249 miliar untuk tokoonline tersebut (Sawers, 2013: 1). Performa Zalora di pasar Indonesia dapatdibilang membuahkan hasil yang memuaskan dan menjanjikan untuk terusmengembangkan bisnis mereka di Indonesia. Hal ini didukung oleh pertumbuhankelas menengah di Indonesia yang merupakan pertumbuhan kelas menengahpaling tinggi yaitu mencapai 56,6% di regional Asia Pasifik dengan pengeluarantiap tahunnya mencapai USD 3000. Perilaku konsumen kelas menengah tersebutsangat mobile dan mudah berubah, mereka bisa dengan cepat berganti-gantimerek, dan ini menjadikan para pemasar harus terus bergerak mengikutimobilitas konsumen, harus ada penyempurnaan di produknya, berinovasi yangbaru, kemudian mengubahstrategi harganya, distribusinya, promosinyadikombinasikan sedemikian rupa, pesan-pesannya juga tidak monoton.Pengguna internet diperkirakan akan terus bertambah menjadi 149 jutapengguna serta terdapat indikasi bahwa berbelanja online akan semakin populer diIndonesia, Jepang, dan Thailand pada 2015. Hal tersebut didukung dengan4kemudahan akses internet yang semakin mobile menjadi salah satu pendorongbagi pebisnis Indonesia untuk terus menggeluti dunia ini. (Rahayu, 2012:2).iTeknologi Informasi tidak dipungkiri membawa perubahan yang signifikanterhadap bisnis dan gaya hidup masyarakat sekarang ini dalam mendukungbelanja online mereka. Berdasarkan survey dari Rakuten, orang Indonesia danThailand 50% lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak mereka,dibandingkan orang Taiwan. Bila dibandingkan dengan orang Amerika dan Eropa,orang Indonesia dua kali lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak.Sejalan dengan itu, riset lain dari BuzzCity pada awal 2012 mendapatibahwa 27% pebelanja online dari Indonesia sudah memakai perangkat bergerakmereka untuk berbelanja. survei itu juga mendapati bahwa orang Indonesia tigakali lebih suka merekomendasikan suatu barang kepada teman-temannya dijejaring sosial, ketimbang negara lain. (Rahayu, 2012: 4). Dalam perkembanganpertumbuhan situs web dikenal istilah Web 2.0 yang menunjukkan jenis web yang“hidup” dan diisi oleh penulis secara periodik sehingga menimbulkan fenomenabaru yaitu blog dan social networking services (SNS) atau lebih populer dengansebutan situs jejaring sosial. Dengan melihat kedudukan internet saat ini terjadiperubahan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi media. Jika dulu konsumenhanya menonton televisi, membaca majalah, surat kabar dan sebagainya kinimereka juga menjelajah internet. Online media sudah menjadi point of contactyang tidak dapat diabaikan, sehingga para pemilik brand harus masuk ke dalampoint of contact tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat.Populasi mall online atau e-retailerbaru semakin marak meramaikanMallonline ini sehinggadiperlukan strategi pemasaran untuk mendapatkan danmempertahankan customer mereka. Begitu juga Zalora yang memiliki websiteresmi www.zalora.co.id, portal e-commerce atau mall online ini adalah anakperusahaan asing yang dikenal dengan nama zalando.com. Perusahaan yangmerajai pasar Brazil dan Thailand ini, baru saja mengeluarkan laporan penjualanper akhir Desember 2012 dengan rata-rata pemesanan hariannya adalah 600-700transaksi, rata-rata pembeli mengeluarkan uang kisaran Rp 150-350 ribu.Zalora Indonesia adalah situs web belanja kebutuhan fashion yangmenawarkan produk-produk dari berbagai brand terkemuka, baik lokal maupuninternasional. Zalora Indonesia didirikan pada tahun 2012 dan merupakan salahsatu cabang dari situs belanja online terbesar Eropa Zalando. Kelebihan yangditawarkan oleh Zalora Indonesiayaitu, pelanggan tidak dikenakan biaya untukpengiriman ke seluruh Indonesia dan garansi pengembalian barang jika pelanggantidak puas atas produk yang diterimanya. Grup Zalora International di Asia terdiridari Zalora Indonesia, Zalora Singapura, Zalora Malaysia, Zalora Vietnam, ZaloraTaiwan, Zalora Thailand, Zalora Filipina. Zalando merupakan projek dari RocketInternet, yang merupakan e-commerce terkenal dari Rocket Internet. RocketInternet sendiri menyediakan bantuan teknologi, modal dan jasa lainnya untukmembuat perusahaan-perusahaan Internet yang inovatif. Kantor pusatnya terdapatdi Berlin, Jerman, projek yand dimiliki Rocket Internet antara lain Zalando,TopTarif, eDarling, Groupon (sebelumnya CityDeal), dan lain-lain.Penelitian ini akan difokuskan pada pelanggan Zalora.co.id dengan strategipemasarannya yang telah sukses menggeser positioningbeberapa pemain lama di5toko fashion online. Selain itu marketing communication yang baik melalui iklanonline yang kuat, branded product yang tidak lokal produk serta promosi gencarmenjadi strategi jitu Zalora dimata konsumennya untuk meningkatkanpenjualannya.1.2 Perumusan MasalahPenelitian ini berusaha untuk mengetahui pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id.HASIL2.1. Deskripsi Tekstural Gabungan2.1.1. IklanIklan merupakan media promosi satu arah yang disalurkan kepadakonsumen dengan tujuan membujuk untuk membeli dan bersifat nonpersonal.Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian iniadalah informan pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informan tersebutiklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnya menarikdiperankan oleh model yang dianggap representatif dan eksklusif sertaadanya diskon yang dipromosikan secara gencar.Pesan yang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zaloraadalah bahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajakuntuk berbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkan Zaloradari mulai produk sepatu, baju, aksesoris, maupun produk lainnya.2.1.2. Direct MarketingDirect marketing merupakan bagiandari program komunikasipemasaran dan dilakukan langsung pada customer, misalnya: Twitter,Instagram (sosial media),SEO (google ads, facebook ads), dan mailing list.Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, diketahuibahwa direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Jadi semua informan pernah menjumpainya.Direct marketing yang ditemukan antara lain di Twitter , PortalOnline dan SEO, kolom Google Ads, Facebook ads. Paling seringditemukan adalah di Facebook ads dan promo Twitter. Hal ini disebabkankarena jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter saat ini sangat boomingdi dunia maya dan menjadi direct marketing yang sangat efektif dalammerangkul konsumen dan calon konsumen untuk online shopping sepertiZalora.Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpa harusbertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian juga6tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja. Mereka yangpada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjadi tertarik karena iklanterus menerus muncul ketika mereka sedang membuka facebook, google,maupun twitter.2.1.3. Sales PromotionSales promotion merupakan bentuk persuasi langsung melaluipenggunaan berbagai insentif, umumnya berjangka pendek, yang dapatdiatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera ataumeningkatkan jumlah barang yang dibeli konsumen atau pedagang (kupon,undian, diskon, kontes). Sales promotion ditemukan oleh informan pertama,kedua, ketiga, keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemuisales promotion Zalora.co.id.Adapun bentuk dari sales promotion yang mereka temui adalah berupakupon pemberian teman, dari atasannya, dari voucher belanja, denganjumlah yang bervariasi dari Rp 50.000; Rp 100.000 hingga Rp 200.000.Informan yang telah menjadi member kemudian juga diberikan voucherlewat email setiap bulannya. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat”pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untuk berbelanja diZalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besar tersebut.2.2. Deskripsi Struktural GabunganDalam menyusun deksripsi struktural, peneliti menggunakan langkahberupa interpretasi terhadap penyataan-pernyataan orisinil dari subjekpenelitian tentang pengalaman komunikasi berbelanja di Zalora co.id danpenerimaan komunikasi pemasaran yang diterimanya.Sedangkan ditinjau dari penerimaan komunikasi pemasaran informanpenelitian, dapat dikatakan bahwa pesan yang disampaikan Zalora kepadakonsumennya adalah untuk supaya mereka membeli kembali di Zalora untuksekarang dan kemudian hari atau seterusnya. Maka dapat dikatakan bahwapenerimaan komunikasi pemasaran telah baik dilakukan oleh subjek danpihak Zalora dapat disarankan untuk mempertahankan jenis promosi nyatersebut bahwa lebih sering melakukan bentuk promosi baru melalui saranaatau media baru lainnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlahkonsumen di masa mendatang.Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yang dilakukanZalora, yaitu e- shopping behavior, e-excitement dan impulsive buying.Dalam tiga tema tersebut, lima orang informan mendeskripsikan perilaku eshoppingbehavior dimana informan menghabiskan sebagian besarwaktunya berinteraksi dengan internet dan meluangkan waktu khusus untukberinteraksi dengan media promosi dari zalora.co.id, baik langsung kewebsitenya maupun lewat akun sosial media sehingga yang bersangkutanmempertimbangkan untuk belanja. Sedangkan tema e-shopping excitementdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga, keempat dan kelima dimana7keempat informan tersebut menyebutkan bahwa website zalora.co.idmemberikan penawaran menarik dan informasi produk yang lengkapsehingga yang bersangkutan berbelanja. Sedangkan tema impulsive buyingdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga dan kelima dimana yangbersangkutan melakukan pembelian berulang disaat yang bersangkutan tidakmembutuhkan produk yang dibeli karena tergiur diskon dan penawaranzalora.co.idPENUTUPPenelitian ini menggambarkan tentang pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Wawancara mendalam dilakukan kepada limaresponden yang memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian. Ditemukan hal-halyang menarik melalui komunikasi dan pemahaman penerimaan konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id. Berdasarkanpenelitian dan analisis temuan penelitian, terdapat beberapa kesimpulan, danimplikasi, baik secara akademis maupun praktis, sebagai berikut:3.1. KesimpulanBerdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan pada bagian sebelumnya,maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:1. Pelanggan Zalora.co.id memiliki pengalaman komunikasi berkaitandengan pesan promosi yang berupa media iklan, direct marketing, dansales promotion.2. Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian ini adalahinforman pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informantersebut iklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnyamenarik diperankan oleh model yang dianggap representatif daneksklusif serta adanya diskon yang dipromosikan secara gencar. Pesanyang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zalora adalahbahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajak untukberbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkanZalora.3. Direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Direct marketing yang ditemukan antaralain di Twitter , Portal Online dan SEO, kolom Google Ads, Facebookads. Paling sering ditemukan adalah di Facebook ads dan promoTwitter. Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpaharus bertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian8juga tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja.Mereka yang pada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjaditertarik karena iklan terus menerus muncul ketika mereka sedangmembuka facebook, google, maupun twitter.4. Sales promotion ditemukan oleh informan pertama, kedua, ketiga,keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemui salespromotion Zalora.co.id. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk“terikat” pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untukberbelanja di Zalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besartersebut.5. Persepsi konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id selama ini adalah baik mengingat konsumenselalu merasa puas dengan harga dan kualitas produk yang ditawarkanpihak Zalora. Selain itu mereka memahami adanya proses belanja yangpraktis serta kemudahan dalam pembayaran, serta yang paling menarikmereka adalah diskon dan gratis ongkos pengiriman, sehingga dengandemikian dapat dikatakan bahwa pihak Zalora telah sukses dalammenyampaikan kepada konsumen berbagai keunggulannyadibandingkan dengan pesaingnya.6. Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yangdilakukan Zalora, yaitu mengarah kepada e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying. Jadi dapat dikatakan bahwa karenainforman merupakan heavy internet user yang aktivitasnya sebagianbesar menggunakan internet sehari-harinya maka menimbulkan perilakupembelian konsumen secara e-commerce. Selain itu juga karena fotoyang menarik dan bagus di iklannya, Zalora membuat konsumennyaterkesan atau terkesima untuk membeli dan hal ini mengarah kepada eshoppingexcitement. Jadi karena konsumen merasa terkesan baikdengan iklan yang dilakukan Zalora, maka mereka memutuskan untukmembeli produk dari Zalora. Kemudian ada informan yang melakukanimpulsive buying karena pada awalnya tidak merencanakan untukmembeli produk Zalora tetapi karena tertarik dengan iklan yangdilakukan Zalora misalnya pada foto yang menarik, iklan dengan katakata“menjanjikan” hal ini mendorong mereka untuk membeli produkZalora.3.2. SaranSedangkan saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini antaralain adalah sebagai berikut:1. Sebaiknya pihak Zalora dapat mempertahankan promosi melaluikomunikasi yang selama ini telah berhasil menarik di benakkonsumennya, dengan lebih menitikberatkan bentuk promosiyang menjadi pengalaman komunikasi di penelitian ini, atara lain: Iklan, direct marketing dan sales promotion92. Pada penelitian di masa mendatang diharapkan tema tema yangkeluar dalam penelitian ini seperti e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying bisa menjadi variable perilakuterkait dengan studi marketing komunikasi10Daftar PustakaAllen, C., Kania, D., and Yaeckel, B. (2001). One-to-One Web Marketing: build arelationship marketing strategy one customer at a time. New York:WIleyComputer Publishing.Azmil, F. (2013). 9 E-Commerce Yang Sedang Berjaya di Indonesia. Available onhttp://www.merdeka.com/teknologi/9-e-commerce-yang-sedang-berjayadi-indonesia.html diunduh pada 27 Mei 2013.Baum, Steven K. (1999). The Glossary: Cn-Cz.. Glossary of Oceanography andthe Related Geosciences with References. Texas A&M University.Bogdan, R.C. &Biklen S.K. (1982).Qualitative Research for Education : An.Introduction to Theory and Methode.Boston : Allyn and Bacon, Inc.C’elik, Hakan. (2010). Influence of social norms, perceived playfulness and onlineshopping anxiety on customers’ adoption of online retail shopping Anempirical study in the Turkish context.Childers, T. L., Carr, C.L., Peck, J., and Carson, S. (2001). Hedonic andUtilitarian Motivation for Online Retail Shopping Behavior. School ofManagement, University of Kentucky.Constantinides. (2004). Influencing the online consumer’s behavior: the Webexperience.Danaher, P.J. dan J.R.Rossiter. (2009). Comparing perceptions of marketingcommunication channels. European Journal of MarketingVol. 45 No. 1/2,2011pp. 6-42.Darmiyati, Zuchdi. (1997). Pembentukan Sikap . Yogyakarta: LPKM IKIP.Dawson dan Kim. (2009). External and internal trigger cues of impulse buyingonline, Direct Marketing: An International Journal, Vol. 2. No 3.Delafrooz. (2010). Students’ Online Shopping Behavior: An Empirical Study.Dennis, C. , Bill Merrilees, Chanaka Jayawardhena, Len Tiu Wright. (2008). Econsumerbehaviour. European Journal of MarketingVol. 43 No. 9/10,2009, pp. 1121-11.Dennis et al. (2010). The Influences of Social e-Shopping in Enhancing YoungWomen’s Online Shopping Behaviour.11Fajar, A. (2012). E-commerce Harus Siapkan Banyak Komponen ValueChain,http://swa.co.id/business-strategy/marketing/e-commerce-harussiapkan-banyak-komponen-value-chain diunduh pada 3 Mei 2013.Farag, S. (2005). E-Shopping and its Relationship with In-store Shopping:Empirical Evidence from the Netherlands and the USA.Hirschman dan Holbrook (1982). Channels of distribution), social influencethrough reference groups, perceived risk.Jayawardhena, C. dan L.T. Wright. (2008). An empirical investigation into eshoppingexcitement: antecedents and effects. European Journal ofMarketingVol. 43 No. 9/10, 2009, pp. 1171-1187.Johnson, (1986). Research report: the role of behavioral modelling in computerskills acquisition toward refinement of the model, Information SystemsResearch, Vol. 11 No. 4, pp. 402-17.Kacen dan Lee, (2002). Applying the E-Commerce on Online ConsumerBehavior, Information Systems Research, Volume forthcoming.Kartika, B. (2012). Survei Global Soroti Kebutuhan Konsumen Asia pada ECommercehttp://www.chip.co.id/news/startupspress_release/4439/survei_global_soroti_kebutuhan_konsumen_asia_pada_e-commerce.Kotler, Philip. (1984). Manajemen Pemasaran. Prenhalindo; Jakarta.Koufaris, M. dan W.H. Sosa (2002). Customer Trust Online: Examining the RoleOfthe Experience With the Web Site.Department of Statistics & ComputerInformation SystemsZicklin School of Business, Baruch College.Kuswarno, E. 2005. Metode penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Liao and Cheung. (2000). Internet-based e-shopping and consumer attitudes: anempirical study.Moleong. (2005). Metodologi Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: RakeSarasin.12Owen, R. dan P. Humphrey. (2008).The structure of online marketingcommunication channels. Journal of Management and Marketing ResearchPark, (2006). Applying the Technology Acceptance Model and Flow Theory toOnline Consumer Behavior, Information Systems Research.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rinaldi, D. (2013). Mengapa Brand Besar Harus Masuk E-Commerce?. Availableon http://swa.co.id/technology/mengapa-brand-besar-harus-masuk-ecommercediunduh pada 1 Mei 2013.Ruben dan Stewart.(2006). Communication and Human Behavior. United States:Allyn.Sawers, P. (2013). Tengelmann continues its Rocket Internet interest, this timeinvesting $26m in Asian Zappos clone Zalora available onhttp://thenextweb.com/insider/2013/03/12/tengelmann-continues-itsrocket-internet-interest-this-time-investing-26m-in-asian-zappos-clonezalora/diunduh pada 27 Mei 2013.Scissors, J.Z. dan R. B. Baron, (2010). Advertising, Media Planning. SevenEdition. McGraw Hill.Tuten, A. (2008). Personality determinants of online shopping: Explainingonline purchase intentions using a hierarchical approach.Van Manen, M. (1997). Phenomenological pedagogy and the question ofmeaning.Phenomenology & education discourse (pp. 41-68).Johannesburg,South Africa: Heinemann.Wakefield dan Baker. (1998). Creation of Favorable User Perceptions. MISQuarterly, Volume 23, Number 2.Wenats, A.E. dkk. 2002. Integrated Marketing Communications, KomunikasiPemasaran di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAK

Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI MASKULINITAS LAKI-LAKI DALAM IKLAN PRODUK BUMBU MASAK, DETERJEN PAKAIAN, DAN SABUN PENCUCI PERALATAN MAKAN DAN MASAKAbstrakSetiap iklan mengandung gagasan mengenai femininitas perempuan dan maskulinitas laki-laki yang direpresentasikan dalam teks iklan tersebut. Namun, aspek maskulinitas laki-laki dalam iklan masih jarang digali. Itulah yang melatarbelakangi penelitian ini. Bagaimana iklan produk ‘untuk perempuan’, seperti produk kebutuhan rumah tangga, merepresentaikan maskulinitas laki-laki tersebut?Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika tradisi Roland Barthes untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Dengan pendekatan semiotika ini, penelitian ini berusaha membongkar tanda-tanda dalam iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak untuk menemukan makna berupa gagasan di balik tanda-tanda tersebut. Dibantu oleh konsep codes of television milik John Fiske, teks diurai menjadi kode-kode, yaitu suatu unit yang lebih sempit, untuk kemudian dideskripsikan dan dianalisa.Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan pola pada representasi maskulinitas laki-laki yang ditemukan dari analisa terhadap iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Maskulinitas laki-laki, dalam iklan untuk tiga jenis produk tersebut, direpresentasikan melalui sosok ayah, suami, serta pencari nafkah di mana ketiganya merupakan aspek dari sosok kepala keluarga dalam masyarakat yang hidup dengan ideologi patriarki.Key words : iklan, jender, maskulinitas, patriarkiREPRESENTATION OF MALE’S MASCULINITY IN TV COMMERCIALS FOR HOUSEHOLD PRODUCTSAbstarctIn every advertisements, including television commercials, there are always two aspects: female’s femininity and male’s masculinity. But, unfortunately, when compared to female’s femininity, male’s masculinity is still such a rare topic to be discussed and examined in gender studies field. That argument began this particular gender study. How, then, do television commercials for ‘female only’ products such as household products represent their male’s masculinity?This study make use of Roland Barthes’s semiotic approach to try to answer that question. By this means, this gender study struggles to break down the signs found in TV commercials for household products in order to discover the idea(s) behind those signs. By the help of John Fiske’s codes of television concept, text(s) were analyzed into codes, an unit(s) more restricted and specific.The result shows that there is a similarity in pattern of representation of male’s masculinity found by analyzing television commercials for household products. In television commercials for such products, male’s masculinity is represented through the use of father figure, husband figure, and responsible breadwinner figure, which the three being a huge aspect shaping the head of household figure in a society(ies) where patriarchal ideology lives.Key words: advertising, TV commercials, gender, masculinityPendahuluanPada hakikatnya, iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi (Noviani, 2002: 22). Namun, iklan juga unik karena memiliki kemampuan mempengaruhi yang cukup kuat. Dari aspek pengaruh ekonomi, iklan terbukti telah banyak memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar pada perorangan atau agen yang terlibat di baliknya (Widyatama, 2007: 156). Namun, iklan tidak hanya memiliki pengaruh ekonomi saja. Dia juga memiliki pengaruh psikologis dan pengaruh sosial budaya.Dalam kaitannya dengan penelitian ini, pengaruh iklan secara sosial budayalah yang lebih disorot, di mana pesan-pesan yang ditampilkan melalui iklan akan mengkristal secara kolektif dan menjadi perilaku masyarakat secara umum. Perilaku masyarakat yang umum ini pada akhirnya akan membentuk sistem nilai, gaya hidup, maupun standar budaya tertentu.Iklan, sebagai alat (komunikasi) pemasaran yang berfungsi sebagai media untuk mengkomunikasikan produk dari produsen (pengiklan) kepada calon konsumen (audience), memerlukan perencanaan yang matang agar selain pesan yang diinginkan (oleh pengiklan) sampai ke calon konsumen dengan utuh, calon konsumen juga menjadi percaya pada isi pesan dan karenanya berminat untuk mencoba maupun membeli produk yang diiklankan. Untuk mencapai tujuan ini, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan endorser yang mampu membantu membawakan pesan iklan dengan meyakinkan dan sekaligus membantu membentuk citra yang diharapkan untuk produk yang diiklankan.Selain pemilihan endorser, pengiklan juga harus merancang bagaimana endorser ini harus ditampilkan mulai dari segi penampilan fisik hingga perkataan dan perbuatan. Secara fisik, endorser perempuan yang sering muncul dalam iklan biasanya berwajah cantik, berkulit putih mulus, tubuh langsing, dan rata-rata berusia muda. Sedangkan laki-laki yang menjadi endorser biasanya berwajah tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi atletis, dan juga berusia muda.Sedangkan dari segi karakterisasi, perempuan ditampilkan dengan kepribadian yang dikategorikan sebagai karakteristik feminin: anggun, lemahlembut, pasif, dan emosional. Sedangkan laki-laki ditampilkan dengan sifat-sifat yang dikelompokkan dalam kategori maskulin, misalnya kuat (secara fisik dan mental), rasional, tegas, dan agresif. Dari aspek setting, iklan juga stereotipikal dalam menampilkan perempuan dan laki-laki, di mana karakter perempuan hampir selalu ditampilkan berada di rumah atau di lingkungan rumah sedangkan tokoh laki-laki sering kali ditampilkan sedang sibuk beraktivitas di luar rumah, misalnya kantor.Umumnya, dalam iklan, perempuan dan laki-laki sering kali ditampilkan dalam kerangka jender yang sama dari waktu ke waktu. Pada bagian awal subbab ini telah disebutkan bahwa iklan memiliki pengaruh sosial budaya. Pengaruh ini bisa timbul salah satunya dikarenakan adanya stereotipisasi dalam penampilan sosok laki-laki dan perempuan dalam iklan, gaya penampilan yang mengikuti suatu pola dan peran jender tertentu.Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak termasuk dalam kelompok iklan yang sering menampilkan sosok laki-laki dan perempuan yang stereotipikal sesuai dengan peran jender konvensional. Iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak tidak pernah absen menghadirkan gambaran perempuan dalam kerangka femininitas tertentu, yaitu sebagai ibu rumah tangga yang sedang melakukan aktivitas seperti memasak, merawat anak, serta membersihkan rumah, dan perempuan tersebut mayoritas dimunculkan dalam setting rumah.Yang kadang luput dari perhatian adalah arti keberadaan sosok laki-laki dalam iklan yang sama. Banyak iklan untuk produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak yang menghadirkan sosok endorser laki-laki. Laki-laki dalam iklan tersebut, seperti halnya perempuan, juga ditampilkan dalam kerangka jender tertentu, yaitu kerangka jender maskulin. Tentu saja representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak berbeda dengan representasi maskulinitas laki-laki yang umum ditemui dalam iklan rokok. Laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak seringkali dimunculkan menyandang peranayah/suami/kepala rumah tangga, atau sebagai voice over yang memberikan penjelasan mengenai produk yang sedang diiklankan. Posisi laki-laki dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sekilas memang tidak mengandung maksud tertentu. Namun, bila ditelaah lebih jauh, sesungguhya peran-peran yang disandang laki-laki dalam iklan-iklan tersebut memiliki posisi superior terhadap sosok perempuan. Sebaliknya, iklan rokok merk Marlboro misalnya, merepresentasikan maskulinitas melalui sosok koboi. Di balik representasi maskulinitas laki-laki melalui sosok koboi ini, kita bisa saja menarik kesimpulan mengenai bagaimana seharusnya laki-laki ideal itu. Iklan rokok merk Marlboro mungkin bermaksud menyampaikan pada khalayak bahwa laki-laki yang ideal itu adalah laki-laki yang pemberani, tangguh, kasar, serta individualistis.Karena iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan representasi maskulinitas laki-laki dengan cara berbeda dari iklan rokok merk Marlboro, maka bisa kita tarik asumsi bahwa iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak memiliki gagasan tersendiri mengenai maskulinitas laki-laki dan sosok laki-laki ideal untuk disampaikan pada khalayak. Pembahasan dalam makalah ini akan membongkar ideologi apa yang tersembunyi di balik pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak sebagai cara mendeskripsikan representasi maskulinitas laki-laki dalam iklan-iklan tersebut.PembahasanTerdapat empat ideolog yang bekerja dalam pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak. Tiga ideologi pertama bisa dikatakan sebagai ideolog yang bersifat minor, sedangkan ideologi keempat merupakan bersifat lebih luas di mana tiga ideology pertama merupakan bagian dari ideology keempat ini. Tiga ideologi minor tersebut, yaitu kode ideologis son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki ideologi. Ketiganyamerupakan bagian dan pendukung ideologi yang bersifat mayor, yaitu ideologi patriarki.Dalam The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (2005) diutarakan bahwa patriarki bukan semata sinonim dari ‘laki-laki’, melainkan suatu jenis masyarakat (society) di mana baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Menurut Johnson, masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang hingga taraf tertentu mendukung adanya hak-hak istimewa laki-laki (male privilege) melalui aksi serta gagasan yang berbau dominasi laki-laki (male dominated), diidentifikasikan dengan laki-laki (male identified), dan terpusat pada laki-laki (male centered). Masyarakat patriarkis juga menunjukkan adanya obsesi terhadap kendali atau keinginan kuat untuk mengendalikan segalanya (Johnson, 2005: 5). Male dominated, male identified, male centered, dan obsesi terhadap kendali, menurut Johnson, merupakan empat karakteristik patriarki.Dominasi laki-laki sebagai suatu karakteristik patriarki mengandung pemahaman bahwa posisi-posisi dengan kewenangan tinggi, misalnya dalam bidang politik, hukum, dan militer, sebagian besar diduduki oleh laki-laki dan seolah diperuntukkan bagi laki-laki. Kondisi ini akhirnya menciptakan perbedaan kekuasaan yang cukup mencolok antara laki-laki dan perempuan. Dominasi laki-laki seperti yang banyak terdapat dalam masyarakat patriarkis juga mengakibatkan timbulnya gagasan bahwa laki-laki lebih superior (dibandingkan perempuan). Anggapan semacam ini muncul karena masyarakat cenderung tidak membedakan antara superioritas yang dikandung oleh posisi atau kedudukan dalam suatu hierarki dengan orang-orang yang biasanya menempati posisi tersebut. Johnson menambahkan, penting untuk dipahami bahwa dominasi laki-laki dalam masyarakat patriarkis tidak berarti setiap laki-laki itu berkuasa. Dominasi laki-laki berarti di mana ada pusat atau konsentrasi kekuasaan, hampir bisa dipastikan (kaum) laki-laki yang akan menguasainya karena laki-laki dalam hal ini bisa dipandang sebagai rancangan dasar kaum atau orang yang memegang kekuasaan (Johnson, 2005: 5-6).Karakteristik berikutnya yang dimiliki oleh masyarakat patriarkis yaitumale identified yang diartikan bahwa dasar gagasan kultural mengenai apa yang dianggap baik, yang dikehendaki, dan yang dianggap normal adalah hal-hal yang biasa diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas ideal. Dengan kata lain, male identified dalam patriarki memposisikan laki-laki dan kehidupannya sebagai standar dalam menentukan apakah sesuatu itu normal atau tidak. Anggapan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud yang menganggap bahwa manusia normal adalah laki-laki (Sultana, 2010: 4).Aspek lain dari male identified adalah deskripsi kultural mengenai maskulinitas dan sosok laki-laki ideal yang kemudian seolah menjelma menjadi nilai-nilai inti dalam masyarakat. Kualitas-kualitas seperti kontrol, kekuatan (fisik), senang berkompetisi, keteguhan, ketenangan di bawah tekanan, logika, kemampuan mengambil keputusan, rasionalitas, dan otonomi dikenal sebagai karakteristik-karakteristik maskulin dan standar ideal bagi laki-laki. Dengan kata lain, kualitas-kualitas tersebut diidentifikasikan sebagai ‘laki-laki’. Dalam masyarakat patriarkis, sifat-sifat tersebut pun lebih dihargai (Johnson, 2005: 6-10).Selain bersifat male dominated dan male identified, masyarakat patriarkis juga bersifat male centered atau terpusat pada laki-laki yang berarti bahwa laki-laki dan apa pun yang mereka lakukan lah yang menjadi fokus perhatian. Hal ini dikarenakan menurut kultur patriarki, pengalaman dan kehidupan laki-laki merepresentasikan pengalaman seorang manusia yang utuh. Dalam kehidupan sehari-hari pun, fokus perhatian terhadap laki-laki dapat ditemui, misalnya bagaimana laki-laki mendominasi percakapan dengan cara bicara lebih banyak (daripada perempuan), lebih sering menginterupsi pembicaraan, hingga mengendalikan topik dan arah pembicaraan (Johnson, 2005: 10-12).Obsesi untuk memegang kendali (the obsession with control) merupakan karakteristik selanjutnya dari paham patriarki. Kontrol atau kendali merupakan elemen penting dalam patriarki dikarenakan paham patriarki adalah sistem di mana di dalamnya terdapat hak-hak istimewa yang diberikan pada salah satu kelompok. Dalam praktiknya, hak-hak istimewa tersebut menempatkan salah satu kepompok dalam kedudukan yang tinggi dan mengopresi kelompok lain yangtidak memperoleh hak istimewa tersebut. Dengan kata lain, kelompok superior mempertahankan posisi dan hak istimewanya dengan cara mengontrol kelompok lainnya, misalnya kaum laki-laki melindungi dan mempertahankan kedudukan dan hak istimewa yang diberikan padanya dengan cara mengendalikan para perempuan di sekitarnya. Kemampuan mengendalikan ini telah menjadi standar kultural bagi manusia sebagai makhluk superior, yang pada akhirnya dipandang sebagai piranti bagi laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan posisi dan hak istimewanya.Perlu juga diketahui bahwa sesungguhnya kendali atau kontrol tidaklah bersifat buruk dan tidak dengan sengaja bertujuan untuk mengopresi. Dengan melakukan pengendalian, manusia mampu menciptakan keteraturan dari situasi chaos dan melindungi diri dari ancaman-ancaman terhadap eksistensinya. Namun, di bawah kekuasaan paham patriarki, kemampuan mengendalikan tersebut bukan lagi dianggap sebagai lambang dari esensi manusia sebagai makhluk hidup, melainkan berubah menjadi begitu dihargai dan didambakan hingga menimbulkan obsesi dalam tingkat ekstrim yang membuat kehidupan sosial menjadi sangat menekan (Johnson, 2005: 14-15).Empat karakteristik patriarki di atas dapat ditemukan pada banyak praktik-praktik sosial. Ideologi son preference, fatherhood, dan kecerdasan laki-laki termasuk dalam praktik sosial bersifat patriarkis karena ketiganya memiliki karakter yang sama dengan karakteristik patriarkis yang digagas oleh Johnson.Son preference memiliki karakteristik patriarki, yaitu male centeredness. Dia dijalankan dengan memusatkan pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki. Male centeredness yang memusatkan perhatian pada apa yang diasumsikan dapat dilakukan oleh laki-laki sebagai karakteristik son preference dapat terlihat pada faktor ekonomi son preference, yaitu anggapan bahwa anak laki-laki mampu menyokong orangtua dan keluarga secara finansial serta anak laki-laki yang juga dinilai lebih potensial dan menguntungkan sebagai tenaga kerja.Selain son preference, praktik patriarkis di masyarakat juga tampak dalam pandangan yang menempatkan sosok ayah (laki-laki) sebagai figur pemegangotoritas. Konsep fatherhood memiliki karakteristik yang sama dengan karakteristik patriarki, yaitu male dominated dan obsesi terhadap kendali (obsession with control).Ideologi fatherhood atau kebapakan memiliki karakter male dominated, yang artinya sebagian besar posisi-posisi dengan otoritas tinggi biasanya dipegang atau diduduki oleh, bahkan seolah diperuntukkan bagi, laki-laki. Mulai dari lingkup keluarga inti yang sempit hingga cakupan negara, laki-laki hampir bisa dipastikan menjabat sebagai pemegang kedudukan tertinggi. Karakteristik lain ideologi fatherhood yang masih cukup berkaitan dengan karakter male dominated ini adalah obsesi terhadap kendali. Sebagai kelompok yang beruntung dikarenakan hak-hak istimewa yang dialamatkan kepadanya, menyebabkan kaum laki-laki menempati posisi yang menjadikan mereka superior terhadap kelompok lainnya, terutama perempuan. Dengan status yang lebih superior tersebut, maka kaum laki-laki pada akhirnya memiliki keleluasaan untuk mengendalikan kelompok inferior lainnya. Pengendalian tersebut dilakukan terutama sebagai upaya untuk mempertahankan dan melindungi hak-hak istimewa mereka dari siapapun atau apapun yang mungkin mengancamnya. Kemampuan untuk mengendalikan telah menjadi standar kultural bagi makhluk hidup superior, yang kemudian digunakan sebagai piranti oleh laki-laki untuk mengukuhkan dan membenarkan hak dan posisi istimewa mereka (Johnson, 2005: 14).Kode ideologis kecerdasan laki-laki juga bagian dari praktik yang bersifat patriarkis. Dia memiliki karaktersitik patriarki, sama seperti dua kode ideologis yang telah diuraikan sebelumnya. Karakteristik patriarki yang melekat pada konsep kecerdasan laki-laki sendiri adalah male identified.Kecerdasan, atau intelligence dalam bahasa Inggris, merupakan hasil kombinasi dari rasionalitas maskulin (masculine rationality) dengan keberhasilan sosial (social success) (Raty dan Snellman, 1995: 2). Pada kenyataannya, rasionalitas bukanlah konsep yang bersifat netral-jender, walau banyak orang masih mengira demikian. Justru sesungguhnya yang selama ini dikenal sebagai rasionalitas a la Barat adalah rasionalitas maskulin (Ross-smith dan Kornberger, 2004: 282). Ross-Smith dan Kornberger juga mencantumkan dalam tulisanmereka tentang penggunaan akal pikiran (sebagai ciri dari sifat rasional) yang telah diasosiasikan dengan laki-laki dan maskulinitas sejak zaman Yunani Kuno. Asosiasi di antara keduanya masih terus berlangsung di masa kini, sehingga dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang, konsep mengenai akal pikiran dan rasionalitas sesungguhnya memiliki konotasi maskulin. Mengasosiasikan rasionalitas dengan laki-laki dan/atau maskulinitas merupakan salah satu aspek dari male identified, di mana gagasan kultural mengenai laki-laki ideal telah menjelma menjadi nilai-nilai inti masyarakat secara keseluruhan (Johnson, 2005: 7). Salah satu kualitas yang telah diidentifikasi sebagai kualitas laki-laki ideal tersebut adalah penggunaan logika dan rasionalitas.KesimpulanBerdasarkan hasil temuan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini, yaitu:1. Iklan bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan dan masak menampilkan maskulinitas laki-laki dengan cara melekatkan peran, sifat, maupun karakteristik, seperti:1.1. Memosisikan laki-laki dewasa dalam peran ayah dan/atau suami yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah atau konflik, memberi solusi, serta tampil sebagai pemimpin yang dipatuhi1.2. Menampilkan beberapa laki-laki dewasa yang sedang aktif berkarya di lingkungan kerja sebagai pekerja di sebuah pabrik (area publik), dengan posisi mulai dari staf di gudang hingga peneliti produk di laboratorium1.3. Menjadikan laki-laki dewasa sebagai sumber informasi, baik dengan menjadi duta produk maupun voice-over dalam iklan, yang tugas utamanya adalah mendeskripsikan keunggulan, karakteristik, dan cara penggunaan produk kepada khalayak produk tersebut, yang umumnya adalah perempuan dewasa2. Pemberian setiap peran dan karakteristik tersebut kepada laki-laki dewasa dalam iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuciperalatan makan dan masak mengandung makna yang lebih mendalam daripada sekadar peran yang dimainkan dalam suatu karya fiktif (iklan). Dengan menyandangkan peran sebagai suami/ayah, pekerja yang giat mencari nafkah, serta informan yang menguasai informasi pada aktor laki-laki, membuat mereka tampak berada pada posisi dominan dan lebih superior dibandingkan lawan mainnya, yaitu perempuan dan anak-anak3. Kedudukan lebih dominan dan superior yang dimiliki oleh laki-laki seperti ditampilkan dalam iklan tersebut dikarenakan adanya ideologi patriarki yang berpihak dan memberi hak-hak istimewa pada laki-laki. Ideologi patriarki ini hidup lestari di masyarakat melalui berbagai praktiknya, yaitu son preference, fatherhood, dan gagasan tentang kecerdasan dan rasionalitas sebagai kualitas alami laki-laki.DAFTAR PUSTAKABarker, Chris. (2005). Cultural Sudies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.Berger, Arthur Asa. (2010). The Object of Affection: Semiotics and Consumer Culture. New York: Palgrave Macmillan.Budiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.Bungin, Burhan. (2001). Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Penerbit Jendela.Bungin, Burhan. (2005). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Burton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media: Pengantar Kepada Kajian Media. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics (2nd ed.). New York: Routledge.Cornwall, Andrea dan Nancy Lindisfarne (Eds.). (1994). Dislocating Masculinity: Comparative Ethnographies. New York: Routledge.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln (Eds.). (2005). The Sage Handbook of Qualitative Research (3rd ed.). Thousand Oaks, California: Sage Publications.Donovan, Josephine. (2006). Feminist Theory: The Intellectual Traditions (3rd ed.). The Continuum International Publishing.Fiske, John. (1987). Television Culture: Popular Pleasures and Politics. New York: Routledge.Fiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies: Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Fletcher, Winston. (2010). Advertising: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.Guba, Egon G. dan Yvonna s. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. Dalam N. Denzin dan Y. Lincoln (Eds.), Handbook of Qualitative Research (1st ed.) (105-117). California: Sage Publications.Goddard, Angela. (1998). The Language of Advertising. New York: Routledge.Hall, Stuart (Ed.). (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. Sage Publications.Iriantara, Yosal. (2009). Literasi Media: Apa, Mengapa, Bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Johnson, Allan G. (2005). The Gender Knot: Unraveling Our Patriarchal Legacy (Revised and Updated Edition). Philadelphia: Temple University Press.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007a). Encyclopedia of Sex and Gender Volume I. Macmillan Reference USA.Malti-Douglas, Fedwa (Ed.). (2007b). Encyclopedia of Sex and Gender Volume II. Macmillan Reference USA.Murray, Mary. (1995). The Law of the Father? Patriarchy in the Transition from Feudalism to Capitalism. New York: Routledge.Neuman, W. Lawrence. (2007). Basics of Sosial Research: Qualitative and Quantitative Approaches (2nd ed.). New York: Pearson.Noviani, Ratna. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Pease, Allan dan Barbara Pease. (2004). The Definitive Book of Body Language. Pease International.Pilcher, Jane dan Imelda Whelehan. (2004). Fifty Key Concepts in Gender Studies. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles Over The Life Cycle (2nd ed.). McGraw-Hill, Inc.Rustan, Surianto. (2009). Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. (1997). Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial: Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.Schement, Jorge Reina (Ed.). (2002). Encyclopedia of Communication and Information Volume I. Macmillan Reference USA.Talbot, Mary. (2007). Media Discourse: Representation and Interaction. Edinburgh University Press.Thompson, Roy dan Christoper J. Bowen. (2009). Grammar of the Shot (2nd ed.). Focal Press.Webb, Jen. (2009). Understanding Representation. Thousand Oaks, California: Sage Publications.Widyatama, Rendra. (2007). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher (Kelompok Penerbit Pinus).Wood, Julia T. (19940. Gendered Media: The Influence of Media on Views of Gender. Dalam Julia T. Wood, Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture (231-244). Wadsworth Publishing.JurnalConnell, R.W. (1996). Teaching The Boys: New Research on Masculinity, and Gender Strategies for Schools. Teachers College Record, 98(2): 206-235.Koller, Veronika. (2008). ‘Not Just a Colour’: Pink as a Gender and Sexuality Marker in Visual Communication. Visual Communiaction, 7(4): 395-423.Nafajian, Maryam dan Saeed Ketabi. (2011). Advertising Social Semiotic Representation: A Critical Approach. International Journal of Industrial Marketing, 1(1): 63-78. Dalam http://faculty.washington.edu/thurlow/com210b/readings/koller(2008).pdf. Diunduh pada 29 Januari 2013 pukul 11.15.Prentice, Deborah A. and Erica Carranza. (2002). What Women and Men Should Be, Shouldn’t Be, Are Allowed to Be, And Don’t Have to Be: The Contents of Prescriptive Gender Streotypes. Psychology of Women Quarterly, 26: 269-281. Dalam http://psych.princeton.edu/psychology/research/prentice/pubs/Prentice%20Carranza.pdf. Diunduh pada 3 Maret 2012 pukul 13.50 WIB.Ross-Smith, Anne dan Martin Kornberger. (2004). Gendered Rationality? A Genealogical Exploration of the Philosophical and Sociological Conceptions of Rationality, Massculinity, and Organization. Gender, Work, and Organization, 11(3): 280-305. Dalam http://www.martinkornberger.com/includes/04gender.pdf. Diunduh pada 8 Mei 2013 pukul 15.37.Sacristan, Marisol Velasco. (2009). Overt-Covertness in Advertising GenderMetaphors. Journal of English Studies, 7: 111-148.Sultana, Abede. (2010). Patriarchy and Women’s Subordination: A Theoretical Analysis. The Arts Faculty Journal Volume 4 July 2010- June 2011: 1-18. Dalam http://bdresearch.org/home/attachments/article/nArt/A5_12929-47213-1-Pb.pdf. Diunduh pada 21 Mei 2013 pukul 12.06.Tsai, Wan-Hsiu Sunny dan Moses Shumow. (2011). Representing Fatherhood and Male Domesticity in American Advertising. Interdisciplinary Journal of Research in Business, 1(8): 38-48. Dalam http://idrjb.com/articlepdf/idrjb8n5.pdf. Diunduh pada 18 Maret 2012 pukul 15.10.Tesis, Disertasi, Laporan PenelitianCochran, Susan Sims. (2009). Exploring Mascilinities in the United States and Japan. Tesis. Kennesaw State University. Dalam http://digitalcommons.kennesaw.edu/etd/53. Diunduh pada 30 April 2012 pukul 11.38.Das Gupta, Monica, dan kawan-kawan. (2002). Why is Son Preference so Persistent in East and South Asia? A Cross-country Study of China, India, and the Republic of Korea. Laporan Penelitian. The World Bank. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.De Camargo, Camilla. (2012). The Police Uniform: Power, Authority, and Culture. Disertasi. University of Salford. Dalam http://www.internetjournalofcriminology.com/DeCamargo_The_Police_Uniform_IJC_Oct_2012.pdf. Diunduh 23 Januari 2013 pukul 10.27.Eklund, Lisa. (2011). Rethinking Son Preference: Gender, Population Dynamics, and Social Change in the People’s Republic of China. Disertasi. Lund University. Dalam http://lup.lub.se/luur/download?func=downloadFile&recordOld=1950819&fileOld=1951084. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 14.52.Nilsson, Marie. (2004). The Paradox of Modernity: A Study of GirlDiscrimination in Urban Punjab, India. Tesis. Lund University. Dalam http://www.ekh.lu.se/publ/mfs/9.pdf. Diunduh pada 13 November 2012 pukul 11.57.Nixon, Elizabeth, Padraic Whyte, Joe Buggy, Sheila Greene. (2010). Sexual Responsibilty, Fatherhood, and Discourses of Masculinity among Socially and Economically Disadvantaged Young Men in Ireland. Laporan Penelitian. Crisis Pregnancy Agency. Diunduh pada 19 April 2013 pukul 18.00.Tadpikultong, Supavee. (2008). The Representation of Different Genders in Product Advertising: Comparison of TV Advertisements in Thailand and the United Kingdom. Disertasi. Dalam http://edissertations.nottingham.ac.uk/2038/1/08MSceexst1.pdf. Diunduh pada 14 April 2012 pukul 15.24.Seminar/WorkshopRaty, Hanu dan Leila Snellman. (1995). On the Social Fabric of Intelligence. Makalah. Dipresentasikan pada The Symposium of Social Representations in the Northern Context di Mustio, Finlandia (22-26 Agustus): 1-9.Sumber-sumber lainJally, Sut. Advertising, Gender, and Sex: What’s Wrong with a Little Objectification?. Dalam https://mediasrv.oit.umass.edu/~sutj/Objectification.pdf. Diunduh pada 20 September 2012.http://en.wikipedia.org/wiki/Polo_shirt.http://id.wikipedia.org/wiki/Edwin_Lau.http://teukuwisnu.com/bio.Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dalam http://sdm.ugm.ac.id/main/sites/sdm.ugm.ac.id/arsip/peraturan/UU_1_1974.pdf. Diunduh pada 14 April 2012.

Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088Judul : Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik” Abstrak Koperasi Sekar Arum sebagai sebuah lembaga koperasi dibawah naungan TP – PKK Kota Semarang yang salah satunya fokus terhadap batik semarangan, tentu harus dapat melestarikan dan mengembangkan produk batik semarangan sehingga dapat menjadi produk andalan dari Kota Semarang. Akan tetapi terjadi permasalahan dimana produk batik semarangan ini belum banyak dikenal oleh warganya sendiri khususnya para generasi muda yaitu pelajar di Kota Semarang. Melalui pendekatan IMC, promotion mix, marketing communication, dan AIDDA, strategi Brand Activation menjadi kegiatan komunikasi pemasaran batik semarangan yang efektif dalam meningkatkan awareness dan minat terhadap batik semarangan. Dengan mengambil tema kegiatan “Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline acara “Fit on Youth”, acara dikemas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan minat pelajar di Kota Semarang terhadap batik semarangan. Acara ini diisi dengan kegiatan utama pelatihan batik dengan nama “Melu Mbatik” dan pertunjukan musik akustik dengan nama “Batikustik” dimana peserta diwajibkan mengenakan batik pada saat tampil diatas panggung. Dan pada akhir dari event, dibentuk Komunitas Batik Semarangan sebagai kegiatan PR denga tujuan untuk menimbulkan efek yang berkelanjutan. Melalui kegiatan brand activation ini, diharapkan pengetahuan para pelajar SMA dan sederajat di Kota Semarang sebagai target audien terhadap batik semarangan dapat meningkat, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan minat untuk melestarikan batik semarangan. Berdasarkan hasil riset post event, sebanyak 41% target audien sudah tidak lagi menganggap batik itu mempunyai kesan kuno, meningkat sebesar 28% dari sebelumnya 13%. tingkat pengetahuan target audien mengenai batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Sementara itu yang menyatakan tertarik untuk memakai batik semarangan sebesar 32%,. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 15% dari sebelum event dilaksanakan. Kata Kunci : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, marketing communication, “Cah Semarang Duwe Batik”.Nama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088Judul : Batik Semarangan Brand Activation through “Cah Semarang Duwe Batik” Event. Abstract Koperasi Sekar Arum as an organization below the authority of Semarang‟s TP – PKK which one of their focus is Semarangan‟s batik, they have to conserve and develop Semarangan‟s batik into one of the top notch product from Semarang. Nevertheless the problem of Semarangan‟s batik is not so well known in its own city especially between the youth or the student in Semarang. Through IMC, promotion mix, marketing communication and AIDDA approaches, Brand Activation strategy become effective marketing communication for Semarangan‟s batik in order to raise awareness and also gain the interest in Semarangan‟s batik With “Cah SemarangDuwe Batik” as our event‟s theme and “Fit on Youth” as our event‟s tagline, this event is set to increase knowledge and interest for Semarangan‟s batik between the student in Semarang. This event is consist several activities such as, the main activity is teaching student how to draw batik which called “MeluMbatik” and also acoustic music performance named “Batikustik” which every contestant required to wear batik when they were performing on stage, and in the end of the event they KoperasiSekar Arum established Semarangan‟s Batik Community as a PR activity that aimed to get the continuous effect. Through this brand activation event, it is expected the knowledge of student especially high school in Semarang as a target audience may enhanced, so they will have sense of belonging into Semarangan‟s batik and also to conserve it. Refer to post event research result, 41% of target audience is not perceived Semarang‟s batik is old fashioned anymore, raised 28% from 13 % on early research. Level of knowledge of the target audience about Semarangan‟s batik enhanced 52% from the previous research is 17% to 69%. Meanwhile, target audience who stated that they wants to use Semarangan‟s batik is 32%, this data shows that there are 15% gain according from the previous research. Key Word : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, Marketing Communications, “Cah Semarang Duwe Batik”Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”(Project Officer) Karya Bidang Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro PenyusunNama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013PENDAHULUAN Batik semarangan adalah batik khas dari Semarang yang mempunyai corak dan motif yang unik dan mempunyai ciri khas tersendiri berupa ikon-ikon kota semarang, dan bersifat natural atau pesisiran. Batik semarangan mempresentasikan tentang Kota Semarang baik flora, fauna, ikon-ikon Kota Semarang seperti ukiran di gedung-gedungnya, atau lawang sewu yang menjadi ciri khas kota, tugu muda, legenda-legenda, serta kuliner yang ada di Semarang, dan biasanya ada motif daun asem sebagai ciri khasnya. Ragam corak dan warna batik semarangan banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Pada awalnya, batik semarangan yang memiliki ragam corak tradisional dan warna yang terbatas terpengaruh oleh kebudayaan asing yang dibawa oleh para pedagang asing dan juga para penjajah. Popularitas batik kembali muncul setelah UNESCO menetapkan batik sebagai salah satu budaya yang ada di Indonesia, berbagai fashion yang bertema batik bermunculan, masyarakat Semarang sadar akan budaya batik yang sedang menjadi tren. Walaupun popularitas batik sedang meningkat, akan tetapi kesadaran mereka akan adanya batik semarangan dan minat untuk memakai batik masih rendah. Popularitas batik semarangan sendiri masih kalah dengan batik di kota lain, hal ini diakibatkan karena apresiasi masyarakat kota semarang terhadap batik semarangan masih rendah. Masyarakat kota Semarang cenderung lebih memilih batik dari luar Semarang seperti Batik Pekalongan, Batik Yogyakarta maupun Batik Solo.Fenomena tren batik yang sedang berkembang di Kota Semarang tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan adanya batik semarangan, sehingga minat mereka untuk memakai batik semarangan sebagai apresiasi terhadap Budaya KotaSemarang pun belum muncul. Padahal disamping itu, batik akan menjadi budaya di suatu masyarakat apabila masyarakat tersebut mengenakan batik di setiap hari mereka berkegiatan. Akan tetapi pada kenyataanya batik masih dipakai pada saat tertentu yang bersifat formal. Misal pada saat menghadiri pesta pernikahan, acara resmi yg lain, Atau pada hari jumat untuk instansi pemerintahan. Itupun kareda ada aturan pemerintah. Hal ini menyebakan penjualan batik semarangan mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Budaya Fashion yang menjadi tren di kalangan pelajar karena mereka mengacu kepada artis idola mereka, sebagai contohnya, misal budaya K-pop yang sedang populer saat ini. Dari gaya berpakaian, para pelajar akan menirukan gaya berpakaian idola mereka, mengenakan fashion bergaya korea, karena tren budaya yang sedang hype mempunyai kesan modern dan up to date sedangkan batik menurut mereka masih sebagai fashion yang kuno, Dari masalah tesebut dapat dikatakan bahwa pelajar masih mencari identitas dirinya dan membutuhkan role model sebagai acuan mereka untuk menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik. Banyak pelajar SMA di Semarang yang tidak mengetahui adanya batik semarangan. Tidak mengetahui ciri-cirinya, contoh motifnya, harga, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Budaya batik yang masih terkesan kuno di kalangan pelajar menyebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka terhadap batik khususnya batik semarangan. Hal ini dibuktikan dengan riset yang telah peneliti lakukan pada bulan April 2013 bahwa 87% responden masih menganggap bahwa batik itu terkesan kuno dan mereka tidak mau memakainya, 17% responden tidak aware terhadap batik semarangan, 79% responden tidak mempunyai minat terhadap batik semarangan.Masih rendahnya kesadaran pelajar terhadap batik semarangan tersebut berakibat pada rendahnya popularitas batik semarangan apabila dibandingkan dengan batik-batik dari kota lain. Hal ini berdampak pada menurunnya penjualan batik semarangan. Maka dari itu, Karya Bidang ini berfokus untuk mempromosikan batik semarangan yang bertujuan untuk meningkatkan awareness serta minat pelajar terhadap Batik Semarangan kepada pelajar SMA di Kota Semarang dengan melakukan kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik dengan tagline FIT ON YOUTH dengan pendekatan brand Activation ISI Dengan menggunakan pendekatan brand activation yang didukung oleh teori Komunikasi Pemasaran, AIDDA, IMC, dan komunitas dan berifat Experiental Event Marketing agar para audiens dapat sepenuhnya terlibat dengan produk yang dipasarkan. Salah satu cara efektif dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah melalui pendekatan brand activation. Brand activation adalah salah satu bentuk promosi merek yang mendekatkan dan interaksi merek dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktifitas publik yang menarik perhatian lainnya.Brand activation merupakan aktifitas dua arah yang dilakukan suatu brand untuk berinteraksi lebih dekat dengan target market, atau target audiens. Berbeda dengan aktifitas iklan, baik lini atas maupun lini bawah, aktifitas yang terjadi hanyalah satu arah. Salah satu bentuk pendekatan brand activation adalah event marketing activity. Dalam penelitiannya, Duncan menjelaskan bahwa, “event marketing is a significant situation orpromotional happening that has a central focus and chapters the attention and involvement of the target audiens” Pendekatan brand activation merupakan aktifitas komunikasi pemasaran yang harus tetap didukung dengan aktifitas komunikasi pemasaran lainnya, seperti publikasi, kegiatan public relations, sales promotion, publisitas dan tools promosi lainnya. Brand activation merupakan jawaban atas konsep promosi modern karena dapat meningkatkan brand awareness dan mengangkat citra dari suatu brand. Strategi ini dirasa efektif dalam membangun sebuah brand karena brand activation adalah salah satu bentuk promosi brand yang mendekatkan dan membangun interaksi brand dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktivitas publik yang menarik perhatian lainnya (Shimp, 2003:263). Selain itu dalam perspektif membangun brand awareness, brand activation mempunyai banyak peluang untuk mencapai keberhasilan. Ini karena event pada dasarnya diselenggarakan dalam kemasan yang menarik dan untuk menciptakan suasana hati yang santai dan menyenangkan. Pada saat itulah orang lebih mudah menerima pesan persuasi yang disampaikan pemilik merek (Shimp, 2003:263).Peneliti ingin menyelenggarakan kegiatan yang bertema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline “ Fit On Youth”. Penyelenggara mengambil tema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki para generasi muda khususnya pelajar SMA di Kota Semarang untuk melestarikan batik salah satunya dengan cara memakainya. Tagline „ Fit On Youth” berarti ingin menyampaikan pesan bahwa batik itu cocok untuk para generasi muda khususnya paa pelajar untuk menjadi fashion mereka dan bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik. Tujuan kegiatan “ Cah SemarangDuwe batik” sendiri bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik, meningkatkan awareness batik Semarangan, dan meningkatkan minat terhadap Batik Semarangan salah satunya dengan cara memakainya dan tujuan tersiernya adalah untuk meningkatkan penjualan Batik Semarangan di kota Semarang. Kegiatan Brand Activation Batik Semarangan dikemas dengan konsep yang menarik karena target audiens dari kegiatan ini adalah pelajar di kota Semarang serta membawakan role model yang bertujuan untuk dijadikan panutan bagi mereka untuk mengenakan batik sehingga bisa menghilangkan kesan kuno batik di generasi muda.Role Model yang dibawakan pada kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik” adalah Jazz Ngisoringin yang mempunyai banyak penggemar di Kota Semarang khususnya para generasi Muda Kota Semarang yang menjadi target audiens dari kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik”. Acara “Cah Semarang duwe Batik” yang dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 26, 27 dan 28 Juli 2013 mempunyai konsep acara sebagai berikut : a. Melu mbatik Melu mbatik merupakan ajang bagi pengunjung acara yang ingin mencoba belajar batik pada kain batik sepanjang 1x1 meter yang telah tergambar pola batik semarangan, yang disediakan oleh panitia dan telah didampingi oleh para pengrajin batik yang sudah berpengalaman dan ahli dari Koperasi Sekar Arum. b. Galeri Batik SemaranganGaleri Batik Semarangan merupakan sarana bagi para perajin batik untuk mempromosikan produknya, selain melakukan penjualan dengan memberikan diskonkhusus, perajin tersebut juga akan membimbing paserta “melu mbatik” mengenai cara dan langkah-langkah yang baik dalam membuat batik. c. Batikustik Band SMA merupakan sarana untuk mengekspresikan jiwa seni pelajar SMA. Diharapkan dengan para pelajar akan dapat lebih mengapresiasi budaya batik sebagai budaya yang tidak lagi kuno. Parade band ini bertema akustik, dan mengenakan batik pada saat pentas. d. Batikustik Jazz Ngisoringin. Jazz Ngisoringin yang menjadi band yang sudah populer di Kota Semarang bisa menjadi role model pelajar SMA bahwa batik itu tidak berkesan kuno. e. Wisata Air Pengunjung yang datang pada kegiatan tersebut, selain dapat mengunjungi booth pameran yang disediakan oleh panitia juga dapat menikmati wahana wisata air dan keindahan sungai banjir kanal. f. Komunitas Cah Semarang Duwe Batik Setelah kegiatan terlaksana, akan dibentuk sebuah komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” yang beranggotakan para pelajar SMA di Kota Semarang. Komunitas ini bertujuan untuk mengenalkan batik semarang kepada teman-teman di sekolahnya, teman-teman di luar sekolah ataupun keluarga mereka. Komunitas ini dibentuk sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.“Cah Semarang Duwe Batik” adalah rangkaian event yang berisi kegiatan untuk memperkenalkan batik semarangan, mengenai jenis-jenis motifnya, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Selain itu melalui event ini pihak Koperasi Sekar Arum dapat melihat kondisi target audiens secara langsung, bagaimana antusias audien mengikuti rangkaian kegiatan dapat menjadi pacuan dalam memperluas pasarnya kepada target pasar yang dituju, yaitu pelajar SMA di Semarang. Berdasarkan hasil riset, tingkat pengetahuan target audien mengenai Batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Hal tersebut melampaui target yang ditentukan sebelumnya, yaitu sebesar 50%. Untuk peningkatan minat batik naik sebesar 15% dan telah melampaui target yang sebelumnya hanya 13% dan akhirnya minat batik menjadi 36%. Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” dibentuk setelah kegiatan dilakuan, tujuan dari komunitas ini adalah sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga. Komunitas “Cah Semarang duwe Batik” mempunyai kartu tanda anggota sebagai kartu pengenal keanggotaan dan berfungsi juga sebagai kartu untuk memperoleh potongan harga di toko batik yang sudah ditunjuk oleh panitia dan juga mempunyai katalog yang dipegang oleh masing-masing anggota yang berguna untuk mempromosikan batik semarangan kepada teman-temannya di sekolah. Evaluasi mengenai jalannya acara dapat dilihat pada indikator berikut ini :a. Tujuan komunikasi awal tercapai dengan baik, yaitu untuk meningkatnya awareness dan minat audien terhadap batik semarangan, terbukti dengan terbentuknya Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” di beberapa SMA di Kota Semarang. b. Proses loading-in dan loading-out, serta jalannya acara secara keseluruhan berjalan lancar sesuai dengan rundown yang telah dibuat. c. Jumlah peralatan dan perlengkapan terpenuhi, meskipun ada beberapa perlengkapan yang belum lengkap pada saat persiapan, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi pada hari pertama pelaksanaan acara. e. Segala bentuk publikasi terdistribusi dan terpasang dengan baik. f. Terbinanya hubungan baik dengan pihak-pihak yang terlibat dalam acara “Cah Semarang Duwe Batik” seperti Koperasi Sekar Arum, LEMPPAR, dan sekolah-sekolah yang berpartisipasi. g. Anggaran dana yang dibutuhkan dapat terpenuhi dan didapatkan dari sponsorship, dan mendapatkan surplus sebesar Rp. 3.130.000,- h. MC sepanjang jalannya acara menyampaikan pesannya dengan baik, memaparkan informasi secara persuasif, sehingga audien lebih tertarik dan dapat mengingat pesan yang disampaikan.PENUTUP Dalam bab ini, dijelaskan mengenai implikasi yang terjadi atau ditimbulkan dari penyelenggaran event “Cah Semarang Duwe Batik” yang bertujuan untuk memperkenalkan batik semarangan serta saran yang dapat digunakan untuk keberhasilan penyelelnggaraan event serupa berikutnya. Kesimpulan Dari seluruh rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik” yang telah dilaksanakan dan pembahasan yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : a. Strategi dengan menyelenggarakan experiental event marketing dan berinteraksi secara langsung kepada target audien serta menampilkan role model menjadi cara yang efektif umtuk menghilangkan kesan kuno batik sebanyak 28%, dari semula 13% meningkat menjadi 41% yang menganggap bahwa batik tidak lagi terkesan kuno berdasarkan riset yang dilakukan setelah event. b. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan awareness target audien tentang batik semarangan sebesar 52% serta meningkatkan minat sebesar 15% berdasarkan riset yang dilakukan setelah event. c. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan minat warga Kota Semarang untuk melakukan pembelian pada saat kegiatan berlangsung, hal ini dibuktikan dengan total penjualan batik semarangan selama kegiatan total sebesar Rp. 9.150.000 d. Dalam publikasi event “Cah Semarang Duwe Batik”, 50% responden mengetahui acara “Cah Semarang Duwe Batik” melalui media poster yang dipasang.e. Dari 100 orang yang dijadikan sebagai responden, 21% responden mengetahui event “Cah Semarang Duwe Batik” melalui flyer. f. Publikasi melalui social media, karena lingkaran sosial yang dimiliki oleh penyelenggara belum menjangkau target audien, sehingga publikasi belum menjangkau secara langsung kepada target audiens yang dituju, publikasi melalui social media hanya menjangkau 10,52 %. Dari kesimpulan yang telah dihasilkan, serta pengamatan terhadap jalannya rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik”, berikut saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan apabila diadakan kegiatan-kegiatan serupa pada waktu yang akan datang : a. Pemilihan akun social media sebagai komunikator sebaiknya menggunakan akun yang telah mempunyai lingkaran sosial yang sesuai dengan target audien yang hendak dituju. b. Sebelum melakukan kegiatan pemasaran, sebaiknya penyelenggara telah mendalami product knowledge tentang produk yang akan dipasarkan, sehingga terpaan informasi yang diterima target audien dapat menimblkan efek yang lebih besar. c. Masing-masing penerapan strategi publikasi media yang akan digunakan, sebaiknya diukur menggunakan perhitungan yang tepat untuk mengetahui strategi publikasi mana yang paling efektif umtuk mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Belch, George, Michael A. Belch 2001. Advertising & Promotion: An integrated Marketing Communications Perspective, New York : McGraw Hill. Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Gunarsa, Singgih. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc Bussines Books. Jasmadi (2008). Membangun komunitas online secara praktis dan gratis. Jakarta: Elex Media Komputindo. Kotler, Philip, Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid 2. (Damos Sihombing. Alih Bahasa).Jakarta : Penerbit Erlangga. Laudon, Kenneth, Traver, and Carol Guercio (2003). E-commerce : business, technology, society. Addison-Wesley Littlejohn, Stephen W. (2009). Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors, Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Shimp, Terence A. (2000). Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jilid I. (Revyani Syahrial. Terjemahan) Jakarta: Penerbit Erlangga. Siswanto, Fritz Kleinsteuber, (2002). Strategi Manajemen Pemasaran. Jakarta: Damar Melia Pustaka. Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Tjiptono, Fandy, dkk. (2007). Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Penerbit Andi.2. Website : (Advertising and Promotion and Integrated Marketing Communications Perspective, http://hfs1.duytan.edu.vn/upload/ebooks/5183.pdf, diakses pada 21 Mei 2012). (Brand Activation by Paul Morel, Peter Preisler and Anders Nyström www.metro-as.no/pdf/fagartikler/Brand%20Activation.pdf. diakses pada 5 Mei 2012).

Fenomena Penggunaan Path Sebagai Ajang Menunjukan Eksistensi Diri

Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maraknya penggunaan jejaring sosial path dikalangan masyarakat modern khusunya dikalangan anak muda menjadikan path sebagai jejaring sosial saat ini tengah sangat popular. Kepopuleran path tidak lepas dari tema jurnal digital yang diusung oleh path sehingga memungkinkan penggunanya untuk terus menampilkan diri. Keeksklusifitas dan privasi yang dihadirkan di dalam path juga menjadi daya tarik tersendiri terhadap penggunaan jejaring sosial ini. Path juga memungkinkan penggunanya untuk menampilkan setiap hal yang dilakukan melalui berbagai fitur menarik yang terdapat di dalamnya. Fitur-fitur yang terdapat di dalam path tidak hanya mampu menampilkan aktivitas penggunanya tetapi juga dapat menunjukkan eksistensi diri penggunanya. Berbagai kelebihan yang terdapat di dalam path pada akhirnya mengarahkan penggunaan kepada gejala-gejala menunjukkan kelas sosial dan gaya hidup untuk menunjukkan eksistensi diri.Penelitianinibertujuanuntukmendeskripsikan pengalaman individu dalam menampilkan eksistensi diri pada jejaring sosial path. Dalam penelitian ini, Teori yang digunakan adalah Dramaturgi yang merupakan karya dari Erving Goffman didukung Teori Interaksi Symbolic dan Teori Konsumsi.Pengalamanindividuinidiungkapkandenganmetodefenomenologi yang mengutamakan pada pengalamanindividu secara sadardalammemaknaisuatuhal. Penelitimenggunakanteknikwawancaramendalamterhadaplimaorang informan yang masing-masingmerupakan pengguna aktif dari jejaring sosial path dan telah menggunakan jejaring sosial ini selama setahun.Hasildaripenelitianinimenunjukkanbahwa dalam jejaring sosial path, pengguna berusaha menampilkan diri yang sebaik mungkin, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Path merupakan media yang dinilai dapat meningkatkan eksistensi diri penggunanya dengan berbagai fitur yang mendukung di dalamnya sehingga pengguna path berusaha menunjukkan diri yang terbaik untuk mendapatkan gambaran diri yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan akan eksistensi diri, pengguna bermain peran pada panggung depan dengan melakukan pengelolaan kesan demi mencapai tujuan akan eksistensi diri. Sementara pada panggung belakang, pengguna berusaha untuk menjaga sebaik mungkin berbagai hal yang dapat merusak reputasi dirinya agar tidak terlihat oleh orang lain. Key words :path, eksistensi diri, pengelolaan kesan, dramaturgi  

Memahami Pengalaman Pengguna Instant Messenger Terhadap Brand yang Melakukan Sales Promotion di Instant Messenger (Studi Fenomenologi terhadap Pengikut Plus Friends KakaoTalk)

Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya penggunaan Instant Messenger menunjukan kenaikan yangcukup signifikan. Ini menunjukan bahwa sudah lebih banyak orang yangmengirimkan pesan melalui Instant Messenger dibandingkan dengan SMS. Olehkarena itu tak heran jika berbagai produsen maupun pemasar juga menggunakanmedia ini sebagai alat promosi mereka, salah satunya adalah KakaoTalk. Ketika dimedia lain promo semacam ini cenderung dihindari, tetapi yang menarik adalahdengan adanya Plus Friends ini orang justru secara sukarela menjadi pengikutnya.Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengkaji motives pengikut plus friends,bagaimana pemrosesan informasi dari brand dan apa efek dan persepsi terhadapbrand.Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif, Tipe penelitianKualitatif dan pendekatan fenomenologi yang berusaha untuk menyelami duniapengalaman individu dalam kasus ini, yaitu pemaknaan pengalaman para pengikutPlus Friends untuk mengetahui motives pengikut plus friends, bagaimanapengalaman mereka ketika memproses pesan dari 5 brand plus friends dan apapersepsi mereka terhadap brand. Teori yang digunakan untuk mengetahui motivesadalah Uses and Gratification, sedangkan untuk mengetahui pemrosesaninformasi menggunakan konsep atau penjelasan dari Elaborate Likelihood Modeldimana teori ini juga sekaligus menjelaskan persepsi. Penelitian ini menggunkanteknik pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam (Indepth Inerview)pada 5 orang informan yang menjadi pengikut Plus Friends.Temuan penelitian ini menunjukan motives pengikut plus friends iniditentukan oleh motives cultural dan motives kognitif, sedangkan pemrosesaninformasi terjadi pada jalur periferal kemudian menuju jalur central. Perpindahanjalur tersebut dipengaruhi oleh Persepsi konsumen terkait pesan pada Plus Friendsmenghasilkan 3 tingkatan yang berbeda yaitu tidak berubah, tertarik danmenyukai. Rasa suka yang muncul disertai dengan perubahan sikap (attitude)yaitu menukarkan kupon Plus Friends secara langsung.Key words : Pemrosesan Informasi, Motives, Persepsi, Instant Messenger

Mengidentifikasi Faktor-Faktor Motivasi yang Memengaruhi Perilaku Memainkan Game RPG (Role-Playing Games) Produksi Luar Negeri oleh Pemain Game di Kota Semarang

Interaksi Online Vol 3, No 12 (2015): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Game merupakan salah satu bentuk implementasi dari kemajuan teknologi di ranah media komunikasi. Game dapat digunakan sebagai media penyampai pesan dan memungkinkan adanya feedback dari pesan tersebut. Game juga didesain sebagai sarana hiburan untuk mengisi waktu luang yang dibuat universal. Namun kenyataannya, beberapa game yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tidak dibuat universal. Dalam beberapa game beraliran role-playing game (RPG) memuat konten kekerasan, seksual dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai kultur lokal khususnya Indonesia. Meskipun mengandung perbedaan, banyak dari kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Semarang masih tetap memainkan game RPG tersebut dengan berbagai motivasi atas dasar alasan dan tujuan tertentu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor motivasi yang memengaruhi perilaku memainkan game RPG produksi luar negeri oleh pemain game Indonesia di Kota Semarang. Penelitian ekploratif kuantitatif ini menghimpun data primer dari 100 orang dengan kuesioner. Data dianalisis dengan teknik analisis faktor. Sebanyak 18 faktor telah diuji dengan KMO dan Bartlett’s Test diketahui nilainya 0,958 dengan signifikansi 0,000. Kemudian melalui perhitungan model Principal Component Analysis (PCA) diperoleh 4 kelompok faktor yang memuat 18 faktor yang diuji, dengan kata lain, seluruh faktor yang diuji lolos. Keseluruhan faktor tersebut memberikan kontribusi sebesar 65,367 persen terhadap motivasi memainkan game RPG asing tersebut.Social Factor adalah faktor motivasi yang paling berpengaruh. Diketahui faktor ini menyumbangkan sebanyak 40,663 %. Faktor ini dilabeli social factor karena terdiri dari motivasi untuk berinteraksi dan berkompetisi dengan pemain lain. motivasi ingin mengoptimalkan performa karakter dalam game motivasi ingin menjadi orang lain dan motivasi ingin memperoleh pengetahuan. Ketiga variabel utama dari faktor ini yakni teamwork, socializing dan relathionship termasuk dalam social gratification yaitu suatu bentuk gratifikasi yang mengarah pada keuntungan sosial apa yang didapatkan pemain game dengan memainkan game tertentu.