Articles

Found 16 Documents
Search

Sensitivitas dan Spesifisitas Polimerase Chain Reaction pada Diagnosis Her2/Neu Karsinoma Payudara Duktal Invasif Wresnindyatsih, Wresnindyatsih; Triwani, Triwani; Yuwono, Yuwono; Maulani, Heni
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 3 (2015): OKTOBER 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma payudara duktal invasif adalah keganasan yang berasal dari sel epitel pelapis duktal-lobuler payudara. Gen her2/neu merupakan salah satu gen yang mengalami amplifikasi dan menyebabkan terjadinya  karsinoma payudara. Penemuan terapi target anti her2/neu menurunkan angka kematian dan memperpanjang harapan hidup penderita. Penelitian ini bertujuan memperoleh nilai sensitivitas dan spesifisitas Polymerase Chain Reaction diagnosis status her2/neu pada karsinoma payudara dibandingkan dengan pemeriksaan imunohistokimia. Uji diagnostik telah dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP dr. M. Hoesin dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang pada bulan Januari sampai November 2013. Sebanyak 39 sampel blok paraffin jaringan karsinoma payudara diambil secara purposif. Dari hasil penelitian terhadap sampel pemeriksaan imunohistokimia didapatkan hasil positif 17,94% (7 dari 39 sampel). Pemeriksaan  dengan metode Polymerase Chain Reaction didapatkan hasil positif 28,20% (11 dari 39 sampel) yang ditandai dengan adanya amplikon DNA spesifik her2/neu >2,0. Berdasarkan hasil tersebut  didapatkan sensitivitas  dan spesifisitas metode Polymerase Chain Reaction 57,14% dan 81,81% dan memiliki nilai prediksi positif dan nilai prediksi negatif 50,00% dan 85,71%. Dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan metode Polymerase Chain Reaction memiliki sensitivitas lebih rendah daripada metode IHK namun spesifisitas lebih baik dibandingkan dengan metode IHK. Metode PCR dapat dikembangkan sebagai metode alternatif untuk mendiagnosis status her2/neu.
Single Nucleotide Polymorphism Promoter -765g/C Gen Cox-2 Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Karsinoma Kolorektal Triwani, Triwani; Saleh, Irsan
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.607 KB)

Abstract

Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan keganasan yang berasal dari transformasi neoplastik sel-sel epitel kolon dan rektum, menempati urutan ketiga terbanyak dari seluruh kanker di seluruh dunia.Berbagai perubahan DNA dapat terjadi akibat paparan dengan lingkungan dan karsinogen. DNA yang gagal berpasangan menimbulkan instabilitas genetik, mutagenesis, dan kematian sel, disebut sebagai single nucleotide polymorphisms (SNPs).  Polimorfisme adalah perubahan atau mutasi pada gen yang tidak menimbulkan perubahan struktur protein   hanya mengakibatkan variasi fungsi protein, tidak bermanifestasi klinis, hanya  bisa menentukan kerentanan terhadap penyakit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional pada gen COX-2 dengan metode PCRRFLP. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah case series, dilakukan di Laboratorium Klinik RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang selama 4 bulan, dari bulan Mei sampai dengan November 2012. Terdapat empat puluh (40) orang subjek penelitian yang merupakan penderita KKR, semuanya berasal dari seluruh etnis yang berdomisili di Sumatera Selatan dan bersedia ikut serta dalam penelitian. Penderita karsinoma kolorektal yang berjenis kelamin laki-laki (52,5%) lebih banyak daripada wanita (47,5%), lokasi karsinoma pada daerah kolon (25%) lebih banyak daripada daerah rektum (75%), dan penderita  dengan adenokarsinoma (77,5%) merupakan jenis terbanyak diikuti musinus adenokarsinoma (17.5%) dan adenoskuamous karsinoma (5%). Distribusi genotip CC (mutan) sebanyak 10%, genotip GC (heterozygot) sebanyak 10%, dan, genotif GG (normal) sebanyak 80%. Sedangkan Distribusi alel C (mutan) sebanyak 16% dan alel G (normal) sebanyak 84%. Penelitian ini terbatas pada identifikasi polimorfisme gen COX2 pada kasus KKR, tidak melihat hubungan atau pengaruh polimorfisme gen COX-2 terhadap kejadian KKR.  Perlu dilakukan wawancara lebih lanjut terhadap pasien mengenai suku, etnis, riwayat keluarga. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan polimorfisme promoter -765G/C Gen COX-2 dengan kejadian karsinoma kolorektal.
Hubungan Pola Dermatoglifi dengan Diabetes Mellitus Tipe II di RSUP Dr Mohammad Hoesin Marpaung, Tiur Dermawati; Triwani, Triwani; Jaya, Herawati
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 3 (2015): Oktober 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatoglifi adalah ilmu tentang bentuk dan pola sidik jari. Dermatoglifi diturunkan secara poligenik, bersifat tetap dan tidak dipengaruhi umur, pertumbuhan dan perubahan lingkungan. Pola dermatoglifi dapat memperlihatkan juga kelainan genetik ataupun penyakit tertentu, sehingga bisa digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis suatu penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara  pola dermatoglifi DM tipe 2 dan yang tidak DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yaitu Retrospective case control, dan dilakukan di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, pada bulan februari 2014. Jumlah sampel yang diteliti 93 orang. Hasil penelitian memperlihatkan  pola whorl 54,8%, loop ulnar 39,7%, arch 3,2% dan pola loop radial 2,3% pada kasus DM tipe 2 dan pola loop ulnar 62,3%, whorl 29%, ,loop radial 6,6%, arch 2,1% pada kontrol tidak DM tipe 2. Indeks pola sidik jari pada DM tipe 2 yang terbesar adalah Indeks Furuhata 130.8 kemudian Indeks Dankmeijer 5,9. Dengan menggunakan test statistik uji Chi-Square, Odds Ratio dan pvalue<0,05 memperlihatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola sidik jari DM tipe 2 dan tidak DM tipe 2. Peneliti menyimpulkan bahwa orang lebih banyak mempunyai pola sidik jari whorl, mempunyai peluang lebih beresiko untuk menderita DM tipe 2 sebesar 2,96 dan 3,87
Down Syndrome : Through The Eyes of The Parents Maritska, Ziske; Abdurrahman, Fakhri; Prananjaya, Bintang Arroyantri; Parisa, Nita; Syifa, Syifa; Triwani, Triwani
Jurnal Kedokteran Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 5, No 3 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.315 KB) | DOI: 10.32539/JKK.v5i3.6316

Abstract

Sindroma Down merupakan salah satu kejadian kelainan kromosom tipe aneuploidi yang kerap ditemukan.  Kejadian Sindroma Down terkait erat dengan disabilitas intelektual dan stugma sosial yang melekat padanya.  Pandangan orang tua mengenai Sindroma Down yang tercerminkan melalui perilaku amat penting karena dukungan keluarga merupakan salah satu kunci utama untuk mengoptimalkan kualitas hidup penyandang Sindroma Down. Studi ini merupakan studi deskriptif pada orang tua penyandang Sindroma Down yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Palembang.  Perilaku orang tua diukur dengan menggunakan kuesioner HealthStyles©.  Sebagian besar orang tua penyandang Sindroma Down sepakat bahwa anak dengan Sindroma Down harus bersekolah di SLB (82,5%) karena mayoritas meyakini pencampuran penyandang Sindroma Down di sekolah biasa dapat mengganggu murid lain (60%).  Namun orang tua memiliki pandangan optimis bahwa anak penyandang Sindroma Down dapat bekerja jika telah dewasa (72,5%).  Mereka pun percaya bahwa penyandang Sindroma Down tidak lebih rentan mengalami kecelakaan kerja di tempat kerja (37,5%).  Dari studi ini terlihat bahwa orang tua penyandang Sindroma Down memiliki perilaku yang bervariasi tergantung dari aspek mana mereka memandang Sindroma Down.
Efek Ekstrak Dan Fraksi Daun Salung (Psychotria viridiflora Reinw. ex. Blume) Sebagai Sitotoksit, Antiproliferasi dan Penginduksi Apoptoksis pada Sel Kanker Serviks HeLa Salni, Salni; Ismaryani, Arlina; Setiawan, Arum; Triwani, Triwani
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 16 No 2 (2018): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker serviks menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara berkembang. Tumbuhan Salung (Psychotria viridiflora Reinw. Ex. Blume) telah dimanfaatkan secara turun temurun untuk mengobati berbagai macam penyakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek ekstrak dan fraksi daun salung sebagai antiproliferasi dan penginduksi apoptosis pada sel kanker serviks HeLa. Konsentrasi ekstrak dan fraksi adalah 640; 320; 160; 80; 40 µg/mL, sedangkan cisplatin 200; 100; 50; 25 µg/mL. Hasil penelitian didapatkan nilai IC50 ekstrak 380,7 µg/mL, fraksi n-heksan sebesar 229,3 µg/mL, fraksi etil asetat sebesar 116,8 µg/mL, dan fraksi metanol air sebesar 562,8 µg/mL, berdasarkan nilai IC50 fraksi etil asetat mempunyai aktivitas sitotoksik kategori cukup aktif. Untuk pengujian selanjutnya peneliti hanya melakukan pengujian pada fraksi etil asetat. Hasil doubling time fraksi etil asetat menggandakan diri pada jam ke 58 sedangkan pada cisplatin sel menggandakan diri pada jam ke 64,5 dan kontrol sel pada jam ke 41. Hasil flowcytometry menunjukkan fraksi etil asetat menginduksi apoptosis sebesar 72,82% sedangkan cisplatin sebesar 87,96%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi daun salung memiliki efek sitotoksik, berperan sebagai antiproliferasi dan penginduksi apoptosis pada sel kanker serviks HeLa. Kanker serviks menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara berkembang. Tumbuhan Salung (Psychotria viridiflora Reinw. Ex. Blume) telah dimanfaatkan secara turun temurun untuk mengobati berbagai macam penyakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek ekstrak dan fraksi daun salung sebagai antiproliferasi dan penginduksi apoptosis pada sel kanker serviks HeLa. Konsentrasi ekstrak dan fraksi adalah 640; 320; 160; 80; 40 µg/mL, sedangkan cisplatin 200; 100; 50; 25 µg/mL. Hasil penelitian didapatkan nilai IC50 ekstrak 380,7 µg/mL, fraksi n-heksan sebesar 229,3 µg/mL, fraksi etil asetat sebesar 116,8 µg/mL, dan fraksi metanol air sebesar 562,8 µg/mL, berdasarkan nilai IC50 fraksi etil asetat mempunyai aktivitas sitotoksik kategori cukup aktif. Untuk pengujian selanjutnya peneliti hanya melakukan pengujian pada fraksi etil asetat. Hasil doubling time fraksi etil asetat menggandakan diri pada jam ke 58 sedangkan pada cisplatin sel menggandakan diri pada jam ke 64,5 dan kontrol sel pada jam ke 41. Hasil flowcytometry menunjukkan fraksi etil asetat menginduksi apoptosis sebesar 72,82% sedangkan cisplatin sebesar 87,96%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi daun salung memiliki efek sitotoksik, berperan sebagai antiproliferasi dan penginduksi apoptosis pada sel kanker serviks HeLa.
Akurasi Potong Beku Intraoperatif dalam Mendiagnosis Tumor Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Arnila, Ria; Dewi, Citra; Triwani, Triwani
Jurnal Kedokteran Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 6, No 2 (2019): APRIL 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V6I1.7710

Abstract

Pemeriksaan histopatologi potong beku merupakan analisis histologi secara cepat pada massa ovarium saat pembedahan,namun tes ini relatif lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan pemeriksaan histopatologi rutin sebagai standar baku emas. Penelitian dilakukan untuk mengetahui akurasi pemeriksaan histopatologi potong beku dibandingkan dengan histopatologi rutin dalam mendiagnosis tumor ovarium di bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2014-Agustus 2017.Penelitian ini menggunakan uji diagnostik untuk mengetahui akurasi dari pemeriksaan histopatologi potong beku tumor ovarium. Penelitian melibatkan 295 pasien yang dipilih menggunakan consecutive sampling, dari data pasien dihitung nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, nilai prediksi negatif, dan akurasi.Didapatkan akurasi pemeriksaan potong beku untuk menentukan potensi keganasan tumor ovarium sebesar 90%. Sebanyak 29 kasus dengan perbedaan diagnosis, yaitu 17 kasus negatif palsudan 12 kasus positif palsu. Tumor ganas memiliki sensitivitas paling besar yaitu 91% dengan spesifisitas 94%, untuk tumor jinak didapatkan sensitivitas 90%  dan spesifisitas 95%, sedangkan pada tumor borderline didapatkan sensitivitas paling rendah yaitu 78% dengan spesifisitas 97%. Akurasi pemeriksaan potong beku untuk tumor ovarium tipe musinosum sebesar 87% sedangkan untuk tipe non-musinosum sebesar 91%.Penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan potong beku cukup akurat untuk menentukan potensi keganasan tumor ovarium, walaupun sensitivitasnya untuk menentukan tumor borderline lebih rendah dibandingkan untuk tumor jinak dan ganas.
Hubungan SNP (Rs867500) Gen STX1A Exon 10 dengan Tingkat Kecerdasan Intelektual Qur'andini, Dalinur; Yuwono, Yuwono; Triwani, Triwani
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.604 KB) | DOI: 10.32539/BJI.V5I1.7975

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan SNP (rs867500) pada gen STX1A Exon 10 dengan tingkat kecerdasan intelektual. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional dengan populasi sebesar 368 dan sampel sebesar 36 yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok IQ diatas rata-rata dan kelompok IQ rata-rata. Untuk mengetahui hubungan SNP (rs867500) gen STX1A Exon 10 dengan tingkat kecerdasan digunakan uji X2 (Chi-square). Hasil menunjukkan tidak ditemukan SNPs pada gen STX1A exon 10. Gen STX1A dapat dikatakan berkontribusi pada kecerdasan bersama gen lainnya, yaitu Gen IGFR2 dan Gen FNBPL1 meskipun tidak terdapat polimorfisme pada gen STX1A exon 10.
Antifungi Effect of Keghenyat Leaves Fraction (Acmella uliginosa) In Vitro Study Hijir, Agustina Septi; Salni, Salni; Marwoto, Joko; Triwani, Triwani; Nita, Sri; Saleh, Mgs Irsan; Maritska, Ziske; Parisa, Nita; Lusiana, Evi; Tamzil, Nia Savitri; Rosdah, Ayeshah Augusta
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 1 No 1 (2017): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v1i1.5

Abstract

Introduction Candida is a yeast fungus classes most commonly found in the oral cavity, gastrointestinal tract, reproductive tract and skin, especially the species Candida albicans. Alternative medicines such as herbs are easily available and affordable by the community, such as keghenyat leaves (Acmella uliginosa). Aim of StudyTo determine the activity of Keghenyat leaves fraction (Acmella uliginosa) compared to Nystatin against Candida albicans in vitro. MethodsIn vitro study was held in Laboratory of Genetics and Biotechnology Department of Biology, Faculty of Science and Medical Faculty, Sriwijaya University in December 2015 and January 2016. Research stages: extraction, fractionation, sensitivity test using Nystatin and Candida albicans, fractions antifungal activity test, the determination of minimum inhibitory concentration (MIC), bioautografi test and determination of compound classes. One final stages of testing the active fraction Keghenyat leaves (Acmella uliginosa) with Nystatin. Data were analyzed using ANOVA and Post Hoc Duncan test and linear regression using SPSS 20. ResultsHexane faction of Keghenyat leaves (Acmella uliginosa) is active against the fungus Candida albicans, has a Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of 0.625% (6250μl) against the fungus Candida albicans antifungal contain active compounds that terpenoids and flavonoids, amounting to 84.68 mg / ml equivalent to 1 mg / ml Nystatin against the fungus Candida albicans. ConclusionThere is a significance different MIC between hexane fraction of Keghenyat leaves (Acmella uliginosa) and Nystatin, Nystatin have more high activity.
The Efficacy of Temu Putih Fraction (Curcuma Zedoaria (Berg) Roscoe) Related Quality and Quantity of Spermatozoa in Male Wistar Rats Fatrin, Tiara; Salni, Salni; Nita, Sri; Hidayat, Rachmat; Triwani, Triwani; Marwoto, Joko; Maritska, Ziske; Saleh, Mgs Irsan; Parisa, Nita; Tamzil, Nia savitri; Lusiana, Evi; Rosdah, Ayeshah Agusta
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 1 No 1 (2017): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v1i1.12

Abstract

Background Male participation in KB is still relatively low when compared to the participationof women. Researchers have to do research to find the contraception drug. Temu putih (Curcuma Zedoaria (Berg) Roscoe) is one of traditional herb that used as antifertility. &nbsp; Aim of Study Aim of this study to examine change in the amount, motility, morphology, and viability spermatozoa male rats (rattus norvegicus) due to temu putih fraction suplementation. &nbsp; Methods This study was an experimental study using a completely randomized design (CRD), post test with control group design. The sample in this study was &nbsp;30 male rats, 10 weeks old, weight 150-200 gram. Rats were given temu putih fraction (n hexan, etylacetate and methanol-water) at dose of 300 mg/kgBB/day for 48 days. Temu putih was extracted by ethanol and did fractionation by liquid-liquid methods. The results of this study were assayed by SPSS 18. &nbsp; Results The amount, motility, morphology and viability of spermatozoa in the group of metanol fraction of water&nbsp; decreased &nbsp;compared with the control group (p= 0,000), motilitas of spermatozoa in the group of metanol water fraction&nbsp; decreased compared with the control group. &nbsp; Conclusion Temu putih fraction can reduce the amount, motility, morphology, and viability of spermatozoa in male rats. &nbsp; Keywords:&nbsp; Fraction, Temu Putih, Amount of spermatozoa, Motility of spermatozoa, Viability Of Spermatozoa
The Relationships Between Single Nucleotide Polymorphisme (rs867500) STX1A Gene Exon 10 and Intelectual Intelligence Qur'andini, Dalinur; Yuwono, Yuwono; Triwani, Triwani
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 1 No 1 (2017): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v1i1.13

Abstract

Background: STX1A consists of 10 exons covering a genome overlay of 20.42 kb (2064 base mRNA) . The location of HPC-1 / Syntaxin 1A is on chromosome 7q11.23. Genes STX1A or HPC-1 or Syntaxin 1A are genes that encode membrane proteins that play an important role in neurotransmitter exocytosis in nerve cells. Aim of Study: The purpose of this study was to determine the relationship SNP (rs867500) in the gene STX1A Exon 10 with level intellect. Method: This research was observational analytic with cross sectional study design with a population of 368 and a sample of 36 were divided into two groups, namely the above-average IQ and IQ group average. To determine the relationship SNP (rs867500) STX1A gene Exon 10 with a level of intelligence used X2 test (Chi-square). Results: The results showed not found SNPs in genes STX1A exon 10. Conclusion : STX1A Genes can be said to contribute to the collective intelligence of other genes, ie genes and gene IGFR2 FNBPL1 although there is no STX1A gene polymorphism in exon 10. &nbsp; Keywords: Gene STX1A Exon 10, polimorphism, SNP, intelectual, intelligence.