Nining Tyas Triatmaja
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

ASUPAN KALSIUM, STATUS GIZI, TEKANAN DARAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN KELUHAN SENDI LANSIA DI PANTI WERDHA BANDUNG

Jurnal Gizi dan Pangan Vol 8, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Jurnal Gizi dan Pangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.736 KB)

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to determine the relationship of calcium intake, nutritional status, and blood pressure to joint pain among elderly in nursing homes in Bandung. The study design was cross-sectional study. Subjects were consisted of 12 elderly men and 69 elderly women from four nursing homes in Bandung. Most subjects had joint pain (59.3%), hypertension (30.9%), and were overweight (39.5%). There was no significant relationship between frequency of consumption of calcium food sources and nutritional status, blood pressure, joint pain, and the level of joint pain (p>0.05). There was no significant relationship between joint pain and the level of joint pain with blood pressure and nutritional status.Keywords: blood pressure, calcium, elderly, joint pain, nutritional statusABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan kalsium, status gizi, dan tekanan darah terhadap keluhan sendi pada lansia di Panti Werdha Kota Bandung. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Subjek terdiri atas 12 lansia pria dan 69 lansia wanita dari empat panti werdha di Kota Bandung. Sebagian besar subjek mempunyai keluhan sendi (59.3%), hipertensi (30.9%), dan status gizi overweight (39.5%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi pangan sumber kalsium dengan status gizi, tekanan darah, keluhan sendi, dan tingkat keluhan sendi (p>0.05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keluhan sendi dan tingkat keluhan sendi dengan tekanan darah dan status gizi.Kata kunci: kalsium, keluhan sendi, lansia, status gizi, tekanan darah*

Status Gizi Bayi Usia 6-12 Bulan di Kota Bogor Tahun 2015 ditinjau dari Pemberian Makan dan Sosiodemografi Ibu

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMasalah gizi kurang (underweight, stunting, dan wasting) pada bayi masih dijumpai di Indonesia.Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah gizi kurang pada bayi, salah satunyapemberian makan yang kurang sesuai. Faktor sosiodemografi ibu juga diduga berpengaruh terhadapkejadian masalah gizi pada bayi. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang berhubungandengan status gizi bayi usia 6-12 bulan ditinjau dari sosiodemografi ibu dan pola asuh makan di KotaBogor. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study dengan jumlah sampel 92 orang ibubayi dan 92 bayi berusia 6-12 bulan. Data yang dikumpulkan berupa data karakteristik ibu (usia,pendidikan, pekerjaan, status ekonomi keluarga), pemberian makan (pemberian ASI Eksklusif dansusu formula sebelum bayi berusia 6 bulan), dan antropometri bayi (berat badan dan tinggi badan).Data status gizi bayi diolah menggunakan software WHO Anthro. Analisis data menggunakan ujiChi-square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi underweight sebesar 4.3%, stunting sebesar13%, dan wasting sebesar 9.8%. Terdapat hubungan signifikan antara pendidikan ibu dan statusekonomi keluarga dengan status gizi bayi menurut indikator BB/U dan TB/U (p<0.05). Perlu adanyapeningkatan pengetahuan ibu terkait pola asuh makan yang sesuai untuk menurunkan masalah gizikurang pada bayi.Kata kunci: status gizi, bayi 6-12 bulan, pemberian makan, karakteristik ibu AbstrakMalnutrition (underweight, stunting, and wasting) in infants is still common nutritional problems inIndonesia. Many factors affect infant malnutrition, including inappropriate infant feeding. Maternalsociodemographic factors are also thought to affect infant malnutrition. The objective of this studywas to analyze factors associated with the nutritional status of infants aged 6-12 months accordingmaternal sociodemoghraphic and infant feeding practice in Bogor. This study used cross-sectionaldesign with sample of 92 mothers of infants and 92 infants aged 6-12 months. Variables in thisstudy were maternal characteristics (age, education, occupation, and family economic status), infantfeeding practices (exclusive breastfeeding and formula feeding before 6 months old), and infantanthropometric (weight and height). Nutritional status was analized using WHO Anthro software.Data analysis using Chi-square test. Results showed the prevalence of underweight, stunting, andwasting was 4.3%, 13%, 9.8%, respectively. There was a significant association between maternaleducation and family economic status with infant nutritional status (HAZ and WAZ) (p <0.05). Itis necessary to improve maternal knowledge on appropriate infant feeding practice to reduce infantmalnutrition.Keywords: nutritional status, infant aged 6-12 month, infant feeding, maternal characteristic

TINDAKAN BIDAN TERHADAP KEBIJAKAN MENYUSUI DI KOTA BOGOR

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 2 (2015): MKMI JUNI 2015
Publisher : Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.742 KB)

Abstract

Pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan nasional yang membatasi promosi susu formula bayi di kalangan tenaga kesehatan, yang merupakan adopsi dari International Code of Marketing of Breastmilk Subtitues. Walaupun telah dikeluarkan kebijakan-kebijakan tersebut, tetapi masih dijumpai berbagai pelanggaran di kalangan tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan bidan terhadap kebijakan menyusui. Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2015 di Kota Bogor. Pada penelitian ini terdiri dari 39 bidan dan 76 ibu bayi. Pengetahuan bidan terhadap isi kebijakan tergolong rendah sedangkan sikap dan tindakan bidan tergolong baik. Variabel-variabel yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tindakan bidan adalah lama pengalaman praktik, tempat kerja, tingkat pengetahuan dan sikap. Usia dan pendidikan bidan merupakan variabel yang tidak berhubungan signifikan dengan tindakan bidan. Lama pengalaman praktik, tempat kerja, tingkat pengetahuan dan sikap merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan bidan terhap pesan-pesan dalam kebijakan.Kata kunci : Sikap, pengetahuan, kebijakan, bidan, tindakan

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN MAKANAN PRELAKTEAL: STUDI CROSS SECTIONAL DI KOTA BOGOR TAHUN 2015

Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.589 KB)

Abstract

Latar belakang: Pemberian makanan prelakteal merupakan salah satu hal yang berpengaruh terhadap status gizi bayi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal perlu diketahui agar dapat ditentukan intervensi dalam penurunan prevalensi pemberian makanan prelakteal. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal di Kota Bogor. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilakukan di Kota Bogor. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 82 ibu bayi. Variabel terikat berupa pemberian makanan prelakteal sedangkan variabel bebas berupa karakteristik ibu dan perilaku terkait menyusui. Analisis yang dilakukan berupa uji univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square. Hasil: Prevalensi pemberian makanan prelakteal dalam penelitian ini adalah sebesar 34.1%. Variabel yang berhubungan dengan pemberian makanan prelakteal (p<0.05) dalam penelitian ini adalah paritas ibu dan saran tenaga kesehatan terkait pemberian makanan prelakteal. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan paritas ibu dan saran tenaga kesehatan dengan pemberian makanan prelakteal. Perlu adanya penentuan variabel yang paling berpengaruh terhadap pemberian makanan prelakteal.

HUBUNGAN PEMENUHAN GIZI IBU NIFAS DENGAN PEMULIHAN LUKA PERINEUM

Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.252 KB)

Abstract

Latar belakang: Pemulihan luka perineum yang lama pada ibu yang melahirkan secara normal (vaginal delivery) dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan pemulihan luka adalah faktor gizi. Tujuan: Menganalisis hubungan pemenuhan gizi ibu nifas dengan pemulihan luka perineum. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan di BPS Murtini,Amd.Keb, Surabaya dengan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 24 orang dan diambil secara accidental sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemenuhan gizi sedangakan variabel terikatnya berupa penyembuhan luke perineum. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hubungan antar variabel dikatakan bermakna jika p-value < 0.05 Hasil: Sebagian besar responden (66.7%) terpenuhi kebutuhan gizinya dan luka perineumnya mengalami pemulihan. Terdapat hubungan antara pemenuhan gizi ibu nifas dengan pemulihan luka perineum (p<0.05). Simpulan dan saran: Terdapat hubungan antara pemenuhan gizi ibu nifas dengan pemulihan luka perineum. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis faktor zat gizi yang paling dominan dalam pemulihan luka perineum.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS KURANG ENERGI KRONIS (KEK) IBU HAMIL DI KABUPATEN KEDIRI

Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.509 KB)

Abstract

Latar belakang: Kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan . Faktor-faktor yang berhubungan dengan status KEK perlu diketahui agar dapat ditentukan intervensi dalam penurunan prevalensi KEK. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan KEK pada ibu hamil di Kabupaten Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilakukan di Kabupaten Kediri. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 ibu hamil trimester 3. Variabel terikat berupa status KEK sedangkan variabel bebas berupa karakteristik ibu dan kebiasaan makan. Analisis yang dilakukan berupa uji univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square. Hasil: Prevalensi KEK dalam penelitian ini adalah sebesar 23.9%. Variabel yang berhubungan dengan status KEK (p<0.05) dalam penelitian ini adalah umur subyek. Simpulan dan saran: Terdapat hubungan umur ibu hamil dengan status KEK. Perlu adanya perhitungan tingkat kecukupan energi dan zat gizi agar tergambarkan kebiasaan konsumsi ibu hamil yang merupakan faktor langsung penyebab KEK

TINDAKAN BIDAN TERHADAP KEBIJAKAN MENYUSUI DI KOTA BOGOR

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 2: JUNI 2015
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.742 KB)

Abstract

Pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan nasional yang membatasi promosi susu formula bayi di kalangan tenaga kesehatan, yang merupakan adopsi dari International Code of Marketing of Breastmilk Subtitues. Walaupun telah dikeluarkan kebijakan-kebijakan tersebut, tetapi masih dijumpai berbagai pelanggaran di kalangan tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan bidan terhadap kebijakan menyusui. Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2015 di Kota Bogor. Pada penelitian ini terdiri dari 39 bidan dan 76 ibu bayi. Pengetahuan bidan terhadap isi kebijakan tergolong rendah sedangkan sikap dan tindakan bidan tergolong baik. Variabel-variabel yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tindakan bidan adalah lama pengalaman praktik, tempat kerja, tingkat pengetahuan dan sikap. Usia dan pendidikan bidan merupakan variabel yang tidak berhubungan signifikan dengan tindakan bidan. Lama pengalaman praktik, tempat kerja, tingkat pengetahuan dan sikap merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan bidan terhap pesan-pesan dalam kebijakan.

DETERMINAN MASALAH GIZI KURANG (STATUS KURANG ENERGI KRONIS) PADA IBU MENYUSUI BERDASARKAN ASPEK INDIVIDU DAN RUMAH TANGGA DI KOTA KEDIRI

Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.604 KB)

Abstract

Latar belakang: Kurang energi kronis (KEK) pada ibu menyusui masih dijumpai dan berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya KEK perlu diketahui sebagai dasar penyusunan program penurunan KEK. Tujuan: Menganalisis faktor determinan masalah gizi kurang pada ibu menyusui di Kota Kediri. Metode: Penelitian dilakukan di Kota Kediri menggunakan desain cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 63 sampel yang diambil dengan teknik purposive. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah status KEK dan variabel independen adalah usia, pendidikan, pekerjaan, frekuensi makan, frekuensi konsumsi pangan sumber karbohidrat, dan protein, kejadian infeksi, besar keluarga dan status ekonomi keluarga. Anailis data menggunakan uji Chi-square. Hasil: Prevalensi KEK adalah 34.9%. KEK banyak ditemukan pada sampel yang berusia ≥29.5 tahun (38.7%), pendidikan > SMP (40%), bekerja (35.7%), tidak mengalami infeksi (40.5%), besar keluarga tergolong kecil (36.8%), status ekonomi kurang (38.6%), mempunyai kebiasaan makan ≥ 3x/hari (38%), frekuensi konsumsi pangan sumber protein jarang (42.3%), dan frekuensi konsumsi pangan sumber karbohidrat jarang (42.9%). Simpulan dan saran: Tidak terdapat hubungan antara aspek individu dan rumah tangga dengan kejadian KEK pada ibu menyusui di Kota Kediri. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis konsumsi pangan secara kuantitatif.