R.M. Suryadi Tjekyan
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIYAJA

Published : 21 Documents
Articles

Found 21 Documents
Search

Kejadian dan Faktor Resiko Akne Vulgaris Tjekyan, R.M. Suryadi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2008:MMI Volume 43 Issue 1 Year 2008
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.002 KB)

Abstract

ABSTRACTAcne vulgaris and its risk factors.Background: Acne vulgaris (AV) gives cosmetic as well as psychological problem among the young. There is no data on the community prevalence and risk factors on this problem. Objective of this study aimed to find the community prevalence and risk factors of AV.Methods: A cross sectional study was carried in the city of Palembang among 5024 subjects aged 14-21 years in March-July 2007. Data were collected using questionnaire distributed through hamlets (RT) and analyzed using SPSS 13Results: The prevalence of AV was 68.2% and specifically were 58.4% among women and 78.9% among men, who were mostly at the age of 15-16 years. Papulopustulair type was the highest (35.8%) followed by comedonal (30.1%) and nodulistic (2.2%) with the location mostly on the face (58.9%) with bilateral position (55.7%). Routine facial cleaning gave lower AV development. Using and changing cosmetics were associated with AV (p1=0.04, p2=0.000). Respondents with family history of AV has higher risk to developAV (OR=2.18).Conclusion: Acne vulgaris is common among 15-16 years old boys and girls.Key Words: Prevalence, acne vulgaris, risk factorsABSTRAKLatar belakang: Akne vulgaris menjadi masalah kosmetika dan psikologis umum yang terutama terjadi pada kalangan remaja. Belum ada data angka kejadian dan faktor resiko akne vulgaris di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti angka prevalensi dan beberapa faktor resiko akne vulgaris penduduk kota Palembang.Metode: Studi potong lintang dilakukan pada 5204 sampel usia 14 sampai 21 tahun di Palembang, memakai kuesioner yang didistribusikan melalui rukun tetangga di setiap kecamatan di kota Palembang yang terpilih. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli tahun 2007. Data diolah dengan piranti lunak SPSS 13.Hasil: Prevalensi umum AV pada subjek penelitian 68,2% dan 58,4% pada wanita dan 78,9% pada laki-laki dengan umur terbanyak berusia 15-16. Tipe papulopustular adalah yang tertinggi (35,8%) diikuti dengan komedonaly (30,1%) dan noduler (2,2%) dengan lokasi terutama di wajah dan bilateral. Pembersihan wajah secara rutin memberikan kejadian AV yang rendah. Menggunakan kosmetik dan kebiasaan berganti-ganti kosmetik berhubungan dengan kejadian AV (p1=0,04, p2=0,000). Responden dengan riwayatkeluarga ber-AV memiliki resiko untuk mendapatkannya (0R=2,18).Simpulan: Akne vulgaris banyak menimpa laki-laki maupun perempuan usia 15-16 tahun.
HASIL SATU TAHUN INTERVENSI JARINGAN PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PARU KECAMATAN ILIR BARAT II KOTA PALEMBANG Tjekyan, R.M. Suryadi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As  of  nearly  the  end  of  2007,  National  Tuberculosis  Program  have  not  achieved    MDG’S  indicator  timely especially  in  South  Sumatera.  This  was  caused  by  Local  and  National  Tuberculosis  Control  Program administered  merely  by  governments  with  minimal  private  sector  and  community  participation.  A  Network  of Pulmonary Tuberculosis Eradication Program was established in Ilir Barat II District of South Sumatera. This network  is  directed  by  four  components  of  TB  control:  cadres,  Physician  Practitioner,  Head  of  subdistrict, district local authority, and district tuberculosis program. The Network aims at accelerating TB Contol Program since first October 2006 until first October 2007. The final goal is to have “District Free TB”. The”Network” was founded  by  decree  of  the  Mayor  of  Ilir  Barat  II  Distric  .  The  result  of  one  year  implementation  indicated significant increased of the Indicator of TB program, more than the MDG’starget.  If the network  is applied at Palembang  city  and  all  South  Sumatera,  those  areas  will  reach  100%  conversion  rate    by  the  end  of    2008 and 100% case detection rate by the end of 2010.  Keywords:  Tuberculosis  Control  Program,  Networking  Model,  Health  Cadre,  Private  Physician,  Local  Government, Millenium Development Goal’s
Status Gizi Anak Kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Sungaililin Seprianty, Vita; Tjekyan, R.M. Suryadi; Thaha, M. Athuf
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak masalah kesehatan yang terjadi pada anak sekolah dasar, tapi yang paling sering terjadi adalah masalah keseimbangan gizi.  masalah gizi dapat ditunjang oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, pendidikan orangtua, pekerjaan orang tua, dan pendapatan keluarga. penilaian status gizi secara antropometri dilakukan untuk mengetahui keadaan gizi anak, sehingga masalah gizi dapat ditatalaksana sesegera mungkin. Penelitian ini menggunakan rancangan survei deskriptif dengan studi cross sectional. Dari 151 siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Sungaililin, diambil 122 siswa sebagai sampel. Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2013 sampai Januari 2014. Data dari orang tua siswa dikumpulkan melalui kuesioner, sedangkan data status gizi mahasiswa dikumpulkan melalui penilaian antropometri yang sesuai dengan standar WHO 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 122 siswa, 94 siswa (77,0%) memiliki status normal gizi, 9 siswa (7,4%) gizi buruk, 9 siswa (7,4%) di gizi kurang, 8 siswa (6,6%) gizi lebih, dan hanya 2 siswa (1,6%) obesitas. Gizi buruk, gizi kurang, kelebihan gizi, dan obesitas masih ditemukan pada siswa sekolah dasar kelas III.
Perbandingan Efektifitas Krim Urea 10% dan Krim Niasinamid 4% pada Xerosis Usia Lanjut Tjekyan, R.M. Suryadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Xerosis usia lanjut merupakan salah satu karakteristik penuaan kulit dan menjadi dermatosis yang sering ditemukan pada pasien usia lanjut. Terdapat perubahan fisiologik terkait usia berupa penurunan natural moisturizing factor (NMF) dan lipid stratum korneum. Krim urea sering digunakan untuk pengobatan xerosis daripada krim niasinamid. Pada studi terdahulu, krim niasinamid dilaporkan dapat memperbaiki fungsi sawar kulit. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efektivitas krim urea 10% dan krim niasinamid 4% pada xerosis usia lanjut berdasarkan overall dry skin score (ODS) dan nilai hidrasi kulit. Pada studi tersamar ganda ini, subjek secara random dibagi menjadi dua kelompok pengobatan: 33 subjek menerima pengobatan krim urea 10% dan 33 lainnya menerima krim niasinamid 4% selama empat pekan pengobatan. Anamnesis;penilaian (ODS) dan pengukuran hidrasi kulit dilakukan pada semua subjek pada tungkai bawah bagian anterior pada saat baseline, pekan ke-2 dan pekan ke-4 setelah pengobatan. Overall dry skin score (ODS) pekan ke-2 dan ke-4 masing-masing kelompok, menurun secara signifikan daripada saat baseline (p=0,000) namun perbandingan antara dua kelompok tersebut didapatkan tidak berbeda secara bermakna (p>0,05). Nilai hidrasi kulit pada pekan ke-2 dan ke-4 untuk tiap kelompok didapatkan meningkat secara bermakna daripada saat baseline (p=0,000) namun perbandingan antara dua kelompok tersebut tidak didapatkan perbedaan bermakna (p>0,05).Angka kesembuhan untuk kelompok niasinamid lebih tinggi daripada kelompok urea namun hal ini tidak didapatkan perbedaan secara bermakna (p>0,05). Efektivitas dibagi menjadi kurang, sedang dan baik. Kelompok urea lebih banyak mempunyai efektivitas kurang daripada niasinamid. Sebaliknya, kelompok niasinamid mempunyai efektivitas sedang dan baik lebih banyak daripada kelompok urea. Tidak terdapat perbedaan efektivitas bermakna antara kedua kelompok tersebut. Kesimpulan penelitian ini adalah krim niasinamid sama efektif dengan krim urea dan dapat dignakan untuk mengobati xerosis usia lanjut.
Pola Kuman dan Resistensi Antibiotik di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS. Dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2013 Sari, Sari; Iriani, Yulia; Tjekyan, R.M. Suryadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mayoritas pasien Pediatric Intensive Care Unit (PICU) mendapatkan terapi antibiotik secara empirik. Pemilihan terapi empirik membutuhkan data pola kuman dan resistensi antibiotik sebagai data klinis untuk menentukan terapi antibiotik yang tepat pada pasien PICU.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola kuman dan resistensi antibiotik dari hasil kultur darah, urin dan sekret bronkus pasien Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang periode Januari-Juni 2013. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan 219 pasien di PICU dari Januari-Juni 2013. Data diperoleh dari rekam medis dan register Laboratorium Mikrobiologi Klinis RSMH Palembang. Dari 219 spesimen kultur darah, urin dan sekret ETT  didapatkan kultur darah (14%), kultur urin (70.1%) dan kultur sekret ETT (94.3%) yang positif. Mikroorganisme terbanyak dari spesimen kultur darah adalah Staphylococcus aureus (3.7%), Enterococcus aeroginosa (2.8%) dan Acinetobacter calcoaciticus (1.9%), kultur urin (29.9%) adalah Klebsiella Pneumonia (9.1%), Escherichia coli (7.8%) dan Enterococcus faecalis (3.9%) dan kultur sekret ETT (94.3%) adalah Acinetobacter calcoaciticus (34.3%). Dari 26 antibiotik yang telah diujikan terhadap semua bakteri gram positif dan gram negatif masih sensitif terhadap amikasin (100%). Bakteri gram negatif sensitif terhadap gentamisin (100%).  Pseudomonas spp dan Enterobacterspp sensitif terhadap kloramfenikol (100%). Bakteri gram positif sensitif terhadap vankomisin (100%). Bakteri gram negatif sensitif terhadap fosfomisin dan meropenem. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua antibiotik yang digunakan di PICU dapat dijadikan sebagai terapi empirik karena adanya perbedaan  sensitivitas terhadap bakteri yang diujikan.
Perbandingan Efektivitas Krim Metronidazol 1% dan Krim Ketokonazol 2% pada Dermatitis Seboroik di Wajah Malisa, Mimie; Soenarto, Soenarto; Thaha, Athuf; Tjekyan, R.M. Suryadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perjalanan penyakit dermatitis seboroik (DS) yang rekuren memerlukan pengobatan periodik dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien, terutama jika mengenai area wajah. Tujuan utama pengobatan DS adalah mengontrol gejala, sehingga cenderung fokus pada anti-inflamasi. Ketokonazol merupakan pengobatan standar untuk DS, namun memiliki efek anti-inflamasi ringan. Efektivitas dan keamanan serta efek anti-inflamasi metronidazol topikal terbukti pada pasien rosasea dipertimbangkan menjadi alternatif pengobatan pada DS. Tujuan penelitian: Untuk membandingkan efektivitas krim metronidazol 1% dan krim ketokonazol 2% pada DS di wajah menggunakan skor Seborrhea Area and Severity Index-Face (SASI-F). Metoda: Penelitian eksperimental paralel, acak, buta ganda, subjek dibagi secara acak menjadi dua kelompok pengobatan: tiap kelompok terdiri dari 32 subjek yang menerima krim metronidazol 1% dan krim ketokonazol 2% untuk pemakaian selama 4 pekan. Anamnesis: penilaian skor SASI-F pre-eksperimental; pengukuran kadar sebum untuk menentukan tipe kulit; dan evaluasi skor SASI-F dinilai setelah 4 pekan.  Hasil penelitian didapatkan: Skor SASI-F post-eksperimental pada kedua kelompok pengobatan menurun secara signifikan (p=0,000). Rerata skor SASI-F post-eksperimental pada kelompok metronidazol adalah 1.375±1.257 and kelompok ketokonazol adalah 1.188±1.014 (p=0.514). Derajat perbaikan klinis pada kedua kelompok hampir sama, (p=0,811). Angka kesembuhan kelompok metronidazol adalah 75% (24/32) dan kelompok ketokonazol 81,25% (26/32), (p=0,763). Kesimpulan: Krim metronidazol 1% dan krim ketokonazol 2% sama efektifnya terhadap penurunan skor SASI-F pada DS di wajah.
Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Lama Diare pada Anak Usia 14-51 Bulan yang Berobat di Puskesmas Sukarami Palembang Septa S.K, Miko; Salwan2, Hasri; Tjekyan, R.M. Suryadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang berperan dalam tubuh. Pada penderita diare dengan kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kerusakan mukosa usus sehingga adanya gangguan absorbsi yang dapat menyebabkan tekanan dalam lumen usus meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suplementasi vitamin A terhadap lama diare pada anak di Puskesmas Sukarami  Palembang. Jenis penelitian ini adalah penelitian potong lintang analitik dilakukan dengan concecutive sampling yang menggunakan data primer dari kuesioner pada bulan Nopember-Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan uji t dengan program SPSS 19.0.Didapatkan 60 sampel dengan 43 anak (71,7%) yang diberi suplementasi vitamin A dan 17 anak (28,3%) yang tidak diberi vitamin A. rerata lama diare pada balita yang diberi suplementasi vitamin A sebesar 5,06±1,66 hari. Rerata lama diare pada balita yang diberi suplementasi vitamin A sebesar 4,32±1,26 hari lebih cepat sembuh dibandingkan dengan balita yang tidak diberi vitamin A sebesar 6,94±0,89 hari (P=0,000).Diare pada balita yang mendapat suplementasi vitamin A lebih cepat sembuh dibandingkan balita yang tidak mendapat suplementasi vitamin A.
Hubungan Kepadatan Spesies Malassezia dan Keparahan Klinis Dermatitis Seboroik di Kepala Olina, Roza; Soenarto, Soenarto; Thaha, Athuf; Tjekyan, R.M. Suryadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitits seboroik (DS) merupakan dermatosis papuloskuamosa kronik mengenai wajah, badan bagian atas dan lipatan kulit. Etiologi DS belum diketahui pasti, tetapi beberapa faktor berperan dalam etiologi DS yaitu aktivitas kelenjar sebaseus, peran mikrobial dan kerentanan individu. Peranan spesies Malassezia sebagai faktor etiologi DS masih kontroversi. Beberapa penelitian klinis menunjukkan peningkatan kepadatan Malassezia memiliki peran penting pada patogenesis DS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kepadatan spesies Malassezia dengan keparahan klinis DS. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik laboratorik dengan rancangan potong lintang. Penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2014 sampai Januari 2015 di Poliklinik IKKK Divisi Dermatologi Non Infeksi (DNI) RSUP MH Palembang. Seluruh pasien DS yang memenuhi kriteria penerimaan dimasukkan menjadi sampel penelitian sejumlah 92 orang secara consecutive sampling. Seluruh Pasien diberi penjelasan mengenai penelitian, tujuan, prosedur dan manfaat penelitian serta menandatangani lembar informed consent. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik dan penilaian keparahan klinis menggunakan Seborrhea Area and Severity Index (SASI) serta pemeriksaan laboratorium biakan CHROMagar. Hasil penelitian didapatkan delapan satu dari 92 pasien didapatkan biakan positif spesies Malassezia terdiri pria 43 orang (46.7%) dan wanita 49 orang (53.3%). Terdapat hubungan bermakna antara kepadatan spesies Malassezia terhadap keparahan klinis DS. Pada analisis regresi ganda menunjukkan tipe kulit berminyak dan kepadatan spesies Malassezia merupakan faktor risiko yang mempengaruhi keparahan klinis DS (p= 0.000). Spesies Malasesezia paling banyak ditemukan M. globosa (44.6%) dikuti dengan M. obtusa (7.6%), M.sloofiae (5.4%), M. dermatis (3.3%), M. furfur (2.2%), M. pachydermatis (1.1%), M. japonica 1 (1.1%). Kesimpulan penelitian ini adalah kepadatan spesies Malassezia merupakan faktor risiko yang mempengaruhi keparahan klinis DS.
Angka Kejadian Dan Faktor Risiko Hipertensi Di Kota Palembang Tahun 2013 Tjekyan, R.M. Suryadi
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya prevalensi hipertensi telah lama diketahui merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara-negara di dunia karena hipertensi merupakan the silent killer sehingga pengobatannya seringkali terlambat. Terdapat berbagai faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya gejala hipertensi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi dan hubungan antara sosiodemografik, faktor fisik, dan kebiasaan merokok, serta prevalensi hipertensi penduduk kota Palembang dengan umur lebih dari 15 tahun. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 16 kecamatan di Kota Palembang. Pengambilan data penelitian dilakukan bulan Maret 2013. Populasi penelitian terjangkau adalah seluruh penduduk Palembang pada 16 kecamatan (Alang-Alang Lebar, Bukit Kecil, Gandus, Ilir Barat 1,Ilir Barat 2, Ilir Timur 1, Ilir Timur 2, Kalidoni, Kemuning, Kertapati, Plaju, Sako, Seberang Ulu 1, Seberang Ulu 2, Sematang Borang, Sukarami). Sampel diambil dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian sebesar 1.210. Pengambilan sampel dilakukan secara multistage random sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa sebanyak 14,4 % terdiagnosa hipertensi yang berumur diatas 15 tahun. Berdasarkan uji Chi-Square, sosiodemografi yang memiliki hubungan signifikan dengan hipertensi diantaranya jenis kelamin (p<0.018), umur (p<0.001), daerah asal (p<0.05). Berdasarkan uji ressureChi-Square, keadaan fisik yang memiliki hubungan signifikan dengan hipertensi di antaranyaIMT (p<0.000), genetik hipertensi (p<0.001), keluarga dengan hipertensi (p<0.001), kebiasaan olahraga (p<0.005), penyakit penyerta (p<0.001). Berdasarkan uji Chi-Square, faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan hipertensi di antaranyakebiasaan merokok (p<0.05), jumlah rokok per hari (p<0.047), jenis rokok (p<0.019), lama merokok (p<0.05), dan merek rokok (p<0.000). Berdasarkan penelitian ini, faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap hipertensi adalah jenis kelamin, umur, IMT dan penyakit penyerta
Angka Kejadian dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang Tahun 2010 Tjekyan, R.M. Suryadi
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 2 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya perubahan status sosioekonomi dan nutrisi menyebabkan peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus tipe 2 yang berhubungan dengan gaya hidup penduduk. Diabetes melitus tipe 2 terkait dengan beberapa faktor resiko, diantaranya usia, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan, dislipidemia, hipertensi, obesitas, tidak berolahraga, penderita kista ovarium, dan etnis tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan angka kejadian dan menganalisa faktor resiko diabetes mellitus tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang tahun 2010. Jenis penelitian yang digunakan adalah Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dengan desain secara cross sectional. Penelitian dilakukan  di 78 RT di Kotamadya Palembang sejak bulan Oktober sampai November 2010. Populasi pada penelitian ini adalah semua penduduk yang tinggal di 78 RT Kotamadya Palembang sedangkan sampel adalah semua penderita diabetes melitus tipe 2 yang berada di 78 RT  kotamadya Palembang. Angka kejadian penderita diabetes melitus tipe 2 di 78 RT di Kotamadya Palembang adalah sebanyak 401 (3.2%) penderita dari 12.501 total penduduk. Berdasarkan analisis multivariate (regresi logistik) didapatkan sepuluh variabel yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian diabetes mellitus, usia, pendidikan terakhir, IMT, konsumsi kopi, riwayat keluarga, nilai BSPP, BSS, riwayat kardiovaskular, dan hipertensi.