RADITE TISTAMA
Department of Biology, Faculty of Mathemathics and Natural Sciences, Bogor Agriculture University. Research Center for Bioresources and Biotechnology, Bogor Agricultural University

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Physiological and Biochemical Responses to Aluminum Stress in the Root of a Biodiesel Plant Jatropha curcas L.

HAYATI Journal of Biosciences Vol 19, No 1 (2012): March 2012
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.274 KB)

Abstract

We investigated J. curcas responses to aluminum stress, histochemically and biochemically. Histochemical stainings were observed to analysis aluminum accumulation, lipid peroxidation and the loss of plasma membrane integrity on the surface and tissue of the root apex. Enzymatic analysis was conducted to measure malate content in leaf, root and malate efflux in the medium. We used M. malabathricum as a comparison for Al-tolerance plant. J. curcas root elongation was inhibited by 0.4 mM AlCl3, while M. malabathricum root elongation was inhibited by 0.8 mM AlCl3 treatment. Inhibition of root elongation has high correlation with Al accumulation in the root apex, which caused lipid degradation and cell death. Generally, malate content in J. curcas leaf and root was higher than that in M. malabathricum. In the contrary malate efflux from the root into the medium was lower. J. curcas root has a different pattern compared to M. malabathricum in malate synthesis and malate secretion when treated with a different Al concentration. We categorized J. curcas acc IP3 as more sensitive to aluminum than M. malabathricum.

Purification, characterization, and bioassay of putative protease inhibitors from Hevea brasiliensis latex

E-Journal Menara Perkebunan Vol 84, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lateks yang menyerupai cairan susu putih diperoleh dari penyadapan kulit batang tanaman karet (Hevea brasiliensis). Lateks merupakan sitoplasma dari jaringan pembuluh bernama latisifer yang didalamnya terkandung berbagai macam komponen, termasuk protein-protein penting. Berbagai jenis enzim yang memiliki fungsi terkait pertahanan tanaman dari serangan patogen dan pelukaan telah berhasil dideteksi di dalam lateks, di antaranya protease inhibitor (PI). Protease inhibitor memiliki aktivitas senyawa antifungi sehingga berpotensi untuk  dimanfaatkan sebagai biofungisida. Pada penelitian ini, protease  inhibitor putatif yang berasal dari serum B (lutoid) lateks tanaman karet telah berhasil diisolasi menggunakan teknik Ion Exchange Chroma-tography. Dari total 70 fraksi protein yang diekstrak dari kolom, hanya 26 fraksi yang menunjukkan kadar protein yang terukur. Kandungan protease inhibitor putatif yang di-peroleh berkisar antara 0,0067 hingga 0,022 mL/g serum B dari hasil 3 fraksi terpilih. Aktivitas penghambatan terhadap empat enzim protease (subtilisin A, tripsin, α-kimotripsin, dan papain) menunjukkan karakteristik protease inhibitor putatif tersebut sebagai serine dan/atau cysteine inhibitor protease dengan persentase hambatan di atas 15% terhadap protease target. Hasil SDS-PAGE memperlihatkan pemisahan protein dominan yang diperkirakan merupakan protease inhibitor putatif dengan berat molekul sebesar 21,5 kDa. Uji bioassay aktivitas antifungi secara in vitro dari protease inhibitor memperlihatkan penghambatan pertumbuhan miselium dari fungi Ganoderma boninense, Sclerotium sp., dan Rigidosporus lignosus. [Kata kunci : protease inhibitor, Hevea brasiliensis, lateks, serum B, ion exchange chromatography]AbstractLatex, a milky white liquid, is the main product from rubber tree (Hevea brasiliensis). Latex is the cytoplasm of complex cellular networks named laticifers in which it contains many different components, including important proteins. Various types of enzymes carrying functions associated with plant defense against pathogen and wounding have been detected in latex in which one of these enzymes is protease inhibitor (PI). Plant protease inhibitor has tremendous potential as an antifungal agent which can be developed as biofungicide. In this work, protease inhibitors from B-serum (lutoid) of rubber tree latex were isolated and purified using Ion Exchange Chromatography (IEC) technique. Of the total 70 fractions of proteins extracted from the columns, only 26 fractions showed measurable levels of protein. The concentration of obtained putative protease inhibitors (three fractions of IEC) ranged from 0.007 to 0.022 mL/g B-serum. Inhibitory activity against four protease enzymes (subtilisin A, trypsin, α-chymotrypsin, and papain) showed the characteristics of Hevea putative protease inhibitors from B-serum as serine and/or cysteine protease inhibitors with more than 15% inhibitory activity of target protease. Based on SDS-PAGE visualization, the molecular weight of dominant protein considered as Hevea putative protease inhibitors was 21.5 kDa. In vitro bioassay test of antifungal activity for Hevea putative protease inhibitors showed reduced mycelium growth of Ganoderma boninense, Sclerotium sp., and Rigidosporus lignosus.[Keywords: protease inhibitor, Hevea brasiliensis, latex, B-serum, ion exchange chromatography]

Exploration and Characterization of Microorganisms from Rubber Seed and The Benefits for Rubber Plant Growth (Hevea brassiliensis Muell. Arg.)

AGROEKOTEKNOLOGI Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara-Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.765 KB)

Abstract

The object of this research are to explore the microorganisms from rubber seed to prevent seed pathogens and beneficial to the growth of rubber plant. The research was conducted in the protection laboratory and greenhouse Sungei Putih Research Center from September to December 2014, using completely randomized design non factorial with 7 treatments and 4 replications. The treatments used are microorganisms exploration of healthy rubber seed, ie M0 (control), M1 (Trichoderma sp.(a)), M2 (Trichoderma sp.(b)), M3 (Aspergillus sp.), M4 (Rhizopus sp.), M5 (Isolates BBK(a)), and M6 (isolates BBK(b)). The results showed that microorganisms exploration from the healthy rubber seed has significant effect on all parameters. The best results to inhibit seed pathogens in the laboratory is Aspergillus sp. at 81.27%. For germinate speed and plants height the best results are Trichoderma sp.(b) at 5.75 days and 28.90 cm. The best results for the length of the root is Trichoderma sp.(a) at 35.10 cm, and for the root weight is Aspergillus sp at 4,91 g. Trichoderma sp.(a), Trichoderma sp.(b), and Aspergillus sp. besides potential as biocontrol agents pathogenic seed by way of seed coating, also has potential as a stimulator of growth and biological fertilizer which can improve the quality of the rubber plant growth. Keywords: rubber plant, antagonistic microorganisms, seed coating, seed pathogens, growth stimulator

TUMPANGSARI SORGUM DAN KEDELAI UNTUK MENDUKUNG PRODUKTIVITAS LAHAN TBM KARET (HEVEA BRASILIENSIS MUELL ARG)

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1824.03 KB)

Abstract

Penanaman sorgum (Sorghum bicolor) dan kedelai (Glycine max) sebagai tanaman tumpangsari merupakan pilihan yang tepat untuk mendukung upaya pengembangan pertanian berkelanjutan dan peningkatan produksi pangan Indonesia.  Lahan karet belum menghasilkan cukup luas untuk dimanfaatkan untuk upaya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola tanam tumpangsari yang tepat dan melihat interaksinya terhadap tanaman karet baik dalam hal penyebaran penyakit jamur akar putih dan kesuburan tanah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan yang digunakan yaitu jarak tanaman tumpangsari 0,5 m, 1 m dan 1,5 m terhadap tanaman karet, dan jenis tanaman tumpangsari yaitu sorgum dan kedelai. Penelitian dilakukan di gawangan tanaman karet umur 1 tahun (TBM 1) dan umur 3 tahun (TBM 3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh jarak tanaman tumpangsari pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan tanaman karet. Tanaman tumpangsari sorgum dan kedelai meningkatkan pH, fosfor, nitrogen, dan kapasitas tukar kation (KTK) di dalam tanah, serta dapat menekan penyebaran penyakit Jamur Akar Putih (JAP). Produksi tumpangsari menunjukkan pola tanam kedelai dan sorgum terbaik pada jarak tanam 0,5 m dari tanaman karet dan tumpangsari sorgum dan kedelai (tunggal) pada TBM 1 dapat memberikan keuntungan serta nilai tambah bagi usahatani karet. Diterima : 6 Januari 2016 / Direvisi : 20 Juli 2016 / Disetujui : 30 Juli 2016 How to Cite : Tistama, R., Dalimunthe, C., Sembiring, Y., Fauzi, I., Hastuti, R., & Suharsono, S. (2016). Tumpangsari sorgum dan kedelai untuk mendukung produktivitas lahan TBM Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg). Jurnal Penelitian Karet, 0, 61-76. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/222

UPAYA PERBAIKAN GENETIK DAN PENYEDIAAN BIBIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) MELALUI PENDEKATAN BIOTEKNOLOGI

Warta Perkaretan Vol 33, No 2 (2014): volume 33, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.475 KB)

Abstract

Beberapa tantangan dalam kegiatan perakitan klon unggul baru tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) melalui metode persilangan buatan (konvensional) diantaranya adalah membutuhkan waktu yang lama, sifat heterozigositas yang tinggi dan tingkat keberhasilan yang belum optimal. Bioteknologi diharapkan dapat menjadi metode pendukung dalam menjawab tantangan yang terjadi tersebut. Perkembangan teknik in vitro dan rekayasa genetika telah memberikan terobosan baru dalam perbanyakan dan perbaikan genetik tanaman karet. Pemanfaatan bioteknologi telah berdampak pada proses perbaikan genetik tanaman karet dalam hal produktivitas, kesehatan tanaman, dan peningkatan toleransi terhadap cekaman. Selain itu penggunaan marka molekuler sangat bermanfaat untuk percepatan seleksi dalam kegiatan pemuliaan tanaman karet. Teknik tersebut juga berguna dalam identifikasi klon dan tetua, analisis keanekaragaman genetik, pengawasan hasil persilangan buatan, penciri klon dan biologi reproduksi. Tulisan ini menjabarkan tentang pendekatan bioteknologi untuk meningkatkan potensi genetik tanaman karet.

PERKEMBANGAN DAN UPAYA PENGENDALIAN KERING ALUR SADAP (KAS) PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

Warta Perkaretan Vol 33, No 2 (2014): volume 33, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.317 KB)

Abstract

Salah satu penyebab menurunnya produksi karet (Hevea brasiliensis) adalah gangguan Kering Alur Sadap (KAS). Hampir semua negara penghasil karet mengalami gangguan KAS. KAS telah ditemukan di perkebunan karet sejak tahun 1920. Penyebab kejadian ini adalah over exploitation yang memicu peningkatan senyawa radikal yang menyebabkan koagulasi lateks di dalam pembuluh lateks dan pembentukan sel tilasoid. Luka kayu juga menjadi penyebab terjadinya KAS pada panel bawah. KAS dapat ditemukan baik di kulit perawan (BO-1 dan BO-2) maupun kulit pulihan (BI-1 dan BI-2) bahkan di panel HO. Potensi terjadinya KAS meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Intensitas KAS diklasifikasikan tinggi bila mencapai 7,3 % untuk klon slow starter, dan 9,2 % untuk klon quick starter dengan potensi kehilangan produksi berturut-turut mencapai 114,74 kg/ha/t dan 183,05 kg/ha/th. Tanaman terserang KAS memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang lebih rendah baik di dalam lateks maupun kulit dibandingkan dengan tanaman sehat. Pengendalian preventif dapat dilakukan dengan kultur teknis seperti pemeliharaan optimal, penerapan sistem eksploitasi sesuai tipologi klon, dan monitoring gejala awal KAS secara rutin melalui diagnosa lateks. Pengendalian secara kuratif dapat dilakukan dengan teknik bark scraping, aplikasi formula NoBB, atau antico F-96.

PERAN SELULER ETILEN EKSOGENUS TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI LATEKS PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis L)

Warta Perkaretan Vol 32, No 1 (2013): Volume 32, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.304 KB)

Abstract

Perlakuan etilen dalam rangka meningkatkan produktifitas tanaman karet telah dilakukan secara luas di perkebunan karet sejak dekade 1970-an. Dari beberapa hasil penelitian telah terungkap bahwa etilen di dalam jaringan kulit Hevea mengatur dua jalur utama peningkatan produksi lateks yaitu: a) peningkatan sintesis karet, dan b) memperpanjang lama aliran lateks. Pada tahap awal etilen menginduksi perubahan pH di dalam sitosol menjadi lebih alkali. Perubahan pH ini memicu aktivitas beberapa enzim yang berperan di dalam jalur mevalonat, dan meningkatkan ketersediaan senyawa-senyawa adenilat dan sukrosa di dalam lateks, sebagai faktor penting di dalam biosintesis karet. Etilen eksogen menginduksi ekspresi gen aquaporin di dalam jaringan kulit sehingga suplai air di sekitar bidang penyadapan meningkat, dan etilen juga dapat mempertahankan stabilitas lateks selama aliran lateks. Faktor ketersediaan air dalam jaringan dan stabilitas lateks yang tinggi berpengaruh positif terhadap lama aliran lateks tanaman karet.

ISOLASI DAN KARAKTERISASI GEN SITRAT SINTASE BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DARI FILOSFER Hevea brasiliensis Muell. Arg.

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 31, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.288 KB)

Abstract

Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri utama di dalam rizosfer yang mempunyai sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan di dalam pertanian dan lingkungan. Bakteri tersebut mensekresikan asam organik yang dapat melepaskan fosfor dan melindungi akar dari keracunan aluminium. Sitrat merupakan asam organik yang dominan disekresikan oleh Pseudomonas di dalam tanah. Sitrat menujukkan afinitas terhadap aluminium dan menyediakan fosfor yang lebih tinggi dibandingkan asam organik lainnya. Asam organik ini disintesis dai sebuah reaksi antara aksaloasetat dan asetil KoA, dikatalisis oleh sitrat sintase (CS) di dalam siklus Kreb. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi sitrat sintase dari Pseudomonas aeruginosa yang telah diisolasi dari permukaan daun tanaman karet. Primer spesifik untuk gen CCS didesain berdasarkan sekuen gen sitrat sintase beberapa bakteri yang disimpan di Genbank. Primer tersebut digunakan untuk mengamplifikasi gen CS dengan menggunakan mesin PCR. Gen CS telah berhasil diisolasi dari bakteri filosfere Pseudomonas aerugunosa. Gen CS Pseudomonas aeruginosa (PaCS) tersebut terdiri dari 1287 pb dan menyandikan 428 asam amino.  PaCS mempunyai kesamaan asam amino yang tinggi dan hidrofobisitas dengan CS bakteri lainnya dan diduga mempunyai persamaan aktivitas enzim. Diterima : 11 April 2013; Disetujui : 17 September 2013  How to Cite : Tistama, R., Widyastuti, U., & Suharsono. (2013). Isolasi dan karakterisasi gen sitrat sintase bakteri Pseudomonas aeruginosa dari filosfer Hevea brasiliensis Muell. Arg.. Jurnal Penelitian Karet, 31(2), 127-138. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/140  

PROTEIN LATEKS HEVEA BRASILIENSIS SEBAGAI FUNGISIDA UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 35, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.523 KB)

Abstract

Serum lateks tanaman karet mengandung berbagai jenis protein yang berkaitan dengan protein pertahanan terhadap patogen. Pemanfaatan protein-protein lateks tersebut sebagai produk pengendali jamur patogen masih terkendala oleh metode isolasi protein serum lateks yang memerlukan peralatan dan biaya yang mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan metode isolasi protein lateks yang lebih sederhana dan menguji daya hambat protein-protein lateks tersebut terhadap pertumbuhan beberapa spesies jamur patogen pada tanaman pangan dan perkebunan. Pemisahan serum tertinggi diperoleh dari lateks yang dikoagulasikan dengan 37,5 mL asam format 5% tiap 1 liter lateks. Aseton, amonium sulfat dan Trichloric Acid (TCA) cukup efektif mempresipitasikan protein-protein di dalam serum lateks. Aseton dan amonium sulfat mempresipitasi protein masing-masing sebanyak 7,78 mg/mL dan 9,2 mg/mL serum, dan lebih tinggi dibandingkan TCA yaitu 5,56 mg/mL serum. Aktivitas enzimatik superoksid dismutase (SDO) protein hasil presipitasi dengan aseton dan amonium sulfat lebih tinggi dibandingkan  protein hasil presipitasi dengan TCA, meskipun aktivitas SOD spesifik masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata. Protein lateks memiliki daya hambat in vitro yang luas terhadap spesies jamur patogen yaitu 13,70% hingga 33,18% terhadap kontrol. Fusarium oxysporum, Collectrotichum capsici dan Rigodoporus microporus merupakan jamur patogen yang peka terhadap aktivitas protein-protein lateks.

PENGEMBANGAN TEKNIK SEROLOGI UNTUK DETEKSI DINI PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH (RIGIDOPORUS MICROPORUS) PADA TANAMAN KARET

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 35, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.678 KB)

Abstract

Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet. Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian besar karena mengakibatkan kematian tanaman dan tambahan biaya yang cukup tinggi untuk pengendalian penyakit tersebut. Oleh karena itu, usaha pencegahan melalui deteksi dini akan lebih efektif dan ekonomis dari pada pendekatan kuratif. Deteksi dini gejala penyakit JAP secara konvensional masih sulit dilakukan, dan baru diketahui secara pasti ketika serangan patogen sudah sampai pada tahap lanjut (stadia berat). Upaya mempercepat deteksi ini membutuhkan teknologi yang praktis dan mudah diadopsi oleh para pekebun. Perangkat teknologi untuk mendeteksi adanya materi protein dapat dilakukan melalui pemeriksaan antibodi yang berada di dalam serum. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan teknik serologis untuk mendeteksi gejala serangan dini penyakit jamur akar putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi antibodi untuk mendeteksi JAP dapat diperoleh dengan mengimunisasi ayam petelur dengan ekstrak kasar fruiting body (AgF) atau miselium (AgM) sebanyak dua kali dengan interval 3 hari. Antibodi hasil reaksi inokulasi ekstrak badan buah (AbF) dan ekstrak miselium (AbM) dapat mengenali AgM dan AgF dengan tingkat reaksi yang berbeda. AbM tidak dapat secara spesifik mendeteksi adanya infeksi JAP melalui  daun dan kurang sensitif mendeteksi miselium di tanah. Sebaliknya AbF dapat mendeteksi tanaman terserang JAP melalui daun dan dapat mendeteksi miselium di dalam tanah.