I Wayan Tika
Prodi. Teknik Pertanian, Universitas Udayana

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

APLIKASI KOMPOS SEBAGAI PUPUK ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN KANDUNGAN FENOL PADA TANAMAN JAHE MERAH Setiyo, Yohanes; Tika, I Wayan; -, Sumiyati; Suhendra, Lutfi
Agrotekno Vol. 15, No. 2 Agustus 2009
Publisher : Agrotekno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

This research was aimed to optimize the production ofvolatile oil and oleoresin of red ginger crops by optimizingthe usage of compost as fertilizer. Compost was applied as anorganic fertilizer to red ginger crops in poly-bag withfertilization doses 0, 0.2, 0.4, 0.6, 0.8, and 1 kg for one kgcrops planting and red ginger was harvested at 8 and 9months after planting.Red ginger contained volatile oil of 3.8-3.97% DM, totalphenol of 5.7 - 6.4% DM, and ability to catch free radical ofDPPH compound of phenol of 2.5 - 2.6% DM. The quality ofthe red ginger was measured at the age of between 8 and 9months. Depended upon its volatile oil content, ability tocatch free radical DPPH compound of phenol, and its contenton phenol, hence harvest time of ginger could be minimizedto 8 months.
KAJIAN FREKUENSI DAN LAMA PEMAPARAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA FASE GENERATIF TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS BUNGA KRISAN (Crhysantemum) Suputra, I Made Wirawan; S.Wijaya, I Made Anom; Tika, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 3 No 2 (2015): Agustus
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menentukan produksi dan kualitas krisan pada frekuensi (jumlah paparan per hari) dan durasi paparan medan elektromagnetik selama fase generatif, (2) menentukan frekuensi dan durasi paparan medan elektromagnetik yang menghasilkan produksi terbaik dan kualitas bunga krisan. Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dengan dua perlakuan. Perlakuan pertama adalah frekuensi paparan medan elektromagnetik yang terdiri dari 1, 2 dan 3 kali per hari dan perlakuan kedua adalah durasi paparan medan elektromagnetik yang terdiri dari 5, 20, dan 35 menit. Variabel yang diukur untuk produksi bunga adalah umur tanaman mulai mekar, umur panen, jumlah bunga dan jumlah bunga setengah mekar, sedangkan untuk kualitas adalah diameter bunga, warna bunga, bobot bunga, dan ketahanan bunga setelah panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan kualitas krisan rendah, jika paparan medan elektromagnetik pada 3 mT (militesla) dengan paparan frekuensi 1, 2 dan 3 kali per hari dan paparan durasi adalah 5, 20, dan 35 menit dalam fase generatif. Perlakuan terbaik yang terkandung dalam frekuensi 2 kali sehari dan durasi paparan 5 menit memberikan hasil terbaik untuk produksi dan kualitas bunga krisan. The objectives of this research were to (1) determine the production and quality of chrysanthemum on frequency (amount of exposure per day) and duration  of electromagnetic field exposure during generative phase, (2) determine frequency and duration of electromagnetic field exposure which produce the best production and quality of chrysanthemum flower. The method of this research was experimental method with two treatments.The first treatment was frequency of electromagnetic field exposure consisted of 1, 2 and 3 times per day and second treatment was electromagnetic field exposure duration consisted of 5, 20, and 35 minutes. Variables which measured for flower production were age of plant that started to blooming, harvest age, amount of flower and amount flower of half blooming, while for quality were diameter of flower, flower color, weight flower, and flower resistance after harvest. Result showed that production and quality of chrysanthemum was low, if electromagnetic field exposure at 3 mT (militesla) with frequency exposure 1, 2 and 3 times per days and duration exposure was 5, 20, and 35 minutes in generative phase. The best treatment contained in frequency 2 time per day and exposure duration 5 minutes gave the best result for production and quality of chrysanthemum flower.
KAJIAN PENGHEMATAN AIR IRIGASI PADA METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DAN tEKNIK IRIGASI BERSELANG (MGENYATIN) PADA BIDUDAYA PADI (STudi Kasus di Subak Sigaran) Prasetya, I Kadek Andrie; Tika, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 2 No 2 (2014): Agustus
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan pengurangan air irigasi dari beberapa budidaya, model budidaya adalah Sistem Intensifikasi Padi (SRI), teknik ngenyatin dan budidaya konvensional, serta membandingkan produktivitas budidaya tanaman padi. Penelitian ini terdiri dari empat perawatan dengan tiga repetisi, yaitu perawatan konvensional, metode SRI, Teknik ngenyatin, dan kombinasi metode SRI dan teknik Ngenyatin. Parameter itu yang diamati dalam penelitian ini adalah: kebutuhan air irigasi, pengurangan air irigasi masing-masing perlakuan dibandingkan dengan K0, berat rumpun, berat biji per rumpun, panjang tangkai, biji jumlah per tangkai, jumlah benih produktif, berat beras per rumpun, persentase beras berdasarkan pada jumlah, persentase beras berdasarkan beratnya, berat 100 butir dan beras yang dihasilkan produksi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan teknik budidaya antara perawatan yang berpengaruh terhadap penghematan air irigasi dalam setiap perawatan dan pengaruh terhadap beras produktivitas tanaman. Perawatan K3 yang menerapkan metode SRI yang dikombinasikan dengan sistem Ngenyatin yang merupakan pengobatan terbaik dengan meminimalkan penggunaan air irigasi hingga 58% dibandingkan dengan K0 perlakuan yang menerapkan penanaman konvensional dan menghasilkan 8,85 ton / ha produktivitas dibandingkan dengan yang lain perawatan. This research was conducted to compare the reducing of irrigation water from some cultivation, cultivation model were System of Rice Intensification method (SRI), ngenyatin technique and the conventional cultivation, as well as compared the productivity of rice plants cultivation. This research consists of four treatments with three repetitions, which is conventional treatment, SRI method, Ngenyatin technique, and the combination of SRI method and Ngenyatin technique. Parameters that observed in this research were: the needs of irrigation water, the reducing of irrigation water each treatments compared to K0, the weight of clumps, the seeds weight per clump, the stalks length, the seeds amount per stalk, the amount of productive seeds, the rice weight per clump, the percentage of rice based on its amount, the percentage of rice based on its weight, the weight of 100 grains and the result rice plants production. The research results show significant differences with cultivation technique between the treatments that influence to the thrift of irrigation water in every treatments and influence to the rice plants productivity. K3 treatment that applied the SRI method that combined with Ngenyatin system which is the best treatment by minimize the using of irrigation water up to 58% compared than K0 treatment that applied conventional planting and produced 8.85ton/ha productivity compared with other treatments.
PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN KOMPOS TERHADAP KEBUTUHAN AIR TANAMAN BEBERAPA JENIS KACANG Simanjuntak, Frans Azarya; Tika, I Wayan; -, sumiyati -
BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 1, No 2 (2013): Agustus
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian dosis  pupuk kompos terhadap kebutuhan air tanaman beberapa jenis kacang yaitu kacang tunggak, kacang kedelai, dan kacang hijau. Perbandingan tanah dan kompos terdiri dari 7 tingkatan yaitu: 100% tanah; 97,5% tanah : 2,5% kompos; 95% tanah : 5% kompos; 92,5% tanah : 7,5% kompos; 90% tanah : 10% kompos; 87,5% tanah : 12,5% kompos; dan 85% tanah :15% kompos. Data dianalisis secara statistik kuantitatif dan di bahas secara deskriptif. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kapasitas lapang, titik layu, ketersediaan air tanah, dan kebutuhan air tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tingkat pemberian pupuk kompos pada budidaya beberapa jenis kacang berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah. Ketersediaan air pada budidaya kacang tunggak berkisar 34,4% - 42,7%, pada budidaya kacang kedelai berkisar 42,3% - 48,6%, pada budidaya kacang hijau 46,7% –55,7%. Kebutuhan air tanaman sangat bervariasi bergantung kepada jenis kacang. Pada penelitian ini diperoleh perbandingan tanah dengan pupuk kompos 85% : 15% merupakan perlakuan terbaik untuk mendapatkan nilai kebutuhan air tanaman yang optimal pada budidaya kacang tunggak, kacang kedelai, maupun kacang hijau.
Analisis Dinamika Suhu pada Proses Pengomposan Jerami dicampur Kotoran Ayam dengan Perlakuan Kadar Air Krisnawan, Kadek Ardhi; Tika, I Wayan; Madrini, I A. Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Kadar air merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengomposan jerami yang dicampur dengan kotoran ayam. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui dinamika suhu pada proses pengomposan bahan baku kompos dengan perlakuan kadar air 2) dan mengetahui kadar air campuran bahan baku kompos yang menghasilkan kualitas kompos terbaik. Penelitian ini menggunakan perlakuan kadar air dengan persentase: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). Perbandingan komposisi jerami dan kotoran ayam yaitu 3:4. Parameter yang diukur selama proses pengomposan adalah suhu, pH, dan rendemen. Sedangkan parameter untuk kualitas kompos yaitu pH, kadar air akhir, kadar bahan organik, karbon, nitrogen, dan C/N rasio. Secara umum, suhu selama proses pengomposan untuk setiap perlakuan cenderung seragam dengan suhu maksimal berkisar antara 49,4 - 49,6oC, kecuali pada perlakuan P1 yang memiliki suhu maksimal 34,8oC. P4 dengan kadar air campuran bahan kompos 60±2% adalah perlakuan terbaik dengan C/N rasio 15,68 dan kualitas kompos yang dihasilkan sesuai kriteria SNI 19-7030-2004, yaitu memiliki warna cokelat kehitaman, tekstur remah, mempunyai bau seperti tanah, dengan kadar air akhir 35,55%, pH 7,2, serta kandungan bahan organik 56,50%.   The moisture content is an important factor in composting process of rice straw with chicken manure. This research aimed to 1) determine the temperature dynamics in the composting process of compost raw materials with moisture content treatment 2) and to determine moisture content of raw compost material that produced the best compost quality. This research used moisture content treatment with percentage: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). The composition of straw and chicken manure was 3:4. The parameters measured during the composting process were temperature, pH, and decreasing ratio. While the parameters for compost quality were pH, final moisture content, volatile solid, carbon, nitrogen, and C/N ratio. In general, the temperature dynamics for each treatment were uniform with a maximum temperature range from 49.4 – 49.6oC, except for treatment P1 which has a maximum temperature 34.8oC. P4 which has moisture content of compost materials 60 ± 2% was the best treatment with C/N ratio 15,68 and compost produced met to the compost quality based on SNI 19-7030-2004, which has a blackish brown color, crumb texture, has a smell like soil with final moisture content 35.55%, pH 7.2, and volatile solid 56.50%.
Pengaruh Teknik Budidaya SRI (System of Rice Intensification) dan Legowo Terhadap Iklim Mikro dan Produktivitas Padi Ketan (Studi Kasus di Subak Sigaran) Sanjaya, I Putu; Tika, I Wayan; Sumiyati, S -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 2 No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

This study was conducted to determine the effect of planting System of Rice Intensification (SRI) and legowo 6:1 row planting system of the microclimate and the rice plants productivity. This study was divided into 4 treatments with 3 replications, ie treatments conventional techniques, SRI method of planting, application of legowo 6:1 row planting system, and combination of SRI planting method and legowo 6:1 row planting system. The results showed the application of SRI planting method and legowo 6:1 row planting system not affecting the microclimate conditions, but affecting the productivity of riceplants. The results also showed that treatment K3 applying SRI methods combined with legowo 6:1 row planting system is the best treatment compared with other treatments.
Evaluasi Sistem Operasional dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi pada Sistem Subak di Kawasan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukau Suartiani, Ni Made Ayu Adi; ., Sumiyati; Tika, I Wayan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 2 (2017): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Subak merupakan suatu lembaga irigasi tradisional di Bali yang salah satu fungsinya adalah mengelola air irigasi. Kegiatan operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi merupakan suatu kegiatan pemantauan dan perbersihan jaringan irigasi di tingkat subak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan operasional dan pemeliharaan (O&P) jaringan irigasi pada tiga lokasi subak di Kawasan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukau. Metode dalam penelitian ini adalah metode survei dan pengamatan secara langsung. Data yang sudah terkumpul diberi bobot nilai, dan dianalisis. Subak dinilai menggunakan tiga kriteria yaitu Baik = 3, Sedang = 2, dan Kurang = 1. Hasil analisis menggunakan pendekatan logika fuzzy diperoleh kinerja jaringan irigasi pada Subak Jatiluwih adalah 2.49 (sedang), Subak Tengkudak adalah 2.42 (sedang) dan Subak Rejasa adalah 2.50 (sedang). Dari tiga lokasi subak yang diteliti, hasilnya dapat dinyatakan bahwa subak di Kawasan Catur Angga Batukau dalam kondisi sedang, sehingga perlu peningkatan pemeliharaan pada jaringan irigasi. Subak is a traditional irrigation organization in Bali, one of which functions to manage irrigation water coming from a water source. The purpose of this research is to know the physical performance of irrigation network and operational system and maintenance (O & P) of irrigation network on three subak sites located in Catur Angga Batukau which one of World Cultural Heritage. The method in this research were survey and observation, method directly on physical aspect of irrigation network. The collected data will be assessed by the expert, and analyzed. Subak was assessed using 3 criteria  one Good = 3, Medium = 2, and Less = 1. System analysis was done by fuzzy logic approach. Based on the results of analysis using fuzzy logic approach on three sites, obtained an average value of 2.50 with the criteria between medium well. Was obtained combination of physical aspects and aspects of irrigation network O & P effect in the performance of irrigation networks. Therefore, the performance of irrigation network at Subak Jatiluwih was 2.17 (medium), Subak Tengkudak was 2.21 (medium) and Subak Rejasa was 2.18 (medium). From three subak sites, the result was subak in medium condition need improvement in irrigation network in each subak. Infrastructure facilities in subak need to be considered by pekaseh. Each subak member participate in maintaining the infrastructure facilities distribution of irrigation water.
KAJIAN FREKUENSI DAN LAMA PEMAPARAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA FASE GENERATIF TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS BUNGA KRISAN (Crhysantemum) Suputra, I Made Wirawan; S. Wijaya, I Made Anom; Tika, I Wayan
BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 3, No 2 (2015): Agustus
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The objectives of this research were to (1) determine the production and quality of chrysanthemum on frequency (amount of exposure per day) and duration of electromagnetic field exposure during generative phase, (2) determine frequency and duration of electromagnetic field exposure which produce the best production and quality of chrysanthemum flower. The method of this research was experimental method with two treatments.The first treatment was frequency of electromagnetic field exposure consisted of 1, 2 and 3 times per day and second treatment was electromagnetic field exposure duration consisted of 5, 20, and 35 minutes. Variables which measured for flower production were age of plant that started to blooming, harvest age, amount of flower and amount flower of half blooming, while for quality were diameter of flower, flower color, weight flower, and flower resistance after harvest. Result showed that production and quality of chrysanthemum was low, if electromagnetic field exposure at 3 mT (militesla) with frequency exposure 1, 2 and 3 times per days and duration exposure was 5, 20, and 35 minutes in generative phase. The best treatment contained in frequency 2 time per day and exposure duration 5 minutes gave the best result for production and quality of chrysanthemum flower.
Pengolahan Tanah Menggunakan Bajak Singkal Lebih Sedikit Memerlukan Air Irigasi dari pada Bajak Rotary Artawan, Gusti Bagus Alit Budi; Tika, I Wayan; Sucipta, I N.
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p01

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kebutuhan air irigasi pada pengolahan tanah menggunakan bajak singkal dan bajak rotary. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi: volume solum, porositas tanah, kadar air awal tanah, kebutuhan air untuk penggenangan, volume genangan, dan lama waktu pengolahan tanah. Lokasi yang digunakan sebagai sampel lahan sawah sebanyak 15 titik sampel untuk masing-masing bajak yang di kelompokan menjadi tiga lokasi yaitu pada hulu, tengah, dan hilir. Pada setiap lokasi diambil lima sampel sawah untuk setiap perlakuan bajak. Volume solum pada sawah yang diolah menggunakan bajak singkal sebesar 2.122,00 m3/ha sedangkan volume solum menggunakan bajak rotary sebesar 2096,33 m3/ha. Kadar air awal tanah pada lahan sawah yang digunakan sebagai sampel untuk bajak singkal sebesar 52,98 % sedangkan pada bajak rotary sebesar 45,63 %. Kebutuhan air untuk penjenuhan lahan sawah yang diolah dengan bajak rotary lebih besar dari bajak singkal yaitu 505,97 m3/ha, sedangkan pada bajak singkal sebesar 377,11 m3/ha. Volume genangan pada bajak rotary lebih besar dari bajak singkal yaitu bajak rotary sebesar 401,33 m3/ha dan bajak singkal sebesar 141,00 m3/ha. Untuk lama waktu yang diperlukan untuk mengolah tanah, bajak singkal memerlukan waktu lebih lama yaitu 29,69 jam/ha, sedangkan bajak rotary memerlukan waktu 14,35 jam/ha. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengolahan tanah menggunakan bajak singkal lebih sedikit memerlukan air dibandingkan dengan bajak rotary. Pada pengolahan tanah menggunakan bajak singkal air yang diperlukan yaitu 5,07 l/dt, sedangkan untuk bajak rotary memerlukan air sebanyak 17,69 l/dt. This research was conducted to know the difference of irrigation water requirement in the preparation of land using chisel plow and rotary plow. The variables observed in this study include: solum volume, soil porosity, initial moisture content of the soil, water requirements for inundation, puddle volume, and duration of soil tillage. Location used as sample of paddy field as much as 15 point sample for each plow which is grouped into three locations that is at upstream, middle, and downstream. At each location five rice samples were taken for each plow treatment. The volume of solum on the treated rice field using the chisel plow of 2122.00 m3 / ha while the volume of solum using rotary plow of 2096.33 m3 / ha. The initial soil moisture content in paddy field used as sample for chisel plow is 52,98% while rotary plow is 45,63%. The water requirement for the saturation of paddy field that is processed by rotary plow is bigger than the chisel plow is 505.97 m3 / ha, whereas in the chisel plow is 377,11 m3 / ha. The volume of inundation in the rotary plow is greater than the chisel plow rotary plow of 401.33 m3 / ha and chisel plow of 141.00 m3 / ha. For the length of time required to cultivate the soil, the chisel plow takes longer time of 29.69 hours / ha, while the rotary plow takes 14.35 hours / ha. The results of this study indicate that the processing of soil using plows of chisel requires less water than the rotary plow. In the processing of the soil using the plot of water chisel required is 5.07 l / dt , while for the rotary plow requires water as much as 17.69 l / dt .
Kebutuhan Air Irigasi pada Budidaya Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) dengan Sistem Polybag yang Menggunakan Berbagai Jenis Media Tanam Putra, I Made Surya Adnyana; Tika, I Wayan; Gunadnya, Ida Bagus Putu
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i02.p11

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui pola kebutuhan air irigasi cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dari usia tanam sampai tanaman berbunga dengan sistim polybag dan (2) mengetahui pola kebutuhan air irigasi cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dengan berbagai tingkat kandungan organik tanah yang sejalan dengan usia tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap masing-masing terdiri dari lima perlakuan dan tujuh ulangan, yaitu perlakuan menggunakan tanah sawah 100%, perlakuan menggunakan tanah sawah 80% dan pupuk kandang 20%, perlakuan tanah sawah 60% dan pupuk kandang 40%, perlakuan tanah sawah 40% dan pupuk kandang 60%, perlakuan tanah sawah 20% dan pupuk kandang 80%. Data kebutuhan air irigasi yang diperoleh diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel untuk memperoleh grafik dan dilanjutkan analisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian jumlah kebutuhan air irigasi pada perlakuan menggunakan tanah sawah 100% rata-rata 25,29 ml/hari, pada perlakuan tanah sawah 80% dan pupuk kandang 20% rata-rata 24,26 ml/hari, pada perlakuan tanah sawah 60% dan pupuk kandang 40% rata-rata 22,06 ml/hari, pada perlakuan tanah sawah 40% dan pupuk kandang 60% rata-rata 21,27 ml/hari, pada perlakuan tanah sawah 20% dan pupuk kandang 80% rata-rata 19,32 ml/hari. Pada perlakuan tanah sawah 20% dan pupuk kandang 80% menunjukkan kebutuhan air paling sedikit diantara perlakuan yang lainnya. Kata kunci : irigasi, cabai rawit, tanah sawah, pupuk kandang.