M. Athuf Thaha
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNSRI/RSUP MH Palembang, Jl. Palembang Prabumulih Km. 32 Indralaya Sumatera Selatan

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Sindrom Stevens-Johnson dan Nekrolisis Epidermal Toksis di RSUP MH Palembang Periode 2006 - 2008

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2009:MMI VOLUME 43 ISSUE 5 YEAR 2009
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Steven-Johnson syndrome and toxic epidermal necrolysis in RSUP MH Palembang in year 2006-2008Background: Stevens-Johnson syndrome (SSJ) and toxic epidermal necrolysis (TEN) are rare, life-threatening, drug-induced cutaneous reactions.Methods: We conducted a retrospective study by gathering 43 SJS, SJS/TEN, and TEN patients data from RSUP MH General Hospital Palembang from 2006-2008. Variable that were evaluated covered the age, gender, incidence, drug causes, and results of medical treatment.Results: The number of SSJ cases was higher than SJS/TEN and TEN cases, most of SSJ patients were in 26-36 year age group (11 patients or 25.5%), with male/female ratio of: 55.8%:44.2%. The use of paracetamol, amoxycilline, tetracycline, cotrimoxsazole, methampirone, ciprofloxacine, and carbamazepine was associated with large increases in the risk of SSJ or TEN. Hospital stays for SSJ was 8.91 ± 5.52 days, and 13.2 ± 3.89 days for SJS/TEN. This retrospective study expressed the high incidence of the SJS inRSUP MH in 2006-2008 period, compared with the incidence reported in the bibliography.Conclusions: Although there were still controvercies in systemic corticosteroid use, this study showed the use of steroid gave satisfactory results.Keywords: Stevens-Johnson syndrome, toxic epidermal necrolysis, drug-induced cutaneous reactions ABSTRAKLatar belakang: Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan nekrolisis epidermal toksis (NET) ialah reaksi kulit terutama akibat obat yang jarang ditemui dan dapat menyebabkan kematian.Metode: Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan mengumpulkan data rekam medik RSUP MH Palembang periode 2006–2008, sebanyak 43 pasien rawat inap yang didiagnosis sebagai SSJ, SSJ/NET, dan NET. Variabel yang dievaluasi meliputi usia, jenis kelamin, angka kejadian penyakit, obat yang menyebabkan penyakit, lama perawatan, dan hasil pengobatan.Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan jumlah kasus SSJ merupakan yang terbanyak dibandingkan NE lainnya, usia terbanyak SSJ terdapat pada kelompok usia 26-36 orang (11 orang atau 25,5%), rasio laki-laki/perempuan sebesar: 55,8%:44,2%. Obat yang terbanyak berturut-turut ialah parasetamol, amoksisilin, tetrasiklin, kotrimoksasol, metampiron, siprofloksasin dan karbamazepin. Lama perawatan pasien SSJ ialah 8,9 ± 5,5 dan SSJ/NET 13,2 ± 3,9 hari, dan semua pasien (kecuali yang pulang paksa) sembuh pada evaluasi paska rawat. Penelitian retrospektif ini mengungkap tingginya angka kejadian SSJ di RSUP MH periode 2006-2008, dibandingkan angka kejadian yang dilaporkan dalam kepustakaan. Terdapat perbedaan jenis obat penyebab SSJ di RSUP Palembang dari obat penyebab risiko tinggi yang dilaporkan dalam literatur.Simpulan: Walaupun masih terdapat silang pendapat penggunaan steroid sistemik pada SSJ, penelitian ini menunjukkan pemakaian steroid memberikan hasil yang  memuaskan.

Autoimmune urticaria in Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Moh. Hoesin Palembang

Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 41, No 03 (2009)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: About 30% patients with chronic idiopathic urticaria (CIU)have circulating histamine-releasing autoantibodies against the a-subunit of high affinity IgEreceptor (FceRla),or IgE.This subgroup of patients has a disorder commonly referred as autoimmune urticaria. Objectives: This study was conducted to reveal the autoimmune urticariacases in Indonesian patients Methods: The autologous serum skin test (ASST)and histamine release assay (HRA)were conducted on 79 patients with CIU (53 females and 26 males). Patients with predominant physical urticaria and urticarial vasculitis were excluded from the study. Results: Seventeen patients had both positive autologous serum skin test and histamine release assay confirmative of autoimmune urticaria. Conclusion:CombinedpositiveASSTand HRAwere seen in 21.5% of CIUpatients, indicatingautoimmune urticaria. Key words: chronic idiopathic urticaria - anti-FceRla histamine-releasing autoantibodies -autoimmune urticaria - autologous serum skin test, histamine release assay.

Nilai Diagnostik Dermatophyte Strip Test pada Pasien Tinea Ungium

JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea Unguium(TU) or dermatophytic onychomycosis merupakan infeksi jamur pada kuku jari tangan dan kaki disebabkan dermatofita. Dermatofita dibagi menjadi tiga genus yaitu Trichophyton, Epidermophyton dan Microsporum. Golongan ini mampu mencerna keratin dan dapat menyebabkan infeksi yang mengenai kulit, rambut dan kuku. Kalium hidroksida (KOH) 40% yang rutin digunakan untuk diagnosis TU mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang bervariasi. Dermatophyte strip test merupakan uji kualitatif untuk mendeteksi antigen dermatofita, objektif, cepat dan akurat yang dapat digunakan untuk mendiagnosis TU. Objective: Menentukan nilai diagnostik dermatophyte strip test untuk diagnosis TUdi RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. Method: Penelitian observasional analitik laboratorik dalam bentuk uji diagnostik dengan desain potong lintang dilakukan dari bulan November 2014 hingga Januari 2015 pada pasien TU di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. Total 110 pasien presumtif TU yang memenuhi kriteria inklusi diambil dengan metoda consecutive sampling. Semua sampel dilakukan pemeriksaan dermatophyte strip test, KOH 40%, dan biakan jamur sebagai baku emas. Result: Dari pemeriksaan didapatkan sensitivitas dan spesifisitas dermatophyte strip test adalah 87,3% dan 89,36% (area under curve 0,89; positive predictive value 92%; negative predictive value 84%; positive likelihood ratio 8,21; negative likelihood ratio0,14; akurasi 89%). Sensitivitas dan spesifisitas of KOH 40% adalah 63,49% dan 65,96% (area under curve 0,647; positive predictive value 71%; negative predictive value 57%; positive likelihood ratio 1,87; negative likelihood ratio 0,55; akurasi 65%). Conclusion: Dermatophyte strip test mempunyai nilai diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan KOH 40% di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang, dan dapat menggantikan KOH 40% untuk diagnosis TU.

Status Gizi Anak Kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Sungaililin

JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak masalah kesehatan yang terjadi pada anak sekolah dasar, tapi yang paling sering terjadi adalah masalah keseimbangan gizi.  masalah gizi dapat ditunjang oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, pendidikan orangtua, pekerjaan orang tua, dan pendapatan keluarga. penilaian status gizi secara antropometri dilakukan untuk mengetahui keadaan gizi anak, sehingga masalah gizi dapat ditatalaksana sesegera mungkin. Penelitian ini menggunakan rancangan survei deskriptif dengan studi cross sectional. Dari 151 siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri 1 Sungaililin, diambil 122 siswa sebagai sampel. Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus 2013 sampai Januari 2014. Data dari orang tua siswa dikumpulkan melalui kuesioner, sedangkan data status gizi mahasiswa dikumpulkan melalui penilaian antropometri yang sesuai dengan standar WHO 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 122 siswa, 94 siswa (77,0%) memiliki status normal gizi, 9 siswa (7,4%) gizi buruk, 9 siswa (7,4%) di gizi kurang, 8 siswa (6,6%) gizi lebih, dan hanya 2 siswa (1,6%) obesitas. Gizi buruk, gizi kurang, kelebihan gizi, dan obesitas masih ditemukan pada siswa sekolah dasar kelas III.

Faktor Risiko pada Dermatitis Atopik

JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit kronik berulang yang paling sering ditemukan semasa awal bayi dan anak. Prevalensi kejadian DA pada anak terus meningkat dari tahun ke tahun, serta belum adanya data mengenai karateristik faktor resiko DA pada anak di Departemen IKKK RSUP MH Palembang 2011-2013. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik faktor risiko pada DA di Departemen IKKK RSUP MH Palembang. Faktor risiko yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, riwayat atopi personal, riwayat atopi keluarga. Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif yang menggunakan rekam medik di Departemen IKKK RSUP MH Palembang tahun 2011-2013. Ada 53 kejadian DA yang ditemukan pada penelitian ini. Berdasarkan usia pasien, DA ditemukan 43,4% pada usia 0-3 tahun, 18,8% pada usia 4-6 tahun, 9,4% pada usia 7-9 tahun, 15,1% pada usia 10-13 tahun, dan 13,2% pada usia 14-16 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, DA ditemukan pada 50,9% pasien laki-laki dan 49,1% pasien perempuan. DA ditemukan pada pasien dengan riwayat atopi rihinitis alergi (5,4%), alergi makanan (3,7%), kongjungtivitis alergi (1,9%), asma (5,7%), RA+AM (5,4%), RA+asma (5,7%), RA+asma+AM (1,9%), RA+KA (1,9%), RA+KA+AM (1,9%), dan tidak ada riwayat (58,5%). Berdasarkan riwayat atopi keluarga, dermatitis atopi (20,7%), rhinitis alergi (11,3%), asma (18,9%), asma+KA (1,9%), RA+asma (1,9%), tidak ada riwayat (41,5%). DA paling banyak pada usia 0-3 tahun dan laki-laki. Riwayat atopi personal paling banyak dimiliki adalah rhinitis alergi. Riwayat atopi keluarga yang paling banyak dimiliki adalah DA.

Hubungan Hasil Pemeriksaan Autologous Serum Skin Test Dengan Keparahan Klinis Dermatitis Atopik

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Autologous Serum Skin Test (ASST) adalah prosedur penapisan in vivo sederhana untuk mendiagnosis urtikaria kronik idiopatik (UKI) melalui injeksi serum autologus intradermal. Pemeriksaan ASST positif membuktikan adanya histamine releasing factor dalam serum. Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis kambuhan. European Task Force on Atopik Dermatitis (ETFA) mengembangkan suatu indeks penilaian untuk keparahan DA yang disebut Scoring Index of Atopik Dermatitis (SCORAD). Sebuah studi analitik observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan dari awal Januari sampai Maret 2010 di klinik rawat jalan Alergi Imunologi, Kulit dan Kelamin dari Departemen Dr Mohammad Husein Rumah Sakit Umum Palembang. Sebuah enam puluh pasien DA yang memenuhi kriteria inklusi adalah merekrut oleh berturut-turut random sampling. Semua orang melakukan penilaian SCORAD dan pemeriksaan ASST , hasil yang dinilai oleh peneliti dan hasil lainnya adalah examiners.The ASST positif pada DA ringan adalah empat ( 66,7% ) subyek , DA moderat adalah 21 ( 51,2% ) subyek dan DA parah adalah 13 ( 100% ) subyek , p = 0,006. 44,82 nilai SCORAD ditentukan sebagai cut-off untuk menentukan keparahan DA . Nilai SCORAD a> : . 44,82 dianggap sebagai DA parah dan < 44,82 bukan merupakan salah satu yang parah . Kelompok DA parah memiliki hasil ASST positif 26 ( 43,3 % ) dan kelompok DA non parah memiliki hasil ASST positif dari 12 ( 20 % ) subyek . Pada nilai diagnostik cut-off dari SCORAD 44,82 ASST menghasilkan sensitivitas 68,4, spesifisitas 77.3 , rasio kemungkinan positif 3,01 , rasio kemungkinan negatif 0,41 , nilai prediksi positif 83,9 dan nilai prediksi negatif 58,6 . Hasil ini menunjukkan bahwa pada cut-off SCORAD 44,82 proporsi ofsubjects DA parah 68,4% , masih ada 31,6% negatif palsu. Kepositifan hasil ASST terkait dengan DA tujuh puluh klinis dinilai menggunakan SCORAD berdasarkan kriteria negatif palsu substansial ringan-sedang-berat, tapi di cutsoff ditentukan masih ada

Hubungan Profil Lipid dengan Keparahan Klinis Pasien Psoriasis di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Psorisasis merupakan penyakit kulit kronis ditandai perubahan kulit tipikal baik makroskopis maupun mikroskopis. Profil lipid merupakan indikator yang baik untuk menentukan apakah seseorang mempunyai risiko penyakit jantung, yang diperkirakan akan mengakibatkan respon mediator inflamasi dan hormon yang dapat mempengaruhi keparahan psoriasis. Tujuan: untuk meneliti hubungan profil lipid dan keparahan klinis psoriasis. Metoda: Penelitian laboratorik observasional analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan dari bulan Agustus 2011 sampai Oktober 2011 di Poliklinik Alergi-Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Enam puluh pasien yang memmenuhi kriteria inklusi diterima dengan concecutive sampling. Pemerikasaan profil lipid dilakukan pada semua pasien dan keparahan klinis psoriasis diukur dengan PASI. Hasil: Tidak ada hubungan antara kolesterol, trigliserida, HDL-kolesterol, dan VLDL-kolesterol dengan keparahan klinis psoriasi, masing-masing p=0,416, p=0,219, p=0,796, dan p=0,222. Hanya LDL-kolesterol yang berhubungan dengan keparahan klinis psoriasi (p=0,222). Kovariabel yang mempunyai hubungan dengan skor PASI adalah usia, jenis kelamin, dan durasi penyakit, masing-masing p-0,000, p=0,022, dan p=0,000. Kesimpulan: LDL-kolesterol, usia, jenis kelamin, dan durasi penyakit dapat menjadi faktor prediktor keparahan klinis psoriasis

Hubungan Kadar Visfatin Serum dan Tingkat Keparahan Psoriasis di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 3 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronik ditandai perubahan kulit tipikal. Patogenesis diduga berhubungan dengan aktivasi sel T helper (Th)1, Th17, dan Th22 serta inhibisi regulatory T lymphocytes (Treg). Visfatin merupakan protein yang dihasilkan oleh white adipose tissue, diduga memiliki peran dalam modulasi respon imun dan inflamasi sehingga mempengaruhi tingkat keparahan psoriasis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar visfatin serum dengan tingkat keparahan psoriasis. Penelitian observasional analitik laboratorik dengan rancangan potong lintang dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2014 di Poliklinik IKKK Divisi Alergo Imunologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Empat puluh pasien yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan sebagai subjek penelitian secara consecutive sampling. Pada semua subjek penelitian dilakukan pemeriksaan kadar visfatin serum dan penilaian keparahan klinis psoriasis berdasarkan total skor PASI. Korelasi positif kuat antara PASI dan kadar visfatin serum menggunakan Pearson correlation (0.089, p = 0.000), terdapat perbedaan signifikan skor PASI pada kadar visfatin serum normal dan tinggi menggunakan Student’s t test (p = 0.000). Analisis regresi ganda menunjukkan hanya kadar visfatin serum yang berhubungan dengan PASI (p = 0.001 dan p = 0.000). Kadar visfatin serum dapat menjadi faktor prediktor tingkat keparahan psoriasis berdasarkan skor PASI.

Autoimmune urticaria in Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Moh. Hoesin Palembang

Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 41, No 03 (2009)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: About 30% patients with chronic idiopathic urticaria (CIU)have circulating histamine-releasing autoantibodies against the a-subunit of high affinity IgEreceptor (FceRla),or IgE.This subgroup of patients has a disorder commonly referred as autoimmune urticaria. Objectives: This study was conducted to reveal the autoimmune urticariacases in Indonesian patients Methods: The autologous serum skin test (ASST)and histamine release assay (HRA)were conducted on 79 patients with CIU (53 females and 26 males). Patients with predominant physical urticaria and urticarial vasculitis were excluded from the study. Results: Seventeen patients had both positive autologous serum skin test and histamine release assay confirmative of autoimmune urticaria. Conclusion:CombinedpositiveASSTand HRAwere seen in 21.5% of CIUpatients, indicatingautoimmune urticaria. Key words: chronic idiopathic urticaria - anti-FceRla histamine-releasing autoantibodies -autoimmune urticaria - autologous serum skin test, histamine release assay.