Articles

Found 12 Documents
Search

KORELASI ANTARA MIB-1, AgNOR DAN APOPTOSIS CASPASE-3 DENGAN RESPONS KEMORADIOTERAPI PADA KANKER SERVIK Kurnia, Iin; Siregar, Budiningsih; Soetopo, Setiawan; Ramli, Irwan; Kurjana, Tjahya; ., Andriono; Tobing, Maringan DL; Suryawathi, Bethy; Tetriana, Devita
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 14, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.13 KB)

Abstract

Salah satu cara pengobatankanker servik adalah dengan kemoradioterapi melalui pemberian radioterapi dan kemoterapisecara bersamaan pada kanker servik stadium lanjut lokal. Respons kemoradioterapidipengaruhi oleh faktor biologis yaitu kinetika sel yang terdiri dari proliferasi dan kematian sel.Pada penelitian ini dipelajari korelasi antara biomarker proliferasi sel kanker, yaitu AgNOR, MIB-1, dan ekspresi apoptosis jalur caspase-3 dengan respons kemoradioterapi pada kanker servik.Dua puluh satu sediaan mikroskopik jaringan kanker servik yang diambil dari biopsi pasiensebelum menerima tindakan kemoradioterapi diberi pewarnaan AgNOR, sedangkan deteksiMIB-1 dan apoptosis caspase-3 dilakukan dengan teknik immunohistokimia. Setelah selesaimenerima kemoradioterapi dilakukan pengamatan respons klinik dengan cara pelvic control.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum kemoradioterapi tidak ditemukan korelasi nilaiAgNOR, MIB-1 dengan apoptosis (p>0,05). Proliferasi sel yang diamati dengan AgNOR danMIB-1 sebelum kemoradioterapi tidak menunjukkan adanya korelasi dengan respons jaringankanker setelah kemoradioterapi, namun ekspresi apoptosis menunjukkan korelasi positifdengan respons kemoradioterapi. Indeks apoptosis caspase-3 yang diperoleh dapat dijadikanbahan pertimbangan pada penjadwalan kemoradioterapi kanker servik.
UJI PROFIL PROTEIN KELENJAR LUDAH Anopheles sp. TERINFEKSI P. berghei PASCA IRADIASI GAMMA DENGAN TEKNIK SDS-PAGE UNTUK PENGEMBANGAN VAKSIN MALARIA Tetriana, Devita; Syaifudin, Mukh
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 15, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.028 KB)

Abstract

UJI PROFIL PROTEIN KELENJAR LUDAH Anopheles sp. TERINFEKSI P. bergheiPASCA IRADIASI GAMMA DENGAN TEKNIK SDS-PAGE UNTUK PENGEMBANGANVAKSIN MALARIA. Sporozoit merupakan tahapan siklus hidup parasit malaria yang palinginvasif dan merupakan kandidat vaksin paling tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwavaksin malaria yang dibuat dengan melemahkan sporozoit Plasmodium sp menggunakan sinargamma terbukti lebih efektif. Studi efek radiasi terhadap protein dalam pengembangan vaksiniradiasi juga berperan sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui profil proteinkelenjar ludah Anopheles sp terinfeksi sporozoit pasca iradiasi gamma dengan teknik Sodiumdodecyl sulphate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE). Tahapan uji meliputipenginfeksian nyamuk Anopheles sp dengan P. berghei, pemeliharaan nyamuk terinfeksiselama 14-16 hari untuk memperoleh sporozoit, iradiasi nyamuk secara in vivo - in vitro,preparasi sampel kelenjar ludah dan elektroforesis pada SDS-PAGE 10% serta pewarnaanCommassie blue. Hasil uji menunjukkan perbedaan profill protein antara kelenjar ludahAnopheles sp terinfeksi dan tidak terinfeksi. Terdapat penambahan jumlah pita protein padadosis iradiasi lebih tinggi (200 Gy) dimana terdeteksi profil protein sporozoit P. berghei (BM 62kDa), tetapi tidak terdapat perbedaan profil circumsporozoite protein (CSP) antar dosis iradiasigamma 150, 175 dan 200 Gy. Hasil tersebut memberikan informasi dasar yang akan mengarahpada studi lanjut tentang peranan protein sporozoit dalam pengembangan vaksin malaria.Kata kunci : malaria, kelenjar ludah, P berghei, sporozoit, profil protein, sinar gamma
SANGAT PENTING, PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI Tetriana, Devita; Evalisa, Maria
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.587 KB)

Abstract

Penggunaan teknologi nuklir untuk kebutuhan manusia telah berkembang pesat meliputi seluruh lapangan kehidupan. Walaupun jelas sekali manfaat telah dipetik oleh umat manusia dari penggunaan teknologi nuklir, sisi bahaya yang dapat ditimbulkan- nya tidak boleh diabaikan terutama bagi mereka yang karena tugasnya langsung berhadapan dengan bahaya ini. Masalahnya adalah menjaga agar dalam menggunakan teknologi nuklir yang melibatkan penggunaan radiasi pengion, dosis radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi harus selalu berada dalam batas-batas yang diijinkan, sehingga risiko yang diterima baik oleh pekerja radiasi maupun oleh penduduk secara keseluruhan tidak berlebihan. Ketentuan Keselamatan Radiasi tertuang dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 63 tahun 2000 mengenai ”Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion”. Secara umum PP ini dimaksudkan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Didalamnya diatur tidak saja keselamatan kerja, tetapi juga keselamatan masyarakat dan lingkungan hidup serta tanggung jawab dan kewenangan Badan Pengawas, penguasa instalasi, petugas proteksi radiasi, serta pekerja radiasi dalam pemanfaatan tenaga nuklir sesuai dengan pola kerja yang selalu melaksanakan budaya keselamatan (safety culture), sehingga jelas siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam pemanfaatan tersebut. Sasaran PP adalah terwujudnya situasi agar setiap pemanfaatan tenaga nuklir berwawasan keselamatan dan lingkungan.
Correlation Between Akt and p53 Protein Expression and Chemoradiotherapy Response in Cervical Cancer Patients KURNIA, IIN; SIREGAR, BUDININGSIH; SOETOPO, SETIAWAN; RAMLI, IRWAN; KURJANA, TJAHYA; ANDRIONO, .; TOBING, MARINGAN DIAPARI LUMBAN; SURYAWATHI, BETHY; KISNANTO, TEJA; TETRIANA, DEVITA
HAYATI Journal of Biosciences Vol 21, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.842 KB) | DOI: 10.4308/hjb.21.4.173-179

Abstract

Akt is a protein that is associated with cell proliferation and is expressed at high levels in cancer cells. Some research indicates it may play a role in increasing the resistance of cancer cells to chemotherapy treatment. P53 is a tumor suppressor protein that influences the cell cycle and apoptosis. The purpose of this study was to examine the relationship between the expression of Akt and p53 in cancerous tissue before chemoradiation treatment, and the clinical response to treatment of cervical cancer patients. Twenty microscopic tissue samples were taken from cervical cancer biopsies obtained from patients before cancer treatment. The tissue samples were stained with p53 and Akt antibodies via immunohistochemistry technique, to measure expression of both proteins. After completion of chemoradiotherapy, patients’ clinical response to treatment was determined using the pelvic control method. Our results revealed no correlation between expression of Akt and p53 index (P = 0.74) as well as between p53 Index and chemoradiotherapy clinical response (P=0.29). There was significant correlation between expression of Akt and cervical cancer chemoradiotherapy response (P = 0.03). There was no correlation found between p53 index and chemoradiotherapy clinical response (P = 0.29). High expression of Akt may related with high cell proliferation and resistance to chemoradiotherapy.
OPTIMALISASI TES KOMET UNTUK PENENTUAN TINGKAT KERUSAKAN PADA DNA AKIBAT PAPARAN RADIASI. Ramadhani, Dwi; Tetriana, Devita; Suvifan, Viria Agesti
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 17, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.234 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.1.2405

Abstract

Tes komet dapat digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan asam deoksiribonukleat (DNA) pada sel limfosit darah tepi akibat paparan radiasi. Aspek yang harus diperhatikan saat melakukan tes komet antara lain adalah konsentrasi agarose yang digunakan, waktu inkubasi pada alkali, kondisi elektroforesis (waktu, temperatur serta gradien voltase yang digunakan), serta parameter yang digunakan dalam analisis. Parameter yang sangat disarankan dalam menganalisis citra komet adalah persentase DNA ekor (% DNA ekor). Persentase DNA ekor dapat dikonversi menjadi frekuensi lesion per 106 pasangan basa (bp) DNA dengan menggunakan kurva yang menggambarkan hubungan antara dosis radiasi pengion dengan besarnya % DNA ekor. Untuk mendapatkan hasil analisis tes komet yang akurat perlu dilakukan pembuatan kurva kalibrasi yang menggambarkan hubungan antara dosis radiasi pengion dengan besarnya % DNA ekor. Analisis citra komet sebaiknya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pengolahan citra sehingga dapat meningkatkan akurasi dan presisi serta mengurangi subjektivitas dalam menganalisis citra komet. OPTIMIZATION ON COMET ASSAY FOR ASSESSMENT OF DNA DAMAGE BECAUSE RADIATION EXPOSURE.Comet assay can be used to measure deoxyribonucleic acid (DNA) damage level caused by natural radiation exposure in peripheral blood lymphocytes. The principle of the comet assay is based on the amount of denatured DNA fragments that migrated out of the cell nucleus during electrophoresis. There are several aspects that must be concerned when doing the comet assay. For example the agarose concentration, duration of alkaline incubation, electrophoresis conditions (time, temperature, and voltage gradient), and the measurement parameters that used in analyze the comet. Percentage of DNA in the comet tail (% tail DNA) is strongly recommended as a parameter when analyze the comet because it can be converted to lesions per 106 base pairs (bp) using calibration curve that show relationship between the dose of ionizing radiation and % tail DNA. To obtain an accurate result, the calibration curve must be made and comet should be analyzing using image processing analysis software since it can be increase the precision and reduce the subjectivity of the measurement process.
Deteksi Sel Rogue Pada Sel Limfosit Darah Tepi Pasien Kanker Serviks Pra dan Paska Kemoradioterapi Ramadhani, Dwi; Soetopo, Setiawan; Kurjana, Tjahya; S Hernowo, Bethy; DL Tobing, Maringan; Tetriana, Devita; Suvifan, Viria Agesti; Purnami, Sofiati; Lusiyanti, Yanti
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.755 KB)

Abstract

Proses penentuan nilai dosis radiasi pengion berdasarkan indikator biologis atau biodosimetri umumnya dilakukan berdasarkan analisis kromosom disentrik. Proses biodosimetri berdasarkan analisis kromosom disentrik yang tidak boleh melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue karena nilai dosis yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Sel rogue adalah sel dalam tahap metafase yang berasal dari kultur sel limfosit darah tepi dan memiliki jumlah aberasi kromosom sangat tinggi meskipun sampel darah tidak terpapar oleh radiasi pengion. Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab timbulnya sel rogue dalam sel limfosit darah tepi. Terdapat Didugaan bahwa infeksi virus atau bakteri penyebab terbentuknya sel rogue. Dugaan lainnya menyatakan bahwa paparan radiasi dengan Linear Energy Transfer (LET) tinggi adalah penyebab timbulnya sel rogue. Tujuan penelitian adalah mendeteksi keberadaan sel rogue pada pasien kanker serviks sebelum dan sesudah dilakukan proses kemoradioterapi. Prediksi nilai dosis radioterapi dilakukan berdasarkan jumlah kromosom disentrik dengan atau tanpa melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue. Sebanyak 20 ml sampel limfosit darah tepi dari lima pasien kanker serviks paska radioterapi dikultur, dibuat preparatnya dan diamati. Hasil penelitian menunjukkan adanya satu sel rogue pada salah satu pasien kanker serviks paska kemoradioterap. yang diakibatkan oleh paparan radiasi. Prediksi dosis menunjukkan bahwa nilai prediksi dosis dengan melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue menyebabkan nilai dosis yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa paparan radiasi pengion dapat mengakibatkan terbentuknya sel rogue pada individu dengan tingkat radiosensitivitas tinggi. Dengan demikian proses biodosimetri berdasarkan analisis kromosom disentrik tidak dapat dilakukan dengan melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue. The process of determining the ionizing radiation dose based on biological indicator or biodosimetry is generally carried out using the analysis of dicentric chromosome. Biodosimetry process based on the analysis of dicentric chromosome should not involving the dicentric in a rogue cell that may cause the radiation prediction doses value more higher than the true doses value. Rogue cells is cells in metaphase derived from the peripheral blood lymphocytes culture and contain a high number of chromosome aberration even though the blood sample were not exposed to ionizing radiation. Until now it was not clear what factor that can induce the rogue cells in peripheral blood lymphocytes. There was suggestion that infection of virus or bacteria and radiation exposure of high linear energy transfer (LET) can induce rogue cells. Aim of this research was to detect the presence of rogue cells in cervical cancer patients before and after radio chemotherapy process. The prediction of radiotherapy doses was carried out with and without involving the dicentric chromosomes in the rogue cells. Twenty milliliter of blood samples from five cervical cancer patients obtained before and after radiotherapy was cultured, harvested and analyzed. The experimental result showed that there was a presence of one rogue cell in one cervical cancer patient after radio chemotherapy process. A radiotherapy prediction doses showed that predictive dose value dose involving dicentric chromosomes in rogue cell was higher compared to the real radiation dose value. Based on the research result it can be concluded that exposure to ionizing radiation can induced the presence of the rogue cells in high radiosensitivity person. It means that in the biodosimetry process based on the analysis of dicentric chromosome should not involve the dicentric chromosome in the rogue cell.
Pendeteksian Ekspresi Biomarker ERK Secara Semi Kuantitatif dan Kuantitatif Pada Kanker Serviks Sebelum Respon Kemoradioterapi Kisnanto, Teja; Wardani, Rina Tri; Siregar, Budiningsih; Amir, Mellova; Soetopo, Setiawan; Ramli, Irwan; Kurjana, Tjahya; Andrijono, Andrijono; S Hernowo, Bethy; DL Tobing, Maringan; Tetriana, Devita
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.099 KB)

Abstract

Kanker servik merupakan penyakit kanker yang umum dijumpai pada wanita yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papilova Virus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ekspresi protein MNK (Mitogen Activated Protein Kinase) pada penderita kanker serviks sebelum tindakan pengobatan terhadap respon kemoradioterapi. Sampel uji yang digunakan adalah sediaan mikroskopis hasil biopsi jaringan kanker dari penderita kanker serviks stadium lanjut (IIB-IIIB) sebanyak 20 sampel. Metode yang digunakan adalah metode imunohistokimia dengan menggunakan biomarker MNK pada biopsi jaringan kanker serviks. Ekspresi protein MNK yang positif ditandai dengan warna coklat tua yang terdapat pada inti sel. Respon kemoradioterapi diperoleh dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung. Hasil penelitian menunjukkan nilai IRS (Imuno Reaktif Score) protein MNK pada grup respon kemoradioterapi baik lebih tinggi dibandingkan grup respon kemoradioterapi buruk dan tidak ditemukan adanya hubungan IRS protein MNK dengan respon kemoradioterapi. Sedangkan hubungan ekspresi MNK terhadap respon kemoradioterapi menunjukkan adanya korelasi perbedaan grup respon kemoradioterapi antara ekspresi protein MNK negatif dan ekspresi protein MNK positifCervical cancer is a cancer that common in women caused by HPV (Human Papilova Virus). The purpose of this study is to determine the relationship MNK protein expression (Mitogen-Activated Protein Kinase) in patients with cervical cancer before chemoradiotherapy treatment. Sample used was the preparation of microscopic cancer tissue biopsies from patients with advanced cervical cancer (IIB-IIIB) is 20 samples. The method used is immunohistochemistry using MNK biomarkers in cervical cancer tissue biopsies. MNK positive protein expression marked with dark brown color that is contained in the cell nucleus. Chemoradiotherapy response obtained from RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo and Hasan Sadikin Hospital in Bandung. The results show the value of the IRS (Immuno Reactive Score) MNK protein in response to chemoradiotherapy group either higher than the response to chemoradiotherapy group was bad and did not find any relationship IRS MNK protein with chemoradiotherapy response. While the relationship MNK expression responses show a correlation chemoradiotherapy group differences in chemoradiotherapy response between MNK expression negative and MNK expression positive.
Pendeteksian Ekspresi Biomarker MNK Secara Semi Kuantitatif dan Kuantitatif Pada Kanker Serviks Sebelum Respon Kemoradioterapi Kisnanto, Teja; Wardani, Rina Tri; Siregar, Budiningsih; Amir, Mellova; Soetopo, Setiawan; Ramli, Irwan; Kurjana, Tjahya; Andrijono, A; Hernowo, Bethy S; Tobing, Maringan DL; Tetriana, Devita
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.883 KB)

Abstract

Kanker servik merupakan penyakit kanker yang umum dijumpai pada wanita yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papilova Virus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ekspresi protein MNK (Mitogen Activated Protein Kinase) pada penderita kanker serviks sebelum tindakan pengobatan terhadap respon kemoradioterapi. Sampel uji yang digunakan adalah sediaan mikroskopis hasil biopsi jaringan kanker dari penderita kanker serviks stadium lanjut (IIB-IIIB) sebanyak 20 sampel. Metode yang digunakan adalah metode imunohistokimia dengan menggunakan biomarker MNK pada biopsi jaringan kanker serviks. Ekspresi protein MNK yang positif ditandai dengan warna coklat tua yang terdapat pada inti sel. Respon kemoradioterapi diperoleh dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung. Hasil penelitian menunjukkan nilai IRS (Imuno Reaktif Score) protein MNK pada grup respon kemoradioterapi baik lebih tinggi dibandingkan grup respon kemoradioterapi buruk dan tidak ditemukan adanya hubungan IRS protein MNK dengan respon kemoradioterapi. Sedangkan hubungan ekspresi MNK terhadap respon kemoradioterapi menunjukkan adanya korelasi perbedaan grup respon kemoradioterapi antara ekspresi protein MNK negatif dan ekspresi protein MNK positif. Cervical cancer is a cancer that common in women caused by HPV (Human Papilova Virus). The purpose of this study is to determine the relationship MNK protein expression (Mitogen-Activated Protein Kinase) in patients with cervical cancer before chemoradiotherapy treatment. Sample used was the preparation of microscopic cancer tissue biopsies from patients with advanced cervical cancer (IIB-IIIB) is 20 samples. The method used is immunohistochemistry using MNK biomarkers in cervical cancer tissue biopsies. MNK positive protein expression marked with dark brown color that is contained in the cell nucleus. Chemoradiotherapy response obtained from RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo and Hasan Sadikin Hospital in Bandung. The results show the value of the IRS (Immuno Reactive Score) MNK protein in response to chemoradiotherapy group either higher than the response to chemoradiotherapy group was bad and did not find any relationship IRS MNK protein with chemoradiotherapy response. While the relationship MNK expression responses show a correlation chemoradiotherapy group differences in chemoradiotherapy response between MNK expression negative and MNK expression positive.
Kadar Protein Klebsiella pneumoniae Hasil Pemanasan 65 Derajat Celcius Sugoro, Irawan; Tetriana, Devita
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 7, No 1 (2014): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v7i1.2712

Abstract

Klebsiella pneumoniae is one of a coliform bacteria that causing mastitis. This disease were founded in dairy cows and can be prevented by vaccination. The research has been conducted to determine the inactive times, the protein concentration and profile of K. pneumoniae which inactivated by heating of 65oC as material of mastitis vaccine. The cells culture inactivated by the different times, i.e. 0, 10, 20, 30, 40, 50 and 60 minutes. The inactive times was determined by the drop test method, whereas the protein concentration of cells were determined by Lowry method. The results showed that the inactive times occured after 30 minute, and has a significant different on the protein concentration of bacteria cells that inactivated by the different times.
Preliminary Study on the Single Nucleotide Polymorphism (SNP) of XRCC1 Gene Identificationto Improve the Outcomes of Radiotherapy for Cervical Cancer Tetriana, Devita; Mailana, Wiwin; Kurnia, Iin; Syaifudin, Mukh
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 7, No 2 (2015): September 2015
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v7i2.3949

Abstract

Cervical cancer is the most fatal disease among Indonesian women. In recognition of the substantial variation in the intrinsic response of individuals to radiation, an effort had been done to identify the genetic markers, primarily Single Nucleotide polymorphisms (SNPs), which are associated with responsiveness of cancer cells to radiation therapy. One of these SNPs is X-ray repair cross-complementing protein 1 (XRCC1) that is one of the most important genes in deoxyribonucleic acid (DNA) repair pathways. Meta-analysis in the determination of the association of XRCC1 polymorphisms with cervical cancer revealed the potential role of XRCC1 polymorphisms in predicting cell response to radiotherapy.Our preliminary study with real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) showed that radiotherapy affected the XRCC1 gene analyzed in blood of cervical cancer patient. Other published study found three SNPs of XRCC1 (Arg194Trp, Arg280His, and Arg399Gln) that cause amino acid substitutions. Arg194Trp is only SNPs that associated with high risk of cervical cancer but not others. Additionally, structure and function of this protein can be altered by functional SNPs, which may lead to the susceptibility of individuals to cancers. Anotherstudy found G399A polymorphisms. We concluded that SNP of this DNA repair genes have been found to be good predictors of efficacy of radiotherapy.Kanker serviks adalah penyakit yang paling fatal pada perempuan di Indonesia. Untuk memahami variasi substansial respon intrinsik individual terhadap radiasi, suatu usaha telah dilakukan untuk mengidentifikasi petanda genetik, terutama Single Nucleotide polymorphism (SNP), yang berkaitan dengan responsel kanker terhadap terapi radiasi. Satu dari SNP tersebut adalah X-ray repair cross-complementing protein 1 (XRCC1) yang merupakan satu dari gen paling penting dalam lajur perbaikan asam deoksiribonukleat (DNA). Meta-analysis dalam penentuan hubungan polimorfisme XRCC1 dengan kanker serviks menemukan adanya peranan potensial polimorfisme XRCC1 dalam memprediksi respon sel terhadap radioterapi. Studi awal kami menggunakan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) menunjukkan bahwa radioterapi mempengaruhi gen XRCC1yang dianalisis dalam darah pasien kanker serviks. Studi yang telah dipublikasi menemukan tiga SNP dari XRCC1 (Arg194Trp, Arg280His, dan Arg399Gln) yang menyebabkan substitusi asam amino. Arg194Trp merupakan satu-satunya SNP yang berkaitan dengan tingginya risiko kanker serviks, tetapi tidak pada yang lain. Di samping itu, strukturdan fungsi protein ini dapat berubah oleh SNP fungsional, yang mengarah ke kerentanan individu untuk menderita kanker. Studi lain menemukan polimorfisme G399A. Kami menyimpulkan bahwa SNP dari gen perbaikan DNA ini merupakan prediktor yang baik dari keberhasilan radioterapi.