Articles

Found 5 Documents
Search

Development of Boundary Area of Timor Tengah Utara Regency and Oekusi Enclave District asAgropolitan Region

Forum Pasca Sarjana Vol 33, No 1 (2010): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.181 KB)

Abstract

The research has been conducted in border area of Timor Tengah Utara Regency, Nusa Tenggara Timur, and Oekusi Enclave District, East Timor.  The objective of the research is to analyze the center for development of agropolitan.  The method use were AHP,LQ, SSA, I-O and descriptive statistic analysis.  The result showed that subdistrict Miomafo Timur is center for agropolitan development located in the border area of District Enclave Oekusi.  It is suggested that it is a need to develop mutual and networking with other region in Timor Tengah Utara Regency and Oekusi Enclave District.   Key words: boundary area,agropolitan

Analisis Pendapatan Usahatani Cabe Rawit Merah di Desa Tapenpah Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara

AGRIMOR Vol 2 No 04 (2017): AGRIMOR - October 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.903 KB)

Abstract

Desa Tapenpah merupakan salah satu desa di kecamatan Insana kabupaten Timor Tengah Utara yang petaninya membudidayakan tanaman cabe rawit merah dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis besarnya pendapatan usahatani cabe rawit merah; 2) mengetahui berapa besar keuntungan relatif berusahatani cabe rawit merah; dan 3) mengetahui strategi pengembangan usahatani cabe rawit merah. Penelitian dilaksanakan di desa Tapenpah, kecamatan Insana, kabupaten TTU pada bulan Februari sampai bulan Agustus 2017. Penelitian  menggunakan metode survei. Untuk mengetahui pendapatan petani dilakukan analisis biaya, analisis pendapatan, analisis biaya. Keuntungan relatif dianalisis menggunakan R/C Ratio. Untuk merumuskan strategi pengembangan usahatani dilakukan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biaya yang dikeluarkan dalam usahatani cabe rawit merah meliputi biaya tetap dan biaya variabel dengan rata-rata biaya sebesar Rp1.262.645,83 dan total biaya sebesar Rp18.939.688,00. Penerimaan usahatani cabe rawit merah dalam satu kali musim tanam sebesar Rp135.420.000,00 sehingga petani memperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp7.737.354,16 dengan total pendapatan sebesar Rp116.480.312,50. Rata-rata penerimaan sebesar Rp9.000.000,00 dan rata-rata biaya yang dikeluarkan sebesar Rp1.176.771,00, sehingga rata-rata nilai R/C Ratio adalah 7,12 yang artinya kegiatan usahatani cabe rawit oleh petani di desa Tapenpah layak untuk dikembangkan karena menguntungkan secara ekonomis. Faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan, faktor eksternal berupa peluang dan ancaman. Skor pembobotan untuk faktor kekuatan 3,2, kelemahan 1,5, peluang 1,95 dan ancaman 1,85. Berada pada kuadran I. 

Analisis Nilai Tambah Singkong Sebagai Bahan Baku Produk Keripik di Kelompok Usaha Bersama Sehati Desa Batnes Kecamatan Musi

AGRIMOR Vol 3 No 2 (2018): AGRIMOR - April 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.551 KB)

Abstract

Indonesia adalah negara agraris sehingga sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi negara dengan agroindustri atau industri yang berbasis pertanian yang menjadi salah satu motor pembangunan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) gambaran umum usaha pengolahan singkong menjadi keripik; 2) besarnya nilai tambah dari usaha pengolahan singkong menjadi keripik; dan 3) besarnya pendapatan dari usaha pengolahan singkong menjadi keripik di Kelompok Usaha Bersama Sehati desa Batnes. Penelitian dilaksanakan di Kelompok Usaha Bersama Sehati, desa Batnes, kecamatan Musi pada bulan April-Oktober 2017. Pengambilan data menggunakan metode survei. Sampel dilakukan pada unit usaha keripik singkong pada Kelompok Usaha Bersama Sehati dengan menggunakan metode sensus dimana seluruh anggota pada unit usaha menjadi responden yaitu sebanyak 10 orang. Untuk mengetahui gambaran umum usaha keripik singkong maka digunakan analisis deskriptif, untuk mengetahui pendapatan usaha keripik singkong maka digunakan analisis pendapatan, untuk mengetahui keuntungan relatif dari usaha keripik singkong darat digunakan analisis R/C Rasio. Hasil penelitian menunjukkan Kelompok Usaha Bersama Sehati memproduksi keripik singkong dengan memanfaatkan alat-alat pengolahan hasil pertanian yang sudah bukan manual lagi tetapi mengarah ke teknologi pengolahan yang lebih modern yaitu menggunakan mesin. Bahan-bahan yang digunakan dalam produksi keripik singkong adalah ubi kayu, minyak goreng, gula pasir, garam dapur dan cabe merah. Tahapan produksi keripik singkong dimulai dari penyediaan bahan baku, penyortiran, pengupasan, pencucian, perajangan, pembumbuan, penggorengan, pengurangan kadar minyak, pengemasan dan pemasaran. Nilai tambah produksi keripik singkong pada Kelompok Usaha Bersama Sehati sebesar Rp368.870.000,00. Pendapatan usaha keripik singkong pada kelompok usaha bersama sehati yaitu senilai Rp36.414.166,00 per bulan, sedangkan pendapatan anggota kelompok sebesar Rp3.241.416,00 per bulan. Nilai R/C Ratio sebesar 11,155  sehingga usaha keripik singkong layak untuk diusahakan. 

The Implication of Spatial Ecology Dependence on Spatial Arrangement in Boundary Area

Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.521 KB)

Abstract

Land use changes in upstream cause flooding in the middle and downstreams so that appropriate spatial planning is required. The study aims to (1) analyze the forest management in ecologycal region percpective community, unilateral and bilateral on the boundary areas of Indonesia and Timor Leste, (2) analyze dependence of spatial-ecology with income farmers, and (3) analyze descriptively the spatial planning of border regions. The data used were secondary and primary data which were obtained from Indonesia and Timor Leste. Primary data sampling technique using multistage sampling, namely cluster sampling for the sample village representing the upstream, middle, and downstream of the watershed; while the sample of farmers using purposive sampling. The analysis used was descriptive analyisis which was used to analyze management of forest in ecologycal region on boundary area. Then, the spatial durbin model was used to analyze the dependence effect of spatial-ecology on farmer income in transboundary watershed. The spatial durbin model showed that farmers’ income in the downstream of transboundary watershed will be reduced because patterns of farming on upperstream transboundary watershed tends to be exploitative. This implication required administrative and spatial ecology perspective in boundary spatial planning.  

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Cabe Rawit Merah di Desa Tapenpah Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara

AGRIMOR Vol 3 No 1 (2018): AGRIMOR - January 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.326 KB)

Abstract

Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) merupakan salah satu kabupaten yang memiliki lahan pertanian yang luas dan potensial untuk berusahatani cabe rawit merah. Desa Tapenpah merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Insana yang masyarakatnya berusahatani cabe rawit merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran usahatani; 2) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi; dan 3) Break Event Point (BEP) usahatani cabe rawit merah di desa Tapenpah, kecamatan Insana, kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di desa Tapenpah, kecamatan Insana, kabupaten TTU pada bulan Apri- Juni 2017. Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode survei. Sampel diambil dengan metode sensus, sebanyak 15 orang dijadikan sampel. Untuk mengetahui gambaran usahatani digunakan metode analisis deskriptif kualitatif, untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani cabe rawit merah digunakan analisis Cobb-Douglas. Selanjutnya juga dihitung Break Event Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan usahatani cabe rawit merah di desa Tapenpah dilakukan secara monokultur dengan luas lahan yang berbeda-beda berkisar antara 9-25 are. Usahatani dilakukan dengan tahapan 1) persiapan berupa pembersihan lahan; 2) pengolahan lahan; 3) benih cabe rawit merah disemaikan; 4) penanaman dilakukan setelah bibit berumur 21 hari; 5) pemeliharaan; 6) panen; dan 7) buah cabe rawit merah disimpan pada tempat yang kering dan sejuk, kemudian cabe rawit merah dijual. Faktor modal, luas lahan, tenaga kerja, pengalaman usahatani, pendidikan petani, dan pupuk kandang secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi cabe rawit merah. Secara parsial faktor pengalaman usahatani, pendidikan petani dan pupuk kandang memiliki pengaruh yang positif, faktor tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produksi usahatani cabe rawit merah. Sedangkan modal dan luas lahan tidak berpengaruh terhadap produksi usahatani cabe rawit merah. Biaya produksi usahatani cabe rawit merah dalam satu kali musim tanam  Rp5.530.667,00 dengan harga jual ditingkat petani sebesar Rp60.000,00 per kilogram sehingga BEP rupiah sebesar Rp2.952.602,00 dan BEP unit sebesar 49 kg.