Muhdan Syarovy
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan 20158

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH BEBERAPA TINGKAT KEMASAKAN TERHADAP VIABILITAS BENIH TANAMAN ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.)

AGROEKOTEKNOLOGI Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Program studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara-Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.251 KB)

Abstract

Roselle is plant that have benefit for the prevention of disease. In Indonesia, productivity of roselleis still low. One factor contributing to low plant productivity is the low quality of the seeds. The lowquality of seeds have low vigor and viability. The aim of the research was to determine the viabilityof seeds roselle (Hibiscus sabdariffa L.) at different levels of ripening are conducted in SeedTechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan with a altitude± 25 m above sea level from May until July 2012 using completely randomized design with 6 levelof ripening that is 17 HSMB (day after anthesis flower), 21 HSMB, 25 HSMB, 29 HSMB, 33HSMB dan 37 HSMB. Parameters measured were seed dry weight, moisture content, germinationpercentage normal and seedling dry weight. The results showed that the level of ripeningsignificantly affect seed dry weight, moisture content, percentage normal germination and seedlingdry weight

OPTIMALISASI PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI TANAH SPODOSOL

Pertanian Tropik Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Pasca Sarjana FP USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin terbatasnya lahan yang optimal, membuat pengembangan kelapa sawit saat ini diarahkan ke lahan marginal. Lahan dengan jenis tanah spodosol merupakan salah satu lahan marginal yang telah dimanfaatkan untuk pengembangan kelapa sawit. Selain memiliki lapisan spodik, faktor pembatas lain dari tanah spodosol ialah memiliki tekstur kasar (terbentuk dari bahan pasir atau pasir berlempung) dengan iklim dingin dan tropika basah serta bersifat masam. Akibatnya, tanah tersebut memiliki kemampuan yang rendah dalam menahan air dan pencucian hara akan menjadi lebih tinggi. Pengolahan yang tepat sangat diperlukan agar kelapa sawit yang ditanam pada tanah spodosol dapat tumbuh dengan optimal. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi tanah spodosol dan tingkat kedalaman lapisan spodik, memperbaiki media pertumbuhan tanaman, memperbaiki iklim mikro dan pemupukan yang tepat.Kata kunci: Lahan marginal, kelapa sawit, spodosol

PERBAIKAN SIFAT-SIFAT DAN PENCEGAHAN HIDROFOBISITAS TANAH GAMBUT DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MELALUI APLIKASI TERAK BAJA

Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 24 No 1 (2016): Indonesian Journal of Oil Palm Research
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.933 KB)

Abstract

Pengembangan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dihadapkan pada permasalahan hidrofobisitas tanah gambut sebagai akibat dari drainase tanah gambut yang berlebihan. Hidrofobisitas menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan mengikat air dan hara tersedia dalam tanah. Selain penerapan tata air yang tepat, ameliorasi tanah gambut dengan bahan kaya besi (seperti terak baja) diduga dapat meningkatkan stabilitas tanah gambut dan memperbaiki kesuburannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi terak baja terhadap perubahan sifat-sifat tanah dan kaitannya dengan hidrofobisitas tanah gambut. Tanah gambut yang diteliti diinkorporasikan dengan terak baja dan diinkubasi selama 60 hari. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 2 x 2 x 4. Faktor pertama merupakan kematangan gambut yang terdiri dari 2 taraf yaitu saprik (S) dan hemik (H), sedangkan faktor kedua merupakan kelembaban tanah yang terdiri dari 2 taraf yaitu kapasitas lapang (W1) dan kadar air di bawah kadar air kritis (W2). Sementara itu, faktor ketiga merupakan aplikasi terak baja yang terdiri dari 4 dosis yaitu tanpa (TB0); 7,17 g/pot (TB1); 14,81 g/pot (TB2); dan 22,44 g/pot (TB3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan terak baja sebagai bahan amelioran nyata meningkatkan pH tanah, kadar abu, dan kadar air teretensi pada pF 4,2. Aplikasi terak baja secara nyata berpengaruh terhadap penurunan waktu untuk menyerap air kembali pada tanah gambut saprik. Selain itu, waktu penetrasi air ke dalam tanah gambut berkorelasi negatif dengan pH tanah, kadar abu dan kadar air teretensi pada pF 4,2. Secara keseluruhan, penambahan terak baja dapat meningkatkan kemampuan tanah gambut untuk menyerap air kembali dan mencegah terjadinya hidrofobisitas.

PEMANFAATAN BAKTERI ENDOFIT UNTUK MENINGKATKAN KERAGAAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 26 No 2 (2018): Indonesian Journal of Oil Palm Research
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.806 KB)

Abstract

Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman, tidak berbahaya bagi tanaman inang, dan berasosiasi dengan tanaman untuk mendukung kesehatan tanaman. Peran bakteri endofit diantaranya adalah penambat nitrogen bebas udara, menghasilkan fitohormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman seperti IAA dan sitokinin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh inokulasi bakteri endofit dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit, serapan hara, dan potensi pengurangan dosis urea. Penelitian ini dilaksanakan di pembibitan kelapa sawit Kebun Aek Pancur pada tahap main nursery sejak umur 3 bulan hingga 9 bulan. Perlakuan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Perlakuan terdiri dari (1) kontrol; (2) 100% pupuk standar; (3) 25% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N25); (4) 50% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N50); (5) 75% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N75); dan (6) 100% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B1N75 merupakan kombinasi perlakuan terbaik yang ditunjukkan dengan tingginya nilai efektif agronomi nisbi (EAN) 5,5% lebih tinggi dari standard dan memiliki performa keragaan serta produksi biomassa kering yang setara dengan 100% pemupukan nitrogen anorganik. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi bakteri endofit dalam penelitian ini mampu menurunkan penggunaan pupuk urea hingga 25%.

EFEK KEKERINGAN DAN GANGGUAN ASAP TERHADAP EKOFISIOLOGI DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA SAWIT DI SUMATRA SELATAN

Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 25 No 3 (2017): Indonesian Journal of Oil Palm Research
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.781 KB)

Abstract

Kekeringan panjang, kebakaran lahan, dan gangguan asap terjadi selama El Niño 2015 di Indonesia. Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui dampak kekeringan panjang dan gangguan asap terhadap ekofisiologi tanaman kelapa sawit di Kebun Dawas, Sumatra Selatan. Penelitian dilakukan dengan menghimpun data curah hujan, visibilitas, pertambahan pelepah kelapa sawit, laju fotosintesis, Photosinthetically Active Radiation (PAR), dan aktivitas serangga Elaeidobius kamerunicus pada TBM dan TM saat sebelum, ketika, dan sesudah terjadinya cekaman kekeringan dan gangguan asap. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defisit air terjadi pada Juli, Agustus, September dan Oktober berturut-turut sebesar 45, 92, 80, dan 148 mm. Jumlah bulan kering (≤ 60mm) adalah 2 bulan, sementara hari terpanjang tidak hujan (dry spell) terjadi 3 kali yaitu selama Juni-Juli (33 hari), Agustus-September (42 hari), dan September-Oktober (40 hari). Gangguan asap terjadi pada Agustus-November dengan penurunan visibilitas mencapai 80%. Selama periode cekaman kekeringan dan gangguan asap tersebut,terjadi penurunan pertambahan pelepah baru, laju fotosintesis dan penurunan produksi di tahun berikutnya. Gangguan asap juga mengakibatkan penurunan kunjungan serangga Elaeidobius kamerunicus ke bunga betina hingga 95%.

Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Performa Fisiologis Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)

Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Saat ini, tercatat lebih dari 10.000 hektar tanaman kelapa sawit di Indonesia telah dikembangkan pada lahan dengan ketinggian tempat lebih dari 600 m di atas permukaan laut (dpl). Budidaya kelapa sawit di dataran tinggi dihadapkan pada beberapa faktor pembatas seperti rendahnya suhu, tingginya kelembaban dan curah hujan, serta terbatasnya lama penyinaran matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisiologis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di empat lokasi dengan ketinggian tempat yang berbeda yaitu: 50, 368, 693, dan >865 m dpl. Penelitian dilakukan pada tanaman kelapa sawit berumur 7-8 tahun. Peubah yang diamati adalah peubah lingkungan/iklim serta performa fisiologis tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik fisiologis tanaman seperti laju fotosintesis, laju transpirasi, konsentrasi CO2 interseluler, dan dimensi stomata dari tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada dataran tinggi lebih rendah dibanding proses fisiologis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada dataran yang lebih rendah. Akan tetapi tingkat prolin dan aktivitas enzim nitrate reductase yang lebih tinggi dimiliki oleh tanaman yang berada pada dataran tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa karakteristik fisiologi tanaman kelapa sawit yang optimum terdapat pada tanaman yang berada pada dataran dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl.Abstract. Nowadays, more than 10,000 hectares of oil palm plantations in Indonesia have been cultivated at the altitude of > 600 m above sea level (asl). The cultivation of oil palm in the higher altitude is subjected to several limiting factors such as low temperature, high humidity and rainfall, and also short daily duration of solar radiation. This study was conducted to evaluate the physiological characteristics of oil palm planted at four altitudes: 50, 368, 693, and 865 m asl. The study was employed for 7-8 years old oil palm. The environmental (climate) and physiological performance variables were measured. The results showed that oil palm planted at the higher altitudes had lower rates of photosynthesis, transpiration, lower intercellular CO2 concentration and lower stomata dimension compared to oil palm cultivated at the lower altitudes. However, the proline level and the activity of nitrate reductase of palm cultivated on the higher altitudes were higher than that of the palm cultivated at the lower altitudes. This research results reconfirm that, the optimum physiological characteristics of oil palm were observed at the altitude of less than 600 m asl.