Articles

Found 23 Documents
Search

TINGKAT EFISIENSI TEKNIS USAHATANI PADI SAWAH DI DESA TAMBAKJATI, KECAMATAN PATOKBEUSI, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT

Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 4, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Faculty of Agriculture, University of Galuh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subang Regency is the third rice production center in West Java. Rice farming has become the main activity and hereditary in the District Patokbeusi. However, in 2016, Patokbeusi sub-district decreased rice productivity by 1.4 tons/ha. In this study aims to analyze the technical efficiency level of rice farming, and to knew the factors that affect farm productivity. This research was conducted in Tambakjati Village, Patokbeusi Subdistrict, Subang Regency, West Java. Data collection technique was conducted by survey with sampling method to rice farmer, which amounted to 55 people. The design of this studied is quantitative to express the effect of production factors on farming productivity. This research method used analysis of Cobb-douglas production function with stockastic frontier approach to knew the level of technical efficiency. The results showed that the average technical efficiency level of rice farming is 0,037. It means that rice farming in Tambakjati Village has not been efficient in using input production yet, so its use should be added. Production factors that have significant effect (? = 5%) on farming productivity are land, labour, seed, urea, and SP-36.Keywords: Rice farming, technical efficiency, stockastic frontier

EFEKTIFITAS APLIKASI AIR SENI SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN STEK SULUR TANAMAN CABE JAMU (Piper retrofractum Vahl.)

Agrovigor Vol 2, No 2 (2009): SEPTEMBER
Publisher : Agrovigor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.16 KB)

Abstract

This research aims to determine the type of best plants vine of the long pepper as cuttings material and to determine the effectiveness of cow urine fertilizer in improving growth of cuttings. Research conducted during the dry season 2008 in the Demangan village Bangkalan district with 20-50 m height above sea level (asl), 25-33oC temperature and soil pH 5,5-6,5. Research designed factorial, consisting of 2 factors and 3 times replications using Random Design Group. The first factor is the type of vine cuttings consisting of: soil vine cutting (S1), climbing vine cuttings (S2), fruit vine cutting (S3) and the second factor is the application of cow urine fertilizer consisting of: no cows urine (P0) , fresh cows urine (P1), cow urine was fermented with EM4 (P2) each with a dose of 2 ml/20 ml water / plant given every 2 weeks until the cuttings was 12 weeks after planting (MST). The observed parameters include the bud emerge, amount of leaves and leaf area of plants, amount of roots and total plant dry weight. The results showed that there are interactions between the 2 factors tested against the number of roots and total plant dry weight, leaf area parameters are influenced only byvine cuttings type while the bud emerge andamount of leaves was not influenced by either factor. Climbing vine cuttings is the best type of long pepper vine because it has the highest leaf area, amount of roots and total dry weight. Cow urine fertilizer giving positive effect on the growth of cuttings, which fermented cow urine have better effect than fresh cow urine.

BIMBINGAN KELOMPOK SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN MORAL ANAK

KONSELING RELIGI Vol 6, No 1 (2015): KONSELING RELIGI
Publisher : KONSELING RELIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.025 KB)

Abstract

Membahas tentang anak adalah sebuah fase yang masih sangat membutuhkan bantuan bimbingan dan arahan untuk mengetahui banyak hal tentang kehidupan, dengan segala potensi yang sudah dimiliki. Sehingga pemahaman  tentang moral anak perlu dilakukan oleh orang dewasa (orang tua, guru, masyarakat) agar sejak dini sudah tertanam tentang batasan boleh dan tidaknya serta kejelasan sanksi “pelanggaran”, sehingga  anak siap untuk memasuki tugas perkembangan berikutnya.  Dengan ciri khas karakteristik anak adalah awal bersosialisasi  dengan lingkungan sosial yang lebih luas maka anak-anak cenderung memiliki keinginan untuk diterima oleh kelompok bermain (peer group), meskipun nilai-nilai keluarga  tetap menjadi pedoman perilaku anak karena sudah terjadi pembiasaan.Kondisi  tersebut yang memungkinkan bimbingan kelompok dalam upaya membentuk moral anak. Dengan berkelompok (memiliki beberapa kesamaan), maka anak akan saling mencontoh dengan arahan keteladanan dari pembimbing. Selain bimbingan kelompok, lingkungan yang kondusif akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak untuk mentaati norma yang berlaku, sehingga pembentukan moral anak terhindar dari tekanan ketakutan.  Karena untuk memahamkan pada anak bahwa aturan (norma sosial dan norma agama) dalam kehidupan bermasyarakat agar terjadi keteraturan (ketentraman) dan saling membantu mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki oleh seorang anak yang merupakan generasi penerus yang berprestasi dan membanggakan. Dengan moralitas, maka anak-anak akan mampu  untuk  menjalani tugas-tugas perkembangan dan memenuhi semua kebutuhan sesuai dengan norma yang berlaku.Kata Kunci: BK Kelompok, Moral AnakCOUNSELING GROUP EFFORT AS A MORAL FORMATION OF CHILDREN.Discusses Child is a phase that still need guidance and direction to help determine a lot of things about  life, with all the potential that is already owned. So the moral understanding of children needs to be done by adults (parents, teachers, community) that is  embedded   early  on allowed  limits  and the  presence and clarity  of sanctions  “offense”, so  that children  are  ready  to enter the next development task. With the typical characteristics of children is beginning to socialize with the wider social environment, the  children tend to have  a desire  to be  accepted  by the  group play(peergroup),although the family values remain a guideline for the child’s behavior has occurred habituation. The conditions that allowed the guidance of the group in order to form the morals. With the group (has some similarities), then the child will imitate  each other with referrals exemplary of the supervisor. In addition to group counseling , an enabling environment will provide an enjoyable experience for the child to obey the norm, so the moral formation of children avoid the pressure of fear. Due to hang on a child that the rules (norms of social and religious norms) in public life to occur regularity (tranquility) and mutual help optimize the potential that has been owned by a child who is the next generation that their achievement. With morality, then the children will be able to undergo developmental tasks and meet all requirements in accordance with norms.Keywords: BK group, Moral Children

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MENDONGKRAK KECERDASAN BAHASA MELALUI KEGIATAN MENDONGENG

Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 13(1), 2017
Publisher : Pusat Studi Wanita, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.333 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemerolehan bahasa anak usia 2-3 tahun pada tataran morfologi (kelas kata verba dan nomia) dan mengetahui hubungan mendongeng dengan kecerdasan bahasa anak. Penelitian ini terfokus pada pemerolehan bahasa Dzakiyaturrohmah Hardiyana anak usia 2 tahun 11 bulan hingga usia 3 tahun 5 bulan yang diberikan stimulasi berupa kegiatan mendongeng dalam kegiatan bermain dan pola pengasuhan selama proses penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus.

TINGKAT PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI

JURNAL AGRIBISNIS TERPADU Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Agribisnis Terpadu
Publisher : Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Hegarmanah Kabupaten Sumedang. Desa Hegarmanah tahun 2011 merupakan desa yang memiliki luas panen padi sawah terluas dibandingkan desa-desa lainnya yaitu seluas 242 hektar, pada tahun 2014 luas sawah menjadi 86,82 hektar dan akan semakin berkurang dari tahun ke tahun akibat dari alih fungsi lahan ke non pertanian. Tujuan Penelitian adalah mengetahui karakteristik usahatani padi di Desa Hegarmanah dan menganalisis tingkat pendapatan dan kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap struktur pendapatan petani. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik penelitian study kasus (case study). Rancangan analisis usahatani diperlukan untuk mengetahui besarnya penerimaan petani dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian diperoleh 81,25 persen petani menjual sebagian hasil produksinya (semi komersial) dan 25 persen petani menjual hasil usahatani, 18,75 persen petani tidak menjual hasil usahataninya. Petani dengan kuantitas penjualan terbesar hanya mencapai 42 kwintal atau sekitar 75 persen dari keseluruhan hasil produksinya. R/C ratio petani lebih besar dari 1 artinya usahatani padi yang dilakukan menguntungkan. Kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap pendapatan total petani sangat bervariasi mulai 12 persen hingga 100 persen, Sebagian petani memang masih menggantungkan hidupnya dari usahatani padi, tambahan penghasilan diperoleh dari peternakan dan tanaman perkebunan, usaha kost-kostan, usaha industri pengolahan, jasa dan perdagangan.

STRATEGI ADOPSI TEKNOLOGI PERTANIAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI DI KABUPATEN SUMEDANG

Agricore Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas pertanian adalah melalui penerapan teknologi. Percepatan adopsi teknologi akan dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani. Penelitian ini  bertujuan merumuskan strategi adopsi teknologi pertanian berdasarkan karakteristik sosial ekonomi petani di Kabupaten Sumedang. Subjek penelitian ini adalah 4784 petani yang tersebar di 76 Desa yang terletak di 18 Kecamatan di Kabupaten Sumedang. Pemilihan lokasi didasarkan pada ketersediaan lahan pertanian yang mendapat program perluasan sawah.  Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisoner, dan diperdalam dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam, serta observasi terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya,  serta lingkungan lokasi studi. Hasil penelitian menunjukkan usia petani mayoritas diatas 50 tahun (77,87%), 2) pendidikan rendah (SD : 89,21%) , 3) penguasaan lahan ≤ 0,25 hektar perpetani (58,28%), dan 4) tanggunan keluarga  1- 7 orang.  Strategi yang dilakukan berdasarkan usia dan pendidikan adalah melalui 1) Pembentukan kelompok tani dan penguatan kelembagaan, 2) Teknologi yang diterapkan sederhana, tepat guna dan telah teruji, 3) Penggunaan metode penyuluhan yang mudah dipahami, 4) Pemberdayaan agen penyuluhan. Strategi yang dilakukan berdasarkan penguasaan lahan adalah contoh nyata penerapan konsolidasi lahan dan penerapan teknologi spesifik lokasi pada lahan berbukit, dan strategi yang dilakukan untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya pertanian adalah melalui sistem gotong royong berbasis kelompok dan contoh nyata penerapan teknologi pertanian. 

KONTRIBUSI USAHA TUMPANGSARI KEDELAI ERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI KEDELAI DI SENTRA PRODUKSI JAWA BARAT

Agricore Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai merupakan bahan pangan yang menduduki posisi strategis, ketergantungan impor kedelai berdampak kurang baik untuk menjaga keamanan pangan, karena impor kedelai menyedot devisa negara, dan adanya kerawanan pasokan jika penurunan nilai tukar rupiah, akibatnya berdampak pada kesetabilan harga kedelai nasional. Oleh karena itu diperlukan upaya megembangkan kedelai lokal yang didukung oleh petani. Tujuan penelitin ini untuk menganalisis peranan usahatani kedelai tumpangsari terhadap pendapatan keluarga tani  Penelitian dilaksanakan di sentra produksi kedelai Jawa Barat. Metoda yang digunakan adalah metoda survey, data yang digunakan terdiri data primer (dari petani) dan data secunder.  Data  dianalisis menggunakan analisis matematik dan deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan, usahatani kedelai tumpangsari memberikan kontribusi cukup besar terhadap pendapatan petani. Selain itu tanaman tumpangsari (non kedelai) memberikan pendapatan tambahan, pendapatan berkelanjutan dan turut menjaga kegagalan usahatani.Kata kunci: kedelai, tumpangsari, pendapatan, Jawa Barat.

PROPORSI PENGELUARAN RUMAH TANGGA PETANI PADI DI DESA PATIMBAN, KECAMATAN PUSAKANAGARA, KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT

MIMBAR AGRIBISNIS: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 4, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subang Regency is the third rice production center in West Java. Be as a rice production center did not make the resident of Subang Regency to food security. According to production and industry data West Java Province in (2017), Subang Regency received rastra that reached 112.891 KPM. Rastra is one of the instruments to reduce the problem of poverty and food insecurity. This research purposes are to analyze the household characteristic and proportion of household expenditure of rice farmers. This research was conducted in Patimban Village, Pusakanagara Subdistrict, Subang Regency, West Java. The data collecting technique was conducted by the questionnaire with 51 household of rice farmers responden who received rastra using by Simple Random Sampling.  The method of this research used by survey with statistic descriptive analyze to know characteristic and proportion of household expenditure of rice farmer by BPS (2017) consisting of 14 indicators of food and 6 indicators of non-food.  The result show characteristic of the household rice farmers: the average productive age (92%), the education level is elementary school (53%), the status of land as tillers (51%), the average of the land area is 0.75ha, total of dependant family 3-4 peoples (70%), income per month is IDR 3.578.275,00. The proportion of average expenditure per month of household of rice farmer is Rp 2.794.891,00 that consist of Rp 1.667.324,00 for food expenditure and Rp 1.127.567,00 for non-food expenditure.Keywords: Rice, food security, household of farmer, proportion, expenditure

PENERAPAN METODE SYSTEM LIFE CYCLE DEVELOPMENT DAN PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE PADA PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

IKRAITH-INFORMATIKA Vol 2 No 2 (2018): IKRAITH INFORMATIKA VOL 2 NO 2 Juli 2018
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.013 KB)

Abstract

Pengembangan sistem dilakukan dengan memperbaiki atau mengganti sistem yang lama menjadi barudisebabkan karena beberapa hal, seperti: adanya permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistemyang lama yang timbul karena ketidakberesan dan pertumbuhan organisasi, untuk meraih kesempatan-kesempatan(opportunities), dan adanya instruksi-instruksi (directives)disebabkan karena beberapa hal, seperti: adanyapermasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama yang timbul karena ketidakberesan danpertumbuhan organisasi, untuk meraih kesempatan-kesempatan (opportunities), dan adanya instruksi-instruksi(directives). Fakta-fakta penyebab kegagalan proyek pengembangan sistem informasi disebabkan karena buruknyakomunikasi antara pihak-pihak terkait, baik pengembang maupun pemilik proyek; kurang baiknya perencanaanproyek; buruknya pengendalian kualitas pekerjaan; buruknya pengetahuan dan penggalian kebutuhan bisnis;kurangnya keterlibatan dan dukungan management; kurangnya keterlibatan user dalam pengembangan sistem,kurangnya sumberdaya manusia proyek; dan harapan/ekspektasi yang berlebihan dari owner terhadap kapabilitassistem yang dibangun. Best practice SDLC dan PMBOK diharapkan mampu mengatasi permasalahan di atas yangterletak pada inti pentingnya komunikasi dalam proyek, perencanaan yang matang, pengendalian kualitas yangmengacu pada standar yang telah ditetapkan, perencanaan proyek, user and business needs, serta perlunyaexecutive support.

BIMBINGAN KELOMPOK SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN MORAL ANAK

KONSELING RELIGI Vol 6, No 1 (2015): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.025 KB)

Abstract

Membahas tentang anak adalah sebuah fase yang masih sangat membutuhkan bantuan bimbingan dan arahan untuk mengetahui banyak hal tentang kehidupan, dengan segala potensi yang sudah dimiliki. Sehingga pemahaman  tentang moral anak perlu dilakukan oleh orang dewasa (orang tua, guru, masyarakat) agar sejak dini sudah tertanam tentang batasan boleh dan tidaknya serta kejelasan sanksi “pelanggaran”, sehingga  anak siap untuk memasuki tugas perkembangan berikutnya.  Dengan ciri khas karakteristik anak adalah awal bersosialisasi  dengan lingkungan sosial yang lebih luas maka anak-anak cenderung memiliki keinginan untuk diterima oleh kelompok bermain (peer group), meskipun nilai-nilai keluarga  tetap menjadi pedoman perilaku anak karena sudah terjadi pembiasaan.Kondisi  tersebut yang memungkinkan bimbingan kelompok dalam upaya membentuk moral anak. Dengan berkelompok (memiliki beberapa kesamaan), maka anak akan saling mencontoh dengan arahan keteladanan dari pembimbing. Selain bimbingan kelompok, lingkungan yang kondusif akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak untuk mentaati norma yang berlaku, sehingga pembentukan moral anak terhindar dari tekanan ketakutan.  Karena untuk memahamkan pada anak bahwa aturan (norma sosial dan norma agama) dalam kehidupan bermasyarakat agar terjadi keteraturan (ketentraman) dan saling membantu mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki oleh seorang anak yang merupakan generasi penerus yang berprestasi dan membanggakan. Dengan moralitas, maka anak-anak akan mampu  untuk  menjalani tugas-tugas perkembangan dan memenuhi semua kebutuhan sesuai dengan norma yang berlaku.Kata Kunci: BK Kelompok, Moral AnakCOUNSELING GROUP EFFORT AS A MORAL FORMATION OF CHILDREN.Discusses Child is a phase that still need guidance and direction to help determine a lot of things about  life, with all the potential that is already owned. So the moral understanding of children needs to be done by adults (parents, teachers, community) that is  embedded   early  on allowed  limits  and the  presence and clarity  of sanctions  “offense”, so  that children  are  ready  to enter the next development task. With the typical characteristics of children is beginning to socialize with the wider social environment, the  children tend to have  a desire  to be  accepted  by the  group play(peergroup),although the family values remain a guideline for the child’s behavior has occurred habituation. The conditions that allowed the guidance of the group in order to form the morals. With the group (has some similarities), then the child will imitate  each other with referrals exemplary of the supervisor. In addition to group counseling , an enabling environment will provide an enjoyable experience for the child to obey the norm, so the moral formation of children avoid the pressure of fear. Due to hang on a child that the rules (norms of social and religious norms) in public life to occur regularity (tranquility) and mutual help optimize the potential that has been owned by a child who is the next generation that their achievement. With morality, then the children will be able to undergo developmental tasks and meet all requirements in accordance with norms.Keywords: BK group, Moral Children