RAHMAT SYAHNI
Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Functional Response of the Parasitoid Eriborus argenteopilosus (Cameron) to Crocidolomia pavonana (Fabricius) under Different Temperature

HAYATI Journal of Biosciences Vol 12, No 1 (2005): March 2005
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.271 KB)

Abstract

The functional response of the parasitoid Eriborus argenteopilosus (Cameron) (Hymenoptera: Ichneumonidae) were studied using Crocidolomia pavonana (Fabricius) (Lepidoptera: Pyralidae) larvae as host at different densities. All larvae were exposed to one E. argenteopilosus female for three hours at three different temperatures, i.e 20 oC, 25 oC, and 30 oC. Data were analyzed using logistic regression to determine the type of functional response. At 20 oC E. argenteopilosus showed type II functional response, while at 25 oC and 30 oC the functional response is type III. Based on surface analysis, the optimal parasitism rate occurred at 22.24 oC with 10.12 larvae parasitized/hour. The larvae density to achieve optimal parasitism rate was 69.38 larvae. The optimal oviposition rate was 12.59 eggs/hour which occurred at 24.41 oC, using a density of 94.54 larvae.

Pengaruh Suhu terhadap Perkembangan Pradewasa Parasitoid Eriborus argenteopilosus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae)

Jurnal Natur Indonesia Vol 13, No 03 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.996 KB)

Abstract

Temperature effect on development time of the preadult parasitoid Eriborus argenteopilosus Cameron(Hymenoptera: Ichneumonidae) were studied to know development time, degree days and survival rate.Crocidolomia pavonana (Fabricius)(Lepidoptera: Pyralidae) larvae was exposed to E. argenteopilosus female andreared at four different temperatures i.e 160C, 200C, 250C and 300C. Data were analyzed using anova and linearregression to calculate degree day. At 200C E. argenteopilosus showed the highest degree day and survival rate(18.67 %), while at 300C nothing adult parasitoid emergenced. Degree day to development time of parasitoid attemperature 200C i.e fase egg-adult: 300.05; egg-pupae 173.35; pupae-adult 171.

KETERGANTUNGAN MASYARAKAT TERHADAP KAWASAN TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT PASCA PELAKSANAAN KEGIATAN KONSERVASI TERPADU

Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.171 KB)

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis dampak dari pelaksanaan program Integrated Conservation and Development Project (ICDP) pada kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Program ICDP dalam pengelolaan TNKS telah dimulai sejak tahun 1998 dan berakhir pada tahun 2002. Pertanyaan utama yang diajukan adalah apakah pelaksanaan program ICDP dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya di dalam kawasan TNKS dan sejauh mana pengaruh program ICDP serta faktor faktor-faktor sosial ekonomi lainnya terhadap pendapatan masyarakat, baik pendapatan dari sumberdaya di dalam kawasan TNKS maupun pendapatan dari luar kawasan TNKS sebagai alternatif pola pengembangan kedepan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Napal Licin dan Desa Pulau Kidak, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan yang termasuk desa-desa penyangga TNKS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program ICDP tidak dapat menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan TNKS, terutama terhadap lahan perladangan. Pelaksanaan program ICDP belum mampu menurunkan pendapatan masyarakat dari dalam kawasan TNKS, disamping itu juga belum mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dari luar kawasan TNKS. Dalam rangka melaksanakan kegiatan konservasi TNKS, maka kegiatan perladangan di dalam kawasan TNKS harus dihentikan. Sebagai kompensasinya disarankan untuk meningkatkan akses masyarakat dalam pemanfaatan zona pemanfaatan khusus TNKS secara legal sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat yang tidak mengakibatkan kerusakan kawasan TNKS tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi.  Pola penanaman karet secara tradisional (non intensif) pada zona pemanfaatan khusus merupakan pilihan yang lebih baik dalam rangka pelestarian kawasan TNKS dan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.