Articles
83
Documents
Pertumbuhan dan Hasil Dua Klon Ubijalar dalam Tumpang Sari dengan Jagung

Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 34, No 2 (2006): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.068 KB)

Abstract

An experiment to evaluate the growth and yield of two sweetpotato clones in intercropping with maize was conducted in IPB experimental farm in Sawah Baru from December 2004 to April 2005. In intercropping, the two sweetpotato clones of CIP-1 and CIP-6 were planted among to maize rows.  Planting space of sweet potato was 100 cm x 25 cm and maize was 100 cm x 12.5 cm in a plot size of 3 m x 3 m. Besides, the two crops were also planted in monoculture. The experiment was designed as a Randomized Block Design (RBD) and replicated three times. Dry matter of stem, leaves, and roots of the two sweet potato clones in intercropping were lower than in monoculture.  The same response occurred for yield of storage root.  The storage root weight of sweet potato clone, respectively, in monoculture and intercropping was 1.350 and 2.533 kg plot-1 of CIP-1 and 3.167 and 11.083 kg plot-1 of CIP-6.  On the other hand, there was no significance difference in growth and yield of maize in monoculture (3.35 kg plot-1) and intercropping (3.13 kg plot-1).  Land equivalent ratio of the intercropping maize with CIP-1 and CIP-6 were 1.7 and 1.4, respectively.  It means that land productivity can be increased by those intercropping.   Key words: Sweet potato clones, intercropping, maize

INOVASI PEMANFAATAN ABU SEKAM DARI PENGUSAHA BATU BATA UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN PADI GUNA MENUNJANG PEMBERDAYAAN PETANI

Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 31, No 1 (2016): March
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice husk ash is now mostly used as rub ash. Rice husk ash contains very high silicate that is needed by cereal crops, especially rice plants. The purpose of this study to examine the use of rice husk ash in increasing the production of rice plants, that can be used to support the empowerment of farmers. The research method using field trials with Randomized Complete Block Design (RCBD) consisting of one factor (husk ash) and 8 levels ie I0 (0 kg), I1 (100 kg / ha), I2 (200 kg / ha), I3 ( 300 kg / ha), I4 (400 kg / ha), I5 (500 kg / ha), I6 (600 kg / ha), I7 (700 kg / ha) were repeated three times. The results showed that rice husk ash can be used to increase the production of rice plants, that can be used as an empowering farmers. The highest results of this study are: the number of productive tillers per clump 24.81, grain weight per clump 139.67 g, grain weight per plot 3051 g and grain production 10.17 tons / ha in treatment with husk ash 500 kg / ha. The farmers in the surrounding areas are very interested in using.

Pengembangan The Two-Tier Diagnostic Tes pada Bidang Biologi secara Terkomputersisasi

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 14, No 2 (2010)
Publisher : Graduate School, Yogyakarta State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian bertujuan mengembangkan tes diagnostik dua tingkat (the two-tier diagnostic test) pada bidang biologi dan mengembangkan program komputer untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa. Tes disusun melalui tiga fase, yaitu (1) defining the content boundaries; (2) identifying students’ misconceptions; dan (3) developing instrument. Pengembangan program komputer terkait dengan soal, siswa, tabel kerja, SQL (Structured Query Language), ketuntasan, dan grade. Tes diagnostik yang dikembangkan ada 3, yaitu tes A, tes B, dan tes C. Responden untuk tes A dan tes B ada 130 siswa dan untuk tes C ada 128 siswa. Analisis statistik dilakukan dengan program iteman versi 3,00. Program komputer yang dikembangkan diujicobakan di SMAN 1 Tawangsari dan SMA Veteran 1 Sukoharjo. Hasil penelitian adalah Tes A terdiri atas 73 butir, dengan rentang kesulitan butir 0,031-0,962, rentang daya beda butir 0,013-1,000 dan reliabilitas 0,871; Tes B terdiri atas 39 butir, dengan rentang kesulitan butir 0,038-0,762, rentang daya beda butir 0,009-0,918 dan reliabilitas 0,768; dan Tes C terdiri atas 79 butir, dengan rentang kesulitan butir 0,102-0,938, daya beda butir 0,029-1,000 dan reliabilitas 0,894. Program komputer untuk mendiagnosis kesulitan belajar telah berfungsi dengan baik. Kata kunci: tes terkomputerisasi

DAMPAK PENGGUNAAN OVITRAP YANG DIBUBUHI TEMEPHOS TERHADAP ANGKA LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 10, No 4 (2000)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.

A PRELIMINARY STUDY OF MALAYAN FILARIASIS IN PUDING VILLAGE, JAMBI PROVINCE (SUMATERA), INDONESIA

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 12, No 1 Mar (1984)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa daerah di Propinsi Jambi akan dikembangkan menjadi daerah transmigrasi, satu di antara­nya adalah daerah Kumpeh yang terletak berdekatan dengan daerah endemik filariasis malayi. Desa yang paling dekat dengan lokasi transmigrasi tersebut adalah desa Puding. Penelitian pendahuluan tentang penyakit filariasis telah dikerjakan di desa Puding untuk mengetahui tingkat endemisitas, periodisitas B. malayi, fauna nyamuk, jenis nyamuk yang potensial menjadi vektor filariasis, hospes reservoir dan keadaan sosial-ekonomi-budaya penduduk setempat. Mf rate pada penduduk desa Puding adalah 18,7% dan dari B. malayi jenis subperiodiknokturna. Nyamuk yang tertangkap terdiri dari enam genera yaitu genus Anopheles, Aedes, Culex, Coquilletidia, Mansonia dan Tripteroides. Dari enam genera tersebut yang potensial untuk menjadi vektor filariasis adalah genus Mansonia dan ini didukung dengan diketemukannyd larva stadium L3 (infektif) Brugia sp di tubuh nyamuk tersebut. Keadaan sosial-ekonomi-budaya, khususnya menyangkut adat istiadat dan kebiasaan penduduk setempat, telah dipelajari.

STUDIES OF FILARIASIS IN KEBAN AGUNG AND GUNUNG AGUNG VILLAGES IN SOUTH BENGKULU, SUMATERA, INDONESIA I: The mosquito fauna with reference to seasonal studies of two Anopheles and Culex tritaeniorhynchus

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 11, No 1 Mar (1983)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A large number of reports on mosquitoes of Sumatera and neighbouring islands reveal that 198 species have thus far been discovered (Brug & Haga, 1923; Brug, 1931; Brug & Edwards, 1931; Swellengrebel & Rodenwaldt, 1932; Brug, Bonne-Wepster, 1947; Bonne-Wepster & Swellengrebel, 1953; Bonne-Wepster, 1954; Waktoedi, 1954; Reid, 1968; Lien et al., 1975). All these report were based on short-term surveys, and most were from South Sumatera. Longitudinal studies of mosquito vectors of malayan filariasis during this study for a 24-month period in two villages were carried out. All mosquito species were collec­ted, identified and recorded. The present paper presents the mosquito fauna in the study areas, and discusses (1) the seasonal variations of Culex tritaeniorhynchus, Anopheles peditaenia-tus, and An. nigerrimus, and (2) the parous rate of two Anopheles species.

STUDIES OF FILARIASIS IN KEBAN AGUNG AND GUNUNG AGUNG VILLAGES IN SOUTH BENGKULU, SUMATERA, INDONESIA III: Natural and artificial infections of vector mosquito species

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 12, No 1 Mar (1984)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejumlah 13.133 nyamuk yang terdiri dari 4 species Mansonia spp dan 5.629 nyamuk yang terdiri dari dua species Anopheles spp dari desa Keban Agung dan Gunung Agung telah diperiksa dengan jalan pembedahan untuk mengetahui adanya infeksi larva Brugia, selama periode 24 bulan. Infeksi larva Brugia pada nyamuk Mansonia spp lebih tinggi daripada pada nyamuk Anopheles spp. Pada semua species nya­muk Mansonia pernah ditemukan mengandung larva Brugia stadium 3 (stadium infektif) sedangkan pada Anopheles tidak pernah ditemukan larva Brugia stadium ini. Dalam percobaan penginfeksian dengan penderita filariasis (B. malayi) dengan empat species Mansonia dan lima species Anopheles terbukti bahwa semua species Mansonia rentan terhadap B. malayi sedangkan pada Anopheles hanya 2 species yang dapat diinfeksi.

STUDIES OF FILARIASIS IN KEBAN AGUNG AND GUNUNG AGUNG VILLAGES IN SOUTH BENGKULU, SUMATERA, INDONESIA IV: Ecological and seasonal aspect of four Mansonia species

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 12, No 1 Mar (1984)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian mengenai nyamuk Mansonia spp. di desa Gunung Agung dan Keban Agung, Beng­kulu Selatan ternyata nyamuk Ma. bonneae dan Ma. annulata lebih banyak ditangkap daripada Ma. dives dan Ma. uniformis. Habitat nyamuk ini adalah rawa-rawa buatan atau daerah-daerah pinggiran hutan. Secara umum tidak ada hubungan antara curah hujan dan kepadatan nyamuk jenis Mansonia spp. Dari penelitian distribusi vertikal ternyata Ma. bonneae dan Ma. dives lebih banyak tertangkap di tempat yang tinggi sedangkan Ma. uniformis dan Ma. annulata di tempat yang rendah.

STUDIES OF FILARIASIS IN KEBAN AGUNG AND GUNUNG AGUNG VILLAGES IN SOUTH BENGKULU, SUMATERA, INDONESIA : II Field identification of Mansonia Bonneae and Mansonia Dives

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 12, No 1 Mar (1984)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyamuk Mansonia bonneae/dives adalah vektor potensial untuk penyakit filariasis malayi. Dua species ini mempunyai bentuk morfologi yang mirip sekali hanya dibedakan dengan ada tidaknya sisik-sisik di antara rambut-rambut di atas pangkal sayap (supra-alar scale) dan bentuk gigi sisir (comb teeth) pada tergit segmen abdomen ke-8. Sisik-sisik di atas pangkal sayap tersebut mudah sekali lepas sehingga sulit untuk membedakan Ma. dives dan Ma. bonneae. Penelitian untuk membedakan dua species ini secara morfologi telah dikerjakan yang kemudian hasilnya dicocokkan dengan bentuk gigi sisir untuk masing-masing species. Hasil pengamatan secara morfologi ternyata, setelah dicocokkan dengan gigi sisir dari masing-masing specimen, Ma. dives mempunyai kesalahan identifikasi sebesar 6% sedang Ma bonneae 11,3%.

FILARIASIS IN THE TRANSMIGRATION AREA OF KUMPEH, JAMBI SUMATERA

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 18, No 1 Mar (1990)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai penularan filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi telah dilakukan di daerah transmigrasi Kumpeh, Jambi. Pemeriksaan darah dilakukan terhadap para transmigran di tiga blok C, D dan E; 3 bulan, 9 bulan dan 18 bulan setelah mereka tiba di daerah ini. Filariasis klinis telah tampak dalam 3 bulan setelah kedatangan mereka dan terus naik pada pemeriksaan-pemeriksaan berikutnya. Delapan belas bulan sesudah kedatangan mereka di tempat ini ditemukan satu transmigran yang mengandung mikrofilaria sedang­kan "disease rate" paling tinggi ditemukan di blok D, sebesar 20,3%. Di blok E ditemukan satu orang dengan gejala limphodema.