suwaldi suwaldi
Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

PENGARUH ENKAPSULASI EKSTRAK DAUN MURBEI (Morus alba L.) TERHADAP TEKANAN DARAH ARTERI PADA TIKUS Aminah, Siti; Suwaldi, Suwaldi; Fudholi, Achmad; Wahyono, Wahyono
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rutin dan kuersetin merupakan senyawa golongan flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun murbei (Morus alba L.) dan mempunyai pengaruh  dalam sistem kardiovaskuler. Pada penelitian ini diteliti pengaruh enkapsulasi ekstrak daun murbei terhadap tekanan darah arteri,. Ekstrak dibuat secara remaserasi dengan menggunakan penyari etanol 95%. Kandungan rutin dan kuersetin didalam ekstrak ditentukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Enkapsulasi  dilakukan terhadap 0,25% ekstrak,  menggunakan kitosan  0,5mg/mL  dan TPP 1mg/mL. Karakterisasi dilakukan terhadap ukuran partikel, efisiensi enkapsulasi dan Spektroskopi Infra Merah-Fourier Transform. Ekstrak dengan dosis 1g/kg berat badan dan ekstrak terenkapsulasi dengan dosis 1,313g/kg berat badan kemudian diberikan   secara per oral pada tikus normotensif maupun tikus hipertensif, selanjutnya diukur tekanan darah arteri dan frekuensi denyut jantung dengan menggunakan Coda Non-Invasive Blood Pressure System. Hasil menunjukkan bahwa kadar rutin dan kuersetin dalam ekstrak adalah (0,87±0,138) mg/g  dan (4,427±0,065) mg/g.  Kitosan-TPP dengan perbandingan 0,5:1  membentuk partikel dengan ukuran antara  25,11–45,21nm  dan  efisiensi enkapsulasi  (76,14±2,29) % pada enkapsulasi ekstrak daun murbei. Ekstrak daun murbei dan ekstrak daun murbei terenkapsulasi dapat menurunkan tekanan darah  arteri.
PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA TERHADAP STABILITAS ASETOSAL DALAM DAPAR FOSFAT pantilata, ifiet; suwaldi, suwaldi
e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang JURNAL ILMU FARMASI DAN FARMASI KLINIK VOL. 4 NO. 1 JUNI 2007
Publisher : e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTAsetil salisilat acid or known as acetosal or aspirin is a class of analgetic and antipyretic medicine that used widely. In this research we used acetosal to know it stability for sucrose effect. Acetosal stability examination of temperature effect and pH that done in several sucrose concentration, they are 5,0 %; 10,0 %; and 15,0 % which pH 7,0; 8,0; 9,0 and 10,0 in the 40 0C, 50 0C and 60 0C. The result of research showed that acetosal degradation reaction the sucrose fluid in pH 7,0; 8,0; 9,0 and 10,0 at the 40 0C can speedyacetosal degradation where the speed degradation with sucrose effect has more higher value than the degradation without sucrose effect, while in the 50 0C and 60 0C sucrose made stability of acetosal where degradation value with sucrose effect that smaller than degradation speed without sucrose effect. Key words : asetosal, stability, sucrose
PENGARUH ENKAPSULASI EKSTRAK DAUN MURBEI (Morus alba L.) TERHADAP TEKANAN DARAH ARTERI PADA TIKUS Aminah, Siti; Suwaldi, Suwaldi; Fudholi, Achmad; Wahyono, Wahyono
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rutin dan kuersetin merupakan senyawa golongan flavonoid yang terkandung dalam ekstrak daun murbei (Morus alba L.) dan mempunyai pengaruh  dalam sistem kardiovaskuler. Pada penelitian ini diteliti pengaruh enkapsulasi ekstrak daun murbei terhadap tekanan darah arteri,. Ekstrak dibuat secara remaserasi dengan menggunakan penyari etanol 95%. Kandungan rutin dan kuersetin didalam ekstrak ditentukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Enkapsulasi  dilakukan terhadap 0,25% ekstrak,  menggunakan kitosan  0,5mg/mL  dan TPP 1mg/mL. Karakterisasi dilakukan terhadap ukuran partikel, efisiensi enkapsulasi dan Spektroskopi Infra Merah-Fourier Transform. Ekstrak dengan dosis 1g/kg berat badan dan ekstrak terenkapsulasi dengan dosis 1,313g/kg berat badan kemudian diberikan   secara per oral pada tikus normotensif maupun tikus hipertensif, selanjutnya diukur tekanan darah arteri dan frekuensi denyut jantung dengan menggunakan Coda Non-Invasive Blood Pressure System. Hasil menunjukkan bahwa kadar rutin dan kuersetin dalam ekstrak adalah (0,87±0,138) mg/g  dan (4,427±0,065) mg/g.  Kitosan-TPP dengan perbandingan 0,5:1  membentuk partikel dengan ukuran antara  25,11–45,21nm  dan  efisiensi enkapsulasi  (76,14±2,29) % pada enkapsulasi ekstrak daun murbei. Ekstrak daun murbei dan ekstrak daun murbei terenkapsulasi dapat menurunkan tekanan darah  arteri.
Peningkatan Jumlah Mikronukleus pada Mukosa Gingiva Kelinci Setelah Paparan Radiografi Panoramik Shantiningsih, Rurie Ratna; Suwaldi, Suwaldi; Astuti, Indwiani; Mudjosemedi, Munakhir
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikronukleus merupakan salah satu tanda awal terjadinya kerusakan DNA yang ditemukan pada mukosa gingiva manusia setelah paparan radiografi dental panoramik.   Peningkatan jumlah mikronukleus terjadi paling tinggi pada hari ke-10 dan selanjutnya mengalami penurunan sampai dengan hari ke-14. Kelinci memiliki karakter dan periode turn-over mukosa gingiva yang hampir sama dengan manusia berkisar antara 10-12 hari. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi apakah peningkatan jumlah mikronukleus pada mukosa gingiva kelinci setelah paparan radiografi panoramik.Sembilan ekor kelinci dibagi menjadi 3 kelompok untuk mewakili hari ke-3, 6 dan 9 setelah paparan radiografi panoramik. Sebelum dan sesudah diberikan paparan radiografi panoramik,  setiap  hewan  coba  dilakukan  apusan  pada  mukosa  gingiva  anterior  rahang  bawah  menggunakan cervical brush. Hasil apusan dilakukan pewarnaan dengan modifikasi Feulgen-Rossenbeck dan dihitung jumlah mikronukleus menggunakan mikroskop yang disambungkan dengan optilab. Analisis statistik dilakukan menggunakan paired t-test. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara jumlah mikronukleus sebelum dan 9 hari sesudah paparan radiografi panoramik. Akan tetapi tidak ditemukan perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara sebelum paparan dibandingkan hari ke-3 dan ke-6 setelah paparan radiografi panoramik. Kesimpulang dari hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada manusia bahwa peningkatan jumlah mikronukleus terjadi pada hari ke-9 setelah paparan radiografi panoramik. Hasil ini mengindikasikan bahwa pada kelinci juga menunjukkan peningkatan jumlah mikronukleus di mukosa gingiva akibat paparan radiografi panoramik.ABSTRACT: Micronucleus Increase After Panoramic Radiography Exposure In Rabbit’s Gingival Mucosa. Micronucleus is one of the early states of DNA damage found in human gingival mucosa after dental panoramic radiography exposure. The increasing amount of micronucleus will reach a peak in the tenth day after the exposure, and it will continuously decrease right after the fourteenth day. Rabbit has almost the same gingival mucosa and turn-over period with human for about 10-12 days. The purpose of this research is to evaluate the increasing amount of micronucleus in rabbit’s gingival mucosa after panoramic radiography exposure. A total of nine New Zealand rabbits were divided into 3 groups to represent day of 3rd, 6th  and 9th after the panoramic radiography exposure. The mandibular anterior gingival mucosa of each animals was swabbed using a cervical brush before and after panoramic radiography exposure. The samples were stained with Feulgen-Rossenbeck modification, and the amount of micronucleus was counted using a microscope that is connected to Optilab. Statistical analysis was performed using paired t-test. The statistical analysis showed that there was significant difference (p <0.05) between the number of micronucleus before exposure and 9th day after panoramic radiography exposure. Moreover, there was no significant difference (p> 0.05) between the amount of micronucleus before exposure compared with 3rd  and 6th  day after panoramic radiography exposure. Based on the experiment, it is concluded that the result is consistent with previous studies conducted in human that there was increasing amount of micronucleus at the 9th  day after panoramic radiography exposure. This result   indicates that rabbit   performs the increasing amount of micronucleus in gingival mucosa because of panoramic radiography exposure
PIPER BETLE EXTRACT PATCH (Piper betle L): THE INFLUENCE IN ADDING REALESE ENHANCER SUBSTANCES TOWARDS PHYSIOCHEMICAL AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY Mufrod, Mufrod; Suwaldi, Suwaldi; Wahyuono, Subagus
Majalah Farmaseutik Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Piper betle extract has an antibactery activity with eugenol as a major active substance its sparingly soluble in water. Piper betle extract mucoadhesive patch was a suitable form used in oral cavity for inhibiting Streptococcus mutans a bactery that caused plaque. Physicochemical properties and the release of active substance affect the acceptability of patch as well as antibacterial activity. Glycerin, propilen glycol and tween 80 are the substances(release enhancer substances/RES) that affect the flexibilty and release the active substance from patc. The aim of the research was to investigate the influance of the concentration of extract and addition of RES to the physicochemical and antibacterial activity of the patchs. Extract obtained by infusion method. Extract piper betle made based on variation concentration of extract 0,5%, 1%,2%,3% ,4% and adding release enhancer subtances glycerin, propilen glycol and tween 80. Patches produced tested for physicochemical properties including uniformity of weight, surface pH, folding endurance, swelling index and antibactery activity. Data obtained were descriptiv and statisticaly analize. The result showed that release enhancer substances affect the physicochemical properties and antibactery activity of the patches. The adding release enhancer substances increasing the value of folding endurance and swelling index and antibactery activity of patch.
Korelasi antara jumlah mikronukleus dan ekspresi 8-oxo-dG akibat paparan radiografi panoramic (The correlation of micronucleus formation and 8-oxo-dG expression due to the panoramic radiography exposure) Shantiningsih, Rurie Ratna; Suwaldi, Suwaldi; Astuti, Indwiani; Mudjosemedi, Munakhir
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The expression of 8-oxo-dG is defined as one form of damaged DNA occuring as the result of oxidation reaction due to X ray exposure. Panoramic radiography exposure has been widely known to be able to increase micronucleus which are signing the early stage and as biomarker in carsinogenesis mechanism. Purpose: The purpose of this research was to determine the correlation between micronucleus number and 8-oxo-dG expression as a result of panoramic radiography exposure. Methods: Twelve New Zealand male rabbits aging 6 months were divided into 4 groups. Group I were rabbits that represented 0 day, group II represented 3th day, group III represented 6th day, and group IV represented 9th day after the panoramic radiography exposure. Respectively samples were swabbed at mandibular anterior gingival mucosa before and after the panoramic radiography exposure. The swabbed samples were coloured by using Feulgen-Rossenbeck modified staining for calculating the amount of micronucleus formation. Expression of 8-oxodG was detected using immunohistochemical of rabbit’s gingival mucosa epithelium. Statistical analysis were carried out on pearson correlation. Results: There was a highest increasing of micronucleus on the 9th day after panoramic radiography exposure. Meanwhile, there was significant correlation (p=0,049) of the increasing amount of micronucleus and 8-oxo-dG expression in negatively correlation (r = -0,578). The increasing of micronucleus formation on the 9th day after panoramic radiography exposure was accordance with some previous studies. The expression score of 8-oxo-dG decreases as the day goes by. Conclusion: There was a correlation between the number of micronucleus and expression score of 8-oxo-dG.Latar belakang: Ekspresi 8-oxo-dG adalah suatu bentuk kerusakan DNA yang terjadi akibat reaksi oksidatif dari paparan sinar X. Paparan radiografi panoramik telah diketahui menyebabkan peningkatan jumlah mikronukleus yang merupakan biomarker tahap dini mekanisme karsinogenesis. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti korelasi antara jumlah mikronukleus dan ekspresi 8-oxo-dG akibat paparan radiografi panoramik. Metode: Sebanyak 12 ekor kelinci New Zealand jantan usia 6 bulan dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok I merupakan kelinci untuk mewakili hari ke-0, kelompok II untuk mewakili hari ke-3, kelompok III untuk mewakili hari ke-6, dan kelompok IV untuk mewakili hari ke-9 setelah paparan radiografi panoramik. Terhadap seluruh kelinci dilakukan usapan pada mukosa gingiva anterior rahang bawah sebelum dan sesudah dilakukan paparan radiografi. Selanjutnya terhadap sampel usapan itu dilakukan pewarnaan menggunakan teknik pewarnaan modifikasi Feulgen-Rossenbeck untuk menghitung jumlah mikronukleus. Ekspresi 8-oxo-dG dinilai dari pemeriksaan imunohistokimia pada sel epitel mukosa gingiva kelinci. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Peningkatan jumlah mikronukleus paling tinggi terjadi pada hari ke-9 setelah paparan radiografi panoramik. Sementara itu, terdapat korelasi yang signifikan (p=0,049) antara peningkatan jumlah mikronukleus dan ekspresi 8-oxo-dG dengan arah korelasi yang negatif (r=-0,578). Peningkatan jumlah mikronukleus yang terjadi pada hari ke-9 setelah paparan radiografi panoramik ini sesuai dengan penelitian sebelumnya. Dengan bertambahnya hari skor ekspresi 8-oxo-dG semakin menurun. Simpulan: Terdapat korelasi antara jumlah mikronukleus dan skor ekspresi 8-oxo-dG.
Peningkatan Jumlah Mikronukleus pada Mukosa Gingiva Kelinci Setelah Paparan Radiografi Panoramik Shantiningsih, Rurie Ratna; Suwaldi, Suwaldi; Astuti, Indwiani; Mudjosemedi, Munakhir
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikronukleus merupakan salah satu tanda awal terjadinya kerusakan DNA yang ditemukan pada mukosa gingiva manusia setelah paparan radiografi dental panoramik. Peningkatan jumlah mikronukleus terjadi paling tinggi pada hari ke-10 dan selanjutnya mengalami penurunan sampai dengan hari ke-14. Kelinci memiliki karakter dan periode turn-over mukosa gingiva yang hampir sama dengan manusia berkisar antara 10-12 hari. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi apakah peningkatan jumlah mikronukleus pada mukosa gingiva kelinci setelah paparan radiografi panoramik. Sembilan ekor kelinci dibagi menjadi 3 kelompok untuk mewakili hari ke-3, 6 dan 9 setelah paparan radiografi panoramik. Sebelum dan sesudah diberikan paparan radiografi panoramik, setiap hewan coba dilakukan apusan pada mukosa gingiva anterior rahang bawah menggunakan cervical brush. Hasil apusan dilakukan pewarnaan dengan modifikasi Feulgen-Rossenbeck dan dihitung jumlah mikronukleus menggunakan mikroskop yang disambungkan dengan optilab. Analisis statistik dilakukan menggunakan paired t-test. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara jumlah mikronukleus sebelum dan 9 hari sesudah paparan radiografi panoramik. Akan tetapi tidak ditemukan perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara sebelum paparan dibandingkan hari ke-3 dan ke-6 setelah paparan radiografi panoramik. Kesimpulang dari hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada manusia bahwa peningkatan jumlah mikronukleus terjadi pada hari ke-9 setelah paparan radiografi panoramik. Hasil ini mengindikasikan bahwa pada kelinci juga menunjukkan peningkatan jumlah mikronukleus di mukosa gingiva akibat paparan radiografi panoramik.Micronucleus Increase After Panoramic Radiography Exposure In Rabbit’s Gingival Mucosa. Micronucleus is one of the early states of DNA damage found in human gingival mucosa after dental panoramic radiography exposure. The increasing amount of micronucleus will reach a peak in the tenth day after the exposure, and it will continuously decrease right after the fourteenth day. Rabbit has almost the same gingival mucosa and turn-over period with human for about 10-12 days. The purpose of this research is to evaluate the increasing amount of micronucleus in rabbit’s gingival mucosa after panoramic radiography exposure. A total of nine New Zealand rabbits were divided into 3 groups to represent day of 3rd, 6th  and 9th after the panoramic radiography exposure. The mandibular anterior gingival mucosa of each animals was swabbed using a cervical brush before and after panoramic radiography exposure. The samples were stained with Feulgen-Rossenbeck modification, and the amount of micronucleus was counted using a microscope that is connected to Optilab. Statistical analysis was performed using paired t-test. The statistical analysis showed that there was significant difference (p <0.05) between the number of micronucleus before exposure and 9th day after panoramic radiography exposure. Moreover, there was no significant difference (p> 0.05) between the amount of micronucleus before exposure compared with 3rd  and 6th  day after panoramic radiography exposure. Based on the experiment, it is concluded that the result is consistent with previous studies conducted in human that there was increasing amount of micronucleus at the 9th  day after panoramic radiography exposure. This result   indicates that rabbit   performs the increasing amount of micronucleus in gingival mucosa because of panoramic radiography exposure
Optimization of Self-nanoemulsifying Drug Delivery System for Pterostilbene Puspita, Oktavia Eka; Suwaldi, Suwaldi; Nugroho, Akhmad Kharis
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 4, No 2 (2016): J. Food Pharm. Sci (May-August)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Solubility is prerequisite for drug absorption across absorptive cell lining the small intestine. It is a problem for poor water soluble drug because limiting its bioavailability when administered by oral route. Lipid based delivery system such as self-nanoemulsifying delivery system (SNEDDS) can be utilized in improving its solubility so that better bioavailability is achieved. Pterostilbene has extremely low solubility in water then become its limiting factor for the bioavailability. This research developed SNEDDS for oral delivery of pterostilbene. Optimum composition of SNEDDS formulation was judged by its dispersion efficiency and clarity when dispersed in water. The efficiency of this formula in enhancing bioavailability was assessed by in vitro digestion model to predict its bioavailability by determining its bioaccessibility. The result showed that optimum composition of SNEDDS was achieved by soybean oil-Croduret® 50-Span 80-PEG 400 in ratio of 16.37 %, 32.07 %, 11.56 %, and 40 %, respectively. This formula has bioacessibility of 91.48 ± 2.18 %, and it is much higher compared to pterostilbene that was not formulated into SNEDDS, i.e 4.63 ± 1.11 %. Determined by dynamic light scattering, this optimum formula has droplet size of 31.8 nm when dispersed in water.
PATCH EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.): EVALUASI AKTIVITAS ANTIBAKTERI, PROFIL PELEPASAN EUGENOL dan TOLERANSI LOKAL Mufrod, Mufrod; Suwaldi, Suwaldi; Wahyuono, Subagus
Majalah Obat Tradisional Vol 21, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak daun sirih lebih efektif penggunaannya dibandingkan dalam bentuk simplisia. Eugenol merupakan komponen dalam ekstrak memiliki aktivitas antibakteri dan bersifat irritatif. Patch ekstrak daun sirih digunakan dengan ditempelkan pada mukosa untuk menjaga kebersihan rongga mulut. Aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh lepasnya eugenol dari patch. Release enhancer substances (RES) gliserin, propilen glikol dan tween 80 ditambahkan pada formula patch untuk meningkatkan pelepasan zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisikokimia, pola pelepasan eugenol serta munculny iritasi yang menunjukkan sifat toleransi lokal patch ekstrak daun sirih. Ekstrak daun sirih dibuat dengan cara infundasi kemudian dipekatkan dengan pemanasan. Patch dibuat berdasarkan konsentrasi ekstrak (1%, 2%, 4%) dan penambahan release enhancer substance (RES) gliserin, propilen glikol dan tween 80 menggunakan kitosan sebagai polimer matrik. Dilakukan uji aktivitas antibakteri menggunakan S. mutans, pengukuran surface pH, folding endurance, swelling index, pola pelepasan eugenol dan uji toleransi lokal terhadap patch yang diperoleh. Data hasil uji aktifitas antibakteri, swelling indeks, folding endurance, surface pH, pelepasan eugenol serta toleransi lokal dianalisis secara deskriptif. Hasil yang diperoleh menujukkan bahwa penambahan RES tidak berpengaruh terhadap nilai pH tetapi dapat meningkatkan daya serap air pada kadar ekstrak 1% dan daya tersebut menurun dengan naiknya kadar ekstrak kecuali pada patch dengan RES tween 80. Penambahan RES meningkatkan folding endurance. Jumlah pelepasan eugenol tertinggi dimiliki oleh patch dengan RES propilen glikol. Patch ekstrak daun sirih dengan RES tween 80 dan gliserin memiliki sensasi sedang sedangkan dengan RES propilen glikol memiliki sensasi berat.
EFEKTIVITAS DAN KEAMANAN ANTIKOAGULAN PADA SINDROMA KORONER AKUT TANPA ELEVASI SEGMEN ST Hapsari, Dina Catur; Suwaldi, Suwaldi; Kusharwanti, Wara
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindroma koroner akut (SKA) disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan oksigen dengan kebutuhan oksigen di miokardium. Terapi antikoagulan pada SKA dapat mengurangi kejadian kardiovaskuler, tetapi juga sangat berhubungan dengan risiko pendarahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas dan keamanan antikoagulan fondaparinux dibandingkan enoxaparin pada SKA tanpa elevasi segmen ST. Penelitian ini menggunakan desain kohort. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis periode Januari 2012 sampai Desember 2013. Subyek penelitian adalah pasien SKA tanpa elevasi segmen ST yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Jumlah subyek sebanyak 120 pasien yang dibagi ke dalam dua kelompok. Data dianalisis secara deskriptif, kuantitatif, dan statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil akhir efektivitas (pasien yang tidak  mengalami infark miokard atau iskemik berulang) terjadi pada 45 pasien (75%) pada kelompok fondaparinux dan 40 pasien (66,7%) pada kelompok enoxaparin (p=0,315; RR=1,125; 95% CI 0,893-1,417). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada efektivitas fondaparinux dan enoxaparin (nilai p >0,05). Hasil akhir keamanan (pasien yang tidak mengalami pendarahan minor) terjadi pada 49 pasien (81,7%) pada kelompok fondaparinux dan 39 pasien (65%) pada kelompok enoxaparin (p=0,039; RR=1,256; 95% CI 1,007-1,567). Terdapat perbedaan signifikan pada keamanan fondaparinux dan enoxaparin (nilai p <0,05). Pendarahan mayor tidak ditemukan pada kelompok fondaparinux dan enoxaparin. Efektivitas fondaparinux sama dengan enoxaparin, tetapi keamanan fondaparinux lebih baik dibandingkan enoxaparin pada pasien SKA tanpa elevasi segmen ST. Kata kunci: SKA tanpa elevasi segmen ST, enoxaparin, fondaparinux