Viria Agesti Suvifan
Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

ABERASI KROMOSOM PADA PILOT DAN AWAK KABIN MASKAP AI PENERBANGAN KOMERSIAL Ramadhani, Dwi; Purnami, Sofiati; Suvifan, Viria Agesti
Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak ada abstrak
Deteksi Sel Rogue Pada Sel Limfosit Darah Tepi Pasien Kanker Serviks Pra dan Paska Kemoradioterapi Ramadhani, Dwi; Soetopo, Setiawan; Kurjana, Tjahya; S Hernowo, Bethy; DL Tobing, Maringan; Tetriana, Devita; Suvifan, Viria Agesti; Purnami, Sofiati; Lusiyanti, Yanti
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses penentuan nilai dosis radiasi pengion berdasarkan indikator biologis atau biodosimetri umumnya dilakukan berdasarkan analisis kromosom disentrik. Proses biodosimetri berdasarkan analisis kromosom disentrik yang tidak boleh melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue karena nilai dosis yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Sel rogue adalah sel dalam tahap metafase yang berasal dari kultur sel limfosit darah tepi dan memiliki jumlah aberasi kromosom sangat tinggi meskipun sampel darah tidak terpapar oleh radiasi pengion. Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab timbulnya sel rogue dalam sel limfosit darah tepi. Terdapat Didugaan bahwa infeksi virus atau bakteri penyebab terbentuknya sel rogue. Dugaan lainnya menyatakan bahwa paparan radiasi dengan Linear Energy Transfer (LET) tinggi adalah penyebab timbulnya sel rogue. Tujuan penelitian adalah mendeteksi keberadaan sel rogue pada pasien kanker serviks sebelum dan sesudah dilakukan proses kemoradioterapi. Prediksi nilai dosis radioterapi dilakukan berdasarkan jumlah kromosom disentrik dengan atau tanpa melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue. Sebanyak 20 ml sampel limfosit darah tepi dari lima pasien kanker serviks paska radioterapi dikultur, dibuat preparatnya dan diamati. Hasil penelitian menunjukkan adanya satu sel rogue pada salah satu pasien kanker serviks paska kemoradioterap. yang diakibatkan oleh paparan radiasi. Prediksi dosis menunjukkan bahwa nilai prediksi dosis dengan melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue menyebabkan nilai dosis yang diperoleh lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa paparan radiasi pengion dapat mengakibatkan terbentuknya sel rogue pada individu dengan tingkat radiosensitivitas tinggi. Dengan demikian proses biodosimetri berdasarkan analisis kromosom disentrik tidak dapat dilakukan dengan melibatkan kromosom disentrik dalam sel rogue. The process of determining the ionizing radiation dose based on biological indicator or biodosimetry is generally carried out using the analysis of dicentric chromosome. Biodosimetry process based on the analysis of dicentric chromosome should not involving the dicentric in a rogue cell that may cause the radiation prediction doses value more higher than the true doses value. Rogue cells is cells in metaphase derived from the peripheral blood lymphocytes culture and contain a high number of chromosome aberration even though the blood sample were not exposed to ionizing radiation. Until now it was not clear what factor that can induce the rogue cells in peripheral blood lymphocytes. There was suggestion that infection of virus or bacteria and radiation exposure of high linear energy transfer (LET) can induce rogue cells. Aim of this research was to detect the presence of rogue cells in cervical cancer patients before and after radio chemotherapy process. The prediction of radiotherapy doses was carried out with and without involving the dicentric chromosomes in the rogue cells. Twenty milliliter of blood samples from five cervical cancer patients obtained before and after radiotherapy was cultured, harvested and analyzed. The experimental result showed that there was a presence of one rogue cell in one cervical cancer patient after radio chemotherapy process. A radiotherapy prediction doses showed that predictive dose value dose involving dicentric chromosomes in rogue cell was higher compared to the real radiation dose value. Based on the research result it can be concluded that exposure to ionizing radiation can induced the presence of the rogue cells in high radiosensitivity person. It means that in the biodosimetry process based on the analysis of dicentric chromosome should not involve the dicentric chromosome in the rogue cell.
OPTIMALISASI TES KOMET UNTUK PENENTUAN TINGKAT KERUSAKAN PADA DNA AKIBAT PAPARAN RADIASI. Ramadhani, Dwi; Tetriana, Devita; Suvifan, Viria Agesti
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 17, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.1.2405

Abstract

Tes komet dapat digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan asam deoksiribonukleat (DNA) pada sel limfosit darah tepi akibat paparan radiasi. Aspek yang harus diperhatikan saat melakukan tes komet antara lain adalah konsentrasi agarose yang digunakan, waktu inkubasi pada alkali, kondisi elektroforesis (waktu, temperatur serta gradien voltase yang digunakan), serta parameter yang digunakan dalam analisis. Parameter yang sangat disarankan dalam menganalisis citra komet adalah persentase DNA ekor (% DNA ekor). Persentase DNA ekor dapat dikonversi menjadi frekuensi lesion per 106 pasangan basa (bp) DNA dengan menggunakan kurva yang menggambarkan hubungan antara dosis radiasi pengion dengan besarnya % DNA ekor. Untuk mendapatkan hasil analisis tes komet yang akurat perlu dilakukan pembuatan kurva kalibrasi yang menggambarkan hubungan antara dosis radiasi pengion dengan besarnya % DNA ekor. Analisis citra komet sebaiknya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak pengolahan citra sehingga dapat meningkatkan akurasi dan presisi serta mengurangi subjektivitas dalam menganalisis citra komet. OPTIMIZATION ON COMET ASSAY FOR ASSESSMENT OF DNA DAMAGE BECAUSE RADIATION EXPOSURE.Comet assay can be used to measure deoxyribonucleic acid (DNA) damage level caused by natural radiation exposure in peripheral blood lymphocytes. The principle of the comet assay is based on the amount of denatured DNA fragments that migrated out of the cell nucleus during electrophoresis. There are several aspects that must be concerned when doing the comet assay. For example the agarose concentration, duration of alkaline incubation, electrophoresis conditions (time, temperature, and voltage gradient), and the measurement parameters that used in analyze the comet. Percentage of DNA in the comet tail (% tail DNA) is strongly recommended as a parameter when analyze the comet because it can be converted to lesions per 106 base pairs (bp) using calibration curve that show relationship between the dose of ionizing radiation and % tail DNA. To obtain an accurate result, the calibration curve must be made and comet should be analyzing using image processing analysis software since it can be increase the precision and reduce the subjectivity of the measurement process.
Evaluation of Chromosomal Aberrations and Micronuclei in Medical Workers Chronically Exposed to Low Dose Ionizing Radiation Lusiyanti, Yanti; Kurnia, Iin; Suvifan, Viria Agesti; Sardini, Sardini; Purnami, Sofiati; Rahajeng, Nastiti
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 9, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v9i3.12382

Abstract

Medical workers representing the group is the most consistently are exposed to low doses of ionizing radiation, prolonged low-level ionizing radiation can induce chromosomal aberrations (CAs). This study would evaluate the cytogenetic effect using the CAs based on dicentric, and cytokinesis-blocked micronucleus (CBMN) assay on hospital workers. The exposed group dividedto Interventional and Diagnostic groups then compared to non exposed group. The accumulated absorbed doses calculated for the radiation workers were below 5mSv. Blood samples were obtained from 29 samples of medical workers , and 15 samples of control. The Study showed that the frequency of dicentric chromosomes both in exposed and control were not found. In case of micronuclei, the mean frequencies were observed in exposed group that was (19 6.22) and (16.25 6.04) respectively and the control group was (10.47.79). Frequency MN/1000 cell in the lymphocytes both in the two exposed group was relatively higher compared to control group. However the MN frequencies in all sample group was still in normal range . In this study chronic low radiation dose exposure in the hospital had no significant effect on chromosome aberration nor micronuclei. The benefit of the study is to enrich the potential usefulness of cytogenetic assay providing safety index in medical surveillance programs. The results suggest that education and retraining of staff concerning radiation safety guidelines need to be done to maintain the safety aspects of radiation.
Otomatisasi Pendeteksian Sel Blast dan Sel Metafase dengan Perangkat Lunak Pengolahan Citra Sumber Terbuka Ramadhani, Dwi; Suvifan, Viria Agesti; Lusiyanti, Yanti
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2013
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat toksisitas suatu senyawa dapat diketahui berdasarkan nilai indeks mitosis pada sel limfosit darah tepi. Analisis indeks mitosis pada umumnya dilakukan secara manual menggunakan mikroskop cahaya pada perbesaran rendah dengan mengidentifikasi sel metafase dan sel blast (nukleus sel interfase yang terstimulasi). Proses identifikasi sel blast dan sel metafase dapat dilakukan secara otomatis menggunakan perangkat lunak pengolahan citra sumber terbuka yaitu ImageJ 1.47. Program macro yang dapat mendeteksi secara otomatis blast dan sel metafase telah dibuat untuk memudahkan analisis indeks mitosis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keakuratan program macro pada ImageJ 1.47 untuk mendeteksi secara otomatis sel blast dan sel metafase. Sampel darah tepi dari tiga donor berbeda dibiakkan dan dibuat preparatnya, kemudian sebanyak tiga puluh citra dari setiap donor dianalisis menggunakan program macro yang dibuat. Hasil penghitungan jumlah total sel blast dan sel metafase secara otomatis dan manual diolah secara statistik menggunakan Uji T. Taraf nyata yang digunakan (α) adalah 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata antara jumlah sel blast dan sel metafase yang diperoleh secara otomatis dengan manual (P = 0,69 dan P = 0). Jumlah sel blast dan sel metafase yang dihitung secara otomatis lebih rendah (underestimated) dibandingkan nilai sebenarnya. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut akan dibahas secara terperinci didalam makalah. Secara keseluruhan program macro yang dibuat dapat digunakan untuk mendeteksi dan menghitung dengan jumlah total sel blast dan sel metafase, meskipun hasil yang diperoleh tidak lebih baik dari hasil penghitungan secara manual. Pengembangan lebih lanjut terhadap program macro atau penggunaan perangkat lunak pengolahan citra yang dikhususkan untuk bidang biologi yaitu CellProfiler 2.0 perlu dilakukan sehingga penghitungan nilai indeks mitosis dapat dilakukan secara lebih cepat dan akurat untuk mengetahui tingkat toksisitas suatu senyawa.