Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Bantuan Teknis Profesional Pengembangan Kurikulum Kepada Tim Pengembang Kurikulum Daerah Sebagai Wahana Pemberdayaan Staf Pusat Kurikulum Sutjipto, Sutjipto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.789 KB)

Abstract

This study set out to get a view of empowerment Curriculum Center staff through a strategy of professional technical assistance activities in the area of curriculum development. Methods This study is descriptive, where the main data is processed based on program activities, implementation activities, and report the results of activities Curriculum Center between 2006 through 2010 related to the professional technical assistance to the TPK provincial curriculum development in 33 provinces, and TPK district in 120 districts/cities. Information was collected using documentary techniques, focus group discussions, and involved role in the activities. The data analysis technique used, namely description, and interpretation. The study shows that the increase in professional skills (professional development) staff in curriculum development is really a conscious and sustained effort from the leadership of Curriculum Centre. The importance of the creation of a cultural institution with the atmosphere or climate that allows staff to develop, a sound management in strengthening the potential or staff resources and the protection jaminnan staff so that potential can be constructed in a positive and conducive environment which in turn can memandirikan staff in making the work is also a prominent finding in this study. Furthermore, this study also shows that the strategy of empowering the staff at the Curriculum Center is very influential on the successful achievements of technical assistance activities of professional development curriculum to local corruption. ABSTRAKKajian yang dikemukakan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang pemberdayaan staf Pusat Kurikulum melalui strategi kegiatan bantuan teknis profesional pengembangan kurikulum di daerah. Metode kajian ini yaitu deskriptif, di mana data utama diolah berdasarkan program kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan laporan hasil kegiatan Pusat Kurikulum tahun 2006 s.d. tahun 2010 berkait dengan bantuan teknis profesional pengembangan kurikulum kepada TPK provinsi di 33 provinsi, dan TPK kabupaten/kota di 120 kabupaten/kota. Informasi dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, diskusi terfokus secara kelompok. Teknik analisis data yang dipergunakan, yaitu deskripsi, dan interpretasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan profesional staf dalam pengembangan kurikulum merupakan usaha sadar dan berkesinambungan dari pimpinan Pusat Kurikulum. Pentingnya penciptaan suatu budaya kelembagaan dengan suasana atau iklim yang memungkinkan staf berkembang secara sehat dalam manajemen yang memperkuat potensi staf dan adanya jaminan perlindungan. Dengan demikian, potensi staf dapat dibangun secara positif dan kondusif yang pada gilirannya bisa memandirikan staf dalam berkarya. Kajian ini menunjukkan juga bahwa strategi pemberdayaan staf di tingkat Pusat Kurikulum sangat berpengaruh terhadap capaian keberhasilan kegiatan bantuan teknis profesional pengembangan kurikulum kepada TPK daerah.
PEER COACHING SEBAGAI WAHANA GURU UNTUK BERKOLABORASI MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Sutjipto, Sutjipto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4791.221 KB)

Abstract

Dengan kemudahan yang  ditawarkan data internet tidak heran jika  saat  ini semakin  banyak bidang pekerjaan yang mengoptimalkan fungsi teknologi tersebut, termasuk bidang pendidikan. Sa/ah satu program yang  telah memanfaatkan internet da/am pengajaran  dan pembelajaran  di sekolah adalah apa yang disebut dengan program peer coaching. Peer Coaching adalah suatu strategi pengembarigan profesionalisme guru yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan antarmitra kerja {peer)yang  bersifat collegial dan mengembangkan proses pengajaran, be/ajar, dan pembelajaran. Dalam peer coaching  biasanya para  guru  secara bersama-sama berbagi ide-ide baru, melakukan observasi kelas, merefleksikan dan memperbaiki  cara-cara mereka mengajar. Hubungan mereka dibangun alas dasar kepercayaan dan kejujuran, bukan ancaman, serta menjamin lingkungan di mana mereka be/ajar dan tumbuh  bersama-sama. Oleh karena itu, peer  coaching  tidak menghakimi (non judgmental) dan tidak bersifat evaluatif  Program Peer Coaching memfokuskan pada pengembangan kolaborasi, perbaikan serta berbagi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dengan mengoptimalkan fungsi  teknologi informasi dan komunikasi. Peer coaching tidak untuk mata pelajaran tertentu, melainkan untuk semua mata pelajaran, sehingga dapat disesuaikan dengan disiplin ilmu apa pun, termasuk pengintegrasian teknologi  dalam pembelajaran.
PERANCANGAN KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SEBAGAI PRANATA BUDAYA KERJA Sutjipto, Sutjipto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.517 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v4i1.1219

Abstract

This study is to describe comprehensively the design of vocational high school curriculum as a work culture institution. The results of the study five things. First, the important content of work culture values for vocational school students. Second, curriculum developers are encouraged to modify the work culture, which leads to the values of hard work, work ethic, discipline, responsibility, creativity, cooperation, morality, to ethical and aesthetic standards. Third, curriculum developers are encouraged to redefine the essence of industrial work practices carried out by students. Fourth, the growth of work culture in schools is designed with shared commitment through systems, structures, regulations, and daily practices. Fifth, strengthening the work culture can be implemented in two ways, namely internalizing the values of work culture and creating a friendly school environment with a work culture. Study it conclude that the design of the vocational high school curriculum must generate students with capability in transforming moral and performance-based work culture institutions.AbstrakTujuan dari kajian ini adalah untuk mendeskripsikan secara komprehensif perancangan kurikulum sekolah menengah kejuruan sebagai pranata budaya kerja. Hasil pengkajian terkait dengan perancangan kurikulum sekolah menengah kejuruan, diperoleh lima hal. Pertama, muatan nilai-nilai budaya kerja bagi peserta didik sekolah menengah kejuruan penting. Kedua, pengembang kurikulum didorong untuk mengoreksi kembali pranata budaya kerja, yang mengarah pada nilai-nilai kerja keras, etos kerja, disiplin, tanggung jawab, kreativitas, kerja sama, moralitas, hingga standar etika dan estetika. Ketiga, pengembang kurikulum didorong untuk merumuskan ulang secara jelas esensi dari praktik kerja industri yang dilakukan peserta didik. Keempat, penumbuhan budaya kerja di sekolah dirancang dengan komitmen bersama melalui sistem, struktur, peraturan, dan praktik keseharian. Kelima, untuk penguatan budaya kerja bisa dilakukan melalui dua strategi, yaitu internalisasi nilai-nilai budaya kerja dan penciptaan lingkungan sekolah yang ramah dengan budaya kerja. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa perancangan kurikulum sekolah menengah kejuruan harus membawa peserta didik mampu mentransformasikan pranata budaya kerja berbasis moral dan kinerja.