Articles

Found 39 Documents
Search

KANDUNGAN NUTRIEN FESES DAN KONSUMSI BAHAN ORGANIK RANSUM PADA KELINCI NEW ZEALAND WHITE AKIBAT PEMBERIAN PAKAN DENGAN SUMBER SERAT YANG BERBEDA Sutaryo, Sutaryo; Utami, Lintang Sulistyaning; Purnomoadi, Agung; Hastuti, Dewi
MEDIAGRO Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : MEDIAGRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.116 KB)

Abstract

The aim of this study was to evaluate feces quality and organic matter intake of New Zealand White (NZW) rabbit fed different fibre source in the ration. The treatments were T1: coffee peel as fibre source, T2: coffee and been peel (1:1) as fibre source (1:1) and T3: been peel as fibre source. Five teen NZW 50-60 days old with 1.2 kg initial body weigh were divided randomly in to three treatments. Result of this experiment were no significant effect (P>0.05) of treatment on crude protein, crude fibre of feces and organic matter intake but gave significant effect (P<0.05) on feces crude fat.It can be concluded that the feces quality of rabbit fed different fibre source in the ration was relatively same, therefore it doesn’t need pre-treatment when it will further processed.
Hubungan antara Tipe Mutasi Gen Globin dan Manifestasi Klinis Penderita Talasemia Tamam, Moedrik; Hadisaputro, Suharyo; Sutaryo, Sutaryo; Setianingsih, Iswari; Astuti, Rini; Soemantri, Agustinus
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKThalassemia β di populasi umum  mempunyai manifestasi klinis  yang sangat bervariasi mulai dari thalassemia ringan sampai berat. Penentuan  jenis  mutasi adalah penting  karena pengetahuan tentang tipe mutasi yang mendasari thalassemia-β diperlukan dalam pengelolaan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara  tipe mutasi dengan manifestasi klinis penderita thalassemia. Penelitian ini merupakan penelitian observasional kohort prospective dilaksanakan di Unit Transfusi Darah  (UTD PMI Kota Semarang mulai bulan Januari 2006-Desember 2009. Sampel menggunakan 38 pasien thalassemia  yang dipilih secara purposive sampling dari penderita thalassemia β yang menerima transfusi. Variabel penelitian adalah jenis mutasi gen globin , manifestasi klinis, status gizi, dan kadar Hb sebelum dan sesudah transfusi. Pengukuran kadar Hb dilakukan sebelum transfusi ke-1, setelah transfusi ke-1 dan sebelum transfusi ke-22. Analisis statistik menggunakan uji  dan uji Fisher-exact. Rerata umur subyek penelitian adalah 10,1 ± 3,26 tahun, laki-laki sebesar  16 orang (42,1%) dan perempuan 22 orang (57,9%). Jenis mutasi adalah HbE/ivsnt1-nt5 (55,3%), ivs1-nt5 dan HbE CD35 (masing-masing 13,2%), HbE/ivs1-nt1 (7,9%), dan ivs5-nt1/ivs1, ivs1-nt1/ivs1-nt1, HbE/CD41-42 dan exon 1-2 normal (masing-masing 2,6%). Manifestasi klinis derajat sedang 65,8% dan berat 34,2%. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan tidak bermakna antara jenis mutasi dengan manifestasi klinis thalassemia (p=0,5). Jenis tipe mutasi gen globin  tidak berhubungan dengan derajat manifestasi klinis thalassemia.Kata kunci : Manifestasi klinis, talasemia , tipe mutasi
Penyakit Tangan Kaki dan Mulut di Praktik Swasta Sutaryo, Sutaryo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 19, No 1 (2003)
Publisher : Berita Kedokteran Masyarakat (BKM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) is caused by the Coxsackies and enteroviruses. The disease has spread out in South East Asia. There was no report of this disease inYogyakarta until 2000. This was the first report of HFMD in Yogyakarta. Methods: During 8 months from May 1, 2001 to December 31, 2001, 42 cases were examined in a private practice.Results: There were 42 cases of the disease during 8 months. The highest number of cases (21 cases) was found in July 2001. Mostly cases were found in children under 5 years old especially in those 13-24 months of age. The ratio between boys and girls was 3:2. The clinical manifestations included fever about 1-3 days, enanthem, exan-them, vesicle, and ulcer in hands, foot, and nausea.Conclusions: All of the cases can be cured by symptomatic treatment and there is no complication of the disease. It is important for Yogyakarta special province to keep far from the disease by the prevention program. Keywords: HFMD, enterovirus, children
FAKTOR-FAKTOR PENENTU IMPLEMENTASI E-GOVERNMENT PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA Sipahutar, Indra Sarjono; sutaryo, sutaryo
Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan. Agustus 2017
Publisher : Program Studi Akuntansi FPEB UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.972 KB) | DOI: 10.17509/jrak.v5i2.7931

Abstract

Abstract. This study aims to examine the effect of region own source revenue (PAD), capital expenditure, internal auditor capability, internal auditor expertise to the implementation of e-government on municipalities in Indonesia. This study used a dependent variable like index ranking of e-government local government (PeGI) and so the independent variable used is region own source revenue, capital expenditure, internal auditor capability, internal auditor expertise. The sampling technique in this study is purposive sampling. The criteria are determined based on the index ranking of e-government local government (PeGI) issued by the Kemenkominfo. The criteria are divided into five dimensions, namely policies, institutions, infrastructure, applications, and planning. Based on the criteria that have been established, there are 198 municipalities as a sample. Data in this study is collected from the Local Government Financial Report (LKPD) in 2012-2014 and the index ranking of e-government implementation (PeGI) in 2012-2014. Data were analyzed using descriptive statistics, classical assumption test and multiple linear regression. The results showed that political region own source revenue (PAD), capital expenditure, internal auditor capability have an effect on e-government implementation. However, internal auditor expertise does not have an effect on e-government implementation in Indonesia.Keywords: e-government; region own source revenue; capital expenditure; capabilityAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pendapatan sumber pendapatan daerah (PAD), belanja modal, kemampuan auditor internal, keahlian auditor internal terhadap pelaksanaan e-government di kota-kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan variabel dependen seperti indeks ranking pemerintah daerah e-government (PeGI) dan variabel independen yang digunakan adalah pendapatan sumber sendiri, pengeluaran modal, kemampuan auditor internal, keahlian auditor internal. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Kriteria tersebut ditentukan berdasarkan peringkat indeks pemerintah daerah e-government (PeGI) yang dikeluarkan oleh Kemenkominfo. Kriteria dibagi menjadi lima dimensi, yaitu kebijakan, institusi, infrastruktur, aplikasi, dan perencanaan. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, terdapat 198 kotamadya sebagai sampel. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dari Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) 2012-2014 dan peringkat indeks implementasi e-government (PeGI) pada tahun 2012-2014. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi klasik dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber pendapatan daerah politik (PAD), belanja modal, kemampuan auditor internal berpengaruh terhadap implementasi e-government. Namun, keahlian auditor internal tidak berpengaruh pada implementasi e-government di Indonesia.Kata Kunci: e-government; sumber pendapatan daerah; belanja modal; kapabilitas
Luaran Terapi Pasien Leukemia Limfoblastik Akut dengan Leukosit ≥ 50.000/μL di RSUP DR. Sardjito Februari 1999 - Februari 2009 Budiyanto, Wahyu; Mulatsih, Sri; Sutaryo, Sutaryo
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.410-6

Abstract

Latar belakang. Jumlah leukosit yang tinggi (≥50000/μL) merupakan salah satu faktor risiko terjadinya tumor lysis syndrome (TLS) yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Tumor lysis syndrome merupakan salah satu kegawatan pada leukemia limfoblastik akut (LLA).Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui luaran (outcome) dan prognosis LLA dengan leukosit ≥50000/μL.Metode. Penelitian rancang bangun kohort retrospektif dilakukan di Instalasi Kesehatan Anak RSUP DR. Sardjito yang melibatkan semua pasien LLA dengan jumlah leukosit ≥ 50.000/μL sejak Februari 1999 sampai Februari 2009. Luaran yang dinilai yaitu kriteria laboratorium TLS, klinik TLS, dan kematian.Hasil. Pasien LLA dengan jumlah leukosit ≥50000/μL sebanyak 115 kasus diikutkan dalam penelitian ini. Insiden laboratorium TLS 5,2% (6 pasien). Tidak didapatkan kasus klinisTLS. Kematian pasien dengan laboratorium TLS 66,7% (4 pasien). Pasien LLA dengan leukosit ≥50000/μL yang mengalami TLS mempunyai risiko kematian sebesar OR 2 (KI 95% 0,32-12,51). Persentasi kematian pasien LLA dengan leukosit ≥50000/μL, 56,6% (65 pasien). Faktor prognosis terhadap kematian, leukosit ≥100000/μL OR 1,918 (IK 95% 0,778-4,730), asam urat ≥8 mg/dL OR 1,909 (IK 95% 0,431-8,463), fosfat ≥4,5 mg/dL OR 1,5 (IK 95% 0,106-21,312) dan kreatinin ≥1,4 mg/dL OR 1,362 (IK 95% 0,142-13,096).Kesimpulan. Insidens TLS pada pasien LLA dengan leukosit ≥50000/μL, 5,2% (6 pasien) dari 115 pasien. Mortalitas pasien LLA dengan leukosit ≥50000/μL, 56,5%. Secara klinis ada kecenderungan kejadian kematian lebih tinggi pada pasien LLA dengan leukosit ≥100.000/μL, asam urat ≥8 mg/dL, fosfat ≥ 4,5 mg/dL dan kreatinin >1,4 mg/dL.
Karakteristik Klinis Pasien Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dengan Fusi Gena TELAML1, BCR-ABL, dan E2A-PBX1 Mulatsih, Sri; Sutaryo, Sutaryo; Sunarto, Sunarto; Yeoh, Allen; Liang, Yeow; Mubarika, Sofia
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.118-123

Abstract

Latar belakang. Leukemia limfoblastik akut (LLA) pada anak merupakan penyakit yang heterogen. Berdasarkangambaran selular dan molekular, LLA mempunyai beberapa subtipe yang berbeda. Fusi gena palingsering pada LLA anak adalah TEL-AML1, BCR-ABL, E2A-PBX1, dan MLL-AF4.Tujuan. Mengetahui profil klinis pasien LLA dengan fusi gena TEL-AML1, BCR-ABL, E2A-PBX1.Metode. Studi cross sectional, untuk menganalisis profil fusi gena digunakan metode nested reverse-transcriptasepolymerase chain reaction (RT-PCR).Hasil.Tidak ditemukan perbedaan dalam hal karakteristik klinis seperti jenis kelamin, usia, jumlah leukosit,kelompok risiko, dan tipe LLA diantara pasien LLA dengan fusi gena TEL-AML1 dan E2A-PBX1 (p>0,05).Fusi gena BCR-ABL tipe LLA lebih banyak terjadi pada kelompok pasien dengan leukosit awal >50.000/uLdibanding kelompok yang mempunyai leukosit awal <50.000/uL (p=0,031). Tidak ada perbedaan dalam haljenis kelamin, usia, kelompok risiko dan tipe LLA diantara pasien LLA dengan gena BCR-ABL (p>0,05).Kesimpulan. Karakteristik klinis pasien dengan fusi gena TEL-AML1, BCR-ABL, E2A-PBX1 adalah sama,kecuali pada kelompok pasien dengan jumlah leukosit >50.000/uL lebih banyak terjadi pada pasien denganfusi gena BCR-ABL.
Efektifitas Dukungan Sosial Dokter kepada Orangtua dalam Tata Laksana Anak Asma Indrarto, Fx. Wikan; Sutaryo, Sutaryo; Ismail, Djauhar
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.305-10

Abstract

Latar belakang. Salah satu keberhasilan tata laksana anak asma ditentukan oleh kebersamaan (partnership) yang terbentuk antara dokter dengan orangtua. Dalam kebersamaan tersebut, orangtua harus diberi dukungan sosial (social support) oleh dokter mencakup dukungan informasi, emosi, penghargaan (appraisal), dan alat bantu (instrumental) tentang asma.Tujuan. Menilai efektifitas pemberian dukungan sosial dokter kepada orangtua dalam tata laksana anak asma.Metode. Studi intervensi dengan desain kuasi eksperimental, dan interupted time-series design. Tempat penelitian di Klinik Anak RS Bethesda Yogyakarta selama bulan Juli-Desember 2008. Intervensi yang diteliti adalah pemberian dukungan sosial dokter di ruang praktek, kepada 82 orangtua dalam tata laksana anak asma. Pengaruh yang terjadi diukur, berdasarkan penilaian orangtua maupun dokter.Hasil. Pemberian dukungan sosial dokter di ruang praktek, tidak berhubungan dengan perbaikan gejala klinis anak asma, berdasarkan penilaian orangtua (OR=1,01; IK 95% 0,57-2,10) maupun penilaian dokter (OR=1,02; IK 95% 0,79-2,21) dan perbaikan kualitas hidup menurut orangtua (OR=1,03; IK 95% 0,46-3,12). Dukungan penghargaan kepada orangtua oleh dokter merupakan dukungan sosial yang paling memberikan kepuasan kepada orangtua (p<0,05).Kesimpulan. Pemberian dukungan sosial dokter tidak berhubungan dengan keberhasilan tata laksana anak asma. Kepuasan orangtua akan pemberian dukungan sosial dokter, terutama diperoleh dari jenis dukungan penghargaan.
Fusi Gen Translocation Ets Leukemia-Acute Myeloid Leukemia 1 (Tel-Aml1) Sebagai Faktor Prognosis pada Leukemia Limfoblastik Akut Anak Mulatsih, Sri; Sunarto, Sunarto; Sutaryo, Sutaryo
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.404-9

Abstract

Fungsi fusi gen TEL-AML1 dalam leukemogenesis adalah mempengaruhi kunci proses pengaturan, termasuk kenaikan proses cell-renewal yang tidak terkontrol, menghentikan proliferasi dan diferensiasi yang menyebabkan resistensi terhadap proses apoptosis. Banyak studi menghasilkan data bahwa prognosis pasien leukemia limfoblastik akut (LLA) dengan fusi gena TEL-AML1 masih kontroversi, khususnya prognosis jangka panjang. Banyak penelitian yang menghubungkan adanya fusi gena ini dengan resistensi terhadap kemoterapi, dan lainnya menggunakan minimal residual disease (MRD) untuk melihat respons terhadap pengobatan. Adanya co-existences gena lain bisa memberikan kontribusi terhadap prognosis pasien LLA dengan fusi gen TEL-AML1. Dibutuhkan lebih banyak studi translasional untuk lebih memahami peran fusi gen dalam klinik. Pengetahuan mendasar mekanisme molekular pada leukemia sangat penting, khususnya dalam penanganan pasien. Pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis leukemia bisa menghasilkan pengertian dan pengetahuan baru untuk menyusun strategi baru dalam penanganan pasien LLA yang didasarkan kaidah molekular
Pemahaman Perawat Mengenai Medication Safety Practice (MSP) di Bangsal Perawatan Kanker Anak RSUP Dr. Sardjito Mulatsih, Sri; Dwiprahasto, Iwan; Sutaryo, Sutaryo
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.463-8

Abstract

Latar belakang. Prosedur aman pemberian obat (medication safety practice/MSP), khususnya kemoterapi, dari sudut pandangmanajemen sangat penting dikaji dengan harap luaran yang lebih baik pada pasien kanker anak.Tujuan. Mengetahui pemahaman perawat terhadap MSP pada pemberian kemoterapi untuk pasien kanker anak dengan LLA diRSUP Dr. SardjitoMetode. Dilakukan penelitian dengan rancang bangun pra dan pasca kuasi eksperimental. Subjek adalah perawat yang melakukanpelayanan pasien kanker anak. Intervensi berupa sosialisasi kebijakan, buku panduan, dan pelatihan MSP. Diukur luaran tingkatpemahaman perawat sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan kuesioner.Hasil. Tidak ada perbedaan karakteristik subjek (24 pra dan 23 pasca intervensi). Dibandingkan pra intervensi, pada pasca intervensididapatkan peningkatan jumlah perawat yang mendapat materi MSP (82% vs 46%, p=0,027), pemahaman MSP (87% vs 42%),dan implementasi MSP (100% vs 71%, p=0,019). Pasca intervensi juga didapatkan peningkatan tindakan identifikasi pasien, prinsip6 benar cara pemberian obat, perencanaan pemberian dan peresepan kemoterapi sesuai protokol, penggunaan formulir pemesanandan peresepan obat kempoterapi yang standar, dan labelisasi obat kemoterapi yang standar.Kesimpulan. Pemahaman perawat mengenai MSP meningkat setelah dilakukan pelatihan dan sosialisasi buku pedoman. ImplementasiMSP mengalami peningkatan di beberapa jenis tindakan, namun masih diperlukan peningkatan pemahaman khususnya pengertianMSP dan jenis tindakan MSP. Diperlukan metoda pelatihan yang lebih spesifik untuk meningkatkan pemahaman MSP khususnyaperawat.
Korelasi Kadar Timbal dalam Darah dengan Kadar Hemoglobin pada Anak Usia 1-6 tahun Bagaswoto, Hendra Purnasidha; Sutaryo, Sutaryo; Nugroho, Sasmito
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.297-301

Abstract

Latar belakang. Anak yang berusia kurang dari 6 tahun lebih rentan terpapar timbal. Timbal menghambat proses pembentukan hemoglobin dengan cara menghambat aktivitas enzim amino levulinic acid synthetase (ALAS), amino levulinic acid dehydratase (ALAD) dan ferrochelatase serta menghasilkan reactive oxygen substance (ROS) yang dapat menyebabkan hemolisis.Tujuan. Menentukan korelasi kadar timbal dalam darah dengan kadar hemoglobin pada anak usia 1-6 tahun.Metode. Penelitian cross-sectional dilaksanakan bulan Oktober-November 2012. Subjek, anak berusia 1-6 tahun yang bertempat tinggal di sekitar perempatan padat lalu lintas di daerah Gedongtengen, Pingit, dan Juminahan Yogyakarta. Kadar timbal dalam darah dianalisis dengan metode atomic absorption spectrophotometry (AAS) dan kadar hemoglobin dengan metode spektrofotometer. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk menentukan korelasi antara kadar timbal dalam darah dengan kadar hemoglobin.Hasil. Sebanyak 65 anak diikutsertakan dalam penelitian dengan rerata usia 3 tahun 10 bulan. Kadar timbal dalam darah di dalam kisaran 0,01-10,67 μg/dL, dengan rerata 3,73 μg/dL. Enam anak (9%) mempunyai kadar timbal dalam darah tinggi menurut kriteria CDC dan AAP. Tidak ditemukan korelasi yang bermakna antara kadar timbal dalam darah dengan kadar hemoglobin (r=0,05; p=0,67).Kesimpulan. Kadar timbal dalam darah tidak memiliki korelasi dengan kadar hemoglobin pada anak usia 1-6 tahun.
Co-Authors A Purnomoadi, A Ag Soemantri Agung Purnomoadi Agustinus Soemantri Agustriyani, Nunik AJP Veerman, AJP Alastair James Ward, Alastair James Allen Yeoh, Allen Amalia Setyati Argisyamanti, Rahmawati Belletrutti, Mark Budi Mulyono Christian, Yoshia Desy Rusmawatiningtyas, Desy Dewi Hastuti Djauhar Ismail Djokomoeljanto Djokomoeljanto Dwikisworo Setyowireni, Dwikisworo Edy Supriadi, Edy Elisabeth Herini, Elisabeth Fajar Diah Tri Kusumastuti, Fajar Diah Fajrin, Aurio Fx. Wikan Indrarto, Fx. Wikan Gunadi Gunadi Hendra Purnasidha Bagaswoto, Hendra Purnasidha Henrik Bjarne Møller, Henrik Bjarne Hisahide Nishio, Hisahide IDG Ugrasena, IDG Indra SAri Kusuma Harahap, Indra SAri Kusuma Irwan Trinugroho, Irwan Iswari Setianingsih Iwan Dwiprahasto Jacqueline Cloos, Jacqueline Jan Hendrik Hooijberg, Jan Hendrik Kaiser Ali, Kaiser Karunia, Asaprima Putra Kisworini, Priyanti Krisdiyanty, N Kristian, Scolastika Dita Kusuma, Pungky Ardani Laura Vroling, Laura Marsetyawan HNES, Marsetyawan Moedrik Tamam Moeljono, Edy Muhtar Muhtar Payamta Payamta, Payamta PUDJO HAGUNG WIDJAJANTO, PUDJO HAGUNG Purwanti, Yuni Putro, Deni Ariyanto Ridwan Tjandra Sugiarto, Ridwan Tjandra Rini Astuti Rumende, Rooije RH Salam, Azhari Saputra, Fredynanta Sasmito Nugroho, Sasmito Satoshi Takada Sipahutar, Indra Sarjono Sofia Mubarika Sri Mulatsih Suharyo Hadisaputro Sunartini Sunartini, Sunartini Sunarto Sunarto Surini Yusoff, Surini Tri Ratnaningsih Untung Widodo, Untung Utami, Lintang Sulistyaning Wahyu Budiyanto, Wahyu Widjajanto, Pudjo H Windy Saufia Apriyanti, Windy Saufia Yeow Liang, Yeow Yudha Patria, Yudha