Articles

Found 18 Documents
Search

PENENTUAN PRIORITAS KEBIJAKAN PERKERETAAPIAN NASIONAL

Jurnal Ilmiah Desain dan Konstruksi Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.183 KB)

Abstract

Pembangunan perkeretaapian di Indonesia saat ini telah memasuki tahapan baru denganditetapkannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.Pemberlakuannya mempunyai dampak yang sangat besar terhadap penyelenggaraanperkeretaapian, bukan hanya pada tataran operasional tetapi juga pada aspekkelembagaan dan kebijakan. Mengingat kompleksnya permasalahan yang dihadapisistem perkeretaapian nasional, maka diperlukan adanya penentuan prioritas kebijakan.Tulisan ini mencoba merumuskan prioritas kebijakan perkeretaapian nasional yangsebaiknya diambil dalam penerapan UU No 23 Tahun 2007. Penentuan prioritaskebijakan tersebut berdasarkan atas pendapat pakar dan diolah menggunakan metodeAHP. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kebijakan yang mendapatkan prioritasterbesar adalah peningkatan keselamatan dan keamanan perjalanan KA, diikuti olehstandarisasi sarana dan prasarana KA. Para pakar memilih kebijakan tersebut sebagaiprioritas karena dampaknya yang signifikan dan berdampak jangka panjang. Tulisan inidiharapkan dapat memberikan kontribusi dalam dua bidang, yaitu memperkaya tulisantentang kebijakan perkeretaapian serta memberikan masukan bagi Ditjen KA dalampenyusunan regulasi maupun kebijakan perkeretaapian.AbstractRailway development in Indonesia opens a new chapter with the release of Act Number23 Year 2007 on Railway. Its impact is immense; not only on operational level, but alsoon institutional and policy level. If we consider the complex environment in nationalrailway system, it is essential to formulate policies priority. This paper attempts to decidewhich policies constitute higher priority which should be taken on the implementation ofthe Act. The decision is made based on expert opinion using AHP technique. The analysisresult shows that biggest priority should be given to improvement on safety and securityof train trips. Second biggest being standardization of train and railway infrastructuretechnology. The experts select those policies among others based on their significant andlong term impact. This paper expects to contribute to two fields; one is in academictransportation policy study and the other is to give advice to Railway DirectorateGeneral as policy maker and regulatory body in Indonesia railway system.

Kesalahan Pemahaman pada Konsep dalam Belajar Fisika bagi Siswa SMAN di Jawa Timur Ditinjau Dari Beberapa Faktor Internal dan Eksternal yang Mempengaruhinya

Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 2, No 3 (1995)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3437.442 KB)

Abstract

The misconception that the SMAN students have concerning physics is very serious which effects the formal reasoning ability of the students and the teaching ability of the teachers. Though lab work has no direct influence on the occurence of misconception, it has a strong effect on the learning process in science of the students. These facts are among others the result of the study conducted on 26 SMAN throughout East Jawa.

Aplikasi Metode TOPSIS FUZZY Dalam Menentukan Prioritas Kawasan Perumahan Di Kecamatan Percut Sei Tuan

Saintia Matematika Vol 1, No 1 (2013): Saintia Matematika
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.214 KB)

Abstract

Pada tulisan ini didiskusikan aplikasi metode TOPSIS fuzzy untuk menentukan prioritas kawasan perumahan di Kecamatan Percut Sei Tuan. Kriteria yang digunakan adalah jarak dengan ibukota kecamatan, kepadatan penduduk disekitar lokasi, pengembangan sarana lingkungan, pengembangan prasarana lingkungan, aksesibilitas masyarakat dan harga tanah.

PERBANDINGAN METODE LEAST TRIMMED SQUARES DAN PENAKSIR M DALAM MENGATASI PERMASALAHAN DATA PENCILAN

Saintia Matematika Vol 1, No 1 (2013): Saintia Matematika
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.859 KB)

Abstract

Analisis regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel.Salah satu metode penaksir parameter dalam model regresi ini ialah metode kuadratterkecil. Di dalam penelitian ini digunakan simulasi terhadap empat kelompok datayang terdiri atas 20 observasi. Tulisan ini bertujuan untuk membanding dua metoderegresi robust yakni Least Trimmed Squares (LTS) dan penaksir M. Dari hasil simulasipada penelitian ini, LTS memberikan hasil perbandingan rata-rata kuadratsisa yang lebih baik daripada penaksir M dan metode OLS. Sementara itu, penaksirM juga menghasilkan rata-rata kuadrat sisa yang lebih baik daripada metode OLS.

MODEL REGRESI SPASIAL UNTUK ANAK TIDAK BERSEKOLAH USIA KURANG 15 TAHUN DI KOTA MEDAN

Saintia Matematika Vol 1, No 1 (2013): Saintia Matematika
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.539 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan model anak tidak bersekolahusia kurang 15 tahun di kota Medan menggunakan regresi spasial, menganalisisfaktor-faktor yang mempengaruhinya serta mengkaji efektifitas metode regresispasial dalam menganalisis kasus tersebut. Analisis yang digunakan yaitu SpatialAutoregressive Model (SAR). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel prediktoryang mempengaruhi variabel respon adalah jumlah penduduk prasejahtera, jumlahsekolah SD, dan rasio antara anak yang bersekolah dengan anak tidak bersekolah(ATB) kurang 15 tahun. Nilai koefisien determinasi (R2) adalah 95.70 %.

POTENSI Trichoderma harzianum SEBAGAI PENGENDALI Fusarium oxysporum PENYEBAB BUSUK PANGKAL BATANG TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum L.)

Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 19, No 2 (2017): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.278 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas fungi Trichoderma harzianum dalam mengendalikan Fusarium oxysporum penyebab busuk pangkal batang pada tanaman cabai merah (Capsicum annum L.). Percobaan pertama adalah pengujian daya hambat T. harzianum terhadap patogen secara in vitro. Percobaan selanjutnya di rumah kaca dengan perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas: tanpa inokulasi, inokulasi patogen, inokulasi Trichoderma, inokulasi Trichoderma dan patogen bersamaan, inokulasi Trichoderma diikuti patogen dengan jeda waktu 6 jam, inokulasi patogen kemudian Trichoderma. dengan jeda waktu 6 jam. Variabel yang diamati adalah luas luka batang tanaman dan intensitas seragan penyakit. Data percobaan in vivo dianalisis dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji BNJ taraf nyata 5%. Daya hambat T. harzianum terhadap patogen mencapai 71,3 % pada 144 jam setelah inokulasi secara in vitro. Secara in vivo inokulasi Trichoderma saja dan bersamaan dengan patogen menekan luka hingga 81,0% dan 68,0% dibandingkan dengan dinokulasi patogen serta menghambat serangan penyakit yang ditunjukkan dengan intensitas gejala 5,6 % dan 0,0 pada 6 dan 12 hari setelah inokulasi. T. harzianum efektif sebagai agen biokontrol bagi pengendalian penyakit busuk pangkal batang tanaman cabe merah yang disebabkan oleh F. oxysporum.

Keragaan dan Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) Pada Media Serbuk Gergaji dan Ampas Tebu Bersuplemen Dedak dan Tepung Jagung

Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.782 KB)

Abstract

This study aims to determine the combined treatment between growth media and supplement that gives a white oyster mushroom growth responses as well as weight and harvest the best quality. Factorial experiment was repeated 4 times with the first factor of the type of media (bagasse and sawdust) and the second factor supplements (without supplements, rice bran, and corn flour). Combination treatment of bagasse and rice bran media gives the best response mushroom mycelium growing in terms of speed, the relative growth will be fruit, fruit caps the maximum size and weight of crop per baglog; while bagasse and corn flour to give the best response to fungi in the number and quality of the body fruit. Keywords: body fruit, bagasse, sawdust, rice bran, corn flour

PEMBANGUNAN PLTN SEBAGAI SATU SOLUSI KRISIS LISTRIK DI INDONESIA

Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.586 KB)

Abstract

PENDAHULUANKebutuhan energi listrik dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan perkem- bangan pola hidup masyarakat, yang meliputi sektor rumah tangga dan sektor industri yang terus meningkat, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Menurut studi Markal, di- perkirakan bahwa permintaan energi listrik akan terus berkembang. Khusus untuk Jawa dan Bali, permintaan energi listrik meningkat dari atahun 1991 sebesar 34.000 GWh/ tahun menjadi 53.000 GW/tahun pada tahun 1996 dan angka ini terus berkembang menjadi 80.000 GWh/tahun pada tahun 2000. Permintaan kebutuhan energi listrik terbesar berada di sektor industri. Sementara sumber daya energi di Indonesia, misalnya minyak dan gas bumi mempunyai cadangan 84 milyar barrel (di Jawa dan luar Jawa), cadangan batubara sebesar 32 milyar ton (berada di luar Jawa), potensi energi panas bumi (geotermal) 16.035 MW (di Jawa dan luar Jawa), dan potensi air (di Jawa dan luar Jawa) sebesar 15.804 MW.  Sedangkan cadangan energi matahari dan belum banyak dimanfaatkan [2]. Khusus untuk kebutuhan energi listrik di Jawa dan Bali diperlukan kapasitas listrik terpasang pada tahun 2015 sebesar 35.000 MW yang terdiri atas 14.000 MW dari Pusat Listrik Tenaga Uap dengan bahan bakar batubara (PLTU batubara), 13.000 MW dari Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA), dan gas, serta sekitar 8.000 MW berasal dari pembangkit energi alternatif lainnya. Penambahan kapasitas terpasang energi listrik di Jawa, pada masa mendatang direncanakan menggunakan sumber daya energi non-minyak. Cadangan sumber daya air, panas bumi, surya dan angin sangat terbatas, sementara pembangkit energi listrik menggunakan bahan bakar batubara menimbulkan masalah pencemaran lingkungan dalam jangka panjang, maka perlu dipikirkan sumber energi alternatif non-minyak yang mempunyai teknologi ramah lingkungan. Salah satu sumber energi listrik nonminyak yang dipilih adalah energi nuklir, namun pembangunannya perlu persiapan yang matang dan lama, karena memerlukan sistem keselamatan dan keamanan yang canggih, serta memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi agar tidak menimbulkan masalah besar pada masa praoperasi, operasi, dan pasca operasi atau dekomisioning (decommissioning).

PEMANTAUAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.14 KB)

Abstract

Kemajuan tingkat kehidupan suatu bangsa biasanya dilihat dari peningkatan kebutuhan energi listrik oleh masyarakat. Jumlah penduduk yang terus meningkat memerlukan energi listrik untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk kegiatan rumah-tangga, komersil, industri, dan transportasi. Energi listrik tidak tersedia dalam bentuk siap pakai, namun dapat diperoleh dari sumber daya alam melalui berbagai proses konversi dari beberapa pembangkit, misalnya Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) menggunakan sumber daya alam air, Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan sumber daya alam batubara atau minyak atau gas, Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menggunakan bahan bakar nuklir (uranium), dan masih banyak lagi sumber daya alam yang dapat dipakai untuk pembangkit energi listrik (angin, matahari, panas bumi, gelombang laut, dan biomasa). Seluruh kegiatan pembangkit energi listrik dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan.

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL THINK TALK WRITE (TTW) DAN MISSOURI MATHEMATICS PROJECT (MMP) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS VII SMP NEGERI DI KABUPATEN PACITAN TAHUN AJARAN 2012/2013

Jurnal Pembelajaran Matematika Vol 2, No 10 (2014): Pembelajaran Matematika
Publisher : Jurnal Pembelajaran Matematika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The objectives of the research were to find out: (1) which one was improving better the students mathematics learning achievement, Think-Talk-Write (TTW) or Missouri Mathematics Project (MMP) and Conventional Learning model, (2) which one was providing better to mathematics learning achievement, the students who used visual, auditory, or kinesthetic learning style (3) who the students were provided to be better in mathematics learning achievement by applied the TTW, MMP, and Conventional model on each learning style. The research method used was a quasi-experimental research with 3x3 factorial design. The population of the research were the students of junior high schools in Pacitan regency in the school in year of 2012/2013. The sampling technique used was stratified cluster random sampling. The were 275 students who were divided into three groups. The groups devided into the experiment I, experiment II, and control class. Experiment I was consisted of 92 students, experiment II was consisted of 92 students, and control class was consisted of 91 students. The instruments used to collect the data were the students learning styles questionnaire, the students achievement in mathematics and documentation. The technique of data used was an unbalanced two ways analysis of variance. The results of the reseach were as follows: (1) the mathematics learning achievement to the students who were given the TTW learning model were as same as to the students were given the MMP learning model, but they were better than the students, learning achievement who were taught by the conventional learning model, The students learning achievement in the MMP learning model were as same as to the students learning achievement in the conventional learning model. (2) the mathematics learning achievement of the students by visual learning style were better than the students learning achievment by auditory or kinesthetic learning style, while the students by auditory learning style had their learning achievement as same as with the students by kinesthetic learning style. (3) the mathematics learning achievement to the students on each learning style, students were given the TTW learning model had shown the same learning achievement to students were given the MMP learning model, but they were better achievements when compared with student who were taught the conventional learning model, while the students who were given the MMP learning model has achievement as well as student who were given the conventional learning model.Keywords:     TTW learning model, MMP learning model, conventional learning model, learning style, mathematics learning achievement.