Articles

Found 11 Documents
Search

PEMBUATAN VERNIS BERBAHAN GONDORUKEM YANG DIMODIFIKASI GLISEROL DAN PADUAN LINSEED OIL DENGAN MINYAK BIJI KARET MENGGUNAKAN METODE ESTERIFIKASI TANPA KATALIS Sutanti, Sri; Purnavita, Sari; Sriyana, Herman Yoseph
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v2i1.1743

Abstract

Pembuatan vernis dari gondorukem, perlu dilakukan modifikasi guna mengatasi kelemahan yang dimiliki gondorukem. Penelitian kali ini merupakan proses modifikasi gondorukem dengan menggunakan gliserol dan paduan linseed oil dengan minyak biji karet. Tujuan penelitian adalah mendapatkan rasio terbaik dari kedua minyak yang digunakan.Rasio minyak biji karet terhadap linseed oil dalam penelitian ini yaitu: 0% : 100%; 10% : 90%; 20% : 80%; 30%, : 70%; 40% : 60%; 50% : 50%;  60% : 40%; 70% : 30%; 80% : 20%; 90% : 10% dan 100% : 0%. Proses pembuatan vernis dilakukan dengan menggunakan metode esterifikasi tanpa katalis pada suhu 230oC ? 250oC selama 4 jam. Selama proses dilakukan pengadukan menggunakan pengaduk mekanik. Vernis yang dihasilkan kemudian diaplikasikan pada panel kayu menggunakan spray gun.Vernis yang dihasilkan dianalisa kadar gliserol bebas, dan bilangan asam, sedangkan hasil aplikasinya dianalisa drying time, gloss level,daya rekat, hardness, serta pengamatan warna secara organoleptis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio 50% : 50% dan 60% : 40% menghasilkan vernis dengan karakter yang hampir sama dan lebih baik dibandingkan dengan rasio yang lain. Kata kunci: esterifikasi, gondorukem, linseed oil, minyak biji karet, vernis. 
PEMANFAATAN MINYAK BIJI RAMI (LINSEED OIL) DAN GLISEROL BY-PRODUCT BIODIESEL UNTUK PEMBUATAN VERNIS ALAMI Sutanti, Sri; Purnavita, Sari; Sriyana, Herman Yoseph
METANA Vol 9, No 01 (2013): Volume 9 No. 01 Juli 2013
Publisher : METANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.108 KB)

Abstract

Abstract Varnish is coating material that is produced by using polymer. Actually  natural varnish is produced by manufacturing natural polymer like gondorukem. The research is to study about optimizing of  reactant composition as the ratio of OH/COOH and operation temperature in the process of making natural varnish from gondorukem, linseed oil and glycerol by-product biodiesel using the alcoholysis method. The reaction is done in the reactor using agitator. The reaction consists of two steps, 1). the forming of monoglyceride, 2). the forming of varnish. Both steps of reaction is done at the same temperature (200oC, 220oC, 240oC and 260oC). Reactant ratio is used as equivalent ratio OH/COOH: 1,1; 1,2; and 1,3. We analyze free glycerol concentration in the first step reaction and  acid value in the second step reaction. The best result is obtained in ratio 1,2 and operation temperature 260oC. Key word: natural varnish, alcoholysis, equivalent ratio OH/COOH, linseed oil, glycerol by-product biodiesel.
IbM Industri Rumah Tangga Camilan di Kelurahan Pudakpayung, Semarang Rahayu, Lucia Hermawati; Sudrajat, Ronny Windu; Sutanti, Sri
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2018): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3482.41 KB) | DOI: 10.26877/e-dimas.v9i1.2257

Abstract

Program Pengabdian IbM ini dilaksanakan pada dua industri rumah tangga camilan di Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Semarang, yaitu IRT keripik sayur Berkah Zahran dan IRT kue jepit (belum berlabel). Kapasitas produksi dan kualitas produk di kedua IRT masih rendah dengan area pemasaran masih di sekitar Semarang, belum meluas ke daerah lain. Permasalahan yang dihadapi kedua mitra pada dasarnya sama, yakni menyangkut keterbatasan teknologi produksi. Permasalahan yang ada pada IRT Berkah Zahran meliputi: teknologi perajangan sayur, teknologi penirisan keripik, dan kapasitas peralatan penggorengan; sedangkan permasalahan pada IRT kue jepit meliputi teknologi pencampuran adonan, teknologi pressing kue jepit, kerusakan alat pencetak kue. Program IbM ini bertujuan untuk membantu dan memotivasi mitra meningkatkan kualitas produk dan kapasitas produksi kedua mitra melalui perbaikan teknologi produksi. Dengan demikian, pasar produk kedua mitra menjadi semakin luas dan dampaknya omzet mereka meningkat. Kegiatan IbM yang telah dilakukan adalah memberikan penyuluhan tentang teknologi produksi, pelatihan tentang pengoperasian alat produksi, dan serah terima alat produksi dari tim IbM kepada kedua mitra. Kegiatan IbM yang telah dilakukan memberikan dampak positif terhadap kualitas dan kuantitas (kapasitas produksi) di kedua IRT camilan. Proses produksi kedua mitra menjadi makin efisien dan efektif. Hal ini menjadikan kedua mitra termotivasi untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas jangkauan pemasaran produknya.
Produksi Sandal Dan Tas Eceng Gondok Di Kelompok Usaha “Renita” Dan “Sekar Melati” Purnavita, Sari; Sutanti, Sri; Haryanto, Poedji
E-DIMAS Vol 7, No 01 Maret (2016): E-DIMAS
Publisher : E-DIMAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang terdapat beberapa kelompok usaha yang membuat produk kerajinan eceng gondok, dua diantaranya adalah kelompok usaha Renita dan kelompok usaha Sekar Melati. Permasalahan yang dialami oleh kelompok usaha Renita adalah produk sandal eceng gondok yang diproduksi belum dapat menembus pasar kelas menengah keatas sehingga keuntungannya kecil. Rendahnya kualitas sandal dikarenakan teknologi produksinya  masih  sederhana  dan  tanpa  pengemas.  Sedangkan,  permasalahan yang  dialami  oleh  kelompok  usaha  Sekar  Melati  adalah  teknologi  pemutihan eceng gondok yang dilakukan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida belum bisa memberikan tampilan warna putih atau krem seperti yang diinginkan konsumen dan kurang ramah lingkungan, pembuatan tas masih dilakukan secara manual atau dijahit dengan tangan (tanpa menggunakan mesin jahit yang sesuai), dan penyimpanan produk belum diperhatikan (diletakkan bertumpuk begitu saja secara terbuka). Pemecahan masalah yang dilakukan pada kelompok usaha Renita adalah meningkatkan kualitas kerajinan sandal dengan menggunakan pisau pola spon dan mesin amplas serta memberikan kemasan untuk setiap pasang sandal. Sedangkan pada kelompok usaha Sekar melati dilakukan teknologi pemutihan bahan eceng gondok dengan bahan yang ramah lingkungan yaitu sodium meta bisulfit, teknologi pembuatan tas yang lebih berkualitas, dan manajemen penyimpanan produk kerajinan eceng gondok. Kata Kunci: eceng gondok, pisau pola sandal, pemutihan, sodium meta bisulfit
Produksi Sandal Dan Tas Eceng Gondok Di Kelompok Usaha ?óÔé¼?ôRenita?óÔé¼?Ø Dan ?óÔé¼?ôSekar Melati?óÔé¼?Ø Purnavita, Sari; Sutanti, Sri; Haryanto, Poedji
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2016): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7239.702 KB) | DOI: 10.26877/e-dimas.v7i1.1044

Abstract

Di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang terdapat beberapa kelompok usaha yang membuat produk kerajinan eceng gondok, dua diantaranya adalah kelompok usaha Renita dan kelompok usaha Sekar Melati. Permasalahan yang dialami oleh kelompok usaha Renita adalah produk sandal eceng gondok yang diproduksi belum dapat menembus pasar kelas menengah keatas sehingga keuntungannya kecil. Rendahnya kualitas sandal dikarenakan teknologi produksinya ?é?ámasih ?é?ásederhana ?é?ádan?é?á tanpa ?é?ápengemas. ?é?áSedangkan, ?é?ápermasalahan yang ?é?ádialami ?é?áoleh?é?á kelompok?é?á usaha ?é?áSekar?é?á Melati ?é?áadalah ?é?áteknologi?é?á pemutihan eceng gondok yang dilakukan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida belum bisa memberikan tampilan warna putih atau krem seperti yang diinginkan konsumen dan kurang ramah lingkungan, pembuatan tas masih dilakukan secara manual atau dijahit dengan tangan (tanpa menggunakan mesin jahit yang sesuai), dan penyimpanan produk belum diperhatikan (diletakkan bertumpuk begitu saja secara terbuka). Pemecahan masalah yang dilakukan pada kelompok usaha Renita adalah meningkatkan kualitas kerajinan sandal dengan menggunakan pisau pola spon dan mesin amplas serta memberikan kemasan untuk setiap pasang sandal. Sedangkan pada kelompok usaha Sekar melati dilakukan teknologi pemutihan bahan eceng gondok dengan bahan yang ramah lingkungan yaitu sodium meta bisulfit, teknologi pembuatan tas yang lebih berkualitas, dan manajemen penyimpanan produk kerajinan eceng gondok. Kata Kunci: eceng gondok, pisau pola sandal, pemutihan, sodium meta bisulfit
PEMBUATAN KERTAS SENI DARI ECENG GONDOK DI KWT SEKAR MELATI DAN I BONI Purnavita, Sari; Sutanti, Sri; Haryanto, Poedji
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2017): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3843.28 KB) | DOI: 10.26877/e-dimas.v8i1.1372

Abstract

Kecamatan Banyubiru merupukan Kecamatan yang terletak dekat dengan Danau Rawa Pening dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang lain. Di Kecamatan Banyubiru ada beberapa Kelompok Tani Wanita, dua di antaranya adalah KWT "Sekar Melati" dan "I" Boni. KWT "Sekar Melati" yang terletak di Dusun Sukondono, Desa Kebumen dan KWT "I" Boni terletak di Dusun Desa Rowokasum, Rowoboni. Kegiatan kedua kelompok tani wanita tersebut masih terbatas sebagai pencari eceng air, pengering eceng gondok, kolektor, dan pengayam eceng (produk setengah jadi untuk kerajinan) dan belum mampu mengolah eceng gondok menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga pendapatan anggota KWT masih rendah. Dalam program IbM ini dilakukan beberapa kegiatan: (1) persiapan peralatan, (2) proses konseling pembuatan kertas dari enceng gondok, (3) Workshop Enterpreneurshi, (4) pembuatan kertas pelatihan, dan 5) monitoring.
Pemberdayaan Kelompok Istri Tani Ternak melalui Pembuatan Produk Olahan Susu di Kelurahan Wates, Kota Semarang, Jawa Tengah Rahayu, Lucia Hermawati; Sudrajat, Ronny Windu; Sutanti, Sri
Jurnal Surya Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.339 KB) | DOI: 10.26714/jsm.1.1.2018.1-7

Abstract

Susu merupakan bahan makanan dengan kandungan gizi yang lengkap, tetapi mudah mengalami kerusakan. Pengolahan susu menjadi produk olahan susu harus dilakukan guna menanggulangi kerusakan susu segar dan  memberi nilai tambah susu. Namun, masih banyak petani ternak yang belum mengolah susu yang tidak habis terjual karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan tentang pengolahan susu termasuk Kelompok Tani Ternak (KTT) di Kelurahan Wates, Semarang. Padahal, keterampilan membuat produk olahan susu, seperti kerupuk dan stik susu, dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Mitra kegiatan PKM ini adalah kelompok istri peternak sapi KTT Air Bening I dan KTT Air Bening II di Kelurahan Wates, Semarang. Kegiatan PKM yang dilakukan meliputi penyuluhan dan pelatihan pembuatan kerupuk dan stik susu, praktek pengemasan, pendampingan dalam mengembangkan dan mengolah susu segar menjadi produk olahan susu, serta monitoring kegiatan. Hasil dari program PKM adalah peningkatan keterampilan mitra dalam memproduksi makanan olahan susu yang dapat dikembangkan sebagai usaha kecil untuk sumber penghasilan tambahan.Kata kunci: susu, kerupuk susu, stik susuAbstractMilk is an ingredient with a complete nutritional content, but is easily damaged. Processing milk into dairy product must be carried out in order to overcome the damage to fresh milk and gives added value to milk. However, there are still many livestock farmers who have not processed milk that has not been sold out due to limited knowledge and skills about milk processing including Kelompok Tani Ternak (KTT) who is a group of Livestock Farmer in Wates Village, Semarang. In fact, the skills to make dairy products, such as crackers and milk stick which are common Indonesian snacks, can be developed to increase farmers income. Partners of PKM activities are groups of wives of cattle farmers from the KTT Clear Water Summit I and the KTT Air Bening II in Wates Sub-district, Semarang. PKM activities include counseling and training in making crackers and milk sticks, packaging practices, mentoring about developing and processing fresh milk into dairy products, and monitoring other activities. The outcome of the PKM program is the improvement of partner skills in producing dairy product that can be developed by small businesses for additional sources of income.
PEMBUATAN BENANG OPERASI DARI ECENG GONDOK Purnavita, Sari; Rahayu, Lucia Hermawati; Sutanti, Sri
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 7, No 2 (2018): Bioma
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.839 KB) | DOI: 10.26877/bioma.v7i2.2854

Abstract

Operating thread needs in Indonesia to increase, but until now to supply the needs of operating threads absorbed (can be integrated with the body) still depends on imported products that are expensive. To reduce Indonesias dependence on biomaterials imports in the field of biomedicine, it can be done through the engineering of operating yarn production absorbed from Indonesias natural resources. Poly Lactic Acid (PLA) is a polymer that is widely applied as a biomaterial in biomedical fields such as operating threads. In this research, absorbable suture was made from poly lactic acid poly polymer blend from water hyacinth with natural glucomannan polymer of iles-iles. The aim of the study was to study: 1) the effect of polymerization reaction time on PLA yields and 2) the effect of poly lactic acid-glucomannan composition on the mechanical properties of operating threads. Making PLA using the ring opening polymerization method and making yarn using the wet spinning method. The independent variables at the manufacturing stage of the PLA polymer are reaction time = 60, 90, 120, and 150 minutes, while for the variable at the stage of operation yarn making is the ratio between the PLA period: glucomannan = (1: 3); (1: 2); ( 1: 1); (2: 1); (3: 1). The results showed that: 1) reaction time had a very significant effect on yield PLA and 2) different composition of poly lactic acid - glucomannan gave different tensile strength and tensile elongation values. Keywords: water hyacinth, poly lactic acid, glucomannan, operating thread
FORMULASI VERNIS POLIESTER BERBASIS GONDORUKEM - ASAM LAKTAT DAN GLISEROL DENGAN KATALIS SnCl2 Purnavita, Sari; Sutanti, Sri; Sudrajat, Ronny Windhu
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v2i1.1742

Abstract

Vernis poliester berbahan asam karboksilat dan gliserol dapat diaplikasikan pada pelapisan bahan dasar kayu terutama pada industri mebel untuk meningkatkan ketahanan terhadap cuaca. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan poliester dari dua jenis asam karboksilat (gondorukem dan asam laktat) dan jenis polialkohol yang digunakan adalah gliserol serta penambahan minyak biji rami. Penambahan asam laktat bertujuan untuk mempermudah pembentukan film. Untuk mempercepat reaksi ditambahkan katalis jenis SnCl2. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh rasio gondorukem dan asam laktat terhadap jumlah poliester dan mempelajari pengaruh jumlah katalis terhadap jumlah poliester yang dihasilkan. Permbuatan poliester diawali dengan mereaksikan minyak linseed dengan gliserol terlebih dahulu pada suhu 255oC disertai dengan pengadukan selama 3 jam. Selanjutnya suhu diturunkan menjadi 200oC dan dilakukan penambahan asam laktat dan gondorukem. Lalu dipanaskan kembali suhu 255oC selama 1 jam. Parameter yang diamati adalah jumah poliester yang dihasilkan dan waktu pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio (%b/%b) gondorukem dan asam laktat yang berbeda serta jumlah katalis yang berbeda memberikan pengaruh terhadap jumlah poliester yang dihasilkan dan berpengaruh pula terhadap waktu pengeringan poliester pada saat diaplikasikan sebagai vernis pada substrat kayu. Hasil  penelitian   menunjukkan  bahwa  vernis  poliester dari gondorukem : asam lakat dan gliserol dengan katalis SnCl2 terbaik diperoleh pada  rasio  (%b/%b) gondorukem : asam laktat sebesar 50 : 50 dan jumlah katalis sebesar 0,050%. Karakteristik vernis poliester memiliki bilangan asam 62,12, yield 72,28%, dan drying time 32 jam. Kata kunci : vernis, poliester, gondorukem, asam laktat, gliserol, minyak biji rami, SnCl2
KARAKTERISASI BIOPLASTIK BERBAHAN KOLANG-KALING DENGAN MONOGLISERIDA DARI MINYAK KELAPA Sutanti, Sri; Dewi, Cicilia Kusuma
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v3i2.2491

Abstract

Bioplastik merupakan plastik yang dapat diperbaharui karena terbuat dari bahan alam yang bersifat ramah lingkungan dan sumbernya melimpah di alam. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk pembuatan bioplastik adalah kolang-kaling. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh penambahan monogliserida terhadap karakteristik bioplastik dari kolang-kaling. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu jumlah monogliserida yang ditambahkan (0%; 1%; 2%; 3%; 4%; dan 5%). Proses pembuatan bioplastik dari kolang-kaling pada penelitian ini terdiri dari 2 tahap proses, yaitu: pertama adalah proses pembuatan monogliserida dari 100 g minyak kelapa ?Barco? dengan 190 g gliserol dan katalis NaOH sebanyak 0,1% dari jumlah minyak.. Pembuatan monogliserida dilakukan pada temperatur 200oC selama 3 jam disertai pengadukan. Monogliserida hasil reaksi dipisahkan menggunakan corong pisah. Tahap ke dua yaitu proses pembuatan bioplastik dari kolang-kaling. Sebanyak 30 g bubur kolang-kaling ditambahkan aquasdest 70 g, dan dilakukan proses gelatinasi pada temperatur 70oC. Selanjutnya ditambahkan monogliserida dan diaduk selama 15 menit pada temperatur 70oC. Sebelum adonan bioplastik dituang ke cetakan, dilakukan proses degassing selama 10 menit. Film bioplastik didinginkan dalam oven pada temperatur 55oC. Karakteristik bioplastik ditinjau dari ketebalan, densitas, tensile strength, elongation dan morfologinya. Kata kunci: Bioplastik, Karakteristik, Kolang-kaling, Monogliserida