Indri Hapsari Susilowati
Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Variation of Driving Skill among Elderly Drivers Compared to Young Drivers in Japan Susilowati, Indri Hapsari; Yasukouchi, Akira
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Volume 11, Issue 1, August 2016
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v11i1.830

Abstract

This study analyzed driving skill among Japanese elderly drivers compared to young drivers and see which less skilled that might impact road accident risk in highway. Subjects included young and elderly drivers, consisting of 10 college students (20 – 24 years old) and 25 elderly drivers (14 men and 11 women) coming from The Silver Manpower Centre, an organization for elderly > 60 years. Elderly drivers were divided into two age groups, namely elderly 1 aged 60 – 65 years (10 persons) and elderly 2 aged > 65 years (15 persons). Driving performance was evaluated by using driving game simulator in laboratory. Analysis was conducted on consistency in the lane, lane-changing skill, traffic sign compliance, right-turning skill, braking and driving speed. Statistical analysis was performed using ANOVA test. Generally, performance of elderly 2 was lower than the young almost in all parameters including consistency in the lane (p value < 0.007), traffic sign compliance (p value < 0.011), right-turning skill (p value < 0.001) and braking (p value < 0.001). In the lane-changing skill, young drivers showed significantly higher score (p value < 0.007) than both elderly groups in which elderly 1 (p value < 0.004); elderly 2 (p value < 0.001). The group > 65 years old were likely to be wrong on seeing traffic signs due to visual limitation and long response of compliance.AbstrakPenelitian ini menganalisis kemampuan mengemudi pada pengemudi lanjut usia (lansia) dibandingkan dengan usia muda di Jepang dan melihat keterampilan mengemudi yang kurang sehingga dapat memengaruhi risiko kecelakaan di jalan raya. Subjek penelitian adalah pengemudi usia muda dan lansia, terdiri dari 10 mahasiswa (20 - 24 tahun) dan 25 pengemudi lansia (14 laki-laki dan 11 perempuan) berasal dari The Silver Menpower Center, organisasi bagi lansia > 60 tahun. Pengemudi lansia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu lansia 1 berusia 60 - 65 tahun (10 orang) dan lansia 2 berusia > 65 tahun (15 orang). Kemampuan mengemudi dievaluasi dengan simulator permainan mengemudi dalam laboratorium. Analisis dilakukan pada konsistensi dalam jalur, perubahan jalur, kepatuhan pada rambu lalu lintas, kemampuan berbalik kanan, mengerem/akselerasi, dan kecepatan mengemudi. Analisis statistik menggunakan uji ANOVA. Secara umum, kemampuan pengemudi lansia 2 lebih rendah dibandingkan usia muda hampir di semua parameter, meliputi kekonsistenan dalam jalur (nilai p < 0,007), kepatuhan pada rambu lalu lintas (nilai p < 0,011), kemampuan berbalik kanan (nilai p < 0,001), dan keterampilan mengerem/akselerasi (nilai p < 0,001). Dalam keterampilan mengubah jalur, pengemudi usia muda menunjukkan skor signifikan (nilai p < 0,007) lebih tinggi dari kedua kelompok pengemudi lansia dimana lansia 1 (nilai p < 0,004); lansia 2 (nilai p < 0,001). Pengemudi > 65 tahun cenderung salah dalam melihat rambu lalu lintas karena terbatasnya penglihatan dan lamanya respons dalam mematuhinya.
Pekerjaan, Nonpekerjaan, dan Psikologi Sosial sebagai Penyebab Kelelahan Operator Alat Berat di Industi Pertambangan Batu Bara Susilowati, Indri Hapsari; Syaaf, Ridwan Zahdi; Satrya, Chandra; Hendra, Hendra; Baiduri, Baiduri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 2 September 2013
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v8i2.349

Abstract

Kelelahan merupakan salah satu faktor penyebab kecelakaan transportasi, ditandai dengan menurunnya kinerja fisik dan mental yang mengakibatkan kurangnya kewaspadaan karena rasa kantuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko dan faktor pendukung kelelahan pada operator alat berat. Penelitian dilakukan pada operator alat berat di 3 tambang batubara di Kalimantan (2 area di Kalimantan Timur dan 1 area di Kalimantan Selatan), melibatkan 353 operator alat berat yang bekerja dengan 3 sif. Hasilnya menunjukkan bahwa keluhan kelelahan semakin tinggi dengan meningkatnya usia, lama kerja, dan kerja pada sif 3 (malam hari). Kelelahan paling banyak dirasakan oleh operator dump truck (bagian hauling) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pekerjaan (postur saat bekerja, faktor variasi pekerjaan, beban kerja dan vigilance) dan faktor-faktor bukan pekerjaan (kondisi medan atau area tambang yang berisiko, penerangan yang kurang pada malam hari, dan rute yang selalu berubah). Faktor lainnya berkaitan dengan masalah sosial-psikologis, baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun lingkungan kerja, seperti waktu istirahat, standar gaji yang belum memadai, pengaturan jadwal cuti yang sering tidak jelas, dan masalah karier. Disimpulkan, secara umum kelelahan meningkat dengan bertambahnya usia dan lama kerja, dengan kelelahan yang lebih besar pada pekerja sif 3. Umumnya, penurunan waktu reaksi pekerja sif malam lebih besar daripada waktu reaksi pekerja sif siang.Fatigue is one of the causes of transportation accidents, characterized by reduced physical and mental performance resulting in reduced alertness due to drowsiness. The present study was to determine the risk factors and contributing factors of fatigue suffered by heavy equipment operators. The study was conducted at three coal mining sites in Kalimantan (2 areas in East Kalimantan and 1 area in South Kalimantan) involving 353 heavy equipment operators who work in shifts. It was found that fatigue complaint is higher by older age, longer work, and work at shift 3 (night time). The fatigue is mostly complained by dump truck (hauling part) operators which was influenced by work-related factors (work posture, job variety, workload, vigilance) and non-work related factors (terrain or mine risk area, lack of lighting at night, and route track which is always changed). Another factors related with socio-psychological factors, either related with job or working environment, such as adequacy of rest time, remuneration system, leave system, and insecure career. It is concluded that in general the fatigues were increased as the worker ages were older and longer duration of work, with higher fatigues were suffered at shift 3. Generally, reduced reaction time among shift 3 workers is higher than that those of daytime shift.