Endang Sri Susilo
Jurusan Ilmu Kelautan FPIK-Universitas Diponegoro, Semarang Telp. (024) 7474698
Articles
2
Documents
Teknik Setting Spora Gracilaria gigas Sebagai Penyedia Benih Unggul dalam Budidaya Rumput Laut

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.922 KB)

Abstract

Rumput laut Gracilaria gigas dapat dikembangkan melalui cara generatif dengan cara menumbuhkan spora hingga menjadi thalus dengan teknik setting spora. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari media yangtepat untuk tumbuhnya spora hingga menjadi thallus muda. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan media tempat melekatnya spora hingga menjadi thallus muda adalah talirafia, tali nilon, tali ijuk dan tali kapas. Hasil yang didapat menunjukan bahwa media yang paling banyak ditumbuhi oleh thalus muda adalah media dati tali rafia dengan kepadatan pertumbuhan 84 ind/cm2 sedangkan yang paling sedikit adalah media dari tali kapas dengan kepadatan pertumbuhan 24 ind/cm2.Kata kunci : Gracilaria gigas, setting spora, thallus, mediaSeaweed of Gracilaria gigas has developed by generative method with the concept to growing spores to be young thallus on the substrates. The aim of the research is to find the substrate which has comfortable sporesstick on to be young thallus. Randomized design was used in these experiment with four kind of rope (raffia, nylon, palm fiber and cotton) as a substrates. The highest number of young thallus was grew on raffia rope as substrate and the lowest was on cotton rope as a substrate.Key words : Gracilaria gigas, spora setting, thallus, media

PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA NELAYAN PESISIR PANTAI DENGAN APLIKASI TEKNOLOGI PEWARNA ALAM LIMBAH MANGROVE JADI BATIK DI MANGKANG KECAMATAN TUGU SEMARANG

E-ISSN 2580-3786
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.849 KB)

Abstract

Masyarakat nelayan perempuan pesisir di Kecamatan Tugu Semarang memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan desanya melalui wira usaha wisata. Potensi yang dimiliki di wilayah tersebut adalah pariwisata mngrove, sector budidaya, hasil2 produk perikanan. Semua potensi tersebut berpeluang untuk dapat meningkatkan aktifitas pembangunan sosial ekonomi, membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Masyarakat di Kecamatan Tugu Semarang yang sangat antusias untuk meningkakan penghasilan dalam rumah tangganya namun belum ada peluang karena keterbatasan pengetahuan, fasilitas dan kesempatan. Maka salah satu tantangan dalam solusi permasalah tersebut diatas  adalah dengan terciptanya industri wisata. Membentuk inkubasi wirausaha baru (INWUB) pada masyarakat melalui tercapainya alih/transfer teknologi bahan alam khususnya tentang produk yang spesifik batik pewarna alam  mangrove. Wilayah tersebut merupakan wilayah pesisir pantai utara Semarang yang di wilayahnya banyak ditanami tanaman mangrove. Budidaya mangrove mereka lakukan dari turun temurun, kini wilayah tanaman mangrovenya sudah meluas di sepanjang pantai Mangunhardjo. Limbah tanaman mangrove biasanya terdapat dalam bentuk ranting, batang, daun atau tanaman yang tidak tumbuh. Limbah tersebut  biasannya dibakar atau dikubur dalam tanah. Team UNDIP telah memulai dalam memberikan solusi dalam pemanfaatan limbah mangrove, yaitu dengan memanfaatkan limbah mangrove sebagai bahan warna alam. Masyarakat nelayan perempuan pesisir di Kecamatan Tugu Semarang memiliki kini berpeluang untuk dapat meningkatkan aktifitas pembangunan sosial ekonomi, membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. banyak ditanami tanaman mangrove. Kini sudah berjalannya program pemberdayaan wanita nelayan pesisir  di desa Mangunhardjo Kecamatan Tugu Semarang dan telah menjadikan masyarakat lebih meningkat produksi batik mangrovenya dengan diversifikasi warna yang bervariasi. Telah dibentuk inkubasi wirausaha baru (INWUB) yang khusus produksi asesoris dari mangrove. Wira usaha ini masih dibawah koordinasi kelompok batik ”Wijaya Kusuma”. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa batik pewarna alam dari ekstrak daun dan kulit limbah mangrove yang difiksasi dengan tawas, kapur dan tunjung menghasilkan warna batik yang berbeda-beda. Hasil penelitian batik pewarna alam dari daun limbah mangrove cenderung lebih muda warnanya dibandingkan dengan kulit limbah mangrove dan variasi warna juga terganting dari fixaxernya. Dari aplikasi teknologi pewarn limbah mangrove jadi batik, maka kini telah dibangun galeri batik limbah mangrove “Wijaya Kusuma” yang berlokasi di desa Mangunhardjo.