Sugeng Heri Suseno
2Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor jalan agatis lingkar kampus akademik IPB telepon 0251-8622915 faks. 0251-8622916, Bogor 16680

Published : 32 Documents
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Daging Lumat Ikan Nilem (Ostheocilus hasselti) pada Pembuatan Simping sebagai Makanan Camilan Suseno, Sugeng Heri; Suptijah, Pipih; Wahyuni, Darma Sri
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.697 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan daging lumatan ikan nilem (Osteochilus hasselti) terhadap mutu produk simping. Hasil penggamatan organoleptik untuk penampakan, aroma, rasa, tekstur secara umum cenderung meningkat. Berdasarkan parameter organoleptik, perlakuan penmbahn daging lumat 15% memberikan nilai organoleptik tertinggi. Pada hasil uji proksimat diperoleh kenaikan kadar abu, air, dan kadar protein simping ikan.Kata kunci: Ikan Nilem (Ostheochilus hasselti) dan Simping
Pemanfaatan Asam Cuka, Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) untuk Mengurangi Bau Amis Petis Ikan Layang (Decapterus spp.) Poernomo, Djoko; Suseno, Sugeng Heri; Wijatmoko, Agus
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7, No 2 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.168 KB)

Abstract

Petis ikan merupakan komoditi hasil pengolahan ikan yang biasa digunakan sebagai lauk pauk atau campuran makanan rakyat yang khas. Petis ikan memiliki pontensi yang sangat besar dalam pemasaran, namun ada masalah atau kendala pada petis ikan yaitu bau amis yang menyengat. Dalam penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan asam-asam organik seperti jeruk nipis (Citrus aurantifolia), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dan asam cuka dengan konsentrasi berbeda terhadap pengurangan bau amis petis ikan (Decapterus spp.). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penambahan jeruk nipis dengan konsentrasi 15% cukup efektif untuk mengurangi bau amis petis ikan layang dan penambahan jeruk nipis ini tidak mempengaruhi zat gizi yang ada dalam petis ikan.Kata kunci: asam cuka, bau amis, belimbing wuluh, jeruk nipis, petis ikan
PROFIL ASAM LEMAK DAN ASAM AMINO GONAD BULU BABI afifudin, isna kurniati; Suseno, Sugeng Heri; Jacoeb, Agoes Mardiono
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17, No 1 (2014): JURNAL PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN INDONESIA
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2583.818 KB)

Abstract

Bulu babi merupakan salah satu sumber daya hayati dengan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan komposisi kimia (kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat), profil asam lemak dan asam amino pada gonad bulu babi Diadema setosum, Echinothrix calamaris dan Echinothrix diadema. Profil asam lemak ditentukan dengan gas kromatografi dan asam amino dengan HPLC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gonad bulu babi D. setosum, E. calamaris dan E. diadema mengandung asam lemak total masing-masing yaitu 60,37%, 58,35% dan 58,55%. Kandungan asam lemak tertinggi yaitu asam palmitat sebesar 18,44% pada gonad D. setosum, 16,65% pada gonad E. diadema dan 16,55% pada gonad E. calamaris. Tiga jenis gonad bulu babi ini mengandung asam lemak tak jenuh omega-3 sebesar (3,16-3,99)%, omega-6 (9,21-13,88)%, omega-9 (3,95-5,01)%, EPA (2,3-2,89)% dan DHA (0,38-0,73)%. Asam amino yang terkandung di dalam gonad bulu babi ini yaitu 15 jenis yang terdiri atas 8 jenis asam amino esensial dan 7 jenis asam amino non-esensial. Kandungan asam amino total pada D.setosum, E. calamaris dan E. diadema adalah 13,41%, 10,49% dan 10,72%.Kata kunci: Diadema setosum, Echinothrix calamaris, Echinothrix diadema, proksimat.
KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA BAKSO DARI DAGING LUMAT IKAN LAYARAN (Istiophorus orientalis) Poernomo, Djoko; Suseno, Sugeng Heri; Subekti, Bayu Prasetyo
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.636 KB)

Abstract

Daging lumat biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan surimi, dan produk turunannya sepertibakso ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fi sika kimia gel daging lumat dan baksodari daging lumat ikan layaran serta membandingkan bakso hasil penelitian dengan bakso ikan komersial.Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu karakterisasi fi sika kimia dan organoleptikgel daging lumat danbaksonya. Gel daging lumat ikan memiliki karakteristik fi sik derajat putih;63,03%, daya ikat air56,44% dankekuatan gel 1469,45 gf. Kadar air 76,13%, abu 2,80%, protein 11,20%, lemak 0,80% dan karbohidrat 9,07%serta protein larut garam sebesar 4,66%, dan organoleptik sebagai berikut: uji lipat 5,uji gigit 7. Sementaraitu, bakso daging lumat ikan layaran memiliki karakteristik yaitu derajat putih, daya ikat air dan kekuatan gelsebesar 67,6%, 56,51% dan 755,65 gf serta uji lipat dan uji gigit yang bernilai 5 dan 7. Kadar air, abu, protein,lemak, karbohidrat, protein larut garam dan pH bernilai 71,18%, 1,39%, 8,37%, 1,19%,17,87%, 3,33% dan 5,82.
PEMANFAATAN LIMBAH IKAN SIDAT INDONESIA (Anguilla bicolor) SEBAGAI TEPUNG PADA INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN DI PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI Widyasari, RA Hangesti Emi; Kusharto, Clara M; Wiryawan, Budy; Wiyono, Eko Sri; Suseno, Sugeng Heri
Jurnal Gizi dan Pangan Vol 8, No 3 (2013): NOVEMBER 2013
Publisher : Jurnal Gizi dan Pangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.069 KB)

Abstract

ABSTRACTThis research aims to analyze the nutritive value of flour head, liver powder and bone meal as by product of Indonesian eel (Anguilla bicolor) processing. Eel waste flour was made by using a thermal process in the drum dryer fish flouring mill PT. Carmelitha Lestari in Bogor, whereas proximate analysis for chemical tests were performed in the laboratory of Integrated Chemical Laboratory, IPB and direct observation was conducted in PT Jawa Suisan Indah, Palabuhanratu Sukabumi district in October 2012—April 2013. The nutritive value based on proximate analysis showed that head flour, liver flour, and bone flour contained protein 61.78%, 53.92%, and 41.01%; fat 15.55%, 27.28%, 13.07%; carbohydrate 11.48%; 14.96%, 8.13%; water 5.44%, 8.48%, 3.01%; ash 12.95%, 3.62%, 37.49%, and crude fiber 1.33%, 0.04%, 1.11%, respectively.Keywords: Anguilla bicolor, bone flour, head flour, liver flour, nutritive valueABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan gizi tepung kepala, tepung tulang dan tepung hati ikan yang merupakan limbah pengolahan ikan sidat Indonesia (Anguilla bicolor). Tepung limbah ikan sidat dibuat berdasarkan proses termal menggunakan drum dryer di pabrik penepungan ikan PT. Carmelitha Lestari di Bogor dan analisis proksimat untuk uji kimiawi dilakukan di Laboratorium Kimia Terpadu, IPB serta observasi langsung di PT Jawa Suisan Indah, Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi pada bulan Oktober 2012—April 2013. Hasil analisis proksimat tepung kepala, tepung hati dan tepung tulang mengandung protein berturut-turut sebesar 61.78%, 53.92%, dan 41.01%; lemak sebesar 15.55%; 27.28%; 13.07%, karbohidrat sebesar 11.48%; 14.96%; 8.13%, kadar air sebesar 5.44%; 8.48%; 3.01%, kadar abu 12.95%; 3.62%; 37.49% dan serat kasar 1.33%; 0.04%; 1.11%.Kata kunci: Anguilla bicolor, nilai gizi, tepung hati, tepung kepala, tepung tulang
PROFIL ASAM LEMAK DAN KESTABILAN PRODUK FORMULASI MINYAK IKAN DAN HABBATUSSAUDA Suseno, Sugeng Heri; nurjanah, - -; Faradiba, Tenny -
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 16, No 2 (2013): JURNAL PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN INDONESIA
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.397 KB)

Abstract

Minyak ikan dan minyak habbatussauda saat ini banyak digunakan untuk meningkatkan kecerdasandan mencegah berbagai penyakit. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik dan kestabilanproduk kombinasi minyak ikan dan habbatussauda. Formulasi kombinasi minyak ikan dan habbatussaudayaitu sebesar 1:1, 3:1, 5:1, dan 7:1. Analisis profi l asam lemak menunjukkan bahwa minyak ikan didominasioleh EPA dan DHA, sedangkan komponen utama minyak habbatussauda adalah asam oleat dan asamlinoleat. Minyak habbatussauda memiliki aktivitas antioksidan sebesar 551,17 mM AEAC, sedangkanminyak ikan sebesar 61,15 mM AEAC. Formulasi terbaik berdasarkan uji FFA, bilangan peroksida, dananisidin adalah formulasi 1:1 dengan nilai masing-masing 1,68%, 26,67 meq/kg dan 13,65 meq/kg. Hasilterbaik berdasarkan uji kestabilan adalah produk kombinasi 3:1 dengan nilai FFA terendah hingga harike-9 sebesar 5,94%, sedangkan untuk uji organoleptik adalah formulasi 7:1, paling disukai panelis karenamemiliki warna yang paling cerah.Kata kunci: anisidin, kestabilan, organoleptik, peroksida
ANALISIS KEKUATAN GEL (GEL STRENGTH) PRODUK PERMEN JELLY DARI GELATIN KULIT IKAN CUCUT DENGAN PENAMBAHAN KARAGINAN DAN RUMPUT LAUT suptijah, pipih -; Suseno, Sugeng Heri; anwar, cholil -
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 16, No 2 (2013): JURNAL PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN INDONESIA
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.239 KB)

Abstract

AbstrakPermen jelly merupakan permen bertekstur kenyal dengan penambahan komponen hidrokoloid,misalnya agar, gum, pektin, pati, karaginan, gelatin, dan lain-lain yang digunakan untuk modifi kasitekstur sehingga menghasilkan produk yang kenyal. Penelitian ini bertujuan menentukan kekuatan gel (gelstrength) dan formulasi terbaik dari permen jelly yang berasal dari gelatin kulit ikan cucut dan karaginan.Metode analisis yang digunakan, meliputi analisis proksimat, pH, rendemen, viskositas, analisis sensori,dan kekuatan gel. Konsentrasi asam asetat terbaik dalam pembuatan gelatin adalah 0,1 N dan formulasipermen jelly terbaik terdapat pada permen jelly yang dibuat dari gelatin 1,75% dan karaginan 3,50% denganmenghasilkan kekuatan gel 169,35 N/cm2.Kata kunci: gelatin, ikan cucut, kekuatan gel (gel strength), permen jelly
Refining of Mackerel Fish Oil from Fish Meal Processing Byproduct with Alkali Neutralization Kukuh Feryana, I Wayan; Suseno, Sugeng Heri; -, Nurjanah -
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17, No 3 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3114.053 KB)

Abstract

Fish oil neutralization with alkali was a common refining technique used to separate impurities and decrease oil oxidation parameters value. The purpose of this study were to analyze oxidation parameters and determine the best NaOH concentration treatment. The best NaOH concentration to neutralize mackerel fishmeal processing byproduct (Scomber japonicus) oil was 24oBe (17.87% NaOH) with 56.33±1.15% yield; peroxide value (PV) 5.60±0.42 meq/kg; p-Anisidine value (AnV) 14.31±0.15 meq/kg; percentage of free fatty acid (%FFA) 2.16±0.25%; acid value (AV) 4.30±0.49 mg KOH/kg and total oxidation value (TOTOX) 25.53±0.71 meq/kg.Keywords: fish oil, mackerel, neutralization
Fish oil quality of by-product (fish skin) from swangi fish Huli, La Ode; Suseno, Sugeng Heri; Santoso, Joko -
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17, No 3 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3179.262 KB)

Abstract

The skin of swangi fish is a potential fish skin to be produced for fish oil. The objectives of this research were aimed to determine the yield and the best quality of fish oil and also to compare fatty acid profile of the fish according to different extraction methods. Fish oil extractions were used by wet rendering method with extraction temperatures of 60, 70, 80, 90, 100°C for 20, 30, and 40 minutes. Fish oil quality was determined by the chemical oil characteristics i.e. PV, FFA, AV, anisidin, and TOTOX. Fatty acid profile was analyzed using gas chromatography (Shimadzu). The results of the study showed that the highest fish oil yield in each treatment was obtained extraction temperature of 60°C for 30 minutes with percentage of 0.33, (70°C for 30 minutes) 0.46, (80°C for 30 minutes) 1.23, (90°C for 20 minutes) 1.14 and (100°C for 20 minutes) 0.84. These values were lower compare to Bligh & Dyer and Soxhlet methods. Then, the best fish oil quality was resulted on temperature extraction of 60°C for 30 minutes with PV, FFA, anisidin, AV, and TOTOX were 9.17 meq/kg, 6.92%, 13,77 mg KOH/g, 0.86 meq/kg and 19.19 meq/kg, respectively. FUFA fatty acid compositions of swangi skin fish oil especially EPA and DHA in wet rendering method were gained 0.73% and 2.53%, respectively. These results were lower than Bligh & Dyer method which was consisted of 3.66% (EPA), and 13.29% (DHA) and also Soxhlet extraction method with value of EPA was 2.78% and DHA was 9.62%.Keywords: EPA, extraction temperature, DHA, fish oil quality, fish skin
Pemanfaatan Asam Cuka, Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) untuk Mengurangi Bau Amis Petis Ikan Layang (Decapterus spp.) Poernomo, Djoko; Suseno, Sugeng Heri; Wijatmoko, Agus
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7, No 2 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Department of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.168 KB)

Abstract

Petis ikan merupakan komoditi hasil pengolahan ikan yang biasa digunakan sebagai lauk pauk atau campuran makanan rakyat yang khas. Petis ikan memiliki pontensi yang sangat besar dalam pemasaran, namun ada masalah atau kendala pada petis ikan yaitu bau amis yang menyengat. Dalam penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan asam-asam organik seperti jeruk nipis (Citrus aurantifolia), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dan asam cuka dengan konsentrasi berbeda terhadap pengurangan bau amis petis ikan (Decapterus spp.). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penambahan jeruk nipis dengan konsentrasi 15% cukup efektif untuk mengurangi bau amis petis ikan layang dan penambahan jeruk nipis ini tidak mempengaruhi zat gizi yang ada dalam petis ikan.Kata kunci: asam cuka, bau amis, belimbing wuluh, jeruk nipis, petis ikan