JC. Susanto
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Jl. Dr. Sutomo 18 Semarang

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemberian Diet Tambahan pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Asianotik

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2009:MMI VOLUME 43 ISSUE 6 YEAR 2009
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Food supplementation for children with acyanotic congenital heart diseaseBackground: Children with Congenital Heart Disease (CHD) have a high risk for growth faltering. The prevalence of undernutrition in children with acyanotic CHD on the Pediatric Cardiology Clinic Dr. Kariadi Hospital Semarang is 80.4%. The purpose of the study is to define the benefit of food supplementation to children with acyanotic CHD to improve their growth.Methods: Clinical trial with one group pre and post test design study were conducted in children with CHD in the Pediatric Cardiology Clinic Dr. Kariadi Hospital Semarang during 2005-2006. Twenty-two children aged 6-57 months were involved in this study. Besides their daily intake, they had been given biscuit as food supplementation for 3 months, 20% above their Requirement Daily Allowance (RDA). Their weight and length/height were measured every months. The data was analyzed using Wilcoxon test.Results: The mean of Weight of Age z score (WAZ), Height of Age z score (HAZ), and Weight of Height z score (WHZ) before the supplementation were -1.570.9; -0.751.97; and -0.891.7 respectively. After 3 months there were an increased on WAZ 0.16 and HAZ 0.33 significantly but the improvement of WHZ is 0.01 (not significant). During the supplementation the calorie and protein intake were increased 14.6% and 8.4% respectively.Conclusion: Food supplementation with biscuit 14.6% above the RDA for 3 months improve the growth of children with acyanotic CHD.Keywords: Food supplementation, growth, acyanotic CHDABSTRAKLatar belakang: Anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan anak yang rawan mengalami gangguan pertumbuhan. Di Klinik Kardiologi Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang, didapatkan 80,4% anak dengan PJB asianotik mengalami gizi kurang. Pemberian diet tambahan diharapkan memperbaiki status gizi dan pertumbuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manfaat diet tambahan pada anak dengan PJB asianotik terhadap pertumbuhan.Metode: Uji klinis one group dengan pre and post test design, dilakukan pada anak dengan PJB asianotik di Klinik Kardiologi Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2005-2006. Dua puluh dua anak berumur 6-57 bulan diberikan perlakuan dengan pemberian biskuit sampai dengan 20% di atas Angka Kecukupan Gizi (AKG) selama 3 bulan selain tetap diberikan diet sehari-hari. Setiap bulan berat badan, panjang/tinggi badan diukur. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon dengan batas kemaknaan p<0,05.Hasil: Sebelum perlakuan rerata z skor BB/U (WAZ) -1,570,9, z skor TB/U (HAZ) -0,751,97, z skor BB/TB (WHZ) rerata -0,891,7 dan sesudah perlakuan WAZ BB/U -1,411, HAZ -0,421,8, WHZ -0,881,6. Peningkatan rerata pertumbuhan sebelum dan sesudah perlakuan WAZ 0,16, HAZ 0,33 dan WHZ 0,01. Didapatkan perbedaan bermakna pada WAZ dan HAZ sedangkan WHZ tidak bermakna. Akseptabilitas meningkat setiap bulan dan terjadi peningkatan bermakna rerata asupan energi dan protein yang bersumber dari biskuit masing-masing sebesar 14,6% dan 8,4% dalam waktu 3 bulan.Simpulan: Pemberian biskuit minimal 14,6% di atas AKG selama 3 bulan pada anak PJB asianotik meningkatkan pertumbuhan.

Pengaruh Suplementasi Seng Terhadap Insidens Diare dan Tumbuh Kembang Anak pada Usia 24-33 Bulan

Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang.Defisiensi seng sangat sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Suplementasi seng dapat menurunkan insidens diare, memperbaiki defisiensi seng, serta memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan.Membuktikan pengaruh suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu terhadap insidens diare serta tumbuh kembang pada anak usia 24-33 bulan. Metode.Penelitian eksperimental dengan double-blind, randomized controlled trial, dilakukan di beberapa kelompok PAUD di Kelurahan Tandang, Semarang pada Desember 2010-Februari 2011. Seratus anak usia 24-33 bulan secara random dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (n=50) menerima 5 cc sirup seng elemental 20 mg dua kali seminggu dan kelompok kontrol (n=50) menerima 5 cc sirup plasebo dua kali seminggu selama 12 minggu. Kadar seng plasma diperiksa sebelum perlakuan. Pertumbuhan dinilai dengan antropometri (berat badan, tinggi badan) dan perkembangan (skor bahasa, visual motorik) menggunakan Capute scale test, diukur sebelum dan setelah perlakuan. Data morbiditas diare dan pengukuran tinggi badan dan berat badan dicatat dan diukur setiap 2 minggu, perkembangan kognitif dipantau setiap 4 minggu saat kunjungan rumah. Uji statistik dilakukan dengan Chi-square dan Mann-Whitney test.Hasil. Insidens diare pada kelompok perlakuan 34%, risiko relatif 1,32 (95% IK=0,89-1,95), sedang pada kontrol 22%. Rerata kadar seng serum pada kelompok perlakuan dan kontrol rendah (<60 mcg/dL) dengan nilai p=0,059. Rerata perubahan skor WAZ dan HAZ kelompok perlakuan sama dengan kontrol 0,11 dengan nilai p=0,098. Rerata perubahan skor WHZ kelompok perlakuan 0,19 dan kontrol 0,32 dengan nilai p=0,647. Perubahan skor bahasa kelompok perlakuan 7,72 dan kontrol 6,98 dengan nilai p=0,319 dan perubahan skor visual motorik kelompok perlakuan 6,30 dan kontrol 5,78 dengan nilai p=0,342.Kesimpulan.Suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu tidak menurunkan insidens diare pada kelompok perlakuan. Terjadi percepatan pertumbuhan serta perubahan skor bahasa dan visualmotorik pada kelompok perlakuan tetapi dengan uji statistik tidak ada perbedaan bermakna.

Pemberian Diet Formula Tepung Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) pada Sindrom Nefrotik

Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pemberian diet dengan protein seimbang pada sindrom nefrotikbertujuan untuk meningkatkan kadar albumin serum. Ikan gabus merupakan ikan airtawar yang banyak dijumpai di Indonesia dan memiliki kadar protein lebih tinggidibandingkan ikan lainnya.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberiansuplementasi formula tepung ikan gabus terhadap peningkatan kadar albumin serumpasien sindrom nefrotik.Metodologi. Penelitian uji klinik terbuka dilakukan di Bangsal Anak RS Dr. KariadiSemarang, pada 36 anak dengan sindrom nefrotik kelainan minimal, yang terbagi dalamkelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mendapatkansuplementasi ikan gabus, dengan cara mengganti 25% kebutuhan protein dengan tepungikan gabus. Suplemntasi ikan gabus diberikan setiap hari selama 21 hari, dengan jumlahprotein total yang diberikan sama dengan kelompok kontrol. Indeks masa tubuh (IMT),protein total, albumin dan globulin serum diukur setiap minggu, sedangkan akseptabilitastepung ikan gabus dinilai setiap hari. Analisis statistik menggunakan uji t independent.Hasil. Pada kedua kelompok didapatkan peningkatan IMT, kadar protein total danalbumin serum pada akhir penelitian dibandingkan dengan data awal. Tidak didapatkanperbedaan kadar protein total dan globulin pada akhir penelitian antara kelompokperlakuan dan kelompok kontrol. Selisih kenaikan kadar albumin pada kelompokperlakuan (2,04 ± 1,47 g/dl) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kelompokperlakuan (1,47 ± 0,82 g/dl) dengan nilai p = 0,018.Kesimpulan. Pemberian suplementasi tepung ikan gabus selama 21 hari pada pasiensindrom nefrotik kelainan minimal dapat meningkatkan kadar albumin serum.