Articles

Found 5 Documents
Search

PERBEDAAN BUSINESS MODEL CREATIVE SUITE DAN CREATIVE CLOUD DALAM BUSINESS MODEL CANVAS Susanto, Imam
Jurnal Ilmiah Universitas Bakrie Vol 2, No 02 (2014): Januari 2014
Publisher : Universitas Bakrie

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adobe telah meluncurkan sebuah inovasi baru dari beberapa produk yaitu Adobe Creative Cloud. Inovasi ini berpengaruh kepada industri digital kreatif karena produk Adobe memang sudah menjadi standar industri dalam industri digital kreatif. Creative Suite dan Creative Cloud memiliki Business Model yang berbeda sehingga diperlukan identifikasi perbedaan antara dua produk tersebut. Penelitian ini memberikan perbandingan secara komprehensif antar Adobe Creative Suite dan Adobe Creative Cloud menggunakan Business Model Canvas. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat beberapa perkembangan di setiap elemen Business Model Canvas. Adobe Creative Cloud mengimplementasikan Subscription Model, Freemium Model, dan Multiplatform Business Model. Temuan ini menunjukkan adanya tren pada industri perangkat lunak seperti Cloud Computing, keamanan data dan privasi, serta pembajakan.
Changing of Condylar Fracture Approach in Cipto Mangunkusumo Hospital Susanto, Imam; Bangun, Kristaninta; Handayani, Siti; Kreshanti, Prasetyanugrahni; Hapsari, Nathania Pudya
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol 1 No 6 (2012): November - December Issue
Publisher : Yayasan Lingkar Studi Bedah Plastik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14228/jpr.v1i6.120

Abstract

Management of condylar fracture draws controversy for over three decades. Previously, closed reduction with intermaxillary !xation (IMF) had been predominant for many surgeons, considering shorter length of procedure, ability to achieve preinjury occlusion with acceptable adjustment, and low cost of procedure. Introduction of osteosynthesis material rigid internal !xation (RIF) and adaptive miniplate !xation marked technology development in condylar fracture management and became popular in term of the applicability and outcome results. Over period time, several studies proposed vary classi!cation system and selection patient criteria for surgical treatment on the basis of age, location of fracture, degree of communition, direction of proximal fragment displacement, location of condylar head, concomitant medical illness or associated trauma, and patient’s preferences to achieve optimum goal. This review focuses on the shifting of condylar fracture management at Cipto Mangunkusumo Hospital from 2004-2012. 
Pitfalls in Rhinoplasty: Avoiding Mismatch Between Anatomy, Patient Expectation and Mastery of The Surgeon Susanto, Imam
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol 1 No 4 (2012): July-August Issue
Publisher : Yayasan Lingkar Studi Bedah Plastik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14228/jpr.v1i4.122

Abstract

Background: Aesthetic surgery is a component of Plastic Surgery which deals with a “normal” person with neither disease nor disfigurement. They seek surgery to enhance appearance, which is expected to boost confidence level and performance. Because aesthetic patient come with no physical deformity, their expectation for perfection is high. As plastic surgeons, we must be aware of the pitfalls in our works, how much can we deliver the expectations of patients as suited to our knowledge and our capability in mastering surgical technique including the implementation of new techniques combined with technology. Our awareness throughout each surgery, and the obsession for perfection must measure up to what the patient desire. Patients and Method: A review of 3 augmentation rhinoplasty patient cases who come to my private practice between 2006-2012 with concern of postoperative results is presented, prior previous surgeries were done either by author or other surgeons. Result: All patients received surgical counseling and scheduled correctional surgeries, nearly all patient accepted the final results and were satisfied. Summary: Pitfalls are common in aesthetic surgeries. To prevent this, we must be aware all aspects involved starting from the first consultation with patient, carefully assess the anatomy and anomaly of each case, master the surgical techniques used, and careful when implementing new techniques. Finally, have the wisdom to say ‘no’ to patients who are not good candidates for aesthetic surgery. 
Abdominoplasty: A Proposal of Results by Measurement Susanto, Imam
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol 2 No 1 (2013): January - March Issue
Publisher : Yayasan Lingkar Studi Bedah Plastik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14228/jpr.v2i1.129

Abstract

Background: Among  body  contouring  procedures, abdominoplasty  is  a  procedure,  which  cosmetic surgery patients seek most frequently. The aim of abdominoplasty is to fulfill the ideal appearance of the abdomen  without complication.  Optimal  results  and  proposed  best  accuracy measurement  tool for abdominal dimension will be presented.Patients  and  Methods: Two  female  patients  with  abdomen  type  III  and  IV,  underwent  surgical correction with choice of total abdominolipectomy. Pre-operative and post-operative evaluations and photographs  of  patients  were  documented.  Appearance of  abdomen,  quality  of  the scar,  and  navel were evaluated.Results: Total abdominolipectomy was performed in two cases of woman with abdomen type III and IV.  All  of  the  patients  have  shown  abdominal  dimension  reduction  and  the  result  was  good  and satisfying. Author proposed a measurement  including abdominal dimension in three different  levels of circumference : midline point circumference between navel to xyphoid, navel level circumference, and  anterior  superior  spina  illiac  level  circumference,  quality  of  scar,  navel,  and  abdominal appearance, which are documented before surgery, three weeks after surgery and  three months  post surgery.Summary:  Optimal  outcome  in  abdominoplasty  is determined  not  only  by  appropriate  surgical technique,  but  also  by  the  selection  design,  how  the  dissection  is  done,  the  excision,  suturing technique, and post-surgical care treatment. Author proposed  a measurement form  evaluated  by the surgeon, patient, and observer to collect more precise objective and subjective results.
PROSES BISNIS DAN ASPEK PEMUNGUTAN PAJAK ATAS TRANSAKSI E-COMMERCE DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Arimbhi, Pebriana; Susanto, Imam; Ghany, Septian Khaerul
JURNAL REFORMASI ADMINISTRASI Jurnal Ilmiah untuk Mewujudkan Masyarakat Madani Vol 6, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Ilmu Sosial dan Manajemen Stiami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1582.484 KB) | DOI: 10.31334/ra.v6i1.343

Abstract

Penemuan internet merupakan revolusi besar dalam dunia komputer dan komunikasi. Internet adalah alat penyebaran informasi secara global, sebuah mekanisme penyebaran informasi dan sebuah media untuk berkolaborasi dan berinteraksi antar individu dengan menggunakan alat komunikasi tanpa terhalang batas geografis. Pengaruh dari internet keseluruh lapisan masyarakat sebagai media online untuk menyelesaikan berbagai macam transaksi salah satunya adalah transaksi e-commerce. Revolusi industri 4.0 telah menimbulkan disrupsi pada seluruh aspek kegiatan usaha. Pengaruh disrupsi akan mentransformasikan sistem perpajakan secara global, terutama standar dan norma pemajakannya yang masih konvensional. Hal ini menimbulkan adanya pertanyaan bagaimana proses bisnis dan aspek pemungutan pajak atas transaksi e-commerce dalam era revolusi industri 4.0 di Direktorat Jenderal Pajak, serta kendala dan upaya dalam proses bisnis dan aspek pemungutan pajak tersebut. Metode yang akan dipakai dalam pencapaian tujuan tersebut adalah metode penelitan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam, observasi, studi kepustakaan dan dokumentasi. Hasil penelitian, pertama : Proses bisnis atas transaksi e-commerce dalam era revolusi industri di Indonesia hanya ada 4 (empat) model, yaitu : Online Marketplace, Classified Ads, Daily Deals, Dan Online Retail. Untuk aspek pemungutan pajak atau perlakuan perpajakan yang digunakan masih merujuk pada kebijakan yang sudah ada saat ini yaitu pada peraturan perpajakan PPh dan PPN, belum ada peraturan khususnya. Sementara untuk proses bisnis dan model kebijakan administrasi perpajakan atas transaksi e-commerce terhadap media sosial ditinjau dari konsep Equality belum di desain oleh pihak DJP.. Kedua : kendala yang dihadapi oleh DJP dalam menerapkan pemajakan ekonomi digital di bidang e-commerce, yaitu: kesulitan terkait dengan anonimitas data pelaku e-commerce, sulitnya mendeteksi data transaksi e-commerce, mudahnya pelaku e-commerce menghapus informasi ataupun memberikan informasi yang salah terkait transaksi, dan metode pembayaran. Ketiga : upaya yang telah dilakukan oleh DJP dalam mengatasi kendala tersebut, adalah : memperketat izin perdagangan serta izin pembukaan situs, memonitor data pengiriman serta memonitor transaksi, mengatur adanya kewajiban bagi pelaku e-commerce untuk memastikan data transaksi di situs tetap ada sampai jangka waktu tertentu, dan mengatur kewajiban pembayaran melalui satu payment gateway nasional.